raranotruru

“Mash Damar ini gimana gosok giginyah?” tanya Aay. Gadis itu sudah berdiri di depan cermin dengan bantuan sanggahan kursi untuk menyokong tinggi badannya. Tangan kanannya sudah memegang kuat sikat gigi kecil berwarna merah jambu bercampur putih yang sudah dioles pasta gigi dengan rasa stroberi yang Damar ambilkan dari rumah gadis cilik itu. Menatap ke arah Damar yang masih tersenyum menatap layar ponsel sebab pesan manis yang dikirimkan seseorang yang paling melekat di hatinya.

Damar mendongak, “Gosok gigi aja kayak Aay biasanya gimana?”

Gadis manis itu tersenyum malu. Setelahnya seraya memegangi kepala, Aay terkekeh, “Hehehe lupa! Biasanya Aay dikasih tau Mama.”

Damar tersenyum tipis. Pria yang tubuhnya kini sudah terbalut setelan baju tidur biru dongker itu akhirnya meletakkan ponselnya di suatu tempat yang jauh dari wastafel. Menghindari cipratan air supaya tidak mengenai ponselnya. “Ya udah, barengan sikat giginya sama Mas Damar, ya?”

Aay hanya mengangguk. Ia menunggu Damar memoleskan pasta gigi di sikat gigi miliknya sendiri. “Mash Damar pakenya banyak-banyak emang nanti nggak pedesh?”

“Enggak, Mas Damar udah biasa pake yang ini,” balas Damar. “Aay udah biasa pake yang itu, ya?”

“Iyah, enak yang ini odolnya. Suka Aay emut-emut kalo sikat gigi,” balas Aay. Damar hanya tersenyum membalasnya.

“Udah? Mulai ya? Gosok dulu depannya gigi Aay,” ujar Damar. “Kayak gini nih, iiiiiiii.”

Iiiiiiii,” Aay turut bersuara. Mengikuti cara Damar menggosok gigi bagian depan. Berlanjut ke bagian samping, bagian dalam gigi atas, bawah, dan seterusnya. Damar memandu Aay dengan baik. Dalam hati Damar tertawa geli, rasanya seperti kembali ke masa lalu di mana ia ditunjuk menjadi seorang dokter cilik bersama beberapa teman sekelasnya yang lain. Damar berada di kelas 5 SD saat itu. Tugasnya sederhana, ia hanya harus mengajarkan kepada adik-adik yang menduduki kelas 1 dan 2 caranya menyikat gigi dengan baik.

Entah sudah berapa tahun lalu. Damar bahkan nyaris kehilangan memori itu dalam ingatannya. Namun terima kasih kepada Aay, gelar dokter ciliknya menjadi tak sia-sia.

“Udah, Ay?” tanya Damar yang sudah selesai dengan kegiatannya menggosok gigi sebelum tidur.

“Yang kiri atas belum, Mash. Susahh, Aay nggak bisa!”

“Sini,” ucap Damar. “Mas Damar sikatin. Aay aaaaa!”

Aay membuka mulutnya, mengikuti instruksi Damar. Setelahnya ia membiarkan seseorang yang seharian ini menjadi kakak lelakinya itu untuk menyikat giginya agar lebih bersih. “Kalo yang samping sini digosoknya gini, Ay. Jadi nanti bersih,” tukas Damar.

“Kenapa harus goshok gigi sih, Mash?”

“Ya, biar bersih!” balas Damar. “Aay seharian ini makan apa aja? Permen, kan? Donat, kentang, nasi. Terus tadi Aay minum apa tuh? Es teh, iya kan?”

Gadis kecil itu mengangguk. “Makanan yang Aay makan hari ini tuh bisa ada yang nyangkut di gigi pas Aay kunyah, jadi kalo malem mau bobok harus dibersihin dulu. Caranya ini, sikat gigi,” jelas Damar lagi. Tanpa sadar dirinya sudah mulai berdamai dengan Aay.

“Emang kalo nggak goshok gigi, kenapa?”

“Nanti gigi Aay bolong, mau?”

“Emang bisa bolong, Mash? Dibolonginnya pake apa?”

“Bolongnya sama kuman, Ay. Nanti kumannya makanin gigi Aay sampe bolong. Nanti lama-lama abis, nanti Aay bisa ompong. Mau?” balas Damar lagi.

“Ompong kayak opanya Aay?”

Damar menatap Aay sedikit terkejut, sebelah alisnya terangkat bingung. “Emang opanya Aay ompong?”

“Iya, Mash. Giginya bisa dicopot semua!” balas Aay antusias. Kedua bola matanya bahkan membesar saking bersemangatnya memberi tahu Damar mengenai sang kakek yang memakai gigi palsu.

“Kalo itu karena udah tua, bukan karena nggak pernah gosok gigi!” balas Damar.

“Ooh, emang nanti kalo udah tua giginya suka ompong?” Aay bertanya dengan polosnya.

“Iya. Wajar kalo udah tua giginya ompong atau rambutnya udah tipis.” Berbeda dengan siang tadi, kali ini Damar menjawab semua rasa penasaran Aay dengan sabar.

Mendengar penuturan Damar, Aay berdecak. Sesuai kata Aghniya, Aay adalah anak ekspresif. Ketika ia tidak suka, tercetak jelas delikan matanya yang memancarkan perasaan sebalnya. Seperti yang saat ini nampak di penglihatan Damar. “Kalo gitu Aay nggak mau tua, deh! Nanti Aay ompong!”

Damar terkekeh geli, “Yee, mana bisa? Semua orang nanti pasti makin dewasa—”

“Dewasa tuh apa, Mash?”

“Makin gede, makin tua. Nanti pasti Aay akan setua Mas Damar sama Kak Ni sekarang, nanti Mas Damar juga pasti akan setua Ibu, setua mamanya Aay, papanya Aay. Nggak bisa terus-terusan kecil,” balas Damar lagi.

“Kenapa begitu, Mas?”

“Udah dari sananya begitu, Ay..”

“Emang enak, Mas, jadi orang gede?” tanya Aay lagi. Kali ini, pertanyaannya membuat Damar tersenyum miris. Sebab bahkan dirinya pun memilili keinginan yang sama dengan Aay, tak ingin tumbuh dewasa. Bedanya, Aay hanya tak ingin ompong. Sedang Damar, sebab ia sudah tahu lelahnya menjadi seorang dewasa.

“Kalo itu, Aay harus cobain sendiri rasanya gimana,” ucap Damar. “Makanya, mam-nya yang banyak ya? Minum susunya yang rajin, nanti bisa jadi setinggi Kak Ni.”

Kak Ni. Satu nama yang sejak tadi diam-diam Damar jadikan senjata untuk membungkam Aay ketika pertanyaannya sudah terlampau banyak. Lagi-lagi Aghniya benar, usia Aay memang waktunya penasaran. Pun usia Damar, sebenarnya. Bedanya, Aay hanya penasaran tentang berbagai hal-hal dasar dalam kehidupan. Sedang usia Damar, menawarkan berbagai rasa penasaran akan segala hal yang berkaitan dengan jati diri.

Mungkin Aghniya benar lagi, keduanya sama.

“Udah, Ay. Kumur-kumur terus cuci mulutnya. Mas Damar bersihin sikat gigi Aay,” ucap Damar. Setelahnya Aay hanya menurut. Damar bahkan sedikit bingung di dalam hatinya. Sebab Aay yang kini ia tangani benar-benar berbeda dengan Aay yang ia tangani siang tadi.

Namun ia tak ambil pusing. Mungkin karena sudah malam, mungkin karena Aay memang sudah kelelahan. Atau mungkin karena gadis itu sudah sedikit menurunkan bendera perang yang ia kibarkan sejak pertama kali keduanya berinteraksi.

“Ayo, tidur! Udah jam sembilan,” titah Damar. Kemudian ia menggendong Aay menuju kamar sang ibu yang akan menjadi tempat Aay menginap.

Sepanjang perjalanan, hubungan keduanya justru kian mencair. Aay terus saja bertanya, dibalas dengan Damar yang menjawab seadanya namun tetap membuat gadis itu nyaman bicara dengannya.

“Mash Damar temenin Aay nggak nanti?”

“Iya.”

“Kak Ni cantik, Mash.”

“Iya, Aay juga kok.”

“Kak Ni pacarnya Mash Damar?” tanya Aay tiba-tiba.

“Iya.”

“Nggak cocok, Mash Damar jelek.”

Langkahnya otomatis terhenti. Damar kini memandang Aay dengan tatapan tidak percaya sekaligus tidak terima. Ingin marah, namun segera ia urungkan ketika Aay mengulas senyuman paling manisnya. Hingga kedua matanya menyipit membentuk bulan sabit, persis seperti yang ia lakukan saat meminta Damar memotretnya tadi. “Boong, deh! Mash Damar ganteng!”

Seakan tahu Damar masih menyimpan dendam padanya, Aay kemudian mengalungkan kedua tangannya di leher Damar. Kemudian bersandar pada bahu pemuda itu seiring kantuk semakin menguasai dirinya. Aay menguap, namun masih berusaha untuk bicara. “Twemwennya Aay suka cerita dia punya Mamas. Mamasnya udah SMP, terus dia suka sombong.”

“Oh, gitu?” Damar masih menanggapi. Kemudian alih-alih melanjutkan langkahnya, Damar memilih untuk menganyun-ayunkan tubuhnya pelan. Mengusahakan agar Aay terlelap dulu dalam gendongannya.

Aay mengangguk pelan sebelum akhirnya kembali bersuara. “Mash Damar sekolahnya kelas berapa?”

“Mas Damar kelas dua SMA.”

Seketika Aay kembali mengangkat kepalanya. Tubuhnya bahkan nyaris terhuyung ke belakang, beruntung Damar menahan punggungnya. Kedua matanya yang tadi terkantuk-kantuk itu kini kembali segar bagaikan diguyur air es. “Beneran, Mash?!”

Damar mengangguk bingung. “Kak Ni juga,” ucapnya lagi.

“IYA, MASH?!”

“Iya, cantikkk,” balas Damar seraya tersenyum. Namun senyumannya sirna ketika Aay justru kembali lesu. Kedua bahunya merosot dan gadis kecil itu kembali menyandarkan tubuhnya pada Damar seperti sebelumnya.

“Mash Damar nggak mau jadi Mamasnya Aay? Biar Aay bisa cerita juga ke temen Aay,” ucapnya. Nadanya kini memelan, suara Aay memendam.

“Emang Aay mau punya mamas kayak Mas Damar? Tadi katanya Mas Damar nakal? Mas Damar bau? Tadi juga Aay ngatain Mas Damar jelek, kan?” balas Damar sok jual mahal.

“Bercanda, Mash,” balasnya. “Aay mau kok punya mamas kayak Mash Damar. Mash Damar baik, Aay suka. Aay nggak pernah diteriak-teriakin kalo main sama Mash Damar, sama Kak Ni juga.”

Damar terpaku di tempatnya. Ucapan Aay membuatnya sedikit tercengang. Teriak-teriak? Maksudnya Aay sering dibentak? batin Damar bertanya-tanya.

“Emangnya ada yang sering teriak-teriakin Aay?” tanya Damar. Tak bisa dipungkiri bahwa kini terbesit sedikit rasa khawatir dalam dadanya.

“Banyak,” jawab Aay tanpa ragu. “Katanya Aay berisik, Aay nakal, Aay suka rusakin mainan.”

“Tapi Aay suka rusakin mainan temen Aay nggak?”

“Bukan Aay, Mash. Ada temen Aay yang nggak sengaja rusakin, tapi jadi Aay yang diteriakin,” balas Aay. Masih menyandarkan kepalanya di bahu Damar. Kedua tangannya yang memeluk leher Damar itu kini melemas, namun masih berusaha ditahannya untuk bertengger di sana.

“Terus Aay nggak bilang kalo bukan Aay yang rusakin?” tanya Damar lagi. Jiwa pembelanya saat ini menguar.

“Nggak berani, soalnya serem semuanya,” balas Aay. “Aay pikir semua orang gede itu kayak gitu, Mash. Suka marah-marah, suka teriak-teriak. Makanya Aay takut kalo Mama sama Papa pergi. Tapi tadi Aay langsung minta anterin ke sini.”

“Kenapa emangnya?”

“Kalo Mama sama Papa pergi, Aay maunya main sama Mash Damar, ke rumah Ibu. Soalnya Mash Damar sama Ibu baik, terus ada Kak Ni. Mash Damar, Ibu, sama Kak Ni nggak suka teriak-teriakin Aay. Kalo Aay nakal apa buat salah, Aay dibilanginnya pelan-pelan. Aay suka,” balas Aay lagi.

Detik itu, Damar tersadar bahwa Aay—adalah seorang bidadari kecil yang dihadiahkan Tuhan kepada keluarga kecilnya. Dan Damar sepatutnya bersyukur sebab dapat merasakan cipratan kasih sayang yang gadis itu sebarkan kepada dunia. Lagi-lagi Damar merasa Aghniya benar. Aay dan Aghniya, adalah dua orang yang berbagi kisah yang sama. Keduanya sama.

Aay dan Aghniya adalah dua orang dengan keceriaan paling besar yang pernah Damar temui sepanjang hidupnya. Namun sepertinya dunia sudah semakin membosankan, hingga orang-orang seperti Aay dan Aghniya justru dianggap seperti pengganggu dengan alibi terlalu berisik, ramai, kekanakan, atau dalam kasus Aay—nakal.

Damar jadi malu pada dirinya sendiri. Mendadak ia pun teringat betapa dirinya jengkel setengah mati dengan seseorang yang justru kini menjadi tambatan hatinya. Dulu, Damar pun menganggap Aghniya menyebalkan dan sebisa mungkin menjaga jarak paling tidak seratus meter dari gadis itu. Sebab Aghniya berisik dan terlalu ekspresif untuk dirinya yang selalu mengusahakan ketenangan. Namun setelah ia mencari tahu lebih dalam, Aghniya justru memberikan sentuhan yang lain dalam hidupnya. Sama seperti Aay.

Berjam-jam yang lalu Damar bahkan menyebutnya ketua mafia, ratu kegelapan, dan lain sebagainya. Namun detik ini, Damar tersadar akan satu hal. Mazaya adalah seorang malaikat kecil yang kesepian.

“Aay boleh main ke sini terus kok kalo Aay suka,” balas Damar.

“Beneran boleh, Mash?”

Damar mengangguk pelan meski Aay tidak dapat melihatnya. “Boleh, Mas Damar kan mamasnya Aay.”

“Bener mau jadi mamasnya Aay?” tanya Aay.

“Benerannnn!”

Aay tak langsung membalas. Gadis itu membenarkan posisinya pada gendongan Damar. Mengalungkan kedua tangannya lebih erat lagi pada lelaki itu. Mencari posisi paling nyaman untuknya terlelap.

“Mas,” panggilnya tiba-tiba.

“Iya,” jawab Damar lembut. “Aay kenapa nggak tidur-tidur, sih? Matanya udah ngantuk banget gitu, merem gih!”

Aay menghela napasnya, “Aay takut dibuang pake kapal laut.”

Damar mau tak mau tertawa, namun segera ia tahan agar tak mengagetkan Aay. Setelahnya ia merutuki dirinya sendiri sebab bicara sembarangan pada anak kecil yang sedang dalam usia ketika mereka mencerna semuanya mentah-mentah. Mengatasinya, Damar mengusap surai pendek Aay yang membingkai wajahnya. Tak lupa merapikan helaiannya dan menyelipkannya ke belakang telinga Aay. “Nggak kok, Mas Damar nggak akan buang Aay pake kapal laut. Mas Damar kan mamasnya Aay sekarang, Mas Damar jagain Aay sampe Aay bobok. Besok pagi kita main lagi,” jawabnya.

“Bener ya, Mas?”

“Iya, Aay tenang aja.”

“Kalo bohong Mas Damar nanti digigit hiu ya? Digigit naga, digigit barongsai terus dikejar ondel-ondel!” balas Aay penuh ancaman.

Damar lagi-lagi membiarkan tawanya lolos, “Iyaa. Iya, Aay.”

“Bobok Ay, baca doa dulu!” ucap Damar lagi.

“Hmmm” gumam Aay. Setelahnya gadis itu diam, bersiap untuk tidur seiring Damar pun kembali mengayun-ayunkan tubuhnya seraya menepuk-nepuk pelan punggung Aay untuk membuat Aay semakin nyenyak dalam tidurnya.

“Mas,” panggi Aay lagi.

Belom tidur juga ternyata, ucap Damar dalam hati.

Nywanywiin Aay, dong!” pintanya dengan suara parau khas orang ngantuk.

“Aay mau dinyanyiin apa?”

Que Sera Sera,” jawab Aay.

Jawaban Aay memang selalu di luar dugaan. Membuat Damar menerka, sebenarnya Aay ini bibit-bibit kaum Aghniya atau justru Ojan?

Namun Aay tetap gadis cilik yang manis, maka Damar masih menoleransinya. Lagi pula, ia pun sudah mendeklarasikan dirinya sebagai Mamas bagi Aay. Maka apapun yang adik perempuannya minta, maka akan ia usahakan.

“Oke, tapi Aay bobok beneran, ya? Ini udah setengah sepuluh,” balas Damar yang kemudian hanya dibalas anggukan oleh Aay.

When i was just a little girl, i asked my mother what would i be?

Will i be pretty, will i be rich?

Suara halus Damar mengalun merdu. Memasuki indra pendengaran Aay dan mengantarnya lebih dalam ke alam mimpi. Damar harap gadis itu tak bermimpi macam-macam, Damar harap Mazaya bermimpi indah. Seindah-indahnya.

Damar masih terus menyenandungkan lagu yang menjadi permintaan dari Aay. Ia tak akan berhenti hingga benar-benar yakin bahwa Aay sudah tertidur pulas. Tak peduli harus berapa putaran ia mengulangi lagu itu. Yang paling penting, Aay tidur dengan nyaman dalam dekapannya hingga pagi kembali menyingsing.

Dan malam itu, sudah tugasnya untuk menunaikan janji sebagai seorang kakak. Menjaga Mazaya hingga gadis itu pulas tertidur.

Selang beberapa menit, Damar akhirnya memindahkan Aay ke kamar sang ibu. Membaringkannya di sana secara perlahan dan hati-hati. Tak lupa menyelimutinya agar Aay terjaga tetap hangat. Kemudian ditatapnya makhluk mungil yang kini terlelap di hadapannya.

Seulas senyum terpatri di wajah Damar. Mazaya benar-benar seorang bidadari. Mazaya benar-benar seorang malaikat kecil yang malam itu memberinya sentuhan kecil yang lantas menguasai hatinya.

Damar mengangkat sebelah tangannya pelan, kemudian dengan hati-hati ia mengusap pipi tembam milik Aay yang diam-diam selalu menarik perhatiannya.

Malam itu, siapapun yang melihat pasti tahu. Permusuhan antara Damar dan Aay sirna, dendam yang selama ini bersemayam dalam dirinya pun habis tak bersisa. Bendera perang yang selama ini dikibarkan dengan api yang berkobar di antara keduanya, resmi diturunkan malam ini.

Kemudian, seraya mempertahankan senyum yang mewakili hatinya yang menghangat, Damar berbisik, “Sleep tight, Aay!

“Mash Damar ini gimana gosok giginyah?” tanya Aay. Gadis itu sudah berdiri di depan cermin dengan bantuan sanggahan kursi untuk menyokong tinggi badannya. Tangan kanannya sudah memegang kuat sikat gigi kecil berwarna merah jambu bercampur putih yang sudah dioles pasta gigi dengan rasa stroberi yang Damar ambilkan dari rumah gadis cilik itu. Menatap ke arah Damar yang masih tersenyum menatap layar ponsel sebab pesan manis yang dikirimkan seseorang yang paling melekat di hatinya.

Damar mendongak, “Gosok gigi aja kayak Aay biasanya gimana?”

Gadis manis itu tersenyum malu. Setelahnya seraya memegangi kepala, Aay terkekeh, “Hehehe lupa! Biasanya Aay dikasih tau Mama.”

Damar tersenyum tipis. Pria yang tubuhnya kini sudah terbalut setelan baju tidur biru dongker itu akhirnya meletakkan ponselnya di suatu tempat yang jauh dari wastafel. Menghindari cipratan air supaya tidak mengenai ponselnya. “Ya udah, barengan sikat giginya sama Mas Damar, ya?”

Aay hanya mengangguk. Ia menunggu Damar memoleskan pasta gigi di sikat gigi miliknya sendiri. “Mash Damar pakenya banyak-banyak emang nanti nggak pedesh?”

“Enggak, Mas Damar udah biasa pake yang ini,” balas Damar. “Aay udah biasa pake yang itu, ya?”

“Iyah, enak yang ini odolnya. Suka Aay emut-emut kalo sikat gigi,” balas Aay. Damar hanya tersenyum membalasnya.

“Udah? Mulai ya? Gosok dulu depannya gigi Aay,” ujar Damar. “Kayak gini nih, iiiiiiii.”

Iiiiiiii,” Aay turut bersuara. Mengikuti cara Damar menggosok gigi bagian depan. Berlanjut ke bagian samping, bagian dalam gigi atas, bawah, dan seterusnya. Damar memandu Aay dengan baik. Dalam hati Damar tertawa geli, rasanya seperti kembali ke masa lalu di mana ia ditunjuk menjadi seorang dokter cilik bersama beberapa teman sekelasnya yang lain. Damar berada di kelas 5 SD saat itu. Tugasnya sederhana, ia hanya harus mengajarkan kepada adik-adik yang menduduki kelas 1 dan 2 caranya menyikat gigi dengan baik.

Entah sudah berapa tahun lalu. Damar bahkan nyaris kehilangan memori itu dalam ingatannya. Namun terima kasih kepada Aay, gelar dokter ciliknya menjadi tak sia-sia.

“Udah, Ay?” tanya Damar yang sudah selesai dengan kegiatannya menggosok gigi sebelum tidur.

“Yang kiri atas belum, Mash. Susahh, Aay nggak bisa!”

“Sini,” ucap Damar. “Mas Damar sikatin. Aay aaaaa!”

Aay membuka mulutnya, mengikuti instruksi Damar. Setelahnya ia membiarkan seseorang yang seharian ini menjadi kakak lelakinya itu untuk menyikat giginya agar lebih bersih. “Kalo yang samping sini digosoknya gini, Ay. Jadi nanti bersih,” tukas Damar.

“Kenapa harus goshok gigi sih, Mash?”

“Ya, biar bersih!” balas Damar. “Aay seharian ini makan apa aja? Permen, kan? Donat, kentang, nasi. Terus tadi Aay minum apa tuh? Es teh, iya kan?”

Gadis kecil itu mengangguk. “Makanan yang Aay makan hari ini tuh bisa ada yang nyangkut di gigi pas Aay kunyah, jadi kalo malem mau bobok harus dibersihin dulu. Caranya ini, sikat gigi,” jelas Damar lagi. Tanpa sadar dirinya sudah mulai berdamai dengan Aay.

“Emang kalo nggak goshok gigi, kenapa?”

“Nanti gigi Aay bolong, mau?”

“Emang bisa bolong, Mash? Dibolonginnya pake apa?”

“Bolongnya sama kuman, Ay. Nanti kumannya makanin gigi Aay sampe bolong. Nanti lama-lama abis, nanti Aay bisa ompong. Mau?” balas Damar lagi.

“Ompong kayak opanya Aay?”

Damar menatap Aay sedikit terkejut, sebelah alisnya terangkat bingung. “Emang opanya Aay ompong?”

“Iya, Mash. Giginya bisa dicopot semua!” balas Aay antusias. Kedua bola matanya bahkan membesar saking bersemangatnya memberi tahu Damar mengenai sang kakek yang memakai gigi palsu.

“Kalo itu karena udah tua, bukan karena nggak pernah gosok gigi!” balas Damar.

“Ooh, emang nanti kalo udah tua giginya suka ompong?” Aay bertanya dengan polosnya.

“Iya. Wajar kalo udah tua giginya ompong atau rambutnya udah tipis.” Berbeda dengan siang tadi, kali ini Damar menjawab semua rasa penasaran Aay dengan sabar.

Mendengar penuturan Damar, Aay berdecak. Sesuai kata Aghniya, Aay adalah anak ekspresif. Ketika ia tidak suka, tercetak jelas delikan matanya yang memancarkan perasaan sebalnya. Seperti yang saat ini nampak di penglihatan Damar. “Kalo gitu Aay nggak mau tua, deh! Nanti Aay ompong!”

Damar terkekeh geli, “Yee, mana bisa? Semua orang nanti pasti makin dewasa—”

“Dewasa tuh apa, Mash?”

“Makin gede, makin tua. Nanti pasti Aay akan setua Mas Damar sama Kak Ni sekarang, nanti Mas Damar juga pasti akan setua Ibu, setua mamanya Aay, papanya Aay. Nggak bisa terus-terusan kecil,” balas Damar lagi.

“Kenapa begitu, Mas?”

“Udah dari sananya begitu, Ay..”

“Emang enak, Mas, jadi orang gede?” tanya Aay lagi. Kali ini, pertanyaannya membuat Damar tersenyum miris. Sebab bahkan dirinya pun memilili keinginan yang sama dengan Aay, tak ingin tumbuh dewasa. Bedanya, Aay hanya tak ingin ompong. Sedang Damar, sebab ia sudah tahu lelahnya menjadi seorang dewasa.

“Kalo itu, Aay harus cobain sendiri rasanya gimana,” ucap Damar. “Makanya, mam-nya yang banyak ya? Minum susunya yang rajin, nanti bisa jadi setinggi Kak Ni.”

Kak Ni. Satu nama yang sejak tadi diam-diam Damar jadikan senjata untuk membungkam Aay ketika pertanyaannya sudah terlampau banyak. Lagi-lagi Aghniya benar, usia Aay memang waktunya penasaran. Pun usia Damar, sebenarnya. Bedanya, Aay hanya penasaran tentang berbagai hal-hal dasar dalam kehidupan. Sedang usia Damar, menawarkan berbagai rasa penasaran akan segala hal yang berkaitan dengan jati diri.

Mungkin Aghniya benar lagi, keduanya sama.

“Udah, Ay. Kumur-kumur terus cuci mulutnya. Mas Damar bersihin sikat gigi Aay,” ucap Damar. Setelahnya Aay hanya menurut. Damar bahkan sedikit bingung di dalam hatinya. Sebab Aay yang kini ia tangani benar-benar berbeda dengan Aay yang ia tangani siang tadi.

Namun ia tak ambil pusing. Mungkin karena sudah malam, mungkin karena Aay memang sudah kelelahan. Atau mungkin karena gadis itu sudah sedikit menurunkan bendera perang yang ia kibarkan sejak pertama kali keduanya berinteraksi.

“Ayo, tidur! Udah jam sembilan,” titah Damar. Kemudian ia menggendong Aay menuju kamar sang ibu yang akan menjadi tempat Aay menginap.

Sepanjang perjalanan, hubungan keduanya justru kian mencair. Aay terus saja bertanya, dibalas dengan Damar yang menjawab seadanya namun tetap membuat gadis itu nyaman bicara dengannya.

“Mash Damar temenin Aay nggak nanti?”

“Iya.”

“Kak Ni cantik, Mash.”

“Iya, Aay juga kok.”

“Kak Ni pacarnya Mash Damar?” tanya Aay tiba-tiba.

“Iya.”

“Nggak cocok, Mash Damar jelek.”

Langkahnya otomatis terhenti. Damar kini memandang Aay dengan tatapan tidak percaya sekaligus tidak terima. Ingin marah, namun segera ia urungkan ketika Aay mengulas senyuman paling manisnya. Hingga kedua matanya menyipit membentuk bulan sabit, persis seperti yang ia lakukan saat meminta Damar memotretnya tadi. “Boong, deh! Mash Damar ganteng!”

Seakan tahu Damar masih menyimpan dendam padanya, Aay kemudian mengalungkan kedua tangannya di leher Damar. Kemudian bersandar pada bahu pemuda itu seiring kantuk semakin menguasai dirinya. Aay menguap, namun masih berusaha untuk bicara. “Twemwennya Aay suka cerita dia punya Mamas. Mamasnya udah SMP, terus dia suka sombong.”

“Oh, gitu?” Damar masih menanggapi. Kemudian alih-alih melanjutkan langkahnya, Damar memilih untuk menganyun-ayunkan tubuhnya pelan. Mengusahakan agar Aay terlelap dulu dalam gendongannya.

Aay mengangguk pelan sebelum akhirnya kembali bersuara. “Mash Damar sekolahnya kelas berapa?”

“Mas Damar kelas dua SMA.”

Seketika Aay kembali mengangkat kepalanya. Tubuhnya bahkan nyaris terhuyung ke belakang, beruntung Damar menahan punggungnya. Kedua matanya yang tadi terkantuk-kantuk itu kini kembali segar bagaikan diguyur air es. “Beneran, Mash?!”

Damar mengangguk bingung. “Kak Ni juga,” ucapnya lagi.

“IYA, MASH?!”

“Iya, cantikkk,” balas Damar seraya tersenyum. Namun senyumannya sirna ketika Aay justru kembali lesu. Kedua bahunya merosot dan gadis kecil itu kembali menyandarkan tubuhnya pada Damar seperti sebelumnya.

“Mash Damar nggak mau jadi Mamasnya Aay? Biar Aay bisa cerita juga ke temen Aay,” ucapnya. Nadanya kini memelan, suara Aay memendam.

“Emang Aay mau punya mamas kayak Mas Damar? Tadi katanya Mas Damar nakal? Mas Damar bau? Tadi juga Aay ngatain Mas Damar jelek, kan?” balas Damar sok jual mahal.

“Bercanda, Mash,” balasnya. “Aay mau kok punya mamas kayak Mash Damar. Mash Damar baik, Aay suka. Aay nggak pernah diteriak-teriakin kalo main sama Mash Damar, sama Kak Ni juga.”

Damar terpaku di tempatnya. Ucapan Aay membuatnya sedikit tercengang. Teriak-teriak? Maksudnya Aay sering dibentak? batin Damar bertanya-tanya.

“Emangnya ada yang sering teriak-teriakin Aay?” tanya Damar. Tak bisa dipungkiri bahwa kini terbesit sedikit rasa khawatir dalam dadanya.

“Banyak,” jawab Aay tanpa ragu. “Katanya Aay berisik, Aay nakal, Aay suka rusakin mainan.”

“Tapi Aay suka rusakin mainan temen Aay nggak?”

“Bukan Aay, Mash. Ada temen Aay yang nggak sengaja rusakin, tapi jadi Aay yang diteriakin,” balas Aay. Masih menyandarkan kepalanya di bahu Damar. Kedua tangannya yang memeluk leher Damar itu kini melemas, namun masih berusaha ditahannya untuk bertengger di sana.

“Terus Aay nggak bilang kalo bukan Aay yang rusakin?” tanya Damar lagi. Jiwa pembelanya saat ini menguar.

“Nggak berani, soalnya serem semuanya,” balas Aay. “Aay pikir semua orang gede itu kayak gitu, Mash. Suka marah-marah, suka teriak-teriak. Makanya Aay takut kalo Mama sama Papa pergi. Tapi tadi Aay langsung minta anterin ke sini.”

“Kenapa emangnya?”

“Kalo Mama sama Papa pergi, Aay maunya main sama Mash Damar, ke rumah Ibu. Soalnya Mash Damar sama Ibu baik, terus ada Kak Ni. Mash Damar, Ibu, sama Kak Ni nggak suka teriak-teriakin Aay. Kalo Aay nakal apa buat salah, Aay dibilanginnya pelan-pelan. Aay suka,” balas Aay lagi.

Detik itu, Damar tersadar bahwa Aay—adalah seorang bidadari kecil yang dihadiahkan Tuhan kepada keluarga kecilnya. Dan Damar sepatutnya bersyukur sebab dapat merasakan cipratan kasih sayang yang gadis itu sebarkan kepada dunia. Lagi-lagi Damar merasa Aghniya benar. Aay dan Aghniya, adalah dua orang yang berbagi kisah yang sama. Keduanya sama.

Aay dan Aghniya adalah dua orang dengan keceriaan paling besar yang pernah Damar temui sepanjang hidupnya. Namun sepertinya dunia sudah semakin membosankan, hingga orang-orang seperti Aay dan Aghniya justru dianggap seperti pengganggu dengan alibi terlalu berisik, ramai, kekanakan, atau dalam kasus Aay—nakal.

Damar jadi malu pada dirinya sendiri. Mendadak ia pun teringat betapa dirinya jengkel setengah mati dengan seseorang yang justru kini menjadi tambatan hatinya. Dulu, Damar pun menganggap Aghniya menyebalkan dan sebisa mungkin menjaga jarak paling tidak seratus meter dari gadis itu. Sebab Aghniya berisik dan terlalu ekspresif untuk dirinya yang selalu mengusahakan ketenangan. Namun setelah ia mencari tahu lebih dalam, Aghniya justru memberikan sentuhan yang lain dalam hidupnya. Sama seperti Aay.

Berjam-jam yang lalu Damar bahkan menyebutnya ketua mafia, ratu kegelapan, dan lain sebagainya. Namun detik ini, Damar tersadar akan satu hal. Mazaya adalah seorang malaikat kecil yang kesepian.

“Aay boleh main ke sini terus kok kalo Aay suka,” balas Damar.

“Beneran boleh, Mash?”

Damar mengangguk pelan meski Aay tidak dapat melihatnya. “Boleh, Mas Damar kan mamasnya Aay.”

“Bener mau jadi mamasnya Aay?” tanya Aay.

“Benerannnn!”

Aay tak langsung membalas. Gadis itu membenarkan posisinya pada gendongan Damar. Mengalungkan kedua tangannya lebih erat lagi pada lelaki itu. Mencari posisi paling nyaman untuknya terlelap.

“Mas,” panggilnya tiba-tiba.

“Iya,” jawab Damar lembut. “Aay kenapa nggak tidur-tidur, sih? Matanya udah ngantuk banget gitu, merem gih!”

Aay menghela napasnya, “Aay takut dibuang pake kapal laut.”

Damar mau tak mau tertawa, namun segera ia tahan agar tak mengagetkan Aay. Setelahnya ia merutuki dirinya sendiri sebab bicara sembarangan pada anak kecil yang sedang dalam usia ketika mereka mencerna semuanya mentah-mentah. Mengatasinya, Damar mengusap surai pendek Aay yang membingkai wajahnya. Tak lupa merapikan helaiannya dan menyelipkannya ke belakang telinga Aay. “Nggak kok, Mas Damar nggak akan buang Aay pake kapal laut. Mas Damar kan mamasnya Aay sekarang, Mas Damar jagain Aay sampe Aay bobok. Besok pagi kita main lagi,” jawabnya.

“Bener ya, Mas?”

“Iya, Aay tenang aja.”

“Kalo bohong Mas Damar nanti digigit hiu ya? Digigit naga, digigit barongsai terus dikejar ondel-ondel!” balas Aay penuh ancaman.

Damar lagi-lagi membiarkan tawanya lolos, “Iyaa. Iya, Aay.”

“Bobok Ay, baca doa dulu!” ucap Damar lagi.

“Hmmm” gumam Aay. Setelahnya gadis itu diam, bersiap untuk tidur seiring Damar pun kembali mengayun-ayunkan tubuhnya seraya menepuk-nepuk pelan punggung Aay untuk membuat Aay semakin nyenyak dalam tidurnya.

“Mas,” panggi Aay lagi.

Belom tidur juga ternyata, ucap Damar dalam hati.

Nywanywiin Aay, dong!” pintanya dengan suara parau khas orang ngantuk.

“Aay mau dinyanyiin apa?”

Que Sera Sera,” jawab Aay.

Jawaban Aay memang selalu di luar dugaan. Membuat Damar menerka, sebenarnya Aay ini bibit-bibit kaum Aghniya atau justru Ojan?

Namun Aay tetap gadis cilik yang manis, maka Damar masih menoleransinya. Lagi pula, ia pun sudah mendeklarasikan dirinya sebagai Mamas bagi Aay. Maka apapun yang adik perempuannya minta, maka akan ia usahakan.

“Oke, tapi Aay bobok beneran, ya? Ini udah setengah sepuluh,” balas Damar yang kemudian hanya dibalas anggukan oleh Aay.

When i was just a little girl, i asked my mother what would i be?

Will i be pretty, will i be rich?

Suara halus Damar mengalun merdu. Memasuki indra pendengaran Aay dan mengantarnya lebih dalam ke alam mimpi. Damar harap gadis itu tak bermimpi macam-macam, Damar harap Mazaya bermimpi indah. Seindah-indahnya.

Damar masih terus menyenandungkan lagu yang menjadi permintaan dari Aay. Ia tak akan berhenti hingga benar-benar yakin bahwa Aay sudah tertidur pulas. Tak peduli harus berapa putaran ia mengulangi lagu itu. Yang paling penting, Aay tidur dengan nyaman dalam dekapannya hingga pagi kembali menyingsing.

Dan malam itu, sudah tugasnya untuk menunaikan janji sebagai seorang kakak. Menjaga Mazaya hingga gadis itu pulas tertidur.

Selang beberapa menit, Damar akhirnya memindahkan Aay ke kamar sang ibu. Membaringkannya di sana secara perlahan dan hati-hati. Tak lupa menyelimutinya agar Aay terjaga tetap hangat. Kemudian ditatapnya makhluk mungil yang kini terlelap di hadapannya.

Seulas senyum terpatri di wajah Damar. Mazaya benar-benar seorang bidadari. Mazaya benar-benar seorang malaikat kecil yang malam itu memberinya sentuhan kecil yang lantas menguasai hatinya.

Damar mengangkat sebelah tangannya pelan, kemudian dengan hati-hati ia mengusap pipi tembam milik Aay yang diam-diam selalu menarik perhatiannya.

Kemudian seraya mempertahankan senyum yang mewakili hatinya yang menghangat, Damar berbisik, “Sleep tight, Aay!

“AAY JANGAN! Duhh, jangan yaa, Cantik! Ini ada listriknya, tangan Aay masih basah nanti kesetrum gimana?”

Itulah yang pertama kali didengar Aghniya ketika gadis itu sampai di depan pintu rumah seseorang yang menjabat sebagai kekasihnya setelah sekian lama. Yudhistira Damar, pemuda yang digadang-gadang sempurna itu rupanya memiliki kelemahan juga. Bergelut dengan Aay, adalah salah satunya.

Aghniya tak bisa menahan sudut bibirnya agar tak mengembang kala melihat raut wajah frustrasi tercetak jelas di wajah tirus Damar. Sesekali lesung pipinya terlihat—bukan karena tersenyum, melainkan karena Damar memincingkan bibir guna memikirkan cara apalagi yang harus ia lakukan supaya Aay tenang.

Mazaya, atau yang lebih akrab disapa Aay, gadis kecil berusia tiga tahun yang merupakan anak dari Tante Rahma. Salah satu tetangga Damar yang sangat dekat dengan keluarganya. Sewaktu Damar kecil, Tante Rahma pun sering membantu ibu untuk menjaganya. Itulah yang membuat ibu tak segan mengiyakan permintaannya Tante Rahma untuk menjaga Aay, buah hati satu-satunya.

Di keluarganya, Aay bagaikan permata. Dijaga mati-matian sebab sang ibu pernah sulit mendapat keturunan. Kemudian yang mahakuasa memberi hadiah kepada keluarga kecil Tante Rahma pada usia pernikahannya yang ke-3. Lahirlah seorang Mazaya, bidadari kecil yang kehadirannya menghangatkan hati siapapun yang melihat. Termasuk Damar—setidaknya sebelum gadis itu berumur tiga tahun.

Puas melihat Damar kesulitan mengejar Aay ke segala penjuru, Aghniya akhirnya mengetuk pintu. Gadis itu mengucap salam dengan suara agak keras, membuat Damar yang sedang berlutut dan Aay yang sedang cemberut itu menoleh ke arahnya. Aay yang tiba-tiba sumringah melihatnya, dan Damar yang tiba-tiba merebahkan diri di lantai dengan helaan napas lega membuat Aghniya tak bisa menahan tawanya.

“Kakaaaaakkk!!” seru Aay seraya berlari dengan langkahnya yang kecil. Kedua tangannya direntangkan sebisanya, bersiap memeluk Aghniya. Inisiatif, Aghniya balas merentangkan tangannya dan lekas membawa Aay ke dalam pelukannya sebelum akhirnya menggendong gadis cilik itu.

“Haaaaii!” balas Aghniya. “Aay udah mam?” tanyanya kemudian, basa-basi.

“Udah lah, lo kan tau gue dicolok garpu,” balas Damar keki, masih dalam posisinya menempelkan punggung kekarnya di lantai.

“Kakaak, Mash Damarnya nakal,” adu Aay. Memantik ketidakterimaan dalam dada Damar. Pria itu bahkan bangkit dari posisinya, “Kok jadi aku yang nakal? Emang aku ngapain?”

Aay menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Aghniya, kedua tangannya ia gunakan untuk memeluk leher jenjang sang 'kakak perempuan'. “Aay tadi dimasukin kardus sama Mas Damar tau, Kak! Katanya mau dibuang pake kapal laut biar Aay nggak di sini lagi,” ucapnya sedih.

Damar terkejut untuk sesaat, sekon berikutnya pemuda itu pun terkikik geli. “Abis tadi Aay juga nakal, tangan Mas Damar tadi diapain coba? Dicolok garpu kan? Terus Mas Damar dipukul pake mangkok Aay, nakal kan?”

Aay menoleh defensif, “Tadi kan gara-gara Mas Damar iseng! Mangkok Aay digeser-geser! Terus tadi nakut-nakutin Aay ada tikus ya Aay gebuk!”

“Ooh gituuu,” ucap Aghniya. Menyerobot kesempatan bagi Damar untuk kembali membalas. Aghniya bahkan mengisyaratkan Damar untuk berhenti melalui bola matanya yang membesar. Membuat Damar mau tak mau kembali merapatkan bibir.

“Iyaa, udah yaa? Jangan gitu lagi, oke? Maaf yaa, maafin Mas Damar ya?” ucap Aghniya lembut seraya mengusap punggung Aay yang masih erat memeluknya. Namun Aay menggeleng, menolak keras memaafkan Damar. Sepertinya gadis itu membaca kebencian yang dipancarkan Damar terhadapnya. Maka ia pun memilih untuk mengibarkan balik bendera perang bagi Damar.

“Ay, Mas Damar kan temennya Aay tauu. Kalo Mamanya Aay pergi kan Mas Damar yang jagain Aay. Iyakan?” tanya Aghniya lembut. Aay terdiam cukup lama, hingga akhirnya mengangguk meski ragu-ragu.

“Nah, iya. Berarti Mas Damar itu temennya Aay, loh! Nah, kalo sama temen, kita nggak boleh musuhan, Ay. Kalo temennya buat salah, bikin Aay kesel, bikin Aay sedih, dimaafin ya?” ucapnya lagi.

Damar semakin percaya Aghniya adalah seorang peri yang menyamar. Gadis itu dengan kata-katanya memang selalu ajaib. Bahkan anak kecil yang menurut Damar memiliki kadar brutal sangat tinggi bisa menurut bagaikan tersihir oleh kalimat yang dikeluarkan kekasihnya itu. Damar tersenyum dalam hati. Menikmati hangat yang menelusup diam-diam mengisi celah antar relungnya. Terlebih ketika Aghniya kini mendekat ke arahnya, turut berlutut di hadapannya dengan Aay yang masih berada dalam dekapannya.

“Tuh, Mas Damarnya mau minta maaf,” ucapnya. Kemudian dengan senyum tipis, Damar mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan tangan mungil milik Aay.

“Maaf ya, Aay,” ujar Damar. Sembari cemberut, Aay membalas jabatan tangan Damar. Kemudian ia mengangguk setelahnya.

Namun tak selesai sampai di situ, Aghniya rupanya masih memberi Aay pelajaran. “Tadi kan Mas Damar bilang katanya Aay ngapain ya? Nyolok Mas Damar pake garpu, mukul kepalanya Mas Damar, iya ya?”

Aay menatap Aghniya sesaat, netranya berubah berkaca-kaca. Sempat Damar menangkap raut wajah ketakutan menguar dari Aay, namun sirna setelah Aghniya menggeleng seraya tersenyum dan berucap seraya mengelus surai halus Aay. “Nggak apa-apa, ngerti kok kalo Aay marah. Nggak suka digangguin, dijailin. Tapi nggak boleh kayak tadi lagi ya? Nanti Mas Damarnya sakit gimana? Besok-besok, nanti-nanti, kalo Aay nggak suka digangguin Aay harus bilangnya baik-baik ya? Mas Damar pasti ngerti, kok. Okee?”

Aay yang masih mendongak menatap Aghniya itu kemudian mengangguk. Membuat Aghniya tergelak lantaran gemas. Sekon berikutnya, perempuan yang lebih dewasa itu menangkup wajah Aay. Masih dengan tutur kata yang lembut, berbeda dengan biasanya, Aghniya kembali bicara. “Berarti Aay harus minta maaf juga nggak ke Mas Damar? Kan tadi udah mukul sama nyolok garpu,” ucapnya.

Lagi-lagi Aay mengangguk. Aay kemudian menoleh ke arah Damar yang juga menatapnya dengan sebelah alis terangkat. Detik berikutnya, suaranya yang imut itu terdengar. “Maaf ya, Mas,” ucap Aay. Dijulurkannya tangan mungil itu kembali ke hadapan Damar.

“Iyaa, nggak apa-apa Aay.” Damar dengan senang hati menyambut uluran tangan Aay. Diterimanya pula permintaan maaf Aay dengan senyuman tertahan lantaran gemas yang masih gengsi untuk ia akui. Bagaimana tidak gemas? Berjabat tangan dengan Aay sama saja menggenggam seluruh kepalan tangannya. Membuat Damar tak punya pilihan selain harus menggigit jari agar tak menghabisi Aay dengan cubitan gemasnya.

“Ay,” panggil Damar. Gadis kecil yang kini sudah kembali memamerkan tawa riangnya sebab digelitik oleh Aghniya itu menoleh ke arahnya. “Jalan-jalan sama Mas Damar mau nggak?”

Aay terdiam. Bibirnya dimajukan, menjadi perwakilan sang empunya yang sedang berpikir menimang jawaban. Cukup lama, hingga gadis itu akhirnya merespon ucapan Damar.

Aay menggeleng keras, “Nggak mau, ah! Mas Damar kepalanya BAU!”

Tatapan yang kini nanar itu diarahkan pada seseorang yang selalu didambakan untuk berjumpa oleh empunya. Satria, pria itu kini menggantikan Azriel untuk menjaga Yasmine yang masih ingin 'beristirahat' lebih lama. Di luar, menunggu dengan gundah yang sama besarnya dengan miliknya, turut serta Wilona, Haikal, dan juga Elzan. Ketiganya pun ingin tahu kabar Yasmine, namun memprioritaskan Satria yang memang menaruh hati pada adik Azriel satu-satunya itu.

Pria dengan kemeja berlengan pendek hijau yang sengaja ia jadikan luaran atas kaus hitamnya itu meletakkan tangannya di tepi kasur sembari sesekali memundur-mundurkan kedua tangannya. Takut-takut akan menyentuh milik Yasmine yang terkulai lemas meskipun ia benar-benar ingin menggenggam tangan Yasmine. Akhirnya setelah perdebatan panjang dengan batinnya sendiri, Satria mendekatkan jemarinya pada buku jari telunjuk Yasmine. Hanya berani mengelusnya perlahan.

Sebelah tangannya kembali ia tarik untuk menopang dagunya sendiri, sementara punggungnya merosot bungkuk. Lemas seakan tanpa tulang, berbanding terbalik dengan Satria biasanya yang selalu berdiri tegak layaknya seorang pangeran yang ditatar untuk selalu memiliki postur tubuh yang baik.

“Yas,” panggilnya. Matanya mengikuti ke mana jarinya berada, memperhatikan gerakan jemarinya sendiri yang mengelus sendi-sendi jari jemari Yasmine. “Kangen,” sambungnya.

“Kekhawatiran gue sama Bang Jiel selama di sana, sama, Yas. Lo adalah alesan kami nggak betah di sana. Setiap hari gue ngeliatin Bang Jiel, dia—” Satria menggantung ucapannya. “Gue tau sorot matanya, pikirannya Bang Jiel selalu terpusat ke lo, Yas.”

“Gue juga..” lirihnya kemudian.

Sekon berikutnya ia mengulum senyum yang dipaksakan, menepis segala penyebab air matanya menerobos tiba-tiba. Ia berusaha menguatkan diri sebab benaknya mengingatkan, pasti Yasmine tak ingin dirinya bersedih. Narsis, tapi boleh juga usahanya untuk menguatkan diri.

Seperti orang yang memiliki perubahan suasana hati cepat, senyumnya seketika luntur. Berganti dengan ekspresi wajah meratapi dirinya sendiri. “Padahal gue udah susun banyak-banyak rencana buat ngajak lo jalan-jalan tau, Yas,” getir Satria.

“Gue dikasih tau cafe lucu sama Bang Adam, dulu dia sering ke sana sama mantannya. Jadi gue berencana ngajak lo ke sana juga. Terus, kita bisa naik MRT biar lo bisa merasa kita lagi menjalankan sebuah petualangan. Gue juga mau ngajak lo ke Kebun Raya Bogor biar lo bisa merasa kayak Alice in Wonderland yang lagi berkelana.” Satria tak henti-hentinya meracau. Kemudian entah segenap keberanian dari mana, ia menggenggam jemari Yasmine.

“Lo.. capek banget ya, Yas?” tanya Satria yang ia sendiri tahu tak akan mendapat jawaban. Pria itu mengembuskan napas, “Gue jadi mikir, selama ini gue minta lo bertahan. Gue berdoa supaya lo tetap sehat dan hidup. Jatohnya gue egois nggak ya, Yas? Padahal gue nggak pernah tau rasanya jadi lo, gue nggak ngerti gimana beratnya hari-hari lo, gue nggak pernah tau gimana usaha lo menjalani satu hari penuh. Tapi gue tetep asik aja minta sama Tuhan supaya lo nggak ninggalin gue. Jatohnya egois nggak ya, Yas?”

Lagi-lagi terdengar helaan napas dari Satria. Netranya kini beralih pada wajah tirus Yasmine, menatapnya tulus dengan binar berkilauan di bola matanya. Entah mewakili cintanya atau lelaki itu justru berkilat menahan tangis. “Yas,” panggilnya. Suaranya bahkan bergetar sekarang.

“Semua orang taunya gue bercanda. Mungkin satu dunia menganggap begitu..” lagi-lagi Satria menggantung ucapannya. “But i love you, i really do.”

Air matanya menetes ketika bibirnya berhasil meloloskan kalimatnya hingga selesai. Satria segera mengusapnya dan berusaha mengembalikan perasaannya pada keadaan netral agar tak menjadi pertanyaan teman-temannya yang menunggu di luar. “Gue.. pamit dulu ya, Yas. Nggak enak sama yang lain, mereka juga mau ketemu lo,” ucapnya. Seulas senyuman tipis dilayangkan kepada yang dicinta meski Yasmine tak membalas. Satria tidak keberatan, ia kemudian menggenggam pelan tangan Yasmine dengan sedikit meremasnya pelan. Sebagai terakhir kali sebelum ia benar-benar melenggang keluar ruang rawat yang terisi banyak alat untuk menyokong kesehatan Yasmine agar kembali pulih.

Satria menutup pintu sebelum akhirnya berbalik, berniat menghadap teman-temannya. Namun alih-alih Haikal, Elzan, dan Wilona, yang ia temukan justru adalah ayah Yasmine yang baru saja datang. Membuat wajahnya menampilkan ekspresi bingung dan terkejut yang seakan berbalapan.

“Eh, ada Satria,” sapa ayah. Mau tak mau Satria tersenyum dan menepis bingungnya jauh-jauh. Sebagai anak yang tahu sopan santun, Satria kemudian meraih tangan ayah untuk kemudian ia kecup sebagai tanda hormat. “Iya, Om. Baru dateng?”

Ayah mengangguk, setelahnya celingak-celinguk, “Kamu sendirian? Azriel mana?”

“Enggak, Om. Tadi sama temen-temen yang lain, mereka juga mau jenguk Yasmine. Cuma nggak tau nih, pada ke mana. Bang Azriel tadi pulang dulu, saya yang suruh. Soalnya kayaknya udah lesu banget, Om, biar istirahat dulu aja yang enak di rumah,” jelas Satria panjang lebar. Ayah hanya membalasnya dengan anggukan paham disertai senyuman puas. Mungkin sedikit berbahagia melihat ada seorang lain yang rela untuk bisa diandalkan.

“Terima kasih banyak ya, Satria,” ucap ayah.

Satria mengibaskan tangannya di depan wajah, mengisyaratkan apa yang ia lakukan bukanlah apa-apa. Toh, ia juga bukan sehabis menyelamatkan dunia. “Nggak perlu makasih, Om. Gimanapun juga saya, sama Yasmine, sama Bang Jiel berteman cukup baik. Jadi selama saya bisa bantu, saya pasti bantu,” pungkasnya.

Tak ada jawaban dari ayah, membuat Satria berinisiatif membukakan pintu. Menawarkan pria paruh baya di hadapannya menengok sang anak. “Om mau masuk?”

Ayah mengangguk cepat, lupa akan niatnya. “Iya, Om masuk dulu ya?”

“Iya, iya, Om. Silakan,” ujar Satria. Kemudian ia membukakan jalan untuk ayah dengan menyingkir dari hadapan pintu. Setelah dengan decakan penuh sebal ia menyusuri koridor rumah sakit dengan langkahnya yang menggebu-gebu. Kesal sebab teman-temannya benar-benar meninggalkannya tanpa kabar.


“Yas? Adek?”

Ayah bergumam seraya mengerjapkan bola matanya tak percaya. Melihat putrinya menatap balik ke arahnya. Namun seseorang di seberangnya, Yasmine, jauh lebih terkejut mendapati sang ayah memasuki ruangan. Kemudian apa tadi? Apakah telinganya berfungsi dengan baik? Ayahnya memanggilnya apa tadi?

“Adek?” ulang Yasmine lirih. Alih-alih memberi jawaban, ayah justru mempercepat langkahnya menghampiri Yasmine. Meraih kedua bahunya, ayah menatapnya penuh binar. Tatapan yang tak pernah sampai pada Yasmine selama ini. Seakan tak berhenti membuat Yasmine merasa seperti sedang bermimpi, ayah turut membelai halus surai hitamnya yang terasa lengket sebab entah berapa hari tak ia cuci.

Yasmine hanya terdiam kaku, menatap sang ayah dengan matanya yang berkaca-kaca. Namun tangisnya masih tertahan dengan baik, mungkin terhalang benaknya yang masih berusaha mencerna semuanya dengan baik. Apakah sekarang ia terbangun dan memasuki sebuah realitas dunia yang lain di mana dirinya adalah anak kesayangan ayah?

Arah pandang Yasmine mengikuti ayah yang kini menarik kursi mendekat ke arah tempat tidurnya. Menimbulkan bunyi decitan yang mengilukan telinga sebab gesekan kursi besi dengan lantai. Yasmine yang kini bersandar dengan bantal yang sempat ia tinggikan dengan segenap usaha dan tenaganya yang belum sepenuhnya pulih itu kini berhadapan dengan lelaki yang selama ini ia kenali sebagai ayahnya.

Ayah berdeham ketika sudah duduk dengan nyaman. Sesaat sesudahnya ekspresi ayah berubah. Menampakkan jelas sorot matanya yang meredup, kilatan bahagia yang tadinya terpancar kini tersingkir. Tergantikan dengan pancaran kecewa, sedih, marah—hancur.

“Adek—pipinya masih sakit?” tanya ayah.

Yasmine nyaris bergidik merasakan canggungnya berbicara dengan ayah yang kini mengeluarkan tutur lembut. Tak ada hardikan, tak ada sorot mata yang seakan menyambarkan petir pada sekujur tubuh Yasmine, tak ada tangan yang senantiasa melayang di udara bersiap untuk menamparnya habis-habisan karena masalah kecil sekalipun. Namun Yasmine hanya menggeleng kecil. Membuat Ayah sudut bibir ayah tertarik perlahan seiring sang empunya mengangguk kaku.

Telunjuk ayah diarahkan pada sudut bibirnya sendiri. Membuat Yasmine menelisik lebih dalam, ada area kebiruan khas orang yang sehabis ditinju preman. Luka lebam dari mana itu?

Jawabannya segera ia temukan ketika sang ayah kemudian tertawa seraya mengelus wajahnya yang terluka. “Tamparan Ayah ke Adek waktu itu udah dibales Mas Jiel, tenang aja,” ucap ayah. Masih dengan setia memamerkan senyum yang tak pernah menjadi hadiah bagi Yasmine sejak kecil.

“Ayah minta maaf, Adek.”

Senyum ayah sirna. Entah berapa banyak topeng yang ayah kenakan hari ini, Yasmine menerka-nerka sendiri mengingat betapa cepat perubahan ekspresi ayah di hadapannya saat ini. Ayah seperti mesin undian tiket yang biasa ia mainkan dengan Azriel. Yang ketika dijalankan akan memutar acak berapa banyak tiket yang akan mereka dapatkan. Bedanya, ayah adalah mesin undian ekspresi yang ketika dijalankan akan memutar acak ekspresi apa yang akan ditampilkan pada sekon selanjutnya.

“Ayah minta maaf,” ulangnya. Seakan ingin membuktikan pada siapapun yang melihat bahwa ayah benar-benar tulus mengucapkannya. Terutama pada Yasmine yang kini masih terpaku dan enggan membuka suaranya.

“Banyak waktu yang terbuang, Ayah nggak bisa beli lagi dengan harga tawaran setinggi apapun. Ayah akan sangat mengerti kalo Adek marah, atau gantian benci Ayah,” tukas ayah. Kini Yasmine tak punya pilihan untuk mendengarkan dengan baik dan tidak memotong. Sebagaimana pesan bunda yang selalu berkumandang di telinganya sejak kecil. “Ayah benar-benar minta maaf, Yasmine. Mewakili semua orang di keluarga Ayah yang selalu menganggap Yasmine nggak ada di dunia ini, yang selalu menganggap Yasmine jauh di bawah dan pantas diinjak. Eyang Putri, semua adik-adik Ayah beserta suami atau isterinya. Semua. Ayah minta maaf atas nama diri Ayah sendiri dan mereka semua, keluarga besar Ayah,” lanjut ayah.

“Maaf dari kecil Ayah selalu mengalihkan pandangan Ayah dari Adek dan cuma fokus sama Mas Jiel.” Terlihat raut wajah yang memancarkan ragu untuk menyambung kalimatnya sendiri.

“Bukan karena Adek nggak bersinar, justru karena Adek adalah anak Ayah yang paling bersinar. Sinar Adek selalu paling terang, tapi kebencian dan dendam Ayah yang terlalu ganas—gelap, sampai-sampai sinar Adek selalu tertolak sama Ayah,” pungkas ayah kemudian.

Yasmine masih diam. Namun tak bisa ditampik bahwa hatinya yang sudah hancur berkeping-keping itu terasa seperti kembali pulih. Seakan digantikan dengan yang paling baru. Bahkan lebih kokoh dari sebelumnya.

“Ayah sudah bicara dengan keluarga besar yang lain. Bahwa ini waktunya perubahan. Kita nggak bisa terus-terusan menghidupkan tradisi keluarga yang mencelakakan anggotanya sendiri. Bukan cuma Adek, tapi semua. Ya—tapi jelas Adek yang paling menderita. Ayah minta maaf karena Adek harus ngalamin semua ini karena pemikiran keluarga Ayah yang—bodoh,” ujar ayah. Sudut bibir Yasmine berkedut melihat ayah yang kini menunduk. Jelas terlihat bahwa ayah merasa bersalah hingga menusuk relungnya sendiri. Yasmine membatin, ia paham rasanya.

Yasmine tebak, saat ini mungkin terputar di dalam benak ayah suara-suaranya sendiri yang menggema di kepala. Selayaknya kaset rusak yang terus memutar pertanyaan yang semakin menenggelamkan dirinya ke dasar penjara paling gelap dalam dirinya sendiri. Terkurung dengan kekecewaan terhadap diri sendiri. Dikutuk oleh rasa bersalah teramat dalam. Ayah macam apa dirinya? Pantaskah ia disebut sebagai seorang ayah?

Bagaimana bisa seorang pemimpin dalam keluarga membiarkan salah satu anggotanya tertinggal sangat jauh hingga tak pernah merasakan rangkulan hangat bernama keluarga?

Tidak becus! Harusnya Yasmine memiliki ayah yang lebih baik!

“Yayas anak Ayah. Dari dulu begitu. Kalau Yayas mau tau, Ayah yang kasih nama Yasmine dulu. Ayah siapkan dari jauh-jauh hari, siap menyambut Yasmine dan Yazid datang ke bumi. Ayah dulu senang bukan kepalang, begitu juga Eyang Putri dan Eyang Kakung. Tapi itulah manusia, terlalu senang berharap terlalu tinggi sampai lupa kalau tetap Tuhan yang punya kuasa. Akhirnya luput dari rasa syukur dan menikmati kekecewaan yang mendalam, sampai nyaman dengan dendam dan kebencian akan takdir yang sudah ditulis dengan sangat baik oleh yang mahakuasa,” tukas ayah.

“Yasmine Arthawidya Cantika, putri Ayah satu-satunya. Mulai sekarang Yasmine nggak boleh menghindar. Ini!” ucap ayah menyodorkan sebelah telapak tangannya yang ia buka lebar-lebar di hadapan Yasmine. “Ini, gandeng tangan Ayah kalau Yasmine takut nggak diterima. Karena, Dek, sekarang kalau mereka nggak mau nerima kamu, kita akan pulang sama-sama. Kalau mereka masih mau bertahan pada adat kolotnya, kita pulang sama-sama. Adek nggak perlu lari lagi sendirian. Tapi kita pulang sebagai anggota keluarga yang sama-sama nggak diterima.”

“Yasmine anak Ayah, sama kayak Mas Jiel. Ayah bangga sama Adek, Ayah nggak benci sama Adek. Ayah—sayang sama Adek. Sama besarnya dengan cinta yang selama ini dihujankan di atas kepala Mas Jiel. Sama.” Menyingkirkan semua pertahanan kokohnya, ayah membiarkan dirinya runtuh di hadapan sang putri. Air matanya luruh membasahi pipi, beserta isakan pilu. Membuat Yasmine mau tak mau ikut kehilangan pertahanan. Wajah datar yang sedari tadi ia pajang kuat-kuat akhirnya lengser juga dari hadapan ayah. Yasmine turut menangis. Ucapan ayah membuatnya kalah telak.

“Ayah,” panggilnya. Yasmine menggeleng pelan, “Yayas nggak akan benci Ayah. Karena akan lebih banyak waktu yang harus Ayah bayar nantinya. Cukup hari ini Ayah melihat ke arah Yayas, menganggap Yayas juga bagian dari anggota keluarga Ayah, anak Ayah. Itu—udah lebih dari cukup untuk membayar semuanya. Terima kasih, Ayah. Yayas lega sekarang.”

Andai Yasmine tahu, bahwa sang ayah jauh lebih merasa lega. Seakan sesuatu yang membuat paru-parunya terasa sempit sejak beberapa hari lalu hilang seketika. Seakan seluruh beban di dunia ini lenyap tak bersisa. Bahagia bukan kepalang, ayah menarik Yasmine ke dalam dekapan pertamanya setelah bertahun-tahun. Dekapan hangat yang selama ini selalu menjadi angan bagi putri satu-satunya di rumah. Setelah belasan tahun hidup di dunia, hari ini akhirnya Yasmine merasakan bersandar di dada paling hangat di dunia. Hanya dalam hitungan sekon, pelukan ayah menjadi tempat paling nyaman dalam hidup Yasmine. Mengalahkan Azriel dan bunda.

Bukan lagi Azriel, bukan lagi Eyang Kakung, apa lagi Satria. Hari itu Yasmine tidak peduli catatan waktu, ayah otomatis menjadi cinta pertamanya meskipun terlambat bertahun-tahun.

Yasmine anak Ayah, sama kayak Mas Jiel. Ayah bangga sama Adek, Ayah nggak benci sama Adek. Ayah—sayang sama Adek. Sama besarnya dengan cinta yang selama ini dihujankan di atas kepala Mas Jiel. Sama.

Kalimat itu terus menggema di kepalanya. Yasmine tersenyum disela tangisannya mendengar kalimat yang ia selalu nantikan. Mendengar kalimat yang selama ini terasa seperti legenda yang rasanya bahkan tidak memiliki kemungkinan untuk terwujud. Kalimat itu terus menggema di kepalanya, dan tentu Yasmine akan selalu membiarkannya begitu. Yasmine akan membiarkan kalimat itu terus menggema di kepala, memantul pada setiap bagian tulang oksipital. Mendekam selamanya di sana, bahwa hari ini ketika kedua matanya kembali terbuka, mata ayah pun terbuka sama lebarnya.

Yasmine kasat mata. Ayah akhirnya melihat ke arahnya. Terbuka. Mata ayah sudah terbuka. Semoga selamanya begitu.

Sebuah lekukan simpul terpatri di wajahnya ketika dua netranya menangkap ransel yang ia kenali lantaran sering menyelundupkan snack cokelat ke dalamnya setiap pagi. Sengaja, Haris kemudian meletakkan miliknya di sebelah ransel yang tersandar di kursi panjang tempat semua anggota basket mengumpulkan ranselnya.

Hari ini adalah hari pertama ia kembali mengikuti kegiatan ekskul setelah sekian lama. Penyebab wajahnya berseri semenjak bel sekolah berbunyi, sebab akhirnya ia bisa bercengkerama kembali dengan yang didamba.

Sesaat kemudian ia memasukkan seragamnya yang sudah berganti dengan kostum basket ke dalam tas. Posenya yang membelakangi lapangan membuat seseorang dengan mudah menyerangnya dari belakang.

“ANJING, DINGIN BANGSAT!” umpat Haris seraya bereaksi cepat menangkap pelaku yang menempelkan es batu tepat di tengkuknya. Matanya menangkap Ojan dan Dhimas yang asyik tertawa dengan tampang watados-nya. “Abis ibadah udah mengumpat lagi aja lo, Ris, Ris. Banyak-banyak minta ampun sama yang Mahakuasa,” balas Ojan.

“Jorok lu! Es batu bekas emut nggak tuh?” omel Haris.

“Iya bekas emut Ojan, katanya biar lo nurut sama dia jadi ditempelin,” sahut Dhimas.

Haris membelalak, “DEMI?”

“Kagak lah, anjrit! Es batu bekas es teh tapi,” balas Ojan. Setelahnya Haris hanya berdecak sebal seraya melepas sepatunya. Melihat itu, Ojan segera mencegah aksi Haris.

“Eh lu ganti baju nggak ngajak-ngajak gue, Ris! Nggak setia kawan lo!” tuduh Ojan. “Males ngajak lo, ngeri diintipin,” jawabnya dengan wajah yang masih jelas tersinggung akibat ulah jahil Ojan dan Dhimas beberapa sekon yang lalu.

“Iihh sembarangan! Yey kira kita cowok apaan?” sengit Ojan dengan nada dan gestur yang dibuat gemulai. Membuat gelak tawa di sekitarnya menguar.

“Ya udah, lah! Gue ganti baju dulu. Titip tas gue, Ris. Ada pusaka emak gue tuh,” ujar Ojan.

“Apaan pusaka emak lo?” tanya Dhimas penasaran.

Bukan Jauzan Narendra jika tak ada jawaban nyeleneh yang keluar dari mulutnya barang sekali. Mengingat kata Damar, dunia justru baik-baik saja jika Ojan tetap pada jalurnya yang selalu nyeleneh.

Pria berbahu lebar itu terkekeh sebelum menjawab, “Tupperware.”

Tawa Dhimas dan Haris kembali menyembur. “SI BANGSATTTTTTT! GUE KIRA APAAN!” balas Dhimas.

Ojan berdecak seraya mengerucutkan bibir, manyun. “Ck! Lo nggak tau sih, Dhim. Ini nyawa terakhir gue nih,” balas Ojan seraya menunjukkan botol minum miliknya. “Gue udah ngilangin lima tau, kata emak gue kalo ini ilang gue bakal dicoret dari kartu keluarga.”

Helaan napas terdengar dari Ojan, “Dah lah, cukup mendengarkan kisah sedih keluarga gue. Gue mau ganti baju dulu.”

“Kita justru bahagia sih kalo lo dicoret dari kartu keluarga lo,” canda Haris. “Seluruh dunia berbahagia pasti,” timpal Dhimas.

“SSSSSSSSAITONIROJIM NI EMANG MAKHLUK DUA!”


Seperginya Ojan untuk berganti baju, Dhimas pamit untuk pulang sebab ia tak ada kegiatan. Menyisakan Haris yang kini duduk sendirian seraya memainkan ponselnya. Menggulirkan layar ke atas, berselancar dengan gawai memandangi timeline aplikasi burung biru guna membunuh waktu. Sesekali ia terkikik geli lantaran menemukan video-video lucu yang seliweran di beranda akun miliknya.

“Ya Allah dongo banget,” ujarnya bermonolog, mengomentari video seorang anak kecil yang kepalanya tersangkut di pipa. Haris masih terkikik geli hingga tak menyadari seseorang sudah mengisi tempat di sebelahnya.

“Kakak, permisi..”

Haris sontak menoleh. Sesaat ia terdiam ketika netranya menangkap seorang yang sedari tadi ia tunggu. Sekon berikutnya ia mengerjapkan mata, kemudian menggeser tubuhnya agar gadis itu dapat meraih ranselnya yang sempat terhalang tubuh tegapnya. “Oh, iya iya silakan,” balas Haris.

“Kok belom ganti baju?” tanya Haris lagi. Tepat setelah itu, Gia yang masih berseragam lengkap itu kemudian mengeluarkan kaus dan celana basketnya dari dalam tas. “Ini mau ganti baju, tadi abis kerja kelompok dulu bikin video,” balasnya.

“Ohh gitu. Video apa?”

“Ngejelasin bentuk-bentuk bakteri gitu, tapi dibentuk beneran pake lilin,” balas Gia. “Seru deh, Kak main main lilin.”

“Iya iya, ganti baju dulu nanti keburu mulai,” balas Haris seraya terkekeh. “Nanti kita ngobrol lagi,” sambungnya. Sementara yang diajak bicara hanya menyunggingkan senyum sebelum akhirnya pergi untuk berganti pakaian.

Selang delapan menit, Gia kembali dengan setelan kaus dan celana basket. Wajahnya terlihat lebih segar, sepertinya gadis itu memang sengaja mencuci muka untuk menghilangkan raut lesu sehabis belajar selama enam jam lebih. Sementara kedua tangannya melakukan skill multitasking ala wanita yang dapat memegang beberapa barang hanya dengan dua tangan. Tangannya penuh dengan setelan seragam, dasi, ikat pinggang, serta sabun cuci muka. Belum lagi, dari kejauhan Haris melihat seorang teman Gia mengembalikan buku catatannya yang tertinggal saat kerja kelompok tadi. Namun gadis itu tetap menghampirinya dengan gelagat santai, menepis semua dugaan Haris yang menyatakan bahwa Gia kerepotan.

“Masih belom mulai, Kak?” tanya Gia. Kemudian mulai melipat seragamnya dengan rapi sebelum memasukkannya ke dalam tas bersama dengan perlengkapannya yang lain.

Haris menggeleng, “Belom, Kak Vio juga belom ada dari tadi.”

Gia hanya ber-oh-ria menanggapi Haris. Setelahnya ia mengambil tempat tepat di sebelah Haris dan mulai memakai sepatunya dengan benar. Selesai dengan sepatunya, Gia mematung sesaat kala mendapati Haris menyodorkan sebungkus biskuit cokelat di hadapannya.

Sebelah alis Gia terangkat, namun perkataan Haris membuatnya langsung paham maksud pemuda itu. “Kan tadi pagi belum,” ucap Haris membuat Gia lantas menerima pemberiannya dengan sukacita.

“Makasih loh, Kak,” ucap Gia riang. “Sama-sama,” balas Haris. “Tapi mejret, Gi. Lupa tadi tasnya dipake tidur sama Ojan.

Gadis dengan rambut hitam panjang yang terkuncir rapi itu kemudian memperhatikan beng-beng di tangannya dengan seksama. Memang tidak terlihat seperti bentuk yang seharusnya. Biskuit cokelat berbungkus merah yang diberikan Haris itu terlihat gepeng pada beberapa sisi. Namun Gia tak mempermasalahkan, gadis itu justru tertawa tatkala menyadari bentuk beng-beng yang gepeng. “Ahahaha iya, nggak apa-apa. Nanti dimakan juga sama aja ancur,” balas Gia.

Haris tersenyum menanggapi. “Tadi kerja kelompok sama siapa? Zahra?” tanyanya. Berusaha tetap menciptakan obrolan di antara keduanya. Sudah lama tak bertemu, lama tak memiliki momen bersama, membuat Haris tak ingin membuang kesempatan sia-sia. Bahkan kalau bisa, Haris akan menahan setiap jam, menit, dan detik agar berhenti bergulir supaya dirinya bisa bertahan lebih lama dengan Gia.

“Iya sama Zahra. Sama ada satu lagi namanya Wili,” balas Gia. Tanpa Haris sadari bahkan gadis itu sudah memakan beng-beng pemberiannya sembari menatap kosong ke lapangan.

“Curiga nggak, Kak, kalo Wili sama Jara tuh jodoh?” celetuk Gia. Haris mengerutkan dahi, “Kenapa emang?”

“Mereka sering banget tau satu kelompok. Ya, absennya emang deketan sih. Tapi kalo diacak nih, disuruh ngitung gitu misalnya. TETEP AJA MEREKA SATU KELOMPOK,” balas Gia lagi. Kali ini ceritanya lebih menggebu-gebu. Membuat sudut bibir Haris berkedut, mati-matian harus menahan gemas dalam diam.

“Kebetulan aja kali,” balas Haris.

“Lah, masa kebetulan berkali-kali sih, Kak? Kata saya mereka beneran jodoh,” balas Gia sengit. Kukuh dengan pendiriannya.

“Lah, kita juga sering ketemu di situasi yang sama. Kamu nggak curiga kita beneran jodoh juga?” balas Haris.

Telak. Ini kekalahan telak bagi Gia. Selain berhasil salah tingkah akibat detak jantungnya yang tiba-tiba meledak mendengar balasan Haris, Gia pun tak punya argumen lagi untuk membalas perkataan Haris. Gia lupa bahwa yang diajak bicara adalah salah satu anggota OSIS yang paling sering diandalkan sang ketua. Pasti pemikirannya jauh lebih kritis dibandingkan dirinya.

Kunyahannya berhenti, Gia mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Menghindari tatapan Haris yang tak luput darinya. Beruntung, selagi memikirkan strategi melarikan diri, pluit tanda kumpul bagi para anggota basket berbunyi. Gia kemudian memanfaatkan kesempatan itu untuk segera kabur. Buru-buru gadis itu membuang bungkusan beng-beng yang sudah tak berisi dan segera berlari ke lapangan. Meninggalkan Haris yang masih setia di tempatnya, memandangi Gia dari kejauhan dengan sebuah senyuman tertahan. Setelahnya ia terkekeh gemas dan akhirnya bangkit untuk bergabung dengan rekan ekskulnya yang lain.


“Gue abisin ya, Ris?”

“Iya abisin aja,” balas Haris dengan napas terengah-engah. Mengizinkan temannya untuk menghabiskan minumnya sebab ia tahu mereka sama lelahnya. Haris baru saja selesai bermain, pemuda itu berhasil menyelesaikan dua babak dengan membawa kemenangan bagi timnya.

Haris memilih untuk meluruskan kakinya di pinggir lapangan seraya mengipasi tubuhnya yang dicucuri keringat. Wajahnya bahkan sudah semerah kepiting rebus lantaran kelelahan. Kali ini adalah giliran Ojan bermain. Vio sebagai ketua ekskul memang sengaja memisahkan Haris dan Ojan yang memang sudah terlalu sering bersama. Agar keduanya beradaptasi dengan anggota yang lain, katanya.

Sebagai teman yang baik, Haris menyoraki Ojan ketika temannya itu memasuki lapangan. Kemudian mengacungkan dua jempol yang mengarah ke bawah sebagai tanda dukungannya. “Cupuuuu, cupuuuu!” ejek Haris, tertuju pada Ojan.

“CELANA LU KEBALIK EGEEE! ITU JAITANNYA DI LUAR GUOBLOK BANGET!” teriak Haris dari pinggir lapangan. Ojan tak menjawab, sebagai gantinya ia meletakkan tangannya di dekat telinga. Mengisyaratkan Haris agar mengulang perkataannya. “CELANA LU KEBALIK!”

Ojan menunduk untuk memeriksa kebenarannya, benar saja. Celananya memang terbalik dengan jahitan yang nampak jelas di luar. Namun, pertandingan akan segera dimulai. Artinya ia tak akan punya waktu untuk membenarkan celananya.

“DAH LAH RIS INI EMANG FASHION!” balas Ojan berteriak dari dalam lapangan seraya berkacak pinggang. Cuek dengan situasi celana terbalik yang ia alami. Toh, ia pun pernah mengalami yang lebih parah, alias ketika celana seragamnya harus robek sangat lebar hingga menampakkan seluruh bagian pahanya akibat main kuda reot. Setelahnya keduanya hanya terkekeh dengan Haris yang turut menggelengkan kepalanya. Walaupun sudah biasa, tetap saja tak habis pikir dengan kelakuan temannya.

Setelah sibuk menertawakan Ojan dengan segala tingkahnya di tengah lapangan, Haris kembali menyadari seseorang berjalan di dekat ring dengan langkah santai. Matanya membelalak sesaat, “Anggia kenapa sih suka banget lewat-lewat di pinggir lapangan kalo ada yang main basket? Kalo kegebok pingsan, Gi!”

Sementara yang diajak bicara hanya cengegesan, “Kan lagi ke sanaaa orang-orangnya, Kak!”

“Ya tetep aja!” balas Haris lagi. “Dari mana sih?”

“Beli mimi,” balas Gia seraya mengangkat botol plastik yang baru saja ia beli dari pedagang di depan sekolah.

“Kakak udah main?” tanya Gia lagi. Gadis itu kemudian mendudukkan diri di tempat kosong sebelah Haris.

“Udah, baru kelar. Kamu tadi duluan ya mainnya?”

“Iya, pertama banget tadi main,” jawab Gia seraya menyugar anak rambutnya yang berjatuhan membingkai wajahnya. Masih tersisa semburat merah pada kedua pipi marshmellow-nya sebagai sisa-sisa lelahnya, menambah kesan manis dari seorang Anggia Kalila Maheswari. Haris terpaku sesaat, seakan-akan otaknya mendapat serangan tanpa peringatan. Benaknya kini sibuk menampar dirinya sendiri agar tidak tertangkap basah oleh orang lain karena memandangi wajah Gia yang menurutnya tanpa cela.

Segala puji bagi Tuhan yang mahabaik. Mungkin sudah terlalu banyak manusia di muka bumi hingga sang pemilik bumi kemudian mengirimkan satu dari sekian banyak bidadari-Nya hingga Haris dapat menemukan salah satunya dengan mudah di depan mata.

“Kakak kok mainnya nggak bareng sama Kak Ojan? Tumben?” Gia kembali bersuara.

“Iya, dipisah sama Kak Vio. Udah keseringan bareng katanya.”

“Oohh. Tapi kalo Kak Ojan yang main rame banget ya, Kak kayaknya?”

Haris terkekeh sesaat sebelum akhirnya mengangguk menjawab pertanyaan Gia. “Dari dulu. Dari SMP setiap dia nongol di lapangan pasti selalu rame. Soalnya emang aneh aja orangnya, urat malunya udah putus juga sih,” sahut Haris.

“Oh, Kakak satu SMP sama Kak Ojan?” Gia bertanya dengan nada terkejut yang alami.

“Iya, mana sekelas mulu dari kelas tujuh. Rame banget udah,” balas Haris lagi.

“Bosen nggak, Kak temenan udah lama gitu?”

“Ini kamu wawancarain saya?” canda Haris. Gia tergelak, “Iya ini lagi siaran langsung, cepet jawab, Kak! Ditungguin pemirsa di rumah.”

Gadis itu kemudian mengangkat sikunya seakan-akan siku kanannya adalah sebuah kamera yang merekam jawaban wawancara Haris. Pria di hadapannya itu tertawa hingga memamerkan deretan giginya yang rapi. Sekon berikutnya kemudian ia menjawab, “Bosen sih enggak, cuma hampir gila aja. Bayangin malem-malem lagi santai di rumah, tiba-tiba Ojan minta tolong karena nyangsang di genteng rumahnya sendiri.”

“Nyangsang gimana, Kakk?”

“Dia suka nongkrong di genteng emang, tapi bapaknya suka bawa masuk tangganya diem-diem. Jadi dia nggak bisa turun,” jawab Haris.

Seakan menular, kini tawa Haris berpindah pada Gia. “Dari dulu, orang-orang sebenernya nggak ada yang mau temenan sama Ojan karena dia emang nggak jelas. Padahal sebenernya rugi banget kalo nggak kenal dia,” Haris berujar lagi.

Hening, Gia pun tak membalas lagi ucapan Haris. Ada sebagian hatinya yang tersentuh melihat seseorang yang begitu tulus membicarakan perihal seorang teman dengan mata berbinar. Membuat senyuman tipis terbentuk di sudut bibirnya tanpa ia sadari.

Setelahnya keduanya tak banyak bicara. Melainkan sama-sama sibuk menonton dan menyoraki Ojan di lapangan. Mendukung selebrasinya setiap kali timnya berhasil mencetak gol meskipun bukan merupakan hasil kontribusinya. Kata Ojan, Kalo bintang betulannya nggak mau bersinar, biar gue yang ambil alih.

“Lawak banget emang ni orang. Yang susah-susah ngegolin siapa yang selebrasi dia mulu,” ucap Haris seraya terkekeh. Pelan, namun rupanya cukup keras untuk sampai ke telinga Gia yang masih tak beranjak duduk di sebelahnya.

Gadis itu sontak menoleh dan menimpali, “IYA IHH MANA NYEBELIN BANGET SELEBRASINYA LAGI!”

Selepas itu, keduanya tak lagi bicara. Melainkan sama-sama fokus menonton pertandingan tim Ojan yang semakin sengit. Kali ini, Gia lebih banyak bicara. Gadis itu sudah seperti komentator pertandingan olahraga dengan jam terbang tinggi hingga selalu memiliki reaksi untuk setiap kejadian di lapangan.

“Ih curanggg! Masa dihalangin gitu emang boleh, Kak?”

“EH—ihhh kenapa sih mainnya emosi banget!?”

“Ih keren!”

“KAK OJAN KAMU KEREN BANGET AKU NGEFANS!!”

“Kak Vio jago banget deh..”

“Ih kenapa dia jatoh sendiri gitu? Aneh!”

Di sebelahnya, Haris terus memandangi Gia diam-diam. Menelisik setiap inci wajah gadis itu dari arah samping, sesekali sudut bibirnya berkedut ketika menangkap ekspresi Gia yang berubah-ubah seiring gadis itu mengomentari pertandingan.

Tiba-tiba Haris teringat dengan percakapannya bersama Dhimas kemarin. Perihal perasaan yang harus ia nyatakan entah kapan. Membuat Haris kembali bergelut dengan benaknya sendiri. Membiarkan isi pikirannya bertarung melawan satu sama lain, membiarkan kalimat paling natural—sebagaimana yang direncanakan—untuk pada akhirnya keluar jadi pemenang dan diucapkan bibirnya untuk mewakili perasaannya.

Suara Dhimas seakan menggema di kepalanya. Wejangan-wejangan Dhimas yang mengatakan untuk tidak menyatakan perasaannya secara dadakan dan mengagetkan itu seakan rekaman yang diputar berulang-ulang dalam indra pendengaran Haris.

Manusia berencana, tetapi tetap Tuhan yang menentukan hasil akhirnya. Dan hari ini, Tuhan menyatakan bahwa rencana yang sudah Haris susun bersama Dhimas, gagal total.

Fokus Haris terpecah begitu saja seiring Gia membiarkan tawanya memecah. Menampilkan raut wajah paling cantik yang berhasil membuat hatinya terpaut setelah sekian lama berdebu. Helaian-helaian rambut yang berjatuhan membingkai wajah, suara tawa renyah yang entah bagaimana caranya membuat hatinya menghangat, hingga netra teduh yang kini menyipit seindah bulan sabit, membuat jantung seorang Haris berdegup kencang. Suaranya bahkan tak hanya memenuhi relungnya, namun juga sampai pada kedua telinganya sendiri.

Membuat Haris rasanya ingin menyatakan pada dunia bahwa—

“Saya suka sama kamu, Anggia.”

Karena terlalu banyak bercanda, akhirnya Ojan harus mengalah pada banyak orang yang pada akhirnya menyerobot antrean wudunya untuk salat Zuhur saat istirahat kedua di sekolah. Bagaimana tidak? Alih-alih buru-buru mengambil wudu, Ojan malah sibuk menertawakan celananya yang tak kunjung tergulung lantaran terlalu longgar di bagian betis. Asal digulung, turun lagi. Digulung lagi, turun lagi. Kalau digulung lagi? Ya turun lagi. Membuatnya tak ayal menyemburkan tawa hingga susah berhenti.

Ojan akhirnya melipir dari antrean. Toh, ia pun sudah menerima banyak protes dari banyak massa di belakangnya. Toh, kalaupun ia teruskan mengambil wudu dan melaksanakan ibadah, pasti tak akan khusyu karena salatnya akan batal bahkan saat niatnya belum selesai dibaca. Namun bukan Ojan namanya jika kalah dengan keadaan. Masa cuma gara-gara celana terlalu longgar untuk digulung, dia menyerah begitu saja? Tentu tidak. Tidak akan.

Meninggalkan teman-temannya yang lanjut berwudu, Ojan menyelinap ke kantin. Setelahnya ia kembali dengan kedua sisi celana yang sudah tergulung—pada akhirnya. Ojan lantas memamerkan keberhasilannya pada Haris, Damar, dan Dhimas yang baru saja selesai wudu—hendak memasuki masjid untuk ikut salat berjamaah.

Guys, liat dong! Akhirnya celana gue bisa digulung!”

Ketiganya menoleh pada sumber suara. Tone suara dan intonasinya yang familiar membuat mereka tak perlu lagi menebak milik siapa suara itu. Keheningan serta raut-raut wajah bingung mendominasi selama sepersekian detik. Dan ketika sekon berganti, ketiganya tergelak bersamaan. Penyebabnya, tak lain adalah celana panjang Ojan yang kini sudah tergulung—lebih tepatnya dipaksa diangkat sebatas betis dan kemudian diikat pinggirannya oleh karet gelang merah yang termasyhur di kalangan penikmat nasi bungkus. Membuat dua buah kunciran model ekor kuda kecil kini menghiasi sisi kanan dan kiri kakinya. Kemudian dengan bangga Ojan berjalan seakan-akan dirinya adalah model yang membelah runway dengan pesonanya.

“Weh itu bulu kaki lu meronta-ronta minta dibebaskan!” ujar Dhimas seraya tertawa. Menunjuk bulu-bulu kaki Ojan yang terhimpit oleh celananya yang 'dikuncir'. Sementara yang diajak bicara hanya tertawa seraya dengan bangga tetap berkacak pinggang, memamerkan hasil karyanya yang revolusioner.

“Udah sana wudu, abis itu salat buruan. Nanti keburu bel! Jangan bercanda lagi ya!” titah Damar pada akhirnya. Kemudian mengajak Haris dan Dhimas untuk buru-buru masuk karena tanda mulai salat sudah dikumandangkan.

Haris membanting pelan sepatunya di depan koridor masjid. Menarik sedikit celananya, Haris kemudian duduk di atas lantai masjid yang digadang-gadang terasa sesejuk ketika melihat wajahnya yang masih basah terbasuh air wudu. Pemuda itu tak langsung memakai sepatunya, melainkan ia memilih untuk mengecek ponselnya sementara sembari menunggu Damar dan Dhimas yang belum selesai. Tiba-tiba, seseorang duduk di sebelahnya. Membuat Haris menoleh sepintas.

Rupanya Alwan, pria berbadan tambun yang tingginya nyaris setara dengan Haris itu menunduk hormat kepada sang kakak kelas sebelum memakai sepatunya. Melihat itu, Haris pun membalas sapaan Alwan dan memilih untuk memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.

“Sendirian, Kak?” tanya Alwan. Haris tahu itu hanya basa-basi, namun mengingat ia memiliki suatu hal yang harus dibicarakan dengan Alwan, maka ia membalasnya dengan baik.

“Enggak, yang lain masih di dalem,” balas Haris, berusaha terdengar ramah. “Wan, saya mau nanya boleh nggak?” tanya Haris to the point. Ia tahu waktu pertemuannya dengan Alwan sangat singkat, maka ia memaksimalkan yang ada.

Pria bernama belakang Anggara itu terlihat bingung, namun pada akhirnya mengangguk juga. “Tanya apa, Kak?”

Haris menatap Alwan lurus, setelahnya ia mengerjapkan matanya ragu. Namun ia tetap pada pendiriannya, memaksimalkan waktu yang ada. “Yang laporin Gio waktu itu ke BK—kamu?” tanyanya.

Mengerti ke mana arah pembicaraan Haris, Alwan menghentikan aktivitasnya sejenak. Pandangannya kini ia fokuskan pada Haris yang nampak mengajaknya bicara serius. “Iya, Kak. Kenapa emangnya? Ada masalah lagi?”

Haris menggeleng cepat, “Oh, enggak. Nggak ada masalah kok, nanya aja. Soalnya saya kan diskors, jadi nggak tau apa-apa. Tiba-tiba pas balik lagi ke sekolah katanya Gio dikeluarin, terus katanya ada yang laporin dia ke BK. Jadi, penasaran aja.”

“Oh, iya, Kak. Itu saya yang laporin,” balas Alwan lagi. Sebenarnya, Haris ingin bertanya alasannya. Tetapi niatnya seakan maju-mundur di kepala. Setiap kali Haris ingin utarakan, ucapannya itu seakan tertelan kembali ke dalam tenggorokan.

Menyadari gelagat Haris yang tak biasa, Alwan mendahului niat Haris. “Masih ada yang mau ditanyain, Kak?”

Haris sontak menoleh, setelahnya ia terkekeh pelan. Malu, sebab rupanya niatnya terbaca dengan gamblang oleh lawan bicaranya. “Enggak kok, nggak ada. Cuma mau nanyain itu aja,” balasnya. “Sama—makasih banyak ya, Alwan. Meskipun saya nggak tau yang kamu lakuin itu ada kaitannya sama saya atau enggak, tapi yang jelas tindakan kamu itu sangat membantu untuk nyelesain kasus saya sama Gio. Jadi, makasih banyak,” ucap Haris lagi. Tulus dari dalam hati. Melupakan semua persaingan yang ia ciptakan sendiri antara dirinya dan Alwan, Haris benar-benar berterima kasih.

Di hadapannya, kini Alwan tersenyum seakan yang ia lakukan bukanlah apa-apa. Pemuda itu mengibaskan tangannya di depan wajah, “Ah, enggak, Kak. Saya bantu ngelurusin aja masalah Kakak karena waktu kejadian kebetulan saya ada di sana. Mungkin Kakak nggak sadar karena saya emang ada di seberang jalan, tapi saya denger semuanya. Saya liat semuanya. Sayang aja rasanya kalo saya tau yang sebenernya tapi diem aja dan ngebiarin fitnah yang menang.”

Haris tak pernah merasa kalah sebelumnya. Haris tak pernah merasa nyalinya ciut sebelumnya. Hingga hari ini, duduk di hadapannya seseorang yang lebih muda darinya. Namun soal isi kepala dan keberanian, keduanya sebanding. Bahkan Haris merasakan ada setitik nyali yang mengkerut di dalam dirinya. Malu, Haris malu akan kesombongannya sendiri. Masih pantaskah ia mengelu-elukan namanya sebagai satu-satunya yang pantas untuk memenangkan hati Gia sekarang? Sebab rasanya gadis itu sudah berada di tangan penjagaan yang tepat. Jauh lebih tepat dibanding dirinya.

“Gantian saya yang nanya, boleh, Kak?” tanya Alwan.

“Iya, boleh, tanya aja.”

“Kalo saya nggak salah tebak, kayaknya kita berdua—suka sama orang yang sama deh, Kak,” balas Alwan.

Skak mat!

Haris mendadak terjebak antara harus berpura-pura bingung atau benar-benar bingung. Alhasil, alis tebalnya bertaut. Dan belum sempat Haris bertanya, lagi-lagi Alwan mendahului niatnya.

“Kak Haris suka sama Gia, ya, kan?” ucap Alwan memastikan. Sementara Haris hanya diam, bibirnya terasa seperti dibungkam dengan perekat paling ampuh. Alwan benar-benar membombardir dirinya habis-habisan.

“Dari cara Kakak ngeliat dia, ngelindungin dia dari jauh, atau diem-diem kayak waktu kejadian sama Gio dan LDKS—saya tau kalo orang yang kita suka, itu sama. Saya yakin semua orang juga tau. Cuma mereka nggak berani ngeledekinnya aja,” Alwan bicara lagi. Gelagatnya santai, menunjukkan bahwa ia sama sekali tak takut ataupun merasa canggung.

Sementara Haris terdiam, Alwan lanjut memakai sepatunya. Setelah selesai, ia menghentak-hentakkan kakinya pelan untuk memastikan sepatunya sudah nyaman terpakai di kakinya. Setelahnya Alwan menengadah, kembali menatap Haris yang masih berusaha mencerna ucapan Alwan beberapa sekon yang lalu.

“Maju aja, Kak. Saya udah lama kepikiran untuk mundur, kok.”

Kedua alis tebal Haris bertaut, “Kenapa?”

Sudut bibir Alwan berkedut seiring pemuda itu mengendikkan bahu. “Mungkin karena saya tau yang Kakak nggak tau?” ucapnya, lalu ia beranjak pergi. Meninggalkan Haris dengan segala hal yang masih gamang, berenang di kepala.

Kalau begini, bukankah artinya ia baru saja mendapat sebuah lampu hijau? Bukankah harusnya ia merasa senang sebab ia bisa dengan leluasa bergerak melancarkan serangannya?

Bukan. Bukan ini yang ia mau. Bukan lampu hijau secara cuma-cuma dari lawannya yang menyerah begitu saja yang Haris mau. Bagaimanapun juga, ia ingin persaingan yang adil. Tanpa ada seseorang yang harus terpukul mundur tanpa alasan yang jelas.

“Alwan!” panggilnya.

Adik kelasnya itu kembali menoleh, beruntung langkahnya belum jauh. “Ya, Kak?”

“Kalo kita emang beneran suka sama orang yang sama, bukannya harusnya kita saingan secara adil? Kenapa kamu mundur tiba-tiba?” ucap Haris.

Alwan tersenyum simpul, setelahnya ia mengangguk pelan. “Udah kok, Kak. Kita udah bersaing secara adil. Kakak jangan ge-er, saya mundur juga bukan untuk alesan ngalah sama Kakak kok, tapi karena udah waktunya aja. Saya mundur karena kekalahan saya udah terlihat jelas di depan mata,” ucapnya.

“Jangan lupain yang saya bilang, Kak. Saya tau sesuatu yang Kakak nggak tau,” sambungnya lagi. Kali ini disertai cengiran yang justru membuat Haris semakin bingung.

“Semangat ya, Kak! Saya dukung pokoknya,” ucap Alwan. Setelahnya tubuh tegapnya itu menghilang di balik tembok, meninggalkan Haris bergelut dengan benaknya sendiri hingga Dhimas datang menepuk bahunya. Membuat Haris mau tak mau berjengit dan melotot saat mengetahui sang pelaku.

Sementara yang dipelototi hanya mengeluarkan raut wajah tanpa dosa. Tersenyum tanpa rasa bersalah. “Bengaaang, bengong! Mikirin apa sih, Pak Haji?” canda Dhimas.

Haris berdecak sebelum akhirnya menggeleng, “Kagak. Nanti, dah! Lo harus jadi konsultan gue lagi hari ini!”

“Widiiih, ada apaan nih?” tanya Dhimas seraya mulai mengembalikkan bentuk kaus kakinya seperti semula ketika akan ia kenakan.

Terbilang cukup lama hingga Dhimas mendapat jawaban dari pertanyaannya. Sebab Haris terdiam beberapa sekon. Mungkin masih berusaha mencerna situasi. Mungkin hati dan otaknya masih bergelut satu sama lain, menentukan pemenang antara akal sehat atau egonya.

Satu sapaan dari mulut Dhimas membuat Haris kembali pada realita. Pria yang digadang-gadang sebagai dokter cinta di siklus pertemanannya itu pun mengulang kembali pertanyaannya. “Ada apaan sih, Ris? Lo jangan bikin gue penasaran dong, dosa lu!”

Haris pun menoleh. Ia menggeleng pelan seraya mengerucutkan bibir.

“Lampu ijo, Dhim,” jawab Haris kemudian.

“Lampu ijo,” ucapnya lagi, dengan nada yang lebih pasti.

Pukul enam pagi, Haris berdiri tepat di depan cermin yang tergantung di salah satu dinding kamar bercat biru tua miliknya. Tangan kanannya asik menyisirkan rambut sementara tangan kirinya turut merapikan agar penampilannya semakin sempurna. Setelahnya ia menyambar ponselnya yang masih tersambung dengan pengisi daya sejak semalam.

Drrt.. drrtt

Getaran ponsel miliknya yang tak lama kemudian membuat sebuah notifikasi pop up muncul di layar membuat kedua alisnya bertaut. Haris menggerakkan ibu jarinya guna membuka notifikasi yang berasal dari Gia. Yang membuat kedua alisnya bertaut adalah fakta bahwa ini masih terlalu pagi untuknya menerima notifikasi dari gadis itu.

Gia Kakak, absenn

Kening Haris semakin mengernyit. Pagi banget? batinnya.

Namun pemuda yang kini hampir siap dengan penampilannya itu tetap mengetikkan balasan. Setelahnya, tanpa menunggu balasan Gia, Haris menyambar tasnya asal sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.

Haris melangkahkan kakinya perlahan menuruni satu persatu anak tangga. Lalu berhenti tepat di depan meja makan. Ia menarik kursi, meletakkan tas hitamnya di atas kursi yang selalu tak berpenghuni lantaran kurangnya satu anggota keluarga untuk set meja makan lima orang. Setelahnya ia menunjuk hidangan telur dadar setengah matang mirip yang biasa mereka beli dari restoran cepat saji, “Ini punya siapa, nih?”

“PUNYA HANUMM, JANGAN DIMAKAN!!” balas Hanum yang terdengar posesif dari arah dapur. Haris menoleh kepada gadis yang baru saja mengamankan sarapan paginya itu. Rupanya ia sedang membuat susu sebagai pelengkap sarapannya. Haris tak marah, pria itu terkekeh sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya.

“Kamu mau, Kak? Mama bikinin ya?” ucap Mama yang baru saja tiba di sebelahnya. Wanita itu kemudian menyuruh Haura duduk di kursi yang berada di depan Haris untuk ikut sarapan.

“Nggak usah, Ma. Haris berangkat aja, gampang nanti sarapan di sekolah,” balasnya.

“Bener, nih?” tanya Mama memastikan. Haris hanya memberikan anggukan singkat untuk meyakinkan sang ibu. Setelahnya Mama tersenyum simpul seraya mengangguk, “Ya udah. Tapi jangan lupa sarapan ya!”

Pemuda itu lagi-lagi hanya mengangguk, kemudian mengambil tangan sang ibu untuk diciumnya. Meminta restu agar harinya berjalan dengan lancar. Tak lupa ia mengucap salam perpisahan kepada kedua adiknya yang akhirnya dibalas dengan ucapan-ucapan penuh cinta yang selalu membuat dadanya membuncah di pagi hari. Rasanya tak ada yang lebih berharga dan menenangkan dari ucapan 'hati-hati di jalan' dari manusia-manusia favoritnya yang setiap pagi mampir ke dalam rungunya.

Haris tersenyum senang ketika ia berjalan menuju rak sepatu. Ia mengambil sepatu miliknya dan memakainya. Setelah penampilannya lengkap, Haris bangkit berdiri. Tak lupa menepuk-nepuk sedikit bagian belakang celana putihnya agar tidak kotor.

Haris mengucap pamit sekali lagi. Dan sebelum ia benar-benar pergi, Haris mengambilkan sepatu Hanum yang masih bertengger di rak sepatu keluarganya. Kemudian meletakkannya di lantai dengan posisi sepatu menghadap pintu agar Hanum tinggal memakainya saat sudah selesai sarapan nanti. Selalu, Haris selalu menunjukkan perhatiannya melalui aksinya.


Sesampainya di sekolah, Haris memarkirkan motor di parkiran belakang. Jalanan cukup ramai pagi ini, membuatnya baru sampai di sekolah pukul 06.15 pagi. Alasan yang sangat mendukung bagi Haris untuk tidak menaruh tasnya di kelas terlebih dulu, melainkan ia harus segera stand by dan menjalankan tugasnya untuk piket pagi. Maka Haris memilih untuk menghampiri pos satpam dan menitipkan tasnya di sana. Toh, ia pun sudah berkawan baik dengan semua satpam sekolah.

“Babeh, nitip tas sebentar ya. Mau piket dulu udah kesiangan,” ucap Haris, menyerahkan ransel hitamnya setelah mengeluarkan almet OSIS dari dalamnya.

“Oh, iye taro aje situ, Ris,” balas Babeh, satpam paling tua di antara tiga satpam sekolah.

“Makasih, Beh!” balas Haris.

“Eh, tadi ada yang nitip makanan buat lu, tuh!” ucap Babeh lagi. Pria paruh baya dengan badan tambun nan bugarnya itu berkata seraya mengatur lalu lintas di depan sekolah agar tidak terjadi kemacetan lantaran banyak orang tua yang berhenti di di depan sekolah untuk mengantar anak-anaknya.

Kening Haris berkerut, “Makanan? Buat saya beneran? Salah kali, Beh?”

Babeh berdecak, “Kagakk. Orang bener buat elu. M. Haris IPA 1 die pesennye! Emang ada lagi nama Haris di kelas lu?”

“Kagak ada, sih!” balasnya. “Dari siapa, Beh?” tanya Haris lagi.

“Ada deh, itu lu liat aja sendiri, Ris. Tuh di deket plastik putih tuh. Ada bungkusan mika, ah itu ada label kuningnya. Baca aja dah!” sahut Babeh. Setelahnya Haris tak lagi bertanya apapun sebab Babeh sibuk membukakan pagar untuk mobil kepala sekolah yang baru saja datang.

Maka Haris mengurungkan niatnya untuk langsung bergabung dengan petugas piket OSIS pagi itu, ia memilih untuk mengecek makanan yang dititipkan untuknya di pos satpam terlebih dulu.

Tak berselang lama, Haris menemukan bungkusan mika yang dimaksudkan Babeh sebelumnya. Di dalamnya tersaji empat buah roti bakar cokelat berbentuk segitiga, menu sarapan yang cocok untuk perutnya yang masih kosong pagi itu. Haris tersenyum simpul, rupanya ada untungnya ia tidak sarapan di rumah.

Tangan kanannya bergerak mencabut post it kuning yang tertempel di sana. Kemudian matanya memindai setiap huruf yang berbaris merangkai sebuah kalimat singkat di atas kertas kuning itu. Kedua alisnya semakin bertaut, rupanya sang pengirim tak menuliskan namanya terang-terangan. Hanya tertera sebuah keterangan bahwa roti ini berasal dari seseorang dengan nama samaran “06.14”.

Namun bukan Haris jika menyerah begitu saja. Otaknya terus berputar memikirkan sebuah jawaban, ia memikirkan setiap orang dan besar kemungkinannya untuk mengirimkan Haris sarapan pagi secara diam-diam. Pun, ia berusaha memikirkan jawaban dari satu-satunya clue yang tertera di sana. Bagaimana bisa seseorang menyamarkan namanya dengan sebuah jam? Atau—angka? Atau apakah ini maksudnya adalah sebuah waktu yang hanya mereka berdua yang tahu?

“Bukan lah, kalo ini Gia yang ngirim pasti jamnya bukan 06.14 tapi 06.15, kan? Biasanya dia absen jam segitu,” Haris bermonolog.

“06.14? Apaan dah?” gumam Haris lagi, masih memandangi kertas kuning kecil di tangannya.

Selang beberapa lama, matanya kembali berbinar. Elemen-elemen lampu bohlam beserta simbol cinta rasanya mengudara mengitari Haris dan sekujur tubuhnya. Haris mengetahui siapa pengirimnya.

Sekon berikutnya tak sama lagi, Haris merasakan pipinya pegal lantaran harus menahan senyuman miliknya yang kian memberontak untuk semakin mengembang. Membuat sudut bibirnya berkedut berkali-kali.

Ia kemudian menampar-nampar pelan pipinya sendiri, berusaha mengingatkan diri akan tanggung jawab yang harus ia emban pagi itu. “Fokus, Ris, fokus!”

Haris bergabung dengan rekan OSIS-nya untuk melaksanakan tugas setelah memasukkan post it kuning yang berhasil membuatnya tersenyum dan berdebar tidak karuan pagi itu ke dalam saku almetnya. Menyimpannya di sana untuk waktu yang lama, sebagaimana ia menyimpan cerita pagi ini dalam memorinya untuk waktu yang lama.

“What goes around comes around :)”

— 06.14

Seperti biasa, Haris berdiri di depan gerbang untuk melaksanakan tugasnya. Mencari mangsa untuk diserahkan kepada Pak Asep untuk diberikan poin atau hanya teguran—jika Pak Asep masih menoleransinya. Gerbang sekolah masih sepi, rasanya masih terlalu pagi untuk meramaikan sekolah yang tak pernah menjadi tempat favorit para remaja seusia Haris pada umumnya.

Bicara soal Haris, pemuda itu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku almet biru setelah membaca pesan yang terakhir Gia kirimkan. Kemudian selayaknya remaja pada umumnya, Haris pun mati-matian menahan sudut bibirnya yang berkedut mewakilkan perasaan menggelitik yang ia rasakan dalam sanubari. Namun, bagaimanapun juga, gelagat orang jatuh cinta memang tak bisa disembunyikan rapat-rapat. Sampai-sampai Dhimas yang berdiri di sebelah Haris itu menangkap raut wajah Haris yang pancarkan bahagia lebih dari biasanya.

“Seger amat,” kata Dhimas.

“Apaan?”

“Muke lu, kayak bayi baru kelar mandi. Kurang cemongnya aja!” balas Dhimas lagi. Dalam mengejek persoalan Haris dan Gia, Dhimas juara satunya.

“Mana si Dedek?” canda Dhimas.

“Yeh, monyet!” umpat Haris seraya tertawa. Paham akan siapa yang dimaksud sahabatnya itu. “Lagi di jalan,” balas Haris. Pada akhirnya menjawab pula pertanyaan Dhimas yang menjengkelkan.

“JIAKH HAHAHAHAH!” seru Dhimas. “Pantesan beda gitu ya aura lo hari ini. Kayak—lebih ramaah, banyak senyumnya, aih aihh!”

“Diem ah! Jangan ganggu!” canda Haris. “Songong bet lauuu!” balas Dhimas seraya menonjok pelan bahu Haris.

“Eh tapi, gue penasaran lo minta maafnya gimana. Gimana sih?” tanya Dhimas.

“Udah gue bilang nggak bakal gue ceritain ke lo semua, nyet! Rame doang yang ada, puyeng!” balas Haris seraya tertawa.

Setelahnya Dhimas tak membalas. Lagipula, ia pun tak benar-benar menanyakan Haris. Dhimas hanya senang memancing teman-temannya untuk kemudian diejek habis-habisan. Haris mengetahuinya, maka ia berhati-hati dan memilih untuk menyimpan ceritanya rapat-rapat. Cukup Tuhan, dirinya, dan Gia yang tahu. Biarlah hal itu menjadi cerita yang berharga untuknya dan Gia.

Omong-omong soal Gia, gadis itu sudah tiba di sekolah. Haris melihatnya dari kejauhan, Gia baru saja turun dari motor dengan sangat hati-hati sebab kakinya yang terluka. Gadis mungil itu tiba dengan penampilan yang agak berbeda dari biasanya. Dan Haris mengetahuinya.

Biasanya Gia akan tiba di sekolah dengan gaya rambut yang sama. Entah diikat dengan gaya pony tail atau dibiarkan tergerai begitu saja dengan ikat rambut yang dijadikan gelang pada tangan kanannya. Namun hari ini, Gia memilih untuk menata rambutnya dengan gaya half updo yang membuat penampilannya tetap rapi meski masih ada sebagian rambut yang tergerai. Entah penglihatan Haris yang bias atau memang fakta, Gia terlihat jauh lebih cantik dari biasanya.

Haris memantau diam-diam Gia yang mulai melangkah menuju gerbang. Jalannya sedikit pincang, disebabkan luka di kakinya yang belum sembuh sempurna. Gadis itu bahkan datang ke sekolah tanpa mengenakan sepatu, melainkan mengunakan sandal jepit lantaran kakinya yang masih diperban. Membuat Haris turut meringis setiap kali melihat Gia harus kesulitan berjalan.

Tak lama, Gadis itu pun tiba di hadapan Yuna yang baru saja kembali dari urusannya. Gia berhenti sejenak untuk membiarkan kakak kelasnya memeriksa atributnya.

“Ihh, itu kakinya yang kemarin luka ya?” tanya Yuna.

“Iya, Kak. Izin pake sendal ya?” balas Gia.

“Wuidihhh, jagoan dari mana nih pake sendal?” canda Dhimas. Gia menoleh ketika mendengar perkataan Dhimas yang merujuk padanya.

“Itu gara-gara yang jatoh kemaren ya, Gi? Kok bisa sih sampe luka gitu?” tanya Dhimas lagi.

“Iya, Kak. Kepeleset, terus kena ranting gitu makanya luka, panjang banget lagi lukanya. Kemaren juga darahnya banyak banget,” balas Gia.

Dhimas bergidik ngeri, “Duhhhileh, bae-bae deh lo jalan. Awas keinjek orang kaki lu!”

“Iyaaaa, makasih Kadhimm! Duluan yaa!”

Sekon berikutnya Gia pun kembali melangkah untuk menuju kelas. Tentu saja ia tak boleh menyia-nyiakan waktu sebab kecepatan jalannya yang melambat. Kalau tidak bergerak sekarang, dipastikan Gia akan tiba di kelas saat bel masuk berbunyi.

Tak lupa Gia menyapa Haris singkat melalui anggukan kepala yang dibalas dengan cara yang sama oleh Haris. Gia menangkap kakak kelasnya itu tersenyum tipis ke arahnya, membuat Gia turut mengulum senyuman kecil—yang kemudian mengembang semakin lebar ketika keduanya sudah tak saling berpapasan.

Kalau Gia bisa berjalan seraya melompat kecil, maka ia akan segera merealisasikannya. Gadis itu tak pernah tahu bahwa hanya berpapasan dengan seseorang yang membuatnya jatuh dan suka akan begitu membahagiakan. Rasanya teori Senin pagi yang suram itu runtuh seketika saat ia menjumpai seseorang yang selalu gagah setiap kali almet biru itu tersemat padanya. Seseorang yang dapat membuatnya menyukai setiap kenangan perihal sekolah melalui pertemuan yang terjadi bahkan tanpa ada sepatah kata pun yang terucap.

06.15 pagi setelah sekian lama, musim semi seakan tiba hanya untuk Haris dan Gia. Pun, terbukanya gerbang pagi itu seakan menjadi pembuka jalan untuk cerita yang nyaris usai.

Sebab pada 06.15 pagi hari itu, setelah sekian lama, keduanya kembali bertemu dan menyapa dalam waktu yang dicuri untuk berdua.

Haris menoleh, arah pandangnya mengikuti sejauh mana Gia sudah berjalan. Kegiatannya tak berlangsung lama, sebab Haris harus kembali mengawasi siswa yang datang. Maka ia memutus kontak mata, kembali mengalihkan pandangannya sebelum akhirnya menunduk dan menghela napasnya.

Kemudian dengan senyuman tertahan, Haris kembali bicara dengan suara yang nyaris tak terdengar.

It's been a long time. Nice to see you again, Anggi!”

Seperti biasa, Haris berdiri di depan gerbang untuk melaksanakan tugasnya. Mencari mangsa untuk diserahkan kepada Pak Asep untuk diberikan poin atau hanya teguran—jika Pak Asep masih menoleransinya. Gerbang sekolah masih sepi, rasanya masih terlalu pagi untuk meramaikan sekolah yang tak pernah menjadi tempat favorit para remaja seusia Haris pada umumnya.

Bicara soal Haris, pemuda itu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku almet biru setelah membaca pesan yang terakhir Gia kirimkan. Kemudian selayaknya remaja pada umumnya, Haris pun mati-matian menahan sudut bibirnya yang berkedut mewakilkan perasaan menggelitik yang ia rasakan dalam sanubari. Namun, bagaimanapun juga, gelagat orang jatuh cinta memang tak bisa disembunyikan rapat-rapat. Sampai-sampai Dhimas yang berdiri di sebelah Haris itu menangkap raut wajah Haris yang pancarkan bahagia lebih dari biasanya.

“Seger amat,” kata Dhimas.

“Apaan?”

“Muke lu, kayak bayi baru kelar mandi. Kurang cemongnya aja!” balas Dhimas lagi. Dalam mengejek persoalan Haris dan Gia, Dhimas juara satunya.

“Mana si Dedek?” canda Dhimas.

“Yeh, monyet!” umpat Haris seraya tertawa. Paham akan siapa yang dimaksud sahabatnya itu. “Lagi di jalan,” balas Haris. Pada akhirnya menjawab pula pertanyaan Dhimas yang menjengkelkan.

“JIAKH HAHAHAHAH!” seru Dhimas. “Pantesan beda gitu ya aura lo hari ini. Kayak—lebih ramaah, banyak senyumnya, aih aihh!”

“Diem ah! Jangan ganggu!” canda Haris. “Songong bet lauuu!” balas Dhimas seraya menonjok pelan bahu Haris.

“Eh tapi, gue penasaran lo minta maafnya gimana. Gimana sih?” tanya Dhimas.

“Udah gue bilang nggak bakal gue ceritain ke lo semua, nyet! Rame doang yang ada, puyeng!” balas Haris seraya tertawa.

Setelahnya Dhimas tak membalas. Lagipula, ia pun tak benar-benar menanyakan Haris. Dhimas hanya senang memancing teman-temannya untuk kemudian diejek habis-habisan. Haris mengetahuinya, maka ia berhati-hati dan memilih untuk menyimpan ceritanya rapat-rapat. Cukup Tuhan, dirinya, dan Gia yang tahu. Biarlah hal itu menjadi cerita yang berharga untuknya dan Gia.

Omong-omong soal Gia, gadis itu sudah tiba di sekolah. Haris melihatnya dari kejauhan, Gia baru saja turun dari motor dengan sangat hati-hati sebab kakinya yang terluka. Gadis mungil itu tiba dengan penampilan yang agak berbeda dari biasanya. Dan Haris mengetahuinya.

Biasanya Gia akan tiba di sekolah dengan gaya rambut yang sama. Entah diikat dengan gaya pony tail atau dibiarkan tergerai begitu saja dengan ikat rambut yang dijadikan gelang pada tangan kanannya. Namun hari ini, Gia memilih untuk menata rambutnya dengan gaya half updo yang membuat penampilannya tetap rapi meski masih ada sebagian rambut yang tergerai. Entah penglihatan Haris yang bias atau memang fakta, Gia terlihat jauh lebih cantik dari biasanya.

Haris memantau diam-diam Gia yang mulai melangkah menuju gerbang. Jalannya sedikit pincang, disebabkan luka di kakinya yang belum sembuh sempurna. Gadis itu bahkan datang ke sekolah tanpa mengenakan sepatu, melainkan mengunakan sandal jepit lantaran kakinya yang masih diperban. Membuat Haris turut meringis setiap kali melihat Gia harus kesulitan berjalan.

Tak lama, Gadis itu pun tiba di hadapan Yuna yang baru saja kembali dari urusannya. Gia berhenti sejenak untuk membiarkan kakak kelasnya memeriksa atributnya.

“Ihh, itu kakinya yang kemarin luka ya?” tanya Yuna.

“Iya, Kak. Izin pake sendal ya?” balas Gia.

“Wuidihhh, jagoan dari mana nih pake sendal?” canda Dhimas. Gia menoleh ketika mendengar perkataan Dhimas yang merujuk padanya.

“Itu gara-gara yang jatoh kemaren ya, Gi? Kok bisa sih sampe luka gitu?” tanya Dhimas lagi.

“Iya, Kak. Kepeleset, terus kena ranting gitu makanya luka, panjang banget lagi lukanya. Kemaren juga darahnya banyak banget,” balas Gia.

Dhimas bergidik ngeri, “Duhhhileh, bae-bae deh lo jalan. Awas keinjek orang kaki lu!”

“Iyaaaa, makasih Kadhimm! Duluan yaa!”

Sekon berikutnya Gia pun kembali melangkah untuk menuju kelas. Tentu saja ia tak boleh menyia-nyiakan waktu sebab kecepatan jalannya yang melambat. Kalau tidak bergerak sekarang, dipastikan Gia akan tiba di kelas saat bel masuk berbunyi.

Tak lupa Gia menyapa Haris singkat melalui anggukan kepala yang dibalas dengan cara yang sama oleh Haris. Gia menangkap kakak kelasnya itu tersenyum tipis ke arahnya, membuat Gia turut mengulum senyuman kecil—yang kemudian mengembang semakin lebar ketika keduanya sudah tak saling berpapasan.

Kalau Gia bisa berjalan seraya melompat kecil, maka ia akan segera merealisasikannya. Gadis itu tak pernah tahu bahwa hanya berpapasan dengan seseorang yang membuatnya jatuh dan suka akan begitu membahagiakan. Rasanya teori Senin pagi yang suram itu runtuh seketika saat ia menjumpai seseorang yang selalu gagah setiap kali almet biru itu tersemat padanya. Seseorang yang dapat membuatnya menyukai setiap kenangan perihal sekolah melalui pertemuan yang terjadi bahkan tanpa ada sepatah kata pun yang terucap.

06.15 pagi setelah sekian lama, musim semi seakan tiba hanya untuk Haris dan Gia. Pun, terbukanya gerbang pagi itu seakan menjadi pembuka jalan untuk cerita yang nyaris usai.

Sebab pada 06.15 pagi hari itu, setelah sekian lama, keduanya kembali bertemu dan menyapa dalam waktu yang dicuri untuk berdua.

Haris menoleh, arah pandangnya mengikuti sejauh mana Gia sudah berjalan. Kegiatannya tak berlangsung lama, sebab Haris harus kembali mengawasi siswa yang datang. Maka ia memutus kontak mata, kembali mengalihkan pandangannya sebelum akhirnya menunduk dan menghela napasnya.

It's been a long time. Nice to see you again, Anggi!” ucapnya dengan suara yang nyaris tak terdengar.

Haris memasukkan baju-baju kotornya kembali ke dalam tas setelah ia satukan dalam sebuah kantong plastik besar. Di sebelahnya, Dhimas pun merapikan barang-barangnya. Keduanya memastikan tak ada yang tertinggal sebab seluruh rangkaian acara LDKS sudah selesai dan mereka akan segera kembali pulang.

Haris dan Dhimas sudah siap dengan seragam pramuka lengkapnya. Dress code untuk pulang kali ini adalah seragam pramuka sebab mereka diharuskan untuk mengikuti apel penutupan terlebih dulu sebelum pada akhirnya kembali ke sekolah.

“Udah kelar belom?” tanya Dhimas pada Haris yang menunjukkan gelagat sibuk mencari sesuatu. Dhimas mengerutkan alisnya, “Ada yang lupa?”

“Jaket,” balas Haris.

“Jaket apaan?”

“Gue dibawain jaket sama emak gue, tapi kok nggak ada ya?” tanya Haris.

“Jaket lo yang mana?”

“Yang biasa gue pake,” balas Haris lagi. Ia masih sibuk mencari. Membongkar kembali seluruh isi tasnya untuk mencari jaketnya yang kini 'menghilang'. Haris bahkan membuka kembali plastik baju-baju kotor, takut-takut jaketnya tercampur di sana. Tak mudah menyerah, Haris bahkan kembali mengecek setiap bilik kamar mandi untuk mencari jaketnya.

“Ada nggak?” tanya Dhimas.

“Kagak ada,” balasnya. “Duh, di mana ya, anjrit! Itu jaket enak banget dipakenya lagi. Sedih nih gue kalo ilang!”

Dhimas terkekeh, “Coba inget-inget lagi. Beneran kebawa apa enggak?”

“Kayaknya kebawaa, kayaknya gue liat jaket itu di sini. Tapi di mana ya? Kita kan juga nggak pake jaket, masa ilang? Gue keluarin buat apaan juga?” balas Haris lagi.

“Yehh, mana gue tau. Jaket jaket elu!” sahut Dhimas. “Ya udah, nanti tanya aja kakak panitianya. Siapa tau ada yang nemu. Sekarang baris dulu aja, udah dipanggilin tuh dari tadi! Nanti kita ketinggalan apel, ketinggalan balik. Mau nginep lagi lu di sini?”

Alhasil, Haris hanya menghela napas pasrah dan memilih untuk mengikuti perkataan Dhimas. Meski dalam pikirannya ia masih menelaah di mana terakhir kali ia menjumpai jaket kesayangannya itu. Namun nihil, ia tak menemukan ingatan apapun mengenai jaketnya. Seakan ingatannya dalam jangka waktu tertentu terhapus begitu saja.

Kini keduanya sudah bergabung kembali dengan para adik kelas bimbingannya di aula. Kali ini barisan didasarkan kepada yang paling tinggi. Mau tak mau Haris berdiri di paling depan. Di belakangnya adalah Dinda dengan tinggi yang tak jauh berbeda.

Apel penutupan tidak berlangsung lama. Berterima kasih lah pada wakil kepala sekolah yang berpidato tak cukup lama. Setelahnya mereka digiring untuk masuk ke tronton, sesuai dengan pembagian yang sama seperti ketika berangkat.

Entah semesta turut andil dalam penyatuan kembali Gia dan Haris atau bagaimana, yang jelas, keduanya duduk berhadapan sekarang. Namun rupanya interaksi tipis-tipis saat Haris menolongnya itu masih tak cukup untuk menghilangkan kecanggungan di antara keduanya. Masih saja saling membuang muka dan memilih untuk menghindari tatapan masing-masing.

Gia duduk di antara Dinda dan Alfi, seakan-akan gadis itu adalah penengah di antara keduanya yang memang sering ribut. Semetara di seberang, Haris duduk di sebelah Dhimas. Sebelah kiri pemuda itu masih kosong hingga.. Gina yang entah bagaimana caranya bisa masuk ke tronton yang sama dengannya itu menduduki kursi kosong di sebelah Haris.

“Gue sini ya, Ris,” ucap Gina. Haris memandanginya dengan tatapan menghakimi. “Kok lo di sini?”

“Tronton gue penuh, jadi disuruh di sini,” balas Gina. Haris masih menatap Gina bingung, terlebih ketika gadis itu datang tanpa membawa apapun. “Tas lo mana?”

“Di tronton gue. Guenya doang disuruh di sini soalnya di sana nggak muat lagi karena penuh tas. Gue juga nggak tau tuh gimana caranya bisa begitu,” balas Gina.

Setelahnya Haris hanya mengangguk dan tak lagi membalas perkataan Gina. Ia menyugar rambutnya dan memilih untuk mengobrol dengan Dhimas yang berada di sebelahnya. Berusaha tidak memedulikan Gina sama sekali.

Namun rasanya gadis itu tak habis akal untuk mendekatkan dirinya dengan Haris. Terlebih saat mengetahui Gia ada di hadapannya. Dengan santainya, Gina menyandarkan kepalanya pada pundak Haris. Membuat Haris berjengit, “Ngapain sih, Naaaa? Ganggu banget dah lo!”

“Numpang, Riss, ya elah! Ngantuk gue.”

“Belom juga jalan udah ngantuk!” balas Haris lagi. Namun ia pun terpaksa membiarkan Gina merebahkan kepala di atas pundaknya. Sebab bagaimanapun juga, Gina adalah perempuan. Dan gadis itu terpisah dari kelompoknya, mungkin di mobil ini Gina hanya kenal Haris. Maka Haris mengizinkan Gina menggunakan pundaknya sebagai bantalnya selama perjalanan. Sebagai seorang lelaki, Haris pun memastikan agar Gina tak terbentur saat tidur.

Tanpa sengaja, tatapannya bersirobok dengan Gia yang memang duduk berseberangan dengannya. Haris sempat terpaku sesaat sebelum Gia akhirnya lebih dulu memutus kontak mata di antara keduanya. Saat itu, entah mengapa Haris menangkap sesuatu yang lain dari gelagat Gia. Gadis itu nampak—kecewa, entah benar atau tidak, tetapi Haris menangkapnya dengan jelas. Gia bahkan terus memalingkan wajahnya ketika Haris tetap memusatkan pandangannya pada adik kelasnya itu. Seakan benar-benar tak ingin menyaksikan kedekatannya dengan Gina yang saat ini tertidur lelap di bahunya.

Detik itu, Haris pun turut memalingkan wajah sebelum akhirnya menghela napas pelan seraya merutuki dirinya sendiri. Mungkin harapannya akan hubungan yang kembali membaik dengan Gia harus kembali gugur. Entahlah, Haris tak ingin terlalu pusing memikirkannya. Ia pun merebahkan kepalanya di atas kepala Dhimas yang bersandar pada bahu kanannya. Membunuh waktu hingga sampai kembali untuk pulang.


“Perlengkapannya di ambil semua dulu, nih! Hp, dompet, terus senter, jangan sampe ada yang lupa ngambil ya!” ujar Vio.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih sekitar tiga jam, mereka semua kini sampai kembali di sekolah. Di sana, Vio sebagai ketua OSIS mengambil alih untuk kegiatan pengembalian barang-barang milik para peserta sebagai bentuk tanggung jawabnya.

Setelah perlengkapan dan barang-barang berharga yang dititipkan itu berhasil menemukan pemiliknya, semua siswa dipersilakan untuk pulang ke rumah masing-masing.

“EH KITA FOTO DULU DONGGG!! JANGAN PULANG DULU!” seru Dinda. Dengan gencar ia mengumpulkan seluruh anggota kelompoknya untuk berfoto bersama di tengah lapangan. Setelahnya mereka pun berkumpul tanpa minat. Sebab sejujurnya sudah sangat lelah dan hal yang ingin segera dilakukan hanyalah pulang ke rumah. Bagaimana tidak? Mereka semua jelas kelelahan, maka bertemu dengan kasur empuk di rumah pasti rasanya bagaikan surga dunia.

Selang dua menit, Dinda berhasil mengumpulkan anggota kelompoknya. Bahkan ia sudah mengumpulkan mereka ke dalam satu formasi yang patut untuk difoto. Setelahnya ia sibuk mencari orang untuk dimintai tolong menjadi fotografer, beruntung Zahra lewat. Maka jadilah gadis itu yang menjadi fotografer grup paling heboh ini.

Puas berfoto, Dinda pun asyik mengecek setiap foto yang dipotret oleh tangan-tangan Zahra. Tak lupa ia berterima kasih, tentunya. “E makasi yak, Jaraa!”

“Kirim, Din! Jangan lu keep sendiri fotonya. Ada muka gue itu, ntar lo diem-diem melet gue lagi,” canda Dhimas.

“IYE IYE YAILAH! Siapa yang mau melet lu siapaaa?! Yang ada gue santet lo, Kak!”

Dhimas hanya terkekeh, “Dah, dah! Pada balik, gih, istirahat! Makasih yaa semuaa atas kerja samanya!”

“Ini abis ini Kak Haris kalo disapa masih sombong nggak nih?” tanya Alfi.

Haris tertawa pelan, “Mana ada lu, Fi, ngarang!”

“Sapa aja emang kenapa?” tanya Haris. “Muka lo serem banget, Kak, mana ada yang berani nyapa dah!” balas Dinda.

“Ya sapa aja nggak pa-pa. Belom tentu gue bales tapi,” sahut Haris lagi. “Nggak, lah. Bercanda. Kalo kenal dan kalo denger pasti gue bales.”

“Ya udah balik dah lu pada, ntar dicariin emak lu,” ujar Dhimas. Setelahnya mereka semua berpamitan dan mulai bergerak menuju arah terpisah, pulang ke rumah masing-masing.

Hingga menyisakan Dhimas dan Haris yang berjalan beriringan menuju gerbang. “Asik banget nih ye, LDKS. Tujuan Kak Vio membangun kebersamaan agaknya berhasil ya? Nempel bat lu sama Gia,” ejek Dhimas.

“Mata lu!”

“Yehh, demen kan lo nolongin Gia? Gimana gimana, pas gendong Gia ngobrol nggak?” tanya Dhimas lagi. Haris hanya melirik tidak suka, menyembunyikan perasaan menggelitik dalam dadanya. Haris bersumpah, ia ingin sekali menonjok wajah Dhimas yang saat ini menampilkan perangai mengejek.

“Berisik banget lo! Balik sana!” usir Haris. Sementara Dhimas hanya tertawa semakin keras.

“Lo dijemput emak lo?” tanya Dhimas setelah tawanya berhasil reda. Haris hanya mengangguk dengan kedua alis bertautan menahan terik matahari.

“Ya udah, gue duluan yak! Bae bae lu, sekolah udah sepi ntar disamperin demit!”

“NYETTT PERGI LO!” umpat Haris.

Benar juga, sekolah sudah sepi. Kakak-kakak panitia pasti akan berdiam di ruang OSIS sebab akan melakukan evaluasi. Sementara para peserta LDKS hampir semua sudah pulang. Bahkan Haris menjadi satu-satunya orang yang menunggu di depan gerbang saat itu. Bangsat Dhimas gue ditinggalin, batinnya.

Haris memilih mengeluarkan ponselnya, banyak pesan masuk dari Hanum rupanya. Adiknya itu mengirimkan banyak foto Haura yang menangis ketika mengetahui Haris tidak pulang ke rumah. Sekon berikutnya ia menekan tombol panggilan guna mengabari sang ibu bahwa ia sudah siap untuk dijemput. Sengaja, Haris memang memilih tidak membawa motor. Bawaannya yang banyak itu membuatnya malas untuk pulang sendiri.

“Ma? Haris udah sampe di sekolah yaa!”

”.....”

“Haris depan gerbang. Okeee, see you!

Tepat setelah Haris memutus panggilannya dengan Mama, seseorang memanggilnya dengan suara lembut.

“Kak?”

Haris menoleh santai—tidak sampai ketika pemuda itu mengetahui siapa yang memanggilnya.

“Ya?” balasnya seraya membalikkan badannya agar sepenuhnya menghadap pada Gia, seseorang yang berdiri di hadapannya sekarang.

Gia menunduk, memainkan jemarinya sendiri. Membuat Haris mengerutkan alisnya, menerka apa yang ingin gadis itu bicarakan. Sekon berikutnya, Gia menengadah, menatap wajah Haris jauh lebih tinggi darinya. “Boleh ngomong sebentar, nggak?”

Haris tak langsung menjawab, pria itu hanya diam memandangi Gia bingung sebelum akhirnya menjawab pertanyaannya. “Boleh.”

“Mau duduk nggak? Biar nggak berat kamu gendong-gendong tas,” ucap Haris lagi. Namun Gia menggeleng dan mengatakan bahwa ia tak masalah jika harus berbicara sambil berdiri. Toh, gadis itu tak akan memakan waktu Haris banyak-banyak. Setelahnya pun Haris hanya mengangguk menyetujui.

“Mau ngomong apa?” tanya Haris.

Gia menelan ludah sebelum memulai pembicaraan. Mengumpulkan segenap keberanian untuk bicara empat mata dengan seseorang yang—paling dominan mengisi bagian hatinya.

“Kakak yang—bawa saya ke aula waktu saya pingsan pas jurit malem, ya?” tanya Gia.

Haris mengulas senyum simpul di sudut bibirnya, “Keliatannya gimana?”

“Keliatannya— iya.”

“Tau dari mana?”

Gia tak membalas. Gadis itu memilih untuk mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah jaket berwarna biru dengan kedua lengan berwarna putih gading yang sangat Haris kenali.

Gia menyodorkannya pada Haris. “Ini punya Kak Haris, kan?” tanyanya. Ia mengulum bibir sebelum lanjut bicara. “Ada bordiran inisial di bagian dalem jaketnya. Bordirannya—sama kayak sapu tangan yang Kakak kasih waktu kita ketemu di sekolah Hanum.”

Haris hanya diam dan merutuki kebodohannya sendiri. Bisa-bisanya ia melupakan tindakannya sendiri. Padahal malam itu Haris-lah yang berinisiatif mengambil jaket dari dalam tasnya untuk menjadi selimut untuk Gia. Namun rasanya ia terlalu panik dan khawatir hingga otaknya itu tak dapat merekam dengan jelas apa yang terjadi saat itu.

“Ini punya Kakak, kan?” tanya Gia lagi. Haris meneguk ludahnya sendiri guna mengusir canggung, barulah setelahnya ia mengangguk. “Iya. Punya saya.”

Gia menghela napas lega seraya tersenyum tipis, setelahnya ia menyerahkan jaket Haris pada pemiliknya. Sementara Haris, pemuda itu menerimanya dengan sebelah tangan kanannya sebelum akhirnya ia jinjing asal-asalan. Membuat Gia menahan napasnya, Haris dengan gestur alaminya, tentu saja tak pernah gagal untuk mengambil alih seluruh perhatiannya.

“Kak,” panggil Gia lagi. Haris tak membalas, ia hanya mengangkat sebelah alisnya sebagai bentuk responsnya terhadap panggilan Gia. “Makasih banyak udah nolongin saya selama di sana. Maaf banget karena ngerepotin Kak Haris terus.”

Haris mengerjapkan matanya berkali-kali mendengar nada bicara Gia yang kian merendah. Tidak, bukan ini yang ia inginkan. Toh, Haris sejujurnya dengan sangat senang hati menolong Gia. Kapanpun gadis itu membutuhkannya. Gia tak pernah merepotkan baginya. Sama sekali tidak merepotkan.

“Udah, Kak. Mau ngomong itu aja, kok,” ucap Gia. “Makasih banyak sekali lagi, Kak Haris. Saya—duluan ya?”

“Gia,” panggil Haris. Membatalkan niat Gia untuk melangkah menjauhinya. Gadis itu menoleh tanpa suara, hanya menatapnya bingung. Menunggu kelanjutan bicara dari Haris yang memanggilnya.

“Saya—boleh gantian ngomong?” tanya Haris. Kini giliran Gia yang termangu. Beberapa detik setelahnya, Gia mengangguk. Kemudian dengan dadanya yang bergemuruh akibat jantungnya sendiri, Gia menanti Haris mengeluarkan kalimat selanjutnya.

Haris menunduk menatap sepatunya sendiri seraya lagi-lagi meneguk liurnya sendiri. Dan setelahnya..

“Maaf.”

Satu kata, namun berhasil membuat Gia mengerti ke mana arah pembicaraan mereka.

“Maaf soal yang waktu itu, Gi. Saya minta maaf karena udah kasar sama kamu, Gia. Perkataan saya pasti nyakitin perasaan kamu banget waktu itu, tapi sejujurnya saya nggak bermaksud begitu, kok. Tapi ya, tetep nggak bisa dibenarkan,” lanjut Haris.

Detik itu, Gia benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Permintaan maaf Haris yang sederhana namun terdengar tulus di telinganya itu resmi membuatnya terdiam. Hingga suara berat lelaki di hadapannya kembali menyadarkannya.

“Saya bener-bener minta maaf, Anggia. Saya pastiin kejadian waktu itu nggak akan terulang lagi.”

Gia terdiam sesaat, kemudian gadis itu tersenyum tipis meski ia sudah ingin menangis saat itu juga. “Nggak pa-pa, Kak. Salah saya juga karena nggak tau situasi. Makasih udah ngejelasin semuanya, Kak Haris. Saya—lega dengernya kalo ternyata Kakak nggak bermaksud kayak gitu,” ucap Gia seraya tersenyum. Haris tahu Gia jujur saat ini, sebab ia dapat dengan jelas menangkap raut lega yang tercetak di wajah cantiknya—yang sudah lama luput dari penglihatannya. Namun hal itu justru meningkatkan rasa bersalahnya. Haris jadi membayangkan betapa terlukanya Gia akibat ucapannya hingga gadis itu benar-benar merasa lega kala Haris mengatakan bahwa ia tidak benar-benar bermaksud mengatakannya.

Setelahnya hening menguasai keduanya. Baik Haris maupun Gia, keduanya sama-sama salah tingkah. Jika ada Dhimas di tengah-tengah keduanya sekarang, maka pria itu akan bergerak selayaknya Dewa Cinta yang akan segera mendorong keduanya agar kembali menghadap satu sama lain dan langsung saja mengutarakan perasaan masing-masing. Sayangnya Dhimas sudah lebih dulu pulang, maka apa yang akan terjadi sekarang, sepenuhnya bergantung pada Haris dan Gia.

“Gia kakinya masih sakit nggak?

“Hm? Oh, udah nggak terlalu, Kak. Udah diperban juga, jadi aman,” balasnya seraya menggoyang-goyangkan kakinya yang terbalut perban. Sejak terluka tadi, Gia memang tak lagi mengenakan sepatunya. Gadis itu mengenakan sandalnya hingga acara selesai.

Haris mengangguk-angguk. “Hati-hati jalannya, takut kesenggol-senggol nanti berdarah lagi.”

“Iya.”

Hening kembali mengisi, membuat Haris kembali berpikir keras harus mencari topik apa lagi. Beruntung, Gia kembali bersuara.

“Kak Haris,” panggilnya lagi.

“Ya?”

“B-boleh absen lagi, kan?”

Tak ada yang bisa Haris lakukan selain membiarkan sudut bibirnya berkedut menahan senyuman. Semakin bagus jika tawanya tak meluncur di hadapan Gia yang kini menatapnya polos. “Iya, boleh, Gia.”

Tepat setelah Haris menjawab, Gia tersenyum senang. Kedua matanya melengkung sempurna menyerupai bulan sabit, Gia tak pernah gagal untuk memikat Haris untuk jatuh lebih dalam lagi.

“Kamu kok belom pulang?” tanya Haris. Memilih untuk mencari topik pembicaraan lain agar keduanya tak lagi perlu bersikap kikuk di depan satu sama lain.

“Ini mau pulang. Itu ojolnya udah di depan jalan sana,” balas Gia. Ah, baru saja Haris ingin mengajaknya berbicara lebih lama. Sebagai balasan atas waktu yang hilang selama hubungan keduanya tak baik. Namun rupanya ia harus mengurungkan niatnya, membuatnya diam-diam mendesah kecewa.

“Oh, oke.”

“Duluan ya, Kak!” pamit Gia. Haris mengangguk seraya memegangi tengkuknya sebagai respons dari ucapan Gia. Setelahnya ia membiarkan gadis itu berlalu pergi.

“Gia,” panggilnya tiba-tiba. Membuat perempuan yang baru saja berjalan beberapa langkah itu kembali menoleh.

“Ya, Kak?”

Haris diam seraya menahan senyumannya agar tidak mengembang semakin lebar. Setelahnya ia menggeleng. “Enggak, hati-hati pulangnya, Gia.”

“Iyaa, Kak Haris juga yaa!” balasnya. Setelahnya Gia pun kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya. Namun entah karena tidak rela gadis itu pergi atau bagaimana, Haris kembali memanggilnya.

“Gia!”

Gia kembali menoleh, “Kenapa, Kak?”

Namun pemuda itu kembali menggeleng, “Enggak, kamu mirip mama saya.”

Sontak, Gia mengerutkan keningnya bingung. Sekon berikutnya gadis itu tertawa, “Masa? Yahh, tapi Kak Haris nggak mirip papa saya.”

Haris kembali menahan senyumnya, “Nggak pa-pa, Gia. Hati-hati pulangnya ya!”

“Iyaaa, Kak Haris juga yaa!” balasnya seraya terkekeh.

“Gia!”

“Kenapa lagi, Kaaak? Kenapa manggilin saya terus gitu?”

“Saya suka nama kamu soalnya,” balas Haris seraya terkekeh. Membuat Gia pun ikut tertawa di tempatnya.

Gia masih mempertahankan senyumnya bahkan setelah tawanya mereda. Setelahnya gadis itu tak membalas ucapan Haris. Melainkan memilih untuk menyudahi pertemuan mereka hari itu. Dilambaikan tangannya halus pada pemuda yang berdiri beberapa langkah darinya.

“Pulang dulu ya, Kak. Sampai ketemu hari Senin?”

Haris membalasnya dengan anggukan kecil seraya tersenyum tipis. “Sampai ketemu hari Senin, Anggia!”