raranotruru

Setibanya di rumah Eyang, hanya Yasmine yang tidak lekas melepas seatbelt yang selama perjalanan mengamankan tubuhnya. Gadis itu berkali-kali mengatur napas dan memegang dadanya. Ia merasakan tubuhnya sedikit gemetar dan berkeringat. Yasmine mendadak kaku, gadis itu semakin panik ketika sang ayah sudah membuka pintu dan melanglah keluar dari mobil. Ia tahu sebentar lagi ayahnya akan menyuruhnya untuk segera masuk ke rumah eyang dengan cara yang tidak ramah.

Gadis itu tersentak kala tangan lembut ibunya mengusap kedia tangannya yang terkepal menahan gugup. Yasmine mendongak, mendapati bunda tersenyum ke arahnya seraya mengangguk. Seolah mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Senyum menenangkan milik bunda dari kursi depan kala itu, pada akhirnya menjadi satu-satunya sumber kekuatan yang membuatnya berani melangkahkan kakinya keluar dari mobil. Bersama bundanya, Yasmine masuk ke rumah eyang.

Bunda mengucap salam, sementara Yasmine memilih bersembunyi di balik tubuh bunda. Netranya menangkap sebuah keluarga besar yang para anggotanya saling bercengkrama. Entah tulus dari hati atau sekadar basa-basi, Yasmine tidak terlalu mengerti. Toh, ia selalu dianggap bukan bagian dari mereka. Jadi, dirinya dan Azriel pun selalu mengasingkan diri jika ada acara-acara seperti ini.

Mereka semua menyambut kehadiran bunda dengan baik, sangat baik. Mereka semua menatap bunda dengan tatapan mata yang berbinar. Gosipnya, bunda memang menantu paling disayang. Tak heran jika Azriel otomatis menjadi cucu kesayangan. Seharusnya Yasmine juga, namun rasanya dunia tidak berpihak padanya.

Yasmine dapat melihatnya dengan jelas. Bagaimana antusias keluarga besarnya menurun drastis ketika melihat dirinya menampakkan diri dari balik tubuh langsing bunda. Tatapan yang tadinya berbinar itu sirna. Senyuman yang ramah itu pudar. Apa lagi Eyang, tatapan penuh kasih sayang serta raut wajah penuh kebahagiaan itu lenyap seketika. Berganti dengan tatapan mengernyit jijik dan nyalang.

“Kenapa sih dia harus ikut? Mana Azriel?” tanya eyang. Bunda merangkul Yasmine sebelum menjawab pertanyaan ibu mertuanya. Seraya tersenyum dan secara rahasia mengusap punggung Yasmine, memberi kekuatan untuk anak gadisnya melalui tindakannya, bunda mulai bicara. “Azriel lagi ada acara pelatihan dari sekolahnya, Bu. Acaranya tiga bulan, nginep di sana. Jadi nggak bisa ikut. Hari ini saya ajak Yasmine nggak apa-apa ya?”

Eyang berdecak tidak suka. Kejengkelannya begitu terpancar dari matanya yang tak lepas menatap Yasmine dari atas sampai ujung kaki. “Kenapa nggak dia aja sih yang pergi? Biar aja dilatih di sana, nggak usah pulang sekalian!” ucap eyang, kemudian berlalu pergi. Memilih bergabung dengan cucu-cucunya yang masih kecil. Mungkin ingin membangkitkan suasana hatinya yang sempat sirna ketika melihat kehadiran Yasmine.

Yasmine menghela napasnya. Nggak pa-pa, Yasmine. Udah biasaaaaaaa!

“Yayas main gih, Bunda ngobrol yaa di sini. Kalo mau apa-apa bilang Bunda,” ucap bunda. Yasmine mengangguk, kemudian melangkahkan kakinya menuju kolam ikan mikik eyang. Dulu, Yasmine selalu berada di sana bersama eyang kakung jika ada pertemuan seperti ini. Gadis itu membantu eyang memberi pakan ikan-ikan yang selalu berebut penuh semangat ketika makanan mulai disebar. Sesekali cipratan airnya mengenai pakaian yang Yasmine kenakan hari itu, namun ia tak marah. Dirinya, Azriel, dan eyang kakung akan selalu tertawa bersama.

Kepergian seorang eyang kakung rasanya seperti merenggut banyak kebahagiaan dari dunia Yasmine. Dan sekarang, ketidakhadiran Azriel pun seolah menambah penderitaannya. Katakanlah Yasmine hiperbola, namun benar begitu rasanya. Dunia tak pernah berada di sisinya, sejujurnya Yasmine tidak pernah kuat menghadapi semuanya. Alasannya bertahan sejauh ini hanyalah Azriel.

Sesaat Yasmine melamun, gadis itu kembali tersadarkan akan panggilan bunda yang memintanya masuk dan bergabung. Gadis itu sempat tertegun dan menunjuk dirinya sendiri, benarkah keluarga besarnya ingin dirinya bergabung? Meskipun bingung, Yasmine tetap menghampiri bunda tanpa membantah. Beberapa saat kemudian, gadis itu sudah bergabung di dalan lingkaran kecil berisi kumpulan keluarga besarnya.

“Gimana, Yas sekolahnya?” tanya salah satu omnya. Yasmine tersenyum canggung, ini pertama kalinya ia menghadapi mereka tanpa bantuan Azriel.

“Lancar, Om alhamdulilah,” balas Yasmine sopan. Omnya itu hanya mengangguk, setelahnya menyesap kopi hitam yang tersuguh di hadapannya. Buatan sang istri yang diperintahkan langsung oleh eyang. “Kemaren Arya baru aja menang lomba futsal wakilin sekolahnya, kaptennya dia!”

“Oh ya? Betul itu, Arya?” tanya eyang. Nadanya ramah sekali, khas seorang nenek yang bicara pada cucunya. Tuturnya lembut namun penuh penegasan. Secuil iri muncul dalam hati kecil Yasmine, tak pernah sekalipun eyang bicara selembut itu padanya.

Sepupunya, Arya, yang satu tahun lebih tua darinya itu pun mengangguk. Setelahnya eyang menarik Arya ke dalam pelukan hangatnya, mengecup pucuk kepalanya perlahan. Ada tatapan yang tak pernah eyang arahkan pada Yasmine, tatapan kebanggaan.

“Oh iya, Bu. Sampe lupa ngabarin, kemarin Nicho ada acara di sekolahnya. Dia jadi perwakilan cerdas cermat loh, Bu. Lombanya antar kelas tapi kelasnya Nicho juara satu!” ucap kerabatnya yang lain seolah tak mau kalah dalam perbincangan keluarga yang berisi persaingan.

“Aduh, hebatnya cucu eyang!” balas eyang, kali ini membanggakan sepupu Yasmine yang lebih muda darinya. “Pasti itu karena Nicho paling pinter jawabnya ya? Keren!”

Yasmine menatap nanar perkumpulan yang ia sebut keluarga. Dalam hatinya bergejolak, ia bisa saja turut memamerkan prestasinya yang selama ini tenggelam—lebih tepatnya sengaja ditenggelamkan hanya karena ia seorang perempuan dan dianggap tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan seluruh sepupunya yang merupakan seorang lelaki yang dianggap membanggakan.

“Eh, Azriel kemana, Mbak? Nggak ikut?”

Bunda tersenyum sebelum menjawab pertanyaan adik ayah, “Nggak bisa ikut, lagi ikut pelatihan bela negara tiga bulan. Jadi anak militer dulu dia. Kayaknya padat jadwalnya sampe nggak pernah nelepon.”

“Azriel tuh ya, emang paling kece dia! Keren anakmu, Mbak!” balasnya.

Bunda mengangguk mengucap syukur dan rasa terima kasih. Setelahnya bunda memegang tangan Yasmine yang ia letakkan di pahanya. “Yasmine juga keren loh, waktu itu Yayas menang lomba pidato Bahasa Inggris kan ya? Juara 2 kan, Yas?” tanya bunda. Yasmine menelan ludahnya, sesaat kemudian ia mengangguk.

Eyang mendelik tidak suka, “Cuma juara 2. Apa yang mau dibanggakan? Itu kalau Azriel yang ikut pasti bisa juara 1. Harusnya kamu bisa dapatkan hasil yang lebih maksimal. Itu lah, terlalu sering dimanja. Jadi kurang kerja kerasnya, kurang usahanya. Baru juara 2 sudah bangga.”

Yasmine menelan ludahnya kasar. Air matanya hampir menerobos pertahanan. Pada akhirnya, setinggi apapun prestasinya, ia tetap akan menjadi juara terakhir di mata keluarganya sendiri. Yasmine tetap tak kasat mata.

Ini kah yang disebut keluarga? Kalau iya, mengapa semuanya seakan bersaing untuk menjadi yang utama? Ini kah yang disebut keluarga? Kalau iya, mengapa semuanya seolah berebut kejayaan hingga rela menginjak satu sama lain? Ini kah yang disebut keluarga?

Kalau iya, mengapa Yasmine seakan ditempatkan di anak tangga paling bawah agar mereka bisa menginjaknya untuk naik lebih tinggi?

“Sat, bagi dong!” ucap Haikal meminta camilan yang sedang dikuasai Satria. Malam itu, mereka semua sedang beristirahat dan diberikan waktu luang untuk melakukan apapun sesuka hati. Ada yang memilih untuk tidur lebih awal lantaran tubuh yang sudah terlalu lelah menghadapi serangkaian aktivitas yang melibatkan banyak tenaga hari itu, ada yang memilih untuk menonton film melalui ponsel, ada yang menghubungi keluarga, ada pula yang memilih untuk bersantai bersama-sama.

Termasuk Satria dan kedua temannya yang memilih untuk berkumpul dan menghabiskan snack yang mereka beli ramai-ramai di koperasi. Setelah makanannya diambil alih oleh Haikal, Satria kini memilih untuk merebahkan dirinya di lantai, menggunakan paha Elzan sebagai sandaran kepalanya.

“Eh kita kapan pulangnya yak? Gue kangen guling gue anjay,” ucap Elzan. Satria terkekeh, begitu pun dengan Haikal yang tidak habis pikir. “Dari sekian banyak anggota keluarga lo, lo memilih untuk kangen sama guling lo, Jan?” tanya Haikal.

“Iya sumpah, gue tuh kangen banget tidur dengan tenang dan nyaman sambil meluk guling tanpa harus panik nanti dibangunin lagi jam empat pagi,” balas Elzan.

“Wah anjir lu, bikin makin kagak betah aja,” balas Haikal seraya terkekeh.

“Gue kangen minum es teh siang-siang, sih,” Satria menimpali.

“Siapa, Sat?” tanya Elzan.

“Gua.”

“Yang nanya.”

“Bangsat!” umpat Satria disusul gelak tawa dari ketiganya. Tak lama kemudian, dua orang yang lebih tua masuk ke kamar mereka. Dua orang itu adalah Adam dan Azriel. Nampaknya kedua kakak kelasnya itu baru saja mandi, terlihat dari rambut keduanya yang masih basah serta tangan kanan yang menenteng keranjang kecil berisi peralatan mandi.

“Buset, Bang Jiel! Lu mandi jam segini, Bang?” tanya Satria.

“Iya, lengket banget badan gua. Pegel-pegel gitu rasanya kalo nggak mandi. Tu si Adam juga mandi,” balas Azriel santai. Pria itu kemudian turut mendudukkan dirinya di lantai dan bergabung bersama dengan para lelaki yang lebih muda darinya itu. Azriel mengambil tempat di sebelah Haikal, membuat Haikal basa-basi menawarkan camilannya pada Azriel. Beruntung Azriel menolak dengan alasan ia tidak makan pada jam malam guna menjaga bentuk dan berat badannya. Setelahnya Adam menyusulnya bergabung dan merebahkan diri di sebelah Satria.

“Lagi pada ngomongin apaan lu pada?” tanya Adam.

“Ini, Bang. Elzan katanya kangen gulingnya,” balas Haikal. Adam terkekeh, “Kagak pernah bener ini orang dari semenjak masuk sini.”

“Dehhh, jujur deh, Bang. Emang lo kagak kangen rumah lu, Bang? Lo beneran seniat itu ikutan ginian?” tanya Elzan pada Adam. Akan tetapi, yang ditanya tidak menjawab. Ia hanya terkekeh kemudian menggeleng menjawab pertanyaan Elzan.

Setelahnya Satria menimpali, “Yang lagi kangen-kangenan mah Haikal tau.”

“Apaan lu?!” ucap Haikal, tidak terima dirinya tiba-tiba menjadi seseorang yang tertuduh.

“Yeuu, lu chat-an kan sama Wilona selama ini? Ngaku deh!” ujar Elzan. Pria itu kini memasang perangai jahil. “Tau gua, Kaal! Orang selama ini tiap dikasih waktu buka HP gercep banget kayaknya ngambil HP-nya. Terus waktu itu lo chat-an sebelah gue jadi gue nggak sengaja baca hehe,” Elzan kembali berujar.

Haikal berdecak, setelahnya tertawa malu. “Lu ribet lu! Ember bat mulut lu!”

“Haikal mah pulang dari sini jadian kayaknya ya, Kal?” Satria menambahkan. “Eh lu gua depak lu!” balas Haikal. Setelahnya Satria hanya tertawa bersama dengan yang lain.

“Wilona tuh yang temennya Yayas bukan sih?” tanya Azriel tiba-tiba. Haikal yang berada di sebelahnya menoleh cepat, “Bang ya Allah kenapa lu ikutan?”

Azriel terkekeh, “Kagak gue nanya doang, hahaha. Tapi bener kan temennya Yayas?”

“Iya bener, Bang. Nah, kalo Satria ama temennya Wilona!” balas Haikal.

“Anj—apaan lo tiba-tiba gue?” Satria menatap Haikal kaget, kemudian tangannya terjulur untuk mencubit kaki Haikal yang bersila. Setelahnya memberi kode bahwa tidak seharusnya ia membicarakan itu di hadapan Azriel. Sebab meskipun sudah yakin dengan perasaannya, Satria masih perlu persiapan untuk meminta izin Azriel untuk menyatakan perasaannya pada Yasmine yang notabene-nya adalah adik pemuda itu.

Azriel terkekeh, “Selaw, Sat. Udah paham gua konsep lo ke adek gue.”

“Uwaduh kayaknya dapet restu tuh, Sat!” ucap Adam. Satria hanya tertawa malu, “Adehh, jangan suka gitu, Bang! Ini nanti kalo lo semua pergi gue digeprek Bang Jiel gimana?” canda Satria.

“Tapi kalo diitung-itung, kita udah berapa lama sih di sini? Kapan pulangnya ya?” Haikal mulai bertanya-tanya. Menimbulkan pertanyaan yang sama di benak ketiga pemuda yang lain yang juga bersamanya.

Azriel menimpali, “Udah mau dua bulan sih. Nggak berasa ya? Gue juga dari yang selalu excited mau pulang sampe yang udah nggak nungguin pulang. Kayak, jalanin aja udah.” Lelaki yang paling tua di kerumunan itu terkekeh ketika mengakhiri ucapannya.

“Iya sih. Lagian kalo ditunggu-tunggu malah berasa makin lama,” balas Adam.

Satria refleks menoleh pada Adam, begitukah? Itu kah yang membuatnya merasa hari-harinya di sini terasa lebih panjang dibanding ketika ia bersekolah dan dibebani tugas-tugas akademik yang terkadang merepotkan? Karena ia tak menikmati waktu sebagaimana ia menikmatinya ketika di sekolah?

“Woi, malah bengong!” tepukan keras Azriel pada bahu Satria membuat Satria tersentak. “Mikirin apaan?”

Elzan tertawa, “Mikirin adek lu lah, Bang. Kangen itu dia.”

Satria hanya menghela napas pasrah. Nampaknya ia tak lagi dapat menyembunyikan perasaannya dari siapapun. Perlahan, rahasianya pun akan tersebar. Perlahan dan entah kapan, pasti ia pun harus memberanikan diri untuk meminta izin Azriel untuk menyatakan perasaannya pada Yasmine, bukan? Jadi, biarlah. Biarlah mulut-mulut Haikal dan Elzan yang selalu dengan ringan membocorkan rahasianya itu berkoar. Satria hanya bisa tersenyum pasrah mendapati dirinya menjadi bulan-bulanan ejekan kedua temannya. Dalam hatinya, ia hanya berharap agar dirinya tidak menjadi sasaran gertakan Azriel. Itu saja.

Ucapan Elzan berhasil memecah tawa Azriel di sana. “Gue juga kangen, Sat. Tenang aja, jalanin aja. Nggak usah ditungguin. Bentar lagi kita ketemu, kok. Tadi Kakaknya manggil gue, ngasih tau kalo pelatihan kita dipercepat jadi cuma dua setengah bulan. Nggak sampe tiga bulan kayak rencana karena ternyata bentrok sama program selanjutnya yang mau mereka jalanin.”

“Serius lu, Bang?” tanya Satria. Pria itu bahkan bangun dari posisinya sangking senang dan bersemangatnya. Seruan tak menyangka milik Elzan dan Haikal pun menyusul. Sementara Adam hanya mengulas senyum tipis melihat kelakuan tiga adik kelasnya, dirinya santai karena sudah mengetahui informasi yang baru saja Azriel beberkan.

Azriel, dengan senyum manisnya yang menimbulkan eye smile di wajahnya kemudian menjawab pertanyaan Satria. “Beneran. Bentar lagi kita pulang.”

Satria dan kedua temannya berseru senang, ketiganya kini menghela napas lega. Terlebih Satria. Semenjak membaca pesan yang dikirimkan Yasmine, pikirannya tidak menentu. Satria ingin hadir dan menemani Yasmine, mendengarkan keluh kesah perempuan itu secara langsung. Sejujurnya, melihat wajah Azriel di hadapannya saat ini pun menimbulkan kebimbangan yang cukup besar serta perasaan tak nyaman yang nenggerayangi hatinya. Ingin sekali Satria memberitahukan pada Azriel bahwa Yasmine, menurut keyakinannya, tidak sedang baik-baik saja. Namun, perempuan itu meminta untuk merahasiakannya dari Azriel. Membeberkannya sama saja ia tidak menghormati keputusan Yasmine.

Jadi, yang Satria lakukan hanyalah mengucap permohonan dalam hati. Semoga gadis pujaannya masih kuat bertahan, dan dalam kondisi baik-baik saja. Setidaknya tidak memiliki luka apapun di tubuhnya.

Tunggu ya, Yas. Jangan pergi. Sebentar lagi gue sama Bang Jiel pulang. Jangan tinggalin gue! Jangan tinggalin kita! Jangan pergi dulu..

Setelah menghabiskan sekitar tiga jam kerja kelompok untuk tugas Prakarya, tugas itu akhirnya selesai. Sisi baiknya adalah Yasmine tidak perlu lagi membuat slide power point untuk presentasi karena sudah dikerjakan bersama di rumah Wilona tadi. Sisi buruknya, akan tiba sebentar lagi.

Yasmine memasuki rumah dengan tenang, berusaha untuk mengusir gugupnya. Ia tahu, saat ayahnya menemuinya nanti, pasti dirinya akan segera menerima hujatan-hujatan yang selalu familiar di telinganya.

“Dari mana kamu?” tanya ayah, yang rupanya sudah bersiap di meja makan. Ayah melirik jam dinding di ruang keluarga sebelum lanjut bicara. “Jam tujuh malem baru pulang, kemana aja?!”

Yasmine menunduk seraya menelan ludahnya sendiri. Terbata, gadis itu menjawab perkataan ayah. “Ya-Yasmine kan udah izin Ayah, Yasmine ada kerja kelompok hari ini.”

“Tadi saya bilang apa? Pulang sekolah langsung pulang. Kamu nggak dengerin orang tua?! Mulai berani ngelawan kamu?!”

“Ayah, nggak gitu.. kalo Yasmine nggak ikut kerja kelompok nanti Yasmine nggak dapet nilai,” balas Yasmine. Gadis itu sudah ingin menangis saat itu juga. Namun sebiss mungkin ia menahan air matanya.

“Alesan! Kamu pasti cuma kelayapan nggak jelas kan?!”

Yasmine menggeleng cepat, “Enggak, Yah. Yasmine beneran kerja kelompok, kok.”

Sekon berikutnya, Yasmine buru-buru mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto sketsa motif batik yang ia buat dengan Wilona dan Yuna. Sebagai bukti bahwa ia tidak berbohong. “Ini, beneran Yasmine tadi kerja kelompok, Yah. Yasmine nggak mungkin bohong sama Ayah!”

“Halah, gambar itu bisa diambil dari internet biar kebohongan kamu ini saya percaya. Jangan mentang-mentang selama ini ada Azriel kamu jadi semena-mena ya sama saya! Sekarang nggak ada Azriel, nggak ada yang belain kamu,” ucap ayah penuh amarah. “Kamu tuh dari dulu nggak pernah berubah! Benar-benar anak nggak tau diuntung, masih bagus saya nggak buang kamu waktu kecil. MASIH BAGUS SAYA MAU RAWAT KAMU! Tapi begini kelakuan kamu sama orang tua! Nggak tau diri!”

“Mas! Ada apa sih? Kenapa ribut-ribut begini?” bunda yang baru saja turun karena mendengar keributan itu akhirnya ikut nimbrung. Wanita itu kemudian segera memeluk Yasmine yang nampak gemetar dan wajahnya berlinang air mata yang sudah tak dapat lagi ia bendung.

“Tanya tuh anak kesayangan kamu. Saya udah bilang dari dulu jangan dimanja! Begini jadinya. Seenaknya, nggak tau diri, nggak mau denger apa kata orang tua!” balas ayah.

Sekilas, Yasmine menatap ayah yang balas menatapnya nyalang. Tidak begitu jelas lantaran matanya yang berkilat akibat air mata, namun tatapan ayah tetap menusuk. Bersamaan dengan ucapan-ucapannya yang selalu tertuju padanya selama menjadi anak ayah. Atau pantaskah ia menyebut dirinya sebagai anak ayah? Sebab selama ini yang menganggapnya ada hanyalah bunda dan kakaknya. Ayah sama sekali tidak pernah menyayanginya. Sejak kecil, yang Yasmine tahu adalah sosok ayah yang selalu marah ketika melihatnya. Satu-satunya lelaki yang memberinya tatapan kasih sayang adalah Azriel.

Setelahnya ayah kembali bicara padanya. “Kamu pulang malem-malem ngapain? Mau jadi perempuan nggak bener kamu?! Iya?! Nggak usah pulang aja sekalian! Saya malah seneng kalo nggak ada kamu di sini. Tau kamu?”

Perkataan ayah rasanya begitu ringan diucapkan oleh pemiliknya. Begitu mudah masuk ke telinganya, begitu mudah menusuk hati kecilnya. Yasmine menangis semakin keras dalam pelukan bunda yang kini beradu mulut dengan ayah. Tidak terima suaminya berkata begitu pada anaknya sendiri.

“Mas, gimanapun juga Yasmine tetep anak kamu. Darah daging kamu! Nggak seharusnya kamu ngomong gitu ke Yasmine!” ucap bunda menggebu.

Ayah tidak peduli. Ia tetap dengan angkuh berdiri di hadapan bunda yang dengan erat memeluk Yasmine yang menangis tersedu-sedu. “Eh, denger ya! Saya nggak pernah anggep kamu anak saya. Anak saya cuma Azriel, kalopun ada dua, satu lagi bukan kamu! Seharusnya bukan kamu!”

Setelahnya ayah berlalu keluar. Entah ke mana, tetapi bagus lah. Yasmine jadi bisa dengan leluasa menenangkan dirinya. Seiring berbunyinya suara pintu ditutup dengan keras dan penuh amarah, Yasmine menghela napasnya. Gadis itu terduduk di lantai, dan di dalam pelukan bunda, ia menangis lebih keras. Pada saat-saat seperti ini lah ia mulai merindukan Azriel. Jika kakaknya ada di sana, pasti Yasmine akan mendapat perlindungan penuh. Jika ada Azriel, Yasmine pasti akan merasa aman. Dari siapapun, termasuk orang yang selama ini dipanggilnya ayah, namun tak pernah berperan sebagai seorang ayah.

Dengan matanya yang berkaca-kaca, Yasmine melihat sekelilingnya. Sebuah ruangan yang familiar di matanya, sebuah bangunan yang ia tinggali sejak dulu dan disebutnya 'rumah'. Yasmine memang pulang hari itu, namun ia tahu persis. Ini bukan rumah yang ia tuju.

Sesuai dugaannya, Haris tidak bisa tidur. Pria itu hanya berguling-guling di kasurnya, berkali-kali merubah posisinya. Berharap mendapatkan posisi tidur yang nyaman dan bisa segera terlelap. Bahkan ketika Haris menelungkupkan wajahnya di bawah bantal, pemuda itu tetap tidak bisa terlelap. Rasanya ia tak ingin hari begitu cepat berakhir, namun juga ingin hari esok cepat tiba. Haris menjadi terlalu bersemangat, dadanya membuncah merasakan kebahagiaan yang belum pernah ia cicipi sebelumnya.

“Waaaa gue meluk Gia beneran nggak sih? Astaghfirullah..”

Haris bermonolog. “Demi Allah saltingnya sampe sekarang kenapa sih?! Gimana dongg ampun, dah!”

Sesaat kemudian Haris terlonjak lantaran seseorang membuka pintu kamarnya. Haris otomatis terduduk dan dengan tampang terkejut ia melihat ke arah pintu. Rupanya itu mama yang baru saja pulang. Ia mengetahuinya dari pakaian sang mama yang belum diganti. Masih rapi seperti saat ia jumpai pagi tadi.

“Loh? Belum tidur, Kak? Atau kebangun?” tanya mama. Haris menghela napasnya sebelum menjawab. “Belum tidur.”

“Kenapa? Ada yang ganggu pikiran Kakak?”

Mau tau mau, Haris mengiyakan. Sebab ia pun tak tahu harus mengganti alasannya dengan apa jika tidak jujur. Toh, siapa tahu mamanya bisa membantu.

Mind to share?” tanya mama. Haris menggeleng, menandakan bahwa ia sama sekali tidak keberatan. Sang mama akhirnya tersenyum dan menutup pintu. Wanita itu akhirnya mengambil tempat di sebelah Haris dan bersandar di tempat tidur sang anak. Bersiap untuk mendengarkan keluh kesah anak sulungnya itu.

“Kenapa, Kak?”

“Haris nggak bisa tidur,” jawabnya merengek. Membuat mamanya itu terkekeh, “Iyaa, kenapa sayang?”

“Deg-degan,” ucap Haris. Kening mamanya mengkerut, “Emangnya besok ada apa kok deg-degan?”

“Nggak ada apa-apa. Yang ada apa-apa bukan besok tapi tadi..”

“Tadi ada apa?” tanya mama. Haris tak langsung menjawab, ia menunduk. Kemudian mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Ragu bagaimana harus mengungkapkannya.

Sesaat kemudian Haris menggeleng, “Nggak sih. Nggak ada apa-apa.”

“Lah gimana? Terus yang bikin nggak bisa tidur apa?” tanya mama. Haris tidak menjawab. Ia membenarkan posisinya, memilih untuk menyandarkan kepalanya di atas paha mamanya yang masih terbalut celana bahan berwarna hitam. Kemudian memejamkan matanya seiring tangan mamanya mengusap rambut legamnya yang mulai gondrong.

“Adek kelas Haris ada yang cantik,” ucap Haris. Kemudian matanya kembali terbuka karena berhentinya usapan mama. Sepertinya ucapannya kali ini cukup membuat mamanya itu terkejut. Haris mendongak, menatap wajah ayu mamanya yang meski lelah, masih setia mendengarkan ceritanya.

“Jadi itu yang bikin nggak bisa tidur? Iya?” tanya mama. Saat itu juga Haris tak dapat lagi menahan senyumnya. Pemuda itu bahkan terkekeh, namun memilih untuk kembali memejamkan matanya. Malu. “Aaah, anak Mama udah gede. Nggak berasa ya?”

“Adek kelas Haris yang itu.. namanya Anggia, Ma,” ucap Haris lagi. Memilih memulai percakapan dengan topik baru tanpa membalas perkataan mamanya barusan.

“Anggia? Kayak kakak kelasnya Han—”

“Emang iya.”

“Hah? Gimana, Kak?”

“Adek kelasnya Haris itu Kakak kelasnya Hanum yang itu. Anggia yang sering kita omongin. Nggak tau gimana caranya, tiba-tiba dia satu sekolah sama Haris. Bahkan waktu MOS, kelasnya dia Haris yang megang. Terus dia kena masalah, Haris yang nanganin. Jadi kenal,” jelas Haris singkat. Pemuda itu bercerita dengan matanya yang sengaja ia pejamkan.

“Wah.. dunia tuh sempit banget ya?” ucap mama. Sementara Haris hanya terkekeh.

“Terus, Kak?”

“Awalnya Haris sebel sama dia, karena ngerepotin. Tapi setelah sering ngobrol ternyata anaknya baik. Itu sebelum Haris tau kalo dia deket sama Hanum. Nah, waktu Haris jemput Hanum, Haris ketemu dia. Dia lagi cap tiga jari,” ucap Haris. “Terus.. Haris pikir, Haris mau baik aja sama dia karena dia selama ini juga udah baik sama Hanum. Tapi malah nggak sesuai tujuan deh, Ma.”

Mama tersenyum meski Haris tidak melihatnya, “Kakak suka sama dia?”

Can I?”

Totally, Kak. Kenapa enggak?”

“Ini sih sebenernya udah mulai ngedeketin. Tapi, takut,” balas Haris. “Apa yang bikin takut?”

“Mama,” balas Haris. Dengan begitu, mama menautkan alisnya tidak terima. “Emang Mama kenapa? Galak?”

Haris terkekeh, kemudian kembali membuka matanya. Namun kali ini, ia menatap langit-langit kamarnya sendiri. Membawa pikirannya menerawang bersamanya. “Bukan Mamanya sih. Cuma Haris takut aja akan berakhir kayak Mama sama Papa. Sekeras apapun usaha Haris buat perjuangin semuanya, tetep ujungnya pisah pisah juga.”

Kali ini keduanya terdiam. Terlebih mamanya yang kini menatap sendu ke arah anak sulungnya yang ternyata, menyimpan banyak gelisah yang tak terucap. Dalam hatinya mama tahu, Haris, bagaimanapun juga, sama seperti papanya. Yang tidak mudah jatuh hati, namun sekalinya pemuda itu menemukan yang dapat memikat hatinya, it lasts forever.

Sebagai seorang ibu, melihat dari tatapan dan biar mata Haris, mama mengerti anak sulungnya jatuh cinta. Layaknya bunga di musim semi, cintanya baru saja bermekaran. Bahkan hingga empunya tak bisa tidur, entah apa yang terjadi di sekolah hari itu. Mama juga tahu, Haris bukan tipe orang yang bertele-tele dengan perasaannya. Jika ia tidak suka terhadap sesuatu, Haris akan menyatakannya secara gamblang tanpa memikirkan perasaan lawan bicaranya. Dan jika ia menyukai sesuatu—dalam kasus ini, seseorang—maka Haris tak akan menyia-nyiakan waktu untuk membuat pujaan hatinya menjadi miliknya.

Tetapi rupanya hatinya masih bimbang. Masalah yang sempat terjadi di keluarganya rupanya membuat Haris serba takut. Takut untuk memulai gerakan lebih jauh, takut untuk melanjutkan perasaannya, takut hubungannya dengan Gia jika berhasil nanti justru akan berakhir seperti kedua orang tuanya. Juga, takut dirinya tidak pantas untuk Gia yang menurutnya sangat sangat baik.

“Sebenernya Haris bisa aja terang-terangan deketin Gia, tapi rasanya masih banyak yang harus Haris pikirin. Masih banyak yang bikin Haris takut,” ucapnya.

Mama menghela napas, setelahnya tangan kanannya menangkup pipi tirus milik Haris. “Kak,” panggilnya.

“Mama minta maaf,” lanjut mama. Kini giliran Haris yang menautkan alisnya. Pemuda itu lantas bangkit dan duduk menghadap sang mama yang kini menampakkan raut sedih di wajahnya.

“Kenapa, Ma? Mama nggak salah apa-apa, kok!”

Mama menggeleng, “Maafin Mama karena pisahnya Papa sama Mama jadi bikin kamu takut untuk ngerasain perasaan yang kamu rasain sekarang.”

Haris terdiam, ia kini menunduk seraya menggenggam sebelah tangan sang ibu. Memilih mendengarkan ucapan wanita itu lebih lanjut. “Maafin Mama karena pisahnya Mama sama Papa bikin kamu jadi takut untuk ngejalin hubungan sama orang lain,” mama kembali bicara.

“Tapi, Kak. Just because kamu anak Mama sama Papa, bukan berarti cerita kamu juga akan berakhir sama kayak kami, Kak. Mama sama Papa pisah, karena.. ada kesalahan di antara kami yang udah nggak bisa diperbaiki,” ujar mama. “Papa sama Mama berhenti saling memperjuangkan untuk satu sama lain, dan itu salah. Nah kamu, Kak. Kalo kamu suka, perjuangin sampe akhir. Kalo ternyata nanti dia bukan jodoh kamu, seenggaknya kamu nggak nyesel. Karena kamu udah berjuang.”

“Pisah itu pasti. Segala sesuatu yang ada di dunia ini sifatnya emang cuma sementara, Kak. Tapi yang harus kamu pikirin bukan perpisahannya yang masih entah kapan terjadinya. You should live in the moment, and be grateful for everything.

Haris termenung. Namun, sudut bibirnya kembali berkedut menahan senyuman. Mencurahkan segalanya kepada mamanya memang selalu menjadi pilihan yang paling tepat. Gelisahnya mereda, Haris kembali lega.

Pemuda itu kembali menatap mamanya yang kini menatapnya seraya tersenyum. Wanita di hadapannya mengangguk, “Go for her! Now it's your turn to be happy, Kak Haris.”

Sebuah senyuman lebar yang mewakili perasaan leganya muncul di wajah Haris. Disusul tawa kecil dari sang mama. Sekon berikutnya mamanya itu melirik jam dinging yang menyatakan waktu sudah semakin larut. Setelahnya wanita itu mengacak-acak rambut Haris dan bangkit berdiri.

“Dah, tidur ya, Kak! Besok kesiangan, loh!”

“Iyaaa,” balas Haris. Kemudian membaringkan dirinya dan mengambil posisi nyaman untuk tidur. Kemudian tertidur lelap ketika mama mematikan lampu kamarnya dan memberikan kecupan ringan penuh cinta di keningnya.

Sesuai dugaannya, Haris tidak bisa tidur. Pria itu hanya berguling-guling di kasurnya, berkali-kali merubah posisinya. Berharap mendapatkan posisi tidur yang nyaman dan bisa segera terlelap. Bahkan ketika Haris menelungkupkan wajahnya di bawah bantal, pemuda itu tetap tidak bisa terlelap. Rasanya ia tak ingin hari begitu cepat berakhir, namun juga ingin hari esok cepat tiba. Haris menjadi terlalu bersemangat, dadanya membuncah merasakan kebahagiaan yang belum pernah ia cicipi sebelumnya.

“Waaaa gue meluk Gia beneran nggak sih? Astaghfirullah..”

Haris bermonolog. “Demi Allah saltingnya sampe sekarang kenapa sih?! Gimana dongg ampun, dah!”

Sesaat kemudian Haris terlonjak lantaran seseorang membuka pintu kamarnya. Haris otomatis terduduk dan dengan tampang terkejut ia melihat ke arah pintu. Rupanya itu mama yang baru saja pulang. Ia mengetahuinya dari pakaian sang mama yang belum diganti. Masih rapi seperti saat ia jumpai pagi tadi.

“Loh? Belum tidur, Kak? Atau kebangun?” tanya mama. Haris menghela napasnya sebelum menjawab. “Belum tidur.”

“Kenapa? Ada yang ganggu pikiran Kakak?”

Mau tau mau, Haris mengiyakan. Sebab ia pun tak tahu harus mengganti alasannya dengan apa jika tidak jujur. Toh, siapa tahu mamanya bisa membantu.

Mind to share?” tanya mama. Haris menggeleng, menandakan bahwa ia sama sekali tidak keberatan. Sang mama akhirnya tersenyum dan menutup pintu. Wanita itu akhirnya mengambil tempat di sebelah Haris dan bersandar di tempat tidur sang anak. Bersiap untuk mendengarkan keluh kesah anak sulungnya itu.

“Kenapa, Kak?”

“Haris nggak bisa tidur,” jawabnya merengek. Membuat mamanya itu terkekeh, “Iyaa, kenapa sayang?”

“Deg-degan,” ucap Haris. Kening mamanya mengkerut, “Emangnya besok ada apa kok deg-degan?”

“Nggak ada apa-apa. Yang ada apa-apa bukan besok tapi tadi..”

“Tadi ada apa?” tanya mama. Haris tak langsung menjawab, ia menunduk. Kemudian mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Ragu bagaimana harus mengungkapkannya.

Sesaat kemudian Haris menggeleng, “Nggak sih. Nggak ada apa-apa.”

“Lah gimana? Terus yang bikin nggak bisa tidur apa?” tanya mama. Haris tidak menjawab. Ia membenarkan posisinya, memilih untuk menyandarkan kepalanya di atas paha mamanya yang masih terbalut celana bahan berwarna hitam. Kemudian memejamkan matanya seiring tangan mamanya mengusap rambut legamnya yang mulai gondrong.

“Adek kelas Haris ada yang cantik,” ucap Haris. Kemudian matanya kembali terbuka karena berhentinya usapan mama. Sepertinya ucapannya kali ini cukup membuat mamanya itu terkejut. Haris mendongak, menatap wajah ayu mamanya yang meski lelah, masih setia mendengarkan ceritanya.

“Jadi itu yang bikin nggak bisa tidur? Iya?” tanya mama. Saat itu juga Haris tak dapat lagi menahan senyumnya. Pemuda itu bahkan terkekeh, namun memilih untuk kembali memejamkan matanya. Malu. “Aaah, anak Mama udah gede. Nggak berasa ya?”

“Adek kelas Haris yang itu.. namanya Anggia, Ma,” ucap Haris lagi. Memilih memulai percakapan dengan topik baru tanpa membalas perkataan mamanya barusan.

“Anggia? Kayak kakak kelasnya Han—”

“Emang iya.”

“Hah? Gimana, Kak?”

“Adek kelasnya Haris itu Kakak kelasnya Hanum yang itu. Anggia yang sering kita omongin. Nggak tau gimana caranya, tiba-tiba dia satu sekolah sama Haris. Bahkan waktu MOS, kelasnya dia Haris yang megang. Terus dia kena masalah, Haris yang nanganin. Jadi kenal,” jelas Haris singkat. Pemuda itu bercerita dengan matanya yang sengaja ia pejamkan.

“Wah.. dunia tuh sempit banget ya?” ucap mama. Sementara Haris hanya terkekeh.

“Terus, Kak?”

“Awalnya Haris sebel sama dia, karena ngerepotin. Tapi setelah sering ngobrol ternyata anaknya baik. Itu sebelum Haris tau kalo dia deket sama Hanum. Nah, waktu Haris jemput Hanum, Haris ketemu dia. Dia lagi cap tiga jari,” ucap Haris. “Terus.. Haris pikir, Haris mau baik aja sama dia karena dia selama ini juga udah baik sama Hanum. Tapi malah nggak sesuai tujuan deh, Ma.”

Mama tersenyum meski Haris tidak melihatnya, “Kakak suka sama dia?”

Can I?”

Totally, Kak. Kenapa enggak?”

“Ini sih sebenernya udah mulai ngedeketin. Tapi, takut,” balas Haris. “Apa yang bikin takut?”

“Mama,” balas Haris. Dengan begitu, mama menautkan alisnya tidak terima. “Emang Mama kenapa? Galak?”

Haris terkekeh, kemudian kembali membuka matanya. Namun kali ini, ia menatap langit-langit kamarnya sendiri. Membawa pikirannya menerawang bersamanya. “Bukan Mamanya sih. Cuma Haris takut aja akan berakhir kayak Mama sama Papa. Sekeras apapun usaha Haris buat perjuangin semuanya, tetep ujungnya pisah pisah juga.”

Kali ini keduanya terdiam. Terlebih mamanya yang kini menatap sendu ke arah anak sulungnya yang ternyata, menyimpan banyak gelisah yang tak terucap. Dalam hatinya mama tahu, Haris, bagaimanapun juga, sama seperti papanya. Yang tidak mudah jatuh hati, namun sekalinya pemuda itu menemukan yang dapat memikat hatinya, it lasts forever.

Sebagai seorang ibu, melihat dari tatapan dan biar mata Haris, mama mengerti anak sulungnya jatuh cinta. Layaknya bunga di musim semi, cintanya baru saja bermekaran. Bahkan hingga empunya tak bisa tidur, entah apa yang terjadi di sekolah hari itu. Mama juga tahu, Haris bukan tipe orang yang bertele-tele dengan perasaannya. Jika ia tidak suka terhadap sesuatu, Haris akan menyatakannya secara gamblang tanpa memikirkan perasaan lawan bicaranya. Dan jika ia menyukai sesuatu—dalam kasus ini, seseorang—maka Haris tak akan menyia-nyiakan waktu untuk membuat pujaan hatinya menjadi miliknya.

Tetapi rupanya hatinya masih bimbang. Masalah yang sempat terjadi di keluarganya rupanya membuat Haris serba takut. Takut untuk memulai gerakan lebih jauh, takut untuk melanjutkan perasaannya, takut hubungannya dengan Gia jika berhasil nanti justru akan berakhir seperti kedua orang tuanya. Juga, takut dirinya tidak pantas untuk Gia yang menurutnya sangat sangat baik.

“Sebenernya Haris bisa aja terang-terangan deketin Gia, tapi rasanya masih banyak yang harus Haris pikirin. Masih banyak yang bikin Haris takut,” ucapnya.

Mama menghela napas, setelahnya tangan kanannya menangkup pipi tirus milik Haris. “Kak,” panggilnya.

“Mama minta maaf,” lanjut mama. Kini giliran Haris yang menautkan alisnya. Pemuda itu lantas bangkit dan duduk menghadap sang mama yang kini menampakkan raut sedih di wajahnya.

“Kenapa, Ma? Mama nggak salah apa-apa, kok!”

Mama menggeleng, “Maafin Mama karena pisahnya Papa sama Mama jadi bikin kamu takut untuk ngerasain perasaan yang kamu rasain sekarang.”

Haris terdiam, ia kini menunduk seraya menggenggam sebelah tangan sang ibu. Memilih mendengarkan ucapan wanita itu lebih lanjut. “Maafin Mama karena pisahnya Mama sama Papa bikin kamu jadi takut untuk ngejalin hubungan sama orang lain,” mama kembali bicara.

“Tapi, Kak. Just because kamu anak Mama sama Papa, bukan berarti cerita kamu juga akan berakhir sama kayak kami, Kak. Mama sama Papa pisah, karena.. ada kesalahan di antara kami yang udah nggak bisa diperbaiki,” ujar mama. “Papa sama Mama berhenti saling memperjuangkan untuk satu sama lain, dan itu salah. Nah kamu, Kak. Kalo kamu suka, perjuangin sampe akhir. Kalo ternyata nanti dia bukan jodoh kamu, seenggaknya kamu nggak nyesel. Karena kamu udah berjuang.”

“Pisah itu pasti. Segala sesuatu yang ada di dunia ini sifatnya emang cuma sementara, Kak. Tapi yang harus kamu pikirin bukan perpisahannya yang masih entah kapan terjadinya. You should live in the moment, and be grateful for everything.

Haris termenung. Namun, sudut bibirnya kembali berkedut menahan senyuman. Mencurahkan segalanya kepada mamanya memang selalu menjadi pilihan yang paling tepat. Gelisahnya mereda, Haris kembali lega.

Pemuda itu kembali menatap mamanya yang kini menatapnya seraya tersenyum. Wanita di hadapannya mengangguk, “Go for her! Now it's your turn to be happy, Kak Haris.”

Sebuah senyuman lebar yang mewakili perasaan leganya muncul di wajah Haris. Disusul tawa kecil dari sang mama. Sekon berikutnya mamanya itu melirik jam dinging yang menyatakan waktu sudah semakin larut. Setelahnya wanita itu mengacak-acak rambut Haris dan bangkit berdiri.

“Dah, tidur ya, Kak! Besok kesiangan, loh!”

“Iyaaa,” balas Haris. Kemudian membaringkan dirinya dan mengambil posisi nyaman untuk tidur. Kemudian tertidur lelap ketika sang ibu mematikan lampu kamarnya dan kecupan ringan di kening dari mama.

Gia melangkahkan kakinya menuju pinggir lapangan dan memilih berdiri di sana seraya melipat kedua tangannya di depan dada. Gia menonton pertandingan basket laki-laki yang menampilkan Haris dan Ojan yang dengan cekatan saling mengoper bola guna memasukannya ke dalam ring lawan. Sudut bibir Gia berkedut menahan senyuman, Haris dalam mode pertandingan memang tak pernah gagal dalam hal mempesona. Tubuhnya yang jangkung membuatnya dengan mudah membantunya mencetak gol.

Satu komentar, keren. Di mata Gia, Haris selalu melakukannya dengan keren. Seakan tanpa usaha, pemuda itu melempar bola dengan tepat sasaran memasuki ring basket yang cukup tinggi. “Naaaaiiissss!” seru Ojan seraya mengacungi jempol pada Haris. Keduanya kemudian bertepuk tangan, senyuman bangga tercetak di wajah mereka.

Permainan dilanjutkan dengan tim lawan yang mendapat kesempatan melempar dari pinggir lapangan. Lagi-lagi dengan cekatan Ojan memblokirnya dan men-dribble bola menerobos lawan dengan gayanya yang tak kalah keren dari sahabatnya itu.

Tetapi dunia hanya berpihak sementara pada Ojan, kesempatannya melakukan hal kharismatik seakan hanya berlaku untuk sekejap mata. Belum sampai satu menit Ojan menguasai lapangan, pria itu melakukan kecerobohan.

“Risss!” jerit Ojan, bermaksud mengoper bola ke arah Haris. Namun entah dosanya yang mana yang membuatnya kembali sial hari itu, Ojan tersandung tali sepatunya sendiri. Membuat bola basket yang sebelumnya berhasil ia kuasai menggelinding ke sembarang arah.

Haris yang tadinya siap menerima bola Ojan pun malah berlutut di lapangan. Tawanya meledak bersamaan dengan teman-temannya yang lain beserta mereka yang menonton. Termasuk Gia.

Haris kemudian bangkit dan menghampiri Ojan, masih dengan tawanya yang terbahak-bahak. “Lo kenapeeeee?”

“Kesandung anjrit sakit banget yak. Nyusruk gua,” balas Ojan. “Besot nggak, Ris, muka gua?”

“Waduuh makin jelek dah!” balas Haris seraya tertawa. “Anying!”

“Sakit nggak, Jan?” tanya Vio yang turut bermain kala itu. Sang ketua basket yang bermain dalam tim yang sama dengan Ojan itu pun turut mengecek keadaan anggotanya yang mengalami 'kecelakaan'.

“Sakit sih enggak begitu, Kak. Malunya itu lho, sampe udel!” balas Ojan, kembali mengundang gelak tawa Vio dan Haris. “Bahasa lu jelek banget udel udel!” balas Haris.

Vio hanya tertawa menanggapi keduanya. “Ayo bangun lagi, main. Iket tali sepatu lu yang bener,” ucap Vio sebelum berlalu lebih dulu mengejar bola yang out.

Gia masih memperhatikan dari pinggir lapangan, ia melihat Haris berlutut dan membantu Ojan mengikatkan sebelah tali sepatunya agar lebih cepat selesai. Haris terkekeh di sana, nampaknya ia menjahili Ojan dengan mengikat tali sepatunya terlalu kencang. Membuat Ojan menoyor kepalanya pelan dengan wajah merajuk. “Kenceng banget anjrit kaki gue nggak bisa napas, ntar!”

De javu, sudut bibir Gia berkedut. Gadis itu mati-matian menahan senyum ketika memorinya tentang Haris yang membantunya mengikatkan tali sepatu hari itu kembali terputar di kepala. Pun, suara Haris mendadak terngiang di telinganya.

“Iket dulu tali sepatunya kalo mau main, Anggia!”

Gila. Gia merasa dirinya gila karena senyum-senyum sendiri tanpa bisa mengendalikan diri untuk menghentikannya. Gadis itu pun segera menggelengkan kepalanya. Berusaha kembali pada fokusnya dan juga realita.

Kali ini pandangannya tertuju pada Vio yang membawa bola. Dengan mudah pemuda itu mendominasi lapangan, tidak sedikitpun memberi kesempatan lawan untuk menyentuh bola basket yang dikuasainya. Dan dengan sekali tembakan, Vio kembali mencetak skor. Tiga poin untuk kali ini, membuat anggota timnya termasuk Haris dan Ojan turut selebrasi meskipun tidak berkontribusi apa-apa.

Pluit kembali dibunyikan, lawan main kembali melempar bola dari bawah ring basket. Kali ini berhasil lolos dari blokiran tim Haris. Namun hal itu tak berlangsung lama. Ketika tim lawan sampai di tengah lapangan, rupanya Ojan dengan sigap mencegat dan merebut kembali bola. Setelahnya ia melempar bola basket pada Haris yang berada di dekat pinggir lapangan, dekat dengan ring basket tempat mereka memasukan bola guna mencetak skor.

Namun sayangnya, lemparan Ojan terlalu kuat hingga meleset dari tangan Haris. Pemuda itu gagal menangkapnya. Sesaat, Haris berniat mengabaikan bola yang terlepas dari tangannya itu. Ia paham bola itu akan segera out dan rasanya percuma jika diperjuangkan. Tetapi, melihat seseorang yang berdiri di pinggir lapangan, Haris mengurungkan niatnya.

Secepat kilat, Haris berlari mengejar bola dan menepisnya dengan kuat hingga membuat Gia dan orang-orang di sekelilingnya terkejut akan kencangnya tepisan Haris. Karena kalau tidak, bola itu akan mengenai wajah Gia dengan cukup keras. Gadis itu bisa pingsan saat itu juga.

Haris hanya berniat menepis bola, namun akibat larinya yang kencang dan terburu-buru, pemuda itu kehilangan keseimbangan. Mau tak mau, Haris menubruk tubuh Gia. Membuat gadis itu terhuyung hingga mundur beberapa langkah. Gia terkejut, terlebih ketika menyadari Haris... Memeluknya.

Gia masih tertegun, badannya terasa kaku. Ia tak tahu harus bagaimana mencerna semua kejadian yang terjadi secepat kilat ini. Yang ia tahu, di hadapannya kini adalah dada bidang Haris yang tertutup kaus penuh keringat.

Haris lebih dulu sadar, pria itu dengan segera menjauhkan tubuhnya dari Gia. Kedua tangannya beralih pada pundak Gia yang bisa ia rasakan menegang, “Gi? Nggak pa-pa?”

Gia masih tak menjawab, kemudian Haris memanggilnya sekali lagi. “Anggia?”

“Hah?” balasnya terkejut. Gia mengerjapkan matanya, kini terlihat jelas di hadapannya wajah Haris yang cukup dekat dengan penglihatannya. Nampak jelas raut wajah khawatir milik Haris, pula struktur wajahnya yang mendekati sempurna. Entah bagaimana caranya, Haris tetap terlihat menawan meski wajahnya memerah dan keningnya dialiri keringat-keringat jagung.

“Kamu nggak pa-pa?”

“I-iya, nggak pa-pa. Makasih, Kak!” balas Gia gelagapan.

“Nontonnya munduran, jangan deket banget yang main! Bahaya,” ucap Haris.

“Iya, Kak,” balas Gia lemas. Setelahnya Haris terkekeh, kemudian berniat memasuki lapangan. Tentu saja dengan sorakan dan ejekan-ejekan dari seluruh anggota basket yang melihat kejadian antara Haris dan Gia itu. Paling keras berasal dari Ojan yang bahkan membuat suara pluit keras-keras. Haris cuek, pria itu menanggapinya dengan senyuman santai dan kekehan pelan.

Namun sebelum benar-benar memasuki lapangan, Haris menoleh ke arah Gia, memastikan sekali lagi bahwa gadis itu tidak berdiri terlalu dekat dengan lapangan agar kejadian serupa tidak terulang. Sementara Gia memilih untuk menunduk, menghindari tatapan Haris. Haris terkekeh gemas.

“Gia,” panggilnya. Gia hanya mendongak tanpa menjawab apapun. Masih gemetar tidak karuan, bahkan ia merasakan darahnya berdesir mengalir ke seluruh tubuh seiring jantungnya belum kembali pada tempo detakan normal.

“Kaget banget ya? Kenceng banget bunyi jantungnya,” ucap Haris dengan senyuman sebelum akhirnya berlari masuk kembali ke lapangan.

Gia menghela napas panjang, setelahnya ia bergumam dalam hatinya. INI BEGINI GARA-GARA KAKAK, KAKKKK!

Gia melangkahkan kakinya menuju pinggir lapangan dan memilih berdiri di sana seraya melipat kedua tangannya di depan dada. Gia menonton pertandingan basket laki-laki yang menampilkan Haris dan Ojan yang dengan cekatan saling mengoper bola guna memasukannya ke dalam ring lawan. Sudut bibir Gia berkedut menahan senyuman, Haris dalam mode pertandingan memang tak pernah gagal dalam hal mempesona. Tubuhnya yang jangkung membuatnya dengan mudah membantunya mencetak gol.

Satu komentar, keren. Di mata Gia, Haris selalu melakukannya dengan keren. Seakan tanpa usaha, pemuda itu melempar bola dengan tepat sasaran memasuki ring basket yang cukup tinggi. “Naaaaiiissss!” seru Ojan seraya mengacungi jempol pada Haris. Keduanya kemudian bertepuk tangan, senyuman bangga tercetak di wajah mereka.

Permainan dilanjutkan dengan tim lawan yang mendapat kesempatan melempar dari pinggir lapangan. Lagi-lagi dengan cekatan Ojan memblokirnya dan men-dribble bola menerobos lawan dengan gayanya yang tak kalah keren dari sahabatnya itu.

Tetapi dunia hanya berpihak sementara pada Ojan, kesempatannya melakukan hal kharismatik seakan hanya berlaku untuk sekejap mata. Belum sampai satu menit Ojan menguasai lapangan, pria itu melakukan kecerobohan.

“Risss!” jerit Ojan, bermaksud mengoper bola ke arah Haris. Namun entah dosanya yang mana yang membuatnya kembali sial hari itu, Ojan tersandung tali sepatunya sendiri. Membuat bola basket yang sebelumnya berhasil ia kuasai menggelinding ke sembarang arah.

Haris yang tadinya siap menerima bola Ojan pun malah berlutut di lapangan. Tawanya meledak bersamaan dengan teman-temannya yang lain beserta mereka yang menonton. Termasuk Gia.

Haris kemudian bangkit dan menghampiri Ojan, masih dengan tawanya yang terbahak-bahak. “Lo kenapeeeee?”

“Kesandung anjrit sakit banget yak. Nyusruk gua,” balas Ojan. “Besot nggak, Ris, muka gua?”

“Waduuh makin jelek dah!” balas Haris seraya tertawa. “Anying!”

“Sakit nggak, Jan?” tanya Vio yang turut bermain kala itu. Sang ketua basket yang bermain dalam tim yang sama dengan Ojan itu pun turut mengecek keadaan anggotanya yang mengalami 'kecelakaan'.

“Sakit sih enggak begitu, Kak. Malunya itu lho, sampe udel!” balas Ojan, kembali mengundang gelak tawa Vio dan Haris. “Bahasa lu jelek banget udel udel!” balas Haris.

Vio hanya tertawa menanggapi keduanya. “Ayo bangun lagi, main. Iket tali sepatu lu yang bener,” ucap Vio sebelum berlalu lebih dulu mengejar bola yang out.

Gia masih memperhatikan dari pinggir lapangan, ia melihat Haris berlutut dan membantu Ojan mengikatkan sebelah tali sepatunya agar lebih cepat selesai. Haris terkekeh di sana, nampaknya ia menjahili Ojan dengan mengikat tali sepatunya terlalu kencang. Membuat Ojan menoyor kepalanya pelan dengan wajah merajuk. “Kenceng banget anjrit kaki gue nggak bisa napas, ntar!”

De javu, sudut bibir Gia berkedut. Gadis itu mati-matian menahan senyum ketika memorinya tentang Haris yang membantunya mengikatkan tali sepatu hari itu kembali terputar di kepala. Pun, suara Haris mendadak terngiang di telinganya.

“Iket dulu tali sepatunya kalo mau main, Anggia!”

Gila. Gia merasa dirinya gila karena senyum-senyum sendiri tanpa bisa mengendalikan diri untuk menghentikannya. Gadis itu pun segera menggelengkan kepalanya. Berusaha kembali pada fokusnya dan juga realita.

Kali ini pandangannya tertuju pada Vio yang membawa bola. Dengan mudah pemuda itu mendominasi lapangan, tidak sedikitpun memberi kesempatan lawan untuk menyentuh bola basket yang dikuasainya. Dan dengan sekali tembakan, Vio kembali mencetak skor. Tiga poin untuk kali ini, membuat anggota timnya termasuk Haris dan Ojan turut selebrasi meskipun tidak berkontribusi apa-apa.

Pluit kembali dibunyikan, lawan main kembali melempar bola dari bawah ring basket. Kali ini berhasil lolos dari blokiran tim Haris. Namun hal itu tak berlangsung lama. Ketika tim lawan sampai di tengah lapangan, rupanya Ojan dengan sigap mencegat dan merebut kembali bola. Setelahnya ia melempar bola basket pada Haris yang berada di dekat pinggir lapangan, dekat dengan ring basket tempat mereka memasukan bola guna mencetak skor.

Namun sayangnya, lemparan Ojan terlalu kuat hingga meleset dari tangan Haris. Pemuda itu gagal menangkapnya. Sesaat, Haris berniat mengabaikan bola yang terlepas dari tangannya itu. Ia paham bola itu akan segera out dan rasanya percuma jika diperjuangkan. Tetapi, melihat seseorang yang berdiri di pinggir lapangan, Haris mengurungkan niatnya.

Secepat kilat, Haris berlari mengejar bola dan menepisnya dengan kuat hingga membuat Gia dan orang-orang di sekelilingnya terkejut akan kencangnya tepisan Haris. Karena kalau tidak, bola itu akan mengenai wajah Gia dengan cukup keras. Gadis itu bisa pingsan saat itu juga.

Haris hanya berniat menepis bola, namun akibat larinya yang kencang dan terburu-buru, pemuda itu kehilangan keseimbangan. Mau tak mau, Haris menubruk tubuh Gia. Membuat gadis itu terhuyung hingga mundur beberapa langkah. Gia terkejut, terlebih ketika menyadari Haris... Memeluknya.

Gia masih tertegun, badannya terasa kaku. Ia tak tahu harus bagaimana mencerna semua kejadian yang terjadi secepat kilat ini. Yang ia tahu, di hadapannya kini adalah dada bidang Haris yang tertutup kaus penuh keringat.

Haris lebih dulu sadar, pria itu dengan segera menjauhkan tubuhnya dari Gia. Kedua tangannya beralih pada pundak Gia yang bisa ia rasakan menegang, “Gi? Nggak pa-pa?”

Gia masih tak menjawab, kemudian Haris memanggilnya sekali lagi. “Anggia?”

“Hah?” balasnya terkejut. Gia mengerjapkan matanya, kini terlihat jelas di hadapannya wajah Haris yang cukup dekat dengan penglihatannya. Nampak jelas raut wajah khawatir milik Haris, pula struktur wajahnya yang mendekati sempurna. Entah bagaimana caranya, Haris tetap terlihat menawan meski wajahnya memerah dan keningnya dialiri keringat-keringat jagung.

“Kamu nggak pa-pa?”

“I-iya, nggak pa-pa. Makasih, Kak!” balas Gia gelagapan.

“Nontonnya munduran, jangan deket banget yang main! Bahaya,” ucap Haris.

“Iya, Kak,” balas Gia lemas. Setelahnya Haris terkekeh, kemudian berniat memasuki lapangan. Tentu saja dengan sorakan dan ejekan-ejekan dari seluruh anggota basket yang melihat kejadian antara Haris dan Gia itu. Paling keras berasal dari Ojan yang bahkan membuat suara pluit keras-keras. Haris cuek, pria itu menanggapinya dengan senyuman santai dan kekehan pelan.

Namun sebelum benar-benar memasuki lapangan, Haris menoleh ke arah Gia, memastikan sekali lagi bahwa gadis itu tidak berdiri terlalu dekat dengan lapangan agar kejadian serupa tidak terulang. Sementara Gia memilih untuk menunduk, menghindari tatapan Haris. Haris terkekeh gemas.

“Gia,” panggilnya. Gia hanya mendongak tanpa menjawab apapun. Masih gemetar tidak karuan, bahkan ia merasakan darahnya berdesir mengalir ke seluruh tubuh seiring jantungnya belum kembali pada tempo detakan normal.

“Kaget banget ya? Kenceng banget bunyi jantungnya,” ucap Haris dengan senyuman sebelum akhirnya berlari masuk kembali ke lapangan.

Gia menghela napas panjang, setelahnya ia bergumam dalam hatinya. INI BEGINI GARA-GARA KAKAK, KAKKKK!

Gia melangkahkan kakinya menuju pinggir lapangan dan memilih berdiri di sana seraya melipat kedua tangannya di depan dada. Gia menonton pertandingan basket laki-laki yang menampilkan Haris dan Ojan yang dengan cekatan saling mengoper bola guna memasukannya ke dalam ring lawan. Sudut bibir Gia berkedut menahan senyuman, Haris dalam mode pertandingan memang tak pernah gagal dalam hal mempesona. Tubuhnya yang jangkung membuatnya dengan mudah membantunya mencetak gol.

Satu komentar, keren. Di mata Gia, Haris selalu melakukannya dengan keren. Seakan tanpa usaha, pemuda itu melempar bola dengan tepat sasaran memasuki ring basket yang cukup tinggi. “Naaaaiiissss!” seru Ojan seraya mengacungi jempol pada Haris. Keduanya kemudian bertepuk tangan, senyuman bangga tercetak di wajah mereka.

Permainan dilanjutkan dengan tim lawan yang mendapat kesempatan melempar dari pinggir lapangan. Lagi-lagi dengan cekatan Ojan memblokirnya dan men-dribble bola menerobos lawan dengan gayanya yang tak kalah keren dari sahabatnya itu.

Tetapi dunia hanya berpihak sementara pada Ojan, kesempatannya melakukan hal kharismatik seakan hanya berlaku untuk sekejap mata. Belum sampai satu menit Ojan menguasai lapangan, pria itu melakukan kecerobohan.

“Risss!” jerit Ojan, bermaksud mengoper bola ke arah Haris. Namun entah dosanya yang mana yang membuatnya kembali sial hari itu, Ojan tersandung tali sepatunya sendiri. Membuat bola basket yang sebelumnya berhasil ia kuasai menggelinding ke sembarang arah.

Haris yang tadinya siap menerima bola Ojan pun malah berlutut di lapangan. Tawanya meledak bersamaan dengan teman-temannya yang lain beserta mereka yang menonton. Termasuk Gia.

Haris kemudian bangkit dan menghampiri Ojan, masih dengan tawanya yang terbahak-bahak. “Lo kenapeeeee?”

“Kesandung anjrit sakit banget yak. Nyusruk gua,” balas Ojan. “Besot nggak, Ris, muka gua?”

“Waduuh makin jelek dah!” balas Haris seraya tertawa. “Anying!”

“Sakit nggak, Jan?” tanya Vio yang turut bermain kala itu. Sang ketua basket yang bermain dalam tim yang sama dengan Ojan itu pun turut mengecek keadaan anggotanya yang mengalami 'kecelakaan'.

“Sakit sih enggak begitu, Kak. Malunya itu lho, sampe udel!” balas Ojan, kembali mengundang gelak tawa Vio dan Haris. “Bahasa lu jelek banget udel udel!” balas Haris.

Vio hanya tertawa menanggapi keduanya. “Ayo bangun lagi, main. Iket tali sepatu lu yang bener,” ucap Vio sebelum berlalu lebih dulu mengejar bola yang out.

Gia masih memperhatikan dari pinggir lapangan, ia melihat Haris berlutut dan membantu Ojan mengikatkan sebelah tali sepatunya agar lebih cepat selesai. Haris terkekeh di sana, nampaknya ia menjahili Ojan dengan mengikat tali sepatunya terlalu kencang. Membuat Ojan menoyor kepalanya pelan dengan wajah merajuk. “Kenceng banget anjrit kaki gue nggak bisa napas, ntar!”

De javu, sudut bibir Gia berkedut. Gadis itu mati-matian menahan senyum ketika memorinya tentang Haris yang membantunya mengikatkan tali sepatu hari itu kembali terputar di kepala. Pun, suara Haris mendadak terngiang di telinganya.

“Iket dulu tali sepatunya kalo mau main, Anggia!”

Gila. Gia merasa dirinya gila karena senyum-senyum sendiri tanpa bisa mengendalikan diri untuk menghentikannya. Gadis itu pun segera menggelengkan kepalanya. Berusaha kembali pada fokusnya dan juga realita.

Kali ini pandangannya tertuju pada Vio yang membawa bola. Dengan mudah pemuda itu mendominasi lapangan, tidak sedikitpun memberi kesempatan lawan untuk menyentuh bola basket yang dikuasainya. Dan dengan sekali tembakan, Vio kembali mencetak skor. Tiga poin untuk kali ini, membuat anggota timnya termasuk Haris dan Ojan turut selebrasi meskipun tidak berkontribusi apa-apa.

Pluit kembali dibunyikan, lawan main kembali melempar bola dari bawah ring basket. Kali ini berhasil lolos dari blokiran tim Haris. Namun hal itu tak berlangsung lama. Ketika tim lawan sampai di tengah lapangan, rupanya Ojan dengan sigap mencegat dan merebut kembali bola. Setelahnya ia melempar bola basket pada Haris yang berada di dekat pinggir lapangan, dekat dengan ring basket tempat mereka memasukan bola guna mencetak skor.

Namun sayangnya, lemparan Ojan terlalu kuat hingga meleset dari tangan Haris. Pemuda itu gagal menangkapnya. Sesaat, Haris berniat mengabaikan bola yang terlepas dari tangannya itu. Ia paham bola itu akan segera out dan rasanya percuma jika diperjuangkan. Tetapi, melihat seseorang yang berdiri di pinggir lapangan, Haris mengurungkan niatnya.

Secepat kilat, Haris berlari mengejar bola dan menepisnya dengan kuat hingga membuat Gia dan orang-orang di sekelilingnya terkejut akan kencangnya tepisan Haris. Karena kalau tidak, bola itu akan mengenai wajah Gia dengan cukup keras. Gadis itu bisa pingsan saat itu juga.

Haris hanya berniat menepis bola, namun akibat larinya yang kencang dan terburu-buru, pemuda itu kehilangan keseimbangan. Mau tak mau, Haris menubruk tubuh Gia. Membuat gadis itu terhuyung hingga mundur beberapa langkah. Gia terkejut, terlebih ketika menyadari Haris... Memeluknya.

Gia masih tertegun, badannya terasa kaku. Ia tak tahu harus bagaimana mencerna semua kejadian yang terjadi secepat kilat ini. Yang ia tahu, di hadapannya kini adalah dada bidang Haris yang tertutup kaus penuh keringat.

Haris lebih dulu sadar, pria itu dengan segera menjauhkan tubuhnya dari Gia. Kedua tangannya beralih pada pundak Gia yang bisa ia rasakan menegang, “Gi? Nggak pa-pa?”

Gia masih tak menjawab, kemudian Haris memanggilnya sekali lagi. “Anggia?”

“Hah?” balasnya terkejut. Gia mengerjapkan matanya, kini terlihat jelas di hadapannya wajah Haris yang cukup dekat dengan penglihatannya. Nampak jelas raut wajah khawatir milik Haris, pula struktur wajahnya yang mendekati sempurna. Entah bagaimana caranya, Haris tetap terlihat menawan meski wajahnya memerah dan keningnya dialiri keringat-keringat jagung.

“Kamu nggak pa-pa?”

“I-iya, nggak pa-pa. Makasih, Kak!” balas Gia gelagapan.

“Nontonnya munduran, jangan deket banget yang main! Bahaya,” ucap Haris.

“Iya, Kak,” balas Gia lemas. Setelahnya Haris terkekeh, kemudian berniat memasuki lapangan. Tentu saja dengan sorakan dan ejekan-ejekan dari seluruh anggota basket yang melihat kejadian antara Haris dan Gia itu. Paling keras berasal dari Ojan yang bahkan membuat suara pluit keras-keras. Haris cuek, pria itu menanggapinya dengan senyuman santai dan kekehan pelan.

Namun sebelum benar-benar memasuki lapangan, Haris menoleh ke arah Gia, memastikan sekali lagi bahwa gadis itu tidak berdiri terlalu dekat dengan lapangan agar kejadian serupa tidak terulang. Sementara Gia memilih untuk menunduk, menghindari tatapan Haris. Haris terkekeh gemas.

“Gia,” panggilnya. Gia hanya mendongak tanpa menjawab apapun. Masih gemetar tidak karuan, bahkan ia merasakan darahnya berdesir mengalir ke seluruh tubuh seiring jantungnya belum kembali pada tempo detakan normal.

“Kaget banget ya? Kenceng banget bunyi jantungnya,” ucap Haris dengan senyuman sebelum akhirnya berlari masuk kembali ke lapangan.

Sudah pulang sekolah, hari ini Gia kembali miliki jadwal untuk ekskul basket yang sangat ia gemari itu. Gia mengikat sepatunya di pinggir lapangan. Kali ini, gadis itu memastikan sepatunya terikat sempurna agar tidak mengulang kejadian tali sepatu yang terlepas tanpa sepengetahuannya. Pula mengulang kejadian di mana Haris mengikatkan tali sepatunya di pinggir lapangan. Malu.

Setelah selesai dengan sepatunya, Gia duduk bersila. Menunggu pelatih mereka yang belum datang seraya meminum air putih miliknya dan memainkan ponselnya. Membalas pesan Zahra yang sedang mengantre jajan di luar. Sesekali Gia tertawa meladeni keluhan-keluhan Zahra lantaran sering kali diselak.

Gi, masa abangnya pake kaos tapi keteknya bolong😭😭

Gia terkikik geli sambil memandangi ponselnya sebelum akhirnya mengetikkan balasan untuk Zahra.

Gia : KAMU NGAPAIN MERHATIIN?!

Zahra : Orang abangnya lagi goreng di depan aku, ya keliatan😭😭😭

Gia nyaris menyemburkan air minumnya sendiri. Teman sebangkunya itu, entah bergaul dengan siapa. Selalu ada saja Zahra mengalami kejadian yang tak diduga-duga. Namun, justru menjadi sebuah cerita yang sering kali muncul di otak dan membuat tertawa tiba-tiba bahkan ketika sedang melamun.

“Serem banget ketawa-tawa sendiri,” ucap seseorang dari arah samping membuat Gia terkejut. Gadis itu menoleh, rupanya ada Haris di sana. Pemuda itu terlihat sedang memasukkan seragamnya ke dalam tas, baru saja selesai berganti baju. Jodoh kah? Pasalnya sering kali Gia dan Haris meletakkan tas mereka berdekatan tanpa rencana.

Gia hanya tersenyum, “Hehe, Kak Haris.”

Haris membalasnya dengan anggukan singkat. Setelahnya mengambil tempat duduk di sebelah Gia. “Bisa nggak tadi Biologinya?” tanya Haris.

“Lumayan, Kak. Dari materi yang Kakak kirim lumayan banyak yang keluar.”

Haris kembali mengangguk, “Bagus, deh. Belom ketauan nilainya? Biasanya kalo kuis langsung dikoreksi?”

“Udah kok, Kak,” balas Gia.

“Gia dapet berapa?”

“Pas KKM,” sahut Gia lagi, kali ini dengan nada kecewa.

“Kok bisa? Katanya dari materi kemaren banyak yang keluar?” tanya Haris santai.

“Iya sih, tapi saya nggak apal. Pas ngerjain lupa banget, jadi ngisi sebisanya aja.”

Haris mengangguk santai, “Ooh, ya nggak pa-pa. Segitu juga udah bagus.”

“Tapi temen saya ada yang 100 masa, Kak,” adu Gia. Tanpa sadar gadis itu mengerucutkan bibir seakan mengadu kepada kakaknya sendiri. Sudut bibir Haris melengkung membuat senyuman, hingga akhirnya pemuda itu terkekeh pelan melihat pemandangan di hadapannya. “Ya nggak pa-pa, Gi. Rejeki orang kan beda-beda. Nggak boleh iri gitu, lagi.”

“Ya tapi kan sebel, Kak. Masalahnya yang dapet 100 tuh karena dia liat buku, Kak. Ngolong gitu,” ucap Gia. Menanggapi ucapan gadis yang lebih muda satu tahun darinya itu, Haris menghela napas seraya tersenyum. Paham, Haris paham rasanya. Bagaimana ia belajar mati-matian untuk mendapat nilai sempurna, namun hasil sempurna tetap jatuh ke tangan orang lain. Haris paham rasanya.

“Iya, ngerti. Yang paling penting itu bukan hasil akhirnya, Gi, tapi usahanya,” balas Haris. “Emangnya nggak lega dapet 75 tapi usaha sendiri?” tanyanya lagi.

Gia terdiam sejenak, setelahnya kembali melihat ke arah Haris. “Lega, sih..”

“Nah, ya udah. Apa lagi yang dicari?” tanya Haris. Kalimat Haris berhasil membungkam Gia. Gadis itu kini menunduk menghindari tatapan Haris. Padahal Haris hanya berbicara santai, namun entah mengapa kalimatnya, nada bicaranya, suaranya, berhasil merasuki relungnya. Rasanya seperti mendengar nasihat dari papanya yang begitu jauh. Rasanya.. ada sedikit rindu yang terbayarkan.

“Nggak selamanya kita bisa ngeliat angka, Gi. Karena angka itu nggak ada habisnya dan manusia nggak pernah puas,” ucap Haris. Gia menoleh, dan yang ia temukan adalah tatapan Haris yang belum pernah ia temui sebelumnya. Begitu teduh, hingga Gia tak ingin memalingkan wajahnya.

Entah berapa detik keduanya saling pandang, yang jelas Haris adalah orang pertama yang mengembalikan kesadarannya sendiri. Pemuda itu berdeham, membuat Gia gelagapan dan mengerjapkan matanya. Gia pun merapikan sisa anak rambutnya yang tak ikut terikat guna menutupi gelagatnya yang salah tingkah seraya merapal doa dalam hatinya agar wajahnya tidak memerah. Setidaknya tidak di hadapan Haris.

Setelah sama-sama selesai dengan degup jantung yang kian meletup, Haris kembali berujar. “It's Okay, Anggia. You did a great job!”

Belum sempat Gia membalas, Haris justru sudah bangkit berdiri dan meminta izin untuk pergi lebih dulu. “Saya ke sana duluan ya!” ucapnya. Kemudian kaki jenjangnya menelusuri koridor, meninggalkan Gia yang masih memandangi pemuda yang selalu bisa membuatnya merasakan perasaan tidak wajar dalam hatinya, bahkan hanya dengan melihat punggung lebar nan kekarnya.

Setibanya Gia di depan gerbang, gadis itu mati-matian menunduk menahan malu. Menghindari tatapan Haris yang sudah berada di sana memeriksa atribut siswa-siswi yang berdatangan. Sekilas Gia melihat kakak kelasnya itu menahan senyum lantaran sudut bibirnya berkedut. Namun, pria itu buru-buru mengalihkan pandangan. Mungkin karena sudah janji untuk pura-pura tidak lihat.

Gia menutup wajahnya dengan rambut panjangnya yang hari itu ia atur menjadi low ponytail sebelum akhirnya pura-pura cuek dan bersembunyi di balik antrean. Gia menyalami tangan Pak Asep dan bermaksud langsung ngebut ke koperasi dan ke kela. Namun, gurunya itu malah mengajaknya bercengkerama.

“Anggia,” sapa Pak Asep. Mau tak mau, Gia tersenyum dan menjawab. “Iyaa, Pak.”

“Bagus nih, udah lebih awal terus datengnya. Udah nggak pernah telat,” balas Pak Asep. Gia cuma nyengir, sementara kakak kelas yang sedang memeriksa atribut di sebelahnya itu tersenyum bangga.

“Nanti ada jam Bapak nggak, Anggia?”

“Ada, Pak. Pelajaran terakhir,” balas Gia. “Ada tugas kan?”

“Iya, Pak.”

“Ya sudah nanti kita bahas,” balas Pak Asep. Selanjutnya Gia berpamitan dan melanjutkan misinya. Kabur.


Gia sampai di kelas dengan sebundel lembar jawaban ulangan pesanan Zahra, gadis itu melangkah menuju tempat duduknya dan meletakkan tasnya di sana. Benar saja, belum sempat Gia mendudukkan dirinya, Zahra sudah menghujaninya dengan pertanyaan kecurigaan.

“GIA! Gimana gimana? Kamu ngapain kok tadi bisa salah kirim? Kamu chat-an sama Kak Haris?” ujar Zahra bertubi-tubi.

“Jaraaaa, pelan-pelan donggg ngomongnyaa!” balas Gia. “Nanti ketauan yang lain berisik ah!”

Zahra tertawa, “Ya udah sini sini duduk. Cerita cerita!”

Gia menghela napas pasrah. Pada akhirnya ia menceritakan semuanya pada teman sebangkunya.

“Ya.. awalnya tuh karena aku terlambat kan, yang waktu disuruh hormat bendera itu loh, Jar. Nah terus Kak Haris chat aku, nanya kenapa telat. Terus katanya besok jangan telat lagi gitu, jangan dateng lebih dari 06.15,” jelas Gia. Ia menjeda bicaranya. Melihat Zahra belum memberikan reaksi apapun, Gia melanjutkan ceritanya.

“Kamu tau kan setiap pagi aku makan beng-beng?” tanya Gia. “Iya.”

“Itu bukan aku bawa sendiri dari rumah. I-itu.. dari Kak Haris..”

Batin Gia bersiap, sebentar lagi pasti Zahra akan menghujaninya dengan teriakan antusias akan keterkejutannya.

“DEMI APA SIH GIIIIIIII?????????” ucap Zahra. Benar kan, tebakannya?

Gia hanya menghela napas pasrah. “Iya serius,” balasnya.

“KOK BISAAAA????”

“Soalnya Kak Haris kan bilang jangan telat, nah aku bales emangnya kalo nggak telat dapet apa. Itu bercanda doang sih aslinya, tapi dia malah bales dapet beng-beng..”

“Dih demi apa sih, Anggia Kalila Maheswari?! Kak Haris yang galak itu?!” Zahra masih tak percaya. Wajar, pada awalnya pun ini sulit dicerna oleh Gia.

“Kak Haris nggak galak sih aslinya,” balas Gia.

“KAGAK GALAK DARI MANEEEE?! Kemaren aja Alwan cerita kaos kaki dia diambilll sama Kak Haris makanya dia nggak pake kaos kaki,” sahut Zahra tak mau kalah.

“Dih, kan itu emang salah Alwan. Siapa suruh kaos kakinya biru tua? Hari Rabu ya kaos kakinya itemm!” balas Gia.

“Kamu belain Kak Haris?” tanya Zahra. Gia otomatis merapatkan bibir. Benar juga, tanpa sadar ada rasa tidak terima dalam dirinya mendengar Haris disalahkan sepenuhnya atas tindakannya menyita kaus kaki Alwan yang memang tidak sesuai peraturan.

Gia menggeleng, “Nggak belain Kak Haris. Itu kalo diliat Pak Asep juga pasti disita!”

Zahra lantas tersenyum lebar, siap meledek teman sebangkunya yang masih saja mengelak meski sudah tertangkap basah. Bahkan kedua pipinya mulai memerah. “Yeuuuuuu bilang aja nggak terima Kak Haris dibilang galak!”

“Terima, kok!”

“Ohhh. Ya emang sih Kak Haris tuh galak banget, nyebelin, nggak punya perasaan, jelek banget hatin—”

“KOK GITU SIH KAMU?!” protes Gia tiba-tiba. Zahra memasang wajah bingung, “Kenapa? Katanya tadi terima Kak Haris dibilang galak?”

Skakmat! Gia kembali menutup mulutnya rapat-rapat. Gelagapan sendiri, bingung harus membalas apa. Setelahnya Zahra terkekeh, “Kocak lu Gi!”

“Padahal nggak pa-pa sih, ngaku aja. Aku udah paham kali kamu emang demen sama Kak Haris,” balas Zahra.

“Ih..”

“Aku tuh temen kamu, Gi. Tiap hari sama kamu. Santai aja lagi, aku ngerti kok. Kamu bisa cerita apa aja sama aku, nggak usah malu-malu,” balas Zahra pengertian. Selama ini Gia memang tidak pernah memiliki teman dekat. Sebangkunya selama SMP cukup individualis hingga keduanya hanya sedikit berinteraksi. Memiliki teman sebangku seperti Zahra, sejujurnya Gia cukup kaget. Namun hari ini rasanya hatinya sedikit senang karena mendapat keterbukaan dari Zahra.

Thank you loh, Jar..” ucap Gia, tulus dari dalam hatinya. Di hadapannya Zahra hanya tersenyum seraya mengangguk membalas ucapannya.

“Santai aja, Gi. Terus tadi kamu kenapa salkir?” tanya Zahra.

“HAH ITU?! Ah.. aku udah lupa jadi inget lagi, malu deh. Sumpah demi Allah malu banget,” balas Gia. Gadis itu sudah menutup wajahnya dengan sebelah tangannya.

Zahra terkikik, “Yahh sorry deh, kenapa sih emang? Salah kirim ke Kak Haris?”

“Iya.. pagi-pagi biasanya Kak Haris tuh emang chat aku, nanyain udah sampe sekolah apa belom. NAH TADI PAGI CHAT-NYA BARENGAN SAMA PUNYAMU! ATAS BAWAH!”

Gia dapat mendengar tawa Zahra semakin keras. “Terus terus? Kamu ngirim apa ke Kak Haris sampe malu banget demi Allah gitu?”

“Kirim foto...”

“Hah?”

Mirror selfie....”

“HAH? HAHAHAHAH GIAAAAAAAAA!”

“Zahra diem ah!” balas Gia. Pada akhirnya Zahra terpaksa menutup mulut, menyudahi tawanya meskipun perutnya masih geli dan masih ingin tertawa.

“Ya nggak pa-paaaa, siapa tau foto kamu jadi penyemangatnya Kak Haris pagi-pagi,” ejek Zahra. “Apaan, yang ada nanti dipake buat ngusir tikus,” balas Gia. Sementara Zahra hanya tertawa.

“Gi, tapi ya. Menurut aku, Kak Haris tuh ngasih beng-beng, terus mastiin kamu nggak telat tiap hari tuh udah nggak bisa dibilang nggak ada apa-apa sih,” ucap Zahra. Gia mengerutkan dahi, “Maksudnya?”

“Kak Haris begitu ke kamu doang, Gi. Coba deh, pikir. Aku tanya nih, emang Kak Haris tuh sebaik apa sama kamu sampe bisa cuma kamu doang selain temen-temennya Kak Haris yang nganggep dia tuh baik?”

Gia terdiam, pikirannya menerawang pada saat-saat Haris membantunya. Pula ketika setiap pria itu dengan ramah mengajaknya bicara. “Jangan berisik ya? Sini ngolong, aku ceritain.”

Meskipun bingung, Zahra tetap mengikuti Gia untuk bersembunyi di kolong meja. Keduanya kini nampak seperti sedang membicarakan strategi perang yang tidak boleh terdengar oleh musuh. Sesekali Zahra mengeluh karena lapak sempit, namun pada akhirnya pasrah karena hasratnya mengetahui cerita temannya lebih besar ketimbang mendapat space lebih luas.

Gia berbisik, “Kak Haris tuhh pernah nolongin aku kan, aku udah cerita. Nah, terus.. dia pernah bantu ngiketin tali sepatu aku waktu aku nggak sadar, ini pas basket. Terus waktu kamu apalan di masjid, Kak Haris nemenin aku di kantin, dia juga nanyain aku digodain angkatan atas atau enggak. Kak Haris juga.. bantuin aku belajar biologi semalem..”

“DEMI AP—AH ADUH!” Zahra memegangi kepalanya yang terbentur meja sangking terkejutnya. Sementara di hadapannya, Gia ikutan panik. “Duhh, hati-hati dong! Aku bilang kan jangan berisik!”

“Gi, siapa yang bisa diem aja denger cerita kamu begitu?!” balas Zahra. “Ini mah udah fix nih!!”

“Apa?”

“Kak Haris chat kamu tiap pagi tuh bukan buat nanyain absen doang, Gi! Itu mah PDKT berkedok absen!!!”

Ucapan Zahra membuat Gia termenung sendiri.

Iya, kah? Enggak deh, pasti nggak mungkin. Kata Kak Gina juga kan, Kak Haris baik cuma karena aku deket sama Hanum aja. Nggak mungkin lebih dari itu, kan?