raranotruru

Agung menelisik wajah keponakannya yang sedari tadi menatap kosong ke sembarang arah. Entah sudah berapa hari ia menemukan Anggia melamun di depan teras rumahnya sendiri. Gadis itu bahkan mengabaikan kedatangan Agung yang selalu memandanginya dari jarak dekat dengan kedua alis yang bertautan.

“Ngeliatin paan, s—”

“HOAH ASTAGHFIRULLAH!!”

Gia terlonjak ketika menemukan Agung kini memandanginya dari jarak dekat. Kedua matanya yang memang belo itu membuat Gia semakin bergidik ngeri mengingat betapa intensnya tatapan Agung.

“Ngapain sih, Om? Ngagetin aja!”

Agung mendelik tak suka, “Elu yang ngapain! Ngelamun aja kerjaannya. Masuk, cepet! Emang nggak ngeri kesambet lo ngelamun di sini?”

Raut wajah Gia berubah lemas, gadis itu memalingkan wajahnya. “Om Agung aja yang masuk, Gia masih mau di sini dulu.”

Bingung, Agung semakin menautkan kedua alisnya. Namun sedetik kemudian ekspresinya berubah jahil, diarahkannya telunjuk panjangnya pada sang kepobakan. Menjawil pipi kiri Gia, “Hayooo, mau mejeng ya? Kamu beneran naksir anaknya Pak RT, kan?? Naksir Mas Yudi, kaan?!”

“Apa sih? Enggakk!” balas Gia defensif.

Agung tak membalas, pria itu kini ikut duduk di sebelah Gia. Menemani gadis itu guna menepis khawatirnya akan terjadi sesuatu pada Gia jika ia membiarkan gadis itu sendirian di luar malam-malam. Agung bahkan membawa kopi hitamnya keluar bersamanya. Padahal biasanya, setelah pulang kerja begini pria itu lebih memilih untuk menikmati kopinya seraya menonton siaran langsung pertandingan bola sambil mengeluarkan suaranya yang menggelegar hingga membuat Gia tak bisa tidur.

“Lo tuh nggak sekali dua kali loh, ngelamun gini, Gi,” ucap Agung sehabis menyesap kopinya. Diletakkan kembali mug keramik itu di meja di hadapannya sebelum melanjutkan kalimatnya.

“Lagi ada masalah?” tanyanya lagi. “Udah dari kapan ya, Om ngeliat Gia ngelamun mulu gini?”

Gia menoleh lesu, menatap Agung yang juga menatap ke arahnya penuh tanya. Setelahnya ia kembali memalingkan wajahnya. Gia menunduk, namun sedetik kemudian ia kembali mendongak. Setelahnya ia kembali menatap Agung dan mengulangi kegiatan yang sama.

Agung berdecak sebal, “Ngapa si?! Lagi pemanasan lo begitu?”

Gia tak menjawab, gadis itu mengembuskan napasnya gusar. Disugarnya surai legam yang ia biarkan terurai, membuatnya berantakan persis penampilan orang yang sedang frustrasi. Namun bibirnya masih sanggup berbohong, maka ia membalas Agung. “Nggak, nggak pa-pa, kok. Nggak ada masalah.”

Agung tertawa meremehkan. “Ya elah, Gi. Gue kenal lo tuh udah dari orok, dari masih bayi merah juga gue tau lo kayak gimana,” ucapnya. “Ngomong aja, lagi ada masalah kan? Kenapa? Berantem sama temen?”

Gia menggeleng pelan. Setelahnya ia membuang napas untuk kesekian kalinya. Gadis itu bersumpah bahwa dirinya pasti sudah menangis jika Agung tak ada di hadapannya sekarang. Akhirnya Gia menyerah, toh, sampai kapan disembunyikan pun pasti om-nya itu akan tetap nenagihnya sampai Gia membeberkan ceritanya.

“Ya udah, Gia cerita. Tapi jangan diketawain! Deal?” ucapnya. Menyodorkan jari kelingkingnya sebagai tanda janji kesepakatan antara keduanya yang kemudian disambut oleh Agung.

Setelahnya Gia berdeham, membersihkan tenggorokannya sebelum bicara. “Jadi gini..” Gia memulai cerita. Di hadapannya, Agung siap mendengarkan—penasaran lebih tepatnya. Pria itu memang juara satu jika mendengar setiap gosip yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Bahkan Gia pun heran, om-nya itu bisa-bisanya mengetahui gosip tentang artis mana yang baru bercerai, artis mana yang baru terciduk memakai narkoba, bahkan tetangga mana yang digosipkan menggeluti pesugihan.

“Ada kakak kelas yang suka sama Gia—”

“Hah ada, Gi? Yang suka sama lo?” potong Agung cepat. Bukan iseng, melainkan pria itu benar-benar terkejut. Sebab Agung tahu bahwa seumur hidup Gia, temannya saja dapat dihitung jari. Gia juga tidak pernah bergaul dengan laki-laki hingga sedekat itu sampai-sampai membuatnya memikat hati.

Di hadapannya, alih-alih marah karena respon yang Agung berikan, Gia justru membulatkan bola matanya seraya menjentikkan jari. “IYA, KAN?! Kaget, kan?!”

“Iya, anjir! Ngarang nggak sih lo?” tanya Agung lagi. Mendengar respons Agung, Gia justru bertambah semangat sebab pada akhirnya ada yang mengerti kebingungannya.

“Sumpah enggak. Tapi, IYA, KAN? BINGUNG, KAN?”

Agung hanya terkekeh. “Terus, terus gimana? Apa yang jadi masalah selain si kakak kelas ini naksir lu? Ada yang nggak suka? Ada yang nyuruh Gia jauhin dia?” Agung menebak segala kemungkinan yang biasanya terjadi dalam kasus percintaan anak remaja. Sayangnya, tak satupun di antaranya yang benar.

Gia menggeleng cepat. “Bukan, Gia ceritain ya! Jadi, kakak kelas yang suka sama Gia itu—” ucapannya tergantung sesaat. Mendadak Gia merasakan kembali kupu-kupu di perutnya. Dadanya serasa berdesir tiba-tiba mengingat Haris juga menyukainya. Membuat senyuman tercetak jelas di wajahnya tanpa bisa tertahan.

“Nggak jelas, malah ketawa-ketawa! Cerita dulu!” ejek Agung.

“Kakak kelas yang suka sama Gia itu, namanya Kak Haris,” ucap Gia. Pada akhirnya mulai menceritakan tentang seorang pemuda yang entah sejak kapan berhasil menjajah hati kecilnya. Gia memulai ceritanya mengenai siapa itu Haris, bagaimana keduanya bisa saling mengenal hingga terjalin sebuah hubungan yang semakin erat. Seberapa sering Haris menolongnya, seberapa sering Haris ada di dekatnya, seberapa sering—semesta seakan secara sengaja membuat takdir keduanya bersinggungan dalam ruang dan waktu yang sama.

Agung manggut-manggut memahami alur cerita Gia. Berusaha menangkap setiap detail cerita yang Gia sampaikan padanya. Harus diakui, Agung memang pendengar yang baik meskipun ia bukanlah penjaga rahasia yang baik.

”..sampe akhirnya Kak Haris nyatain perasaannya tiba-tiba, terus.. Gia kabur..”

“Terus yang bikin lo bingung apa?” tanya Agung, kala Gia sudah selesai bercerita mengenai garis besar permasalahannya. “Lagian kamu kenapa kabur gitu, sih? Aneh-aneh aja! Gue kalo jadi dia juga males, lah!”

“Iyaaa, aku tau aku salah. Tapi Gia kaget banget, Om. Nggak tau harus ngomong apa juga. Kayak—tegang, deg-degan, takut,” ucapnya.

Lagi-lagi Agung mengangguk, “Iyaa, wajar sih. Gue ngerti juga kenapa lo kabur. Namanya juga pertama kali banget Gia denger ada orang yang suka sama Gia, apalagi sampe nyatain secara langsung gitu. Wajar, sih. Tapi, Om Agung mau nanya. Gia suka juga sama dia?”

Untuk kesekian kalinya, Gia membuang napasnya. “Malah kayaknya Gia duluan yang suka sama dia, Om. Sebenernya tuh, dari pertama kali Kak Haris masuk kelas Gia waktu MOS, Gia emang udah deg-degan banget ngeliat dia. Ya, gimana ya? Emang seganteng itu orangnya..”

“Ya udah, terima aja, Gi! Sama-sama suka juga, kan? Lagian Gia juga udah boleh pacaran, kan sama Mama Papa? Waktu itu kan perjanjiannya kalo udah SMA.”

Sepertinya hari ini tujuan hidup Gia terfokus pada buang-buang karbondioksida. Gadis itu kembali menghela napas, membuat Agung paham betapa frustrasinya seorang Anggia saat ini. Pria itu terkekeh, “Kenapa?”

“Nggak semudah itu deh, Om, kayaknya,” ucap Gia, putus asa. “Kak Haris tuh.. terlalu keren buat Gia yang biasa aja, Om.”

Hening, tepat setelah Gia meloloskan sebuah kalimat yang ia ucapkan dengan suara pelan. Kepala gadis itu kini tersandar pada sandaran kursi teras yang menampung dirinya dan Agung. “Gia sama Kak Haris tuh jaauh banget. Kayak, Duh, nggak pantes banget aku buat dia. Pasti dia bisa dapetin yang lebih dari aku, kenapa aku? Gitu-gitu. Aku juga ragu jadinya, dia tuh beneran apa enggak gitu.”

Agung mengangguk paham. Sekon berikutnya, justru giliran pria itu yang menghela napasnya. Untuk kasus ini, Agung benar-benar paham.

“Gia inget mantan Om Agung?” tanyanya. Gia sontak menoleh, setelahnya ia mengangguk sebelum akhirnya keningnya berkerut mendapati raut wajah yang lain dari Agung. Pria itu menatap nanar ke sembarang arah sebelum akhirnya tertawa miris.

“Om Agung sama dia, putusnya karena isi kepala dia waktu itu persis kayak isi kepala Gia sekarang,” ucap Agung. “Dia selalu ngerasa nggak pantes jadi pacar Om Agung, berkali-kali bilang kalo harusnya gue bisa dapetin yang jauh lebih baik dari dia. Masalahnya, Gi, yang lebih baik itu belom tentu kerasa pas di hati. Padahal gue ngerasa beruntung banget bisa jadi pacarnya, sedih karena ternyata dia malah ngerasa nggak pantes.”

“Om Agung kasih tau ya, Gi. Pemikiran kayak gitu, kalo diturutin nggak akan ada abisnya. Dan malah akan ngelukain orang yang bener-bener sayang sama Gia, karena Gia jadi nggak percaya sama perasaannya,” ucap Agung. “Lagian hubungan itu berhasil bukan karena pantes atau enggak kok, Gi. Tapi karena sama-sama mau berjuang buat bikin hubungan itu berhasil.”

Harus Gia akui, kali ini ucapan Agung berhasil membuatnya terpana. Namun, masih ada satu yang membuatnya merasa tidak yakin. “Tapi, emang menurut Om Agung, Kak Haris beneran suka sama Gia? Bukan cuma bercanda?” tanyanya.

Agung tertawa kecil, “Kalo bercanda doang ngapain dia repot-repot berantemin orang yang ngatain Gia sampe diskors segala? Gia nyari apa lagi, sih? Nunggu apa lagi? Nunggu Haris capek terus nyerah sama perasaannya terus nanti Gia nyesel selamanya?”

Pecah sudah. Gia tak lagi dapat menahan air matanya yang tertahan semenjak pertama kali ia mulai bercerita pada Agung malam itu. Benar, ia hanya akan jauh lebih menyesal dari ini jika dirinya terus menghindari Haris. Ini semua seakan Tuhan pada akhirnya memberi Gia sebuah pena dan menyuruhnya menulis sendiri kisah cintanya akan berakhir seperti apa. Gia tak pernah yakin sebelumnya. Namun, gadis itu pada akhirnya meyakini satu hal. Bahwa perkataan Agung sangat akurat.

Untuk seorang Haris yang selalu sempurna di matanya, Gia yakin tak ada yang mampu menggeser posisi Haris.

Agung tersenyum tipis seraya mengelus surai Gia. Setelahnya pria itu membawa Gia ke dalam dekapannya. Berusaha membuat tangisannya mereda.

“Go for him, Anggia. You're worth it. Always worth it.”

Saya suka sama kamu, Anggia.

Tepat setelah kalimat itu meluncur dari bibir Haris, yang bisa Gia lakukan hanyalah menoleh sebelum akhirnya terpaku menatap wajah Haris yang masih menghadapnya. Napasnya tertahan, pikirannya melayang meninggalkan tubuhnya. Sementara dadanya bergemuruh bagaikan ditabuhi genderang perang.

Matanya berkali-kali mengerjap, namun sama sekali tak luput dari dua bola mata Haris yang masih setia memandanginya. Berusaha mencari tahu kebohongan macam apa yang coba Haris tutupi, namun sayang, pikirannya tak bisa benar-benar fokus untuk mengidentifikasi apakah ucapan Haris barusan adalah sebuah kejujuran atau hanya kebohongan belaka.

Gia benar-benar tak tahu harus melakukan apa. Serasa tubuhnya benar-benar di luar kendalinya sendiri. Kedua bahunya menegang tanpa bahkan bisa ia gerakkan. Lidahnya pun kelu, tak peduli seberapa besar hasrat gadis itu untuk membalas perkataan Haris. Gadis itu hanya bersyukur dalam hati sebab sekarang ia tak sedang berdiri, sebab Gia bisa langsung jatuh terduduk saat itu juga karena kedua kakinya yang melemas.

Gia tahu harusnya ia menjawab, bahwa dirinya memiliki perasaan yang sama. Namun sebagaimana Tuhan menggagalkan rencana Haris, Tuhan menggagalkan pula rencana Gia. Dengan membuat satu-satunya hal yang muncul di kepalanya hanyalah ucapan Zahra yang menyuruhnya untuk.. lari.


“Saya suka sama kamu, Anggia.”

Entah sudah berapa kali kalimat itu menghantui pikirannya. Setiap hari, setiap malam, setiap jam, menit, detik. Gia tak akan pernah bisa lupa. Terlebih perihal tindakannya sendiri.

Pun, tak terhitung sudah berapa kali Gia mengutuk dan menyalahkan dirinya sendiri. Sebab tak hanya Zahra, Gia pun membenci apa yang ia lakukan. Gia pun membenci dirinya sendiri yang tak pernah miliki keberanian untuk mengatakan apa yang benar-benar ia inginkan.

Gia menyalahkan dirinya sendiri. Karena telah meninggalkan Haris tanpa kejelasan, karena telah membiarkan Haris memikirkan sendiri teka-teki yang tak seharusnya ada. Setiap kali ia berhasil menghindari Haris, yang pertama kali ia lakukan adalah merutuki dirinya yang selalu terpaku, keringat dingin, dan berujung gemetar setiap kali ia mendengar suara Haris dari kejauhan atau ketika ia melihat Haris berjalan ke arahnya. Gadis itu tak lagi bisa berpikir jernih sejak sore itu.

Gia merebahkan tubuhnya di kasur, entah sudah kali ke berapa ia membaca pesan yang terakhir kali Haris tinggalkan untuknya. Entah sudah kali ke berapa pula Gua membiarkan air matanya lolos dari pertahanannya. Seharusnya ini membahagiakan.

Seharusnya, jika tak ada semua pertanyaan yang turut menghantuinya sesaat setelah Haris menyatakan perasaannya.

Do i deserve him?

Sejak dulu, Gia sangat tahu bahwa dirinya bukanlah orang yang mencolok di tengah keramaian. Rasanya kata 'paling' tak pernah menjadi sematan yang bersahabat dengan namanya.

Anggia bukan yang paling cantik, bukan juga yang paling jelek sebab ia masih memiliki beberapa fitur dalam dirinya yang bisa disyukuri dengan sangat. Anggia bukan yang paling pandai, bukan juga yang paling bodoh sebab toh, ia pun masih bisa menangkap semua pelajaran di sekolahnya dengan baik. Anggia bukan yang paling dikagumi sebagaimana seorang primadona, bukan juga yang paling dibuang.

Anggia adalah seorang yang biasa saja. Dan fakta ini justru melukainya jauh lebih parah. Sebab menjadi biasa-biasa saja membuatnya tak kasat mata.

Jauh berbeda dengan Haris yang bisa dibilang, terpandang.

Wajah yang rupawan? Check!

Kepandaian luar biasa? Check!

Dikenal hampir seluruh warga sekolah? Check!

Aktif dalam organisasi? Check!

Lihatlah, Haris bukan orang sembarangan. Pemuda itu rasanya mengantungi dunia dalam saku celana abu-abunya. Itulah yang membuat Anggia sadar diri sejak awal, bahwa ia hanya ingin menyukai Haris tanpa pernah mengharapkan balasan apapun. Tak peduli seberapa nyata bukti yang menunjukkan bahwa pemuda itu memiliki perasaan yang sama.

Sejak awal, bagi Gia, Haris adalah sesosok cinta pertama dengan kegagalan di depan mata. Maka selama ini Gia hanya membiarkan perasaannya mengalir, menikmati setiap interaksi yang semesta usahakan selama garis kehidupan keduanya bersinggungan seraya menanti waktunya untuk layu, dan merasakan patah hati pertamanya.

Namun kali ini lain lagi ceritanya. Membuat berbagai pertanyaan baru kerap bermunculan di kepalanya.

Why does he even fall for me?

Was it supposed to be this way?

Gia mengembuskan napasnya kasar. Gadis itu bahkan harus bernapas melalui mulutnya sebab hidungnya kini tersumbat lantaran terlalu lama menangis.

Crazy how the tables have turned, benaknya berbicara.

Benar, keadaannya berbalik sekarang. Perkiraan Gia meleset. Rupanya Haris bukanlah sesosok cinta pertama dengan kegagalan di depan mata. Haris adalah sesosok cinta pertama yang seharusnya bisa menjadi miliknya kalau saja Gia lebih percaya diri dan berani.

Namun setelah hari ini, apakah pernyataan Haris sore itu masih berlaku? Sudah menyerah kah Kak Haris yang ia ketahui? Atau—masih adakah Kak Haris yang dulu pernah nyaris menjadi miliknya dalam sekejap mata?

Karena yang ada saat ini rasanya hanyalah Haris yang menepati janjinya. Entah sudah berapa lama, yang jelas Gua benar-benar tak menemukan Haris di sudut sekolah manapun. Gia bahkan tak menemukan Haris di gerbang sekolah setiap pagi meski ia kadang sengaja memperlambat kedatangannya.

Masih adakah kesempatan untuknya mengatakan bahwa perasaannya pun sama?

But then again, do i deserve him? Batin Gia terus berbicara. Seakan tak habis-habis amunisinya untuk memerangi pikirannya sendiri.

“I like you too, Kak Haris,” ucap Gia seraya membuang napasnya gusar. Matanya lagi-lagi menatap nanar ke arah layar yang menampilkan pesan terakhir dari seseorang yang kontaknya ia simpan dengan nama 'Kak Haris'.

“But will i ever gonna be good enough for you?”

Saya suka sama kamu, Anggia.

Tepat setelah kalimat itu meluncur dari bibir Haris, yang bisa Gia lakukan hanyalah menoleh sebelum akhirnya terpaku menatap wajah Haris yang masih menghadapnya. Napasnya tertahan, pikirannya melayang meninggalkan tubuhnya. Sementara dadanya bergemuruh bagaikan ditabuhi genderang perang.

Matanya berkali-kali mengerjap, namun sama sekali tak luput dari dua bola mata Haris yang masih setia memandanginya. Berusaha mencari tahu kebohongan macam apa yang coba Haris tutupi, namun sayang, pikirannya tak bisa benar-benar fokus untuk mengidentifikasi apakah ucapan Haris barusan adalah sebuah kejujuran atau hanya kebohongan belaka.

Gia benar-benar tak tahu harus melakukan apa. Serasa tubuhnya benar-benar di luar kendalinya sendiri. Kedua bahunya menegang tanpa bahkan bisa ia gerakkan. Lidahnya pun kelu, tak peduli seberapa besar hasrat gadis itu untuk membalas perkataan Haris. Gadis itu hanya bersyukur dalam hati sebab sekarang ia tak sedang berdiri, sebab Gia bisa langsung jatuh terduduk saat itu juga karena kedua kakinya yang melemas.

Gia tahu harusnya ia menjawab, bahwa dirinya memiliki perasaan yang sama. Namun sebagaimana Tuhan menggagalkan rencana Haris, Tuhan menggagalkan pula rencana Gia. Dengan membuat satu-satunya hal yang muncul di kepalanya hanyalah ucapan Zahra yang menyuruhnya untuk.. lari.


“Saya suka sama kamu, Anggia.”

Entah sudah berapa kali kalimat itu menghantui pikirannya. Setiap hari, setiap malam, setiap jam, menit, detik. Gia tak akan pernah bisa lupa. Terlebih perihal tindakannya sendiri.

Pun, tak terhitung sudah berapa kali Gia mengutuk dan menyalahkan dirinya sendiri. Sebab tak hanya Zahra, Gia pun membenci apa yang ia lakukan. Gia pun membenci dirinya sendiri yang tak pernah miliki keberanian untuk mengatakan apa yang benar-benar ia inginkan.

Gia menyalahkan dirinya sendiri. Karena telah meninggalkan Haris tanpa kejelasan, karena telah membiarkan Haris memikirkan sendiri teka-teki yang tak seharusnya ada. Setiap kali ia berhasil menghindari Haris, yang pertama kali ia lakukan adalah merutuki dirinya yang selalu terpaku, keringat dingin, dan berujung gemetar setiap kali ia mendengar suara Haris dari kejauhan atau ketika ia melihat Haris berjalan ke arahnya. Gadis itu tak lagi bisa berpikir jernih sejak sore itu.

Gia merebahkan tubuhnya di kasur, entah sudah kali ke berapa ia membaca pesan yang terakhir kali Haris tinggalkan untuknya. Entah sudah kali ke berapa pula Gua membiarkan air matanya lolos dari pertahanannya. Seharusnya ini membahagiakan.

Seharusnya, jika tak ada semua pertanyaan yang turut menghantuinya sesaat setelah Haris menyatakan perasaannya.

Do i deserve him?

Sejak dulu, Gia sangat tahu bahwa dirinya bukanlah orang yang mencolok di tengah keramaian. Rasanya kata 'paling' tak pernah menjadi sematan yang bersahabat dengan namanya.

Anggia bukan yang paling cantik, bukan juga yang paling jelek sebab ia masih memiliki beberapa fitur dalam dirinya yang bisa disyukuri dengan sangat. Anggia bukan yang paling pandai, bukan juga yang paling bodoh sebab toh, ia pun masih bisa menangkap semua pelajaran di sekolahnya dengan baik. Anggia bukan yang paling dikagumi sebagaimana seorang primadona, bukan juga yang paling dibuang.

Anggia adalah seorang yang biasa saja. Dan fakta ini justru melukainya jauh lebih parah. Sebab berada di tengah-tengah membuatnya tak kasat mata.

Jauh berbeda dengan Haris yang bisa dibilang, terpandang.

Wajah yang rupawan? Check!

Kepandaian luar biasa? Check!

Dikenal hampir seluruh warga sekolah? Check!

Aktif dalam organisasi? Check!

Lihatlah, Haris bukan orang sembarangan. Pemuda itu rasanya mengantungi dunia dalam saku celana abu-abunya. Itulah yang membuat Anggia sadar diri sejak awal, bahwa ia hanya ingin menyukai Haris tanpa pernah mengharapkan balasan apapun. Tak peduli seberapa nyata bukti yang menunjukkan bahwa pemuda itu memiliki perasaan yang sama.

Sejak awal, bagi Gia, Haris adalah sesosok cinta pertama dengan kegagalan di depan mata. Maka selama ini Gia hanya membiarkan perasaannya mengalir, menikmati setiap interaksi yang semesta usahakan selama garis kehidupan keduanya bersinggungan seraya menanti waktunya untuk layu, kemudian merasakan patah hati pertamanya.

Namun kali ini lain lagi ceritanya. Membuat berbagai pertanyaan baru kerap bermunculan di kepalanya.

Why does he even fall for me?

Was it supposed to be this way?

Gia mengembuskan napasnya kasar. Gadis itu bahkan harus bernapas melalui mulutnya sebab hidungnya kini tersumbat lantaran terlalu lama menangis.

The tables have turned now, benaknya berbicara.

Benar, perkiraan Gia meleset. Rupanya Haris bukanlah sesosok cinta pertama dengan kegagalan di depan mata. Haris adalah sesosok cinta pertama yang seharusnya bisa menjadi miliknya kalau saja Gia lebih percaya diri dan berani.

Namun setelah hari ini, apakah pernyataan Haris sore itu masih berlaku? Sudah menyerah kah Kak Haris yang ia ketahui? Atau—masih adakah Kak Haris yang dulu pernah nyaris menjadi miliknya dalam sekejap mata?

Karena yang ada saat ini rasanya hanyalah Haris yang menepati janjinya. Entah sudah berapa lama, yang jelas Gua benar-benar tak menemukan Haris di sudut sekolah manapun. Gia bahkan tak menemukan Haris di gerbang sekolah setiap pagi meski ia kadang sengaja memperlambat kedatangannya.

Masih adakah kesempatan untuknya mengatakan bahwa perasaannya pun sama?

But then again, do i deserve him? batin Gia berbicara. Seakan tak habis-habis amunisinya untuk memerangi pikirannya sendiri.

Lagi-lagi Gia membuang napasnya gusar. Matanya lagi-lagi menatap nanar ke arah layar yang menampilkan pesan terakhir dari seseorang yang kontaknya ia simpan dengan nama 'Kak Haris'.

“I like you too, Kak Haris. But don't you wanna look for someone better? Why me?”

Haris menelungkupkan ponselnya di atas kasur setelah membalas pesan Hanum. Kedua matanya terjaga menatap langit-langit kamarnya yang seakan memiliki jawaban atas keresahannya.

Sudah sekitar satu minggu sejak terakhir kali ia membiarkan dirinya mati-matian untuk totalitas, berangkat sebelum bertemu matahari dan berjalan mengitari gedung sekolah yang akhirnya berujung sia-sia. Sudah sekitar satu minggu pula ia menepati janjinya. Tak mengganggu Gia dengan keberadaannya.

Haris tak lagi mengambil tugas piket pagi, tak pergi ke kantin setiap istirahat, tak lagi melakukan banyak kegiatan setelah pulang sekolah, juga tak lagi bersedia berurusan dengan segala hal yang melibatkan kelas 10.

Pria itu bahkan mengabaikan seluruh kegiatan ekskul dan OSIS yang entah sudah berapa kali membuatnya kena tegur. Kehidupannya sekarang seolah diatur oleh peraturan seketat mungkin yang hanya memperbolehkannya sekolah, lalu kembali pulang ke rumah. Haris bahkan tak pernah ikut kala teman-temannya berkumpul.

Males, gue lagi nggak pengen ngapa-ngapain.

Selalu alasan yang sama yang ia lontarkan pada semua orang yang mengajaknya bergabung untuk turun ke kantin atau untuk berkumpul seperti biasanya. Hampir seluruh ambisi dan semangatnya memadam begitu saja. Ada sebagian yang mati dalam dirinya. Haris bahkan rasanya tak berminat melakukan apapun. Kalau bisa, ia hanya ingin menghabiskan waktu di dalam kamarnya. Berlindung dalam kesendirian tanpa diganggu siapapun.

Haris kembali menjadi dirinya yang sudah lama tak ia jumpai. Cold, untouchable. Haris tanpa sadar kembali membangun dinding tebal untuk menjauh dari siapapun yang mencoba menggapainya. Kembali menelan semuanya mentah-mentah sebab perasaan dan pemikiran yang sama, yang telah lama ia tenggelamkan itu kembali berenang di kepalanya.

Was i ever worth it to feel love?

Jauh sebelum hari ini, dimana keluarganya yang hangat itu pecah berantakan, tergores luka yang begitu dalam di relung Haris. Membuat Haris memutuskan untuk membentengi dirinya sendiri untuk sebuah hal bernama cinta. Bukan bermaksud sombong, melainkan ia terlalu takut. Haris takut kisahnya akan berakhir sama dengan yang kedua orang tuanya miliki.

Haris tak pernah setuju setiap kali ada yang mengatakan bahwa mencintai itu begitu membahagiakan. Hingga tiba-tiba Gia hadir dan mengubah segalanya. Membuat Haris mengerti alasan hampir seluruh dunia mengatakan hal yang sama.

Hingga tiba-tiba orang yang sama turut membuktikan pemikirannya. Bahwa mencintai nyatanya tidak membahagiakan sebagaimana yang mereka katakan.

Entah kesalahan siapa. Yang jelas Haris hanya bisa diam dan membiarkan dirinya merasakan luka yang sama. Mungkin ini adalah balasan untuk Papa yang sampai kepadanya. Mungkin ini adalah balasan untuk Papa atas segala goresan yang ia torehkan di hati Mama. Biarlah, malah bagus seperti ini. Limpahkan saja semua luka yang harus dirasakan keluarganya bertahun-tahun ke depan padanya. Agar Hanum dan Haura tak perlu lagi mendapat balasan atas kesalahan Papa dulu. Biarlah Haris yang merasakan semuanya.

Crazy how a person can change you a lot, benak Haris.

Pertama Papa, yang membuatnya menutup diri dan melupakan dirinya sendiri. Kemudian Ojan yang membuatnya kembali meruntuhkan seluruh dinding tebal yang ia bangun sejak lama, membuatnya merasakan kehangatan rangkulan kasih sayang dari seseorang yang terasa seperti saudara sendiri. Ditambah kedatangan Damar dan Dhimas yang membuat Haris mengubur dalam-dalam dirinya yang dingin dan tak tersentuh.

Sampai Gia. Yang berhasil membuatnya berani terjun mengambil risiko untuk mengambil bagiannya dalam mencintai. Hingga gadis yang sama mematahkan hatinya dan membuat Haris menyesali keputusannya.

Haris tahu sejak dulu harusnya ia tahu diri. Dalam hal romansa dan asmara, keluarganya memang tak pernah beruntung. Atau mungkin justru keluarganya memang tak pernah pantas merasakan kedua hal itu.

Should i give up on love?” ucapnya. Bertanya pada langit-langit kamarnya yang nampak enggan menjadi teman bicaranya.

I might get the chance to feel it,” ucapnya lagi.

Haris menggantung kalimatnya seiring ia mengembuskan napas kasar. Berharap semua nyeri di dalam dadanya turut hilang seiring terjadinya pertukaran udara di paru-paru miliknya.

But probably i'll never get the chance to win it.

Hari ini adalah hari terakhir Haris mengizinkan dirinya untuk tetap mengusahakan hubungan baik dengan Anggia. Pria itu bahkan sengaja berangkat pagi-pagi buta untuk menunggu Gia di depan gerbang, berusaha agar tak melewatkan kedatangan gadis yang beberapa waktu ini sengaja berangkat sangat pagi untuk menghindarinya.

Namun Haris berencana untuk tetap beraksi natural. Setelah rela berangkat sebelum mentari terbit, Haris rela untuk memarkirkan motornya di parkiran luar yang terletak di belakang bangunan sekolah—membuatnya harus jalan kaki memutar hingga sampai kembali ke sekolah. Biarlah seragamnya sudah bercampur keringat meski masih pagi. Ini adalah hari terakhir ia mencoba peruntungannya, maka totalitas adalah yang menjadi tekadnya.

Setelah menunggu selama kurang lebih setengah jam dari jarak yang cukup jauh dengan gerbang agar tubuh jangkungnya tetap tersembunyi, bola mata Haris akhirnya menangkap sosok yang ia nantikan. Gia akhirnya tiba di sekolah. Haris melirik jam digital di layar ponselnya sebelum akhirnya berlari menuju gerbang. Kedua alisnya bertautan, “Buset, dah! Jam 6 kurang udah dateng dia sekarang!”

Diam-diam Haris berjanji dalam hati, akan lebih sering bersyukur dan memuja Tuhan yang memberinya kaki super jenjang sehingga ia dapat mengikis jarak lebih cepat. Haris berhenti berlari ketika sudah mendekati gerbang, kemudian otomatis berjalan cepat seraya merapikan seragamnya yang entah sudah seperti apa wujudnya sekarang.

Pemuda jangkung itu menyugar rambutnya karena gerah. Kemudian memilih untuk menjinjing ranselnya agar tak memberatkan bahunya supaya ia bisa berjalan lebih cepat. Fokusnya hanya satu sekarang, mengejar Gia agar setidaknya dapat berbicara dengan gadis itu.

Haris mempercepat langkahnya. Sengaja mendekatkan dirinya dengan Gia, memotong jalan gadis itu dengan berjalan ke arah berlawanan dengan yang ingin dituju Gia. Membuat keduanya otomatis bertabrakan dan langsung menghentikan langkah masing-masing.

Gia sempat berjengit sesaat sebelum mendongak dan mendapati yang di hadapannya kini adalah Haris, seseorang yang selama ini ia hindari. Lagi-lagi Gia terpaku di tempatnya, memandangi Haris yang juga menatap ke arahnya. Gadis itu pun mengernyit keheranan, mengapa pria di hadapannya sudah dibanjiri peluh disaat bahkan kegiatan sekolah belum ada satupun yang dimulai.

Suara dehaman Haris yang kembali memecah keheningan di antara keduanya membuat Gia kembali tersadar dari lamunannya. “Maaf,” ucap Haris.

Alih-alih membalas, Gia justru mengalihkan wajahnya. Memutus kontak mata dengan Haris yang tak melepaskan pandangan darinya sedikitpun. Menutupi kecanggungannya, Gia menyingkirkan helaian anak rambutnya yang menghalangi wajah. Namun Haris tak kenal kata menyerah, setidaknya untuk hari ini.

“Kamu datengnya pagi banget, ada tugas yang mau dikumpulin?” tanya Haris, basa-basi.

Tahu tak akan mendapat jawaban, Haris merogoh saku celananya guna mengambil satu bungkus biskuit cokelat yang biasa ia berikan pada Gia. Namun entah gerakannya terlalu lama atau gadis itu yang tak ingin menunggu, Gia melenggang pergi sebelum Haris sempat menyelesaikan gerakannya.

Haris hanya diam ketika Gia kembali menghindarinya. Tangan kanannya menganggur di udara, memegangi sebungkus biskuit cokelat yang hendak ia serahkan pada Gia. Kedua matanya menatap nanar Gia yang kini berjalan terburu-buru menjauhinya. Haris mengembuskan napasnya kasar, terasa nyeri di dadanya yang sebelumnya tak pernah ada.

Haris menatap ke arah biskuit cokelat di tangannya. Seharusnya ia bisa menyelundupkan biskuit itu ke dalam tas Gia seperti biasa, namun tidak hari ini. Haris memilih untuk melangkahkan kakinya, kemudian melemparkan biskuit cokelat yang biasanya menjadi hadiah kecil darinya untuk Gia itu ke tempat sampah.

Persetan. Terserah akan ada kepastian atau tidak.

Haris menyatakan usahanya selesai sampai di sini.

Entah semanis apa mulut seorang Satria Daffa Perwira hingga Ayah berhasil terbujuk dengan mudah untuk mengizinkan Yasmine pergi bersama pemuda itu. Pagi tadi Bunda membangunkan Yasmine sebab katanya, Satria sudah menjemputnya. Dan pemuda itu kini tengah mengobrol dengan Ayah di teras rumah, seperti biasa. Membuat dengan cepat Yasmine melesat ke kamar mandi dan bersiap untuk pergi.

Maka di sinilah seorang Yasmine Arthawidya Cantika sekarang. Duduk manis di boncengan motor seorang Satria Daffa Perwira yang akan mengajaknya entah ke mana.

“Diem aja, Neng?”

Satria memulai obrolan dengan suara agak keras sembari melirik Yasmine dari kaca spion. Gadis itu memutar matanya, “Kamu juga diem aja!”

“Hah??”

“KAMU JUGA DIEM AJAAAAA!” balas Yasmine. Suaranya ia keraskan kali ini. Ah, Satria. Sudah benar saling diam. Sebab berbicara di motor pun tak ada gunanya, keduanya sama-sama akan kesulitan mendengar sebab suaranya harus bersaing dengan angin.

“NGGAK DENGERR!” balas Satria.

Yasmine mengembuskan napasnya kasar, setelahnya gadis itu memajukan tubuhnya mendekat ke arah telinga Satria yang tertutup helm.

“Kita mau ke mana?” tanyanya, mengubah pembicaraan.

Satria mengulum senyum, “Ada, deh!”

“Loh? Kamu tuh dari tadi sebenernya denger aku ngomong ya? Tapi pura-pura nggak denger?!” Yasmine menginterogasi pemuda di depannya. Sementara yang dituding hanya tertawa jahil. Membuat Yasmine mengerucutkan bibir dan segera menghadiahkan pukulan pelan pada bahu Satria.

“Kan udah dibilang, mau ngelukis,” ucap Satria santai. Maka Yasmine memilih untuk diam dan menikmati perjalanan daripada harus berdebat dengan Satria.

Selang beberapa menit perjalanan, tibalah mereka pada sebuah gedung Art and Studio di daerah Jakarta Selatan. Satria memarkirkan kendaraannya dengan rapi, setelahnya menuntun Yasmine memasuki ruangan. Sepertinya pemuda itu sudah mem-booking jadwal untuk mereka berdua sehingga keduanya tak perlu lagi mendaftar dan menunggu lama.

Satria dan Yasmine kemudian dituntun oleh salah satu staff di sana menuju sebuah ruangan berisikan kanvas dan segala perlengkapan melukis. Gadis itu kemudian memakai apron yang akan melindungi pakaiannya dari noda cat nantinya. Disusul oleh Satria yang melakukan hal yang sama di sebelahnya. Keduanya kini duduk berdampingan dan mendengarkan instruksi dari staff yang bertugas.

“Baik saya jelaskan dulu ya, Kak. Silakan untuk memilih gambar apa yang akan dilukis, contoh-contohnya ada di sebelah sana. Nanti Kakak akan mendapat color palette beserta set kuas yang akan digunakan. Untuk kelas melukis ini akan disediakan guide book-nya ya, Kak. Durasinya 3 jam dan setelah lukisannya jadi boleh dibawa pulang. Apakah sudah jelas?”

Satria dan Yasmine tak melakukan apapun selain mengangguk dengan kompak. Setelahnya keduanya bergegas memilih gambar yang akan mereka lukis. Yasmine memilih gambar yang cenderung simple dan tidak memerlukan banyak teknik sebab ia pun tak begitu pandai melukis.

Gadis itu memilih lukisan rangkaian bunga mawar merah yang diletakkan di dalam vas bunga cantik dengan dedaunannya yang turut menghiasi. Lukisan yang sederhana namun tetap Bisa terlihat indah bila ia dapat mengeksekusinya dengan baik.

Sementara Satria, pria penuh ambisi dan gemar mencari tantangan itu memilih lukisan dengan tema Up In The Air. Lukisan langit jingga beserta awan putih yang dilihat melalui jendela sebuah pesawat. Yasmine bahkan terkejut ketika Satria memutuskan untuk memilih untuk melukis gambar itu. Sebab lukisannya akan memerlukan banyak teknik. Gradasi dalam pewarnaannya, belum lagi detail-detail kecil seperti bentuk awan, bentuk sayap pesawat yang terlihat, bentuk jendela, dan lain-lain. Namun, Satria cuek. Pria itu setia dengan kepercayaan dirinya.

Maka keduanya mulai melukis. Yasmine memulai dari mencampur warna merah dengan sedikit putih agar menjadi merah muda. Gadis itu kemudian menggoreskan cat sedikit demi sedikit untuk membentuk kelopak-kelopak bunga mawar.

Di sebelahnya Satria justru belum memulai sama sekali. Pemuda itu memilih untuk memandangi wajah Yasmine dengan seksama. Sejak pertama keduanya jumpa, Satria tahu bahwa Yasmine memang pantas menyandang nama Cantika sebagai nama belakangnya. Sebab kecantikannya selalu terpancar setiap kali gadis itu melakukan apapun.

Seperti sekarang. Ketika surai hitam panjangnya diikat satu hingga rapi. Beberapa helainya jatuh, membingkai wajah tirusnya dengan sempurna. Tangannya bahkan bergerak dengan anggun melukis sebuah kelopak yang—menurut Satria—mewakili gadis itu.

Tanpa disangka, Yasmine menoleh tiba-tiba. Alhasil, Satria gelagapan dibuatnya. Namun pria itu berdeham guna menutupi salah tingkahnya akibat tertangkap basah. “Ngapain malah ngeliatin aku gitu?” tanya Yasmine. Setelahnya gadis itu menunjuk kanvas Satria dengan kuasnya, “Tuh, kanvasmu masih kosong.”

“Ini gue lagi ngumpulin inspirasi, Yas,” balas Satria santai. Rasanya pemuda itu memang benar-benar terlatih untuk selalu mengeluarkan kata-kata manis dari mulutnya.

Yasmine memutar matanya malas, menutupi kebun bunga yang bersemi dalam relungnya. “Cepet, mulai! Kalo nggak nanti aku pulang sendiri ya, aku nggak mau nungguin kamu kalo belom selesai!” ancam Yasmine.

Satria tertawa pelan, setelahnya pemuda itu memutar badannya menghadap kavas miliknya yang masih putih bersih belum tersentuh. Dan mulai menorehkan cat jingga di sana. “Kenapa milih lukis mawar, Yas?” tanya Satria.

“Nggak tau, tiba-tiba keinget mawarnya Beauty and The Beast,” balas Yasmine. Pandangannya masih fokus pada lukisannya. Gadis itu bertekad membuatnya seapik mungkin agar dapat dipajang di ruang tamu.

Di sebelahnya, Satria mendelik tak suka. “Maksudnya gue Beast-nya?”

Yasmine menahan senyumnya untuk berkembang lebih besar, “Iya, kali ya?”

“Jahat lo, Yas! Gue seganteng ini dibilang buruk rupa!”

“Kan ujungnya dia jadi pangeran juga, Daf,” sahut Yasmine tenang.

“Iya, ya? Lo princess-nya?”

“Enggak.”

“Yah, nggak mau ah kalo gitu!” balas Satria. Yasmine hanya membalasnya dengan sebuah kikikan geli. Yasmine memang sengaja membuat Satria kesal.

“Kamu kenapa milih itu?” kini Yasmine bertanya balik.

Satria menoleh ke arah Yasmine sebelum menjawab. “Ini?” tanyanya. Sekon berikutnya Satria menggeleng, “Nggak pa-pa. Biar kayak lagi di magic carpet ride aja.”

Yasmine menahan tawanya, “Magic carpet terus! Kamu mau jadi Aladdin?”

“Boleh, kalo Yasmine-nya lo,” sahut Satria. Lagi-lagi melancarkan serangannya. Namun, kali ini Yasmine sudah tak lagi dapat membendung tawanya. Membuat Satria pun turut tergelak.

“Mana ada lagian, magic carpet ride naik pesawat gitu?” ucap Yasmine.

“Loh,” balas Satria. “Asal sama lo, mah, jalan kaki juga rasanya kayak lagi magic carpet ride. Soalnya serasa berada di a whole new world gituuh!”

“Gombal!!” sebal Yasmine. “Kamu jadi Abu aja, dehh! Nggak cocok jadi Aladdin,” candanya kemudian. Satria jelas melayangkan tatapan protesnya, sebab disamakan dengan karakter monyet peliharaan Aladdin yang bernama Abu itu.

“Enak aja! Gue bilangin Ayah lo ya!?”

“Bilangin aja. Nanti aku aduin balik kamu tukang gombal!”

“Emang Ayah lo bakal belain lo gitu?” tantang Satria. “Gini-gini gue temen nongkrongnya, Yas, jangan macem-macem lo!”

Yasmine memandang Satria tidak terima. “Yang anaknya Ayah kan aku!”

Satria terkekeh, “Oohh, Princess-nya Ayah?”

“Kata Ayah sih, begitu,” balasnya bangga. Kemudian Satria tak lagi membalas. Pria itu membiarkan Yasmine kembali fokus pada lukisannya yang sudah hampir selesai membentuk tiga kelopak bunga mawar. Meninggalkan Satria jauh, sebab lukisannya baru menampakkan gradasi sejak tadi.

Kini Satria lagi-lagi termangu memandangi Yasmine. Tanpa gadis itu ketahui, di dalam relung pemuda yang sedang menatap ke arahnya itu penuh akan gemuruh. Detak jantungnya bahkan terdengar hingga sudut ruangan.

Satria sedang bertanya-tanya, haruskah ia menyatakannya sekarang? Pantaskah dirinya, untuk seorang perempuan di hadapannya?

Hening mengisi cukup lama. Dan Yasmine bukan tak menyadari bahwa sejak tadi sepasang mata menatap ke arahnya. Hanya saja ia berusaha fokus dan mengabaikan Satria, sebab tanpa pemuda itu ketahui, Yasmine pun merasakan gemuruh yang sama.

“Yas,” panggilnya. Akhirnya memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti keduanya.

Yasmine menoleh. Satria sudah tak menatap ke arahnya, melainkan mulai menorehkan cat berwarna putih untuk membentuk awan-awan yang menjadi teman sang senja yang ia lukiskan. Bagus lah, Yasmine jadi tak perlu repot-repot mengatur ekspresinya agar terlihat gugup, kan?

“Udah mau satu tahun kita sekolah, ya?” tanya Satria.

Yasmine mengingat-ingat sejenak, “Iya. Kenapa? Nggak berasa ya? Pasti karena kamu pergi lama banget. Sama tuh, Mas Jiel juga gitu.”

Sudut bibir Satria terangkat sedikit, namun kembali ditahan oleh sang empunya. Bukan itu maksudnya. Bukan ke sana arah pembicaraannya.

“Iya, kayaknya baru kemaren rasanya gue ikut MOS,” sahut Satria.

Oh, Masa Orientasi Sekolah. Yasmine meneguk ludah mengingatnya, pula ia merasakan kedua pipinya menghangat. Sebab pada masa itu, pertama kalinya ia bertemu dengan pemuda yang kini berada di dekatnya hanya dengan jarak beberapa jengkal.

Pertama kalinya, Yasmine merasa ada yang berhasil menyusupi relung hatinya.

“Nama lo udah kayak princess gitu, nggak mau sekalian jadi princess gue juga?”

Bahkan satu kalimat yang Satria lontarkan saat itu masih terekam jelas dalam ingatannya. Ralat, Yasmine memang memilih untuk menyimpannya di dalam hati. Meskipun ia tahu, itu hanya hasil keisengan sang kakak yang kebetulan menjabat sebagai ketua OSIS dan kebetulan memimpin kegiatan MOS saat itu. Meskipun ia tahu, Satria tak benar-benar serius menyatakannya.

“Pertanyaan gue waktu itu—kayaknya masih lo gantung deh, Yas,” ujar Satria.

Yasmine sontak mendongak, menatap wajah Satria yang masih tak menatap ke arahnya. Yasmine tahu, Satria juga menghindari tatapannya. Gugup, Yasmine memilih untuk pura-pura lupa. “Pertanyaan yang mana, Daf?”

Sejenak, Satria menghentikan gerak kuasnya. Namun wajahnya tetap tak teralihkan dari kanvas miliknya. Pemuda itu mengembuskan napas halus, dan setelahnya..

“Yasmine Arthawidya Cantika, nama lo udah kayak princess gitu, nggak mau sekalian jadi princess gue juga?”

Satria mengulangi pertanyaannya. Pemuda itu mengulanginya pada waktu yang berbeda, tempat yang berbeda. Namun yang harus Yasmine ketahui, Satria mengulanginya dengan isi yang sama. Perasaan yang selalu sama.

Gadis itu terpaku setelah mendengar kalimat yang baru saja meluncur dari bibir lelaki di hadapannya. Yasmine menahan napasnya. Ia bahkan meneguk ludahnya sesaat setelah memutuskan untuk berusaha kembali fokus dengan lukisannya.

Namun, ucapan Satria selanjutnya berhasil menahan gerakan tangannya.

“Gue suka sama lo, Yas,” ucap Satria. “Gue nggak bercanda. Well—mungkin waktu itu, iya, gue cuma asal. Tapi semenjak hari itu, mendadak gue jadi pengen kenal sama lo lebih jauh. Lama-lama, pertanyaan gue yang cuma asal itu jadi sesuatu yang gue seriusin, Yas,” lanjutnya.

Tak ada yang Yasmine lakukan selain mematung. Ia benar-benar tak tahu harus menjawab apa. Darahnya berdesir ke sekujur tubuh, membuat seluruh tubuhnya terasa panas. Yasmine yakin sekarang wajahnya pasti terlihat seperti Sebastian, si kepiting merah dari film The Little Mermaid. Lebih-lebih ketika Satria akhirnya kembali memutar tubuh ke arahnya.

“Jadi princess-nya Bang Jiel udah. Princess-nya Ayah udah,” ucap Satria. “Now, would you be my princess too, and make me the happiest prince in this land of far far away?

Yasmine bersumpah dalam hatinya. Demi Tuhan, tak ada lagi manusia yang lebih cheesy dari seorang Satria Daffa Perwira. Mendadak Yasmine tak lagi salah tingkah sebab mendengar penuturan Satria yang justru terdengar kocak baginya. Gadis itu kini tertawa hingga harus memegangi perutnya yang kesakitan.

“Kamu cheesy banget! Emang harus kayak gitu apa ngomongnya?” tanya Yasmine di sela tawanya. Wajahnya benar-benar memerah sekarang. Bercampur antara geli karena tertawa dengan seluruh perasaan malunya.

Satria hanya menipiskan bibir, tersenyum melihat Yasmine tertawa selepas itu untuk pertama kalinya. Biarlah ia menanggung malunya, toh, semua temannya juga sering menertawakan dirinya karena ulahnya sendiri. Yang paling penting, Yasmine tertawa karenanya.

“Dijawab dong, masa diketawain doang?” pinta Satria.

Akhirnya, Yasmine meredakan tawanya. Gadis itu sampai harus berkali-kali menghela napasnya sebab sudah merasa terlalu sesak lantaran terlalu banyak tertawa. Sekon berikutnya, gadis itu meraih kuas milik Satria. “Pinjem sini kuasnya!”

Meski bingung, Satria tetap membiarkan Yasmine merebut kuasnya. Gadis itu kemudian mencelupkan ujung kuas pada cat putih yang berada di palette milik Satria. Mengarahkannya pada kanvas, Yasmine menuliskan sesuatu pada bagian kanvas yang nantinya akan tertutup menjadi lukisan awan putih.

Satria hanya menyaksikan Yasmine merusak lukisannya dengan tatapan bingung. Namun rupanya, Yasmine menuliskan jawabannya.

Y-E-S

Satria termangu. Memandangi tiga huruf yang berbaris membentuk sebuah kata yang menjadi jawaban Yasmine akan pernyataan perasaannya. Kedua bola matanya mengerjap berkali-kali, memastikan bahwa dirinya tidak salah melihat.

“Yas? Ini beneran?” tanya Satria.

Yasmine tak menjawab, gadis itu segera mengembalikan kuas yang ia pegang pada pemiliknya. Kemudian melesat berlari meninggalkan Satria, yang.. baru saja menjadi kekasihnya. Sementara Satria? Pemuda itu senang bukan main. Terlihat dari senyumnya yang mengembang penuh, pula sebuah reaksi tertahan yang mewakilkan bahagianya.

That's how the story goes. Yasmine merasakan kebahagiaan semakin membuncah dalam dadanya. Tuhan yang mahatahu memang benar adanya. Tuhan tahu, betapa Yasmine tak pernah mengeluh akan semua ujian yang menghujaninya.

Maka ganjaran yang pantas atas semua perjuangannya untuk bertahan adalah segala bentuk kebahagiaan yang ada di dunia.

Dulu, Yasmine mungkin harus beradaptasi dengan setiap orang yang memandangnya rendah. Terus menghinanya, mencaci makinya, hingga menginjak kepalanya agar ia tetap berada pada posisi paling bawah.

Sekarang, Yasmine nampaknya harus mulai beradaptasi kembali. Sebab dunianya berubah sekarang. Harapan yang dulu hanya bisa dipendamnya dalam hati kini terwujud satu persatu. Seakan Yasmine memiliki seorang peri pelindung yang selama ini diam-diam mendengar semua permohonannya kemudian mengubah hidupnya hanya dengan satu ayunan tongkat sihir.

Dan sebagaimana dongeng para putri kerajaan berakhir, kisah Yasmine berakhir sama bahagianya.

Ketika Sang Putri akhirnya kembali pulang ke istananya, merasakan dekapan hangat dari kedua orang tua dan keluarga yang menyayanginya, pula merasakan cinta dari seluruh dunia yang menerima keberadaannya.

Terakhir, ketika Sang Putri pada akhirnya menemukan seorang ksatria berkuda putih yang hadir untuknya. Seorang pangeran yang membuatnya merasa dicintai sebagaimana dirinya.

Dan sebagaimana dongeng para putri kerajaan berakhir,

.

.

.

.

She lived happily ever after.

– The End -

Entah semanis apa mulut seorang Satria Daffa Perwira hingga Ayah berhasil terbujuk dengan mudah untuk mengizinkan Yasmine pergi bersama pemuda itu. Pagi tadi Bunda membangunkan Yasmine sebab katanya, Satria sudah menjemputnya. Dan pemuda itu kini tengah mengobrol dengan Ayah di teras rumah, seperti biasa. Membuat dengan cepat Yasmine melesat ke kamar mandi dan bersiap untuk pergi.

Maka di sinilah seorang Yasmine Arthawidya Cantika sekarang. Duduk manis di boncengan motor seorang Satria Daffa Perwira yang akan mengajaknya entah ke mana.

“Diem aja, Neng?”

Satria memulai obrolan dengan suara agak keras sembari melirik Yasmine dari kaca spion. Gadis itu memutar matanya, “Kamu juga diem aja!”

“Hah??”

“KAMU JUGA DIEM AJAAAAA!” balas Yasmine. Suaranya ia keraskan kali ini. Ah, Satria. Sudah benar saling diam. Sebab berbicara di motor pun tak ada gunanya, keduanya sama-sama akan kesulitan mendengar sebab suaranya harus bersaing dengan angin.

“NGGAK DENGERR!” balas Satria.

Yasmine mengembuskan napasnya kasar, setelahnya gadis itu memajukan tubuhnya mendekat ke arah telinga Satria yang tertutup helm.

“Kita mau ke mana?” tanyanya, mengubah pembicaraan.

Satria mengulum senyum, “Ada, deh!”

“Loh? Kamu tuh dari tadi sebenernya denger aku ngomong ya? Tapi pura-pura nggak denger?!” Yasmine menginterogasi pemuda di depannya. Sementara yang dituding hanya tertawa jahil. Membuat Yasmine mengerucutkan bibir dan segera menghadiahkan pukulan pelan pada bahu Satria.

“Kan udah dibilang, mau ngelukis,” ucap Satria santai. Maka Yasmine memilih untuk diam dan menikmati perjalanan daripada harus berdebat dengan Satria.

Selang beberapa menit perjalanan, tibalah mereka pada sebuah gedung Art and Studio di daerah Jakarta Selatan. Satria memarkirkan kendaraannya dengan rapi, setelahnya menuntun Yasmine memasuki ruangan. Sepertinya pemuda itu sudah mem-booking jadwal untuk mereka berdua sehingga keduanya tak perlu lagi mendaftar dan menunggu lama.

Satria dan Yasmine kemudian dituntun oleh salah satu staff di sana menuju sebuah ruangan berisikan kanvas dan segala perlengkapan melukis. Gadis itu kemudian memakai apron yang akan melindungi pakaiannya dari noda cat nantinya. Disusul oleh Satria yang melakukan hal yang sama di sebelahnya. Keduanya kini duduk berdampingan dan mendengarkan instruksi dari staff yang bertugas.

“Baik saya jelaskan dulu ya, Kak. Silakan untuk memilih gambar apa yang akan dilukis, contoh-contohnya ada di sebelah sana. Nanti Kakak akan mendapat color palette beserta set kuas yang akan digunakan. Untuk kelas melukis ini akan disediakan guide book-nya ya, Kak. Durasinya 3 jam dan setelah lukisannya jadi boleh dibawa pulang. Apakah sudah jelas?”

Satria dan Yasmine tak melakukan apapun selain mengangguk dengan kompak. Setelahnya keduanya bergegas memilih gambar yang akan mereka lukis. Yasmine memilih gambar yang cenderung simple dan tidak memerlukan banyak teknik sebab ia pun tak begitu pandai melukis.

Gadis itu memilih lukisan rangkaian bunga mawar merah yang diletakkan di dalam vas bunga cantik dengan dedaunannya yang turut menghiasi. Lukisan yang sederhana namun tetap Bisa terlihat indah bila ia dapat mengeksekusinya dengan baik.

Sementara Satria, pria penuh ambisi dan gemar mencari tantangan itu memilih lukisan dengan tema Up In The Air. Lukisan langit jingga beserta awan putih yang dilihat melalui jendela sebuah pesawat. Yasmine bahkan terkejut ketika Satria memutuskan untuk memilih untuk melukis gambar itu. Sebab lukisannya akan memerlukan banyak teknik. Gradasi dalam pewarnaannya, belum lagi detail-detail kecil seperti bentuk awan, bentuk sayap pesawat yang terlihat, bentuk jendela, dan lain-lain. Namun, Satria cuek. Pria itu setia dengan kepercayaan dirinya.

Maka keduanya mulai melukis. Yasmine memulai dari mencampur warna merah dengan sedikit putih agar menjadi merah muda. Gadis itu kemudian menggoreskan cat sedikit demi sedikit untuk membentuk kelopak-kelopak bunga mawar.

Di sebelahnya Satria justru belum memulai sama sekali. Pemuda itu memilih untuk memandangi wajah Yasmine dengan seksama. Sejak pertama keduanya jumpa, Satria tahu bahwa Yasmine memang pantas menyandang nama Cantika sebagai nama belakangnya. Sebab kecantikannya selalu terpancar setiap kali gadis itu melakukan apapun.

Seperti sekarang. Ketika surai hitam panjangnya diikat satu hingga rapi. Beberapa helainya jatuh, membingkai wajah tirusnya dengan sempurna. Tangannya bahkan bergerak dengan anggun melukis sebuah kelopak yang—menurut Satria—mewakili gadis itu.

Tanpa disangka, Yasmine menoleh tiba-tiba. Alhasil, Satria gelagapan dibuatnya. Namun pria itu berdeham guna menutupi salah tingkahnya akibat tertangkap basah. “Ngapain malah ngeliatin aku gitu?” tanya Yasmine. Setelahnya gadis itu menunjuk kanvas Satria dengan kuasnya, “Tuh, kanvasmu masih kosong.”

“Ini gue lagi ngumpulin inspirasi, Yas,” balas Satria santai. Rasanya pemuda itu memang benar-benar terlatih untuk selalu mengeluarkan kata-kata manis dari mulutnya.

Yasmine memutar matanya malas, menutupi kebun bunga yang bersemi dalam relungnya. “Cepet, mulai! Kalo nggak nanti aku pulang sendiri ya, aku nggak mau nungguin kamu kalo belom selesai!” ancam Yasmine.

Satria tertawa pelan, setelahnya pemuda itu memutar badannya menghadap kavas miliknya yang masih putih bersih belum tersentuh. Dan mulai menorehkan cat jingga di sana. “Kenapa milih lukis mawar, Yas?” tanya Satria.

“Nggak tau, tiba-tiba keinget mawarnya Beauty and The Beast,” balas Yasmine. Pandangannya masih fokus pada lukisannya. Gadis itu bertekad membuatnya seapik mungkin agar dapat dipajang di ruang tamu.

Di sebelahnya, Satria mendelik tak suka. “Maksudnya gue Beast-nya?”

Yasmine menahan senyumnya untuk berkembang lebih besar, “Iya, kali ya?”

“Jahat lo, Yas! Gue seganteng ini dibilang buruk rupa!”

“Kan ujungnya dia jadi pangeran juga, Daf,” sahut Yasmine tenang.

“Iya, ya? Lo princess-nya?”

“Enggak.”

“Yah, nggak mau ah kalo gitu!” balas Satria. Yasmine hanya membalasnya dengan sebuah kikikan geli. Yasmine memang sengaja membuat Satria kesal.

“Kamu kenapa milih itu?” kini Yasmine bertanya balik.

Satria menoleh ke arah Yasmine sebelum menjawab. “Ini?” tanyanya. Sekon berikutnya Satria menggeleng, “Nggak pa-pa. Biar kayak lagi di magic carpet ride aja.”

Yasmine menahan tawanya, “Magic carpet terus! Kamu mau jadi Aladdin?”

“Boleh, kalo Yasmine-nya lo,” sahut Satria. Lagi-lagi melancarkan serangannya. Namun, kali ini Yasmine sudah tak lagi dapat membendung tawanya. Membuat Satria pun turut tergelak.

“Mana ada lagian, magic carpet ride naik pesawat gitu?” ucap Yasmine.

“Loh,” balas Satria. “Asal sama lo, mah, jalan kaki juga rasanya kayak lagi magic carpet ride. Soalnya serasa berada di a whole new world gituuh!”

“Gombal!!” sebal Yasmine. “Kamu jadi Abu aja, dehh! Nggak cocok jadi Aladdin,” candanya kemudian. Satria jelas melayangkan tatapan protesnya, sebab disamakan dengan karakter monyet peliharaan Aladdin yang bernama Abu itu.

“Enak aja! Gue bilangin Ayah lo ya!?”

“Bilangin aja. Nanti aku aduin balik kamu tukang gombal!”

“Emang Ayah lo bakal belain lo gitu?” tantang Satria. “Gini-gini gue temen nongkrongnya, Yas, jangan macem-macem lo!”

Yasmine memandang Satria tidak terima. “Yang anaknya Ayah kan aku!”

Satria terkekeh, “Oohh, Princess-nya Ayah?”

“Kata Ayah sih, begitu,” balasnya bangga. Kemudian Satria tak lagi membalas. Pria itu membiarkan Yasmine kembali fokus pada lukisannya yang sudah hampir selesai membentuk tiga kelopak bunga mawar. Meninggalkan Satria jauh, sebab lukisannya baru menampakkan gradasi sejak tadi.

Kini Satria lagi-lagi termangu memandangi Yasmine. Tanpa gadis itu ketahui, di dalam relung pemuda yang sedang menatap ke arahnya itu penuh akan gemuruh. Detak jantungnya bahkan terdengar hingga sudut ruangan.

Satria sedang bertanya-tanya, haruskah ia menyatakannya sekarang? Pantaskah dirinya, untuk seorang perempuan di hadapannya?

Hening mengisi cukup lama. Dan Yasmine bukan tak menyadari bahwa sejak tadi sepasang mata menatap ke arahnya. Hanya saja ia berusaha fokus dan mengabaikan Satria, sebab tanpa pemuda itu ketahui, Yasmine pun merasakan gemuruh yang sama.

“Yas,” panggilnya. Akhirnya memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti keduanya.

Yasmine menoleh. Satria sudah tak menatap ke arahnya, melainkan mulai menorehkan cat berwarna putih untuk membentuk awan-awan yang menjadi teman sang senja yang ia lukiskan. Bagus lah, Yasmine jadi tak perlu repot-repot mengatur ekspresinya agar terlihat gugup, kan?

“Udah mau satu tahun kita sekolah, ya?” tanya Satria.

Yasmine mengingat-ingat sejenak, “Iya. Kenapa? Nggak berasa ya? Pasti karena kamu pergi lama banget. Sama tuh, Mas Jiel juga gitu.”

Sudut bibir Satria terangkat sedikit, namun kembali ditahan oleh sang empunya. Bukan itu maksudnya. Bukan ke sana arah pembicaraannya.

“Iya, kayaknya baru kemaren rasanya gue ikut MOS,” sahut Satria.

Oh, Masa Orientasi Sekolah. Yasmine meneguk ludah mengingatnya, pula ia merasakan kedua pipinya menghangat. Sebab pada masa itu, pertama kalinya ia bertemu dengan pemuda yang kini berada di dekatnya hanya dengan jarak beberapa jengkal.

Pertama kalinya, Yasmine merasa ada yang berhasil menyusupi relung hatinya.

“Nama lo udah kayak princess gitu, nggak mau sekalian jadi princess gue juga?”

Bahkan satu kalimat yang Satria lontarkan saat itu masih terekam jelas dalam ingatannya. Ralat, Yasmine memang memilih untuk menyimpannya di dalam hati. Meskipun ia tahu, itu hanya hasil keisengan sang kakak yang kebetulan menjabat sebagai ketua OSIS dan kebetulan memimpin kegiatan MOS saat itu. Meskipun ia tahu, Satria tak benar-benar serius menyatakannya.

“Pertanyaan gue waktu itu—kayaknya masih lo gantung deh, Yas,” ujar Satria.

Yasmine sontak mendongak, menatap wajah Satria yang masih tak menatap ke arahnya. Yasmine tahu, Satria juga menghindari tatapannya. Gugup, Yasmine memilih untuk pura-pura lupa. “Pertanyaan yang mana, Daf?”

Sejenak, Satria menghentikan gerak kuasnya. Namun wajahnya tetap tak teralihkan dari kanvas miliknya. Pemuda itu mengembuskan napas halus, dan setelahnya..

“Yasmine Arthawidya Cantika, nama lo udah kayak princess gitu, nggak mau sekalian jadi princess gue juga?”

Satria mengulangi pertanyaannya. Pemuda itu mengulanginya pada waktu yang berbeda, tempat yang berbeda. Namun yang harus Yasmine ketahui, Satria mengulanginya dengan isi yang sama. Perasaan yang selalu sama.

Gadis itu terpaku setelah mendengar kalimat yang baru saja meluncur dari bibir lelaki di hadapannya. Yasmine menahan napasnya. Ia bahkan meneguk ludahnya sesaat setelah memutuskan untuk berusaha kembali fokus dengan lukisannya.

Namun, ucapan Satria selanjutnya berhasil menahan gerakan tangannya.

“Gue suka sama lo, Yas,” ucap Satria. “Gue nggak bercanda. Well—mungkin waktu itu, iya, gue cuma asal. Tapi semenjak hari itu, mendadak gue jadi pengen kenal sama lo lebih jauh. Lama-lama, pertanyaan gue yang cuma asal itu jadi sesuatu yang gue seriusin, Yas,” lanjutnya.

Tak ada yang Yasmine lakukan selain mematung. Ia benar-benar tak tahu harus menjawab apa. Darahnya berdesir ke sekujur tubuh, membuat seluruh tubuhnya terasa panas. Yasmine yakin sekarang wajahnya pasti terlihat seperti Sebastian, si kepiting merah dari film The Little Mermaid. Lebih-lebih ketika Satria akhirnya kembali memutar tubuh ke arahnya.

“Jadi princess-nya Bang Jiel udah. Princess-nya Ayah udah,” ucap Satria. “Now, would you be my princess too, and make me the happiest prince in this land of far far away?

Yasmine bersumpah dalam hatinya. Demi Tuhan, tak ada lagi manusia yang lebih cheesy dari seorang Satria Daffa Perwira. Mendadak Yasmine tak lagi salah tingkah sebab mendengar penuturan Satria yang justru terdengar kocak baginya. Gadis itu kini tertawa hingga harus memegangi perutnya yang kesakitan.

“Kamu cheesy banget! Emang harus kayak gitu apa ngomongnya?” tanya Yasmine di sela tawanya. Wajahnya benar-benar memerah sekarang. Bercampur antara geli karena tertawa dengan seluruh perasaan malunya.

Satria hanya menipiskan bibir, tersenyum melihat Yasmine tertawa selepas itu untuk pertama kalinya. Biarlah ia menanggung malunya, toh, semua temannya juga sering menertawakan dirinya karena ulahnya sendiri. Yang paling penting, Yasmine tertawa karenanya.

“Dijawab dong, masa diketawain doang?” pinta Satria.

Akhirnya, Yasmine meredakan tawanya. Gadis itu sampai harus berkali-kali menghela napasnya sebab sudah merasa terlalu sesak lantaran terlalu banyak tertawa. Sekon berikutnya, gadis itu meraih kuas milik Satria. “Pinjem sini kuasnya!”

Meski bingung, Satria tetap membiarkan Yasmine merebut kuasnya. Gadis itu kemudian mencelupkan ujung kuas pada cat putih yang berada di palette milik Satria. Mengarahkannya pada kanvas, Yasmine menuliskan sesuatu pada bagian kanvas yang nantinya akan tertutup menjadi lukisan awan putih.

Satria hanya menyaksikan Yasmine merusak lukisannya dengan tatapan bingung. Namun rupanya, Yasmine menuliskan jawabannya.

Y-E-S

Satria termangu. Memandangi tiga huruf yang berbaris membentuk sebuah kata yang menjadi jawaban Yasmine akan pernyataan perasaannya. Kedua bola matanya mengerjap berkali-kali, memastikan bahwa dirinya tidak salah melihat.

“Yas? Ini beneran?” tanya Satria.

Yasmine tak menjawab, gadis itu segera mengembalikan kuas yang ia pegang pada pemiliknya. Kemudian melesat berlari meninggalkan Satria, yang.. baru saja menjadi kekasihnya. Sementara Satria? Pemuda itu senang bukan main. Terlihat dari senyumnya yang mengembang penuh, pula sebuah reaksi tertahan yang mewakilkan bahagianya.

That's how the story goes. Yasmine merasakan kebahagiaan semakin membuncah dalam dadanya. Tuhan yang mahatahu memang benar adanya. Tuhan tahu, betapa Yasmine tak pernah mengeluh akan semua ujian yang menghujaninya.

Maka ganjaran yang pantas atas semua perjuangannya untuk bertahan adalah segala bentuk kebahagiaan yang ada di dunia.

Dulu, Yasmine mungkin harus beradaptasi dengan setiap orang yang memandangnya rendah. Terus menghinanya, mencaci makinya, hingga menginjak kepalanya agar ia tetap berada pada posisi paling bawah.

Sekarang, Yasmine nampaknya harus mulai beradaptasi kembali. Sebab dunianya berubah sekarang. Harapan yang dulu hanya bisa dipendamnya dalam hati kini terwujud satu persatu. Seakan Yasmine memiliki seorang peri pelindung yang selama ini diam-diam mendengar semua permohonannya kemudian mengubah hidupnya hanya dengan satu ayunan tongkat sihir.

Dan sebagaimana dongeng para putri kerajaan berakhir, kisah Yasmine berakhir sama bahagianya.

Ketika Sang Putri akhirnya kembali pulang ke istananya, merasakan dekapan hangat dari kedua orang tua dan keluarga yang menyayanginya, pula merasakan cinta dari seluruh dunia yang menerima keberadaannya.

Terakhir, ketika Sang Putri pada akhirnya menemukan seorang ksatria berkuda putih yang hadir untuknya. Seorang pangeran yang membuatnya merasa dicintai sebagaimana dirinya.

Dan sebagaimana dongeng para putri kerajaan berakhir,

.

.

.

.

She lived happily ever after.

– The End -

Sabtu yang dinanti pun tiba, Yasmine bangun lebih pagi dari biasanya. Sejak semalam gadis itu bahkan tak bisa tidur sebab hatinya terlalu tak sabar untuk menyambut pagi.

Foto keluarga?

Ah, dulu bahkan Yasmine tak pernah berani untuk memintanya pada Tuhan. Rasanya itu adalah keinginannya yang paling sulit untuk menjadi nyata. Dan Yasmine tak ingin membiarkan mimpinya terkubur lagi, maka gadis itu memilih untuk melupakannya. Biarlah hanya Azriel yang memiliki kesempatan untuk merasakan memiliki sebuah potret keluarga, bukan dirinya.

Namun hari ini pada akhirnya tiba jua. Tentu saja gadis itu serasa melayang ke langit ke tujuh. Rupanya mimpinya tak terkubur, melainkan meninggi hingga menjadi bintang paling terang di atas sana. Dijaga dengan baik oleh Sang Pemilik Bumi untuk Yasmine jemput suatu hari nanti. Dan hari ini adalah saatnya.

Yasmine sudah mandi dan hanya tinggal mengganti pakaiannya ketika kedua orang tua dan kakaknya telah siap. Kini Yasmine memilih untuk turun, menuju ruang keluarganya yang selama ini memajang potret keluarga yang hanya ada Ayah, Bunda, dan Azriel di tengah-tengahnya. Bukan, bukan Yasmine belum lahir. Ayah yang melarangnya ikut kala itu.

Yasmine tersenyum geli ketika memandangi wajah Azriel. Kakaknya itu bilang, saat foto itu diambil dirinya sama sekali tak bahagia sebab Yasmine tak turut hadir. Dan ucapannya terbukti benar. Terlihat dari wajah Azriel yang sama sekali tak menunjukkan senyumnya pada foto itu. Entah mengapa Yasmine justru merasa foto keluarga yang kini dipandanginya itu hanyalah bentuk sebuah formalitas.

Yasmine masih fokus pada kegiatannya. Hingga suara seseorang yang tengah menuruni tangga rumahnya berhasil membuatnya menoleh.

“Eh—Adek udah bangun?”

Rupanya Ayah, yang nampak baru saja bangun tidur. Ayah bahkan turun dengan setelan kaus dan sarungnya. Yasmine mengangguk, setelahnya mengikuti langkah Ayah yang pasti menuju dapur. Gadis itu hapal kebiasaan sang Ayah. Setiap pagi pasti Ayah akan menuju dapur dan membuat sendiri kopi hitam untuknya.

Gadis itu kini duduk di sebuah mini bar dapur rumahnya, menyaksikan Ayah meracik kopi. “Ayah mau bikin kopi, Adek mau?” tawar Ayah.

“Enggak, Adek nggak bisa minum kopi pagi-pagi. Nanti sakit perut,” jawab Yasmine seraya terkekeh. Sementara Ayah hanya mengangguk-angguk seraya menahan senyumnya.

“Adek ngapain sendirian di bawah? Yang lain belum pada bangun juga,” ucap Ayah. Pria paruh baya itu kini mengambil sendok kecil untuk mengaduk kopinya.

“Hm? Enggak, aku liat itu,” jawab Yasmine, mengarahkan telunjuknya kepada figura besar memampang potret keluarga yang terpajang di ruang tengah. Membuat Ayah tersenyum getir.

“Nanti yang itu rencananya Ayah copot, terus masukin gudang. Ayah mau ganti sama foto kita yang baru, yang ada Adeknya juga,” balas Ayah.

“Iya, ganti aja, Yah. Mas Jiel-nya jelek di foto itu. Nggak enak diliatnya,” canda Yasmine. Ayah tergelak kemudian.

“Adek udah mandi, ya?” tanya Ayah. Yasmine hanya mengangguk menjawabnya.

“Ya udah, Mamasnya dibangunin, ya, Sayang. Nanti Ayah sama Bunda siap-siap juga,” titah Ayah halus.

“OKE!”

Jawaban Yasmine yang berapi-api lantas membuat Ayah kembali terkekeh. Setelahnya gadis itu melesat untuk menggedor kamar sang kakak. Mengganggunya hingga terbangun dari tidurnya.


“Coba adeknya agak ke tengah, kepalanya dimiringkan sedikit!”

“Masnya agak geser, Mas!”

“Okee, mulai ya. Tahan, 1..2..”

Ckrek!

Entah sudah kali ke berapa kamera memotret Yasmine dan keluarganya. Sudah seringkali terdengar embusan napas lelah dari Azriel yang harus berdiri tegak di belakang Yasmine. Namun gadis itu sama sekali tak merasa lelah. Yasmine justru merasa ketagihan, bahkan kalau bisa, gadis itu ingin terus berfoto bersama keluarganya.

Yasmine tak henti-hentinya tersenyum. Dadanya membuncah merasakan bahagia yang tak ada bandingnya. Sejak tadi benaknya tak berhenti bicara. Yasmine tak henti-hentinya berbahagia. Terlebih sejak tadi ketika Ayah bahkan turut membenahi anak rambutnya yang menghalangi wajahnya.

Selesai berfoto, Yasmine memilih untuk menghampiri Ayah yang nampak sudah lelah dan tengah mengipasi dirinya sendiri. Mungkin kostum berfoto kali ini membuat Ayah kegerahan, ditambah lagi paparan lampu yang juga panas selama berfoto. Gadis itu mengambil tempat di sebelah Ayah, kemudian mengajaknya bicara.

“Ayah,” panggilnya.

Ayah yang tadinya bersandar otomatis bangkit dan duduk dengan posisi tegak. “Ya?”

Yasmine menggeleng seraya tersenyum, setelahnya ia justru memeluk sang ayah. Bingung, Ayah tak langsung membalas peluknya hingga Yasmine menjelaskan maksudnya. “Makasih udah ngajak Yayas foto keluarga ya, Ayah! Yayas seneng banget pokoknya!”

Ayah tersenyum, setelahnya mengusap pucuk kepala Yasmine. “Justru Ayah harusnya minta maaf sama Adek. Maaf baru ngajak Adek foto keluarga sekarang.”

Yasmine menggeleng cepat, “Nggak pa-pa. Kapanpun itu, Yayas akan selalu seneng. Sekali lagi makasih ya, Ayah! Seneng banget akhirnya nanti Yayas bisa liat foto Yayas di ruang tamu, hehe.”

Ayah mengangguk bangga, “Oh, iya dong! Nanti foto Adek akan Ayah pajang paling besar. Pokoknya foto Princess Ayah harus paling kelihatan!”

Yasmine terkekeh, “Ayah kebanyakan main sama Daffa, tuh, jadi ikutan princess-princess!”

“Loh, Adek kan emang princess-nya Ayah!”

Yasmine mendongak menatap wajah Ayah. Setelahnya, sembari tersenyum gadis itu menjawab, “Then that makes you a king.

Yasmine bernapas lega setelahnya. Ternyata begini rasanya, berfoto dengan dihimpit oleh kedua orang tua yang menyayanginya. Ternyata begini rasanya, berada di dalam sebuah keluarga lengkap dimana dirinya termasuk sebagai anggotanya. Ternyata begini rasanya, menjadi seseorang yang juga turut diprioritaskan oleh Ayah. Tak ada lagi yang bisa Yasmine lakukan selain menumpahkan rasa syukur sebanyak-banyaknya dalam hatinya.

Sebab hari itu, sebuah potret keluarga berhasil diabadikan. Sebagaimana Yasmine mengabadikan momen sederhana yang akan selamanya berharga. Sebagaimana Yasmine akhirnya memiliki sebuah potret keluarga baru dalam benaknya.

Potret keluarga yang kini akan selamanya menjadi rumah yang nyaman untuk tempatnya pulang.

Sesuai perjanjian, Azriel akhirnya mengajak Yasmine untuk mengunjungi saudara kembarnya. Seorang adiknya yang lain, yang selama ini keberadaannya harus disembunyikan dan namanya tak pernah dibiarkan untuk menyentuh mulut siapapun di rumah.

Keduanya kini berdiri di hadapan sebuah batu nisan yang bertuliskan sebuah nama yang susunannya mirip dengan milik Yasmine.

Yazid Arthawirya Saputra

Bola mata Yasmine memindai setiap barisan huruf yang terukir di sana. Mematri nama itu dalam hati supaya setiap hari dapat ia titipkan doa yang senantiasa mengudara untuk saudaranya itu.

Azriel dengan sigap mengambil langkah lebih dulu. Pria itu menyiramkan air mawar ke atas batu nisan di hadapannya, mengusapnya sedikit kasar agar semua kotoran yang menempel di sana hilang. Tak lupa mencabuti rumput liar yang memenuhi makam adik laki-lakinya. Setelahnya pria itu menyerahkan sekeranjang bunga tabur kepada Yasmine. Membiarkan gadis itu setidaknya menumpahkan afeksi pada saudara kembarnya yang belum pernah gadis itu temui sama sekali.

Selesai dengan semua kegiatan, Azriel dan Yasmine kini duduk berdampingan. “Yazid dulu mukanya kayak gimana, Mas?”

“Ya kamu ngaca aja coba, mirip—ADUH!”

Azriel mengaduh dan memegangi lengannya yang dicubit Yasmine sebab mengeluarkan jawaban menyebalkan yang sebenarnya masuk akal. Namun setelahnya ia hanya terkekeh dan mulai memberi gambaran tentang Yazid—yang sebenarnya tak terlalu pemuda itu ketahui pula. Sebab Yazid pergi terlalu cepat, bahkan sebelum Azriel sempat menyentuhnya.

“Mamas juga nggak tau sih, soalnya Yazid itu pas lahir langsung dibawa sama dokternya, abis itu ya.. gitu deh. Mamas juga belom sempet liat,” jawab Azriel getir. “Tapi kata Bunda sih, Yazid waktu itu persis Mamas waktu baru lahir. Beratnya juga sama.”

Yasmine hanya mengangguk mendengarkannya. “Kenapa ya, Mas, Yazid perginya cepet banget?”

“Tau, tuh. Padahal Mamas udah capek-capek ngedekor kamar kalian. Mamas yang ngecat, Mamas yang pasang stiker-stiker gitu. Eh, dianya nggak mau nempatin,” canda Azriel. Membangun pertahanannya sendiri agar air matanya tak meluruh di depan Yasmine.

Sementara adiknya itu hanya mengukir senyum, pikirannya kini berandai-andai. “Kalo misalnya Yazid waktu itu tetep sama kita, Mamas mau ngapain?”

Azriel tertawa miris, kemudian menggeleng. “Nggak boleh berandai kayak gitu. Apapun yang terjadi sekarang di dunia ini, pasti udah jalan yang paling baik. Buat Yazid, buat keluarga kita.”

“Bukannya nggak sayang Yazid, tapi Mas bersyukur seenggaknya masih ada kamu, Yas.”

Azriel berucap pelan. Namun wajahnya memandang kosong ke arah rerumputan yang menumbuhi tanah yang bertahun-tahun mengubur Yazid. Sedang Yasmine memandangi wajah sang kakak dengan seksama. Yasmine tahu, sejak lama Azriel adalah orang yang paling menyayanginya dalam keluarga. Setelah Eyang Kakung, tentunya. Sebab menyayangi Yasmine dan melindunginya adalah wujud rasa syukurnya, atas masih tersisanya satu adik kembarnya yang sehat dan sempurna untuk terlahir ke dunia.

“Yazid tapi untung kamu nggak ketemu Mas Jiel,” celetuk Yasmine. Menyadarkan Azriel dari lamunannya. “Dia suka nakal. Suka ngunciin aku di kamar mandi, suka marahin aku, suka nyuruh aku ngambil ini-itu! Dia jahat, Yazid!”

“Boong! Mas Jiel baik tau, Yazid. Suka beliin Yayas nasi goreng, suka nemenin Yayas, nganterin Yayas ke mana-mana. Yayas mau pacaran sama Satria juga Mamas bole—DUH SAKIT! Tuh, kan, Zid, Yayas yang jahat. Mas Jiel dicubitin terus!” balas Azriel sengit.

“Jangan gitu dong! Masa nanti Yazid taunya aku jelek gitu sifatnya?”

“Kan emang iya!”

“NGGAK!”

Azriel menghela napasnya, “Ya udah cerita yang lain.”

“Yazid, Mas Jiel suka sama cewek tapi nggak pernah berani ngomong tau,” celetuk Yasmine. Yang kemudian mendapat dorongan pelan di bahunya oleh Azriel.

Gadis itu terkekeh, sementara Azriel membalas candaan Yasmine. “Yayas lagi dideketin cowok tuh, Zid. Coba seleksi dulu cowoknya boleh nggak jadi pacarnya Yayas!”

“Ngarangg!”

“Nggak ngarang, emang iya, kan?” tanya Azriel. Yasmine kemudian hanya diam tanpa menjawabnya. Gadis itu memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan.

“Ayah suka ke sini juga ya, Zid? Ngobrolin apa sama Ayah? Seru ya, pasti?” Yasmine mulai bermonolog. Sementara Azriel memilih untuk diam dan membiarkan Yasmine berbicara sendiri. “Aku baru beberapa bulan ini aja ngobrol sama Ayah, Zid. Ternyata Ayah lucu juga ya? Aku baru tau.”

Yasmine mengh