raranotruru

Sebagaimana frasa paling dikenal di seluruh dunia, bahwa waktu adalah uang. Mungkin sebab itulah kegiatan LDKS ini seakan tak memberi waktu luang untuk sekadar bermalas-malasan. Rasanya bahkan untuk mengeluh saja tidak sempat. Selesai sarapan, seluruh peserta LDKS kembali digiring ke lapangan untuk melakukan senam bersama. Setelah itu pun mereka tetap tidak mendapatkan istirahat yang diidam-idamkan, melainkan harus mengikuti kegiatan outbond yang jelas akan membuat sekujur tubuh nampak seperti sehabis berperang di kubangan lumpur.

Kini semuanya sedang berbaris dan mendengarkan arahan dari Bayu soal bagaimana mereka harus melewati rintangan-rintangan outbond. “Pertama kalian lewat sini, itu ada rintangan pake ban nah itu kalian lewatin. Baru nanti setelah itu kalian jalan tengkurep ya, masuk ke tali-tali itu. Kalo udah, tunggu temennya, baru nanti kalian gandengan dan jalan nih muterin area yang penuh lumpur itu. Baru nanti kalian nyebrangin kali dan balik lagi ke tempat ini. Paham ya? Nggak usah buru-buru, yang penting hati-hati aja. Di sana udah ada kakak-kakaknya yang nunggu, jadi nggak perlu khawatir. Buat ketua kelompok, temen-temennya jangan lupa dijaga!”

“Ya Allah demi apa sih harus nyebrangg?? Kalo yang lagi halangan gimana, Kak?” tanya Dinda pelan pada Haris yang berada tepat di belakangnya.

“Hah, kamu lagi halangan?”

“Iyaaa,” balas Dinda. “Bilang aja nanti sama kakaknya pas di sungai, siapa tau disuruh muter. Tahun lalu sih disuruh muter aja jadi nggak nyebrang,” sahut Haris.

Tak berselang lama setelah keduanya berhenti bicara, Gia yang sudah kembali sehat itu bergabung kembali dengan kelompoknya. Gadis itu menelusup masuk ke dalam kelompoknya dari belakang agar tidak menarik perhatian. “Dindaa,” panggilnya berbisik.

Sementara yang dipanggil itu menoleh cepat dan membelalakkan matanya kaget. “Heeeeh, udah sehat lu beneran?” tanya Dinda. Kemudian Dinda mundur untuk memberi Gia tempat duduk, termasuk pula Haris yang mengerti situasi.

Gia hanya mengangguk menjawab pertanyaan Dinda dan segera mendudukkan dirinya. “Kenapa sih lo kemaren? Kedinginan?” tanya Dinda. Gia mengangguk lagi, “Iyaa, aku emang nggak kuat dingin. Semalem tuh dingin banget parah deh!”

“Iya anjrit muka lu pucet banget, Gi, semalem! Siapa tuh ya yang bilang kemaren, ada yang panik lo kesurupan. Soalnya katanya pas nunggu di tempat pertama itu, ada tiga orang yang kesurupan,” balas Dinda.

“Hah iya?”

“Iyaa, tapi alhamdulilah kalo lo nggak kesurupan. Tapi lo beneran udah nggak pa-pa, nih? Kalo nggak kuat mendingan nggak usah sumpah!” ucap Dinda perhatian. Takut-takut Gia masih lemas dan malah akan membahayakan dirinya sendiri.

“Nggak kok, udah nggak pa-pa. Udah minum teh manis anget, minum tolak angin, udah pake minyak angin. Udah lengkap sekarang udah anget,” balas Gia seraya terkekeh. Dinda balas tertawa, “Nggak sekalian lu pake minyak telon terus dibedong? Bayi banget kocak!”

Gia tak tersinggung, gadis itu balas bercanda. “Nggak ah, kalo kedinginan minta peluk Dinda aja.”

“Demi Allah,” balas Dinda tiba-tiba serius. Hingga membuat Gia sedikit terkejut dan takut. Apakah ucapannya membuat Dinda tersinggung? Atau terganggu? Namun segala pikiran buruknya sirna ketika Dinda justru membentangkan tangannya lebar-lebar, “sini sumpah!!! Dari awal gue liat lo tuh ya gue sebenernya udah gemes banget sama lo, Gi, anjir! Nanti selesai LDKS pokoknya kita harus foto!!!!”

Di belakang Dinda, Haris yang menyimak percakapan itu diam-diam pun menghela napas lega. Sebab mengetahui Gia baik-baik saja. Diam-diam pula, Haris berterima kasih pada Dinda yang mewakili seluruh isi hatinya. Meski tak ada yang tahu, sedikit rasa isi menjadi bumbu paling dominan dalam relung hatinya saat ini, terutama ketika Gia menyetujui untuk berfoto bersama Dinda. Tentu saja Haris tak menyuarakannya, hanya saja ia menjadikan rumput-rumput liar di hadapannya sebagai pelampiasan.

Kegiatannya terhenti ketika Bayu kembali membuka suara. Pria itu memberi instruksi pada kelompok 1 setelah mendapatkan konfirmasi bahwa semua panitia sudah siap di tempatnya melalui pesan suara lewat HT yang dipegangnya. “Kelompok 1, berdiri!

“Boleh jalan. Inget ya, nggak usah buru-buru, yang penting hati-hati!” ucap Bayu lagi.

“Makasih, Kak. Permisi,” pamit Dhimas sopan diikuti oleh seluruh anggota yang lain.

Outbond menjadi kegiatan yang paling menyenangkan dari banyaknya rangkaian acara LDKS. Terlihat dari raut-raut wajah bahagia yang tercetak jelas di masing-masing anggota meski kaus dan celana yang dikenakan kini penuh noda tanah.

Terpeleset, terciprat lumpur, tertusuk rerumputan tajam makin lama makin menjadi hal yang bersahabat. Namun bukannya marah, hal-hal itu justru menjadi sumber gelak tawa yang mengudara pagi itu.

“Dinda lu majuan sih buset kali lu panjang banget!” Alfi mengucap protes ketika mendapati wajahnya begitu dekat dengan telapak kaki Dinda ketika mereka harus tengkurap dan merayap melewati terowongan tali yang mengikat tiang kecil. “Ya, gimana sih, Fi? Lo kenapa jalannya nggak nunggu gue agak jauhan dikit?”

“Si Gia merayap cepet banget ya, cicak lu, Gi?” tanya Dhimas yang sudah berhasil lewat. “AH nggak mau sebut-sebut cicakk, geli banget ih, Kak Dhim!”

“Heh, heh, tengkurep tengkurep! Nggak ada nungging-nungging!” tegur Yuna pada Dinda yang tengkurap dengan postur yang tidak rata lantaran kaki-kakinya yang jenjang. “SUUUSAH KAKK! KAKI SAYA KEPANJANGAN!”

“Itu Haris bisaaa!” balas Yuna tak mau kalah. Sementara itu Haris hanya tertawa, “Bisa dari mane ini rasanya kagak jalan-jalan!”

“Dhim lo nggak mau narik gue apa, Dhim dari situ? Biar langsung settt gitu meluncur,” keluh Haris.

“AYO RIS SEMANGAT YAH ILAHH LEMAH BENER!” ejek Yuna. Wajah Haris yang penuh corengan tanah itu sontak menoleh pada Yuna, “Cobain sini!”

“Nggak ah, udah pernah dua tahun lalu!” balas Yuna seraya terkekeh.

Tiba giliran Alwan. Dengan tubuh kekarnya itu ia dengan mudah melewati rintangan itu dengan mudah. Alwan bergerak bagaikan seorang tentara yang sudah terlatih, membuat banyak pasang mata menatapnya kagum. “Nahh ini baru nih, calon tentara!” canda Vio. “Siapa namanya nih? Alwan ya? Mau jadi tentara, Wan?”

“Enggak, Kakk!” balasnya seraya tertawa.

“Nggak mau jadi tentara tapi badannya jadi banget, yak?” sahut Vio lagi. “Keker, gitu.”

Setelah semuanya berhasil melalui rintangan kedua itu, kini tiba mereka harus bergandengan tangan untuk melewati labirin kecil sebatas betis yang penuh lumpur. Seakan anak kecil yang baru belajar jalan, mereka banyak sekali terjatuh. Terutama Haris yang seringkali terseret oleh Dhimas. Begitu pula Dinda yang malah beradu mulut dengan Alfi yang kerap kali menjadi alasannya terjatuh berkali-kali. Sementara Gia, Haris tak terlalu mengkhawatirkannya sebab gadis itu aman dalam penjagaan Alwan. Meskipun tak bisa dipungkiri, Haris jengkel bertubi-tubi lantaran harus melihat tangan kekar Alwan menggengam milik Gia begitu erat.

“DHIM YA ALLAHHH, LU KALO MAU JATOH JANGAN NGAJAK-NGAJAK GUE KENAPA SIH?!” Haris berujar emosi ketika Dhimas yang berada di belakangnya itu terjatuh untuk kesekian kali. Membuatnya turut terjengkang ke belakang dan terduduk kembali di atas lumpur yang basah.

“LICIN RISSS YA TUHANN!”

“YA GUE TAU! Makanya lu pelan-pelan ajaaaa!”

Belum sempat Haris bangun dari jatuhnya, Alfi turut terpeleset hingga menimpanya. “EH EH DIN DIN PEGANGIN GUE DIN!!”

BUGH

“Innalillahi..” ucap Haris pasrah ketika bokong Alfi menabrak wajahnya.

“KAK MAAP KAK SUMPAH!” ucap Alfi panik saat mengetahui orang yang ia timpa adalah Haris. Haris hanya diam dan menyemburkan lumpur yang tak sengaja masuk ke dalam mulutnya. Sekon berikutnya ia menyeka wajahnya yang entah masih berbentuk atau tidak. “Balik-balik kalo gue diare gue nggak heran sih. Minuman gue lumpur di sini bukan es teh manis,” ucapnya yang kemudian mengundang gelak tawa semua orang yang mendengarnya.

“Jalan ngiterin ginian aja jatoh mulu, PADA PAMIT EMAK LU GA SIH KE SINI?” ucap Haris jengkel, namun setelahnya tertawa geli mengingat kebodohan kelompoknya sendiri yang terjatuh berkali-kali.

“Iya dah, gue udah salim emak gue belom ye? Masalahnya kita jalan di tempat biasa aja dari kemaren jatoh mulu,” balas Dhimas.

“PERMASALAHANNYA ADA DI ALFI KAK!! Lu mau punya adek apa gimana sih, Fi? Ini kita tuh gandengan berempat!! Gue, lu, Kak Haris, Kak Dhimas! LO JATOH KITA SEMUA RUNTUH FI!!!!!” ucap Dinda kesal.

“Iya kayaknya Alfi dah yang nggak direstuin emaknya,” balas Haris. “Yang bener, Fi, ah elah! Ini muka gue udah nggak menampakkan warna asli kulit gue nih!”

Mendengar Haris bicara, Gia sontak menoleh. Pemuda itu masih terduduk, seakan pasrah dan malah memainkan lumpur yang kemudian ia corengkan pada wajah Dhimas. Sudut bibirnya berkedut menahan senyuman, lucu ketika melihat Haris bermain-main dan menunjukkan sisi remajanya. Ada rasa yang menggelitik dalam relungnya saat melihat Haris memamerkan senyum lebar dan tawa renyahnya pada dunia. Tetap menjadi pemandangan paling indah bagi Gia meskipun kini wajah Haris terlihat seperti sedang memakai masker lumpur. It's something you don't see everyday, batin Gia.

“Kak, ini boleh nggak diterusin nggak sih? Dah lah kita nongkrong sini aja,” ucap Haris bercanda.

“Nggak bisa, Ris! KITA KELOMPOK SATU ADALAH KELOMPOK PANTANG MENYERAH!!!! Bangun, ayo bangun! PANJANG UMUR PERJUANGAN!!” Dhimas mulai meracau tidak jelas, yang justru membuat gelak tawa di antara mereka semakin keras.

“Gue capek banget sumpah dah, jalan belom ada selangkah aja kayaknya udah jatoh lagi jatoh lagi subhanallah!” keluh Haris sebelum akhirnya dipaksa untuk berdiri oleh Dhimas. “Jangan jatoh lagi, Fi! Ntar geger otak gue ditimpa badan lu!” ucap Haris lagi.

“ALFI PALING BELAKANG AJA KAKK! BEBAN KELUARGA EMANG DIA!” balas Dinda kesal.

“INI PADA BENCI AMAT SAMA SAYA KAYAKNYA?!” ucap Alfi, yang kemudian hanya mendapat respons tawa dari teman-temannya sebelum akhirnya kembali bergerak, berjuang untuk melalui rintangan itu.

Setelah berbagai rintangan dilewati, tiba saatnya untuk rintangan terakhir yang menjadi puncak kegiatan outbond. Mereka harus menyebrangi kali kecil yang sudah dilengkapi tali sebagai pengaman untuk menyebrang.

“Ini dalem nggak, Kak?” tanya Alwan pada Haris.

“Enggak terlalu. Hati-hati aja soalnya licin,” balas Haris. “Lumpur semua bawahnya. Pegangan talinya yang kuat.”

Alwan hanya mengangguk, setelahnya ia kembali menghadap ke arah depan sembari menunggu giliran untuk menyebrangi kali di hadapannya. Dhimas sebagai yang paling depan memberi contoh, pria itu menyebur dan mulai berjalan perlahan seraya berpegangan pada tali tambang yang membentang.

Sesaat sebelum Alwan bergerak, Dinda membuka suara. “Kak, maaf mau tanya. Kalo yang lagi halangan gimana ya? Nyebur juga?”

“Oh, lagi halangan ya? Diannn, ini lagi halangan gimana?” tanya seorang kakak kelasnya yang menjaga di pinggir kali.

“Mana yang lagi halangan?” tanya Dian, seorang kakak kelas perempuan berambut keriting yang diikat rendah.

“Saya, Kak,” ucap Dinda. “Saya juga, Kak,” Gia turut berbicara.

“Udah dua orang aja? Yuk ikut saya, muter aja jangan nyebur,” ucap Dian. Setelahnya Gia dan Dinda pun keluar barisan dan membuntuti Dian yang memimpin jalan untuk mengitari kali.

“Daaah, hati-hati yaaa!” canda Dhimas.

“Hati-hati yaa jalannya, licin. Apalagi kalian abis kena lumpur. Tadi kakak-kakaknya bawa air bolak-balik soalnya,” ucap Dian.

“Ngangkut air ke mana, Kak?” tanya Dinda.

“Ke lapangan api unggun itu. Nanti ada fun games buat satu angkatan. Ikutan yaaa nanti! Seru loh!” balas Dian.

“Eh ini kalian sekelas?” tanya Dian lagi. Dalam hati, Gia dan Dinda bersyukur sebab yang mengantar mereka mengitari kali adalah kakak kelas yang ramah sehingga tak tercipta suasana canggung di antara ketiganya.

“Enggak, Kak. Beda kelas, baru ketemu pas kumpul buat kelompok aja,” balas Gia.

“Ohh, bagus dehh. Jadi meluas kan yaa temennya,” balas Dian yang hanya mendapat anggukan dari Gia. Mereka pun terus berjalan, sesekali berhenti untuk melihat dan menertawai mereka yang mendapat giliran menyebrangi kali. Dhimas yang terpeleset saat ingin naik ke pinggir, Alfi yang terlelap karena terpeleset di tengah-tengah kali—beruntung berhasil diselamatkan oleh kakak kelas yang turut menyebur di sana, membuat wajahnya penuh dengan lumpur kecoklatan.

WAHAHAHAH MASKER FII, MASKERAN BIAR TAMBAH GANTENG,” ejek Dhimas dari pinggir. Padahal, kondisinya pun tak jauh berbeda sebab ketika sampai pinggir pun mereka kembali dicoreng lumpur tepat di wajah. Sebagai tanda absen, katanya.

“Kalo ngeliatin ginian tuh kocak-kocak banget asli,” ucap Dian. “Dulu begini juga, Kak?” tanya Gia.

“Iyaaa. Dulu malah kita lebih parah lagi, soalnya kan di tempat TNI gitu. Tahun ini nggak bisa di sana tapi kita sengaja cari lokasi yang emang ada kalinya,” balas Dian.

“Kakak juga dulu nyebur dong?” tanya Dinda.

“IYA, ih mana dulu tuh kalinya lebih dalem dari ini deh kayaknya. Ya nggak tau sih, saya kan emang pendek ya,” jawab Dian lagi. Setelahnya mereka hanya terkekeh.

“Dah, yuk, lanjut lagi!” ajak Dian. “Awas hati-hati jalannya! Banyak ranting, takut kena kaki. Kalian lagi nyeker gitu soalnya.”

Bagaikan pucuk dicinta ulam pun tiba, belum kering rasanya liur Dian sehabis berbicara, Gia terpeleset hingga jatuh terduduk. Bahkan mata kaki kanannya itu tergores ranting dan mengeluarkan darah. Tak ada yang Gia lakukan selain meringis menahan sakit yang ia rasakan pada pinggang dan kakinya. Saat itu juga, perkataan Haris kembali menggaungi telinganya. Pemikiran Dhimas pun menjadi pemikirannya saat ini, udah izin Mama belum sih? Kenapa celaka terus deh..

“GI! YA ALLAH!” Dinda berteriak panik. “Gi, bisa bangun nggak??”

“Sakit banget, Din,” balas Gia seraya meringis. Gadis itu bahkan ingin menangis saat itu juga.

“Duhh, iya iya. Bangun pelan-pelan, yuk,” ujar Dinda lagi. Gadis itu—dengan bantuan Dian, kini membantu Gia untuk berdiri.

“Bisa jalan nggak?” tanya Dian. “B-bisa, Kak.”

Bohong, ucapan Gia sama sekali tak terealisasi. Gadis itu kembali mengaduh kesakitan bahkan ketika kakinya belum berhasil menyelesaikan satu langkah.

“Udah udah, nggak usah dipaksa. Tunggu sini sebentar saya panggilin anak cowoknya biar digendong aja ke aula. Kalo kamu maksa jalan takutnya malah makin sakit,” ucap Dian. “Tolong jagain dulu sebentar temennya, ya!”

“Iya, Kak,” balas Dinda mengangguk. Setelahnya gadis itu memegangi Gia agar gadis itu tak terjatuh. Bahkan Dinda membersihkan dedaunan basah yang menempel pada celana Gia.

“Duh, Gi, baru juga sembuh lo udah ada lagi aja perkaranya. Sakit banget ya? Bentar yaaa, duh!”

“Duh, nggak tau juga, Din,” balasnya. “Gia kenapa sih, Gi, ngerepotin orang terus?” ucapnya pada diri sendiri.

Tentu saja ia pun tak ingin merepotkan orang lain. Namun entah semesta begitu membencinya atau bagaimana, setiap kali ada acara seperti ini, Gia seringkali terkena masalah yang berujung harus menerima bantuan orang lain. Rasanya pun Gia sudah banyak sekali berhutang budi pada orang lain.

Tak berselang lama, Dian kembali.

“Siapa yang jatoh?” tanyanya. Suara bariton milik seseorang yang datang bersama Dian itu membuat Dinda dan Gia sontak menengadah. “Ini si Gia, Kak.”

Berbeda dengan Dinda yang bereaksi santai, Gia justru tak berkutik di tempatnya. Pun dengan Haris, seseorang yang harus membatalkan niatnya menyeberangi kali lantaran dipaksa Dian untuk ikut mengitar sebab salah seorang anggota kelompoknya terluka di seberang sana.

Cepat-cepat Haris menepis lamunannya agar tak berlama-lama larut dalam tatapan Gia. Setelahnya ia berdehem, “Nggak bisa jalan?”

“Nggak bisa, Kak. Tadi udah dicoba tapi sakit kakinya, soalnya tadi kepelesetnya duduk gitu, Kak.” Lagi-lagi Dinda bertindak seakan juru bicara Gia yang masih tak bersuara.

“Gendong aja, Ris. Kuat nggak?” tanya Dian.

“Kuat, lahhh, orang kemaren Gia pingsan juga Kak Haris yang gotong!” ucap Dinda. Haris memalingkan wajah salah tingkah. Terkutuk lah Dinda dan mulutnya yang diciptakan tanpa rem itu.

“Oh gitu? Ya udah gendong aja, Ris. bawa ke aula,” titah Dian. Haris hanya mengangguk tanpa banyak bicara. Setelahnya ia berjongkok membelakangi Gia, “Naik!”

Gia masih akan diam tak berkutik jika Dinda tak mendorongnya pelan untuk berpegangan pada kedua bahu Haris.

“Maaf pegang-pegang ya, Gi,” ucap Haris ketika Gia sudah berada di punggungnya. Sementara Gia hanya mengangguk kaku. Haris benar-benar membuatnya kikuk saat itu.

“Ini kenapa sih pada kayak canggung banget? Kalian berdua ada apa-apa ya?” tanya Dian.

Haris berdecak pelan, “Ngarang!”

Pria itu berusaha bersikap biasa, sebab Dian memang dikenal sebagai orang yang suka membuat hal-hal kecil menjadi heboh. Bahkan kakak kelasnya itu me dapat julukan Heri alias, heboh sendiri. Kalau soal gosip, Dian juaranya. Pernah suatu ketika Haris tidak sengaja memegang bahu Gina guna menahan gadis itu agar tidak terjatuh. Dan kejadian itu terjadi di depan mata Dian. Alhasil, Haris dan Gina menjadi bahan ledekan dalam lingkup OSIS selama berbulan-bulan.

“Kalo abis ini saya jadi bulan-bulanan lagi pas rapat, awas ya, Kak Dian!”

“YEHHHH PARAH LU! Itu kan anggota kelompok lo juga, Ris! Tanggung jawab lu lah! Emosiann!”

Haris tak menjawab lagi. Ia memilih untuk bangkit berdiri dengan Gia yang kini sudah berada di punggungnya. Berada di punggung Haris yang super tinggi itu membuat Gia turut merasakan menjadi raksasa. Gadis itu tak henti-hentinya melirik ke bawah, menikmati pemandangan yang biasanya Haris dapat saksikan dari jarak yang setinggi ini.

Haris otomatis membenarkan posisi Gia sebelum akhirnya berjalan, membuat Gia sontak memeluk bahu Haris lebih erat. Haris menahan napasnya sendiri, berharap detak jantungnya itu tak terdengar sampai pada telinga Gia.

“Bawa ke mana nih?” tanyanya pada Dian.

“Aula aja.”

“Emang nggak pa-pa nanti kaki saya kotor gini masuk aula?” tanya Haris.

“Oh iya ya, ya udah bawa ke depan aja. Nanti minta tolong panggil medisnya ke depan. Ada angkatan gue juga kok di aula situ, gue harus nganterin Dinda nih. Nggak bisa ditinggal sendirian, lo sama dia nggak pa-pa?”

“Aman,” balas Haris singkat. Dian mengangguk, “Oke, tolong ya, Ris! Thank youu!

“Jangan kepeleset juga Dinda, kalo lo nanti gue geret aja nggak mau gendong!” ucap Haris.

“YEEEEEEEEE!! BAE BAE GIA DIA MODUS!!!!”

Setelahnya mereka berpisah sebab harus berjalan ke arah berlawanan. Berbeda dengan Dian dan Dinda yang kembali berbincang selama di perjalanan, Haris dan Gia justru kompak menutup mulut. Tak ada dari keduanya yang berbicara.

Entah memanfaatkan kesempatan atau berhati-hati, Haris berjalan dengan langkah super pelan. Membuat Gia gelisah sendiri, ia benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Ingin sekali ia menggerakan bibirnya untuk mengucapkan terima kasih sebab Haris mau menolongnya. Namun pada akhirnya, niat itu kembali ia urungkan.

Hingga Haris memulai percakapan. “Kenapa bisa jatoh?”

“Hah? Oh—kepeleset, Kak.”

“Terus ini kenapa berdarah?” tanyanya lagi.

“Kena ranting..”

“Oh,” balasnya singkat. Kemudian hening kembali menyelimuti. Jarak dari tempat Gia terjatuh ke aula tidak sejauh itu. Namun entah mengapa durasi perjalanan ini terasa sangat lama.

Gia memilih memalingkan wajah ketimbang harus menyandarkan dagunya pada pundak kanan Haris. Gia berusaha sangat keras menyembunyikan semburat kemerahan yang menghiasi pipinya meski Haris pun tak dapat melihatnya. Namun gadis itu kembali menoleh ketika Haris kembali buka suara.

“Maaf ya.”

“Maaf kenapa, Kak?”

“Baju saya kotor, baju kamu juga pasti ikutan kotor.”

Gia tersenyum tipis di balik punggung Haris, “Nggak pa-pa.”

“Maaf juga ya, Kak. Jadi ngerepotin.”

Seolah menular, senyum Gia kini berpindah pada wajah Haris meski masing-masing tak dapat melihat raut wajah satu sama lain. Selang beberapa sekon, Haris membalas dengan ucapan yang sama.

“Nggak pa-pa.”

Setelahnya tak ada yang bicara. Baik Haris maupun Gia sama-sama sibuk menyembunyikan wajah yang kian bersemu. Jutaan kupu-kupu itu kembali setelah pergi sekian lama.

Meskipun belum resmi diperbaiki, Haris dan Gia merasakan bahagia yang sama dalam relung masing-masing sebab pada akhirnya punya kesempatan untuk kembali bertegur sapa. Meskipun harus lewat jalur yang tidak diinginkan seperti ini.

Kini Haris percaya bahwa segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Termasuk terlukanya kaki Gia hari ini.

Sepertinya mulai hari ini, Haris tak lagi mampu melakukan pergerakan dalam diam.

Diam-diam Haris berharap dalam hatinya. Bahwa setelah ini, semoga pukul 06.15 pagi di depan gerbang sekolah itu sama indahnya seperti dulu. Sebab ia yang selama ini diam-diam mengawasi dan menjaga dari jauh itu, telah terungkap identitasnya.

Gia berkali-kali menggosokkan seraya meniup-niup kedua telapak tangannya, berharap akan mendapatkan sedikit kehangatan untuk tubuhnya yang masih kedinginan meski sudah dibalut dengan kaus lengan panjang serta jaket berbahan tebal. Gia memang tak pernah kuat dingin, gadis itu bisa menggigil. Sayangnya, tak ada pengecualian untuk siapapun malam ini. Semua harus mengikuti instruksi untuk berbaris kembali di lapangan yang sebelumnya mereka pijaki untuk acara api unggun.

Dengan kelopak mata yang masih berat lantaran hanya mendapat jam tidur super singkat, mereka semua bersiap untuk melaksanakan acara yang menjadi buah bibir paling beken dari masa ke masa. Alias, jurit malam.

Gia menjadi urutan keempat dari barisannya, tepat di belakang Dinda. Sementara Dhimas memimpin barisan, setelahnya Alwan, kemudian Alfi mengikuti. Sementara Haris yang paling tinggi memilih untuk berbaris di paling belakang, terpaksa. Sebab sebagai kakak pembimbing, tak mungkin ia berada di tengah. mereka harus melindungi adik-adik kelasnya. Maka pilihannya hanya dua, kepala atau buntut. Dan Haris tahu ia tak akan pernah sanggup menjadi orang yang paling depan membelah jalanan 'hutan' yang gelap.

“Kelompok satu udah siap ya?” tanya Bayu, yang memang ditugaskan untuk menjadi orang pertama yang memberi tahu jalan masuk menuju hutan.

“Siap, Kak.” Dhimas menjadi perwakilan kelompok untuk menjawab pertanyaan Bayu. Setelahnya Bayu pun mengalakan pemantik api dan menyalakan lilin yang sedari tadi dibawa oleh Dhimas.

“Ini lilinnya jangan sampai mati ya, kalo bisa dijaga sampe pos terakhir. Saling pegangan sama bahu temannya, jangan sampe terlepas, jangan tertinggal! Paham ya?” ucap Bayu yang hanya ditanggapi dengan anggukan dalam diam. “Ya udah, silakan jalan. Dari sini lurus aja, nanti belok kiri. Letak pos satunya di sana.”

Namun, alih-alih langsung berjalan, Alwan justru mengacungkan tangannya. Sebab sesuai instruksi Haris dan Dhimas, mereka tidak boleh lupa menanyakan clue untuk setiap pos yang akan didatangi. “Maaf, Kak, izin bertanya. Clue untuk pos pertama apa ya?” tanya Alwan.

Bayu menipiskan bibir, cukup takjub dengan Alwan yang tidak main asal menurut. “Cerdas! Simak baik-baik clue-nya ya! Untuk pos satu itu, cahaya kehidupan. Dah, silakan jalan!”

“Terima kasih, Kak!”

Setelah mendapat perbekalan cukup, 'kereta' kelompok 1 itu berjalan perlahan. Dhimas di paling depan menutupi lilin dengan sebelah tangannya yang tidak memegang piring kecil sebagai alas lilin, menjaganya agar tidak mati di tengah jalan. “Jangan ada yang bengong, ya! Fokus! Kalo ada yang sakit jangan sungkan bilang. Jangan maksain diri sendiri!” celoteh Dhimas. Pria itu memang paling rewel akan keselamatan para anggota kelompoknya. Entah sudah berapa kali Dhimas mengatakan hal itu.

Terdapat lima pos tersebar di dalam hutan, terdiri dari 4 pos utama dan 1 pos untuk ice breaking. Pos Agama, Kepemimpinan, Manajemen Waktu, Ice Breaking, dan yang paling ditakuti dan disimpan pada paling terakhir, Mental.

Pos pertama, dihuni oleh kakak-kakak berperawakan alim. Terlihat dari personelnya yang mayoritas anak-anak rohis. Yang perempuan mengenakan kerudung menutupi dada, yang lelaki mengenakan celana cingkrang lengkap dengan peci. Sementara di sisi lain pun terdapat perwakilan dari ekskul rokris dan rohkat. Sudah jelas pos pertama adalah Pos Agama. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan di sana sederhana, seperti menyebutkan Rukun Islam, Rukun Iman, dan lain-lain. Namun rupanya hal ini jauh lebih sulit untuk anak-anak yang baru masuk SMA ketimbang anak-anak yang baru masuk madrasah. Rupanya seiring bertambah dewasa, banyak sekali perkara kecil pasal agama yang luntur dari ingatan.

Membuat sindiran-sindiran kakak kelas yang super menohok itu kembali terlontar. “Udah SMA nggak apal Rukun Islam sama Rukun Iman? Kalian ini agamanya apa sih? Malu sama anak TK! Balik aja TK sana!”

Beruntung di sana ada Gia dan Alfi yang masih mengingat jelas Rukun Islam dan Rukun Iman. Membuat kelompoknya terselamatkan dari hukuman tidak mendapatkan clue dan memakan petai mentah.

Berhasil lolos dari pos pertama, kelompok 1 melanjutkan perjalanan menuju pos kedua. Seseorang yang Haris kenali, seorang ketua MPK berdiri di sana. Sudah jelas lagi, Kepemimpinan adalah nama pos ini. Pertanyaan-pertanyaan pada pos ini jelas dibabat habis oleh Alwan yang berambisi menjadi anggota OSIS, dibantu sedikit oleh Haris untuk menyempurnakan jawabannya. Pun Gia yang membaca diktat betul-betul. Meski dengan rasa takut yang sedikit mendominasi beserta suaranya yang bergetar akibat menahan dingin yang semakin menusuk kulitnya, Gia menjawab sedikit-sedikit ketika ada pertanyaan mengenai materi yang ada pada diktat. Perbedaan pemimpin dan bos, pembahasan mengenai Planning, Organizing, Controling, Actuating, dan sifat-sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin menjadi pembahasan selama di pos kedua.

Sejauh ini berjalan lancar, kelompok 1 masih berjaya. Lilin masih menyala, tidak—atau belum mendapat hukuman atau amarah dari para kakak kelas, atribut pun masih lengkap. Maka dengan sedikit lebih tenang dari ketika pertama kali melangkahkan kaki ke dalam hutan, kelompok 1 kembali melangkah menuju pos ketiga. Manajemen waktu.

Tidak begitu banyak drama di sana, kakak-kakak yang mengisi pos Manajemen Waktu memang selalu yang terbaik dari tahun ke tahun. Entahlah hal ini direncanakan atau tidak, Haris dan Dhimas pun tak tahu kenapa. Manajemen Waktu menjadi pos paling lancar mereka lalui ketimbang pos-pos sebelumnya.

Masuklah pada pos keempat, Ice Breaking. Di sana, mereka disambut begitu meriah. “WEH WEHHH MASIH NYALA LILINYA! TEPUK TANGAN DONGGG!!”

“Kelompok berapa nih?” tanya seorang kakak kelas yang Gia tak tahu namanya.

“Satu, Kak,” balas Dhimas.

“Oh, masih pertama ya. Ini ngapain nih bawa-bawa lilin? Ada yang ulang tahun?”

Alwan menggeleng, “Nggak ada, Kak. Ini buat penerangan aja selama di jalan.”

“Oh gituu, ya udah duduk sini duduk. Jangan lebar-lebar, kita bukan mau liwetan! Yang nggak muat ke belakang.”

Dicontohkan oleh Dhimas, mereka semua duduk lesehan menghadap para kakak kelas yang asik sendiri. Makan snack, bercanda, berebut minum, dan lain-lain. Haris yang peka dan aware terhadap hal-hal seperti ini pun otomatis mengangkat tangannya. “Maaf, Kak sebelumnya, boleh izin tegur kakak-kakak yang lain untuk ikut duduk di sini? Supaya jangan asik sendiri,” ucap Haris.

“Oh? Boleh, boleh. Tuhh, Kakk! Denger nggak? Jangan asik sendiri katanya. Gabung sini sama adik-adik manis,” ucap salah seorang yang sedari awal duduk bersama dengan kelompok 1.

“Hoooo, iya iya maaf yahhh. Siapa tadi yang ngomong? Haris? Iye maap ye, Ris!”

Haris hanya mengangguk, setelahnya memilih diam dan membiarkan adik-adik kelasnya aktif berbicara. Sebab dirinya sudah terlalu banyak berargumen ketika rapat rutin. Dalam keanggotaan OSIS, Haris memang dikenal paling bawel karena paling sering mengkritik dan tak segan-segan menyuarakan ketika dirinya tidak setuju. Tentunya disertai dengan alasannya yang selalu logis.

Sesuai namanya, Pos Ice Breaking adalah tempat untuk rileks sejenak. Mereka bebas duduk dengan posisi senyaman mungkin, bebas menyuarakan siapa kakak-kakak yang galak, bebas bercanda, bahkan mereka ditawarkan makanan ringan yang sempat dijadikan rebutan para kakak kelas sebelum ditegur Haris.

Semuanya berjalan aman hingga salah seorang kakak kelas itu menyadari sesuatu. “Kamu kenapa? Sakit?”

Rentetan kalimat itu otomatis membuat anggota yang lain menoleh pada sumber suara. Haris terdiam kaku ketika mengetahui yang menjadi sasaran pertanyaan adalah Gia. Tubuhnya yang sedari tadi duduk sedikit bungkuk itu kini menegak lantaran secuil kekhawatiran menelusup masuk memenuhi relungnya.

“Serius, sakit nggak? Muka kamu pucet banget, loh! Itu bibirnya juga udah nggak ada merah-merahnya.”

“Pusing nggak, Gi? Kalo pusing bilang aja,” tanya Dhimas. Gia hanya menggeleng pelan, “Enggak, Kak. Nggak pa-pa, kok!”

“Bener?” tanya Dhimas lagi. “Kalo pusing bilang ya!”

Gia hanya mengangguk. Sementara tanpa sepengetahuannya, tatapan Haris masih tak lepas darinya. Meski dalam gelap, Haris dapat menangkap jelas wajah Gia yang memucat. Pula gelagatnya yang menunjukkan bahwa gadis itu kedinginan. Namun tetap tak ada yang ia lakukan selain mengawasi Gia dari jauh.

Tak terasa sudah habis waktunya untuk berdiam diri di pos keempat. Kelompok 1 akhirnya diperintahkan untuk lanjut menuju pos terakhir. Sesaat sebelum langkahnya menjauh, Haris merasakan seseorang menepuk bahunya. Membuatnya nyaris mengumpat lantaran terkejut, takut-takut yang menepuknya itu bukanlah sejenis dengannya.

“Kaget, kenapa, Kak?” tanya Haris. “Adek kelas lu liatin tuh yang tadi, ngeri pingsan.”

“Iya, Kak.”

Sekon berikutnya Haris pun menyusul kelompoknya yang entah mengapa kini berjalan dengan urutan mengacak. “Eh, baris lagi dong, guys!” seru Dhimas. Membuat semuanya kembali membentuk barisan seperti semula.

Kala itu, Haris yang berada di paling belakang menangkap Gia berjalan melambat. Gadis itu bahkan sedikit berada di luar jalur, membuat Haris mau tak mau meraih kedua bahu Gia untuk menyeretnya kembali ke barisan.

Perlahan tapi pasti, mereka kini tiba pada pos terakhir. Namun langkah Gia kembali melambat, bahkan terhenti. Alhasil, Haris yang berjalan tepat di belakangnya turut menghentikan langkahnya. Seraya mengerutkan dahi, Haris memandangi Gia yang kini memeluk erat dirinya sendiri.

“Gi?” panggil Haris. Alih-alih menjawab, Gia hanya diam dan semakin mengeratkan pelukan pada tubuhnya yang kian menggigil. “Gi?” panggil Haris lagi.

Panik, ketakutan, dan khawatir berlebihan, Haris memposisikan dirinya di hadapan Gia. Seraya sedikit membungkuk dengan kedua tangan yang mencengkeram bahu Gia pelan, Haris menanyakan keadaannya. “Kenapa?”

“Dingin, Kak..”

Sayangnya, suara Gia terlampau pelan untuk Haris dengar. Maka ia mendekatkan telinganya dengan bibir Gia, “Kenapa?”

“D-Dingin.”

“Heh, kenapa itu? Cepet baris sini, lelet!” ucap Vio, salah satu personel utama Pos Mental. Haris sontak menoleh, “Nggak enak badan, Kak. Dari pos sebelumnya juga udah pucet,” balas Haris.

Raut wajah khawatir Haris seakan menular kepada Vio. Pemuda itu menyugar rambutnya frustrasi dan segera memanggil Yuna untuk membantu Haris mengatasi kondisi Gia. Seraya tergopoh-gopoh, Yuna menghampiri Haris dan Gia yang kini terpisah dari barisan.

“Kenapa, Ris?” tanya Yuna.

“Kedinginan,” jawab Haris. “Kayaknya nggak kuat dingin. Ini menggigil badannya.”

“Pusing nggak, Anggia?” tanya Yuna. Lagi-lagi tak ada jawaban. Baru saja Yuna ingin memanggil tim medis melalui HT yang ia bawa, tubuh Gia ambruk seketika. Beruntung sejak awal Haris sudah memperkirakan hal ini akan terjadi, maka ia dengan cekatan menangkap tubuh Gia sebelum bersentuhan dengan tanah.

“Ris, nunggu medis kelamaan, Ris! Keburu makin parah ni anak orang. Gotong aja deh, kuat nggak lo?” ucap Yuna panik, perempuan itu bahkan melupakan untuk berbicara sopan.

Tak banyak bicara, Haris mengangguk menyetujui. “Tunggu,” ucap Haris. Kemudian seakan ingin menunjukkan kepeduliannya terhadap sang adik kelas, Haris membaringkan tubuh Gia sementara. Kemudian secepat kilat melepas almet OSIS kebanggaannya dan menjadikannya selimut untuk tubuh mungil Gia, menyisakan kaus celup ikat abal-abal berlengan pendek yang dibuat seragam dengan teman satu angkatannya.

Kemudian dengan hati-hati, pria itu membopong Gia dengan mudah. “Ayo, ke mana jalannya?”

Sebagai seorang wanita yang melihat tingkah Haris yang benar-benar gentle, Yuna mendadak gugup. Ia bahkan menelan ludah sebelum menjawab pertanyaan Haris. Setelah tersadar, barulah Yuna menunjukkan jalannya. “S-sini.”

“Vio, izin ya!” ucap Yuna. Setelah dibalas anggukan oleh Vio, yang Haris dan Yuna lakukan selanjutnya adalah bergegas membawa Gia kembali ke aula.

“Heh, liat sini semua! Jangan norak! Temennya sakit bukannya ditolongin malah diliatin doang!” ujar Vio.

Dhimas menghela napasnya, dalam hati ia berdecak. Haris benar-benar harus berterima kasih pada Gia sebab gadis itu menyelamatkan Haris menjauh, meninggalkan Dhimas dan sisa kelompok 1 yang lain dengan siksaan pada pos terakhir yang bahkan memiliki clue 'Kerajaan Setan'.


“Baringin sini aja, Ris!” ucap Yuna. “Jagain bentar, gue panggil medis dulu!”

“Gue aja, Kak,” balas Haris. Setelah membaringkan Gia pada sebuah karpet yang digelar di aula untuk alas tidur, Haris melanglang buana untuk mencari divisi medis.

Selang sekitar tiga menit, seorang divisi medis perempuan bertanda nama Mutia pada rompi PMR-nya datang menghampiri Yuna dengan tas berisi obat-obatan. “Kenapa, Yun? Pusing?” tanyanya. Yuna menggeleng, “Nggak tau, Mut. Tadi nyampe pos gue langsung pingsan. Kata Haris emang udah pucet dari pos sebelumnya.”

“Harisnya mana, Mut?” tanya Yuna lagi ketika menyadari Haris belum kembali. “Nggak tau juga, tadi gue disuruh duluan,” balas Mutia, yang kemudian mengoleskan minyak angin pada kedua pelipis Gia.

Panjang umur, yang dibicarakan akhirnya tiba. Haris berjalan dengan langkah lebar dengan tangan kanan yang menjinjing asal jaket tebal miliknya. Kemudian Haris ikut duduk di sebelah Yuna.

“Ini kenapa, Ris?”

“Kedinginan,” balas Haris singkat. Setelahnya ia menukar almet OSIS-nya yang menjadi selimut darurat untuk Gia dengan jaket yang ia bawa. “Kayaknya emang nggak kuat dingin, Kak. Soalnya tadi sempet menggigil juga,” lanjutnya.

“Ohh, ya udah ya udah. Sepatunya buka dulu deh, tolong balurin minyak kayu putih dulu ya telapak kakinya! Gue ambilin selimut deh,” ucap Mutia. Kemudian meninggalkan Haris dan Yuna yang dengan segera melakukan instruksi Mutia.

“Kakinya aja dingin banget, buset!” ujar Yuna saat pertama kali menyentuh telapak kaki Gia. Haris hanya diam, fokus membalurkan minyak kayu putih pada telapak kaki kanan Gia. Sesekali ia mencengkramnya pelan, berharap akan menyalurkan sedikit kehangatan di sana.

“Lo kok tadi nggak takut, Ris jalan keluar dari hutan sendirian?” tanya Yuna. “Nggak nangis lagi kayak tahun lalu?”

Haris terkekeh, “Kan berdua sama lo, Kak! Bertiga deng, sama Gia.”

“Lo lagian aneh-aneh, Kak. Kenapa nggak di tempat tahun lalu aja sih? Tempat TNI? Ini di kaki gunung gini dingin banget tau. Kasian lu anak orang pada kedinginan,” ujar Haris.

“Salahin Vio lahh! Tapi katanya sih tempat TNI yang tahun lalu itu udah penuhh di-booking orang. Kalo mau kita harus ngundur acaranya, tapi kalo diundur tuh sekolahnya nggak mau,” jelas Yuna.

“Gue ngeri Gia kesurupan sumpah. Untung sakit doang, nggak untung juga sih. Tapi, mending lah daripada kesurupan. Gue mau bawanya juga gimana ya kalo kesurupan,” celoteh Haris lagi.

“Iya anjir! Gue juga takut bawanya kalo kesurupan,” balas Yuna.

Percakapan keduanya terhenti setelah Mutia kembali membawa sehelai selimut dengan kedua tangannya. “Pakein lagi aja kaus kakinya,” titah Mutia yang langsung dilaksanakan oleh Haris dan Yuna. Setelahnya ia melebarkan selimut itu untuk membuat Gia lebih hangat. Membuat tubuhnya kini terbalut dengan jaket miliknya sendiri, jaket tebal Haris, dan sehelai selimut.

Penanganan selanjutnya diambil alih oleh Mutia, gadis itu kini mendekatkan minyak angin pada hidung Gia. Membiarkan gadis itu menghirupnya dan berharap gadis itu segera sadar.

Entah sudah berapa menit Haris habiskan untuk mengurus Gia hingga HT Yuna kembali berbunyi. Memperdengarkan suara Vio yang memang tertuju padanya.

“Yun, yuna?”

“Ya, ya?”

“Haris nanti suruh gabung sama kelompoknya lagi, ya! Di tempat terakhir buat kelompok-kelompok pada ngumpul. Kelompok satu udah keluar dari pos gue.”

“Oh gitu? Oke, oke. Ini Haris sama gue, kok! Nanti gue anter ke sana.”

“Sip, thank you!”

“Yooo!”

“Mut, gue tinggal ya!” pamit Yuna. Haris yang sudah tahu harus melakukan apa itu pun turut bangkit dan segera memakai kembali almetnya dan membuntuti Yuna yang akan mengantarkannya kembali bergabung dengan kelompoknya.

Tak masalah, Haris justru bersyukur dalam hati. Memang ia membutuhkan Dhimas untuk menenangkan jantungnya yang sedari tadi berdetak kencang. Takut. Sejujurnya Haris sangat takut sedari tadi. Kalau bukan karena Gia, ia pastikan kakinya itu tak akan sanggup melangkah hingga kembali ke aula.

Setelah menempuh perjalanan yang tidak jauh, Haris akhirnya kembali bergabung dengan kelompoknya. Dan tanpa sepengetahuannya, di sisi lain, Gia sudah kembali tersadar. Gadis itu sempat bingung lantaran terbangun di aula dengan selimut dan sebuah jaket yang menghangatkannya.

Terlebih, ketika ia menemukan sebuah bordiran inisial yang familiar dalam ingatannya pada salah satu sisi bawah pada bagian dalam jaket. Gia langsung tahu milik siapa jaket yang ada padanya dengan sekali tebakan. Sebab ia temukan bordiran yang sama dengan sapu tangan yang ia terima dari seseorang di sekolah lamanya.

Bordiran biru tua dengan font latin yang cantik nan rapi, mengukir dua huruf yang membuatnya menipiskan bibir mengukir sebuah senyuman.

M. H.

Gia berkali-kali menggosokkan seraya meniup-niup kedua telapak tangannya, berharap akan mendapatkan sedikit kehangatan untuk tubuhnya yang masih kedinginan meski sudah dibalut dengan kaus lengan panjang serta jaket berbahan tebal. Gia memang tak pernah kuat dingin, gadis itu bisa menggigil. Sayangnya, tak ada pengecualian untuk siapapun malam ini. Semua harus mengikuti instruksi untuk berbaris kembali di lapangan yang sebelumnya mereka pijaki untuk acara api unggun.

Dengan kelopak mata yang masih berat lantaran hanya mendapat jam tidur super singkat, mereka semua bersiap untuk melaksanakan acara yang menjadi buah bibir paling beken dari masa ke masa. Alias, jurit malam.

Gia menjadi urutan keempat dari barisannya, tepat di belakang Dinda. Sementara Dhimas memimpin barisan, setelahnya Alwan, kemudian Alfi mengikuti. Sementara Haris yang paling tinggi memilih untuk berbaris di paling belakang, terpaksa. Sebab sebagai kakak pembimbing, tak mungkin ia berada di tengah. mereka harus melindungi adik-adik kelasnya. Maka pilihannya hanya dua, kepala atau buntut. Dan Haris tahu ia tak akan pernah sanggup menjadi orang yang paling depan membelah jalanan 'hutan' yang gelap.

“Kelompok satu udah siap ya?” tanya Bayu, yang memang ditugaskan untuk menjadi orang pertama yang memberi tahu jalan masuk menuju hutan.

“Siap, Kak.” Dhimas menjadi perwakilan kelompok untuk menjawab pertanyaan Bayu. Setelahnya Bayu pun mengalakan pemantik api dan menyalakan lilin yang sedari tadi dibawa oleh Dhimas.

“Ini lilinnya jangan sampai mati ya, kalo bisa dijaga sampe pos terakhir. Saling pegangan sama bahu temannya, jangan sampe terlepas, jangan tertinggal! Paham ya?” ucap Bayu yang hanya ditanggapi dengan anggukan dalam diam. “Ya udah, silakan jalan. Dari sini lurus aja, nanti belok kiri. Letak pos satunya di sana.”

Namun, alih-alih langsung berjalan, Alwan justru mengacungkan tangannya. Sebab sesuai instruksi Haris dan Dhimas, mereka tidak boleh lupa menanyakan clue untuk setiap pos yang akan didatangi. “Maaf, Kak, izin bertanya. Clue untuk pos pertama apa ya?” tanya Alwan.

Bayu menipiskan bibir, cukup takjub dengan Alwan yang tidak main asal menurut. “Cerdas! Simak baik-baik clue-nya ya! Untuk pos satu itu, cahaya kehidupan. Dah, silakan jalan!”

“Terima kasih, Kak!”

Setelah mendapat perbekalan cukup, 'kereta' kelompok 1 itu berjalan perlahan. Dhimas di paling depan menutupi lilin dengan sebelah tangannya yang tidak memegang piring kecil sebagai alas lilin, menjaganya agar tidak mati di tengah jalan. “Jangan ada yang bengong, ya! Fokus! Kalo ada yang sakit jangan sungkan bilang. Jangan maksain diri sendiri!” celoteh Dhimas. Pria itu memang paling rewel akan keselamatan para anggota kelompoknya. Entah sudah berapa kali Dhimas mengatakan hal itu.

Terdapat lima pos tersebar di dalam hutan, terdiri dari 4 pos utama dan 1 pos untuk ice breaking. Pos Agama, Kepemimpinan, Manajemen Waktu, Ice Breaking, dan yang paling ditakuti dan disimpan pada paling terakhir, Mental.

Pos pertama, dihuni oleh kakak-kakak berperawakan alim. Terlihat dari personelnya yang mayoritas anak-anak rohis. Yang perempuan mengenakan kerudung menutupi dada, yang lelaki mengenakan celana cingkrang lengkap dengan peci. Sementara di sisi lain pun terdapat perwakilan dari ekskul rokris dan rohkat. Sudah jelas pos pertama adalah Pos Agama. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan di sana sederhana, seperti menyebutkan Rukun Islam, Rukun Iman, dan lain-lain. Namun rupanya hal ini jauh lebih sulit untuk anak-anak yang baru masuk SMA ketimbang anak-anak yang baru masuk madrasah. Rupanya seiring bertambah dewasa, banyak sekali perkara kecil pasal agama yang luntur dari ingatan.

Membuat sindiran-sindiran kakak kelas yang super menohok itu kembali terlontar. “Udah SMA nggak apal Rukun Islam sama Rukun Iman? Kalian ini agamanya apa sih? Malu sama anak TK! Balik aja TK sana!”

Beruntung di sana ada Gia dan Alfi yang masih mengingat jelas Rukun Islam dan Rukun Iman. Membuat kelompoknya terselamatkan dari hukuman tidak mendapatkan clue dan memakan petai mentah.

Berhasil lolos dari pos pertama, kelompok 1 melanjutkan perjalanan menuju pos kedua. Seseorang yang Haris kenali, seorang ketua MPK berdiri di sana. Sudah jelas lagi, Kepemimpinan adalah nama pos ini. Pertanyaan-pertanyaan pada pos ini jelas dibabat habis oleh Alwan yang berambisi menjadi anggota OSIS, dibantu sedikit oleh Haris untuk menyempurnakan jawabannya. Pun Gia yang membaca diktat betul-betul. Meski dengan rasa takut yang sedikit mendominasi beserta suaranya yang bergetar akibat menahan dingin yang semakin menusuk kulitnya, Gia menjawab sedikit-sedikit ketika ada pertanyaan mengenai materi yang ada pada diktat. Perbedaan pemimpin dan bos, pembahasan mengenai Planning, Organizing, Controling, Actuating, dan sifat-sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin menjadi pembahasan selama di pos kedua.

Sejauh ini berjalan lancar, kelompok 1 masih berjaya. Lilin masih menyala, tidak—atau belum mendapat hukuman atau amarah dari para kakak kelas, atribut pun masih lengkap. Maka dengan sedikit lebih tenang dari ketika pertama kali melangkahkan kaki ke dalam hutan, kelompok 1 kembali melangkah menuju pos ketiga. Manajemen waktu.

Tidak begitu banyak drama di sana, kakak-kakak yang mengisi pos Manajemen Waktu memang selalu yang terbaik dari tahun ke tahun. Entahlah hal ini direncanakan atau tidak, Haris dan Dhimas pun tak tahu kenapa. Manajemen Waktu menjadi pos paling lancar mereka lalui ketimbang pos-pos sebelumnya.

Masuklah pada pos keempat, Ice Breaking. Di sana, mereka disambut begitu meriah. “WEH WEHHH MASIH NYALA LILINYA! TEPUK TANGAN DONGGG!!”

“Kelompok berapa nih?” tanya seorang kakak kelas yang Gia tak tahu namanya.

“Satu, Kak,” balas Dhimas.

“Oh, masih pertama ya. Ini ngapain nih bawa-bawa lilin? Ada yang ulang tahun?”

Alwan menggeleng, “Nggak ada, Kak. Ini buat penerangan aja selama di jalan.”

“Oh gituu, ya udah duduk sini duduk. Jangan lebar-lebar, kita bukan mau liwetan! Yang nggak muat ke belakang.”

Dicontohkan oleh Dhimas, mereka semua duduk lesehan menghadap para kakak kelas yang asik sendiri. Makan snack, bercanda, berebut minum, dan lain-lain. Haris yang peka dan aware terhadap hal-hal seperti ini pun otomatis mengangkat tangannya. “Maaf, Kak sebelumnya, boleh izin tegur kakak-kakak yang lain untuk ikut duduk di sini? Supaya jangan asik sendiri,” ucap Haris.

“Oh? Boleh, boleh. Tuhh, Kakk! Denger nggak? Jangan asik sendiri katanya. Gabung sini sama adik-adik manis,” ucap salah seorang yang sedari awal duduk bersama dengan kelompok 1.

“Hoooo, iya iya maaf yahhh. Siapa tadi yang ngomong? Haris? Iye maap ye, Ris!”

Haris hanya mengangguk, setelahnya memilih diam dan membiarkan adik-adik kelasnya aktif berbicara. Sebab dirinya sudah terlalu banyak berargumen ketika rapat rutin. Dalam keanggotaan OSIS, Haris memang dikenal paling bawel karena paling sering mengkritik dan tak segan-segan menyuarakan ketika dirinya tidak setuju. Tentunya disertai dengan alasannya yang selalu logis.

Sesuai namanya, Pos Ice Breaking adalah tempat untuk rileks sejenak. Mereka bebas duduk dengan posisi senyaman mungkin, bebas menyuarakan siapa kakak-kakak yang galak, bebas bercanda, bahkan mereka ditawarkan makanan ringan yang sempat dijadikan rebutan para kakak kelas sebelum ditegur Haris.

Semuanya berjalan aman hingga salah seorang kakak kelas itu menyadari sesuatu. “Kamu kenapa? Sakit?”

Rentetan kalimat itu otomatis membuat anggota yang lain menoleh pada sumber suara. Haris terdiam kaku ketika mengetahui yang menjadi sasaran pertanyaan adalah Gia. Tubuhnya yang sedari tadi duduk sedikit bungkuk itu kini menegak lantaran secuil kekhawatiran menelusup masuk memenuhi relungnya.

“Serius, sakit nggak? Muka kamu pucet banget, loh! Itu bibirnya juga udah nggak ada merah-merahnya.”

“Pusing nggak, Gi? Kalo pusing bilang aja,” tanya Dhimas. Gia hanya menggeleng pelan, “Enggak, Kak. Nggak pa-pa, kok!”

“Bener?” tanya Dhimas lagi. “Kalo pusing bilang ya!”

Gia hanya mengangguk. Sementara tanpa sepengetahuannya, tatapan Haris masih tak lepas darinya. Meski dalam gelap, Haris dapat menangkap jelas wajah Gia yang memucat. Pula gelagatnya yang menunjukkan bahwa gadis itu kedinginan. Namun tetap tak ada yang ia lakukan selain mengawasi Gia dari jauh.

Tak terasa sudah habis waktunya untuk berdiam diri di pos keempat. Kelompok 1 akhirnya diperintahkan untuk lanjut menuju pos terakhir. Sesaat sebelum langkahnya menjauh, Haris merasakan seseorang menepuk bahunya. Membuatnya nyaris mengumpat lantaran terkejut, takut-takut yang menepuknya itu bukanlah sejenis dengannya.

“Kaget, kenapa, Kak?” tanya Haris. “Adek kelas lu liatin tuh yang tadi, ngeri pingsan.”

“Iya, Kak.”

Sekon berikutnya Haris pun menyusul kelompoknya yang entah mengapa kini berjalan dengan urutan mengacak. “Eh, baris lagi dong, guys!” seru Dhimas. Membuat semuanya kembali membentuk barisan seperti semula.

Kala itu, Haris yang berada di paling belakang menangkap Gia berjalan melambat. Gadis itu bahkan sedikit berada di luar jalur, membuat Haris mau tak mau meraih kedua bahu Gia untuk menyeretnya kembali ke barisan.

Perlahan tapi pasti, mereka kini tiba pada pos terakhir. Namun langkah Gia kembali melambat, bahkan terhenti. Alhasil, Haris yang berjalan tepat di belakangnya turut menghentikan langkahnya. Seraya mengerutkan dahi, Haris memandangi Gia yang kini memeluk erat dirinya sendiri.

“Gi?” panggil Haris. Alih-alih menjawab, Gia hanya diam dan semakin mengeratkan pelukan pada tubuhnya yang kian menggigil. “Gi?” panggil Haris lagi.

Panik, ketakutan, dan khawatir berlebihan, Haris memposisikan dirinya di hadapan Gia. Seraya sedikit membungkuk dengan kedua tangan yang mencengkeram bahu Gia pelan, Haris menanyakan keadaannya. “Kenapa?”

“Dingin, Kak..”

Sayangnya, suara Gia terlampau pelan untuk Haris dengar. Maka ia mendekatkan telinganya dengan bibir Gia, “Kenapa?”

“D-Dingin.”

“Heh, kenapa itu? Cepet baris sini, lelet!” ucap Vio, salah satu personel utama Pos Mental. Haris sontak menoleh, “Nggak enak badan, Kak. Dari pos sebelumnya juga udah pucet,” balas Haris.

Raut wajah khawatir Haris seakan menular kepada Vio. Pemuda itu menyugar rambutnya frustrasi dan segera memanggil Yuna untuk membantu Haris mengatasi kondisi Gia. Seraya tergopoh-gopoh, Yuna menghampiri Haris dan Gia yang kini terpisah dari barisan.

“Kenapa, Ris?” tanya Yuna.

“Kedinginan,” jawab Haris. “Kayaknya nggak kuat dingin. Ini menggigil badannya.”

“Pusing nggak, Anggia?” tanya Yuna. Lagi-lagi tak ada jawaban. Baru saja Yuna ingin memanggil tim medis melalui HT yang ia bawa, tubuh Gia ambruk seketika. Beruntung sejak awal Haris sudah memperkirakan hal ini akan terjadi, maka ia dengan cekatan menangkap tubuh Gia sebelum bersentuhan dengan tanah.

“Ris, nunggu medis kelamaan, Ris! Keburu makin parah ni anak orang. Gotong aja deh, kuat nggak lo?” ucap Yuna panik, perempuan itu bahkan melupakan untuk berbicara sopan.

Tak banyak bicara, Haris mengangguk menyetujui. “Tunggu,” ucap Haris. Kemudian seakan ingin menunjukkan kepeduliannya terhadap sang adik kelas, Haris membaringkan tubuh Gia sementara. Kemudian secepat kilat melepas almet OSIS kebanggaannya dan menjadikannya selimut untuk tubuh mungil Gia, menyisakan kaus celup ikat abal-abal berlengan pendek yang dibuat seragam dengan teman satu angkatannya.

Kemudian dengan hati-hati, pria itu membopong Gia dengan mudah. “Ayo, ke mana jalannya?”

Sebagai seorang wanita yang melihat tingkah Haris yang benar-benar gentle, Yuna mendadak gugup. Ia bahkan menelan ludah sebelum menjawab pertanyaan Haris. Setelah tersadar, barulah Yuna menunjukkan jalannya. “S-sini.”

“Vio, izin ya!” ucap Yuna. Setelah dibalas anggukan oleh Vio, yang Haris dan Yuna lakukan selanjutnya adalah bergegas membawa Gia kembali ke aula.

“Heh, liat sini semua! Jangan norak! Temennya sakit bukannya ditolongin malah diliatin doang!” ujar Vio.

Dhimas menghela napasnya, dalam hati ia berdecak. Haris benar-benar harus berterima kasih pada Gia sebab gadis itu menyelamatkan Haris menjauh, meninggalkan Dhimas dan sisa kelompok 1 yang lain dengan siksaan pada pos terakhir yang bahkan memiliki clue 'Kerajaan Setan'.


“Baringin sini aja, Ris!” ucap Yuna. “Jagain bentar, gue panggil medis dulu!”

“Gue aja, Kak,” balas Haris. Setelah membaringkan Gia pada sebuah karpet yang digelar di aula untuk alas tidur, Haris melanglang buana untuk mencari divisi medis.

Selang sekitar tiga menit, seorang divisi medis perempuan bertanda nama Mutia pada rompi PMR-nya datang menghampiri Yuna dengan tas berisi obat-obatan. “Kenapa, Yun? Pusing?” tanyanya. Yuna menggeleng, “Nggak tau, Mut. Tadi nyampe pos gue langsung pingsan. Kata Haris emang udah pucet dari pos sebelumnya.”

“Harisnya mana, Mut?” tanya Yuna lagi ketika menyadari Haris belum kembali. “Nggak tau juga, tadi gue disuruh duluan,” balas Mutia, yang kemudian mengoleskan minyak angin pada kedua pelipis Gia.

Panjang umur, yang dibicarakan akhirnya tiba. Haris berjalan dengan langkah lebar dengan tangan kanan yang menjinjing asal jaket tebal miliknya. Kemudian Haris ikut duduk di sebelah Yuna.

“Ini kenapa, Ris?”

“Kedinginan,” balas Haris singkat. Setelahnya ia menukar almet OSIS-nya yang menjadi selimut darurat untuk Gia dengan jaket yang ia bawa. “Kayaknya emang nggak kuat dingin, Kak. Soalnya tadi sempet menggigil juga,” lanjutnya.

“Ohh, ya udah ya udah. Sepatunya buka dulu deh, tolong balurin minyak kayu putih dulu ya telapak kakinya! Gue ambilin selimut deh,” ucap Mutia. Kemudian meninggalkan Haris dan Yuna yang dengan segera melakukan instruksi Mutia.

“Kakinya aja dingin banget, buset!” ujar Yuna saat pertama kali menyentuh telapak kaki Gia. Haris hanya diam, fokus membalurkan minyak kayu putih pada telapak kaki kanan Gia. Sesekali ia mencengkramnya pelan, berharap akan menyalurkan sedikit kehangatan di sana.

“Lo kok tadi nggak takut, Ris jalan keluar dari hutan sendirian?” tanya Yuna. “Nggak nangis lagi kayak tahun lalu?”

Haris terkekeh, “Kan berdua sama lo, Kak! Bertiga deng, sama Gia.”

“Lo lagian aneh-aneh, Kak. Kenapa nggak di tempat tahun lalu aja sih? Tempat TNI? Ini di kaki gunung gini dingin banget tau. Kasian lu anak orang pada kedinginan,” ujar Haris.

“Salahin Vio lahh! Tapi katanya sih tempat TNI yang tahun lalu itu udah penuhh di-booking orang. Kalo mau kita harus ngundur acaranya, tapi kalo diundur tuh sekolahnya nggak mau,” jelas Yuna.

“Gue ngeri Gia kesurupan sumpah. Untung sakit doang, nggak untung juga sih. Tapi, mending lah daripada kesurupan. Gue mau bawanya juga gimana ya kalo kesurupan,” celoteh Haris lagi.

“Iya anjir! Gue juga takut bawanya kalo kesurupan,” balas Yuna.

Percakapan keduanya terhenti setelah Mutia kembali membawa sehelai selimut dengan kedua tangannya. “Pakein lagi aja kaus kakinya,” titah Mutia yang langsung dilaksanakan oleh Haris dan Yuna. Setelahnya ia melebarkan selimut itu untuk membuat Gia lebih hangat. Membuat tubuhnya kini terbalut dengan jaket miliknya sendiri, jaket tebal Haris, dan sehelai selimut.

Penanganan selanjutnya diambil alih oleh Mutia, gadis itu kini mendekatkan minyak angin pada hidung Gia. Membiarkan gadis itu menghirupnya dan berharap gadis itu segera sadar.

Entah sudah berapa menit Haris habiskan untuk mengurus Gia hingga HT Yuna kembali berbunyi. Memperdengarkan suara Vio yang memang tertuju padanya.

“Yun, yuna?”

“Ya, ya?”

“Haris nanti suruh gabung sama kelompoknya lagi, ya! Di tempat terakhir buat kelompok-kelompok pada ngumpul. Kelompok satu udah keluar dari pos gue.”

“Oh gitu? Oke, oke. Ini Haris sama gue, kok! Nanti gue anter ke sana.”

“Sip, thank you!”

“Yooo!”

“Mut, gue tinggal ya!” pamit Yuna. Haris yang sudah tahu harus melakukan apa itu pun turut bangkit dan segera memakai kembali almetnya dan membuntuti Yuna yang akan mengantarkannya kembali bergabung dengan kelompoknya.

Tak masalah, Haris justru bersyukur dalam hati. Memang ia membutuhkan Dhimas untuk menenangkan jantungnya yang sedari tadi berdetak kencang. Takut. Sejujurnya Haris sangat takut sedari tadi. Kalau bukan karena Gia, ia pastikan kakinya itu tak akan sanggup melangkah hingga kembali ke aula.

Setelah menempuh perjalanan yang tidak jauh, Haris akhirnya kembali bergabung dengan kelompoknya. Dan tanpa sepengetahuannya, di sisi lain, Gia sudah kembali tersadar. Gadis itu sempat bingung lantaran terbangun di aula dengan selimut dan sebuah jaket yang menghangatkannya.

Terlebih, ketika ia menemukan sebuah bordiran inisial yang familiar dalam ingatannya pada salah satu sisi bawah pada bagian dalam jaket. Gia langsung tahu milik siapa jaket yang ada padanya dengan sekali tebakan. Sebab ia temukan bordiran yang sama dengan sapu tangan yang ia terima dari seseorang di sekolah lamanya.

Bordiran biru tua dengan font latin yang cantik nan rapi, mengukir dua huruf yang membuatnya menipiskan bibir mengukir sebuah senyuman.

M. H.

LDKS – Day 2 : The Saviour In Silence

Gia berkali-kali menggosokkan seraya meniup-niup kedua telapak tangannya, berharap akan mendapatkan sedikit kehangatan untuk tubuhnya yang masih kedinginan meski sudah dibalut dengan kaus lengan panjang serta jaket berbahan tebal. Gia memang tak pernah kuat dingin, gadis itu bisa menggigil. Sayangnya, tak ada pengecualian untuk siapapun malam ini. Semua harus mengikuti instruksi untuk berbaris kembali di lapangan yang sebelumnya mereka pijaki untuk acara api unggun.

Dengan kelopak mata yang masih berat lantaran hanya mendapat jam tidur super singkat, mereka semua bersiap untuk melaksanakan acara yang menjadi buah bibir paling beken dari masa ke masa. Alias, jurit malam.

Gia menjadi urutan keempat dari barisannya, tepat di belakang Dinda. Sementara Dhimas memimpin barisan, setelahnya Alwan, kemudian Alfi mengikuti. Sementara Haris yang paling tinggi memilih untuk berbaris di paling belakang, terpaksa. Sebab sebagai kakak pembimbing, tak mungkin ia berada di tengah. mereka harus melindungi adik-adik kelasnya. Maka pilihannya hanya dua, kepala atau buntut. Dan Haris tahu ia tak akan pernah sanggup menjadi orang yang paling depan membelah jalanan 'hutan' yang gelap.

“Kelompok satu udah siap ya?” tanya Bayu, yang memang ditugaskan untuk menjadi orang pertama yang memberi tahu jalan masuk menuju hutan.

“Siap, Kak.” Dhimas menjadi perwakilan kelompok untuk menjawab pertanyaan Bayu. Setelahnya Bayu pun mengalakan pemantik api dan menyalakan lilin yang sedari tadi dibawa oleh Dhimas.

“Ini lilinnya jangan sampai mati ya, kalo bisa dijaga sampe pos terakhir. Saling pegangan sama bahu temannya, jangan sampe terlepas, jangan tertinggal! Paham ya?” ucap Bayu yang hanya ditanggapi dengan anggukan dalam diam. “Ya udah, silakan jalan. Dari sini lurus aja, nanti belok kiri. Letak pos satunya di sana.”

Namun, alih-alih langsung berjalan, Alwan justru mengacungkan tangannya. Sebab sesuai instruksi Haris dan Dhimas, mereka tidak boleh lupa menanyakan clue untuk setiap pos yang akan didatangi. “Maaf, Kak, izin bertanya. Clue untuk pos pertama apa ya?” tanya Alwan.

Bayu menipiskan bibir, cukup takjub dengan Alwan yang tidak main asal menurut. “Cerdas! Simak baik-baik clue-nya ya! Untuk pos satu itu, cahaya kehidupan. Dah, silakan jalan!”

“Terima kasih, Kak!”

Setelah mendapat perbekalan cukup, 'kereta' kelompok 1 itu berjalan perlahan. Dhimas di paling depan menutupi lilin dengan sebelah tangannya yang tidak memegang piring kecil sebagai alas lilin, menjaganya agar tidak mati di tengah jalan. “Jangan ada yang bengong, ya! Fokus! Kalo ada yang sakit jangan sungkan bilang. Jangan maksain diri sendiri!” celoteh Dhimas. Pria itu memang paling rewel akan keselamatan para anggota kelompoknya. Entah sudah berapa kali Dhimas mengatakan hal itu.

Terdapat lima pos tersebar di dalam hutan, terdiri dari 4 pos utama dan 1 pos untuk ice breaking. Pos Agama, Kepemimpinan, Manajemen Waktu, Ice Breaking, dan yang paling ditakuti dan disimpan pada paling terakhir, Mental.

Pos pertama, dihuni oleh kakak-kakak berperawakan alim. Terlihat dari personelnya yang mayoritas anak-anak rohis. Yang perempuan mengenakan kerudung menutupi dada, yang lelaki mengenakan celana cingkrang lengkap dengan peci. Sementara di sisi lain pun terdapat perwakilan dari ekskul rokris dan rohkat. Sudah jelas pos pertama adalah Pos Agama. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan di sana sederhana, seperti menyebutkan Rukun Islam, Rukun Iman, dan lain-lain. Namun rupanya hal ini jauh lebih sulit untuk anak-anak yang baru masuk SMA ketimbang anak-anak yang baru masuk madrasah. Rupanya seiring bertambah dewasa, banyak sekali perkara kecil pasal agama yang luntur dari ingatan.

Membuat sindiran-sindiran kakak kelas yang super menohok itu kembali terlontar. “Udah SMA nggak apal Rukun Islam sama Rukun Iman? Kalian ini agamanya apa sih? Malu sama anak TK! Balik aja TK sana!”

Beruntung di sana ada Gia dan Alfi yang masih mengingat jelas Rukun Islam dan Rukun Iman. Membuat kelompoknya terselamatkan dari hukuman tidak mendapatkan clue dan memakan petai mentah.

Berhasil lolos dari pos pertama, kelompok 1 melanjutkan perjalanan menuju pos kedua. Seseorang yang Haris kenali, seorang ketua MPK berdiri di sana. Sudah jelas lagi, Kepemimpinan adalah nama pos ini. Pertanyaan-pertanyaan pada pos ini jelas dibabat habis oleh Alwan yang berambisi menjadi anggota OSIS, dibantu sedikit oleh Haris untuk menyempurnakan jawabannya. Pun Gia yang membaca diktat betul-betul. Meski dengan rasa takut yang sedikit mendominasi beserta suaranya yang bergetar akibat menahan dingin yang semakin menusuk kulitnya, Gia menjawab sedikit-sedikit ketika ada pertanyaan mengenai materi yang ada pada diktat. Perbedaan pemimpin dan bos, pembahasan mengenai Planning, Organizing, Controling, Actuating, dan sifat-sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin menjadi pembahasan selama di pos kedua.

Sejauh ini berjalan lancar, kelompok 1 masih berjaya. Lilin masih menyala, tidak—atau belum mendapat hukuman atau amarah dari para kakak kelas, atribut pun masih lengkap. Maka dengan sedikit lebih tenang dari ketika pertama kali melangkahkan kaki ke dalam hutan, kelompok 1 kembali melangkah menuju pos ketiga. Manajemen waktu.

Tidak begitu banyak drama di sana, kakak-kakak yang mengisi pos Manajemen Waktu memang selalu yang terbaik dari tahun ke tahun. Entahlah hal ini direncanakan atau tidak, Haris dan Dhimas pun tak tahu kenapa. Manajemen Waktu menjadi pos paling lancar mereka lalui ketimbang pos-pos sebelumnya.

Masuklah pada pos keempat, Ice Breaking. Di sana, mereka disambut begitu meriah. “WEH WEHHH MASIH NYALA LILINYA! TEPUK TANGAN DONGGG!!”

“Kelompok berapa nih?” tanya seorang kakak kelas yang Gia tak tahu namanya.

“Satu, Kak,” balas Dhimas.

“Oh, masih pertama ya. Ini ngapain nih bawa-bawa lilin? Ada yang ulang tahun?”

Alwan menggeleng, “Nggak ada, Kak. Ini buat penerangan aja selama di jalan.”

“Oh gituu, ya udah duduk sini duduk. Jangan lebar-lebar, kita bukan mau liwetan! Yang nggak muat ke belakang.”

Dicontohkan oleh Dhimas, mereka semua duduk lesehan menghadap para kakak kelas yang asik sendiri. Makan snack, bercanda, berebut minum, dan lain-lain. Haris yang peka dan aware terhadap hal-hal seperti ini pun otomatis mengangkat tangannya. “Maaf, Kak sebelumnya, boleh izin tegur kakak-kakak yang lain untuk ikut duduk di sini? Supaya jangan asik sendiri,” ucap Haris.

“Oh? Boleh, boleh. Tuhh, Kakk! Denger nggak? Jangan asik sendiri katanya. Gabung sini sama adik-adik manis,” ucap salah seorang yang sedari awal duduk bersama dengan kelompok 1.

“Hoooo, iya iya maaf yahhh. Siapa tadi yang ngomong? Haris? Iye maap ye, Ris!”

Haris hanya mengangguk, setelahnya memilih diam dan membiarkan adik-adik kelasnya aktif berbicara. Sebab dirinya sudah terlalu banyak berargumen ketika rapat rutin. Dalam keanggotaan OSIS, Haris memang dikenal paling bawel karena paling sering mengkritik dan tak segan-segan menyuarakan ketika dirinya tidak setuju. Tentunya disertai dengan alasannya yang selalu logis.

Sesuai namanya, Pos Ice Breaking adalah tempat untuk rileks sejenak. Mereka bebas duduk dengan posisi senyaman mungkin, bebas menyuarakan siapa kakak-kakak yang galak, bebas bercanda, bahkan mereka ditawarkan makanan ringan yang sempat dijadikan rebutan para kakak kelas sebelum ditegur Haris.

Semuanya berjalan aman hingga salah seorang kakak kelas itu menyadari sesuatu. “Kamu kenapa? Sakit?”

Rentetan kalimat itu otomatis membuat anggota yang lain menoleh pada sumber suara. Haris terdiam kaku ketika mengetahui yang menjadi sasaran pertanyaan adalah Gia. Tubuhnya yang sedari tadi duduk sedikit bungkuk itu kini menegak lantaran secuil kekhawatiran menelusup masuk memenuhi relungnya.

“Serius, sakit nggak? Muka kamu pucet banget, loh! Itu bibirnya juga udah nggak ada merah-merahnya.”

“Pusing nggak, Gi? Kalo pusing bilang aja,” tanya Dhimas. Gia hanya menggeleng pelan, “Enggak, Kak. Nggak pa-pa, kok!”

“Bener?” tanya Dhimas lagi. “Kalo pusing bilang ya!”

Gia hanya mengangguk. Sementara tanpa sepengetahuannya, tatapan Haris masih tak lepas darinya. Meski dalam gelap, Haris dapat menangkap jelas wajah Gia yang memucat. Pula gelagatnya yang menunjukkan bahwa gadis itu kedinginan. Namun tetap tak ada yang ia lakukan selain mengawasi Gia dari jauh.

Tak terasa sudah habis waktunya untuk berdiam diri di pos keempat. Kelompok 1 akhirnya diperintahkan untuk lanjut menuju pos terakhir. Sesaat sebelum langkahnya menjauh, Haris merasakan seseorang menepuk bahunya. Membuatnya nyaris mengumpat lantaran terkejut, takut-takut yang menepuknya itu bukanlah sejenis dengannya.

“Kaget, kenapa, Kak?” tanya Haris. “Adek kelas lu liatin tuh yang tadi, ngeri pingsan.”

“Iya, Kak.”

Sekon berikutnya Haris pun menyusul kelompoknya yang entah mengapa kini berjalan dengan urutan mengacak. “Eh, baris lagi dong, guys!” seru Dhimas. Membuat semuanya kembali membentuk barisan seperti semula.

Kala itu, Haris yang berada di paling belakang menangkap Gia berjalan melambat. Gadis itu bahkan sedikit berada di luar jalur, membuat Haris mau tak mau meraih kedua bahu Gia untuk menyeretnya kembali ke barisan.

Perlahan tapi pasti, mereka kini tiba pada pos terakhir. Namun langkah Gia kembali melambat, bahkan terhenti. Alhasil, Haris yang berjalan tepat di belakangnya turut menghentikan langkahnya. Seraya mengerutkan dahi, Haris memandangi Gia yang kini memeluk erat dirinya sendiri.

“Gi?” panggil Haris. Alih-alih menjawab, Gia hanya diam dan semakin mengeratkan pelukan pada tubuhnya yang kian menggigil. “Gi?” panggil Haris lagi.

Panik, ketakutan, dan khawatir berlebihan, Haris memposisikan dirinya di hadapan Gia. Seraya sedikit membungkuk dengan kedua tangan yang mencengkeram bahu Gia pelan, Haris menanyakan keadaannya. “Kenapa?”

“Dingin, Kak..”

Sayangnya, suara Gia terlampau pelan untuk Haris dengar. Maka ia mendekatkan telinganya dengan bibir Gia, “Kenapa?”

“D-Dingin.”

“Heh, kenapa itu? Cepet baris sini, lelet!” ucap Vio, salah satu personel utama Pos Mental. Haris sontak menoleh, “Nggak enak badan, Kak. Dari pos sebelumnya juga udah pucet,” balas Haris.

Raut wajah khawatir Haris seakan menular kepada Vio. Pemuda itu menyugar rambutnya frustrasi dan segera memanggil Yuna untuk membantu Haris mengatasi kondisi Gia. Seraya tergopoh-gopoh, Yuna menghampiri Haris dan Gia yang kini terpisah dari barisan.

“Kenapa, Ris?” tanya Yuna.

“Kedinginan,” jawab Haris. “Kayaknya nggak kuat dingin. Ini menggigil badannya.”

“Pusing nggak, Anggia?” tanya Yuna. Lagi-lagi tak ada jawaban. Baru saja Yuna ingin memanggil tim medis melalui HT yang ia bawa, tubuh Gia ambruk seketika. Beruntung sejak awal Haris sudah memperkirakan hal ini akan terjadi, maka ia dengan cekatan menangkap tubuh Gia sebelum bersentuhan dengan tanah.

“Ris, nunggu medis kelamaan, Ris! Keburu makin parah ni anak orang. Gotong aja deh, kuat nggak lo?” ucap Yuna panik, perempuan itu bahkan melupakan untuk berbicara sopan.

Tak banyak bicara, Haris mengangguk menyetujui. “Tunggu,” ucap Haris. Kemudian seakan ingin menunjukkan kepeduliannya terhadap sang adik kelas, Haris membaringkan tubuh Gia sementara. Kemudian secepat kilat melepas almet OSIS kebanggaannya dan menjadikannya selimut untuk tubuh mungil Gia, menyisakan kaus celup ikat abal-abal berlengan pendek yang dibuat seragam dengan teman satu angkatannya.

Kemudian dengan hati-hati, pria itu membopong Gia dengan mudah. “Ayo, ke mana jalannya?”

Sebagai seorang wanita yang melihat tingkah Haris yang benar-benar gentle, Yuna mendadak gugup. Ia bahkan menelan ludah sebelum menjawab pertanyaan Haris. Setelah tersadar, barulah Yuna menunjukkan jalannya. “S-sini.”

“Vio, izin ya!” ucap Yuna. Setelah dibalas anggukan oleh Vio, yang Haris dan Yuna lakukan selanjutnya adalah bergegas membawa Gia kembali ke aula.

“Heh, liat sini semua! Jangan norak! Temennya sakit bukannya ditolongin malah diliatin doang!” ujar Vio.

Dhimas menghela napasnya, dalam hati ia berdecak. Haris benar-benar harus berterima kasih pada Gia sebab gadis itu menyelamatkan Haris menjauh, meninggalkan Dhimas dan sisa kelompok 1 yang lain dengan siksaan pada pos terakhir yang bahkan memiliki clue 'Kerajaan Setan'.


“Baringin sini aja, Ris!” ucap Yuna. “Jagain bentar, gue panggil medis dulu!”

“Gue aja, Kak,” balas Haris. Setelah membaringkan Gia pada sebuah karpet yang digelar di aula untuk alas tidur, Haris melanglang buana untuk mencari divisi medis.

Selang sekitar tiga menit, seorang divisi medis perempuan bertanda nama Mutia pada rompi PMR-nya datang menghampiri Yuna dengan tas berisi obat-obatan. “Kenapa, Yun? Pusing?” tanyanya. Yuna menggeleng, “Nggak tau, Mut. Tadi nyampe pos gue langsung pingsan. Kata Haris emang udah pucet dari pos sebelumnya.”

“Harisnya mana, Mut?” tanya Yuna lagi ketika menyadari Haris belum kembali. “Nggak tau juga, tadi gue disuruh duluan,” balas Mutia, yang kemudian mengoleskan minyak angin pada kedua pelipis Gia.

Panjang umur, yang dibicarakan akhirnya tiba. Haris berjalan dengan langkah lebar dengan tangan kanan yang menjinjing asal jaket tebal miliknya. Kemudian Haris ikut duduk di sebelah Yuna.

“Ini kenapa, Ris?”

“Kedinginan,” balas Haris singkat. Setelahnya ia menukar almet OSIS-nya yang menjadi selimut darurat untuk Gia dengan jaket yang ia bawa. “Kayaknya emang nggak kuat dingin, Kak. Soalnya tadi sempet menggigil juga,” lanjutnya.

“Ohh, ya udah ya udah. Sepatunya buka dulu deh, tolong balurin minyak kayu putih dulu ya telapak kakinya! Gue ambilin selimut deh,” ucap Mutia. Kemudian meninggalkan Haris dan Yuna yang dengan segera melakukan instruksi Mutia.

“Kakinya aja dingin banget, buset!” ujar Yuna saat pertama kali menyentuh telapak kaki Gia. Haris hanya diam, fokus membalurkan minyak kayu putih pada telapak kaki kanan Gia. Sesekali ia mencengkramnya pelan, berharap akan menyalurkan sedikit kehangatan di sana.

“Lo kok tadi nggak takut, Ris jalan keluar dari hutan sendirian?” tanya Yuna. “Nggak nangis lagi kayak tahun lalu?”

Haris terkekeh, “Kan berdua sama lo, Kak! Bertiga deng, sama Gia.”

“Lo lagian aneh-aneh, Kak. Kenapa nggak di tempat tahun lalu aja sih? Tempat TNI? Ini di kaki gunung gini dingin banget tau. Kasian lu anak orang pada kedinginan,” ujar Haris.

“Salahin Vio lahh! Tapi katanya sih tempat TNI yang tahun lalu itu udah penuhh di-booking orang. Kalo mau kita harus ngundur acaranya, tapi kalo diundur tuh sekolahnya nggak mau,” jelas Yuna.

“Gue ngeri Gia kesurupan sumpah. Untung sakit doang, nggak untung juga sih. Tapi, mending lah daripada kesurupan. Gue mau bawanya juga gimana ya kalo kesurupan,” celoteh Haris lagi.

“Iya anjir! Gue juga takut bawanya kalo kesurupan,” balas Yuna.

Percakapan keduanya terhenti setelah Mutia kembali membawa sehelai selimut dengan kedua tangannya. “Pakein lagi aja kaus kakinya,” titah Mutia yang langsung dilaksanakan oleh Haris dan Yuna. Setelahnya ia melebarkan selimut itu untuk membuat Gia lebih hangat. Membuat tubuhnya kini terbalut dengan jaket miliknya sendiri, jaket tebal Haris, dan sehelai selimut.

Penanganan selanjutnya diambil alih oleh Mutia, gadis itu kini mendekatkan minyak angin pada hidung Gia. Membiarkan gadis itu menghirupnya dan berharap gadis itu segera sadar.

Entah sudah berapa menit Haris habiskan untuk mengurus Gia hingga HT Yuna kembali berbunyi. Memperdengarkan suara Vio yang memang tertuju padanya.

“Yun, yuna?”

“Ya, ya?”

“Haris nanti suruh gabung sama kelompoknya lagi, ya! Di tempat terakhir buat kelompok-kelompok pada ngumpul. Kelompok satu udah keluar dari pos gue.”

“Oh gitu? Oke, oke. Ini Haris sama gue, kok! Nanti gue anter ke sana.”

“Sip, thank you!”

“Yooo!”

“Mut, gue tinggal ya!” pamit Yuna. Haris yang sudah tahu harus melakukan apa itu pun turut bangkit dan segera memakai kembali almetnya dan membuntuti Yuna yang akan mengantarkannya kembali bergabung dengan kelompoknya.

Tak masalah, Haris justru bersyukur dalam hati. Memang ia membutuhkan Dhimas untuk menenangkan jantungnya yang sedari tadi berdetak kencang. Takut. Sejujurnya Haris sangat takut sedari tadi. Kalau bukan karena Gia, ia pastikan kakinya itu tak akan sanggup melangkah hingga kembali ke aula.

Setelah menempuh perjalanan yang tidak jauh, Haris akhirnya kembali bergabung dengan kelompoknya. Dan tanpa sepengetahuannya, di sisi lain, Gia sudah kembali tersadar. Gadis itu sempat bingung lantaran terbangun di aula dengan selimut dan sebuah jaket yang menghangatkannya.

Terlebih, ketika ia menemukan sebuah bordiran inisial yang familiar dalam ingatannya pada salah satu sisi bawah pada bagian dalam jaket. Gia langsung tahu milik siapa jaket yang ada padanya dengan sekali tebakan. Sebab ia temukan bordiran yang sama dengan sapu tangan yang ia terima dari seseorang di sekolah lamanya.

Bordiran biru tua dengan font latin yang cantik nan rapi, mengukir dua huruf yang membuatnya menipiskan bibir mengukir sebuah senyuman.

M. H.

Gia tak pernah merasakan hari yang begitu panjang dan melelahkan, kecuali hari ini. Tanpa berbekal jam tangan maupun ponsel, gadis itu hanya bisa menerka-nerka pukul berapa sekarang. Setelah dibuka dengan apel pembuka bersama kepala sekolah sekaligus pelepasan, mereka berangkat menuju lokasi LDKS yang letaknya berada di salah satu kaki gunung. Gia tidak ingat betul, sebab surat izin yang diserahkan padanya itu langsung ia sampaikan kepada mama tanpa membaca isinya lebih dulu.

Tak ada yang lebih seru rupanya dibandingkan berangkat menggunakan tronton. Berbaur dengan kelompok lain, banyak kepala dengan banyak kepribadian. Gia banyak tertawa lantaran banyak anak lelaki dengan tingkah ajaib. Tubuh terpelanting ke sana dan ke mari, harus saling berpegangan ketika mobil bermanuver ke kanan dan ke kiri, kepala terbentur dengan jendela besi tronton, tertampar ranting pohon yang berhasil meloloskan diri ke jendela hingga mengenai wajah, menjadi plus minus menjadi penumpang di sebuah tronton.

Tapi Gia menikmatinya, belum tentu ia bisa menikmati fenomena semacam ini lagi pada masa yang akan datang, bukan? Beruntung ia mendapat kursi, terima kasih kepada Alwan yang selalu rela berkorban untuknya. Pria itu memilih lesehan bersama teman-teman lelakinya yang lain. Yang pada akhirnya kadang harus tertimpa tas carrier yang ditumpuk dan didempetkan di bagian pojok tronton ketika mobil itu dalam posisi menanjak.

Seolah hari penuh penderitaan, sesampainya di lokasi, mereka bahkan tak diizinkan untuk jalan biasa. Jalan jongkok adalah jawabannya. Dengan tas yang berisi beban entah berapa kilogram, mereka harus berjalan jongkok