raranotruru

Tak ada yang Yasmine lakukan sepanjang perjalanan selain memandangi pohon-pohon yang seakan bergerak pesat tertinggal jauh dari penglihatannya seraya menggigiti kuku-kukunya. Dalam hatinya gadis itu terus merapalkan doa yang sekiranya dapat menenangkan detak jantungnya yang terdengar hingga rungunya sendiri. Siapapun yang melihatnya saat ini pasti dapat mengerti bahwa Yasmine sedang gelisah bukan main.

Ayah melirik Yasmine dari kaca yang bertengger di dekat keningnya, “Kenapa, Adek?”

Kaget, Yasmine berjengit. Setelahnya ia menggeleng cepat seraya berusaha kembali menormalkan ekspresinya. “Nggak, nggak pa-pa kok, Yah!” Gadis itu membalas dengan senyum dibuat-buat.

Di sebelahnya, Azriel yang sedari tadi hanya duduk santai seraya menikmati lagu yang terputar di radio itu pun turut menoleh. Memandang sang adik yang meskipun berkata baik-baik saja, tetap masih menunjukkan gelagat gelisahnya. Yasmine kini memilin jarinya sendiri, membuat Azriel ngeri jari adiknya itu akan terpelintir. Maka pemuda itu menepuk punggung tangan Yasmine pelan, “Ngapain, sih?”

Yasmine hanya tersenyum tipis seraya menggeleng. Azriel tak banyak bicara, pemuda itu memilih untuk menggenggam tangan adiknya yang terasa dingin. Menyalurkan kehangatan serta ketenangan pada Yasmine. Pula sedikit keberanian dalam dirinya agar Yasmine tak lagi takut. Melalui tatapannya, Azriel seakan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Azriel paham bahwa adiknya itu gelisah, sejujurnya sama dengan dirinya. Ayah memang sudah bicara dengan Eyang Putri, tetapi apakah perubahan sudah benar-benar terjadi?

Selang beberapa lama, Yasmine dan keluarganya sampai pada rumah besar bernuansa klasik yang cukup sering mereka datangi setiap akhir pekan. Keluarganya itu memang sering mengadakan pertemuan bersama, yang sejujurnya tidak Azriel dan Yasmine sukai sebab penuh dengan kepura-puraan. Keluarganya memang berkumpul dan saling memasang senyum manis serta melontarkan sapaan paling hangat, yang jika dilihat oleh orang lain membuat keluarganya terkesan rukun. Namun nyatanya mereka hanya berkumpul untuk saling memamerkan tahta atau jabatan.

Berkali-kali Azriel menyayangkan, dan mencibir dalam hati. Semuanya berubah semenjak Eyang Kakung meninggalkan mereka semua. Persaingan semakin menjadi, tak ada yang dapat menjadi penengah.

Ayah memimpin keluarganya untuk memasuki rumah besar yang telah dipenuhi keluarga besarnya yang lain. Disusul Bunda yang setia mendampinginya, dan Azriel beserta Yasmine yang bersembunyi di balik punggung kekar sang kakak. Sekon berikutnya tangan Ayah tergerak untuk mengetuk pintu kayu yang sebelah bilahnya sudah terbuka itu.

Suara ketukan pintu itu otomatis membuat Ayah dan keluarganya menjadi pusat perhatian lantaran semua tamu yang hadir menoleh ke arah pintu. Melihat Ayah yang datang, mereka semua lantas bangkit dan menyambut Ayah dengan sukacita. Termasuk Eyang Putri yang berdiri dari singgasananya dan menyambut Ayah dengan rentang tangan paling lebar, siap untuk memeluknya.

Yasmine, di belakang Azriel, gadis itu berusaha untuk tetap tidak terlihat. Tangannya tak henti-henti mencengkeram kemeja merah marun Azriel hingga kusut.

Selesai bercengkrama dengan Ayah, Eyang lanjut memeluk Bunda singkat. Setelahnya wanita itu melirik ke arah Azriel yang berada tak jauh darinya. “Yang ikut cuma Azriel?” tanyanya, melirik Bunda dan Ayah secara bergantian.

Ayah, Bunda, dan Azriel saling bertukar pandang. Sementara Yasmine semakin meringkuk di balik tubuh Azriel. Bersembunyi agar Eyang tak menemukannya. Jantungnya berdegup semakin kencang, mungkin Azriel turut dapat merasakan detaknya.

Namun, Ayah selalu mengambil jalan berlawanan dengan yang diharapkan Yasmine. Seraya tersenyum, Ayah menjawab pertanyaan Eyang. “Yasmine juga ikut, Bu.”

Eyang mendelik bingung, “Mana?”

Ayah menoleh ke arah Azriel. Sadar bahwa ia menyembunyikan adiknya, Azriel menyingkir. Membuat Yasmine yang hari itu memakai gaun keunguan bermotif floral itu pada akhirnya terekspos. Gadis itu menunduk, menghindari tatapan mata Eyang yang kini tertuju padanya.

Gadis itu menunduk hormat sebab tahu adab terhadap yang lebih tua, lebih-lebih Eyang adalah seseorang yang dituakan. Pun, Yasmine tak ingin membuat kesalahan lagi. Selama ini telah menumpahkan seluruh hormatnya terhadap eyang saja masih salah, apalagi kalau ia kurang ajar.

Yasmine semakin menundukkan pandangannya kala Eyang mengambil satu langkah maju ke arahnya. Takut. Yasmine selalu takut jika harus berhadapan dengan Eyang. Akankah ada tamparan keras lagi hari ini? Akankah seluruh keluarganya akan kembali menyaksikan sinetron dengan rating paling tinggi lagi di depan matanya hari ini?

Eyang terus mengikis jarak antara dirinya dengan Yasmine. Diam-diam, Azriel pun merasa ketar-ketir. Sebelah tangannya ia gunakan untuk menjaga Yasmine dari belakang. Takut-takut gadis itu terhuyung ke belakang tanpa penjagaan sebab serangan Eyang.

Namun, syukurnya—dan anehnya, segala hal buruk yang sebelumnya tercetus menjadi sebuah prediksi justru tidak terjadi. Azriel makin merasakan peluh yang merambati dahinya. Entah karena gerah terkepung banyak orang atau karena situasi yang memang membuatnya panas. Sebab sekarang, Eyang berhenti tepat di hadapan wajah Yasmine. Jaraknya hanya beberapa centi jika dihitung-hitung.

Eyang tak bicara apapun. Bibirnya tertutup rapat, begitu pula dengan Yasmine. Gadis itu memilih untuk terus menunduk dan memainkan jemarinya sendiri. Eyang dengan wibawanya memang selalu mendominasi. Selayaknya seorang priyayi, penampilan selalu rapi bagai tanpa cela. Rambut Eyang selalu digelung ke atas, jalannya tegak seakan tak ada yang dapat menjatuhkan harga dirinya.

Sejujurnya, jika hubungan keduanya baik, jika Eyang menerima Yasmine, gadis itu akan dengan senang hati menjadikan Eyang seorang panutan. Dulu, jauh sebelum Yasmine mengerti kebencian yang dilontarkan Eyang padanya, Yasmine selalu merasa Eyang adalah 'Kartini'-nya. Sebab kehadiran Eyang baginya terlihat seperti para pahlawan wanita yang dipajang di dinding kelas sekolahnya dulu.

Eyang berani, pikirannya selalu kritis akan sesuatu, bicaranya lugas, berwibawa, dan merupakan seorang pemimpin yang mumpuni bagi keluarganya. Lihat, kan, betapa hebat Eyang Putrinya?

Namun sayang, semua gambaran itu harus tercoreng dan musnah sebab sikap Eyang yang memihak patriarki.

Yasmine melirik Eyang sekilas. Tatapannya masih sama, tajam. Sebelah alis Eyang terangkat sembari menatapnya, “Ini, adiknya Azriel?”

“Iya, Eyang,” jawab Azriel.

“Eyang nggak nanya kamu, Mas. Eyang tanya orang yang ada di hadapan Eyang,” balas Eyang tajam. Membuat nyali Azriel menciut bagaikan botol plastik yang diremas hingga habis pasokan udara di dalamnya.

Maka Yasmine meneguk ludahnya. Mengumpulkan segenggam keberanian yang ia punya, Yasmine kembali menatap wajah Eyang. Sekon berikutnya ia mengangguk sebelum akhirnya menjawab dengan suara bergetar. “I-iya, Eyang.”

Eyang berdecak.

Saat itu, tak ada seorang pun di ruangan itu yang berani berkata apapun. Terutama Yasmine yang berdiri tak jauh dari Eyang. Gadis itu bahkan merasakan tubuhnya mulai gemetar, ia hanya berharap agar tubuhnya tidak limbung saat itu.

Hening menguasai cukup lama. Dengan semua tatapan mata yang tegang, menanti apa yang akan terjadi antara Yasmine dan Eyang di tengah ruang keluarga saat itu.

“Ini adiknya Azriel?” tanga Eyang sekali lagi.

Yasmine bingung. Pun seluruh anggota keluarganya yang lain. Namun, kali ini Yasmine memilih untuk menatap wajah Eyang sepenuhnya. Sejelas-jelasnya. Menelisik netra Eyang yang selalu menatap tajam ke arahnya. Berbekal pesan Ayah, yang menyatakan bahwa kali ini mereka adalah keluarga yang takkan meninggalkan Yasmine sendirian, Yasmine menatap Eyang balik dengan tegas. Setelahnya Yasmine kembali memecah keheningan.

“Iya. Saya adiknya Azriel, Eyang,” balas Yasmine. Lugas, namun tetap tersampaikan dengan sopan.

Kini, giliran Eyang yang menatapnya dari atas sampai bawah. Ujung kepala hingga ujung kaki, tak ada satu pun anggota tubuhnya yang terlewat dari penilaian Eyang kala itu. Sesekali Eyang menatapnya remeh, namun Yasmine tak akan gentar lagi kali ini. Sekarang kekuatannya bertambah. Tak hanya Azriel, tapi ia juga punya Bunda, dan Ayah.

Tak lama Eyang mengangguk-angguk, seakan selesai menilai Yasmine secara keseluruhan. Wanita dengan kacamata antik di hadapan Yasmine itu menipiskan bibir, tersenyum miring ke arahnya. Entah mencibir atau memuji, Yasmine tidak terlalu tahu.

Namun jawabannya segera ia temukan ketika suara tegas namun halus milik Eyang mengalun di telinganya. “Iya, baru saya percaya ini adiknya Azriel. Pemberani. Kalau yang pertama tadi ndak percaya, penakut!”

Yasmine terperangah, terlebih ketika melihat Eyang tersenyum tipis ke arahnya. Sementara Azriel di sebelahnya, pemuda itu berjongkok melepas lega. Pula Ayah dan Bunda yang turut menatap Yasmine dengan tatapan yang sarat akan bahagia yang melimpah ruah.

Sekon berikutnya, mengabaikan semua anggota keluarga lain yang masih mencerna apa yang terjadi saat ini, Eyang langsung menarik Yasmine ke dalam sebuah dekapan hangat yang selalu menjadi dambaannya setiap kumpul keluarga.

Yasmine tak langsung membalas, gadis itu masih mencerna sebab semuanya masih terasa seperti mimpi. Lebih dari sebuah mimpi. Usapan halus Eyang pada punggungnya akhirnya menyadarkan Yasmine, membuat gadis itu segera membalas Eyang dengan dada yang menghangatkan serta bahagia yang membuncah.

Setitik air mata bahagia akhirnya mengalir dari kedua netranya yang selama ini sudah terlalu lelah meluruhkan tangisan Yasmine yang tak pernah cukup untuk mewakili semua bebannya. Dekapannya dilepas Eyang. Namun kedua tangan Eyang beralih pada bahunya.

Yasmine menggenggamnya erat, merasakan sebelah tangan Eyang yang kasar. Mungkin hasil kerja keras Eyang dulu saat membesarkan semua anaknya. Hari ini bola mata Yasmine berkilat cantik, berbalas bahasa dengan milik Eyang yang rupanya persis dengan miliknya. Yasmine terkekeh ketika melihat wajah Eyang, malu sebab hanya dirinya yang menangis. Ah, lihat itu, Eyang bahkan jauh lebih tegar dan kuat darinya.

Eyang kemudian melihat ke arah sekeliling. Menatap satu persatu anak dan cucunya. Setelahnya Eyang memecah keheningan dengan suaranya yang lantang seraya menunjuk Yasmine, “Ini cucu Eyang, paling Eyang sayang karena perempuan satu-satunya. Awas ya, kalo ada yang nakalin! Nanti Eyang tarik jambang rambutnya! Terutama kamu, Jiel!”

“LHA KOK JIEL?!?” balas Azriel tersinggung. Sebab sedari tadi ia tak melakukan apa-apa. Terima kasih kepada Azriel, karena pada akhirnya ia berhasil mencairkan suasana. Gelak tawa yang sedari tadi tak memunculkan tanda untuk turut hadir kini pecah memenuhi ruangan.

Setelah reda, Eyang kembali bicara. “Habis ini, Eyang minta ndak usah ada lagi yang saling membandingkan. Kalian semua itu saudara, betul kata Eyang Kakung dulu, harusnya saling bahu-membahu. Bukan saling menginjak bahu satu sama lain untuk berebut jadi yang paling tinggi,” ucap Eyang.

Bola matanya kini menatap Yasmine teduh, “Cah ayu.. maafin Eyang, nggih? Harusnya dari dulu Eyang jaga kamu, bukannya meninggalkan kamu sendirian.”

Yasmine hanya diam dan mendengarkan Eyang dengan seksama seiring Eyang mengembuskan napasnya. Menyesal. “Ayah kamu ke sini, cerita semuanya. Ayah bilang sama Eyang kalau dia nyesel, punya putri yang cantik, pinter, tapi dia sia-siakan. Ayah kamu benar-benar menyadarkan Eyang,” jelas Eyang. Yasmine kemudian merasakan kehangatan menjalar menggenggam kedua tangannya, rupanya itu berasal dari Eyang. “Eyang Putri janji, habis ini ndak akan lagi begitu sama Yayas, ya? Pegang ucapan Eyang, ya, Nduk? Ini berlaku juga untuk kalian semua, ini—amanahnya Eyang Kakung.”

Yasmine hanya mengangguk. Setelahnya Eyang pun mengajak seluruh tamu yang hadir untuk mengisi meja makan yang luasnya cukup untuk menampung seluruh makanan untuk seluruh tamu yang hadir. Pun, kursinya cukup untuk seluruh anggota keluarga. Jika biasanya ada satu kursi yang kosong tanpa penghuni, kini seluruhnya terisi penuh. Sebab kini Yasmine bergabung di dalamnya.

Gadis itu tak lagi tenggelam, Yasmine kini turut naik ke sebuah sekoci besar yang tiba-tiba datang menyelamatkannya. Sekoci besar yang berisi seluruh keluarganya.

Yasmine tersenyum penuh arti, sebab hari ini ia menjadi bagian dari lingkaran keluarga yang lebih besar.

Ini dia. Inilah keluarga yang selama ini Yasmine impikan.

Panji bergegas keluar ketika Kiara mengabarkan gadis itu sudah berdiri di depan gerbang rumahnya pukul tiga sore. Katanya gadis itu membuat kue hari ini, dan membaginya dengan Panji dan mamanya merupakan hal yang biasa gadis itu lakukan.

Kiara sedikit berjengit ketika pintu kayu bercat putih itu terbuka dan menampakkan Panji yang nampaknya baru bangun tidur. Nampak dari penampilannya yang acak-acakan. Rambutnya tak disisir, lengan kaus putihnya tergulung asal, dan satu-satunya yang rapi adalah celana training hitamnya.

Sorry ya, Kir. Baru bangun, lo nunggu lama?” tanya Panji. Suara itu, suara serak khas orang bangun tidur yang sudah lama tak menghampiri rungu Kiara, berhasil membuat gadis itu menelan ludahnya.

Panji menyisir rambutnya menggunakan jari-jari. Di hadapannya, Kiara segera menggeleng pelan. Seraya tersenyum, Kiara menyerahkan sepiring bolu cokelat buatannya ke hadapan Panji. Yang segera pemuda itu terima dengan senang hati. Tahu ada , tak lupa Panji pun mengucap terima kasih.

“Tante Tiur lagi pergi?” tanya Kiara. Panji mengangguk, “Iya, lagi pergi sama Galuh.”

“Ohh,” balas Kiara. “Tante Tiur sama Galuh tuh beneran udah kayak ibu sama anak deh.”

Mendadak, kantuk Panji yang bersisa itu menguap. Bersatu dengan udara. Mendengar konfirmasi kedekatan Galuh dengan ibunya membuat Panji menahan senyumnya seraya menunduk. “Iya?” tanya Panji.

Kiara mengangguk, “Suka diledekin sama Juna. Mama lo lebih sayang Galuh daripada gue sama Juna. Yaa, wajar sih. Gue sama Juna emang jarang ada waktu buat mama lo. Galuh yang paling sering nemenin Tante Tiur.”

Panji hanya manggut-manggut menyimak ucapan Kiara. Setelahnya ia hanya diam. Menatap bolu cokelat hangat di tangannya, setelahnya tatapannya ia arahkan pada wajah Kiara. “Ini beli bahannya sama Juna?” tanya Panji.

Dulu, setiap kali Kiara ingin membuat kue, gadis itu akan membombardir ponselnya dengan ratusan pesan untuk membangunkannya. Meminta Panji untuk mengantarnya membeli semua bahan untuk membuat kue, pula membantunya untuk membuat kue yang pada akhirnya dibagikan pada beberapa tetangga terdekat.

“Enggak,” jawab Kiara. “Sendiri.”

Panji mengangkat sebelah alisnya, “Sendiri?”

“Sendiri,” Kiara mengangguk mantap.

“Kenapa nggak minta temenin Juna?” tanya Panji. Namun Kiara menggeleng, “Nggak mau. Kalo bikin kue seruan sama lo. Jadi gue selalu sendiri semenjak lo pergi.”

Hening.

Baik Panji dan Kiara sama-sama terdiam. Panji tahu, dirinya termasuk jahat sebab meninggalkan Kiara tanpa kabar. Dan membiarkan gadis itu satu-satunya orang yang tidak tahu perihal kepergiannya. Namun ini semua juga demi dirinya sendiri. Bagaimanapun juga harus ada yang mengambil tindakan. Kalau tidak Kiara, maka dirinya yang harus mengambil tindakan.

“Lo chat gue jam setengah tiga pagi, nggak ngigo kan, Ji?” tanya Kiara.

Benar juga, Panji baru ingat bahwa ia harus membicarakan sesuatu dengan Kiara.

Pemuda itu kemudian menggeleng, “Enggak. Beneran kok, itu.”

“Terus gimana?”

“Gimana apanya?” tanya Panji.

“Kita?”

Panji terkekeh pelan. “Ohh, kita,” ucapnya. “Lupain aja. Kali ini bener-bener lupain, secara damai. Kita bisa ngobrol lagi.”

Kiara mengulum bibirnya, “Gue minta maaf, Ji. Harusnya waktu itu gue ngasih lo kejelasan, nggak mainin perasaan lo kayak gitu.”

Netra Kiara berkaca-kaca, penyesalan itu rupanya masih bersemayam di dalam diri Kiara. Bedanya, Panji tak lagi merasakan ada yang terluka dalam hatinya.

Maka Panji tersenyum tipis, lebih kepada menertawakan dirinya sendiri. “Nggak pa-pa, Kir. Gue juga minta maaf, ninggalin lo tanpa kabar dan belakangan ini kasar sama lo. Makasih, btw, udah bawain gue bolu lo.”

“Sama-sama,” balas Kiara. “Can we be friends again?

Panji mengangguk singkat, “Ya. Tapi nggak kayak dulu.”

Kini giliran Kiara yang mengangguk paham, “I see, that's okay. I get it.

Benar, Panji dan Kiara bisa berteman lagi. Namun tidak seperti dulu di mana Panji akan selalu ada di depannya untuk melindunginya. Bagaimanapun juga Panji harus menghargai posisi Juna sebagai kekasih Kiara. Pemuda itu harus menjaga sedikit jaraknya agar tidak mendahului posisi Juna. Agar tak lancang mengambil alih posisi yang seharusnya diisi oleh Juna.

So, the lift has been lifted?” tanya Kiara lagi.

I guess so,” balas Panji seraya tersenyum.

Baru saja keduanya ingin lanjut berbincang, seseorang menginterupsi. “Heh, heh, ngapain, tuh? Ngapain tuh?!”

Panji melihat Galuh yang rupanya sudah pulang bersama sang ibu. Kedua tangan gadis itu membawa banyak sekali tas belanjaan berisi sayur-sayuran dan bahan makanan lainnya. Panji baru tahu, rupanya Galuh menemani ibunya berbelanja bulanan. Gadis itu bahkan tak mengizinkan ibunya membawa seluruh bawaan berat itu.

“Eh, Kiara,” sapa Tiur. Kiara mengangguk sopan membalas sapaan Tiur. “Udah lama, Kir?”

“Nggak kok, Tante. Aku baru, ini abis nganterin bolu aja buat Tante sama Panji. Aku yang buat tadi,” balas Kiara ramah.

“Waah, repot-repot. Makasih banyak ya, Nak!” balas Tiur. Setelahnya wanita paruh baya itu beralih menatap Panji.

“Ekhem, permioooss!” sapa Juna tiba-tiba. Pria berbahu lebar dengan proporsi tubuh sempurna itu bergabung dengan perkumpulan di depan rumah Panji. Siapapun yang melihatnya pun pasti tahu, Juna juga baru bangun tidur. “Ada apa nih, rame-rame? Ada yang mau hajatan, kah?”

“Sunatan lu, kan, Jun?” canda Panji. “Sembarangan!” protes Juna. Setelahnya netranya menangkap sepiring bolu cokelat yang berada di tangan Panji.

“Wuih, ada makanan, nih! Bagi, Ji!”

“Enak aja, ini punya gue! Minta tuh sama cewek lo!”

Panji dan Juna terus ribut, sementara Tiur dan Kiara sibuk menengahi. Keributan keduanya terhenti ketika Tiur mengambil alih bolu cokelat dan mengatakan bahwa mereka akan kembali melakukan temu kangen. Keputusan itu langsung disetujui mengingat Panji pun sebentar lagi harus kembali ke perantauannya.

“Ya udah, Panji. Kamu mending bantuin Galuh deh, bawain belanjaannya ke dalem. Kasian, dari tadi bawa-bawa pasti berat. Nggak mau gantian sama Mama dari tadi,” ucap Tiur.

Mendengar ucapan mamanya, dan juga nama Galuh tentunya, Panji langsung menurut. Dengan sigap ia melangkah keluar pagar dan menghampiri Galuh setelah memberikan sepiring bolu itu kepada sang ibu. “Sini, Gal. Gantian,” ucap Panji.

Galuh akhirnya memberikan separuh bawaannya kepada Panji. Meskipun Panji memintanya agar memberikan semua belanjaannya, Galuh menolak. Padahal kekuatan Panji pasti jauh lebih besar darinya, membawa belanjaan sebanyak ini pun pasti lebih mudah bagi pria itu. Namun biarlah ini menjadi kontribusi Galuh terhadap sang malaikat Tante Tiur sebab sudah turut membayarkan belanjaannya.

“Separo-separo aja, Ji! Bisa kok gue!” ucap Galuh. Panji akhirnya mengalah dan membawa setengah dari bawaan Galuh. Pemuda itu mengangkat tas belanjaan berisi berbagai macam makanan ringan dan segulung alumunium foil yang diletakkan mencuat dari dalam tas belanja. Membuat pinggiran benda itu tak sengaja mengenai bagian pinggir perut Galuh.

Gadis itu terkejut dan sedikit berjengit, membuat Panji menoleh heran. “Kenapa, Gal?”

“Ituuu, alumunium foilnya kena gue. Geli!” balas Galuh.

“Lah, gelian lu?”

“Ya iyalah, emang ada manusia nggak geli?” tanya Galuh.

Berbicara tentang kelemahan diri pada manusia paling jahil seantero dunia adalah kesalahan yang fatal. Dan Galuh baru saja melakukannya.

Alih-alih berhenti dan memindahkan posisi alumunium foil itu, Panji justru meletakkan tas belanjaan yang sempat dijinjingnya. Kemudian justru menggelitik Galuh pada tempat yang sama. Sekali, tiga kali, Galuh masih menepisnya dengan sabar.

Namun untuk yang kesekian kali—

“GELI ANJ—”

Galuh menoleh cepat. Dibiarkannya semua tas belanjaan itu berserakan di jalan. Setelahnya ia terpaksa berlari mengejar Panji yang baru saja menggelitiknya untuk kesekian kali. Sebab ketika ia menoleh dan bersiap memukulnya, pemuda itu sudah menghilang lantaran berlari dengan kecepatan tinggi.

Dari kejauhan Panji berlari mundur seraya mengejek Galuh dengan perangai jahilnya. Ada setitik perasaan menggelitik yang sudah lama tak Panji rasakan kala melihat Galuh dengan kekesalannya yang membara mengangkat tangannya di udara seraya berlari ke arahnya, siap untuk menghabisi nyawa Panji saat itu juga.

Sudah lama sekali sejak terakhir kali Panji tertawa selepas sore ini. Membuat kebahagiaan turut menyeruak dalam diri Juna yang menyaksikan sahabatnya kala itu.

The weight has been lifted. Sebab ketika Panji memutuskan untuk kembali ke rumah, hatinya pun menemukan rumah baru untuk tempatnya menetap.

Panji mengusap wajahnya gusar. Tubuhnya itu berguling kesana dan kemari di atas kasur empuk berbalut sprei berwarna abu-abu. Diliriknya jam digital yang memancar memberi tahu waktu melalui layar ponsel canggihnya. Pukul setengah dua pagi, kedua mata Panji masih segar seakan disiram oleh air dingin. Belum digandrungi kantuk sama sekali.

Gara-gara Kiara mengiriminya pesan tadi, Panji jadi tidak bisa tidur. Ia memikirkan segala sesuatu yang menyangkut dirinya dan Kiara.

Beban yang sejak dulu menghimpit hatinya hingga membuatnya pecah berkeping-keping itu, masihkah di sana?

Isi kepalanya yang dulu selalu dikuasai oleh Kiara, memutar semua rekaman memorinya dengan Kiara setiap kali dirinya melihat lokasi yang pernah keduanya kunjungi, masihkah sama?

Sudah hampir dua bulan Panji menghabiskan waktu liburnya di kampung halaman. Kembali bercengkerama dengan segala hal yang ia tinggalkan di masa lalunya. Namun, kalau dipikir-pikir, sudah lama pula rasanya Panji mengabaikan segala hal tentang hubungan Kiara dan Juna. Hatinya pun rasanya sudah lama hampa. Tak ada lagi degupan kencang ketika telinganya mendengar nama Kiara, tak ada lagi rasa cintanya yang mengalir begitu deras untuk seorang Kiara.

Yang menjadi pertanyaan Panji adalah—apakah sudah benar-benar hilang, atau hanya bersembunyi di suatu tempat dalam relung hatinya?

Pikirannya kini bergulir pada seseorang lain yang belakangan ini sering berurusan dengannya. Tanpa disadari sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah lengkungan. Galuh, seseorang yang berhasil membuat Panji memusatkan pandangan padanya. Menjadikan Galuh seakan-akan poros tempat dunianya berputar. Galuh dan Kiara adalah dua orang yang sama cantiknya. Namun entah mengapa Panji merasakan ada sesuatu yang berbeda dari kecantikan yang bersemayam dalam diri Galuh.

Senyuman Panji luntur. Cukupkah itu untuk memikat hatinya yang sudah lama terpaut pada Kiara? Bisakah Galuh mengambil alih daerah kekuasaan Kiara dalam hatinya? Benarkah ia menyukai Galuh?

“Ah, pusing amat dah mikirin ginian!” umpat Panji. Pria itu memutuskan bangkit dan menyugar rambutnya yang sudah berantakan. Mengusap wajahnya sekali lagi, Panji memilih untuk berjalan menuju balkon kamarnya. Mencari udara segar yang siapa tahu dapat menyegarkan pikirannya, juga menenangkan hatinya.

Kepalanya sontak tertoleh kala ia mendengar suara perempuan dari suatu tempat yang tak jauh. Sebelah alisnya terangkat ketika menangkap sosok Galuh dengan piyama biru muda berlengan panjang yang membalut tubuhnya. Gadis itu juga terlihat sedang bersandar pada teralis balkon rumahnya seraya sebelah tangannya menempelkan ponselnya pada telinga, entah berbincang dengan siapa di seberang sana.

Panji pun memilih diam dan memperhatikan. Tak ingin mengganggu perbincangan Galuh. Setelah gadis itu menutup teleponnya, barulah Panji menyapanya.

“Sst sst!” ucapnya lumayan keras hingga terdengar pada Galuh yang tinggal di sebelah rumahnya. Balkon keduanya pun cukup dekat. Bahkan rasanya Panji dapat hanya loncat jika ingin mengunjungi Galuh ke rumahnya.

Galuh terlonjak, sekon berikutnya gadis itu pun tersenyum ramah setelah mengetahui Panji-lah yang memanggilnya. “Hai! Kok belom tidur?”

Galuh berjalan mendekat ke arah balkon rumahnya yang bersebelahan dengan milik Panji, membuat keduanya dapat berbicara dengan satu sama lain dalam jarak yang lebih dekat agar tak perlu berteriak sehingga mengganggu yang lain. Mengingat ini sudah dini hari, semua orang pasti sedang terlelap beristirahat dari hari yang penat.

Panji balas tersenyum, pemuda itu pun balas berjalan mendekati Galuh, “Tau, nih. Nggak bisa tidur. Lo abis ngapain?”

Galuh menunjukkan ponselnya pada Panji, “Ini, abis teleponan sama temen gue. Curhat dia, abis diputusin cowoknya.”

“Jam segini?” tanya Panji terkejut.

Galuh mengangguk pelan seraya terkekeh, “Jam segini.”

Mendadak Galuh teringat sesuatu, “Eh, lo kapan balik ke Yogya?”

“Minggu depan, Gal,” jawab Panji.

Kedua bola mata Galuh sedikit membulat, “Oh? Cepet ya.. nggak kerasa.”

Setelahnya gadis itu menunduk. Dan Panji dapat dengan jelas menangkap kekecewaan datang dari Galuh. Ah, andai gadis itu tahu. Panji pun rasanya ingin membekukan waktu untuk tinggal dalam momen ini selamanya. Entah mengapa rasanya Panji yang selalu enggan pulang itu kali ini justru tak ingin meninggalkan rumahnya lagi meskipun harus.

Panji terkekeh, “Iya, ya? Nggak berasa tiba-tiba udah harus balik lagi. Mungkin karena kitanya nikmatin waktu, jadi nggak berasa.”

Galuh hanya membalasnya dengan seulas senyum serta anggukan kecil. “Kenapa sih lagian lo nggak pulang-pulang? Kasian Tante Tiur kesepian, kangen sama anaknya.”

“Ah itu.. yaa, ada lah. Personal reasons aja,” balas Panji. “Lo kok bisa deket banget sama Mama?”

“Ah itu.. yaa, ada lah. Personal reasons aja,” canda Galuh, mengulangi perkataan Panji barusan. Keduanya kemudian terkekeh bersama.

“Awalnya ya karena mama lo duluan, Tante Tiur baik banget semenjak awal kepindahan gue ke sini. Beliau yang paling sering bantu dan mastiin apakah gue butuh sesuatu. Tante Tiur juga paling sering bagi lauk masakannya ke gue, sering ngajak gue makan siang bareng juga. Ya.. karena itu tadi, sebenernya mama lo kesepian,” jelas Galuh pada akhirnya. “Waktu itu gue nggak sengaja liat mama lo ngelamun di depan teras, sering banget kayak gitu, Ji. Akhirnya waktu gue mau pergi beli tanaman, gue ajak deh. Eh, ternyata beliau suka juga. Ya udah deh, dari situ kita nyambung.”

Panji manggut-manggut, “I see. Makasih ya, Gal, udah nemenin Mama. Maaf kalo Mama jadi banyak ngerepotin lo. Besok-besok kalo Mama nitip tanaman lagi, bilang aja ke gue. Biar gue ganti.”

Galuh menggeleng pelan seraya bibirnya menampilkan seulas senyum. “Nggak usah, Ji. Tante Tiur sama sekali nggak pernah ngerepotin gue, kok. Gue malah yang sering ngerepotin beliau. Jadi, lo tenang aja. Apa yang gue lakuin untuk mama lo itu hasil dari keringanan tangan beliau juga yang nolongin gue setiap hari.”

Ah, dengar itu. Jawaban Galuh berhasil memantik sebuah kehangatan dalam dada pemuda di hadapannya. Membuat Panji tak lagi dapat menahan sudut bibirnya yang berkedut. Lagi-lagi pemuda itu terpana. Sudah Panji katakan sebelumnya, ada sesuatu yang berbeda tersimpan dalam kecantikan Galuh.

Thank you, Gal,” ucap Panji tulus.

Hening menyelimuti seiring keduanya memilih untuk diam. Baik Panji dan Galuh sama-sama mendongak, memilih untuk melihat ke arah bulan yang memancar terang dari langit gelap. Seakan menyaksikan keduanya bercengkerama dari singgasananya. Selang beberapa menit, barulah Panji membuka suaranya.

“Gue tuh sebenernya bukan nggak mau pulang, Gal. Tapi karena—”

“Kiara?” potong Galuh.

“Hah?”

Galuh mengembuskan napasnya seraya tersenyum miring menjawab keterkejutan sekaligus kebingungan Panji. “Juna cerita semuanya sama gue, Ji. Mungkin dia tau gue bingung waktu liat ada kecanggungan antara lo sama Kiara, makanya dia cerita. Udah lama sih, dari waktu kita temu kangen di rumah lo,” jelas Galuh.

“Maaf ya, Ji, kalo candaan atau omongan gue ada yang bikin luka lama lo jadi kerasa lagi. Waktu itu gue bener-bener nggak tau,” ucap Galuh lagi.

Panji mengerjapkan matanya. Sesaat kemudian ia mengibaskan tangannya di depan wajah, “Nggaak, nggak pa-pa, Gal. Gue ngerti kok lo nggak tau. Santai aja, santai!”

Setelahnya Panji terkekeh, entah menertawakan dirinya sendiri atau ekspresi Galuh yang panik seketika. “Pengecut banget ya, gue?”

Kini giliran Galuh yang mengerutkan keningnya, “Kenapa?”

“Kabur dari masalah,” balas Panji lesu.

Alih-alih menyetujui, Galuh justru menertawakan jawaban Panji. Membuat pemuda itu menoleh cepat ke arahnya. Sadar sedang ditatap oleh Panji, Galuh menghentikan tawanya. “Sorry,” ucap Galuh.

“Enggak kok, bukan pengecut,” Galuh berbicara lagi. “Emang ada masanya kok kita perlu jauh-jauh dulu dari apa yang bikin kita marah, sakit hati, kecewa. Kalo kata anak sekarang, healing.”

Panji ikut tergelak mendengar jawaban Galuh. “Bukan pengecut selama lo masih balik lagi ke sini, Ji. Gue tau pasti nggak gampang buat lo pulang, tapi lo berhasil pulang,” ucap Galuh seraya tersenyum. Rasanya Panji ingin protes, gadis itu seakan tahu apa kelemahannya saat ini.

“Kalo lo masih merasa canggung sama Kiara, berarti mungkin emang masih ada yang perlu diselesain. Ngobrol aja coba, sebelum lo balik ke Yogya,” saran Galuh. “Kalo udah nggak ada apa-apa, harusnya udah nggak canggung lagi dong?”

Panji menahan senyumnya, sekon berikutnya ia mengangguk. “Iya, nanti gue ngobrol sama Kiara. Thank you, Gal!”

Gadis itu hanya mengangguk dengan mata terpejam dan kedua tangan yang kini terlipat di depan dada. Sepertinya Galuh sudah ngantuk berat, Panji pun memakluminya. Lagi-lagi pemuda itu tak lagi mampu menahan senyumnya, “Tidur, gih! Jangan sampe ketiduran di sini, Gal!”

Galuh menguap, menutup mulutnya yang terbuka dengan sebelah tangannya. Setelahnya ia mengangguk, “Duluan ya, Ji? Ngantuk banget. Lo juga jangan lama-lama di sini, nanti masuk angin!”

Panji hanya membalasnya dengan anggukan gemas. “Iyaa, masuk sana!”

Byee!” ucap Galuh seraya melambaikan tangannya pelan. Kemudian melenggang masuk dan mengunci jendela kamarnya. Sementara Panji baru beranjak dari tempatnya setelah melihat Galuh sudah mematikan lampu kamarnya.

Pria berbadan kekar itu memasuki kamarnya dengan senyum mengembang. Terima kasih pada Galuh, akhirnya Panji menemukan jawaban dari pertanyaan yang membuatnya tak bisa tidur.

Galuh jawabannya.

Suatu sore yang cerah, keempat remaja suntuk berkumpul di ruang tengah rumah Damar. Menikmati semilir angin yang berembus menerpa kulit wajah tampan keempatnya yang kini sama-sama termenung. Sibuk bergelut dengan pikiran kosong masing-masing. Hingga tiba-tiba Ojan berceletuk random.

“Eh, lo kalo udah jadi bapak mau dipanggil apa?” tanyanya. Seketika dirinya menjadi pusat perhatian ketiga temannya.

Kini Damar, Dhimas, dan Haris pun tak lagi melamun. Ketiganya mulai mengerutkan kening dan menautkan alis, menggunakan otaknya untuk berpikir guna menjawab pertanyaan sederhana.

“Gue menyesuaikan pasangan aja deh,” balas Damar santai. Ojan mengangguk-angguk, paham bahwa beliau ini—Damar—memang bukan orang yang terlalu memikirkan hal-hal seperti ini.

“Gue Papi,” balas Dhimas yakin.

“Kalo pasangan lo nggak mau?” tanya Haris.

“Ya bodo amat, kan gue yang dipanggil papi. Bukan dia. Nanti terserah dia mau dipanggil apa,” balas Dhimas.

“Lah kocak, terus nggak sepasang dong? Biasanya kan Ibu-Bapak, Ayah-Bunda, lah masa lu Papi terus bini lo lain?” protes Ojan.

“Lah, gue aja manggil ortu gue Mama-Ayah. Aghni juga -Papaji-Bunay. Break the rules, broh!” balas Dhimas sok keren, tapi masuk akal. Ketiga temannya bahkan mengangguk menyetujui pada akhirnya.

“Lo apa, Ris?” tanya Ojan kemudian.

“Ayah.”

“AYAH?! Gue kira lo mau dipanggil Papa gitu, Ris?” tanya Dhimas.

Haris menggeleng, “Enggak, gue dari dulu maunya dipanggil Ayah.”

“Kenapa?” tanya Damar.

“Nggak tau, menurut gue 'ayah' tuh satu kata yang mewakili sosok yang merangkul aja. Adem aja gue denger orang manggil bapaknya Ayah. Apalagi kalo anak perempuan yang bilang,” ucapnya. Haris bahkan menceritakannya dengan berbinar-binar, besar harapnya untuk hal yang sama terjadi padanya di masa depan.

Make sense,” balas Damar. “Cocok juga sih lo dipanggil Ayah,” lanjutnya.

“Semoga anak lo nggak nanya Ayah Mengapa Aku Berbeda? ya, Ris,” canda Dhimas.

“Yehh, sinetron kali, ah!”

“Lu apa lu? Nanya doang nggak mau memberi jawaban,” tanya Damar pada Ojan.

Saat itulah Ojan menghela napasnya. Ekspresinya mendadak khawatir, “Nah.. itu dia..”

“Kenapa?” tanya Haris.

“Gue tuh—sebenernya takut karma. Gue kan muda badung banget begini yak, sampe Emak Bapak gue tuh sering banget bilang NTAR LU RASAIN LU ANAK LU BANGOR!!!” ucapnya bercerita. “Gue takut anak gue iseng, nanti gue dipanggil Om gimana.....”

Tawa teman-temannya menyembur seketika. “Ya, makanya lu tobat dari sekarang!” ucap Haris.

“Iya, ya?”

“Iya. Biar paling nggak ada perubahan lah. Nanti anak lo nggak manggil Om,” ujar Dhimas.

“Tapi?” tanya Ojan.

“AYEAHH! Versi lebih metal dari Ayah soalnya pasti lo menjadi bapak-bapak yang metaaaal!!!” ucap Dhimas seraya tertawa. Mengundang raut cembetut dari Ojan dan gelak tawa yang lebih ramai dari Damar dan Haris.

Sore itu akhirnya tak lagi sepi. Kemudian siapa yang tahu apa yang terjadi di masa depan? Mungkin ucapan asal keempatnya tadi benar-benar menjadi nyata. Tak ada yang benar-benar tahu kapan Tuhan mengaminkan doa-doa makhluk-Nya, kan?

Setelah bicara singkat dengan Kiara, Panji memilih untuk menghirup udara segar sebanyak-banyaknya. Supaya pikiran dan hatinya turut tejernihkan. Pun, ia tak ingin mengganggu momen Kiara dan Juna. Biarlah sepasang kekasih itu menunggu di dalam sembari ia menunggu sang ibu pulang.

Dengan kedua tangan memegangi pagar rumahnya, Panji mendongak menatap langit yang masih biru sore itu. Awan-awan putih sudah tak mengepul, kini berbentuk seperti coretan-coretan yang tetap menambah indah langit meski terlihat tidak sempurna.

Namun kegiatannya harus terhenti ketika seseorang menepuk pelan lengannya. Membuat Panji sedikit berjengit dan segera menurunkan kepalanya yang mendongak.

“Cari siapa ya?” tanyanya. Panji memandangi seseorang di hadapannya. Berdiri seorang gadis dengan rambut kecoklatan yang sedikit lebih terang dari surai Kiara. Struktur wajahnya tegas jika dibandingkan dengan struktur wajah Kiara yang lembut. Panji menelisik, memperhatikannya dari atas sampai bawah. Siapa tahu Panji lupa akan teman-temannya selain Juna dan Kiara yang juga tinggal di lingkungan yang sama.

“Tante Tiur ada?”

“Lagi pergi,” balas Panji seadanya.

“Lo anaknya ya?”

“Iya,” sahutnya lagi.

Gadis dengan kaus putih berbalut jaket biru tua dengan celana denim itu pada akhirnya tersenyum tipis sebelum akhirnya memperkenalkan diri.

Dijulurkan sebelah tangannya yang sedari tadi memegang kaktus dalam pot kecil ke hadapan Panji, “Gue Galuh. Baru tinggal di sini setahun yang lalu, jadi lo pasti belom kenal gue.”

Ah, Panji ingat sekarang. Ini pasti adalah tetangga baru yang mamanya ingin perkenalkan padanya. Maka Panji pun balas tersenyum dan segera menjabat tangan gadis di hadapannya.

“Panji,” ucapnya. “Sorry ya, gue baru balik lagi ke sini setelah tiga tahun. Jadi nggak tau apa aja yang berubah.”

Galuh menggeleng cepat, “Nggak apa-apa.”

“Lo diundang juga dong pasti sama mama gue?” tebak Panji. Galuh dengan cepat mengangguk dan membenarkan tebakannya. Maka sebagai tuan rumah, Panji membukakan pintu gerbang untuk Galuh. Mempersilakannya untuk masuk.

“Masuk, masuk,” ucap Panji. “Lo bawa kaktus buat apaan? Hiasan meja?”

“Ohh, ini—” Galuh menggantung ucapannya. Ditatapnya pot kecil berisi tanaman kaktus yang berada dalam genggamannya. “Waktu itu mama lo bilang mau beli kaktus, tapi belom sempet-sempet. Jadi waktu gue beli tanaman baru sekalian gue beliin buat mama lo.”

Panji manggut-manggut, ia baru ingat kalau Galuh adalah orang yang sering menemani mamanya untuk menggeluti tanaman yang baru-baru disenanginya. “Makasih ya, Gal. Maaf jadi ngerepotin. Makasih banget loh, sering nemenin mama gue. Nanti kaktusnya gue ganti, ya?”

“Santai. Buat kaktusnya, nggak usah diganti, lah! Kayak sama siapa aja,” balas Galuh.

Keduanya kini berjalan santai memasuki rumah Panji. Ternyata ada untungnya juga Panji keluar rumah, sebab meja makan kini sudah siap dipakai untuk acara. Terima kasih sebesar-besarnya kepada Juna dan Kiara, pekerjaan Panji jadi ringan.

“Weh, Gal!” sapa Juna. Ah, rupanya hanya Panji yang tak mengenal Galuh. Sebab nampaknya Juna sudah akrab dengan gadis itu, apalagi Kiara. Keduanya sudah seperti dua saudara perempuan yang terpisah lama dan bertemu kembali.

“Dari tadi, Jun?” tanya Galuh.

“Baru kok, belom lama juga,” balas Juna. Pria itu kini mengambil tempat, mengisi salah satu kursi kosong meja makan. Disusul Aji yang mengambil kursi di sebelahnya.

“Emak gue mana ya lama banget,” keluh Panji. “Gue udah laper, apa kita makan duluan aja ya, Jun? Masak mie lagi.”

“Makan aja duluan, palingan dikemplang lo pas emak lo balik,” canda Juna. Yang kemudian dibalas kikikan oleh Panji seraya mendorong bahu Juna pelan.

Dari tempatnya berdiri, entah mengapa Galuh menangkap terbesitnya rasa iri dalam tatapan Kiara pada dua pemuda di rumah itu. “Lo tadi bareng Juna, Kir?” tegur Galuh. Memecah lamunan Kiara.

Kiara menoleh, “Hah? Oh, iya. Bareng Juna datengnya tadi.”

Galuh memajukan bibirnya, mencibir Kiara seraya menarik kursi untuk dirinya sendiri. Membuat posisinya kini berhadapan dengan Panji. Tentu saja, ia tak ingin menjadi orang ketiga di antara Juna dan Kiara. Maka gadis itu membiarkan sepasang kekasih itu berhadapan agar dapat dengan bebas menatap satu sama lain.

“Pacaran mulu!” cibir Galuh, yang tanpa gadis itu tahu justru memantik rasa khawatir dalam diri Kiara. Pun, kecanggungan yang mendadak hadir dalam diri Juna. Sepertinya topik percintaan antara Juna dan Kiara akan selamanya sensitif jika dibahas terang-terangan di depan Panji. Dan itu membuat keduanya was-was.

Namun kebingungan justru melanda ketika Panji dengan santai tertawa dan membalas ucapan Galuh. “Emang gitu, Gal, dari dulu. Nempel banget kayak surat sama perangko, sepaket,” ucap Panji.

Setelahnya Galuh memasang ekspresi sedihnya, “Yah, berarti lo tersingkir dong, Ji?”

Melihat tiga orang di sekitarnya kini sama-sama terdiam dengan gestur tubuh canggung yang jelas terlihat, Galuh menutup mulutnya rapat-rapat. Tentu ia menyadari bahwa dirinya salah bicara. Maka Galuh menepuk-nepuk bibirnya pelan.

Beruntung atmosfer itu tak perlu bertahan cukup lama sebab Tante Tiur, mama Panji akhirnya pulang dengan banyak sekali jinjingan kantung kresek berisi berbagai jajanan pasar dan makanan berat. Yang rasanya cukup untuk asupan makan satu bulan bagi sesama anak rantau seperti Panji dan Galuh. Dengan sigap keempatnya bangkit dan membantu ibunda Panji itu untuk menata makanan di meja. Selang beberapa menit, barulah mereka bercengkerama. Menikmati acara temu kangen yang dibuat seadanya. Namun tetap memiliki kesan yang berarti.


Sepanjang percakapan saling menggema di ruang makan rumah Panji yang sudah lama sepi, entah mengapa Panji seakan tak bisa mengendalikan diri untuk tidak menatap Galuh yang duduk berseberangan dengannya.

Galuh yang selalu sigap membantu mamanya menyiapkan piring dan kemudian mencuci semuanya setelah semua tamu selesai makan, Galuh yang memiliki wajah tegas namun kepribadian yang sangat anggun—persis dengan yang biasanya Panji temukan di tempatnya mengenyam pendidikan, Galuh yang rasanya dapat menyesuaikan diri dalam setiap konsep pergaulan. Panji melihat Galuh dapat berbicara lembut, menjunjung sopan santun begitu tinggi setiap kali berbicara dengan ibunya. Namun gadis itu juga dapat dengan luwes membalas candaan Juna, terlihat seperti seseorang yang benar-benar terbiasa bergaul.

Berkali-kali Panji berusaha mengalihkan pandangannya, namun Galuh dengan gestur kecilnya yang manis seakan selalu menghalangi arah pandangnya. Mendominasi penglihatannya dan menjadikan Galuh pusat perhatiannya.

Panji membiarkan sudut bibirnya berkedut ketika melihat Galuh yang selalu menutup mulutnya ketika tertawa, suara tawanya pun ia sesuaikan agar tidak mengganggu. Kedua matanya yang selalu memancarkan berbagai ekspresi—marah, sebal, antusias, dan lain-lain setiap kali menanggapi cerita Juna, Kiara, maupun Panji. Pula Galuh yang tak pernah melupakan tiga kata ajaib setiap kali ingin meminta bantuan pada siapapun. Semua, semua mengenai gadis yang baru Panji temui hari itu, berhasil menarik perhatiannya.

“ANJ—”

Panji terlonjak ketika merasakan sesuatu menusuk sikunya. Pria itu bangkit berdiri, memegangi sikunya yang terasa nyut-nyutan seraya menatap nyalang ke arah Juna yang memang menjadi pelaku dari kejadian barusan.

“ELU YA?!”

Juna menahan senyum jahilnya seraya menatap ke arah Panji. Alih-alih minta maaf sebab telah menusuk sikunya dengan duri kaktus yang dibiarkan menjadi primadona di tengah meja makan, Juna justru memainkan kedua alisnya—membuatnya naik turun yang kian memancing kekesalan Panji. Oh, lihat itu, Panji yang sebenarnya telah kembali. Panji yang Juna kenali dengan baik itu telah kembali.

“Ngapain lu bengong?” tanya Juna. “Tante Tiur, ini anaknya kepergok bengong ngeliatin sesuatu,” adu Juna.

Tiur, wanita itu hanya memandangi sang anak tunggal dengan penuh tanya. Namun Panji hanya diam, menggaruk tengkuknya yang tak gatal sebelum akhirnya kembali mengelus sikutnya.

Galuh terkekeh, “Kenapa sih, Ji?”

Panji berdecak, “Ini dia nih! Sikut gue disundut kaktus! Bocah luu!”

Juna manggut-manggut dengan perangai mengejek yang masih setia dipajang pada wajah tampannya. “Siaaapp, si paling dewasa!”

“Mulai deeh, Juna sama Panji. Ributnya nggak udah-udah kalo ketemu,” ucap Tiur. Memang benar. Sejak dulu pertemanan keduanya memang begitu, saling menjahili hingga salah satunya terganggu. Meskipun sebenernya Juna lebih sering jadi korban, pertemanan keduanya tak terpisahkan oleh apapun. Not even Kiara.

“Dianya duluan!” Panji mengadukan Juna balik seraya menunjuk Juna. Melimpahkan semua kesalahan padanya. Sementara Juna hanya tertawa tak peduli. Toh, dirinya memang sengaja.

Setelahnya Panji mengambil pot kaktus yang melukainya, “Gal, sorry, ya, ini gue pinggirin dulu. Demi terciptanya kesejahteraan bangsa.”

Galuh tersenyum menahan tawanya, “Iyaa. Pindahin, dah, pindahin!”

Juna pun turut menahan tawanya. Rupanya Panji tetap Panji yang sama. Tiga tahun pergi jauh dari rumah, sama sekali tak merubahnya. Panji masih suka mencari alasan untuk melarikan diri.

Di sisi lain, Panji membawa pot kaktus yang dihadiahkan Galuh untuk sang ibu ke dekat sebuah bopet yang dekat dengan jendela rumahnya. Diam-diam Panji mengelus dadanya yang mendadak terasa berbeda. Ada kehangatan menelusup ke dalam sana. Namun Panji memilih untuk mendiamkannya.

Rumahnya kedatangan tamu baru hari ini. Mungkin begitu juga dengan hatinya.

Panji merentangkan taplak meja berwarna kuning mustard dengan renda putih di atas meja makannya. Hari itu berdasarkan permintaan sang ibu, Panji terpaksa harus menata meja makan sebab ibunya ingin membuat acara kecil yang ia labeli dengan nama 'Temu Kangen'.

Saat sedang asyik merapikan meja dengan wajahnya yang bersungut, seseorang mengetuk pintu. Alih-alih langsung membukakan pintu, Panji memilih berkacak pinggang. Malas untuk membuka pintu lantaran ia tahu siapa yang datang. Apa yang harus ia lakukan ketika orang yang justru ia hindari menjadi tamu yang begitu disambut di rumahnya? Tak ada yang bisa Panji lakukan selain turut menyambutnya dengan hati yang dipaksakan lapang.

Cklek

Panji membuka pintu rumahnya pelan. Benar dugaannya, berdiri kini di hadapannya Kiara dan Juna yang menenteng totebag berisi minuman teh dengan perisa apel seukuran 1,5 liter dan beberapa camilan lainnya. Setelahnya, berpura-pura seakan tak ada satu hal pun yang terjadi di antara ketiganya, Panji mempersilakan Kiara dan Juna untuk masuk.

Juna dan Kiara otomatis melenggang menuju meja makan yang telah ditata serapi mungkin oleh Panji sebelumnya. Juna celingak-celinguk, “Mana Mama lo?”

“Lagi ke pasar, ngambil pesenan kuenya,” balas Aji. Masih mengabaikan Kiara.

Entah rencana apa yang telah dirancang oleh Juna dan Kiara, tiba-tiba Juna beralasan untuk keluar sebentar. “Ji, gue balik dulu ya? Lupa HP gue ketinggalan,” ucapnya.

Panji tak tahu harus beraksi macam apa, ia jelas tahu Juna hanya ingin meninggalkannya berdua dengan Kiara. Entah karena permintaan kekasihnya itu atau memang Juna mendukung selesainya sesuatu antara Panji dan Kiara, Panji tetap malas meladeninya. Pria itu bahkan mengembuskan napas lelahnya.

Panji berbalik arah, berniat meninggalkan Kiara entah ke mana. Namun suara yang dulu setia mengalun di telinganya sepanjang hari itu memanggil namanya.

“Ji,” Kiara bersuara. Tubuhnya terpaku sembari menatap nanar punggung Panji yang membelakanginya. Ah, sudah banyak yang berubah ternyata. Panji yang dulu selalu menjadi benteng paling kokoh untuk melindunginya kini justru membangun benteng untuk melindungi dirinya sendiri—dari Kiara.

Pemuda itu membalikkan tubuhnya, membuat dirinya berhadapan dengan Kiara. Tak ada jawaban, Panji hanya mengangkat sebelah alisnya guna bertanya 'ada apa?'.

Kiara meneguk ludah, setelahnya menatap Panji dengan tatapan bergetar. Kiara nyaris menangis, mengingat betapa banyak rindu yang telah dipupuk bertahun-tahun terhadap lelaki di hadapannya. Seseorang yang meninggalkan Kiara sebab ulahnya sendiri. Sebab keegoisannya sendiri. Rupanya usaha Kiara mempertahankan Panji dan Juna pada saat bersamaan hanya membuat dirinya menjumpai kehilangan yang jauh lebih besar.

“Ji, please sekali ini aja. Kita perlu bicara,” ucap Kiara.

Panji lagi-lagi menghela napasnya. Ia tahu Kiara tak akan berhenti sampai ia diberi kesempatan untuk membahas masa lalu yang menurut Panji sudah tidak penting meski masih terasa begitu menyakitkan itu.

“Oke, cepet. Gue nggak mau cowok lo nanti liat kita ngobrol berdua terus jadi salah paham,” balas Panji.

Kiara mengerjapkan matanya, tak menyangka bahwa Panji akan mengizinkannya bicara. Memanfaatkan kesempatan, maka Kiara membuka suara.

Are you okay? All this time?

Satu kalimat yang baru saja terlontar dari Kiara itu berhasil membuat Panji termangu. Kalimat itu. Kalimat yang sama yang selalu ia lontarkan pada dirinya sendiri. Kalimat tanya yang Panji sendiri tak pernah temukan jawabannya.

Matanya memandang lurus pada wajah Kiara yang sekarang jauh lebih dewasa dibanding dengan saat terakhir kali kedua bola matanya melihat gadis itu. Wajahnya jauh lebih tirus. Dan sekarang ada helaian rambut yang lebih pendek dari yang lainnya membingkai wajah Kiara. Rambutnya cokelat terang, mungkin gadis itu mewarnainya. Terdapat sedikit bekas cakaran pada pipi kanannya, mungkin tak sengaja terluka saat Kiara menggaruk wajahnya frustrasi.

Aji mengerjapkan matanya. Menepis semua lamunannya. Kemudian dengan mantap ia mengangguk.

“Gue kan berkali-kali bilang udah nggak ada yang perlu dibahas. Apa yang bikin lo mikir gue nggak baik-baik aja, Kir?” balas Panji.

“Gue minta maaf, Ji. Gue ngegantungin perasaan lo terlalu lama. Mungkin lo juga ngerasa gue bohongin. Tapi beneran, Ji, gue nggak bermaksud begitu,” ucap Kiara dengan suara bergetar. “Gue cuma nggak mau—jauh dari lo, Ji. You mean so much to me.

Kiara terisak. Setitik air matanya turut jatuh membasahi pipi. Namun Panji tetaplah Panji yang selalu ingin tampil perkasa. Maka pemuda itu terkekeh miris. Setelahnya ia menggeleng cepat seraya mengibaskan tangannya di depan wajah.

“Lupain, Kir. Masa lalu. Gue aja nggak mau terjebak terus-terusan di sana. Masa lo mau?” jawab Panji. “Gue nggak apa-apa, lupain aja. Anggep aja nggak pernah ada apa-apa di antara kita bertiga dulu.”

“Udah nggak usah nangis, nanti sangkain Juna gue ngapa-ngapain lo lagi,” tegas Panji pada Kiara.

Setelahnya, Panji melakukan apa yang bisa dilakukan oleh lelaki paking perkasa di muka bumi. Melarikan diri.

Menempatkan Kiara di masa lalunya adalah yang benar-benar dilakukannya. Namun perihal baik-baik saja, Panji sendiri mengakui bahwa itu hanya sandiwara.

Selama ini Kiara masih ada dalam hatinya. Luka itu belum sembuh sepenuhnya, dan melihat Kiara menangis justru menambah perih luka yang bersemayam di dalam sana. Kiara masih menguasai kepalanya. Memanipulasi pikirannya hingga gadis itu menjadi pemeran utama yang bermain di sana. Mengganggunya tidur pada setiap malam yang membuat kesepiannya semakin nyata. Mengejeknya dengan terus mengingatkannya pada angan yang harus ia lepaskan jauh-jauh, yaitu menjadi pemenang bagi seorang Kiara.

Dulu, Panji bisa saja tetap bertahan di tempatnya. Kemudian menanti hari ketika janji Kiara menjadi nyata. Janjinya untuk berubah agar tak lagi membuat Panji merasa seperti dipermainkan.

Sekarang pun sebenarnya Panji bisa saja meruntuhkan pertahanannya. Kemudian kembali pada posisi awal ketika ia harus menggantungkan dirinya pada ketidakpastian yang terus-menerus Kiara berikan.

Panji bisa saja menunggu, hingga Kiara mengulang kebiasaannya. Bersikap seolah tak ingin kehilangannya, kemudian kembali menjauh ketika Juna mengisi perannya.

Tapi tidak. Panji tak ingin menunggu lagi. Semuanya cukup sampai di sini. Kiara adalah masa lalunya. Dan Panji harus membuka pintu rumahnya lebar-lebar untuk masa depan yang menanti untuk ia sambut dengan hangat.

“Gimana Jogja, Ji?”

Juna memulai percakapan seiring Panji mulai menggunakan tangannya untuk mengipasi asap yang mengepul dari semangkuk mie rebus di hadapannya. Walaupun di depannya tersuguh banyak buah-buahan dan kue kering, mie instan tetap jauh lebih menarik.

Keduanya kini tengah berkumpul di rumah Juna untuk bercengkrama setelah sekian lama. Meski Juna mengajaknya untuk pergi ke luar, Panji berusaha tak membuat Juna memaksakan diri hanya untuk menyenangkannya. Maka jadilah ia yang berkunjung ke rumah sahabatnya itu, yang akhirnya disetujui dengan alasan untuk sekaligus bertemu dengan ibu Juna.

“Biasa aja,” jawab Panji setelah menyeruput kuah segar mie rebus miliknya. “Tapi seru, gue banyak belajar hal baru.”

Juna manggut-manggut setuju. Memang benar adanya. Juna pun melihat perubahan dari sikap Panji semenjak pria itu merantau ke kota yang disebut sebagai Kota Pendidikan itu. Mungkin budaya di sana yang masih menjunjung tinggi segala unggah-ungguhnya membuat Panji beradaptasi dan menyerapnya ke dalam diri sendiri. Dibuktikan dengan bagaimana cara Panji mencium tangan ibunda Juna yang lebih terlihat seperti orang sungkem. Pria itu membungkuk nyaris 90 derajat, ketika bicara pun kedua tangannya ia simpan di depan dekat dengan pinggang, tutur kayanya lembut, serta tak membiarkan orang yang lebih tua mendongak ke arahnya. Berbeda dengan Panji yang terakhir kali Arjuna jumpai.

“Kuliah lo lancar?” tanya Juna.

“Lancar, ini lagi libur—Jun maaf, bagi sambel lagi dong tolong,” ucap Panji. Pria itu mengulurkan tangannya untuk meraih sebotol saus sambal yang berada dekat siku Juna—yang segera ia berikan pada Panji. “Makasih,” ucapnya.

“Lo gimana?” Panji bertanya balik.

Seraya mengerucutkan bibir, Juna kemudian manggut-manggut menjawab pertanyaan Panji. “Lancar, cuma yaa stress stress dikit mah ada,” balasnya seraya tertawa.

Panji mengangguk menyetujui, “Pasti, lah! Gue aja baru kelar tipes nih, stress UAS.”

Juna melotot, “Bisa sakit lu?”

“Iya, lah. Gimana enggak? Begadang mulu, telat makan, sekalinya makan sembarangan. Ditambah gue stress mikirin materi UAS bejibun abis. Nggak gila aja udah bagus,” keluh Panji.

Keduanya kemudian terkekeh bersama. Relate. Ada yang bilang bahwa kebahagiaan menjadi mahasiswa perguruan tinggi ternama hanyalah saat hasil tes menyatakan diterima. Dan baik Juna maupun Panji tak ingin menggunakan opsi lain kecuali menyetujuinya.

“Lo sampe kapan di sini, Ji?”

“Sampe libur gue abis. Dua bulan, lah. Kasian juga Mama sendirian terus, ini juga sebenernya gue masih nggak tega. Soalnya gue kabur tiga tahun dibayarnya cuma dua bulan,” balas Panji seraya membelah telur setengah matang yang sedari tadi bertengger manis di atas mie yang kini sudah nyaris habis itu. Membiarkan cairan kuning telur mengalir keluar, menambah nafsu makannya.

“Iya, lo lama banget sih nggak pulang-pulang. Ngapain dah? Betah banget di Jogja!” umpat Juna.

“Yah, gimana ya..”

Baru saja Juna ingin membalas, seseorang menerobos masuk dan memanggil namanya keras-keras. Suara itu, dengan nada itu, Panji tahu siapa yang datang.

“Junaaaaaaaahhh!! Keluar, yuk!!”

Itu Kiara.

Seakan seluruh bagian tubuh mengalami malfungsi, ketiganya sama-sama terdiam kaku. Garpu yang siap menyuapkan segulung mie milik Panji menggantung di udara, Juna yang sedang mengaduk kuah agar bumbunya lebih merata pun terhenti, begitu pula dengan Kiara yang baru saja datang.

Ketiganya bertukar pandang, setidaknya sebelum Panji menjadi yang pertama memalingkan wajahnya. Alat makan yang sedari tadi tak lepas dari genggamannya kini dibiarkan terlepas begitu saja. Nafsu makannya resmi hilang meski telur setengah matangnya itu seakan memanggilnya.

Juna memandangi Kiara dan Panji bergantian. Mendadak atmosfer ruangan menegang. Kiara masih terpaku, kemudian berjengit ketika terdengar suara geseran kursi seiring Panji bangkit dari duduknya.

Pria itu membawa mangkuknya yang masih berisi sedikit makanannya menuju dapur. Diletakannya mangkuk itu di dekat wastafel, setelahnya Panji kembali ke meja makan dan menyambar ponselnya yang tergeletak di meja.

“Gue balik, Jun. Thank you, ya! Pan-kapan gue ke sini lagi,” pamit Panji. Setelahnya ia melangkah keluar. Meninggalkan Juna dan Kiara dengan urusannya, Panji tak ingin tahu.

Di halaman rumah Juna, seraya memegangi pagar dengan langkah yang ragu harus ia lanjutkan pulang atau bawa kembali ke dalam. Sebelah tangannya memegangi dada bidangnya sendiri.

Rupanya beban itu masih ada. Hatinya masih terluka ketika bola matanya menangkap Kiara.

His heavy heart is still breaking. He still can't lift the weight.

“Kasih gue waktu lagi ya, Ji?”

Ah, kalimat itu lagi. Sudah tujuh kali Panji, pemuda bertubuh tinggi dengan balutan kemeja flanel merah yang dijadikan luaran atas kaus putihnya itu mendengar kalimat yang sama terlontar dari seorang perempuan yang telah lama menjadi pujaan hatinya.

Sudah tujuh kali Panji menyatakan perasaannya pada Kiara. Dan jawaban gadis bersurai kecoklatan itu selalu sama sejak keduanya mengenyam Sekolah Menengah Pertama. Kiara selalu minta waktu, seakan Panji memiliki banyak yang tersimpan dalam sakunya. Kiara selalu minta waktu, padahal Panji bukan seorang dengan hati seluas samudera untuk tetap bersabar selama bertahun-tahun. Kiara selalu bilang ia perlu waktu untuk menentukan jawaban atas pernyataan Panji mengenai perasaannya. Padahal, Panji tahu, malaikat pun tahu, Kiara tak pernah mempertimbangkannya. Panji tahu, tujuan Kiara hanya satu. Yaitu Arjuna, salah seorang lain yang juga hadir di antara keduanya.

Panji dan Kiara tinggal di rumah berhadapan. Sejak kecil keduanya tak terpisah bagai surat dan perangko. Di mana ada Panji, di situ ada Kiara. Berdekatan dengan Panji, Kiara selalu aman. Sebab pemuda itu akan selalu membentangkan tangannya lebar-lebar guna menyembunyikan tubuh mungil Kiara di balik punggungnya yang tegap. Melindunginya dari siapapun yang ingin menyakitinya. Begitu selalu hingga keduanya beranjak remaja, hingga Panji menyadari bahwa ada sesuatu yang lain dalam hatinya. Sesuatu yang menggelitik, sampai-sampai dirinya tak bisa tidur dan memandangi balkon kamar Kiara yang sudah gelap dari balik jendela kamarnya.

Namun ketika cintanya bersemi, tiba seorang lain yang selalu berhasil memikat Kiara bahkan saat jumpa pertama. Arjuna, atau lebih akrab disapa Juna, pria itu adalah anak baru di lingkungan rumah Panji dan Kiara. Tak ada dendam maupun kebencian, Panji menyambutnya dengan baik sebagai kawan. Lebih-lebih ketika ia mengetahui bahwa Juna tinggal tepat di sebelah rumahnya. Menggantikan Abah Elon yang diboyong sang anak ke Bandung. Awalnya Panji bersedih atas kepindahan Abah Elon, namun Tuhan tak pernah ingkar. Ketika dirinya mengikhlaskan, maka digantikannya dengan sesuatu yang lebih baik. Tuhan lantas memberikannya teman sebaya yang kemudian menjadi sahabat sejatinya—setidaknya sebelum mereka tumbuh lebih dewasa.

Panji menatap Kiara nanar, lagi-lagi hatinya harus pecah berkeping-keping. “Mau sampe kapan lagi, Kir? Gimana kalo ternyata gue nggak lagi punya waktu?”

Kiara mendesah frustrasi, gadis itu membasahi bibir sebelum membalas Panji. “Gue bingung, Ji. Gue nggak bisa—”

“Nggak bisa milih gue atau Juna?” potong Panji.

Kiara mengerutkan keningnya. Sial, bahkan pada saat seperti ini Panji tak bisa menahan diri untuk memuji Kiara yang semakin menawan ketika menggerutu. “Gue nunggu lo bukan sekali dua kali, Kir. Udah bertahun-tahun. Lo selalu bilang lo butuh waktu, tapi ujungnya lo justru menjauh dari gue,” ujar Panji.

“Ji—”

“Kalo lo sukanya sama Juna, nggak apa-apa, Kir. Just be honest with me, i'll be okay with that. Nggak perlu nyuruh gue nunggu dan ngasih gue pepesan kosong, Kir,” tegas Panji. Sorot matanya yang biasa menatap teduh Kiara kini berubah menjadi sedikit nyalang. Hari itu Panji memutuskan untuk menantang Kiara, ia harus tegas. Tak ada lagi toleransi atas ketidakpastian, Panji memutuskan untuk melanjutkan hidupnya. Dengan atau tanpa Kiara.

“Gue tau lo lebih bahagia kalo pergi sama Juna. Sorot mata lo kalo lagi ngomongin Juna, gestur tubuh lo yang selalu salah tingkah di deket Juna, usaha lo setiap pagi buatin Juna sarapan, itu aja udah cukup untuk ngasih tau gue kalo lo suka sama Juna. Bukan gue, kan, Kir?” pungkas Panji lagi.

Kiara menyerah. Sebab semua yang dikatakan Panji benar adanya.

You're happier with him, aren't you?” tanya Panji lagi.

Kiara mengembuskan napasnya. Rasanya tak ada lagi kesempatan untuk mengelak. Toh, Panji pun sudah tahu semua yang selama ini ia coba untuk samarkan.

Maka dengan lirih, Kiara menjawab, “I guess so..

Kedua kelopak mata Panji mengerjap pelan mewakili kekecewaannya. Ia sudah tahu, namun mendengar konfirmasi dari Kiara rupanya masih membuat ia terkejut.

Panji mengangguk pelan. Sekon berikutnya ia menatap lurus tepat pada netra Kiara yang berwarna senada dengan rambutnya di bawah paparan sinar matahari yang berubah jingga. Sebelum akhirnya dengan mantap ia mengucapkan ultimatumnya.

“Jangan cari gue lagi, Kir!” ucapnya. “Karena gue udah bener-bener nggak punya waktu lagi untuk nunggu lo. Besok gue akan pergi, dan lo bisa nikmatin waktu lo sama Juna. Gue nggak akan ganggu.”

Mengabaikan keterkejutan Kiara dan menulikan telinga dari pekikan gadis itu yang terus memanggilnya menuntut penjelasan dari apa yang barusan ia katakan, Panji membalikkan badannya. Melenggang jauh meninggalkan gadis itu.

Selama ini Panji mengizinkan Kiara untuk bersandar di bahunya, membantu Kiara menahan beban di kepalanya. Namun kini tidak lagi. Sebab hatinya sudah hancur, bahkan Panji tidak yakin kepingannya dapat kembali disatukan.

Hari itu, keputusannya sudah bulat. Panji akan tetap melanjutkan hidupnya.

Tanpa Kiara.

“Kasih gue waktu lagi ya, Ji?”

Ah, kalimat itu lagi. Sudah tujuh kali Panji, pemuda bertubuh tinggi dengan balutan kemeja flanel merah yang dijadikan luaran atas kaus putihnya itu mendengar kalimat yang sama terlontar dari seorang perempuan yang telah lama menjadi pujaan hatinya.

Sudah tujuh kali Panji menyatakan perasaannya pada Kiara. Dan jawaban gadis bersurai kecoklatan itu selalu sama sejak keduanya mengenyam Sekolah Menengah Pertama. Kiara selalu minta waktu, seakan Panji memiliki banyak yang tersimpan dalam sakunya. Kiara selalu minta waktu, padahal Panji bukan seorang dengan hati seluas samudera untuk tetap bersabar selama bertahun-tahun. Kiara selalu bilang ia perlu waktu untuk menentukan jawaban atas pernyataan Panji mengenai perasaannya. Padahal, Panji tahu, malaikat pun tahu, Kiara tak pernah mempertimbangkannya. Panji tahu, tujuan Kiara hanya satu. Yaitu Arjuna, salah seorang lain yang juga hadir di antara keduanya.

Panji dan Kiara tinggal di rumah berhadapan. Sejak kecil keduanya tak terpisah bagai surat dan perangko. Di mana ada Panji, di situ ada Kiara. Berdekatan dengan Panji, Kiara selalu aman. Sebab pemuda itu akan selalu membentangkan tangannya lebar-lebar guna menyembunyikan tubuh mungil Kiara di balik punggungnya yang tegap. Melindunginya dari siapapun yang ingin menyakitinya. Begitu selalu hingga keduanya beranjak remaja, hingga Panji menyadari bahwa ada sesuatu yang lain dalam hatinya. Sesuatu yang menggelitik, sampai-sampai dirinya tak bisa tidur dan memandangi balkon kamar Kiara yang sudah gelap dari balik jendela kamarnya.

Namun ketika cintanya bersemi, tiba seorang lain yang selalu berhasil memikat Kiara bahkan saat jumpa pertama. Arjuna, atau lebih akrab disapa Juna, pria itu adalah anak baru di lingkungan rumah Panji dan Kiara. Tak ada dendam maupun kebencian, Panji menyambutnya dengan baik sebagai kawan. Lebih-lebih ketika ia mengetahui bahwa Juna tinggal tepat di sebelah rumahnya. Menggantikan Abah Elon yang diboyong sang anak ke Bandung. Awalnya Panji bersedih atas kepindahan Abah Elon, namun Tuhan tak pernah ingkar. Ketika dirinya mengikhlaskan, maka digantikannya dengan sesuatu yang lebih baik. Tuhan lantas memberikannya teman sebaya yang kemudian menjadi sahabat sejatinya—setidaknya sebelum mereka tumbuh lebih dewasa.

Panji menatap Kiara nanar, lagi-lagi hatinya harus pecah berkeping-keping. “Mau sampe kapan lagi, Kir? Gimana kalo ternyata gue nggak lagi punya waktu?”

Kiara mendesah frustrasi, gadis itu membasahi bibir sebelum membalas Panji. “Gue bingung, Ji. Gue nggak bisa—”

“Nggak bisa milih gue atau Juna?” potong Panji.

Kiara mengerutkan keningnya. Sial, bahkan pada saat seperti ini Panji tak bisa menahan diri untuk memuji Kiara yang semakin menawan ketika menggerutu. “Gue nunggu lo bukan sekali dua kali, Kir. Udah bertahun-tahun. Lo selalu bilang lo butuh waktu, tapi ujungnya lo justru menjauh dari gue,” ujar Panji.

“Ji—”

“Kalo lo sukanya sama Juna, nggak apa-apa, Kir. Just be honest with me, i'll be okay with that. Nggak perlu nyuruh gue nunggu dan ngasih gue pepesan kosong, Kir,” tegas Panji. Sorot matanya yang biasa menatap teduh Kiara kini berubah menjadi sedikit nyalang. Hari itu Panji memutuskan untuk menantang Kiara, ia harus tegas. Tak ada lagi toleransi atas ketidakpastian, Panji memutuskan untuk melanjutkan hidupnya. Dengan atau tanpa Kiara.

“Gue tau lo lebih bahagia kalo pergi sama Juna. Sorot mata lo kalo lagi ngomongin Juna, gestur tubuh lo yang selalu salah tingkah di deket Juna, usaha lo setiap pagi buatin Juna sarapan, itu aja udah cukup untuk ngasih tau gue kalo lo suka sama Juna. Bukan gue, kan, Kir?” pungkas Panji lagi.

Kiara menyerah. Sebab semua yang dikatakan Panji benar adanya.

You're happier with him, aren't you?” tanya Panji lagi.

Kiara mengembuskan napasnya. Rasanya tak ada lagi kesempatan untuk mengelak. Toh, Panji pun sudah tahu semua yang selama ini ia coba untuk samarkan.

Maka dengan lirih, Kiara menjawab, “I guess so..

Kedua kelopak mata Panji mengerjap pelan mewakili kekecewaannya. Ia sudah tahu, namun mendengar konfirmasi dari Kiara rupanya masih membuat ia terkejut.

Panji mengangguk pelan. Sekon berikutnya ia menatap lurus tepat pada netra Kiara yang berwarna senada dengan rambutnya di bawah paparan sinar matahari yang berubah jingga. Sebelum akhirnya dengan mantap ia mengucapkan ultimatumnya.

“Jangan cari gue lagi, Kir!” ucapnya. “Karena gue udah bener-bener nggak punya waktu lagi untuk nunggu lo. Besok gue akan pergi, dan lo bisa nikmatin waktu lo sama Juna. Gue nggak akan ganggu.”

Mengabaikan keterkejutan Kiara dan menulikan telinga dari pekikan gadis itu yang terus memanggilnya menuntut penjelasan dari apa yang barusan ia katakan, Panji membalikkan badannya. Melenggang jauh meninggalkan gadis itu.

Selama ini Panji mengizinkan Kiara untuk bersandar di bahunya, membantu Kiara menahan beban di kepalanya. Namun kini tidak lagi. Sebab hatinya sudah hancur, bahkan Panji tidak yakin kepingannya dapat kembali disatukan.

Hari itu, keputusannya sudah bulat. Panji akan tetap melanjutkan hidupnya.

Tanpa Kiara.

“Kasih gue waktu lagi ya, Ji?”

Ah, kalimat itu lagi. Sudah lima kali Panji, pemuda bertubuh tinggi dengan balutan kemeja flanel merah yang dijadikan luaran atas kaus putihnya itu mendengar kalimat yang sama terlontar dari seorang perempuan yang telah lama menjadi pujaan hatinya.

Sudah tujuh kali Panji menyatakan perasaannya pada Kiara. Dan jawaban gadis bersurai kecoklatan itu selalu sama sejak keduanya mengenyam Sekolah Menengah Pertama. Kiara selalu minta waktu, seakan Panji memiliki banyak yang tersimpan dalam sakunya. Kiara selalu minta waktu, padahal Panji bukan seorang dengan hati seluas samudera untuk tetap bersabar selama bertahun-tahun. Kiara selalu bilang ia perlu waktu untuk menentukan jawaban atas pernyataan Panji mengenai perasaannya. Padahal, Panji tahu, malaikat pun tahu, Kiara tak pernah mempertimbangkannya. Panji tahu, tujuan Kiara hanya satu. Yaitu Arjuna, salah seorang lain yang juga hadir di antara keduanya.

Panji dan Kiara tinggal di rumah berhadapan. Sejak kecil keduanya tak terpisah bagai surat dan perangko. Di mana ada Panji, di situ ada Kiara. Berdekatan dengan Panji, Kiara selalu aman. Sebab pemuda itu akan selalu membentangkan tangannya lebar-lebar guna menyembunyikan tubuh mungil Kiara di balik punggungnya yang tegap. Melindunginya dari siapapun yang ingin menyakitinya. Begitu selalu hingga keduanya beranjak remaja, hingga Panji menyadari bahwa ada sesuatu yang lain dalam hatinya. Sesuatu yang menggelitik, sampai-sampai dirinya tak bisa tidur dan memandangi balkon kamar Kiara yang sudah gelap dari balik jendela kamarnya.

Namun ketika cintanya bersemi, tiba seorang lain yang selalu berhasil memikat Kiara bahkan saat jumpa pertama. Arjuna, atau lebih akrab disapa Juna, pria itu adalah anak baru di lingkungan rumah Panji dan Kiara. Tak ada dendam maupun kebencian, Panji menyambutnya dengan baik sebagai kawan. Lebih-lebih ketika ia mengetahui bahwa Juna tinggal tepat di sebelah rumahnya. Menggantikan Abah Elon yang diboyong sang anak ke Bandung. Awalnya Panji bersedih atas kepindahan Abah Elon, namun Tuhan tak pernah ingkar. Ketika dirinya mengikhlaskan, maka digantikannya dengan sesuatu yang lebih baik. Tuhan lantas memberikannya teman sebaya yang kemudian menjadi sahabat sejatinya—setidaknya sebelum mereka tumbuh lebih dewasa.

Panji menatap Kiara nanar, lagi-lagi hatinya harus pecah berkeping-keping. “Mau sampe kapan lagi, Kir? Gimana kalo ternyata gue nggak lagi punya waktu?”

Kiara mendesah frustrasi, gadis itu membasahi bibir sebelum membalas Panji. “Gue bingung, Ji. Gue nggak bisa—”

“Nggak bisa milih gue atau Juna?” potong Panji.

Kiara mengerutkan keningnya. Sial, bahkan pada saat seperti ini Panji tak bisa menahan diri untuk memuji Kiara yang semakin menawan ketika menggerutu. “Gue nunggu lo bukan sekali dua kali, Kir. Udah bertahun-tahun. Lo selalu bilang lo butuh waktu, tapi ujungnya lo justru menjauh dari gue,” ujar Panji.

“Ji—”

“Kalo lo sukanya sama Juna, nggak apa-apa, Kir. Just be honest with me, i'll be okay with that. Nggak perlu nyuruh gue nunggu dan ngasih gue pepesan kosong, Kir,” tegas Panji. Sorot matanya yang biasa menatap teduh Kiara kini berubah menjadi sedikit nyalang. Hari itu Panji memutuskan untuk menantang Kiara, ia harus tegas. Tak ada lagi toleransi atas ketidakpastian, Panji memutuskan untuk melanjutkan hidupnya. Dengan atau tanpa Kiara.

“Gue tau lo lebih bahagia kalo pergi sama Juna. Sorot mata lo kalo lagi ngomongin Juna, gestur tubuh lo yang selalu salah tingkah di deket Juna, usaha lo setiap pagi buatin Juna sarapan, itu aja udah cukup untuk ngasih tau gue kalo lo suka sama Juna. Bukan gue, kan, Kir?” pungkas Panji lagi.

Kiara menyerah. Sebab semua yang dikatakan Panji benar adanya.

You're happier with him, aren't you?” tanya Panji lagi.

Kiara mengembuskan napasnya. Rasanya tak ada lagi kesempatan untuk mengelak. Toh, Panji pun sudah tahu semua yang selama ini ia coba untuk samarkan.

Maka dengan lirih, Kiara menjawab, “I guess so..

Kedua kelopak mata Panji mengerjap pelan mewakili kekecewaannya. Ia sudah tahu, namun mendengar konfirmasi dari Kiara rupanya masih membuat ia terkejut.

Panji mengangguk pelan. Sekon berikutnya ia menatap lurus tepat pada netra Kiara yang berwarna senada dengan rambutnya di bawah paparan sinar matahari yang berubah jingga. Sebelum akhirnya dengan mantap ia mengucapkan ultimatumnya.

“Jangan cari gue lagi, Kir!” ucapnya. “Karena gue udah bener-bener nggak punya waktu lagi untuk nunggu lo. Besok gue akan pergi, dan lo bisa nikmatin waktu lo sama Juna. Gue nggak akan ganggu.”

Mengabaikan keterkejutan Kiara dan menulikan telinga dari pekikan gadis itu yang terus memanggilnya menuntut penjelasan dari apa yang barusan ia katakan, Panji membalikkan badannya. Melenggang jauh meninggalkan gadis itu.

Selama ini Panji mengizinkan Kiara untuk bersandar di bahunya, membantu Kiara menahan beban di kepalanya. Namun kini tidak lagi. Sebab hatinya sudah hancur, bahkan Panji tidak yakin kepingannya dapat kembali disatukan.

Hari itu, keputusannya sudah bulat. Panji akan tetap melanjutkan hidupnya.

Tanpa Kiara.