raranotruru

Gia memakai sepatunya seraya menunggu Zahra yang masih memanfaatkan toilet masjid sekolahnya sebelum mereka pulang. Keduanya baru saja selesai salat asar sore itu. Hari ini, sengaja memilih melakukannya di sekolah karena sesuai agenda, mereka akan mengerjakan tugas kelompok bersama dengan Alwan yang juga sedang beribadah di bagian masjid laki-laki.

Syukurlah Gia tak perlu menunggu lama, Zahra baru saja keluar sebelum Gia sempat berdecak. Gadis itu kemudian mengambil posisi di sebelah Gia, “Weh, Gial-Giul, tolong dong operin sepatu aku!”

Gia melirik Zahra dengan sedikit tatapan tidak terima mengenai panggilannya, kemudian tetap mengoper sepatu milik teman sebangkunya itu. “Alwan mana dah? Kok nggak keliatan?” tanya Zahra seraya memakai kaus kaki kanannya.

“Masih di dalem kali, nggak tau juga,” jawab Gia asal. Zahra tak menanggapi, ia justru memilih mengganti topik. “Eh kita jadinya negosiasinya gimana, Gi?” tanya Zahra.

Bersama dengan Alwan, mereka tergabung membentuk kelompok untuk mengerjakan tugas Bahasa Indonesia bertemakan negosiasi di mana ketiganya harus membuat video rekayasa melakukan sebuah negosiasi hingga mencapai kesepakatan. Sejak kemarin, banyak sekali konsep yang Gia, Zahra, dan Alwan bicarakan hingga menemukan yang hampir pas dengan keinginan mereka. Namun, rasanya konsep itu masih belum matang.

“Ya nggak tau? Katanya kemaren pakenya yang itu kann, yangg pedagang sama pembeli?” balas Gia. “Yang jadi pedagangnya siapa?” tanya Zahra.

“Alwan. Nanti kita yang beliii soalnya kalo yang nawar cowok tuh kurang pas aja keliatannya. Yang biasanya nawar kan emak-emak,” balas Gia lagi.

“Alwan jualan apa ceritanya?”

“Apa aja yang ada di rumah kamu lah, Jar. Tas kek, baju-baju, semuanya aja keluarin. Pajang, biar kayak Tanah Abang,” canda Gia.

Zahra mengerucutkan bibirnya. Gadis itu kemudian memukul Gia dengan kaus kaki sebelah kirinya yang sedari tadi ia kibaskan untuk dibersihkan. Gia menghindar geli sementara Zahra bersungut, “Orang nanya serius juga, malah bercanda.”

“Itu aku jawab seriuuus, kamu punya sling bag gitu nggak? Ada dongg? Nanti keluarin aja ceritanya Alwan obral itu terus kita beli tapi nawar,” Gia menjelaskan konsep yang mendadak terpikir di kepalanya. Dalam hati ia pun tak menyangka, memang terkadang ide muncul hanya pada saat kepepet.

“Nggak tau diri lu, Gi. Udah obral masih aja nawar parah banget,” balas Zahra sebelum akhirnya bibirnya meluncurkan sebuah kekehan. “Iya lah gitu aja lah ya? Dari pada ribet. Tadi aku mikirnya kali aja Alwan ceritanya jualan buah atau nggak sayur gitu. Tapi nyari di mana bahannya ya, susah,” Zahra melanjutkan bicaranya. Sementara Gia hanya mengangguk, sebagian dari dirinya merasa bangga karena idenya disetujui oleh Zahra.

“Ya udah, yuk, Gi.”

Gia menyambar ranselnya bersamaan dengan Zahra yang sudah berdiri, sudah siap dengan bawaannya sendiri. Keduanya kemudian berjalan santai, berniat menghampiri Alwan yang rupanya tengah memakai sepatu sebelum berjalan menuju gerbang.

“Heh, Alwan!” tegur Zahra. “Buruannn, biar cepet kelar tugas kitah,” sambung perempuan bertubuh mungil itu. Sementara Gia hanya terkikik mendengar cara Zahra menegur Alwan.

“Bawel lu, teri. Sabar kenapa? Gue ae baru keluar,” sahut Alwan kesal. Pemandangan seperti ini adalah hal yang lumrah bagi Gia, sebab setiap hari, Alwan akan mampir ke mejanya untuk berdiskusi pelajaran atau sekadar meminjam tip-ex milik Gia. Yang selanjutnya terdengar adalah ocehan Zahra yang kerap protes akan kedatangan Alwan. Katanya gadis itu merasa terganggu karena badan Alwan yang besar dan gagah itu selalu menghalangi pandangannya untuk melihat ke papan tulis, juga membuat space menulisnya menjadi tidak leluasa.

“Gue mau jajan dulu tapi, Jar,” ucap Alwan nyengir seraya memastikan sepatu kirinya sudah terpasang dengan baik. Zahra berdecak sebal, namun tentu saja diabaikan oleh Alwan yang sudah meluncur ke kantin untuk membeli donat kentang bertabur gula bubuk. Maklum, tubuh sebesar miliknya mungkin memang perlu lebih banyak asupan dibanding tubuh Zahra dan Gia yang mungil.

Seraya menunggu Alwan, Gia dan Zahra melipir agar tak menghalangi jalan bagi orang yang ingin berlalu. Keduanya kini bersandar pada tembok, namun masih berada di depan masjid tempat anak laki-laki. Gia mengedarkan pandangannya asal, hanya bermaksud agar tidak jenuh. Namun, yang ia temukan adalah seseorang yang ia kenali sebagai teman Haris.

Hah kok ada Kak Damar? Mampus deh ini ada Kak Haris nggak ya? Astaga... nggak berani banget ketemu diaaaaaaa, belom selesai deg-degannya dari abis diiketin tali sepatu ya Allah.

Gia merasakan batinnya mulai berisik. Suara detak jantungnya yang berusaha ia sembunyikan seakan bersahutan dengan pikirannya sendiri. Membuatnya tak fokus dan tanpa sadar gadis itu mencengkeram tali ranselnya erat-erat. Gia menelan ludah, beberapa kali berdeham guna menetralisir perasaannya yang rasanya ingin meledak saat itu juga.

Beruntung, tidak lama kemudian Dhimas muncul dan menyadari keberadaannya. “Eh, Gia! Ngapain, Gi?” tanyanya sambil tersenyum. Pria itu kemudian menyusul Damar untuk duduk di lantai masjid yang lebih tinggi untuk memakai sepatu.

Gia memaksakan sebuah senyum, “Lagi nunggu Alwan, Kak. Mau kerkom.”

“Kerkom apaan, Gi?” tanya Dhimas lagi. Seringkali Gia bersyukur memiliki kakak kelas seperti Dhimas yang sama sekali tidak menganggap dirinya superior dan lebih unggul hanya karena lebih tua. Dhimas tak segan menyapa lebih dulu pada adik kelasnya, pun untuk memulai percakapan selayaknya teman akrab.

“B. Indo, Kak. Disuruh bikin video negosiasi gitu. Kakak juga dulu disuruh?” Gia balik bertanya.

“Iya kita disuruh juga ya, Dam?”

“Iya anjir, inget banget gue sekelompok sama Ojan sama Nadia videonya kagak jadi jadi gara-gara kebanyakan ketawa. Baru salam aja ketawa, heran,” balas Damar.

Dhimas tertawa kemudian ikut menerawang, mengingat masa-masa kelas sepuluhnya yang belum lama ia lalui. “Iya disuruh juga, Gi. Dulu saya sama.. nih sama tetangganya dia nih,” ucap Dhimas menunjuk Zahra. “Sama Aghniya dulu saya bikin. Tapi dulu ceritanya dia jadi bini gua, Dam. Gue bernegosiasi biar dikasih izin mancing deh kalo nggak salah.”

“Itu perlu banget lo ceritain sampe detail gitu ya, Dhim?” sindir Damar. Membuat Dhimas semakin terkikik lantaran berhasil mengejek Damar yang mudah cemburu.

“Eh sepatu gua mana sih?”

Sebuah suara menginterupsi obrolan yang sudah berjalan. Membuat Gia, Zahra, dan kedua kakak kelas di hadapannya itu menoleh pada arah yang sama. Rupanya berdiri seorang Haris seraya bertolak pinggang, netranya memindai setiap sepatu yang berbaris di hadapannya. Namun, tak satupun ia temukan miliknya.

Lagi-lagi, Gia terpana. Matanya kembali temukan surga dunia yang Zahra gadang-gadang setiap hari untuk meledeknya. Secepat kilat, Gia mengerjapkan matanya dan memalingkan wajah. Dalam hatinya was-was, berharap tidak ada yang menyadari tingkahnya.

“Serius ege, Dhim sepatu gua mana? Tadi sebelah Damar loh!” ujar Haris lagi. Tiba-tiba Pak Indra yang baru selesai berwudu itu nimbrung, “Nyari apa, Ris?”

“Sepatu, Pak.”

“Oooh, ya udah cari yang bener ya,” balas Pak Indra kemudian tertawa sebelum akhirnya bergabung dengan saf para jamaah.

Haris memincingkan mata tanpa sepengetahuan Pak Indra, di sebelahnya Dhimas dan Damar sudah tergelak. Ketiganya tahu bahwa ini pasti perbuatan Pak Indra karena sebagaimana yang sudah menjadi perbincangan seantero sekolah, Pak Indra adalah guru paling iseng.

“Udah itu mah, Ris. Pasti sama dia itu diumpetin,” ucap Damar, masih dengan senyuman yang tersungging di wajahnya.

“Liat belakang tong sampah, Ris. Kagak jauh-jauh Indra mah kalo ngumpetin,” usul Dhimas.

“Tau anjir dia kurang kerjaan apa gimana ya? Padahal kita udah tau gitu ulahnya gitu-gitu doang tapi masih aja gitu,” sahut Damar.

“Ah emang Indra musuh Allah anjir,” balas Haris yang kemudian mengundang tawa beberapa orang di sekitarnya. Pria itu setelahnya beranjak dan mengecek keberadaan sepatunya di balik tong sampah dekat kantin, benar saja. Sepatunya di sana. Haris bersyukur setidaknya sepatunya tidak dimasukkan ke dalam tempat sampah, kalau iya, maka Haris akan memilih nyeker untuk pulang.

Haris memakai sepatunya dengan gesit, setelahnya pria itu berdiri dengan semangat. Setelah menepuk-nepuk celananya guna menyingkirkan kotoran di sana, Haris mencari sepatu Pak Indra.

“Eh sepatu Pak Indra yang mana?” tanya Haris pada kedua temannya.

“Mana ya, itu tuh belakang Gia,” balas Dhimas. Haris menoleh, kala itu ia baru tersadar akan keberadaan Gia. Setelah tertegun beberapa detik, Haris dengan cepat menyadarkan dirinya dan berusaha bersikap biasa. Apa lagi di hadapan Dhimas. Setelah apa yang ia ceritakan kemarin, Dhimas pasti tak akan segan untuk meledeknya habis-habisan.

“Misi dulu, Gi,” ucap Haris. Kemudian ia merunduk mengambil sepatu Pak Indra yang disimpan di rak buatan di belakang Gia. Haris tidak mengambil keduanya, melainkan hanya sebelah. Setelahnya ia meletakannya di atas asbes yang menjuntai menaungi masjid sekolah. Tingginya yang berlebih itu membuat perkara begini menjadi soalan mudah.

Gia terbelalak namun juga menahan tawanya, sementara Zahra sudah melayangkan komentarnya. Sementara Damar dan Dhimas, keduanya sudah cekikikan namun tetap menahan untuk tidak berisik dan mengganggu orang yang sedang ibadah.

“Kak ya Allah parah banget ihhhhh!” ucap Zahra. Namun gadis itu tetap tertawa. Seakan ada sebagian dari dirinya yang mendukung tindakan Haris.

“Biarin aja, Pak Indra tuh public enemy tau,” sahut Haris. “Sumpah parahan Ojan anjir inget nggak lo sepatu Pak Indra dimasukin es batu?” kini Haris beralih bicara pada kedua temannya.

“HAHAHA eh iya anjir baru inget gua. Ampe loncat gitu Pak Indra gegara kaget bangke,” balas Dhimas.

“Eh iya Kak Ojan mana, Kak? Kok cuma bertiga?” tanya Zahra.

“Ojan lagi piket,” balas Dhimas. Setelahnya Zahra hanya mengangguk.

Tak lama kemudian Alwan yang mereka tunggu-tunggu sudah kembali dengan plastik kecil berisi tiga donat kentang di tangan kanannya.

“Nahh ini dia yang ditungguin, lama banget sih, Wannnn?!” protes Zahra. Alwan nyengir santai tanpa merasa bersalah telah membiarkan Zahra dan Gia menunggu. Mulutnya sibuk mengunyah donat kentang di tangannya. “Ini tadi digoreng dulu donatnya,” jawab Alwan.

“Ayo buruan, Wan, nanti kesorean,” ucap Gia. Mendengar suara Gia, Haris auto mendongak. Pria itu pun tak tahu apa yang membuatnya begitu cepat menoleh, mungkin karena kepada siapa gadis itu berbicara.

“Iya, iya, Gi, bentar. Mau nggak?” Alwan menawarkan donatnya pada Gia. Melihat itu, Zahra menoyor Alwan dengan sepenuh hati. “YEUUUUUUUUUU BIASANYA GUE MINTA DONAT LU MARAH BANGET, giran Gia aja lu tawarin. Naksir temen gua lu?”

Alwan tak menjawab, pria bertubuh bongsor itu memilih membungkam mulutnya dengan makanannya seraya terkekeh. Setelahnya ia menyambar tasnya, “Ayok!”

“Kak, duluan yaa,” pamit Zahra pada ketiga kakak kelasnya.

“Jar, Jar, nitip deh. Bukunya Aghni, nanti tolong kasihin yaa,” balas Dhimas kemudian buru-buru menyerahkan buku tulis yang dilabeli nama 'Aghniya Zhafira Y.' itu pada Zahra. Setelahnya Zahra dan teman-temannya itu berpamitan.

Tanpa sengaja tatapan Gia bersirobok dengan milik Haris, gadis itu mengangguk sopan. Kemudian Haris balas dengan senyum tipis.

Sepeninggal Gia dan teman-temannya, Damar dan Dhimas menoleh pada Haris yang masih belum mengalihkan pandangannya pada arah yang sama sebelum punggung Gia menghilang di balik tembok.

“Bau-baunya sih, mau punya saingan nih?” cibir Dhimas. Haris menoleh, kemudian tertawa mendengus.

“Kapan mau PDKT-nya? Keburu diserobot,” ucap Damar. “Kalo suka mah ngaku aja, udah keliatan juga kok, Ris hahaha.”

Haris berdecak sambil menahan senyum, “Lo songong lo ya! Mentang-mentang udah mulai PDKT belagu luuu!”

Damar hanya tertawa, “Jadi? Kapan?”

“Cabut ah,” sahut Haris. Setelahnya pria itu memakai jaketnya dan meraih ranselnya untuk segera bergegas pulang. Memilih untuk menghindar menjawab pertanyaan Damar.

Haris melangkah menuju parkiran. Namun, baru beberapa langkah, ia kembali berhenti. Haris termangu, melihat Gia yang duduk manis di jok belakang motor Alwan, berboncengan dengan pria itu. Tangannya mencengkeram erat tali ransel yang tersampir di bahu kanannya, menyalurkan sebagian perasaan tak nyaman yang mendadak timbul di hatinya.

“Sekarang. Sekarang, Dam. Sekarang gue mulai.”

Haris memilih berdiri di pinggir lapangan seraya menyedot es teh di dalam plastik. Di sebelahnya berdiri seorang Dhimas yang menunggu giliran menyedot es teh miliknya yang dijadikan hak milik oleh Haris.

“Eh tadi masa gue dicium Ojan,” cerita Haris sebelum menyerahkan kembali es teh di tangannya pada pemiliknya.

Dhimas ternganga, “Hah? Dicium Ojan?”

“Iya anjir, pas lagi ambil nilai itu olahraga. Kan sit up ya, terus pas gue bangun jidat gue dikecup anjing.”

Dhimas terekeh, “Bahasa luuu dikecup.”

“LAH IYA ANJIR ORANG BUNYI, demi Allah ya harga diri gue taro di mana emang yang namanya Ojan perlu diboikot.”

Seketika Dhimas tak lagi kuasa menahan tawanya, sampai-sampai es teh yang berada si mulutnya itu menyembur keluar. “IH JOROK ANJIR!” protes Haris. Sementara Dhimas di hadapannya tak menggubris, pria itu tertawa dengan suaranya yang khas.

“Kenapa bisa-bisanya anjirrr?! Lo ambil nilai olahraga aja banyak perkara dah!” ujar Dhimas.

“Ya kalo perkaranya lima mah tombo ati,” sahut Haris.

“JAKHHH tombo ati~ iku limo perkarane~” senandung Dhimas.

Haris terkekeh, “Mendadak religi anjir. Dah ah, cabut yak! Pelatih gue udah dateng.”

“Yoo, gue juga yak! Mau kecup juga nggak?” ejek Dhimas.

“Nggak usah udah, lo simpen aja dah buat bini lo di masa depan, geli gua!”


Haris sudah selesai bermain. Kini giliran pertandingan basket putri, karenanya Haris memilih melipir dan kembali lesehan di pinggir lapangan. Matanya terfokus pada satu orang yang memenuhi pikirannya sejak kemarin.

Sesekali Haris terperangah melihat betapa gesit dan lincahnya Gia menerobos lawan-lawannya yang lebih besar. Rambut panjangnya yang terikat rapi itu berayun mengikuti irama langkah pemiliknya. Gia bergerak begitu cepat hingga Haris rasanya tak memiliki waktu untuk mengagumi setiap kecantikannya yang terpancar. Jujur, ini kali pertama seorang Haris memperhatikan pertandingan basket putri dengan begitu seksama.

Tanpa sadar, Haris ikut bersorak ketika Gia berhasil mencetak skor. Dalam hatinya timbul perasaan bangga, senyumnya pun merekah seiring merekahnya senyum Gia di tengah lapangan. Entah mengapa, namun melihat Gia yang bersorak riang sembari melompat-lompat kecil membuatnya turut merasakan bahagia.

“Gila Gia, kecil-kecil jago juga,” gumamnya tanpa sadar.

“Woi, ngeliatin siapa lu?” Vio datang menghampiri Haris seraya menepuk pundaknya. Membuatnya tersadar dan segera menoleh.

Gelagapan, Haris menjawab, “Enggak.”

Vio terkekeh, “Boong banget, orang dari tadi nggak kedip.”

“Apaan dah lu, Kak?” elak Haris.

Vio tersenyum melihat juniornya yang masih enggan mengaku, “Iya deh, enggak. Tapi gue kasih tau aja ya. Yang ngeliatin Gia bukan cuma lo doang, tuh liat di atas. Anteng juga dia dari tadi di situ nggak pergi-pergi.”

Mendengar nama Gia, Haris tahu tak ada lagi yang bisa ia sembunyikan. Maka dari itu, Haris memilih untuk melirik pada arah yang ditunjukkan oleh Vio. Rupanya di balkon lantai tiga ada Alwan, yang juga menatap ke arah Gia sambil menyemangati gadis itu sesekali.

Seketika Haris memalingkan wajahnya. Sambil berusaha mengabaikan dongkol yang menyeruak dalam hatinya, Haris mengusahakan sebuah senyuman melengkung di wajahnya. “Biarin aja, Kak. Namanya juga orang lagi main, wajar ada yang nonton.”

“Ohh gitu? Okeee kalo gitu,” balas Vio. Kemudian pria itu kembali meninggalkan Haris sendirian. Membiarkan pemuda itu dengan pikirannya sendiri. Haris masih melamun ketika seseorang menegurnya.

“Kak, permisi,” ucapnya.

Haris mendongak, mendapati Gia yang baru selesai bermain. “Hah?”

“I-itu, permisi, Kak. Tas saya di belakang Kakak,” sahut Gia. “Oohhh, iya iya, silakan,” jawab Haris kemudian menggeser posisinya.

Mau tidak mau, mereka duduk bersebelahan dengan Gia yang fokus menenggak air dalam botolnya dan Haris yang berusaha tutupi salah tingkah.

“Ternyata beneran bisa main basket?” ucap Haris memulai percakapan. Gia menoleh sebelun menutup botol minumnya rapat-rapat. “Bisa lah! Emang Kakak doang?”

Haris terkekeh pelan, “Ada manfaatnya ya punya badan kecil gitu? Jadi bisa nerobos-nerobos, hahaha.”

Tawa yang baru saja meluncur dari bibir Haris membuat Gia tertegun. Hari ini memang dirinya sudah menyaksikan tawa Haris yang lebih lepas dari ini, namun ia tak menyangka rasanya akan berbeda ketika ditampilkan langsung di hadapannya.

“Kak Haris kenapa jarang ketawa?”

“Hah?”

“Hah? Enggak, enggak,” balas Gia. Gadis itu langsung menarik ucapannya karena merasa tidak sopan menanyakan hal itu pada seniornya.

“Kenapa jarang ketawa?” tanya Haris, mengulangi pertanyaan Gia yang rupanya sudah ia dengar dengan jelas. “Karena nggak ada yang bisa bikin ketawa.”

Gia tersenyum canggung, “Tapi tadi ketawa pas olahraga?”

Haris mengulas senyuman tipis, “Iya. Emang cuma temen-temen saya doang yang bisa bikin saya ketawa sampe kayak gitu.”

“Eh bentar,” ucap Haris, dirinya teringat akan sesuatu. “Kamu liat saya ya tadi olahraga?”

“Iya, saya tadi di depan lab biologi, Kak.”

“Kamu liat juga dong saya dicium Ojan?” tanya Haris panik.

Gia lantas tertawa, kedua sudut bibirnya terangkat membuat pipinya terlihat semakin chubby. “Liat, Kakk!”

“Wah anjir emang Ojan kerjaannya ngerusak reputasi gua aja brengsekk!”

“Emang biasa begitu ya, Kak?” tanya Gia bercanda.

“ENGGAK LAH, sembarangan aja kamu!”

Gia tak lagi menanggapi, gadis itu hanya menyudahi tawanya seraya merapikan rambutnya sendiri. Setelahnya pluit kembali dibunyikan, Gia harus kembali ke lapangan untuk memulai babak kedua.

“Kak, saya ke sana lagi yaa!” ujar Gia. Gadis itu kemudian bangkit berdiri, berniat meninggalkan Haris.

“Gia!” panggilan Haris membuatnya mengurungkan niatnya. Gia kembali menoleh pada Haris yang berjalan jongkok mendekatinya.

“Iya, Kak?”

Haris tak menjawab, pemuda itu hanya berlutut di hadapan Gia. Kedua tangannya kemudian meraih tali sepatu Gia yang mulai kendur dan hampir lepas. Tanpa membutuhkan waktu lama, Haris mengikat kedua tali sepatu Gia dengan sempurna. Gia pun merasakan perbedaannya, ikatan sepatunya kali ini terasa lebih kencang dan rasanya akan lebih nyaman untuk dipakai berlari.

Setelahnya Haris berdiri, membuat Gia otomatis mendongak mengingat postur tubuh pemuda itu yang jauh lebih tinggi dibandingkan Gia. Gadis itu terpaku pada tempatnya berdiri, darahnya berdesir dan jantungnya berdegup lebih cepat bukan karena lelahnya.

Gia masih menatap Haris yang kini juga menatap matanya. “Iket dulu tali sepatunya kalo mau main, Anggia!” ucap Haris. Ia memberikan sedikit penekanan pada pengucapan nama Gia yang lengkap itu.

Gia semakin tak tahu mau berbuat apa. Hingga suara Haris menyadarkannya.

“Udah sana masuk lapangan. Semangat yaa!” ucap Haris lagi. Pemuda itu tak mengucapkannya dengan cara yang menggebu-gebu, Haris menyuarakan kalimatnya hanya dengan intonasi biasa. Namun cukup untuk membuat Gia gemetar.

“M-makasih, Kak,” balas Gia. Kemudian Haris hanya mengangguk pelan disertai senyuman tipis. Setelahnya pria itu berlalu pergi.

Seiring kakinya berjalan menelusuri koridor, Haris tersenyum diam-diam. Ia menemukan jawabannya. Haris menemukan jawaban atas perasaannya.

Setelah melalukan praktikum, kelas Gia dibebaskan oleh guru biologi karena setelah ini adalah jam istirahat. Teman-temannya yang lain sudah berbondong-bondong ke kantin sementara Gia memilih bersantai di depan lab, mendudukkan dirinya di kursi panjang yang tersedia di sana seraya memperhatikan segerombolan anak laki-laki yang melalukan pengambilan nilai senam lantai. Tak ada yang menarik, sebenarnya. Namun sepertinya banyak orang yang tertawa ketika memperhatikan para siswa yang sedang berolahraga itu.

“Gia mau ke kantin nggak?” tanya Zahra. Gia menoleh, “Kamu mau ke kantin?”

“Enggak, nanti aja dulu ya? Ini lagi seru nonton yang pada olahraga nggak sih? Itu yang lain juga nonton,” balas Zahra.

“Iya kann, ya udah nonton dulu ya!” balas Gia. Setelahnya Zahra hanya mengangguk dan pandangan keduanya kembali terfokus pada pengambilan tawa yang penuh canda itu.

“Ini kelas berapa sih?” tanya Gia.

“Nggak tau, kayaknya kakak kelas,” balas Zahra.

“Eh itu Kak Ojan?” tanya Gia. “Mana?” tanya Zahra.

“Itu yang paling pinggir sini, yang lagi benerin matras,” balas Gia.

“Oh iya, berarti kelasnya Kak Haris dong?”

Benar juga. Seketika Gia tertegun dan matanya mendadak bergerak mencari sosok tinggi itu di tengah kerumunan.

Sepertinya Tuhan mengetahui isi hatinya, ketika matanya mulai lelah mencari, Pak Edo memanggil sebuah nama untuk menjadi pasangan Ojan.

“Muhammad Haris,” panggilnya. “Sono sama Ojan!”

Haris lantas bangkit dan berdecak setelah mengetahui Ojan adalah pasangannya. Ia tahu ini akan menjadi kekacauan.

“YAH PAK SAYA JANGAN SAMA OJAN DONGGG, PASTI NGGAK BENER NIH DIA PAK!” protes Haris. Namun pada akhirnya ia tetap menghampiri Ojan yang sudah senyum-senyum seraya memainkan alisnya.

“Halo ayanggg!” canda Ojan.

“Ayang ayang, badan lu kuyang!” balas Haris jengkel, kemudian ia mendudukkan diri di sebelah Ojan yang bersila.

“Lo duluan ae, Jan. Apaan aja sih ambil nilainya?” tanya Haris.

Sit up, back up, sikap lilin, kayang,” balas Ojan.

“Kayang?” Haris mengulangi ucapan Ojan. “Hooh kayang, soalnya sayangnya kamu di pinggir lapangan tuh ngeliatin,” balas Ojan kemudian tengkurap di atas matras, bersiap mengambil nilai.

Haris menautkan alisnya sebelum akhirnya menoleh ke arah yang dimaksud Ojan. Rupanya ada Gia di sana. Dengan segera Haris memalingkan wajah, kemudian memukul Ojan pelan. “Sembarangan lu!”

Sementara Ojan hanya tertawa. Aba-aba dimulai, Ojan kemudian memulai gerakan back up-nya. Sementara Haris menduduki betis Ojan agar tak bergerak seraya menghitung.

“Eh demi Allah lo kayak lumba-lumba Jan nggak kuat gue ya Allah mau ngakak,” ujar Haris disela-sela usaha Ojan melakukan back up.

“Jangan ketawa anjing itung!”

“Astaghfirullah Ojan lu kenape Jannn?” ejek Pak Edo yang menghampiri Ojan dan Haris di posisinya.

“YAKAN PAKKKK UDAH KAYAK ANAK DURHAKA DIKUTUK JADI PARI, ENGAP-ENGAPAN,” balas Haris diiringi tawa menggelegar.

“RIS ITUNG ELAHHHH BECANDA MULU LU!”

Tepat setelah Ojan berbicara, pluit dibunyikan. Alhasil, Haris melanjutkan tawanya yang sempat tertunda. Pria itu memukul-mukul matras hingga menimbulkan bunyi pukulan yang membuat berbagai pasang mata mengarah kepadanya. Pengambilan nilai Ojan berikutnya pun berlangsung sama, masih diiringi pertengkaran kecilnya dengan Haris. Keduanya seakan tak peduli berapa nilai yang akan didapatkan. Baik Haris, Ojan, Dhimas, maupun Damar, keempatnya memiliki prinsip yang sama. Pelajaran olahraga adalah kesempatan untuk bermain, jadi mereka hanya ingin memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.

Kali ini tiba giliran Haris. Pria itu mengambil posisi di matras, menggantikan Ojan. Sementara Ojan menatapnya penuh kejahilan, “NAAAAH GANTIAN LU MAMPUS DI TANGAN GUA!”

“Gua bilangin bapak lu lu ya!”

“Ngaduan lu!” balas Ojan.

“DAMARRRRR OJANNYA DAM!”

“KAGAK ANJER GUE NGGAK NGAPA-NGAPAIN!”

Sementara Damar dari kejauhan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya meski senyumnya pun tak lagi dapat ditahan.

“Berisik banget temen lu Yudhistira,” ucap Pak Edo yang kini berada di sebelah Damar.

“Emang, Pak. Capek kuping saya juga dengernya,” jawab Damar.

Tak lama kemudian pluit dibunyikan, Haris pun memulai gerakan back up-nya dengan mulus. Sesekali ia menghentikan gerakannya ketika kelelahan, dan memulainya kembali ketika Ojan menampar pahanya.

“SMANGAT DONG LEMAH BANGET KAMU!” ujar Ojan.

“Eh paling rame lu bedua dah, yang laen kalem kalem aja perasaan,” ujar Pak Edo.

“Biasa, Pak, pasutri,” balas Damar dari kejauhan.

“Pasukan tiga ribu, Pak,” timpal Ojan.

“Apaan tiga ribu?” tanya Pak Edo bingung. Maklum, umurnya yang sudah sepuh terkadang tidak mengerti lawakan-lawakan anak muda.

I love you, Pak. Sekarang i love you harganya tiga ribu,” Haris ikut nimbrung.

“Ah becanda mulu lu ah pada! Buruan gerak lagi, Ojan itungin itu temen lu ntar pingsan aja nggak ketauan lagi.”

Setelah selesai dengan back up, kini Haris mengambil posisi untuk melakukan sit up.

“Aduh anjir muke lu depan muka gue banget, MUNDURAN AH!” ujar Haris pada Ojan. Sementara di hadapannya, Ojan kembali memasang tampang jahil seraya memainkan alisnya.

“MULAI MULAI BURUAN HAYUK SATU, DUA, TIGA, EMPAT...”

Ojan kembali memulai hitungannya. Waktu terus berjalan, peluh menetes dari kening Haris seiring napasnya tersengal-sengal. “Ayo Bu, palanya udah keliatan, Bu!”

“BANGKE JANGAN BIKIN KETAWA CAPEK JAN PERUT GUE SAKIT AH!”

Tibalah upaya terakhir Haris, ketika Haris berada dalam posisi bangun, tanpa diduga Ojan mengecup kening Haris.

“OJAN ANJ— LO NGAPAINNNNNNN YA ALLAH TUHAAAAAAAANN!!!!”

“ANJIR AH, DAMAAAARRRRR TOLONGIN GUE YA ALLAH DAMAR”

Sementara Ojan cengegesan di tempatnya. Damar yang tadinya tidak memperhatikan akhirnya menoleh setelah Haris mengusak-usak keningnya pada bahu Damar. “Kenapa sih?”

“GUE DICIUM OJAN ANJRIT!!!! BUNYI LAGI DIKECUP GITU GUE bangsat emang nih WEH SINI LO!”

“BUNYI ANJIR DAM CUP GITU ya Allah— GUATELLLLLLL JIDAT GUA GATEEEELLL!!!!”

Haris masih jumpalitan sendiri, ia memeluk Damar tanpa henti seraya tertawa sekaligus geli. Damar pun ikut tertawa terbahak-bahak bersama Haris. Bahkan keduanya kini sama-sama tergeletak di lapangan yang panas itu. Teman-temannya yang menyaksikan dan mendengar bunyi kecupan Ojan pun tertawa, sementara Pak Edo sudah menyabet Ojan dengan tali pluitnya.

“RIS DEMI ALLAH LU TAU GAK RASANYA GIMANA?” tanya Ojan.

“TAU ANJIR UDAH GAK USAH DIPERJELAS!” balas Haris yang terbaring lemas di sebelah Damar.

“ASIN BEGE KERINGET SEMUA JIDAT LU, BASAH BIBIR GUA!” balas Ojan, kemudian ia menyeka bibirnya guna menghilangkan rasa asin yang tertinggal di bibirnya.

Kejadian itu mengundang tawa bagi semua orang yang menyaksikan. Termasuk Gia yang sedari tadi menyaksikan dari pinggir lapangan. Rupanya memang benar, setiap orang terlihat lebih menawan ketika tertawa tanpa beban.

“I hope your laughter stays there always, Kak Haris.”

Haris meninggalkan kamar Haura setelah memastikan gadis kecil itu tertidur dan lampu kamarnya sudah dimatikan. Haris menyalakan ponselnya hanya untuk melihat jam malam itu. Sudah pukul sembilan malam rupanya, sementara mamanya belum pulang. Namun Haris tak mempermasalahkan, hal ini sudah biasa terjadi.

Pria itu kemudian beranjak menuju kamar Hanum yang berada di sebelah kamar Haura.

“Num?” panggil Haris seraya mengetuk pintu. “Masuk aja, Kak, nggak dikunci.”

Setelah mendapat izin dari empunya, barulah Haris membuka pintu. Haris menyembulkan kepalanya dari balik pintu, memilih untuk sekadar mengintip karena ia hanya ingin melihat keadaan adiknya.

“Lagi ngapain?” tanya Haris. “Ngapalin materi presentasi,” jawab Hanum sebelum kembali fokus pada buku IPS tebal di hadapannya.

Haris hanya manggut-manggut, “Buku udah diberesin?”

“Udah.”

“Ya udah, jangan kemaleman ya, Num, selesainya! Tidur!” titah Haris. “You too, Kakak!”

“Iya, Kakak nunggu Mama. Kalo perlu apa-apa, Kakak di kamar ya!”

Okaay, thank you!” jawab Hanum, masih setia memunggungi Haris. Pandangannya tak sedikitpun berpaling dari bukunya.

Setelahnya, Haris memilih untuk berdiam diri di kamarnya. Pemuda itu memilih meluruskan punggungnya di atas kasur, merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku sebelum akhirnya menghela napas selepas-lepasnya.

Haris memandang langit-langit kamarnya. Pikirannya menerawang entah kemana setelah pertanyaan Adel terngiang di telinga.

“Berat ya, Ris?

“Banget.”

Mengingat dahulu, Haris adalah seorang anak bocah yang sama cerianya seperti bocah kebanyakan. Kerjanya setiap hari adalah bermain sepeda tanpa henti. Tak peduli panas terik atau hujan deras, Haris akan selalu berkeliling dengan sepeda kecil pemberian papa.

Dahulu, Haris adalah anak yang ramah. Ia tak segan melempar senyum bahkan pada orang tak dikenal sekalipun. Haris gemar membantu orang, seperti yang diajarkan papa. Bahwa manusia yang paling baik adalah yang bermanfaat untuk sesama. Papanya juga yang mengenalkan bahwa setiap kali berbuat kebaikan, maka akan mendapat pahala. Karenanya, setiap kali membantu orang lain, Haris selalu teringat akan iming-iming pahala dari Tuhan yang dibicarakan papa.

Haris bahagia. Menjadi seorang anak dari kedua orang tua yang berkecukupan. Papanya adalah seorang pegawai BUMN, sementara mamanya adalah seorang perancang busana yang memiliki butik sendiri. Tak hanya kebutuhan untuk hidup, namun juga kasih sayang dan perhatian dari keduanya tak pernah kurang. Haris bahagia, rasanya masa kecilnya adalah masa yang paling indah.

Kebahagiaannya sempat sedikit berkurang ketika mendapat informasi bahwa Hanum akan lahir. Haris takut, takut kasih sayang orang tuanya hanya terfokus pada Hanum. Rasa iri muncul dalam dirinya. Namun, lagi-lagi papanya menenangkan.

“Jadi kakak tuh keren loh, Ris! Nanti dipanggilnya jadi Kak Haris bukan Haris lagi. Kalo kamu dipercaya jadi kakak, artinya kamu punya kekuatan lebih. Artinya Tuhan tau kalo kamu bisa jagain adek nanti sampe dia gede. Anak laki-laki Papa hebat kan? Nanti kita team up sama Mama yaaa jagain adek!”

Hasilnya, Haris kecil pun luluh. Ia tak lagi sebal pada bayi yang memenuhi perut mamanya saat itu. Justru ia menjadi orang yang paling protektif pada masanya. Seorang 'Kak Haris' akhirnya tumbuh menjadi kakak yang penyayang, perhatian, selalu ada setiap kali adiknya membutuhkan. Bagi Hanum yang juga semakin besar, juga bagi Haura yang saat itu muncul di perut mama.

Hingga suatu hari, rencana papa untuk selalu team up untuk menjaga adik-adiknya itu berantakan. Entah sejak kapan, Haris mulai mendengar suara ribut-ribut dari dapur di bawah. Sesekali Haris mendengar suara pecahan piring, gelas, dan sebagainya. Saat itu ia tahu, hidupnya tak akan sebahagia yang ia rasakan ketika dirinya kecil.

Selama mamanya mengandung Haura, papanya tak hadir untuk turut bersatu menjaga calon adiknya. Waktu itu, Haris merasa sangat dikhianati oleh orang yang paling ia percaya. Karena pada akhirnya, papa meninggalkan mereka semua, bahkan Haura yang belum sempat hadir di tengah-tengah mereka. Tak lama setelah Haura lahir, pada akhirnya kedua orang tuanya resmi berpisah. Dan sejak itu, Haris pun berubah.

Tak ada lagi Haris yang ramah, Haris yang senang membantu orang lain, atau Haris yang hangat. Sejak saat itu Haris memilih untuk menjadi dirinya yang sekarang, yang selalu memilih untuk mengesampingkan hal-hal yang tidak penting seperti ikut campur urusan orang lain, atau memberikan sedikit perhatiannya pada dunia. Pikirannya hanya penuh dengan ketiga wanita di rumahnya yang jauh lebih penting untuk ia usahakan kepentingan dan keselamatannya.

Kalau dipikir-pikir, perkataan Adel ada benarnya. Seharusnya Haris bisa hidup dengan menikmati masa remajanya. Seharusnya ia pun bisa menjelajah kemanapun tanpa perlu banyak pertimbangan selain izin dari mama, seharusnya ia pun bisa turut menelusuri sekitarnya untuk menemukan seorang gadis yang bisa memikat hatinya, seharusnya ia pun bisa tertawa lebih banyak karena melakukan hal konyol dengan teman-temannya.

Sejujurnya, sedikit banyaknya Haris bersyukur ia bertemu Ojan ketika SMP. Kalau tidak dengan Ojan menjadi sebangkunya, Haris tak akan punya pelepas penat. Haris mungkin akan lupa bagaimana caranya hidup lebih santai. Mungkin itu alasan mengapa Tuhan mempertahankan Ojan di hidupnya. Hingga ketika keduanya beranjak lebih besar, bertemu kembali di SMA yang sama, kemudian Ojan membawakan teman-teman baru untuknya yang juga sering kali menjadi pelipur lara baginya.

Perkataan Adel ada benarnya, mungkin ia sudah terlalu lama memaksa dirinya menjadi dewasa sebelum waktunya. Haris jadi lupa kalau ada yang namanya jatuh cinta. Sebab sebagai satu-satunya lelaki di rumah semenjak papa pergi meninggalkan rumah, Haris hanya berniat untuk mendedikasikan hidupnya untuk ketiga wanita di rumahnya. Bertambah satu ketika ia mengetahui Adel juga merasakan hal yang sama. Tetangganya itu masuk daftar wanita yang Haris prioritaskan setelah orang tuanya juga berpisah.

Berat, bagi satu-satunya laki-laki yang dikelilingi empat wanita dengan kekosongan seorang figur dalam hidupnya. Lebih-lebih Haura.

Tetapi mungkin perkataan Adel ada benarnya, sudah terlalu lama Haris mengusahakan kebahagiaan bagi mama, Hanum, Haura, dan Adel. Mungkin, sudah saatnya ia kembali menjalani hidup sebagaimana yang ia inginkan. Mungkin, sudah saatnya ia kembali menjalani hidup dengan lebih sedikit tekanan untuk dirinya sendiri.

Mungkin, sudah saatnya ia mengusahakan kebahagiaan untuk dirinya sendiri.

Pertemuan mendadaknya dengan Gia di sekolah Hanum membuat Haris mendadak tidak karuan. Motornya bahkan melaju lebih cepat dari kecepatan yang diizinkan Mama ketika membonceng adik-adiknya. Membuat Hanum memeluk erat pinggang sang kakak seraya melontarkan sumpah serapah sepanjang perjalanan.

Sesampainya di rumah, Haris menyugar rambutnya. Meletakkan helmnya di rak yang seharusnya kemudian merebahkan tubuhnya di sofa. Di sebelahnya, Hanum sudah siap mengoceh.

“KAKAKKKKK NGAPAIN SIH NGEBUT-NGEBUT KAYAK TADI? AKU BILANGIN MAMA YA! Liat rambut aku berantakan, aku jantungan tau nggak?!”

Haris menilik adiknya sekilas, setelahnya kembali memasang tampang cuek. “Ini nggak kenapa-kenapa kan buktinya?”

Hanum memasang wajah tidak percaya. “Kak demi apa sih?”

Haris terkekeh, kemudian menarik tangan Hanum dengan cepat. Membuat adiknya itu terjatuh ke dalam pelukannya. “Bercanda, Naaaaamm,” ucap Haris. Selalu begitu, Haris akan selalu memanggil Hanum sebagai Hunam jika keduanya bertengkar. Meski aneh, Hanum menyukainya. Rasanya selalu terdengar lebih tulus setiap kali Haris memanggilnya begitu. Dan hanya kakaknya yang boleh memanggilnya dengan sebutan itu.

“KAKAK MAH ISENG!!” ucap Hanum di dalam pelukan kakaknya. Gadis itu mencubit perut Haris dan membuat pemuda itu mengaduh kesakitan.

“Udah loh! Udah nyubit berarti nggak boleh ngadu Mama ya?” ujar Haris. Hanum hanya membalas ucapan kakaknya dengan gelak tawa ringan. Setelahnya turut menyandarkan tubuhnya di sofa dengan kepala yang ia tumpukan pada sebelah pundak Haris.

“Aku bakal tetep bilang Mama sih,” ucap Hanum. Secepat kilat, Haris menoleh panik. “Kok gitu?!”

“Soalnya Kakak aneh,” balas Hanum.

“Aneh kenapa?”

Hanum berdecih, “Pura-pura bego apa emang beneran, Kak—aduh kok jidat aku disentil?!”

“Kurang ajar sama yang tua!”

“Abisnyaaa begituuu!”

“Begitu gimana sih, Num?” tanya Haris. Sebal, dalam hatinya menggerutu. Kalau memang ada sesuatu harusnya bisa langsung Hanum ungkapkan, bukan kode-kode begini.

“Ribet kode-kodean, udah tau abang lu males mikir,” balas Haris.

“Kakak—sejak kapan jadi pedulian sama orang?” tanya Hanum tiba-tiba.

Haris mengernyit merespon pertanyaan Hanum, “Maksudnya?”

Lagi-lagi Hanum menghela napasnya, “Kakak ngapain tadi tiba-tiba ngasih selampe ke Kak Anggi? Terus nungguin dia sampe ojolnya dateng?”

Haris terdiam. Benar juga. Sudah bertahun-tahun dalam hidupnya Haris menjadi orang yang cukup individualis. Haris jarang tersenyum dan menyapa orang lain selain ketiga temannya, lebih-lebih membantu mereka. Apalagi untuk hal sekecil rok putih yang bisa terkena noda tinta biru, rasanya itu terlalu sepele untuk menjadi urusan seorang Haris.

“Kenapa hayooo?” tanya Hanum lagi pada Haris yang malah melamun.

“Yaa emang salah?” Haris memilih berlindung dibalik pertanyaan.

“Enggak sih, tapi nggak biasanya aja. Kakak yang biasanya nggak pernah mau nanggepin orang lain tiba-tiba seramah itu sama Kak Anggi, Kakak yang nggak pedulian sama orang tiba-tiba notice tangannya Kak Anggi yang keringetan dan bisa ngotorin roknya, Kakak yang biasanya jutek banget sama adek kelas karena as you said, 'CAPER', tiba-tiba ngeledekin Kak Anggi, bilang dia kecil?”

Hanum kini tak lagi menyandarkan kepalanya di bahu Haris, matanya kini menatap Haris dengan pandangan bingung. Sementara Haris balik menatap dengan pandangan yang lebih bingung.

Semua bukti yang disebutkan Hanum, tidak salah. Namun rasanya Haris enggan membenarkan. Alhasil, pria itu hanya diam, merapatkan bibirnya dan memandang ke sembarang arah. Setelahnya ia kesal sendiri, “Emangnya kenapa sih, Num?”

Hanum menggeleng santai, “Enggaak. Cuma—Kakak.. suka sama Kak Anggi?”

“Enggak, kenal aja cuma sekelebat doang,” jawab Haris santai.

Then, what was that?

Haris menghela napasnya sebelum akhirnya menggeleng dan bangkit, memilih menyudahi percakapan ini dengan Hanum. Sebab ia pun tak tahu jawabannya.

“Dah ah, mau jemput Haura.”

“YEUUUU KABUR!” ejek Hanum. “Kalo suka bilang aja kaleee! Hanum restuin kokkkk!!”

“Ganti baju, Hanum!”

“Kak Anggi, aku duluan ya? Kakakku udah di depan,” ucap Hanum. Gia mendongak, “Oh? Ya udah bareng aja ke depannya. Ojol aku juga udah deket, kok.”

“ALESAN NIHHH, MAU LIAT KAKAKKU YA?”

Gia tertawa, “Tau ajaa! Enggak lah, bercanda. Serius ini ojol aku udah deket. Yuk bareng!”

Hanum terkekeh, kemudian mengangguk menjawab ajakan Gia. Sejujurnya, Hanum tak pernah keberatan untuk menunjukkan siapa kakaknya pada Gia. Seperti yang ia katakan, Gia itu baik, tidak seperti anak-anak seangkatannya yang suka senioritas terhadap Hanum. Hanya saja, waktunya tak pernah pas setiap kali Hanum ingin mengenalkan kakaknya pada Gia.

“Kak Anggi ojolnya udah sampe mana?” tanya Hanum ketika mereka hampir sampai ke depan gerbang.

“Ini udah deket, kok. Kayaknya tinggal puter balik abangnya,” balas Gia. “Nggak pa-pa, Hanum duluan aja.”

“Iya, ayo liat kakakku duluuuu!” ajak Hanum. “Dari dulu setiap Kak Anggi mau liat kakakku selalu nggak pas waktunya. Jadi nggak pernah ketemu!”

Gia terkikik, “Iya ya? Waktu itu kamu dijemput kakakmu aku ada les, jadi buru-buru pulang. Terus waktu aku ada waktu, kakak kamu jemputnya di seberang. Nggak ketemu lagi.”

“Iyaaa, makanya! Ayo liat dulu kakak aku, sekalian aku kenalin,” balas Hanum.

“Apaan dahhh, masa dikenalin? Nggak usah ah, malu. Nggak pa-pa aku liat mukanya aja,” balas Gia.

“Hanum!” panggil seseorang.

Gia menghentikan langkahnya. Suara bariton itu, suara bariton yang sama dengan yang menyuruhnya segera masuk gerbang tadi pagi, suara bariton yang sama dengan yang meminta izin padanya untuk menggunakan bangkunya, suara bariton yang sama dengan yang mempersilakannya kembali duduk dan mengucap terima kasih. Suara bariton itu..

“Kak Haris?”

“Gia?”

“Looohhhhh, kenaaal?” tanya Hanum bingung. Pandangannya terarah bolak-balik pada Haris dan Gia yang sama-sama terkejut akan keberadaan masing-masing.

“Kamu ngapain, Gi?” tanya Haris.

“Hah? Oh, i-itu.. cap tiga jari,” jawab Gia. Gadis itu mendadak gugup lantaran harus bertemu kembali dengan Haris.

“Kakak— kakaknya Hanum?” tanya Gia.

“Iya,” jawab Haris santai. “Kamu kenal adek saya?”

“Iya, Kak. Dulu satu ekskul,” balas Gia. Haris mengerutkan keningnya, “Kamu bukannya basket, Gi? Hanum perasaan nggak basket?”

“Saya EC juga, Kak,” balas Gia.

“Iyaaa, Hanum sekarang gantiin Kak Anggi jadi ketua. Mantep kan?” Hanum ikut nimbrung.

Haris mendadak menoleh pada adiknya, “Oh ini Kak Anggi yang suka lo omongin?”

Gia menautkan alisnya, “Ngomongin apa, Kak?”

“JANGAN—”

“Katanya Kak Anggi baik, cantik, manis, imut, gemes, gitu Gi— ADUHHHHH APA SIH AH!” ucap Haris yang terpotong akibat Hanum yang menghujaninya dengan cubitan.

Gia tersenyum seraya memandang Hanum yang kini bersungut akibat ulah sang kakak, “Emang iya, Num?”

“Kak Haris maaaah! Malu tauu!” ujar Hanum, gadis itu kini bersembunyi di balik punggung sang kakak. Membuat Haris dan Gia tergelak bersamaan.

“Yeuu di rumah aja lancar banget cerita, kata Hanum—”

“KAKAH IH! UDAHHHHH!” potong Hanum lagi sebelum kakaknya membeberkan rahasianya lebih lanjut. “Hahaha, iyaaa iyaa enggak. Udah naik buruan!”

“Eh, Kakak dari mana kenal sama Kak Anggi?” tanya Hanum.

Haris berdecak, kemudian menunjukkan dasinya yang memiliki logo sekolah sama dengan milik Gia. “Sama nih,” balasnya.

“Ooooh satu sekolah, toh? Tapi kan Kakak nggak pernah kenalan sama cewek, Kak? Kok bisa kenal Kak Anggi?”

Haris refleks memukul pelan punggung tangan Hanum yang melingkari perutnya, “Ck! Mulutnya ni ya!”

Gia hanya tertawa melihat interaksi kakak-beradik di hadapannya, “Kak Haris mentor kelasku waktu MOS, Num.”

“Iya terus Gia bikin masalah mulu jadinya Kakak kenal,” balas Haris.

“Ih? Kakak ingetnya saya gitu?”

“Emang iya, Kan?” balas Haris menahan senyumnya yang hampir lolos karena ekspresi menggemaskan dari Gia.

“Iya, sih,” jawab Gia pasrah. Kemudian hening, ketiganya berhenti bicara hingga Haris kembali bicara.

“Kirain tadi Hanum jalan sama adek kelasnya,” tutur Haris tanpa melihat ke arah Gia. Pria itu memilih menoleh ke arah samping, mengalihkan pandangannya dari Gia.

“Ih kenapa gitu?” balas Gia tak terima.

Terdengar kekehan kecil dari Haris sebelum menjawab pertanyaan Gia, “Abisnya kecil banget.”

Mendengar jawaban Haris, Gia melotot. “Kakaaaaak? Jahat bangeeet!”

Tak ada jawaban dari Haris. Yang terdengar hanya gelak tawa pemuda itu yang berusaha sekuat tenaga untuk ditahannya.

“Kamu dijemput, Gi?” tanya Haris.

“Enggak, Kak. Naik ojol, sebentar lagi sampe, kok,” balas Gia.

“Ohh, ya udah.”

Gia hanya mengangguk. Ia pikir, Haris akan segera pamit dan meninggalkannya sendirian. Namun di luar dugaan, Haris justru menunggunya sampai ojol yang ia pesan tiba.

“Mbak Anggia ya?” tanya supir ojol yang baru saja tiba. Sambil tersenyum ramah, Gia mengangguk. “Iya, Pak.”

“Dadah, Kak Anggiii! Nanti main ke rumah yaaaaa!” ucap Hanum.

“Iyaaa, daaah Hanum!”

Baru saja Gia ingin menaiki ojolnya, Haris kembali memanggilnya.

“Gia!”

Langkahnya terhenti, Gia kembali berbalik dan menunggu Haris melanjutkan bicaranya. Gia memasang wajah bingung ketika melihat Haris justru mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya.

“Tangan kamu keringetan, lap dulu, nih! Biasanya kalo keringetan tintanya basah lagi, nanti kena rok kamu. Sayang, warna putih soalnya. Takut nggak ilang,” ucap Haris, pria itu menyerahkan sapu tangan miliknya ke tangan Gia yang masih terpaku di tempatnya.

“Duluan ya, Gi! Hati-hati kamu pulangnya!” ucap Haris kemudian segera tancap gas meninggalkan Gia yang masih terpaku. Matanya mengikuti Haris yang kian menjauh, hingga menghilang dari jangkauan matanya.

Setelahnya ia tertunduk, melihat sebuah sapu tangan berwarna putih yang memiliki bordiran berwarna biru berinisial M.H.

Senyum kecilnya merekah, “Padahal sapu tangannya juga putih, tapi nggak disayang.” batinnya.

Gia akhirnya segera menaiki ojolnya untuk pulang. Entah karena ibadahnya yang mana, yang jelas, hari ini rasanya adalah hari paling menakjubkan bagi seorang Anggia Kalila Maheswari. Sebab, dirinya diberi kesempatan untuk melihat sisi lain dari seorang Muhammad Haris, yang dikenal garang, dingin, dan jauh dari kata ramah.

Hari ini Gia diberi kesempatan untuk melihat sisi seorang Haris yang lebih hangat. Terhadap sesamanya, orang terdekatnya, dan adiknya.

Hanum dan Gia sudah selesai dengan kegiatan ekskul. Hanum menutup pertemuan hari itu dengan salam dan ucapan terima kasih pada seluruh anggotanya karena sudah hadir. Tak lupa ucapan terima kasih pada Gia yang sudah menyempatkan waktu untuk menengok anggota ekskul yang dulu ia pimpin itu.

Keduanya kini berjalan menuju gerbang seraya berbincang-bincang.

“Kamu dijemput, Num?” tanya Gia.

“Iyaa, Kak. Tadi aku udah telepon Mama sih, tapi kayaknya kakakku yang jemput soalnya Mama masih ada kerjaan,” balas Hanum.

“Ohhh, kakak kamu yang kamu bilang ganteng itu?” tanya Gia. Kedekatan dirinya dengan Hanum membuat Hanum sesekali menceritakan sedikit tentang keluarganya. Hanum pernah bilang bahwa dirinya adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya laki-laki dan sangat tampan, bertubuh tinggi, dan katanya, gengsian. Sementara adiknya perempuan dan tak kalah cantik dari Hanum.

Hanum hanya mengangguk menjawab pertanyaan Gia. “Ah, ganteng doang dipamerin enggak,” balas Gia.

“Yeuuu, ogah aku pamerin kakakku ke sini. Nanti banyak yang naksir, aku nggak merestui. Mereka pada jahat sama aku males,” sahut Hanum. Gia tak membalas, gadis itu hanya tertawa dan melipat tangannya di depan dada seraya melihat ke arah jalan.

“Eh, Kak Anggi gimana di SMA? Enak nggak?” kini Hanum balik bertanya.

“Enak enak ajaa. Nggak tau sih, mungkin karena baru masuk kali ya? Belom ketemu susahnya. Tapi temen sebangkuku baik, ketua kelasku juga ramah banget sama aku. Jadi, sejauh ini alhamdulilah baik-baik aja sih,” cerita Gia. Sementara Hanum hanya menyimak.

“Ada yang ganteng nggak, Kak?” tanya Hanum bersemangat.

Mendengar pertanyaan Hanum, Gia membelalakkan matanya. Dari dulu, Hanum memang selalu bisa menebak isi pikirannya dengan akurat. Sampai-sampai Gia curiga mereka sebenarnya adalah kakak-beradik kandung.

Melihat Gia yang terkejut, Hanum berubah sumringah. Gadis itu kemudian mengejek Gia tepat di depan wajahnya. “Hayoooooo! Kak Anggi lagi naksir orang yaaa?!”

Gia menggeleng kaku, “Enggak!”

“Bohooong! WAHAHAHAH MUKANYA MERAH IH CIEEE KAK ANGGIII!”

“Apa sih, Nuuuum? Engggaaaak!”

“Ya ampun Kak Anggiii! Baru masuk SMA berapa lama sih, Kak? Udah naksir orang aaaja,” ejek Hanum. “Ya, tapi nggak pa-pa, Kakk! Kakak kan dulu cerita katanya baru boleh pacaran kalo udah SMA. Ya mungkin sekarang saatnya, Kaaak wakakakak.”

“Ih, apa sih kamuuuuu? Ngaco ah!”

“Siapa sih, Kaak? Cerita doooong!” tanya Hanum penasaran. “Udah lama nih kita nggak cerita-cerita!”

“Apa sih, Nuuum? Enggaaak!”

“Enggak salah lagi?” tanya Hanum seraya menaik-naikan sebelah alisnya.

“Inisial dehhh inisial!!” tagih Hanum. Gadis itu masih menahan Gia yang berusaha pergi menghindarinya.

“Apa sih inisial inisial? Nooo!

“Inisialnya A juga ya? Apa yang biasa bales tweet Kakak ya? Siapa namanya tuhhhh Kak Alwan?” tanya Hanum.

“Ih, tau-tauan Alwan lagi! Itu ketua kelas aku!” balas Gia.

“Tuhh, iya kannn Kak Alwan ya namanya ya?!”

“BUKAAAAAAAAN AKU SAMA ALWAN TEMEN DOANG!”

“TERUS SIAPA DONG KAKKK?!”

“ADA DEH AH UDAH AH MALU!” ucap Gia. “Aku mau beli es teh,” ucapnya lagi.

Setelahnya Hanum hanya tertawa kemudian berlari menyusul Gia, “IKUUUUT!”

Gia menghela napas setelah lelah membalas sapaan-sapaan teman lamanya di SMP. Sesuai rencana, Gia akhirnya izin untuk melakukan cap tiga jari di sekolah lamanya. Namun, belum sempat melakukan tujuannya, Gia sudah lebih dulu ditahan oleh teman-teman lamanya untuk mengobrol. Bertukar sapa serta saling menanyakan kabar sebab sudah lama tak jumpa.

Bahkan setelah melakukan cap tiga jari, Gia yang berniat untuk langsung pulang itu tetap tak bisa melaksanakan niatnya sesuai rencana. Teman-temannya kembali menahannya untuk berfoto bersama. Memamerkan tiga jari tangan kiri yang berwarna biru, khas anak-anak SMP yang baru saja lulus. Dengan bangga mereka berpose dengan tiga jari seakan menunjukkan bahwa mereka telah berhasil melalui jenjang SMP dan kini beralih menjadi lebih dewasa.

“Gia cakep banget, dah!”

“Apa sihhhhh, enggak biasa aja,” balas Gia malu-malu. Setelahnya mereka kembali berfoto.

“Anggi,” panggil salah satu guru SMP-nya. Gia menoleh, lantas terkejut dan segera menyalami beliau. “Eh, Misss! Apa kabaar?”

“Baik, alhamdulillah. Kamu SMA di mana, Gi?”

“Di Pelita Nusantara, Miss,” jawab Gia.

“Oh yaa? Wihh, keren, keren! Itu SMA bagus, Gi. Tinggal belajar yang bener aja kamu.”

Gia tersenyum seraya mengangguk, “Iya, Miss. Sekarang EC gimana, Miss? Makin banyak yang gabung?”

Selain anggota basket, Gia juga merupakan anggota English Club semasa SMP. Bahkan, Gia menjabat sebagai ketuanya. Itulah yang membuatnya akrab dengan guru-guru Bahasa Inggris di sekolahnya.

“Iyaa alhamdulilah. Sekarang Hanum ketuanya, Gi.”

“Oyaa? Ah kentara sihh, Hanum emang rajin dari dulu ya, Miss?” tanya Gia riang. Turut senang rupanya orang yang menggantikan kepemimpinannya adalah orang yang tepat.

“Ini belum pada pulang ya, Miss?” tanya Gia lagi. “Beluum, sebentar lagi, sih. Abis itu paling ekskul. Hari ini EC loh, kamu ikut dulu ya? Kenalann sama anak-anak barunya bisa nggak?”

“Hah? Nggak pa-pa, Miss?”

“Iyaa nggak pa-pa, nanti kamu liat-liat aja. Nggak sibuk kan? Ada kegiatan nggak hari ini?”

“Nggak ada, kok, Miss. Aman aman,” jawab Gia. “Oke, dehh. Saya ke sana dulu ya. Nanti ketemu lagi, Anggi! See you!

“See you, Miss!”


Bel penanda pulang sekolah berbunyi, para siswa SMP itu berhamburan keluar kelas dengan wajah-wajah riang. Gia tersenyum melihatnya, membayangkan dulu dirinya berada di posisi yang sama dengan mereka. Rok biru, dasi biru, topi biru, dan jam pulang lebih awal. Rasanya ingin kembali mengulang waktu, namun bukan berarti Gia tak mensyukuri hidupnya saat ini. Bisa menjadi murid dari salah satu sekolah favorit, adalah hal yang lebih baik dari itu semua.

Tak lama Gia mendengar suara pengumuman yang memanggil para anggota EC untuk berkumpul di sebuah ruangan. Gia memilih untuk menunggu sang ketua keluar dari ruang TU untuk menemuinya.

“Sst, sst!” Gia memanggil adik kelasnya yang sekarang menjabat sebagai ketua EC menggantikan dirinya. Hanum, seseorang yang dipanggil itu menoleh dan terkejut setelahnya. Dengan semangat dan langkah riang, Hanum menghampiri Gia dan segera memeluknya.

“KAK ANGGIIIII OH MY GODDD!!!! KOK DI SINIII?”

“Aku abis cap tiga jariiii,” balas Gia tak kalah riang.

“Ih ya ampun. Udah jadi anak SMA nih yeee dasinya abu-abu, ciee Kak Anggi!”

Gia tertawa, “Apa sihhhh? Kamu nihhh cieee udah jadi ketua EC uhuhuhu! Kamu kok makin tinggi aja sih, Nuuum?”

“Iya lahh, tiap hari aku minum susu. Kak Anggi kok makin pendek?”

“Ah malessssssss!”

“Eh, tadi kata Miss Isti aku boleh ikuttt ekskul EC,” ucap Gia. “OH IYA? IH BOLEH BOLEHHHH AYO IKUTTT!” balas Hanum seraya menggoyang-goyangkan badan Gia penuh semangat.

“Ya ampunnn, iya iyaaa aku ikut. Pelan-pelan, Hanumm,” balas Gia.

“DUH SORRYY! I'M SO EXCITEDDD!! Seseneng ituuu tau nggak sih ketemu Kak Anggi lagi!!!” balas Hanum.

Gia mengangkat sebelah alisnya tak percaya, “Masa? Kenapa emang?”

“Kakak kan tau, dari dulu Kakak kelas pada nggak suka sama aku padahal aku nggak ngapa-ngapain. Kak Anggi doang yang baik banget sama aku sumpah, makanya pas Kakak lulus aku sedih, deh. Jujur banget ini, mah,” ucap Hanum.

“Ya ampuuun, uuuuutayaank, sahut Gia mencubit-cubit kedua pipi gadis yang lebih tinggi darinya itu pelan. Memang benar, sejak dulu, Hanum adalah adik kelas yang tidak disukai oleh hampir semua anak perempuan seangkatan Gia. Entah alasannya apa, tapi sepertinya karena gadis itu terlalu cantik. Banyak kakak kelas melabraknya tanpa alasan, tiba-tiba menegurnya agar memasang paras lebih ramah padahal Hanum hanya diam, tiba-tiba menegurnya agar tidak kecentilan padahal Hanum tidak melakukan apapun, tiba-tiba menegurnya untuk tidak memakai make up ke sekolah padahal Hanum benar-benar hanya memakai bedak tipis.

Hanya Gia yang bersikap baik padanya. Hanya Gia yang mau menegurnya dan mengajaknya bercengkerama. Hingga tanpa disadari, keduanya memiliki kecocokan dan berteman dekat. Gia dan Hanum sudah seperti adik-kakak. Dulu, di sekolah, sambil menunggu ekskul dimulai biasanya Gia suka membantu Hanum menyelesaikan PR-PR-nya. Meminjaminya catatan, dan menjelaskan materi yang belum Hanum mengerti.

“Ayo, Kak Anggi. Ke kelasnya, gabung sama yang lain. Nanti aku kenalin ke anak-anak barunyaa!” ucap Hanum. Setelahnya Gia hanya mengangguk dan mengikuti langkah Hanum untuk menuju ruangan yang akan mereka gunakan untuk melaksanakan kegiatan ekskul.

Setelah kembali dari kantin, Gia dan Zahra masuk ke kelas bertepatan dengan bel masuk. Tak lama kemudian Pak Asep, guru matematika mereka masuk. Seperti biasa, beliau memang selalu tepat waktu hingga tak jarang terdengar keluhan para siswa yang mengharapkan lebih banyak waktu bersantai.

Kali ini, harapan mereka terkabul. Proyektor kelas mereka yang akan digunakan itu tidak berfungsi. Membuat Pak Asep pada akhirnya pamit keluar sebentar untuk memanggil seseorang yang mengerti. Waktu luang itu memberikan waktu untuk Zahra memejamkan matanya sejenak. Dan waktu untuk Gia memikirkan 'surga dunia' yang tadi ia lihat di kantin.

Gia melamun, senyumnya merekah otomatis mengingat betapa indahnya pemandangan yang ia saksikan saat istirahat tadi. Kak Haris yang menyugar rambut setengah basahnya sambil berjalan keluar masjid disertai tawa manis yang jarang terlihat. Entah tipuan cahaya matahari, atau memang nyata, yang jelas wajah Haris nampak bercahaya di mata Gia. Kalau kata Zahra, “Adem ya, Gi? Kayak ubin masjid.”

Salah menurut Gia. Sebab yang ia rasakan bukan ketenangan hati. Hatinya justru ingin meledak setelah melihat Haris tadi. Entah ini perasaan apa, Gia tidak terlalu paham. Gadis itu teringat perkataan Om Agung, pamannya, “Nanti SMA jangan kaget kalo banyak yang berubah dari kamu. Soalnya pasti kamu akan nemuin hal baru. Sengaja atau enggak.”

Kali ini, Gia setuju.

Suara bariton seseorang mengucap salam membuat Gia terlonjak. Gadis itu tersadar dari lamunannya. Matanya kembali terbelalak mendapati seseorang yang berada di depan kelasnya saat ini. Itu Kak Haris. Kak Haris yang sama yang ia lihat di depan masjid tadi.

Sumpah demi apa?!!!! batin Gia berteriak. Di sebelahnya siku Zahra sudah menyenggol-nyenggol lengannya. Ketika Gia menoleh ke arahnya, Zahra senyum-senyum seraya mengangkat sebelah alisnya. Menggoda Gia.

“Assalamu'alaikum,” ucap Haris. “Waduh pada tidur, kaget kan lu semua. Pak, parah, Pak ditinggal bentar aja pada tidur!”

“Emang, biarin aja nanti kita merahin nilainya diem-diem,” ucap Pak Asep sedikit berbisik pada Haris. Haris kembali tertawa, “Woke, Pakk siap!”

“Udah itu pasangin dulu,” balas Pak Asep mengingatkan Haris akan tugas yang seharusnya ia lakukan. Yaitu men-setting proyektor.

Haris menatap ke depan, rupanya proyektor itu berada tepat di atas tempat duduk seseorang yang ia kenali. Seseorang yang tadi pagi ia tolong. Anggia Kalila.

Haris mendadak ragu, tiba-tiba kakinya terasa kaku untuk melanjutkan langkahnya. Terlebih ketika tatapannya bertubrukan dengan milik Gia yang juga terarah padanya. Haris berdeham, kemudian mendekat ke arah Gia.

“Gi, misi ya,” ucap Haris. Kemudian Gia mengangguk kaku seraya menyingkirkan buku matematikanya yang berada di atas meja. Tanpa sengaja, tangannya bersentuhan dengan milik Haris yang juga berusaha memindahkan buku Gia.

Sorry, sorry,” ucap Haris lagi.

“Iya, Kak, nggak pa-pa,” balas Gia kaku.

“Anggia coba kamu pindah dulu, biar Kak Harisnya naik bangkumu,” ucap Pak Asep mengagetkan keduanya.

“O-oh, iya, Pak.”

Pada akhirnya Gia bangkit dan merelakan bangkunya menjadi pijakan Haris untuk menggapai proyektor. “Maaf ya, Gi,” ucap Haris sebelum menginjak bangku Gia.

“Iya, Kak,” jawab Gia. Kemudian menumpang duduk pada temannya di barisan sebelah. Gadis itu memperhatikan Haris yang tengah fokus mengeksekusi proyektor kelasnya. Wajah Haris dalam mode serius memang tak ada tandingannya.

“Awas kesetrum,” Pak Asep memberi peringatan. “Ssh aduh, Pak, nyetrum,” balas Haris.

“Tuh, baru dibilangin,” balas Pak Asep.

“Boong, deng,” balas Haris seraya tertawa. Membuat para siswa di kelas itu ikut tertawa.

Pak Asep hanya senyum, “Tuh, begini kerjaan kakak kelas kalian. Ngeledek Bapak aja kerjaannya. Liat aja besok nilainya merah.”

“Ih, nggak saya nyalain nih, Pak?” balas Haris bercanda. “Oh kamu ngancem saya?” tanya Pak Asep dengan sambil menahan tawa.

“Enggak, Pak. Ampun,” balas Haris. Kemudian pemuda itu kembali fokus pada pekerjaannya. Setelah beberapa lama, ia berhasil menemukan permasalahannya. Benar dugaan sebelumnya, kabel proyektor itu kendur.

“Naaah kan,” gumam Haris setelah proyektor berhasil menyala. “Bisa, Ris?” tanya Pak Asep.

“Bisa dongggg, bener, Pak ini kurang nyolok. Kabelnya kendor.”

“Coba, Pak, sambungin ke laptop Bapak,” ujar Haris. Pak Asep kemudian menyambungkan proyektor ke laptop pribadinya. Sekon berikut, masalah terpecahkan. Proyektor menyala dan menampilkan materi pembelajaran yang akan dibahas. Haris tak langsung turun, namun memastikan agar gambar yang ditampilkan tidak buram. Setelahnya, barulah ia turun.

“Udah ya, Pak?”

“Iyak, sudah. Terima kasihh.”

Haris menuruni bangku Gia, namun tak langsung meninggalkannya. Pria itu mengembalikan buku Gia yang disingkirkan tadi ke tempatnya kemudian membersihkan kursi Gia dari jejak sepatunya menggunakan tangannya.

Aksinya lantas membuat satu kelas terkejut, namun tak ada yang berani mengejeknya. Zahra dan seluruh anak perempuan di kelasnya hanya bisa menutup mulutnya tak percaya. What a gentleman.

Sementara Gia hanya bisa diam, tubuhnya mendadak kaku. SUMPAH INI HARUS APA SIH

“Makasih ya, Gi. Nih, duduk lagi,” ucap Haris menyadarkan Gia.

“Hah? Oh, iya, Kak. Makasih juga dirapiin lagi.”

“Sama-sama.”

Setelahnya Haris berpamitan pada Pak Asep dan kembali ke kelasnya. Sementara Gia? Gadis itu tak yakin akan bisa fokus belajar kali ini. Matanya bahkan tak menatap ke arah papan tulis yang memancarkan materi dari proyektor, melainkan ke arah jendela. Mengikuti kepala menyembul di jendela milik seseorang yang baru saja keluar dari kelasnya.

Senyum kecilnya kembali merekah seiring dadanya membuncah. Kalau kata Zahra, Yang begini udah nggak ada obatnya.

Haris masih cekikikan bersama Ojan dan Damar. Ketiganya bersantai karena guru yang seharusnya mengajar setelah istirahat itu sedang ada urusan di luar sekolah. Alhasil, mereka memiliki jam kosong selama dua jam pelajaran. Tak usah ditanya bagaimana keadaan kelas saat Damar membawakan informasi itu, sorakan meriah di mana-mana membuat sang ketua kelas bahkan menutup telinganya.

“Bu Linda tau aja yak kita kalo abis istirahat kenyang bego,” ucap Haris seraya memainkan ponselnya.

“WAHAHAH, iya anjir gue selalu ngantuk kalo ekonomi abis istirahat,” timpal Ojan yang kemudian mendapat cemooh Damar. “Halah, lo mah mau abis istirahat kek, abis maen kek, abis wudu kek, tetep aja ngantuk.”

Ojan tergelak, “Tau aja Bapak!”

“Sumpah bete banget tapi dah, begini doang. Maen dongg,” ucap Haris.

“Maen ape? Liat aja pada molor semua begitu, kagak seru bertiga doang. Dhimas kelasnya ada guru sih,” balas Ojan.

“Lo tumben Jan nggak ikutan molor?” tanya Damar. Ojan kemudian menggeleng, “Enggak, ah. Kata emak gue abis makan kagak boleh tidur.”

“Alah brengsek padahal biasanya abis istirahat langsung ngegelosor di belakang. Sepatu gue ngilang taunya dijadiin bantal,” balas Haris sedikit jengkel.

“Lu mah, tidak mendukung perubahan baik gue, Ris!” sahut Ojan. Pria itu menatap Haris dengan alis yang berkerut, ngambek.

Damar hanya geleng-geleng kepala. Sudah biasa melihat pertengkaran Haris dan Ojan yang kadang terlihat seperti sepasang kekasih yang beradu mulut. Toh, ujung-ujungnya keduanya akan tertawa dan perdebatan pun usai.

“Elu berubah baik semenit doang egeee, abis itu kacau balau lagi,” balas Haris.

“Nah,” ucap Damar menjentikkan jarinya. “akurat, Ris!”

“Tuh, bapak lu aja kagak support,” ucap Haris lagi. Pada akhirnya Ojan menyerah, “Yah, anjir lah. KAGAK ADA DHIMAS NIHHH, sohib gue kagak ada.”

“Tunggu pembalasan gue kalo ada Dhimas!” ucap Ojan.

“Kayak Dhimas mau dukung lu aja anjir!” balas Haris.

Saat Ojan ingin membalasnya lagi, kesempatannya hilang ketika ada guru yang mengetuk pintu kelasnya. Itu Pak Asep, guru matematika yang juga menjabat sebagai kesiswaan. Rupanya beliau mencari Haris.

“Assalamu'alaikum, Damar, ada Haris?”

“Wa'alaikumussalam, ini, Pak, depan saya,” balas Damar seraya terkekeh dengan telunjuk yang diarahkan pada Haris.

“Saya, Pak. Kenapa, Pak?”

“Kalian jam kosong ini?” tanya Pak Asep.

“Iya, Pak. Pelajaran Bu Linda, tapi tadi Bu Linda hubungi saya katanya ada urusan di luar sekolah jadi nggak bisa ngajar,” balas Damar santai.

“Ohh iya, Bu Linda pergi. Ya sudah, Haris tolong Bapak dong, Nak. Proyektor di 10 MIPA 2 nggak mau nyala, kamu bisa bantu setting nggak? Anak-anak di sana juga pada nggak ngerti.”

Haris menatap Pak Asep bingung, “Kurang nyolok kali, Pak kabelnya?”

“Nggak ngerti, lah. Coba coba tolongin.”

“Sekarang, Pak?” canda Haris. Menjadi salah satu anggota OSIS dan yang paling sering diandalkan oleh guru-guru membuatnya tak lagi canggung untuk mengajak guru-guru bercanda. Gosip Haris yang galak dan dingin itu hanya ada di kalangan adik-adik kelas. Sementara di kalangan guru-guru gosip semacam itu sama sekali tidak ada lantaran mereka semua mengenal Haris sebagai anak baik, sopan, dan dapat diandalkan.

“Oh kalo mau besok silakan, tapi nilaimu di rapot merah ya?” Pak Asep balik bercanda.

“Aduhh,” Haris terkekeh. “Nggak asik Bapak maenannya nilai.”

“Ayo cepet atuh, keburu jam Bapak abis ini kamu heh bercanda terus!”

Pada akhirnya Haris terkekeh dan bangkit dari kursinya. Memasukkan ponselnya ke dalam saku dan berjalan membuntuti Pak Asep menuju 10 MIPA 2.

“Heh, mau ke mana?” tanya Pak Asep pada Haris yang berjalan terlalu jauh hingga melewati kelas yang seharusnya ia masuki.

Pria itu menoleh dan menatap bingung pada Pak Asep, “Eh? Ke mana sih, Pakk kelasnya?”

“Sini,” jawab Pak Asep. Haris kemudian tertawa, “Ooohh sini. Nggak keliatan, Pak plangnya. Bapak sihhh saya suruh ganti juga itu plangnya udah jelek, Pak ih.”

“Bercanda terus!” ucap Pak Asep seraya menjewer telinga Haris pelan. Sementara Haris hanya cekikikan sambil memasuki kelas.

“Assalamu'alaikum,” ucap Haris. Suara beratnya itu mengagetkan beberapa siswa yang meletakkan kepalanya di atas meja, tidur.

Termasuk satu orang yang sedang melamun seraya senyum-senyum sendiri.