raranotruru

“Kamu ada yang mau dicari nggak, Kak?” Haris menoleh pada mama yang memulai percakapan setelah mereka keluar dari restoran. Pemuda itu tampak menggeleng, “Nggak ada. Mama ada yang mau dicari?”

“Enggak, tapi Hanum katanya mau beli cat akrilik buat tugas sekolahnya besok. Kamu mau ikut atau?”

“Kayak biasa deh, Ma. Haris sama Haura aja, main,” balas Haris. Memang selalu seperti itu. Jika tidak ada yang ingin atau perlu ia beli, Haris akan membiarkan Hanum mengitari mall bersama mamanya. Membiarkan wanita-wanita itu mencuci mata dan mencari entah apa yang mereka butuhkan. Sebab Haris tahu, meskipun yang dicari hanya satu barang, tetap saja keduanya akan melipir ke tempat-tempat yang tidak ada direncana sebelumnya.

“Ohh, okay. Nanti Mama telepon kalo udah mau jalan ke parkiran ya, Kak? Inget kan tadi parkir di mana?” tanya mama.

“Inget, Ma. Ya udah, gih. Haris sama Haura, yaa!”

Keempatnya berpisah. Dengan Hanum yang bersama mama dan Haris yang berpasangan dengan Haura. Pria itu menggenggam tangan Haura erat agar gadis itu tidak tertinggal. Langkahnya pun menjadi pelan, menyesuaikan langkah Haura yang amat kecil dibandingkan langkahnya yang selalu gagah.

“Haura mau ke mana?” tanya Haris. “Mau jajan nggak?” Dengan pertanyaannya, Haris bermaksud mengajak Haura ke luar mall, menuju taman dekat sana yang memang sering keduanya kunjungi. Setelah gadis kecil itu mengangguk, Haris lantas terkekeh, kemudian beralih menggendong Haura dan menuju tempat yang ingin dituju.


“Eh, Gi gue beli nggak ya?” tanya Agung pada keponakannya. Gia lagi-lagi menghela napasnya. Setelah dijemput secara tiba-tiba oleh Agung, Gia terpaksa menuruti permintaan Agung untuk menemaninya membeli sepatu bola baru untuk bermain bersama teman kantornya. Namun, ketika sampai di toko, Agung kerap mengarahkan pandangannya kepada celana boxer bermerk sport terkenal yang memang biasa Agung beli. Bingung ingin membeli atau tidak.

“Astaghfirullah Om, itu cuma kolor...”

“Dih sembarangan lu, Gi! Itu kolor bukan sembarang kolor ya!” balas Agung. “Astagaaa kolor aja dibelain!” sahut Gia.

“Nggak usah beli dehh! Udah sampe sini jugaaa, masa mau balik lagi?” tanya Gia.

“Duh, beli nggak ya, Gi? Bingung banget dah asli.” Agung kini bertolak pinggang. Isi pikirannya seperti sedang bergelut dengan hatinya. Beli, tidak, beli, tidak. Pria itu bahkan menggigit bibir bawahnya, mempertimbangkan keputusannya selayaknya ini adalah keputusan penting dalam hidupnya.

“PLIS DEH ITU CUMA KOLOR!”

“LU KOLAR KOLOR KOLAR KOLOR! Ini masalah hidup dan mati, Gi!”

“Lebay!”

“Beli deh, Gi. Gue nggak mau menyesal di kemudian hari,” ujar Agung final. “Om beli gituan buat APA sih, Om? Tujuan aslinya tuh AAPAAAH?!” tanya Gia penasaran.

“Pamer lah ama temen gua,” balas Agung. Sementara Gia mendelik geli.

“Ya udah kalo mau beli lagi tapi Gia nggak mau balik lagi ah. Capek. Jauh banget. Gia tunggu sini aja,” ucap Gia.

“Ya udah tunggu sini. Jangan ilang, kalo ada orang ngasih permen jangan mau yak! Kalo ngasih duit baru ambil,” balas Agung. Kemudian mendapat ancaman pukulan dari Gia sebelum ia pergi meninggalkan gadis itu.

Alhasil Gia memilih untuk menyusuri taman yang ia pijaki. Banyak semak-semak lebat yang sengaja ditanam untuk estetika, lampu-lampu taman yang belum menyala lantaran cahaya matahari masih cukup terang. Gia jadi membayangkan, kalau malam-malam jalan ke sini bersama orang yang ia sukai, bukankah akan menjadi kenangan yang akan tertanam dalam hatinya?

Belum selesai Gia berimajinasi, rasanya semesta sudah mendengarnya. Dan mewujudkannya, meskipun tidak persis sama dengan apa yang Gia inginkan. Namun rasanya Tuhan mendengar sepenggal permohonannya untuk berada di taman itu bersama dengan orang yang ia sukai.

Gadis dengan kuncir kuda dan masih lengkap mengenakan seragam sekolah itu mengernyit ketika mendapati sesosok pemuda yang ia kenali. Tak lain dan tidak bukan, Kak Haris. Pemuda itu nampak sedang berjongkok di hadapan seorang gadis kecil yang sedang memakan ice cream sandwich. Tangan kanannya memegang tissue yang siap menghapus jejak es krim yang belepotan, sesekali Gia melihat Haris turut menggigit es krim itu lantaran disuapi oleh gadis kecil di hadapannya.

Gia galau. Samperin, enggak, samperin, enggak?

“Samperin aja kali ya?” ucap Gia bermonolog. Kemudian dengan langkah ragu meski setelah memberanikan diri, Gia memutuskan untuk menghampiri Haris.

Gadis itu berdeham, “Kak Haris?”

Haris dan Haura otomatis menoleh. Haura menoleh santai sementara Haris berjengit, terkejut seseorang memanggilnya di tempat umum seperti ini. “Astaghfirullahaladzim, kaget gua,” ucapnya pada diri sendiri. Sementara Gia masih berdiri di dekatnya dan tertawa pelan melihat Haris yang terkejut di hadapannya.

“Gia? Kok di sini?” tanya Haris. Pemuda itu bangkit berdiri lantaran sinar matahari terlalu menyilaukan, membuatnya tak dapat memandang Gia dengan jelas.

Gia mendongak menatap Haris yang kini berdiri tegap, menjadi lebih tinggi darinya. “Iyaa, tadi nemenin Om saya beli sepatu bola. Tapi dia lagi balik lagi soalnya ada yang masih mau dibeli,” jawab Gia. “Kakak sama siapa?”

“Nih, sama dia,” ucap Haris menunjuk Haura. “Sama Mama sama Hanum juga, sih. Tapi mereka lagi ada yang dicari, jadi saya nunggu sini.”

Setelahnya Gia hanya membulatkan bibir dan mengangguk-angguk. “Duduk, Gi,” ucap Haris. Gadis itu kemudian mengangguk dan mengambil tempat di sebelah Haura.

Gia tersenyum gemas, setelahnya kembali menoleh pada Haris. “Namanya siapa, Kak?”

Haris ikut tersenyum dan kembali berjongkok di hadapan Haura. “Ditanya Kakaknya tuh, namanya siapa katanya.”

Haura melirik Haris, kemudian barulah ia menoleh pada Gia. Setelah berhasil menelan es krim di mulutnya dan melihat ekspresi ramah Gia, Haura akhirnya ikut tersenyum. Menampilkan eye smile turunan dari mamanya yang sangat menggemaskan baik bagi Haris maupun Gia. Kemudian ia menjawab, “Mikhayla Hauwa. Kakak namanya siapa?”

Gia ingin menangis saja rasanya. Ini terlalu gemas untuk bisa ia tangani dengan hati kecilnya. “A-aku Gia.”

Setelahnya Haura kembali tersenyum, gadis kecil itu kemudian menundukkan kepalanya sopan. “Salam kenal Kak Gia.”

Gia tertegun dalam hati. Entah sudah berapa kali Haura membuatnya terpukau pada saat kali pertama keduanya berjumpa. Yang jelas, Gia tahu bahwa Kak Haris dan keluarganya adalah orang-orang yang luar biasa. Sebab bahkan dari yang paling sulung hingga yang paling bungsu, semuanya mempesona. Semuanya berhasil merebut hati Gia dengan mudah.

Gia terkekeh gemas, gadis itu tak lagi dapat menahan dirinya untuk tidak mengelus pipi tembam milik Haura. “Salam kenal Hauraaaaaaaa!” balas Gia dengan ceria. Saat itu, Haris tersenyum. Meski tipis dan sebentar, namun ia tak bisa berbohong bahwa separuh hatinya jatuh lebih dalam pada gadis yang menemuinya tanpa sengaja hari ini.

Diam-diam, Haris jadi salah tingkah. Beruntung ponselnya bergetar sebelum Gia sempat melihat ke arahnya. Jadi ia masih punya kesempatan untuk menutupi sikapnya yang mendadak kikuk.

“Halo, Ma? Udah?” tanya Haris mengangkat telepon.

“Kenapa? Enggak, Kakak di luar sama Haura—oh nggak langsung ke parkiran? Ya udah, sebentar lagi Kakak jalan ya? Haura masih mam es krim. Okeee, Daah.” Haris mematikan ponselnya dan kembali nemasukannya ke saku celana. Setelahnya ia mengulas senyum tipis pada Gia sebelum akhirnya bicara pada Haura.

“Ayok, abisin es-nya. Mama sama Kak Hanum udah selesai,” ucap Haris. Namun, bukannya buru-buru menghabiskan, Haura justru menyodorkannya pada Haris. Membuat pemuda itu mengangkat sebelah alisnya bingung. Haura kemudian menggeleng, Haris kemudian mengerti bahwa adiknya sudah kenyang.

“Udah?” tanyanya. Haura kemudian mengangguk. “Sini,” ucap Haris. Mengambil alih makanan itu dari tangan Haura.

“Kakak abisin ya?” tanya Haris lagi. “Iyah,” balas Haura.

Haris berniat melahap sisa ice cream sandwich milik Haura, namun sebelun itu ia menoleh pada Gia. “Mau, Gi?” tanyanya seraya terkekeh.

Gia balas tertawa, “Enggaakk. Udah tinggal segitu baru nawarin!”

“Basa-basi aja,” balas Haris, membuat Gia tersenyum lebih lebar. Kemudian menghabiskan es krim di tangannya dengan sekali lahap. Setelahnya ia mengelap tangannya sendiri.

“Sini tangannya lap dulu, nanti kena baju diomelin siapa?” ucap Haris pada Haura. “Kak Hawis!” balas Haura. “Hehe, iya betul diomelin Kak Haris bukan diomelin Mama.”

Detik berikutnya pemuda itu dengan telaten membersihkan tangan sang adik, tak lupa kembali memastikan bahwa wajah adiknya itu bersih tanpa ada sisa es krim dan membuang sampahnya ke tempat sampah terdekat. Sedari tadi, Gia banyak diam. Gadis itu memperhatikan interaksi kakak-beradik di hadapannya yang menurutnya begitu.. indah.

Gia baru tahu, kalau Haris yang dikenal galak dan ditakuti seantero sekolah itu punya sisi sehangat ini jika di rumah. Gia baru tahu, kalau Kak Haris yang dulu membalas pesannya dengan kata-kata yang begitu menusuk rupanya adalah sosok penyayang jika di rumah. Gia tersenyum dalam hatinya yang turut menghangat di bawah terpaan matahari sore yang bersinar ramah. Dalam benaknya ia berpikir, Enak ya jadi adeknya Kak Haris dan orang-orang terdekatnya. Pasti bisa liat Kak Haris yang begini setiap hari.

“Om kamu masih lama nggak, Gi?” tanya Haris.

“Nggak tau sih, Kak. Tapi Kakak duluan aja nggak pa-pa, kok,” balas Gia.

“Bener, nih? Kamu nggak pa-pa sendirian?”

“Iya, bener.”

“Ya udah, saya duluan ya, Gi? Maaf nggak bisa nemenin,” ujar Haris lagi.

“Iyaa, nggak pa-pa, Kak Haris.”

“Haura, yuk!” Haris mengajak Haura, gadis kecil itu kemudian bangkit dan merapikan gaunnya yang sedikit berantakan akibat dipakai untuk duduk. “Nggak mau say bye-bye dulu sama Kak Gia?” ucap Haris lagi.

Haura tertawa pelan, “Oh, iya lupa. Bye-bye, Kak Gia!”

Gia balas tersenyum ramah, “Iyaaa, dadah, Hauraa! Hati-hati pulangnya yaa!”

Haris kembali terkekeh melihat interaksi keduanya. Kemudian sekon berikutnya Haura sudah dalam gendongannya. Biar cepet, kata Haris.

“Duluan ya, Gi!”

“Iya, Kakk. Hati-hati yaa!” balas Gia. Sesaat berikutnya gadis itu berniat untuk menyusul Agung yang tak kunjung kembali. Namun, suara Haris menghentikannya.

“Eh, Gi!”

“Ya? Kenapa, Kak?”

Haris merogoh saku celananya dengan sebelah tangannya yang bebas, kemudian mengeluarkan dua bungkus beng-beng dan menyodorkannya ke arah Gia.

“Lupa, hari ini Gia belom dapet beng-beng.”

Gia lantas tertawa, “Kakak ngantongin ini ke mana-mana?”

“Iya, harusnya kan tadi pas istirahat, tapi lupa. Saya juga nggak liat kamu di kantin.”

“Iya emang saya nggak turun sih hari ini,” balas Gia. “Lagian tadi Kak Haris sibuk main odong-odong, kan?” canda Gia.

Haris tergelak malu, “Kamu kenapa selalu liat aja sih kalo saya begitu? Pura-pura nggak liat aja nggak bisa, Gi?”

“Nggak bisa, Kak. Kalo mau kayak gitu berarti nanti beng-bengnya nambah,” balas Gia. Dan tanpa diduga, Haris kembali mengeluarkan sebungkus beng-beng dari saku celananya.

“Nih,” ujarnya, membuat Gia terperangah sekaligus terkikik geli.

“Kakak ngantongin berapa beng-beng sehari?”

“Secukupnya aja. Buat kamu, sama sisanya cadangan kalo dibetak Ojan,” balas Haris disusul tawa ringan setelahnya. “Nih, ambil aja.” Haris kembali menyerahkan sebungkus beng-beng pada Gia. Gadis itu kemudian menerimanya dengan senang hati, “Makasih ya, Kak!”

“Sama-sama, Gia. Besok jangan telat, ya!”

Setelahnya Haris berlalu pergi. Dan Gia menatap punggung pemuda itu dengan perasaan yang berbunga-bunga. Ditatapnya ketiga biskuit cokelat di tangannya, memang jatuh cinta mengubah segala sesuatu yang sederhana menjadi jauh lebih bernilai. Rasanya kalau bisa, Gia ingin menyimpan semua bungkusan beng-beng yang diberikan Haris.

Haris dan Gia berjalan berlawanan arah setelah pertemuan sore itu. Keduanya sama-sama merahasiakan, namun Tuhan mendengar ucapan syukur keduanya karena dipertemukan tanpa diminta. Pun, Tuhan mendengar detak jantung keduanya yang berdegup lebih kencang dari biasanya.

“Maaaaaaaa?” panggil Haris ketika sudah sampai di butik milik ibunya. Pemuda itu berjalan santai seraya menyapa para pegawai dengan senyumnya. Meskipun cuek, Haris masih tau sopan santun.

“Eh Mas Haris, lama nggak keliatan,” ucap salah satu pegawai di sana. Haris tersenyum ramah, “Iya, Mbak. Kemaren-kemaren aku lagi ngurusin MOS jadi nggak bisa ke sini. Pulang sekolah rapat terus.”

Sang pegawai hanya membulatkan bibir. “Mama mana, Mbak?” tanya Haris.

“Itu lagi ada yang fitting, Mas. Tunggu di ruangan Mama aja. Ada Mbak Hanum sama Dek Haura, kok,” jawabnya.

“Oh, ya udah. Makasih ya, Mbak!”

Setelahnya ia bergegas menuju ruangan mamanya yang jelas sudah ia hapal di luar kepala. Sesampainya di sana, pemuda itu mengetuk pintu dan membukanya. Haris mengintip sebelum membuka pintu lebih lebar, membuat kedua mata adik-adiknya itu mengarah padanya. Setelah menyadari Haris yang datang, keduanya langsung buru-buru menghampirinya dan memeluknya. Satu memeluk perutnya, satu lagi memeluk kakinya.

“KAKAAKK!!”

“Ssttttt! Berisik. Nanti ganggu yang lain,” sahut Haris dengan kedua tangannya balas memeluk Hanum dan Haura.

“Lagi pada ngapain?” tanya Haris. “Lagi ngomongin Kakak,” sahut Hanum.

“Emang iya, Ra?” tanya Haris. Setelah Haura menggeleng sambil tertawa, Haris mencibir Hanum yang tidak menyangka Haura tidak mendukungnya. “Ngomongin gue mah kerjaan lu, Num. Haura mah baik.”

“Ish nyebelin,” kesal Hanum.

Tak lama ketiganya menoleh lantaran pintu kembali terbuka. Menampilkan sang mama yang baru saja selesai mengurus pekerjaannya. Di lehernya masih terkalung alat pengukur yang biasa dilingkarkan di tubuh pelanggannya. “Halooo anak-anak Mamaaaa! Udah kumpul semua nih?”

“Udahh,” balas Hanum.

“Halo, Kakkk! Udah dari tadi kamu sampe?” tanya mama. Haris menggeleng, “Enggak, kok. Baru aja.”

“Laper nggak?”

Haris tak menjawab, pria itu melirik adiknya satu-persatu yang sama-sama mengangguk. Barulah ia ikut mengangguk, “Lumayan sih.”

“Jalan-jalan, yuk? Sekalian mam.”

“AYOK! YES AKHIRNYA AKU IKUT YA ALLAH,” sahut Hanum heboh. Mamanya hanya tertawa, memang Hanum yang paling sering absen ketika diajak pergi. Setelahnya mereka bersiap-siap dan bergegas.

“LARI-LARI KUNCIIN HANUM KUNCIIN!” ujar Haris. “IH KAKAK IHHHHH!!!!”


Keluarga kecil itu duduk di sebuah meja berisikan empat orang. Masing-masing dari mereka sibuk dengan piringnya. Haris memilih untuk duduk di sebelah Haura seraya mengawasi gadis kecil itu selama mengeksekusi makanannya. Sebisa mungkin Haris membuat gadis itu tak menyentuh pisau sama sekali. Sesekali juga ia membersihkan sisa-sisa makanan yang menempel di sudut bibir atau pipi Haura.

“Kak, kentangnya nggak di makan?” tanya Hanum. Haris yang sedang mengelap pipi Haura dengan selembar tissue itu mendelik, “Dimakan, lah. Enak aja lu! Udah punya sendiri juga.”

“Kurang, punyaku dikit,” balas Hanum seraya mengerucutkam bibir. “Itu namanya derita loe,” balas Haris.

Sementara ibunya hanya tertawa pelan, kemudian melerai pertikaian ringan anak-anaknya. “Nih, nih, makan punya Mama!” ujarnya.

“Beneran, Ma?” tanya Hanum. Wajahnya sumringah menatap kentang goreng di piring sang mama. Tangannya siap di udara dengan sebuah garpu, layaknya cakar elang yang bersiap mengambil mangsa. “Iyaa abisin, jangan gangguin Kakak.”

“YES!”

“Parah lu, Num. Makanya kalo makan bismillah. Kagak ada kenyangnya makanannya diambil setan semua,” ejek Haris. “Dih? Hanum baca doa kok tadi,” balas Hanum.

“Mang iya? Kakak nggak denger,” balas Haris.

“Lah, emangnya aku berdoa ke Kak Haris? Yang harus denger doaku ya Tuhanku.”

“Idiss sedep banget dah ah, Mamah Hanum. Berasa Qultum Ramadhan ya, Ma? Sambil makan dengerin ceramah,” canda Haris.

“Kakak ngomong lagi aku colok nih pake garpu!” ancam Hanum.

“Berani?”

“Enggak.”

“Woi!” panggil Ojan, membuat semua pasang mata di kelasnya tertuju padanya. Seperti hari-hari biasanya, pemuda itu menikmatinya. Ia selalu senang menjadi pusat perhatian. Sementara itu, ketiga temannya memilih melipir dan menikmati jajanan yang dibeli dari kantin setelah salat duha tadi.

Ini adalah jam istirahat, jadi, baik Haris, Damar, maupun Dhimas sama sekali tak melarang Ojan untuk membuat onar. Sebab jam istirahat memang waktu bagi pemuda itu untuk unjuk gigi.

“Diem-diem baaae lu pada. Setel musik yakkk biar kayak cafe,” lanjut Ojan.

Setelahnya ia menyambungkan ponselnya pada speaker kelas dengan kabel penghubung dan menjadikan kursi guru yang mewah sebagai singgasananya. Ojan terlihat mengutak-atik ponselnya, memilih lagu yang bisa menghiasi waktu istirahat teman-temannya.

Tak lama sebuah musik mirip dangdut mulai terdengar, pria itu kemudian bangkit dan mulai mendominasi 'panggung' yang ia buat sendiri. Ojan berdiri di depan kelas dan mulai membiarkan tubuhnya bergerak mengikuti irama.

Kucingggku telu~~ kabeh lemu-lemu~~

Kompak, teman-teman kelasnya tertawa dan mulai protes.

ANYING LAGU APAAN NIH HAHAHAHAH

Gue kira lagu dangdut sumpah!

“Yah, norak lu semua! Ini lagu anak-anak masa kini nih, diskoooo!” sahut Ojan.

“Tuh, meeeooooong meeeooong, tak pakani lontonggggg, IHIY!” Ojan kembali bernyanyi. “Ni kagak ada yang mau nyawer gua apa?” ujarnya bermonolog.

“Astaghfirullah Ojan kamu tuh ngapain sihhh, Damar ih temen kamu teh ada aja kelakuannya!” ujar Nadia yang baru saja datang ke kelas.

“Emang, Nad. Biarin aja udah,” balas Damar.

Melihat Ojan semakin asyik dengan dunianya, sebuah ide muncul di kepala Haris. Pemuda itu meletakkan makanannya di meja dan mencolek Dhimas untuk menjadi partner-nya untuk bergabung bersama Ojan. Dhimas yang mengerti kode Haris kemudian ikut bangkit meski mulutnya masih penuh dengan makanan.

Keduanya menghampiri Ojan dan kemudian menyusun beberapa kursi menjadi dua barisan.

“Bangggg mau naek odong-odong, Bangg!” ucap Haris seraya tertawa.

“WAHAHAHAH anying ada aja lu, YA YA DEK BOLEH DEH, DEPAN KOSONG DEPAN PILIH AJA DEK,” balas Ojan. Kemudian dirinya menarik kursi dan sebuah meja agar tempat duduknya lebih tinggi dan berperan sebagai abang-abang yang menggowes pedal agar odong-odong bergerak naik-turun. Sementara Haris dan Dhimas memilih dua kursi di depan dan berperan sebagai anak-anak yang menaiki odong-odong.

Kucingggku teluu~~

Kabeh lemu-lemu~~

Sing sini abanggg~~ sing loooro klawu~~

Lagu anak-anak yang dipilih Ojan masih terdengar mengisi ruangan, penumpang 'odong-odong' Ojan itu pun semakin banyak. Anak-anak laki-laki di kelasnya turut bermain bersama Haris, Ojan, dan Dhimas.

Abang abang aku mau naik, Banggg~

“OIYA DEK BENTAR DEK,” ucap Ojan. Kemudian ia berpura-pura mengangkat temannya itu dan mendudukannya di 'odong-odong'.

“Ni adek yang ini dua lagu lagi yakkk!” ucap Ojan menunjuk Haris.

“Sepuluh deh, Bangg, pelit amat!” sahut Haris.

“Sepuluuh? Lu bayar gope aja mau sepuluh. Dikasih satu lagu penuh aja harusnya bersyukur luuu!” balas Ojan.

“Bang saya berapa lagu lagu bangg?” tanya Dhimas.

“Ah kalo Adek mah satu album juga boleh,” sahut Ojan.

“LU PILIH KASIH AMAT!” protes Haris. Sementara Ojan hanya tertawa.

“EH MAMAHHH SIAPIN AKU KALI MAHHH!” ucap Dhimas pada Damar yang sedari tadi hanya tertawa-tawa seraya menonton pertunjukkan teman-teman kelasnya dari kursinya.

Akhirnya, mau tak mau ia pun meminjam kotak bekal milik Orin dan berperan sebagai seorang ibu yang menyuapi anaknya di sore hari.

“Ayok, Nak mam dulu mam dulu, aaa aaa.” Damar menyuapkan sesendok berisi udara itu pada Dhimas. Sekali, dua kali, aman. Hingga suapan berikutnya, terdengar protes dari Dhimas.

“Ih si Damar nyuapin gue napsu banget anjir lu emak macam apa. Nyuapin nasi kagak ada jaraknya lu kata gue kudanil maen telen-telen aja?!”

“KAN BIAR CEPETTTT!” balas Damar. “YA NGGAK GITU JUGA, satu suapan belom kelar udah maen sodok-sodok aja lu!” balas Dhimas. Berhasil membuat teman-temannya tergelak.

Keempatnya bersama teman-temannya yang lain tetap asyik dengan dunianya sendiri. Menikmati ekspresi teman-temannya yang terhibur seraya menikmati bekalnya masing-masing. Tidak melipakan Ojan yang tetap memutar lagu yang semakin tidak masuk akal.

Happy birthhhdaaaay tooo yooouu~~~

“Ini lagu apa sih ya Allah perasaan tadi bilangnya cafe NI CAFE MANA YANG LAGUNYA BEGINI SUBHANALLAAAAHHH!” Ayesha turut bersuara.

“Yah, katro, Jan, katroooo lu Ayesha katro! Sekarang tuh yang koplo begini maceman EDM anak di bawah umur,” ucap Dhimas.

Haris tertawa ngakak, “EDM anak di bawah umur anying.”

“Ini Happy Birthday Pokemon, Sha, siapa tau lu butuh buat Playlist nugas huahaahahh,” balas Ojan.

Mereka semua masih asyik bermain odong-odong hingga seorang guru piket muncul di depan pintu untuk menagih laporan absensi hari itu.

“Assalamualaikum—astaghfirullah ini tuh pada ngapain?!”

Bubar, bubar semua. Mereka berserakan hingga membuat kursi dan meja yang disusun berserakan hingga jatuh.

“HARIS BU HARIS DULUAN HARIS!!!”

“Yah.... Ini mah namanya pengkhianatan.....” keluh Haris, pasrah.

Selama istirahat, Gia duduk sendirian di kantin. Mengeksekusi makanan yang ada di piring di depannya. Gadis itu memilih tempat yang sama seperti biasa, tempat yang berhadapan langsung dengan masjid sekolah bagian laki-laki. Ada alasannya Gia duduk sendirian hari ini, yaitu karena Zahra sedang berada di masjid.

Gia memilih menunduk dan fokus pada makanannya, sesekali memainkan ponselnya guna mengabaikan orang-orang yang lalu lalang, apa lagi kakak kelas yang saling bergerombol dan meramaikan suasana kantin. Dalam hatinya Gia hanya berharap agar Zahra cepat selesai dengan urusannya. Sebab Gia mulai risih, sedari tadi ada saja kakak kelas laki-laki yang menduduki tempat di sebelahnya dan kerap mengganggunya.

Gia sudah selesai makan, beruntung masih memiliki napsu makan setelah sekian banyak orang mengganggu waktunya. Kini gadis itu memilih memainkan ponselnya, yang beruntungnya, ia bawa. Sambil menyesap es jeruk yang ia beli untuk melengkapi makan pagi menjelang siangnya.

Lagi-lagi, untuk kesekian kali Gia merasakan seseorang duduk di sebelahnya. Gadis itu memutar matanya malas kemudian sedikit bergeser menjauh.

Tiba-tiba, dari arah kanannya, seseorang itu menyodorkan dua bungkus beng beng hingga membuat bungkusan kedua biskuit berbalut cokelat itu menyentuh kulitnya. Gia lantas berjengit, kemudian menoleh. Di sebelahnya, ia mendapati Haris yang menatapnya datar seraya mengangkat sebelah alisnya.

Setelah sadar siapa yang berada di hadapannya saat ini, Gia mengerjapkan matanya berkali-kali, gelagapan.

“Kak Haris, kirain siapa,” ucap Gia. Kemudian membenahi posisi duduknya, soalnya salah tingkah. Maklum, melihat Haris dari jauh saja Gia tidak pernah terlatih, apalagi dari jarak dekat begini.

Haris terkekeh pelan, “Kok sampe geser gitu?”

Gia menggeleng, “Enggak, nggak pa-pa.”

“Ada yang gangguin ya?” tanya Haris.

“Enggak,” jawab Gia bohong.

Lagi-lagi Haris terkekeh, “Tinggal jawab iya aja susah banget. Saya liat kok tadi dari situ.”

Jawaban Haris cukup membuat Gia terperangah. Gadis itu kemudian turut menoleh pada arah yang ditunjuk Haris. Setelahnya ia hanya tersenyum canggung lantaran kebohongannya ketahuan.

“Nih, beng beng,” ucap Haris. Menyodorkan kembali dua biskuit cokelat itu pada gadis di hadapannya.

“Kan udah bilang nggak usah?”

“Kan udah janjian,” balas Haris. “Nih, dua. Soalnya nyampe sekolah jam enam lewat sepuluh.”

Gia tak dapat lagi menahan senyumnya, gadis itu akhirnya membiarkan seulas garis lengkung yang menawan itu menghiasi wajahnya. “Makasih, Kak Haris. Tapi satu aja,” ucapnya.

“Dua, lah! Udah dibeliin juga.”

“Nggak mau, nanti sakit gigi,” canda Gia. Mengutip perkataan Haris kala itu. Gia tertawa, namun Haris tetap menatapnya datar. Membuatnya mau tak mau menghentikan tawanya secara paksa.

“Kok nggak ketawa sih, Kak? Saya takut jadinya..”

Barulah Haris tertawa pelan, “Bercanda.”

“Ini dua-duanya buat kamu,” ujar Haris lagi. Gia kembali menggeleng, “Satu aja, Kak.”

“Terus satu lagi kemanain?” tanya Haris.

“Buat Kak Haris.”

“Ya udah kalo gitu, saya makan ya?”

“Iya, makan aja. Saya juga mau makan,” balas Gia. Kemudian gadis itu mulai berusaha untuk membuka bungkusan beng beng di tangannya. Atas, bawah, sisi kanan, sisi kiri, keempatnya tidak bersahabat dengan tangan mungil tak bertenaga milik Gia. Membuat gadis itu menghela napasnya dan kembali meletakkan biskuit itu dan menyerah. Sepertinya ia tak akan memakannya saat ini juga.

Di sebelahnya, terdengar suara kikikan. Dan ketika Gia menoleh, Haris sudah menutup mulutnya dengan lengannya seraya tertawa geli.

“Nih nih, tuker,” ucap Haris.

Gia mengerucutkan bibir seraya menatap Haris bingung, namun tangannya tetap mengambil beng beng yang diberikan Haris. Bungkusannya sudah terbuka dan sudah siap untuk di makan. “Kok diketawain..?”

“Payah nih, buka ginian aja nggak bisa.”

“Orang susah.”

“Enggak, nih bisa sama saya,” balas Haris. Benar saja, ia membuka bungkusan beng beng dengan mudah, bahkan hanya dengan sekali percobaan tanpa usaha.

“Enggak, itu beng bengnya curang.”

“Curang gimana?”

“Beng bengnya pilih kasih.”

“Mana bisa?”

“Bisa ih, udah ah, Kak. Stop. Malu,” ucap Gia. Haris tak membalas, ia sibuk mengunyah beng beng seraya tertawa.

“Kakak kok nggak sama temen-temen Kakak?” tanya Gia, mulai mengunyah gigitan pertama beng beng miliknya. Atau, milik Haris yang ditukar menjadi miliknya.

“Nggak ah, nggak jelas juga lagi pada debatin kereta malam,” jawab Haris.

“Debatin kereta malam gimana, Kak?”

“Kamu tau lagu kereta malam, nggak?” tanya Haris.

“Lagu dangdut kan?”

“Iya, nah itu kan keretanya berangkat katanya. Yang berangkat palanya duluan atau buntutnya duluan?”

“Hah seriusan, Kak debatin gituan?” tanya Gia tak percaya. Pasalnya, circle Haris bisa dibilang circle susah ditembus di sekolah. Isinya adalah anak-anak famous. Damar, Dhimas, Haris, Ojan. Keempatnya bukan orang-orang yang biasa diabaikan di sekolah. Meski kelihatannya senang main-main, prestasi keempatnya pun tidak diragukan. Dua unggul dalam akademik, yaitu Haris dan Damar. Dua lagi unggul dalam non-akademik, Jauzan dan Dhimas.

Gia pikir, orang-orang sehebat mereka hanya membicarakan hal serius. Namun, rupanya.. sama sekali tidak.

Haris mengangguk menjawab pertanyaan Gia. “Nggak jelas tau, Gi. Kemaren di grup baru pada ngomongin ibu jari suaminya siapa. Apakah dia hamil di luar nikah apa enggak, gitu.”

Ucapan-ucapan Haris dengan mudah membuat Gia tergelak hingga rahangnya sakit karena tertawa sambil mengunyah. Sesekali Gia menyeka air matanya yang keluar, lagi-lagi akibat terlalu geli tertawa. Haris hanya tersenyum kecil menatap Gia yang tertawa tanpa suara.

“Gia ketawa apa nangis sih, Gi? Ketawa sama nangis nggak ada bedanya,” ucap Haris. Gia masih tertawa, kemudian menghela napasnya. “Ketawa, Kak. Tapi nguakak banget ya Allah.”

Haris hanya terkekeh membalas Gia. “Kamu kok sendirian?”

“Iya, Zahra lagi setoran apalan Agama di masjid. Waktu itu dia belom apal-apal.”

“Oohh, udah mau bel belom kelar-kelar juga dia?” tanya Haris. “Tauuu, lama banget Jara kalo ngapa-ngapain.”

“Ya udah, saya mau naik ya?”

“Iya, Kak. Makasihh beng bengnya.”

“Sama-sama, nih satu lagi. Simpen aja buat di rumah, abis itu gosok gigi biar nggak sakit gigi,” ucap Haris, memberi Gia satu bungkus beng beng lagi yang selama ini ia simpan di saku sebagai cadangan. Kemudian berlalu pergi.

“Lah? Dari tadi Kak Haris punya tiga?”

“Banyak, sekerdus.”

“Dhimas?” ucap seorang gadis dengan rambut sebahu yang sedang berhadapan dengan seorang pria seumuran yang tidak Dhimas kenali. Namun, berdasarkan percakapan keduanya yang tak sengaja Dhimas dengar ketika membuntuti perginya gadis itu, pria itu adalah kekasihnya.

Dhimas mengangguk pelan seraya memamerkan seulas senyuman tipis yang bisa ia berikan dengan secuil kekuatannya yang tersisa hari itu. “Iya, Dhir.”

Tiga orang itu kemudian diam. Gadis di hadapannya itu menatapnya terkejut. Sementara kekasihnya menatap bingung, tidak mengerti dengan situasi yang ia hadapi.

Hingga kemudian Dhimas terkekeh. Kedua tangannya yang sedari tadi ia biarkan bebas kini ia sampirkan di pinggang. Kemudian tangan kanannya terangkat guna mengusap wajahnya kasar. Dhimas menertawakan dirinya sendiri.

“Harusnya bilang aja, Dhir, kalo lo udah punya pacar. Harusnya lo jujur aja kalo lo emang nggak pernah ada rasa buat gue. Nggak perlu boong lo nggak bisa nerima gue karena nggak bisa LDR. Harusnya—lo bilang aja kalo lo pindah sekolah buat nyusul pacar lo,” ucap Dhimas.

“Dhim—”

“Gue pamit ya, Dhir,” ucap Dhimas. Kemudian berbalik, meninggalkan sang pujaan hati yang justru berlari dan menghalangi jalannya.

“Dhim, maafin gue. Jangan marah dulu, biar gue jelasin—”

Dhimas tertawa pelan, “Tenang aja, Dhir. Gue nggak pernah bisa marah sama lo, kok. Pamit ya?”

Setelahnya Dhimas beranjak pergi. Meninggalkan gadis itu dan kekasihnya. Sebagaimana ia akan meninggalkannya dan membiarkannya bahagia bersama seseorang yang mengisi hatinya sejak lama. Bahkan sebelum dirinya.

Andhira Larasati, seseorang yang berhasil memikat Dhimas sejak pertama kali matanya bertemu dengan binar yang terpancar dari milik gadis itu. Awalnya pun Dhimas tak memperhatikan, namun semuanya berubah ketika Dhimas hampir menyenggol cairan HCL di laboratorium kimia ketika mereka sedang melakukan praktik uji larutan elektrolit.

Andhira yang menyelamatkan Dhimas dari cairan korosif itu. Gadis itu dengan sigap mengangkat lengan pemuda itu.

“Eh, awas Dhim ini HCL!” ucap Andhira. Gadis itu menahan lengan Dhimas di udara agar sikunya tak mengenai cairan HCL yang tumpah di meja. Dhimas menoleh, netranya bersirobok dengan milik teman sekelasnya yang ia ketahui bernama Andhira itu. Satu kata muncul dalam benaknya, indah.

Dhimas mengerjapkan matanya, setelahnya berusaha untuk memfokuskan dirinya. “Eh, makasih ya.. Andhira.”

Gadis itu mengangguk, setelahnya meminta kain lap dan dengan telaten membersihkan jejak kriminal seorang Dhimas Wijaya agar kelompoknya tidak terkena marah guru kimia kala itu. Dan hari itu, Dhimas jatuh hati.

Andhira Larasati namanya, teman-teman memanggilnya Laras. Dhimas memanggilnya Dhira. Berkali-kali Dhira protes, mengatakan agar Dhimas memanggilnya sama seperti yang lain dengan sebutan Laras. Namun Dhimas bilang, “Kan biar samaan. Dhimas Dhira, hehe.”

Hari-hari berikutnya berlangsung sama. Yang berbeda hanya metode Dhimas mendekati seorang Dhira. Senin, Dhimas meminjam pulpen. Selasa, Dhimas mengajak Dhira berdiskusi pelajaran matematika yang sebenarnya ia kuasai. Rabu, Dhimas memblokir bola basket yang melayang menuju Dhira. Kamis, Dhimas menghibur Dhira yang menangis lantaran nilai ulangan fisikanya jelek. Jumat, Dhimas mengantar Dhira pulang ketika kerja kelompok.

“Dhir, pinjem pulpen ya? Pulpen gue dibetak anak kelas sebelah.”

“Iyaa, pake aja. Tapi balikin!”

“Tenang aja, makasih Dhira cantikk!”

“Dhira nomor dua apa? Caranya gini bukan sih?”

“DHIR AWAS! WEH GOKIL BANGET SIAPA TUH YANG LEMPAR ANJ—”

“Dhir, gagal sekali tuh nggak apa-apa tau. Kalo berhasil terus nanti dari mana tau salahnya? Gue juga remed, lo nggak sendirian kok.”

“Dhir, gue anterin pulang ya? Udah malem, dari pada kelamaan nunggu ojolnya.”

Dhimas melancarkan serangan dengan variasi-variasi yang kerap ia ciptakan setiap harinya. Dan tidak sekalipun nampak penolakan dari Dhira. Gadis itu tetap ramah, dan kadang memberikan Dhimas perhatian-perhatian kecil. Menanyakan apakah Dhimas sudah makan atau belum, mengingatkan Dhimas akan hal-hal yang sering pemuda itu abaikan bahkan lupakan, membalas pesan-pesan Dhimas dengan penuh suka cita tanpa ada niatan menjaga jarak.

Bahkan ketika Dhimas sakit, Dhira turut memberikan perhatian padanya.

“Sakit, Dhim?”

Dhimas menggeleng seraya tersenyum, sebelah tangannya memegangi perutnya yang terasa mual, matanya sayu menahan pusing. “Enggak, Dhir. Pusing doang.”

Dhira berdecak, “Itu sakit namanya. Nih gue ada minyak kayu putih, pake ya? Abis itu ke UKS aja deh, tidur. Jangan dipaksain kalo sakit!”

Hari-hari Dhimas selalu cerah meskipun ia harus menunggu hujan reda untuk pulang. Namun ia tak mengeluh, justru Dhimas bersyukur karena hujan menahan Dhira lebih lama untuk bersamanya.

“Dhiraaa!! Belom pulang?”

“Belom laah, ujan. Lo abis futsal ya?”

Dhimas memamerkan senyuman manisnya, “Iyaa.”

“Ujan-ujan kok futsal, besok tau-tau flu deh. Itu celananya kotor kenapa?” tanya Dhira.

Dhimas cengegesan, “Jatoh tadi, kepeleset.”

“Tuh kann! Sakit deh pasti?”

“Enggak, udah biasa. Tiap hari juga jatoh. Jatoh ke pesonanya Dhira.”

“Apaan sih? Bercanda terus.”

Hari-harinya selalu cerah. Hingga sebuah badai mulai menerpa. Dhimas merasakan hatinya retak seketika saat mendengar berita mengenai Dhira yang akan pindah sekolah.

“Dhim, Dhira mau pindah sekolah tau katanya minggu depan,” ucap Aghniya ketika Dhimas baru saja datang dan berniat menaruh tas di kursinya.

Kepalanya lantas terdongak, “Jangan becanda lu!”

“Beneran anjir. Tanya aja anaknya kalo nggak percaya. Minggu ini pokoknya dia ngurus surat-surat buat pindah. Minggu depan kalo udah beres dia langsung caw.”

Dhimas tak lagi dapat menyembunyikan keterkejutannya. Pria itu lantas menghampiri Dhira. Setelah Dhira mengonfirmasi bahwa berita itu benar adanya, yang tak dapat Dhimas sembunyikan adalah kesedihan dan kekecewaannya.

“Kenapa pindah, Dhir?”

“Sebenernya gue emang nggak pengen sekolah di sini, Dhim. Sekolah ini pilihan terakhir waktu gue daftar. Nem gue nggak cukup buat daftar ke pilihan pertama dan kedua. Makanya gue ambil dulu di sini dan gue pindah kalo udah bisa pindah.”

Sedih. Lesu. Namun itu hanya berlangsung dua hari. Bukan Dhimas namanya kalau tidak bisa menangani kesedihannya sendiri. Keesokan harinya Dhimas kembali bersemangat. Ia berpikir, kalau tidak bisa lagi bersama Dhira, setidaknya ia harus membuat sisa-sisa harinya bersama gadis itu berharga. Dhimas tetap melancarkan serangannya.

Hingga hari terakhir Dhira bersekolah di sekolah yang sama dengan dirinya, Dhimas meminta waktu gadis itu untuk menghabiskan waktu bersamanya. Paling tidak hingga matahari terbenam.

“Dhir, Senin kan lo udah pindah. Boleh nggak gue minta waktu lo hari ini? Jalan-jalan sama gue yuk? Sekalian ada yang pengen gue omongin juga.”

“Boleh.”

Jadilah sepulang sekolah yang lebih awal dari biasanya itu, Dhimas dan Dhira berjalan-jalan ke sebuah lapangan terbuka. Dhimas yang memilih tempat, entah apa yang ada di pikirannya, Lapangan Banteng menjadi tempat yang ia tuju.

“Dulu gue sering latihan silat di sini sampe malem. Matahari terbenam di sini cantik banget, Dhir. Keliatannya jelas banget. Seru kalo dinikmatinnya sama orang yang cantik juga.”

“Dhira terkejut mendengar pernyataan Dhimas. Gadis itu menoleh, mendapati Dhimas yang sudah lebih dulu melihat ke arahnya. “Maksudnya?”

“Gue yakin lo udah tau juga sih. Tapi gue boleh perjelas lagi kan? Gue suka sama lo, Dhir. Lo gimana?”

Dhira menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Setelahnya tersenyum kaku, “G-gue nyaman sih sama lo. Lo baik banget sama gue selama ini.”

Sebuah binar muncul di kedua netra kecoklatan milik Dhimas, secercah harapan muncul dalam hatinya. Akankah gadis yang selama ini menjadi pujaan hatinya dapat menjadi miliknya hari ini? Jantungnya berdegup lebih cepat menanti jawaban Dhira. Namun, yang menjadi jawaban Dhira adalah..

“Tapi maaf ya, Dhim. Gue nggak bisa LDR. Jadi, sebelum lo nyatain perasaan lo lebih jauh, gue boleh bilang duluan ya? Kita temenan aja. Nggak apa-apa kan?”

Jatuh. Hatinya bagaikan jatuh ke dasar jurang paling dalam. Dhimas bahkan tak sanggup membayangkan hati kecilnya itu terpecah hingga berapa kepingan. Namun, yang bisa ia tampilkan hanyalah sebuah tawa kecil untuk menutupi nyeri di hatinya. “Iya, nggak apa-apa, Dhir. Santai aja.”

“Udah sore nih, Dhim. Gue nggak boleh lama-lama. Gue pulang ya?”

“Gue anter ya, Dhir? Please. At least buat yang terakhir kali karena abis ini kita nggak ketemu,” balas Dhimas.

Dhira menggeleng, “Nggak usah, Dhim. Gue udah minta jemput, kok.”

“Ah, gitu ya? Oke deh. Gue temenin aja kalo gitu, sampe jemputannya dateng.”

“Eh, nggak usah, nggak usah. Beneran nggak apa-apa. Lo pulang duluan aja. Makasih banyak yaaa, hari ini seru banget. Good luck buat sekolah lo, gue tau lo pinter banget.”

Pada akhirnya Dhimas hanya bisa pasrah, ia pun tak ingin memaksakan kehendak dan membuat Dhira tidak nyaman. Alhasil, ia menyetujui permintaan Dhira dan pamit untuk 'pulang'. Padahal kenyataannya, Dhimas memperhatikan Dhira dari jauh. Tanpa bermaksud jahat, tentunya. Dhimas hanya ingin memastikan Dhira menemukan orang yang menjemputnya tanpa diganggu siapapun. Dhimas hanya ingin memastikan Dhira pulang dengan selamat.

Namun, yang ia temukan adalah kenyataan yang lagi-lagi menyayat hatinya. Entah hatinya sehancur apa sekarang. Yang jelas, Dhimas merasa dirinya sangat, sangat bodoh.

Ia menemukan Dhira menemui seorang laki-laki dengan perawakan lebih tinggi dari Dhimas. Lebih gagah, lebih.. tampan. Dhira kemudian memeluk lelaki itu, yang kemudian dibalas usapan lembut di kepala Dhira.

Dhimas bergerak mendekat, namun tetap menjaga agar dirinya tak terlihat.

“Kamu udah lama?” tanya lelaki itu.”

“Belum, aku baru selesai. Maaf yaa, aku jalan sama dia berdua. Abis kasian, lagian emang untuk yang terakhir kok. Walaupun sebenernya aku males sih. Tapi yaa.. itung-itung bales budi, deh. Dia baik banget selama aku sekolah di situ. Nganterin aku pulang, bantuin PR aku. Tapi aku beneran nggak ada apa-apa kok sama dia,” jelas Dhira.

Lelaki di hadapan Dhira itu tertawa, “Iyaa, aku juga tau kamu manfaatin dia doang. Jadi Senin nanti kamu udah sekolah di sekolah aku, kan?”

“Iyaaaaaa. Nggak sabar deh!”

Kemudian Dhimas memilih menampakkan dirinya.

“Dhira,” panggilnya. Membuat Dhira menoleh padanya. Gadis itu terkejut bukan main, melihat yang dibicarakan kini ada di depan mata. “Makasih ya, kejujurannya. Gue paham kok. Buat lo, gue tuh sama kayak sekolah gue kan? Cuma pilihan terakhir. Enggak deh, sekolah gue kayaknya lebih punya nilai di mata lo. Masih jadi pilihan terakhir. Sementara gue lebih nggak ada harganya. Gue nggak pernah ada di daftar pilihan lo kan, Dhir?

“Dhimas?”


Present Day

Dhimas membaca pesan-pesan yang saling susul pada layar ponselnya. Sesekali ia tersenyum geli, sesekali juga merasa miris dan iri. Berkali-kali ia hanya bisa diam dan menyimak teman-temannya menemukan tambatan hati. Damar dengan sahabat baiknya, Ojan dengan musuh bebuyutannya sendiri, Haris dengan adik kelas yang terbilang manis. Sementara Dhimas, masih sendirian.

Hatinya masih enggan terbuka untuk orang lain. Sang empunya, masih enggan membuka hati untuk orang lain. Takut. Dhimas takut akan mengalami kekecewaan yang sama. Bahwa dirinya sebenarnya tidak diinginkan dan perasaannya hanya dimanfaatkan. Sudah, perasaan untuk Andhira Larasati sudah hilang seiring terbenamnya matahari di Lapangan Banteng hari itu. Dhimas menguburnya dalam-dalam bersama cahaya yang turut hilang. Namun masih membekas dalam ingatannya, bagaimana menusuknya kenyataan yang harus ia terima kala itu.

Tetapi Dhimas tetap teman yang baik. Ia turut berbahagia dan memberikan saran dan dukungan bagi teman-temannya yang merasakan cintanya bersemi. Meski dalam hati ia bertanya-tanya, kapan gilirannya akan tiba.

Dhimas tetap anak yang baik. Ia tak marah pada dunia. Kekecewaannya ia tutupi dengan rasa syukur sebesar-besarnya akan keberadaan ketiga temannya dan satu gadis yang menjadi sahabatnya. Dhimas pun hanya menceritakan kisahnya pada Damar, Ojan dan Haris. Ia memilih tidak menceritakannya pada Aghniya, takut gadis itu akan melepaskan amarahnya yang meledak-ledak dan melacak keberadaan Andhira untuk memaki-maki gadis itu.

Lagi pula menurut Dhimas, kejadian itu sudah lewat lama sekali. Sudah seharusnya ia berdamai dengan keadaan. Sudah seharusnya ia memaafkan, dan cukup menjadikannya pelajaran. Lagi pula, manusia tak bisa mengatur kepada siapa perasaannya akan berlabuh.

Dhimas menghela napasnya. Hari ini, tidak seperti biasanya, Dhimas merasa lebih lega. Tak ada dendam, tak ada amarah, tak ada lagi perasaan sakit hati yang melandanya seperti dulu.

Hari ini, Dhimas memutuskan untuk melapangkan hatinya. Membuang gumpalan perasaan yang tak terucapkan di dalamnya.

Hari ini, Dhimas melepaskan seorang Andhira Larasati.

“Dhir, kayaknya hari ini gue udah move on beneran dari lo. Makasih ya, udah mengisi otak dan hati gue dalam waktu yang cukup lama. I loved you,” batin Dhimas.

Setelahnya, ia mengabaikan pesan-pesan teman-temannya. Dhimas membuka aplikasi pemutar musik di ponselnya. Membesarkan volume ponselnya hingga maksimal, setelahnya memilih lagu yang mewakili perasaannya.

Now Playing : Day6 — You Were Beautiful

“Dhimas?” ucap seorang gadis dengan rambut sebahu yang sedang berhadapan dengan seorang pria seumuran yang tidak Dhimas kenali. Namun, berdasarkan percakapan keduanya yang tak sengaja Dhimas dengar ketika membuntuti perginya gadis itu, pria itu adalah kekasihnya.

Dhimas mengangguk pelan seraya memamerkan seulas senyuman tipis yang bisa ia berikan dengan secuil kekuatannya yang tersisa hari itu. “Iya, Dhir.”

Tiga orang itu kemudian diam. Gadis di hadapannya itu menatapnya terkejut. Sementara kekasihnya menatap bingung, tidak mengerti dengan situasi yang ia hadapi.

Hingga kemudian Dhimas terkekeh. Kedua tangannya yang sedari tadi ia biarkan bebas kini ia sampirkan di pinggang. Kemudian tangan kanannya terangkat guna mengusap wajahnya kasar. Dhimas menertawakan dirinya sendiri.

“Harusnya bilang aja, Dhir, kalo lo udah punya pacar. Harusnya lo jujur aja kalo lo emang nggak pernah ada rasa buat gue. Nggak perlu boong lo nggak bisa nerima gue karena nggak bisa LDR. Harusnya—lo bilang aja kalo lo pindah sekolah buat nyusul pacar lo,” ucap Dhimas.

“Dhim—”

“Gue pamit ya, Dhir,” ucap Dhimas. Kemudian berbalik, meninggalkan sang pujaan hati yang justru berlari dan menghalangi jalannya.

“Dhim, maafin gue. Jangan marah dulu, biar gue jelasin—”

Dhimas tertawa pelan, “Tenang aja, Dhir. Gue nggak pernah bisa marah sama lo, kok. Pamit ya?”

Setelahnya Dhimas beranjak pergi. Meninggalkan gadis itu dan kekasihnya. Sebagaimana ia akan meninggalkannya dan membiarkannya bahagia bersama seseorang yang mengisi hatinya sejak lama. Bahkan sebelum dirinya.

Andhira Larasati, seseorang yang berhasil memikat Dhimas sejak pertama kali matanya bertemu dengan binar yang terpancar dari milik gadis itu. Awalnya pun Dhimas tak memperhatikan, namun semuanya berubah ketika Dhimas hampir menyenggol cairan HCL di laboratorium kimia ketika mereka sedang melakukan praktik uji larutan elektrolit.

Andhira yang menyelamatkan Dhimas dari cairan korosif itu. Gadis itu dengan sigap mengangkat lengan pemuda itu.

“Eh, awas Dhim ini HCL!” ucap Andhira. Gadis itu menahan lengan Dhimas di udara agar sikunya tak mengenai cairan HCL yang tumpah di meja. Dhimas menoleh, netranya bersirobok dengan milik teman sekelasnya yang ia ketahui bernama Andhira itu. Satu kata muncul dalam benaknya, indah.

Dhimas mengerjapkan matanya, setelahnya berusaha untuk memfokuskan dirinya. “Eh, makasih ya.. Andhira.”

Gadis itu mengangguk, setelahnya meminta kain lap dan dengan telaten membersihkan jejak kriminal seorang Dhimas Wijaya agar kelompoknya tidak terkena marah guru kimia kala itu. Dan hari itu, Dhimas jatuh hati.

Andhira Larasati namanya, teman-teman memanggilnya Laras. Dhimas memanggilnya Dhira. Berkali-kali Dhira protes, mengatakan agar Dhimas memanggilnya sama seperti yang lain dengan sebutan Laras. Namun Dhimas bilang, “Kan biar samaan. Dhimas Dhira, hehe.”

Hari-hari berikutnya berlangsung sama. Yang berbeda hanya metode Dhimas mendekati seorang Dhira. Senin, Dhimas meminjam pulpen. Selasa, Dhimas mengajak Dhira berdiskusi pelajaran matematika yang sebenarnya ia kuasai. Rabu, Dhimas memblokir bola basket yang melayang menuju Dhira. Kamis, Dhimas menghibur Dhira yang menangis lantaran nilai ulangan fisikanya jelek. Jumat, Dhimas mengantar Dhira pulang ketika kerja kelompok.

“Dhir, pinjem pulpen ya? Pulpen gue dibetak anak kelas sebelah.”

“Iyaa, pake aja. Tapi balikin!”

“Tenang aja, makasih Dhira cantikk!”

“Dhira nomor dua apa? Caranya gini bukan sih?”

“DHIR AWAS! WEH GOKIL BANGET SIAPA TUH YANG LEMPAR ANJ—”

“Dhir, gagal sekali tuh nggak apa-apa tau. Kalo berhasil terus nanti dari mana tau salahnya? Gue juga remed, lo nggak sendirian kok.”

“Dhir, gue anterin pulang ya? Udah malem, dari pada kelamaan nunggu ojolnya.”

Dhimas melancarkan serangan dengan variasi-variasi yang kerap ia ciptakan setiap harinya. Dan tidak sekalipun nampak penolakan dari Dhira. Gadis itu tetap ramah, dan kadang memberikan Dhimas perhatian-perhatian kecil. Menanyakan apakah Dhimas sudah makan atau belum, mengingatkan Dhimas akan hal-hal yang sering pemuda itu abaikan bahkan lupakan, membalas pesan-pesan Dhimas dengan penuh suka cita tanpa ada niatan menjaga jarak.

Bahkan ketika Dhimas sakit, Dhira turut memberikan perhatian padanya.

“Sakit, Dhim?”

Dhimas menggeleng seraya tersenyum, sebelah tangannya memegangi perutnya yang terasa mual, matanya sayu menahan pusing. “Enggak, Dhir. Pusing doang.”

Dhira berdecak, “Itu sakit namanya. Nih gue ada minyak kayu putih, pake ya? Abis itu ke UKS aja deh, tidur. Jangan dipaksain kalo sakit!”

Hari-hari Dhimas selalu cerah meskipun ia harus menunggu hujan reda untuk pulang. Namun ia tak mengeluh, justru Dhimas bersyukur karena hujan menahan Dhira lebih lama untuk bersamanya.

“Dhiraaa!! Belom pulang?”

“Belom laah, ujan. Lo abis futsal ya?”

Dhimas memamerkan senyuman manisnya, “Iyaa.”

“Ujan-ujan kok futsal, besok tau-tau flu deh. Itu celananya kotor kenapa?” tanya Dhira.

Dhimas cengegesan, “Jatoh tadi, kepeleset.”

“Tuh kann! Sakit deh pasti?”

“Enggak, udah biasa. Tiap hari juga jatoh. Jatoh ke pesonanya Dhira.”

“Apaan sih? Bercanda terus.”

Hari-harinya selalu cerah. Hingga sebuah badai mulai menerpa. Dhimas merasakan hatinya retak seketika saat mendengar berita mengenai Dhira yang akan pindah sekolah.

“Dhim, Dhira mau pindah sekolah tau katanya minggu depan,” ucap Aghniya ketika Dhimas baru saja datang dan berniat menaruh tas di kursinya.”

Kepalanya lantas terdongak, “Jangan becanda lu!”

“Beneran anjir. Tanya aja anaknya kalo nggak percaya. Minggu ini pokoknya dia ngurus surat-surat buat pindah. Minggu depan kalo udah beres dia langsung caw.”

Dhimas tak lagi dapat menyembunyikan keterkejutannya. Pria itu lantas menghampiri Dhira. Setelah Dhira mengonfirmasi bahwa berita itu benar adanya, yang tak dapat Dhimas sembunyikan adalah kesedihan dan kekecewaannya.

“Kenapa pindah, Dhir?”

“Sebenernya gue emang nggak pengen sekolah di sini, Dhim. Sekolah ini pilihan terakhir waktu gue daftar. Nem gue nggak cukup buat daftar ke pilihan pertama dan kedua. Makanya gue ambil dulu di sini dan gue pindah kalo udah bisa pindah.”

Sedih. Lesu. Namun itu hanya berlangsung dua hari. Bukan Dhimas namanya kalau tidak bisa menangani kesedihannya sendiri. Keesokan harinya Dhimas kembali bersemangat. Ia berpikir, kalau tidak bisa lagi bersama Dhira, setidaknya ia harus membuat sisa-sisa harinya bersama gadis itu berharga. Dhimas tetap melancarkan serangannya.

Hingga hari terakhir Dhira bersekolah di sekolah yang sama dengan dirinya, Dhimas meminta waktu gadis itu untuk menghabiskan waktu bersamanya. Paling tidak hingga matahari terbenam.

“Dhir, Senin kan lo udah pindah. Boleh nggak gue minta waktu lo hari ini? Jalan-jalan sama gue yuk? Sekalian ada yang pengen gue omongin juga.”

“Boleh.”

Jadilah sepulang sekolah yang lebih awal dari biasanya itu, Dhimas dan Dhira berjalan-jalan ke sebuah lapangan terbuka. Dhimas yang memilih tempat, entah apa yang ada di pikirannya, Lapangan Banteng menjadi tempat yang ia tuju.

“Dulu gue sering latihan silat di sini sampe malem. Matahari terbenam di sini cantik banget, Dhir. Keliatannya jelas banget. Seru kalo dinikmatinnya sama orang yang cantik juga.”

“Dhira terkejut mendengar pernyataan Dhimas. Gadis itu menoleh, mendapati Dhimas yang sudah lebih dulu melihat ke arahnya. “Maksudnya?”

“Gue yakin lo udah tau juga sih. Tapi gue boleh perjelas lagi kan? Gue suka sama lo, Dhir. Lo gimana?”

Dhira menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Setelahnya tersenyum kaku, “G-gue nyaman sih sama lo. Lo baik banget sama gue sela ini.”

Sebuah binar muncul di kedua netra kecoklatan milik Dhimas, secercah harapan muncul dalam hatinya. Akankah gadis yang selama ini menjadi pujaan hatinya dapat menjadi miliknya hari ini? Jantungnya berdegup lebih cepat menanti jawaban Dhira. Namun, yang menjadi jawaban Dhira adalah..

“Tapi maaf ya, Dhim. Gue nggak bisa LDR. Jadi, sebelum lo nyatain perasaan lo lebih jauh, gue boleh bilang duluan ya? Kita temenan aja. Nggak apa-apa kan?”

Jatuh. Hatinya bagaikan jatuh ke dasar jurang paling dalam. Dhimas bahkan tak sanggup membayangkan hati kecilnya itu terpecah hingga berapa kepingan. Namun, yang bisa ia tampilkan hanyalah sebuah tawa kecil untuk menutupi nyeri di hatinya. “Iya, nggak apa-apa, Dhir. Santai aja.”

“Udah sore nih, Dhim. Gue nggak boleh lama-lama. Gue pulang ya?”

“Gue anter ya, Dhir? Please. At least buat yang terakhir kali karena abis ini kita nggak ketemu,” balas Dhimas.

Dhira menggeleng, “Nggak usah, Dhim. Gue udah minta jemput, kok.”

“Ah, gitu ya? Oke deh. Gue temenin aja kalo gitu, sampe jemputannya dateng.”

“Eh, nggak usah, nggak usah. Beneran nggak apa-apa. Lo pulang duluan aja. Makasih banyak yaaa, hari ini seru banget. Good luck buat sekolah lo, gue tau lo pinter banget.”

Pada akhirnya Dhimas hanya bisa pasrah, ia pun tak ingin memaksakan kehendak dan membuat Dhira tidak nyaman. Alhasil, ia menyetujui permintaan Dhira dan pamit untuk 'pulang'. Padahal kenyataannya, Dhimas memperhatikan Dhira dari jauh. Tanpa bermaksud jahat, tentunya. Dhimas hanya ingin memastikan Dhira menemukan orang yang menjemputnya tanpa diganggu siapapun. Dhimas hanya ingin memastikan Dhira pulang dengan selamat.

Namun, yang ia temukan adalah kenyataan yang lagi-lagi menyayat hatinya. Entah hatinya sehancur apa sekarang. Yang jelas, Dhimas merasa dirinya sangat, sangat bodoh.

Ia menemukan Dhira menemui seorang laki-laki dengan perawakan lebih tinggi dari Dhimas. Lebih gagah, lebih.. tampan. Dhira kemudian memeluk lelaki itu, yang kemudian dibalas usapan lembut di kepala Dhira.

Dhimas bergerak mendekat, namun tetap menjaga agar dirinya tak terlihat.

“Kamu udah lama?” tanya lelaki itu.”

“Belum, aku baru selesai. Maaf yaa, aku jalan sama dia berdua. Abis kasian, lagian emang untuk yang terakhir kok. Walaupun sebenernya aku males sih. Tapi yaa.. itung-itung bales budi, deh. Dia baik banget selama aku sekolah di situ. Nganterin aku pulang, bantuin PR aku. Tapi aku beneran nggak ada apa-apa kok sama dia,” jelas Dhira.

Lelaki di hadapan Dhira itu tertawa, “Iyaa, aku juga tau kamu manfaatin dia doang. Jadi Senin nanti kamu udah sekolah di sekolah aku, kan?”

“Iyaaaaaa. Nggak sabar deh!”

Kemudian Dhimas memilih menampakkan dirinya.

“Dhira,” panggilnya. “Makasih ya, kejujurannya. Gue paham kok. Buat lo, gue tuh sama kayak sekolah gue kan? Cuma pilihan terakhir. Enggak deh, sekolah gue kayaknya lebih punya nilai di mata lo. Masih jadi pilihan terakhir. Sementara gue lebih nggak ada harganya. Gue nggak pernah ada di daftar pilihan lo kan, Dhir?

“Dhimas?”


Present Day

Dhimas membaca pesan-pesan yang saling susul pada layar ponselnya. Sesekali ia tersenyum geli, sesekali juga merasa miris dan iri. Berkali-kali ia hanya bisa diam dan menyimak teman-temannya menemukan tambatan hati. Damar dengan sahabat baiknya, Ojan dengan musuh bebuyutannya sendiri, Haris dengan adik kelas yang terbilang manis. Sementara Dhimas, masih sendirian.

Hatinya masih enggan terbuka untuk orang lain. Sang empunya, masih enggan membuka hati untuk orang lain. Takut. Dhimas takut akan mengalami kekecewaan yang sama. Bahwa dirinya sebenarnya tidak diinginkan. Sudah, perasaan untuk Andhira Larasati sudah hilang seiring terbenamnya matahari di Lapangan Banteng hari itu. Dhimas menguburnya dalam-dalam bersama cahaya yang turut hilang. Namun masih membekas dalam ingatannya, bagaimana menusuknya kenyataan yang harus ia terima kala itu.

Tetapi Dhimas tetap teman yang baik. Ia turut memberikan saran dan dukungan bagi teman-temannya yang merasakan cintanya bersemi. Meski dalam hati ia bertanya-tanya, kapan gilirannya akan tiba.

Dhimas tetap anak yang baik. Ia tak marah pada dunia. Kekecewaannya ia tutupi dengan rasa syukur sebesar-besarnya akan keberadaan ketiga temannya dan satu gadis yang menjadi sahabatnya. Dhimas pun hanya merahasiakan kisahnya pada Damar, Ojan dan Haris. Ia memilih tidak menceritakannya pada Aghniya, takut gadis itu akan melepaskan amarahnya yang meledak-ledak dan melacak keberadaan Andhira untuk memaki-maki gadis itu.

Lagi pula menurut Dhimas, kejadian itu sudah lewat lama sekali. Sudah seharusnya ia berdamai dengan keadaan. Sudah seharusnya ia memaafkan, dan cukup menjadikannya pelajaran. Lagi pula, manusia tak bisa mengatur kepada siapa perasaannya akan berlabuh.

Dhimas menghela napasnya. Hari ini, tidak seperti biasanya, Dhimas merasa lebih lega. Tak ada dendam, tak ada amarah, tak ada lagi perasaan sakit hati yang melandanya seperti dulu.

Hari ini, Dhimas memutuskan untuk melapangkan hatinya. Membuang gumpalan perasaan yang tak terucapkan di dalamnya.

Hari ini, Dhimas melepaskan seorang Andhira Larasati.

“Dhir, kayaknya hari ini gue udah move on beneran dari lo. Makasih ya, udah mengisi otak dan hati gue dalam waktu yang cukup lama. I loved you,” batin Dhimas.

Setelahnya, ia mengabaikan pesan-pesan teman-temannya. Dhimas membuka aplikasi pemutar musik di ponselnya. Membesarkan volume ponselnya hingga maksimal, setelahnya memilih lagu yang mewakili perasaannya.

Now Playing : Day6 — You Were Beautiful

“Gia bangun Gi, udah setengah 6 lu sekolah kagak?”

Pagi-pagi, terdengar suara Agung yang membangunkan Gia dengan susah payah. Hari ini sepertinya situasi berbalik. Biasanya Gia yang akan mengerahkan segala kemampuannya untuk membangunkan omnya yang selalu susah bangun itu, namun hari ini, entah kesambet apa, Agung bangun lebih dulu.

Kemarin malam setelah teleponan dengan papa, Gia memang tidur agak larut. Sebab ia tak henti-hentinya menangis, terlalu rindu dengan papanya yang jauh itu.

Gia masih tak menjawab, hanya terdengar lenguhan panjang dari bibirnya. Matanya masih terpejam, sementara Agung terus berusaha membangunkan keponakannya.

“Gi, buruan Gi jam delapan loh sekarang,” ucap Agung.

“Apaan, orang tadi masih setengah enam katanya,” balas Gia dengan suara serak, namun gadis itu belum juga membuka matanya. Ia kini malah memeluk gulingnya semakin erat.

“Yeh, itu mah beberapa jam yang lalu Gi, ini Om Agung udah balik lagi,” jawab Agung.

“Nggak ah, Om Agung tukang boong.”

“Iya iya, masih setengah enam ya tapi bangun ayo lu mau sekolah nggak? Nanti telat nyalahinnya gua!”

Tak ada jawaban, Gia masih dengan santai memejamkan matanya. “Gi, gue gotong lu ya. Bangun gak?!”

“Wooooo kelitikin ni ampe lemes!” ucap Agung. Kemudian mulai menarik kaki Gia dan menggelitik telapaknya.

“GELI IH!” Gia berteriak, pada akhirnya terbangun lantaran

“BANGUN, MPOKKK! UDAH SIANG ENIH!”

“Iyaaaaa ini Gia udah bangun nih melek nih,” balas Gia seraya melebarkan matanya menggunakan jarinya. Memperjelas bahwa kedua matanya sudah terbuka.

“Nah udah bangun kan? Ya udah ya, gue dulu yang make kamar mandi, Om mules,” ujar Agung.

“LAH TERUS GIA GIMANA MANDINYA?”

“Di sumur tetangga aja sana.”

“ENGGAK IH, GIA WUDU DULU DEH SALAT SUBUH!”

“Bener yeee? Jangan mandi lu! Om udah mules nih,” jawab Agung lagi. “Iya iya, wudu beneran deh wudu,” balas Gia.

Kemudian gadis itu bangkit dari tempat tidur. Dan secepat kilat, Gia menyambar handuknya dan berlari menuju kamar mandi. “Tapi wudunya abis mandi, dadah Om Agung!”

Kejadian selanjutnya yang terjadi adalah Agung yang terus menggedor pintu kamar mandi selama Gia di dalam, kemudian mematikan lampu kamar mandi hingga Gia keluar sendiri, setelahnya ia menyerobot masuk ke dalam kamar mandi dan melempar handuk Gia keluar. Beruntung, Gia sudah sempat mengambil wudu. Jadilah gadis itu menggerutu, marah-marah sendiri dan membalas perbuatan omnya.

Gia balas mematikan lampu kamar mandi, membiarkan omnya itu buang air dengan gelap-gelapan.

“ANGGIA! NYALAIN NGGAK LAMPUNYA?! OM UDAH NONGKRONG INI GI YA ALLAH—EH NGGAK BOLEH NGOMONG GITU DI KAMAR MANDI. GIAAAA!!!!”

Malam ini, Gia bersemangat melebihi biasanya. Senyumnya merekah semenjak selesai salat Isya lantaran ada sebuah janji yang ia buat dengan seseorang yang menjalani hubungan jarak jauh dengannya. Papa. Hari ini, papanya itu berjanji menghubunginya setelah sekian lama. Maklum, Gia paham papanya itu sibuk hingga melampaui batas kemampuan dirinya sendiri. Boro-boro ingat mengabari Gia, untuk makan saja kadang lupa.

“Halo? Assalamualaikum, Paa!”

“Iya, Gi. Gimana sekolahnya?”

Lesu, Gia yang tadinya bersemangat berubah lesu mendengar jawaban sang papa yang juga lesu.

“Baaik, seru sekolah Gia. Papa lesu banget kenapa? Belum makan yaa?” tanya Gia, merendahkan intonasi suaranya agar menyesuaikan lawan bicaranya di seberang sana.

Terdengar kekehan dari balik gawai canggih milik Gia, “Iya nih, Papa belum sempet makan. Kamu udah?”

Sebuah napas lega lolos dari bibir Gia, ia bersyukur karena rupanya papanya itu bukan tidak ingin bicara dengannya, melainkan hanya terlalu lelah.

“Udah, dong. Papa kenapa belum makann? Makan dulu deh, sambil teleponan nih sama Gia.”

“Iya, nanti aja. Papa masih sambil ngerjain kerjaan nih. Masih di depan laptop.”

“Oh iya? Ini Gia ganggu nggak Pa? Kalo misalnya ganggu nggak pa-pa, nanti-nanti lagi aja teleponannya,” ucap Gia. Meskipun dalam hatinya ia mendesah kecewa, namun ia tetap berusaha mendoktrin dirinya untuk bersikap dewasa dan mengerti posisi papanya.

“Enggak, Sayang. Nggak pa-pa, Papa juga kangen sama Gia. Pengen denger suara anaknya Papa ini lho.”

“Yeeee, lebay!” balas Gia. Setelahnya keduanya tertawa bersama.

“Om Agung nganterin sekolahnya gimana? Suka telat nggak?”

“IHHH itu dia, Paaa! Gia berkali-kali nyarrris telat gara-gara Om Agung kalo pagi siap-siapnya lama banget. Kadang dia di kamar mandi juga lama banget, sebel deh.”

Mendengar kikikan papa, Gia tersenyum meski papanya tak dapat melihat, sengaja tidak memilih metode panggilan video karena nantinya yang ada, Gia hanya menangis tanpa bisa mengucapkan apapun lantaran melihat wajah lelah papanya.

“Emang begitu, Gi. Dia mah banguninnya dari jam empat baru nanti kelarnya tepat waktu, hahaha.”

Gia hanya ikut tertawa, “Papa pegel banget ya? Coba kalo di rumah, nanti Gia injek-injek betisnya.”

Gia bicara seraya tersenyum, ingatannya kembali kepada semasa kecil. Setiap kali papanya pulang dari kantor, Gia adalah orang pertama yang menyambutnya di depan pintu. Sebab ketika sudah mendekati waktu papa pulang, Gia kecil akan duduk manis di depan jendela seraya bertopang dagu, menanti papa pulang dengan entah makanan apa yang dibawakannya hari itu. Kemudian sesekali ketika papa pegal, papa akan minta Gia untuk memijat betisnya dengan cara diinjak-injak. Cara memijat khas orang Asia.

Terdengar lagi sebuah tawa ringan dari papa di seberang telepon, “Nggak perlu. Ini denger suara Gia juga nanti nggak capek lagi, kok. Kadang obat capek tuh cuma melepas rindu sama yang disayang aja, kok.”

Gia mendelik diam-diam, “Papa bergaul sama siapa di sana? Kok jadi gombal?”

“Ih, emang bener, kok! Setiap denger suara Gia, capeknya Papa ilang. Apa lagi kalo denger Gia ketawa.”

“Oke kalo gitu Gia ketawa, ahahahahahahaha, udah ilang belum, Pa?”

“Kalo begitu malah jadi serem, Gi. Kayak genderuwo!”

“Loh kok genderuwo?! Emangnya Gia serem?”

“Bercandaaaa. Gia di sekolah temen barunya udah berapa?”

“Sepuluh,” jawab Gia asal.

“Wuih banyak banget, Gi?”

“Hehe, boong, boong. Berapa ya? Coba Gia itung dulu. Ada temen sebangku Gia namanya Zahra, ketua kelas Gia namanya Alwan, siapa lagi ya? Udah sih, yang sering main sama Gia baru itu. Tapi Gia juga lumayan sering ngobrol sama kakak kelas, seru deh, Pa. Di sini kakak kelasnya baik-baik banget. Ada yang namanya Kak Aghni, itu tetangganya Zahra, ada Kak Dhimas, ada Kak Ojan, ada Kak Damar, ada Kak—eh, udah deng, abis,” cerita Gia cukup mendetail. Sebenarnya salah satu tujuan Gia jarang menelepon papa adalah mengumpulkan dulu sebanyak-banyaknya cerita untuk diutarakan pada papa. Alasan yang lain adalah karena gadis itu tak ingin membebani papa dengan kewajiban meneleponnya, Gia tak ingin mengganggu kerja papa.

“Siapa yang terakhir? Kok nggak jadi disebut namanya?”

“Hm? Siapa? Enggak, nggak ada. Udah abis mentok sampe situ doang kok,” elaknya.

“Boong sama orang tua dosanya double loh, Gi.”

Gia mengerucutkan bibir sebelum membalas perkataan papanya, “Papa mah gitu.. mainnya bawa-bawa jabatan..”

“Hayoo kenapa tadi nama kakak kelasnya nggak jadi disebut? Jahatkah dia?”

“Enggak.. dia baik, baik banget. Waktu Gia hampir telat, kakak itu yang nolongin. Dia keliatannya jutek, tapi kalo udah ngobrol enggak, kok. Dia kakaknya adek kelas Gia waktu SMP, Pa,” balas Gia.

“Namanya siapa?”

Gia terdiam cukup lama sebelum menyebutkan nama seseorang yang berusaha ia rahasiakan itu. Namun, pada akhirnya Gia hanyalah anak yang tidak pernah bisa merahasiakan apapun dari kedua orang tuanya. Pada akhirnya, Gia menjawab, “Kak Haris.”

“Gia suka?”

“Hm? Apa sih, Pa? Enggak lahh!”

“Boong sama orang tua tuh dosanya double, Anggia~”

“Kenapa Papa mikirnya gitu?”

“Ya, perasaan yang lain cuma disebutin namanya aja, yang ini kok sampe diceritain gitu ya? Ini Gia ceritanya lagi ngajuin proposal ke Papa biar direstuin apa gimana? Hahahaha.”

Gia memejamkan matanya seraya merutuki dirinya sendiri dalam hati. Lihat, kan? Pada akhirnya Gia tak bisa menyembunyikan apapun dari kedua orang tuanya. Papanya yang jauh saja bahkan tetap bisa menebak isi hatinya.

“Kalo suka nggak apa-apa, Gi. Jangan takut buat ngerasain hal-hal kayak gitu. Apa lagi umur-umur Gia sekarang. Emang lagi masanya yang kayak gitu-gituan berkembang. Hidup itu cuma sekali, kalo Gia terus-terusan takut, nanti Gia belajar dari mana?”

“Papa nggak akan ngelarang Gia buat nyoba sesuatu yang baru, kok. Selama memang masih hal-hal yang baik dan wajar. Gia boleh kok jalan-jalan sama temen-temen Gia, Gia boleh kok kalo mau nyobain ikut lomba antar provinsi, Gia boleh nyoba apapun yang Gia mau coba. Catatannya ya itu tadi, selama masih hal-hal baik dan wajar.”

“Gia boleh nyoba apapun yang Gia mau coba. Termasuk jatuh cinta. Itu juga fase hidup, Gi. Jangan dilewatin. Jangan diabaikan.”

Sedari tadi Gia hanya menyimak. Kedua matanya kini sudah berkaca-kaca, bibirnya bergetar sesekali menahan tangis sekuat-kuatnya. Entah karena rindu nasehat papa, atau terlampau bahagia karena mendapat validasi dan izin atas perasaannya.

Gia diam-diam menghirup napasnya, berusaha mengendalikan diri agar tidak menangis sebelum sambungan telepon terputus. “K-kenapa, Pa? Kenapa jangan dilewatin atau diabaikan?”

Papa pun terdiam diseberang sana. Gia hanya mendengar helaan napas panjang dari teleponnya. Tak apa, Gia selalu sabar menunggu. Mungkin papa sedang memikirkan jawaban terbaiknya.

Selang beberapa detik, akhirnya papa kembali bicara.

“Loh, Papa nggak akan punya Gia kalo Papa nggak jatuh cinta sama Mama, Gi.”

Jawaban papa berhasil membungkam Gia. Gadis itu hanya bisa menunduk dengan ponsel yang masih menempel di telinga kanannya, lagi-lagi meneteskan air matanya dalam diam. Dan setelah berhasil membuat Gia menangis, papa hanya terkekeh. Setelahnya berpamitan untuk menutup telepon lantaran tumpukan perkamen di mejanya sudah menanti untuk kembali dijadikan pusat perhatian.

“Gi, kapan-kapan sambung lagi ya? Papa mau lanjut kerja dulu. Gia jangan malem-malem tidurnya yaa, besok sekolah!”

Gia lagi-lagi menghela napas sebelum menjawab, “Iya, Pa. Papa jangan lupa makan!”

“Iya, abis ini Papa masak telor dadar terus makan pake nasi. Udah dulu ya, Sayangg. Sampai ketemu!”

“Sampe ketemu, Paa!”

Sebuah suara menandakan telepon berakhir, namun Gia masih dengan setia menempelkan ponselnya pada telinga. Berharap dapat mendengar suara papa lebih lama.

I miss you, Pa, Gia kangen. Gia selalu kangen Papa, Gia selalu pengen Papa ada di rumah setiap hari,” ucapnya. Seperti biasa, hanya ia ucapkan setelah sambungan telepon terputus. Gia tidak pernah berani mengutarakannya langsung pada papa. Alasannya, ia selalu takut hal itu akan membebani papa dan akan membuatnya selalu berpikiran untuk pulang dan menjadi tidak fokus akan pekerjaannya. Karenanya, Gia memilih untuk menyembunyikannya. Gia memilih untuk menyembunyikan perasaannya.

Seperti kata orang, hubungan jarak jauh memang sulit untuk ditempuh. Sebab akan selalu ada hal-hal yang tak tersampaikan. Entah tidak sempat, terlupa, atau memang sengaja untuk dirahasiakan.

Sama seperti kebanyakan orang, Gia pun hanya bisa melantunkan doa-doa setiap hari. Supaya papa selamat dan selalu sehat, serta dimudahkan dalam apapun yang beliau tempuh. Sama seperti kebanyakan orang, Gia hanya bisa menunggu hari-harinya cepat berlalu dan hari ketika ia dapat berjumpa kembali dengan orang yang ia rindukan itu segera tiba meskipun entah kapan.

Hubungan jarak jauh memang sulit ditempuh. Entah bersama teman, kekasih, atau orang tua sendiri.

“Kak Haris,” panggil Hanum yang tiba-tiba sudah berada di depan pintu kamar sang kakak. Haris menoleh santai, sama sekali tidak terkejut.

“Kenapa?” jawabnya seraya bangkit dari tempat tidur. “Laper?” tanyanya lagi.

Hanum menggeleng, setelahnya melangkahkan kakinya lebih jauh masuk ke kamar bernuansa biru tua milik Haris. “Mau ngobrol aja boleh nggak? Bosen.”

“Sini,” jawab Haris. Kemudian ia kembali merebahkan dirinya di kasur empuk. Kali ini memilih posisi tengkurap seraya memainkan ponselnya. Tentu saja tak lupa menggeser tubuhnya agar adiknya mendapat sedikit ruang.

Hanum merebahkan dirinya di atas punggung Haris. “Kak,” panggilnya.

“Hm,” sahut Haris.

“Tupai kakinya empat apa dua?” tanya Hanum random. Posisi tubuhnya yang terlentang membuat menghayalnya semakin sempurna karena kepalanya menghadap langit-langit, membuatnya bisa menerawang sebebas-bebasnya.

“Empat,” jawab Haris.

“Masa? Tapi kalo makan kacang kan dia berdiri, Kak. Kakinya dua,” balas Hanum.

“Tapi kan kalo lari dia pake empat-empatnya,” Haris balas berargumen.

“Tapi kalo lagi nggak lari dua, kalo lagi mam, kalo lagi berdiri di pohon, duaa,” jawab Hanum. “Jadi dua apa empat, Kak?”

“Ah mana gue tauuu emang gue tupai?” jawab Haris frustasi. Adiknya ini memang se-random itu. Suka sekali masuk ke kamarnya hanya untuk menanyakan hal-hal yang Haris tidak tahu jawabannya.

“Ihh jawab dulu,” balas Hanum. “Ya searching aja sih, Nummm!”

“Nggak mau, orang maunya nanya Kak Haris. Aku tuh ngajak Kakak diskusi,” jawab Hanum.

Haris menghela napas, “Ya kalo mau diskusi tuh bawa dulu bahannya. Jangan begini, emang otak Kakak isinya tupai gitu?”

“Ya, Kakak kan jago biologinya. Waktu itu ulangan essay Kakak seratus, kan?”

“Ya nggak begini dong..”

Haris akhirnya berdecak, kemudian memilih mengalah dan mencari jawabannya melalui internet.

“Empat, Num. Nih, Tupai merupakan kelompok binatang yang mempunyai empat alat gerak atau sepasang kaki depan dan sepasang kaki belakang,” jelas Haris.

“Ohh gitu, kalo kangguru gimana kak?” tanya Hanum.

“Kangguru kakinya dua, yang depan kan pendek,” jawab Haris. Mendengar jawaban Haris, Hanum kembali menoleh dengan wajah tidak terima. “Tupai juuga pendek, Kakk depannyaaa!”

Haris berdecak lagi, “Udah lahhh. Ganti pertanyaannya gituuu!”

Hanum terkekeh, “Iyaudah ganti. Kakak lagi suka sama orang ya?”

Haris tertegun sejenak, kemudian kembali berucap. “Tapi kan Num, kalo tupai itu depannya masih dipake lari—”

“Kakak... Dilarang mengalihkan pembicaraan!”

“Kalo kangguru kan enggak, Num, dia—”

“Kak!”

“Apa sihh?”

“Kakak lagi suka sama orang?” tanya Hanum lagi. Haris menghela napas lelah, “Ngomongin kaki lagi aja, Num, plis. Kaki apa lagi mau lu tanya? Laba-laba? Delapan kakinya kalo jalan ngangkang ngangkang.”

Hanum tertawa sejenak, kemudian memukul paha Haris pelan. Haris pun turut tergelak bersama adiknya. Setelah tawa keduanya reda, Haris memulai kembali bicaranya. “Belum tau.”

“Belum tau gimana maksudnya?”

“Yaa belum tau,” jawab Haris cuek. “Bohongg,” ucap Hanum. “Kalo temen-temen Kakak udah ngeledekin berarti itu udah beneran,” lanjut Hanum.

“Sok tauuu!”

“Dih, emang taaauu!” balas Hanum tak mau kalah. “Sama siapa, Kak?”

“Apaan sih? Orang enggak.”

“Siapaaa hayooooo?”

Haris tak langsung menjawab, pria itu hanya diam sebelum lagi-lagi mengembuskan napasnya. Haris mendudukkan dirinya, membuat Hanum mau tak mau ikut terduduk. Setelahnya ia menatap Hanum. “Emang boleh kalo Kak Haris punya pacar?”

Hanum memandangi Haris dengan sebelah alisnya yang terangkat. Setelahnya gadis itu memalingkan wajah seraya tertawa. “Kakak tau nggak hari ini aku seneng banget karena denger Kakak akhirnya suka sama oraaang!!”

Haris semakin bingung, “Kenapa seneng?”

“Soalnya giliran Kak Haris untuk ngerasain happy akhirnya dateng juga. I'm happy for you, really,” jawab Hanum.

Haris tertegun sejenak mendengar jawaban Hanum yang sungguh di luar dugaannya. Setelahnya sebuah senyuman tipis terukir di sudut bibirnya, “What makes you think i'm not happy?

“Nothing, just—your eyes, your face, and everything. I like 'em better when you're happier, Kak Haris. I will not be happy if you don't feel the same way,” jawab Hanum. Kali ini dengan intonasi suara yang merendah. Kepalanya kini menunduk menatap kakinya yang ia goyang-goyangkan dari atas kasur.

“Aku dukung Kak Haris. Selama orang yang Kakak suka emang baik, aku nggak akan ngehalangin. Go ahead,” ucap Hanum lagi.

“Num,” panggil Haris.

“Hm?”

I'll tell you, someday. When i know the reason why i fell for her. Or maybe fell harder.

Hanum tersenyum, kemudian hanya mengangguk-angguk seraya mengerucutkam bibirnya. “So this is your first love?”

Haris mengangguk seraya berpikir, “Kayaknya.”

“Keren dong? Sekelas, Kak?”

“Enggak,” balas Haris. Adek kelas, batinnya menambahkan.

“Nanti kenalin ya, Kak, kalo berhasil jadian,” ujar Hanum lagi. Haris hanya berdeham menyahuti Gia. Kamu udah kenal, batinnya kembali menimpali.

“Kirain nggak bakal ada yang bisa memikat Kak Haris sampe tua. Nggak taunya ada,” ujar Hanum. Setelahnya ia tertawa akan ucapannya sendiri.

“Ya, ada lah. Cuma selama ini Kakak emang nggak nyari, soalnya cuma mau jagain kalian aja,” balas Haris.

“Mama mulu alesannya,” cibir Hanum. “Dasar anak mami!”

“Bukan anak mami, tapi kalo nggak nurut sama Mama emang mau nurut sama siapa lagi?” tanya Haris.

“Iya, sih.”

“Kalo mau bandel mah dari dulu gue juga bisa, Num. Duit banyak, kalo gue mau beli narkoboi, mau mabok-mabokan, clubbing bisa. Cuma nggak mau ah,” ucap Haris.

“Kenapa, Kak?”

“Laki-laki tuh bertanggung jawab atas keluarganya, Num. Kakak bertanggung jawab atas kamu, Mama, sama Haura. Kalo gue aja nggak bisa jaga diri gue dari yang begitu-begitu, gimana gue bisa jagain kalian?”

“Tapi kan Kakak nggak perlu selamanya jagain Hanum sama Haura,” balas Hanum.

“Emang enggak. Seenggaknya sampe nanti ada laki-laki lain yang bisa jagain kamu sama Haura, yang bisa Kak Haris percaya dan nggak ngomong doang. Kalo Mama mah, selamanya, lah.”

“Kalo gitu caranya nanti aku jomblo seumur hidup, Kak,” balas Hanum. “Seleksi Kakak pasti aneh-aneh.”

Haris terkekeh, “Lebih kasian Haura lah. Seleksinya lewatin kita berdua!”

“Oiya bener juga,” balas Hanum kemudian tertawa.

“Jadi, Kak, tupai tuh kakinya berapa ya?”

Haris auto merapatkan bibirnya. Matanya menatap Hanum jengkel. “Mending sampe sini aja hubungan kita,” ucap Haris.

Hanum tertawa geli, “Maana bisaaaa? Orang kita adek kakak!”

“Bisa, dengan cara kamu keluar dari kamar ini hayuk cepet. Keluar!” sahut Haris seraya mendorong pelan tubuh Hanum keluar kamarnya. Sementara gadis kecil itu hanya tertawa geli. Setelah Hanum menghilang dari pandangannya, Haris menutup pintu.

Ia merasakan hatinya lega sekarang. Setelahnya ia memantapkan hatinya, meyakinkan dirinya akan sesuatu. Bahwa jatuh cinta bukanlah hal yang salah, bahwa jatuh pada pesona seseorang bukanlah hal yang salah.

Berkat 'restu' dari Hanum, Haris meyakinkan dirinya akan sesuatu. Kalau begitu, besok ia akan benar-benar memulai pergerakan.

“Kak Haris,” panggil Hanum yang tiba-tiba sudah berada di depan pintu kamar sang kakak. Haris menoleh santai, sama sekali tidak terkejut.

“Kenapa?” jawabnya seraya bangkit dari tempat tidur. “Laper?” tanyanya lagi.

Hanum menggeleng, setelahnya melangkahkan kakinya lebih jauh masuk ke kamar bernuansa biru tua milik Haris. “Mau ngobrol aja boleh nggak? Bosen.”

“Sini,” jawab Haris. Kemudian ia kembali merebahkan dirinya di kasur empuk. Kali ini memilih posisi tengkurap seraya memainkan ponselnya. Tentu saja tak lupa menggeser tubuhnya agar adiknya mendapat sedikit ruang.

Hanum merebahkan dirinya di atas punggung Haris. “Kak,” panggilnya.

“Hm,” sahut Haris.

“Tupai kakinya empat apa dua?” tanya Hanum random. Posisi tubuhnya yang terlentang membuat menghayalnya semakin sempurna karena kepalanya menghadap langit-langit, membuatnya bisa menerawang sebebas-bebasnya.

“Empat,” jawab Haris.

“Masa? Tapi kalo makan kacang kan dia berdiri, Kak. Kakinya dua,” balas Hanum.

“Tapi kan kalo lari dia pake empat-empatnya,” Haris balas berargumen.

“Tapi kalo lagi nggak lari dua, kalo lagi mam, kalo lagi berdiri di pohon, duaa,” jawab Hanum. “Jadi dua apa empat, Kak?”

“Ah mana gue tauuu emang gue tupai?” jawab Haris frustasi. Adiknya ini memang se-random itu. Suka sekali masuk ke kamarnya hanya untuk menanyakan hal-hal yang Haris tidak tahu jawabannya.

“Ihh jawab dulu,” balas Hanum. “Ya searching aja sih, Nummm!”

“Nggak mau, orang maunya nanya Kak Haris. Aku tuh ngajak Kakak diskusi,” jawab Hanum.

Haris menghela napas, “Ya kalo mau diskusi tuh bawa dulu bahannya. Jangan begini, emang otak Kakak isinya tupai gitu?”

“Ya, Kakak kan jago biologinya. Waktu itu ulangan essay Kakak seratus, kan?”

“Ya nggak begini dong..”

Haris akhirnya berdecak, kemudian memilih mengalah dan mencari jawabannya melalui internet.

“Empat, Num. Nih, Tupai merupakan kelompok binatang yang mempunyai empat alat gerak atau sepasang kaki depan dan sepasang kaki belakang,” jelas Haris.

“Ohh gitu, kalo kangguru gimana kak?” tanya Hanum.

“Kangguru kakinya dua, yang depan kan pendek,” jawab Haris. Mendengar jawaban Haris, Hanum kembali menoleh dengan wajah tidak terima. “Tupai juuga pendek, Kakk depannyaaa!”

Haris berdecak lagi, “Udah lahhh. Ganti pertanyaannya gituuu!”

Hanum terkekeh, “Iyaudah ganti. Kakak lagi suka sama orang ya?”

Haris tertegun sejenak, kemudian kembali berucap. “Tapi kan Num, kalo tupai itu depannya masih dipake lari—”

“Kakak... Dilarang mengalihkan pembicaraan!”

“Kalo kangguru kan enggak, Num, dia—”

“Kak!”

“Apa sihh?”

“Kakak lagi suka sama orang?” tanya Hanum lagi. Haris menghela napas lelah, “Ngomongin kaki lagi aja, Num, plis. Kaki apa lagi mau lu tanya? Laba-laba? Delapan kakinya kalo jalan ngangkang ngangkang.”

Hanum tertawa sejenak, kemudian memukul paha Haris pelan. Haris pun turut tergelak bersama adiknya. Setelah tawa keduanya reda, Haris memulai kembali bicaranya. “Belum tau.”

“Belum tau gimana maksudnya?”

“Yaa belum tau,” jawab Haris cuek. “Bohongg,” ucap Hanum. “Kalo temen-temen Kakak udah ngeledekin berarti itu udah beneran,” lanjut Hanum.

“Sok tauuu!”

“Dih, emang taaauu!” balas Hanum tak mau kalah. “Sama siapa, Kak?”

“Apaan sih? Orang enggak.”

“Siapaaa hayooooo?”

Haris tak langsung menjawab, pria itu hanya diam sebelum lagi-lagi mengembuskan napasnya. Haris mendudukkan dirinya, membuat Hanum mau tak mau ikut terduduk. Setelahnya ia menatap Hanum. “Emang boleh kalo Kak Haris punya pacar?”

Hanum memandangi Haris dengan sebelah alisnya yang terangkat. Setelahnya gadis itu memalingkan wajah seraya tertawa. “Kakak tau nggak hari ini aku seneng banget karena denger Kakak akhirnya suka sama oraaang!!”

Haris semakin bingung, “Kenapa seneng?”

“Soalnya giliran Kak Haris untuk ngerasain happy akhirnya dateng juga. I'm happy for you, really,” jawab Hanum.

Haris tertegun sejenak mendengar jawaban Hanum yang sungguh di luar dugaannya. Setelahnya sebuah senyuman tipis terukir di sudut bibirnya, “What makes you think i'm not happy?

“Nothing, just—your eyes, your face, and everything. I like 'em better when you're happier, Kak Haris. I will not be happy if you don't feel the same way,” jawab Hanum. Kali ini dengan intonasi suara yang merendah. Kepalanya kini menunduk menatap kakinya yang ia goyang-goyangkan dari atas kasur.

“Aku dukung Kak Haris. Selama orang yang Kakak suka emang baik, aku nggak akan ngehalangin. Go ahead,” ucap Hanum lagi.

“Num,” panggil Haris.

“Hm?”

I'll tell you, someday. When i know the reason why i fell for her. Or maybe fell harder.

Hanum tersenyum, kemudian hanya mengangguk-angguk seraya mengerucutkam bibirnya. “So this is your first love?”

Haris mengangguk seraya berpikir, “Kayaknya.”

“Keren dong? Sekelas, Kak?”

“Enggak,” balas Haris. Adek kelas, batinnya menambahkan.

“Nanti kenalin ya, Kak, kalo berhasil jadian,” ujar Hanum lagi. Haris hanya berdeham menyahuti Gia. Kamu udah kenal, batinnya kembali menimpali.

“Kirain nggak bakal ada yang bisa memikat Kak Haris sampe tua. Nggak taunya ada,” ujar Hanum. Setelahnya ia tertawa akan ucapannya sendiri.

“Ya, ada lah. Cuma selama ini Kakak emang nggak nyari, soalnya cuma mau jagain kalian aja,” balas Haris.

“Mama mulu alesannya,” cibir Hanum. “Dasar anak mami!”

“Bukan anak mami, tapi kalo nggak nurut sama Mama emang mau nurut sama siapa lagi?” tanya Haris.

“Iya, sih.”

“Kalo mau bandel mah dari dulu gue juga bisa, Num. Duit banyak, kalo gue mau beli narkoboi, mau mabok-mabokan, clubbing bisa. Cuma nggak mau ah,” ucap Haris.

“Kenapa, Kak?”

“Laki-laki tuh bertanggung jawab atas keluarganya, Num. Kakak bertanggung jawab atas kamu, Mama, sama Haura. Kalo gue aja nggak bisa jaga diri gue dari yang begitu-begitu, gimana gue bisa jagain kalian?”

“Tapi kan Kakak nggak perlu selamanya jagain Hanum sama Haura,” balas Hanum.

“Emang enggak. Seenggaknya sampe nanti ada laki-laki lain yang bisa jagain kamu sama Haura, yang bisa Kak Haris percaya dan nggak ngomong doang. Kalo Mama mah, selamanya, lah.”

“Kalo gitu caranya nanti aku jomblo seumur hidup, Kak,” balas Hanum. “Seleksi Kakak pasti aneh-aneh.”

Haris terkekeh, “Lebih kasian Haura lah. Seleksinya lewatin kita berdua!”

“Oiya bener juga,” balas Hanum kemudian tertawa.

“Jadi, Kak, tupai tuh kakinya berapa ya?”

Haris auto merapatkan bibirnya. Matanya menatap Hanum jengkel. “Mending sampe sini aja hubungan kita,” ucap Haris.

Hanum tertawa geli, “Maana bisaaaa? Orang kita adek kakak!”

“Bisa, dengan cara kamu keluar dari kamar ini hayuk cepet. Keluar!”