raranotruru

Adelia mengetuk-ngetukkan kakinya gelisah. Entah sudah berapa menit berselang, Haris tak kunjung datang. Perutnya sudah meronta, asam lambungnya mulai bergejolak lantaran makannya tertunda akibat si motor jadul yang mogok mendadak. Segala cara sudah ia kerahkan, beberapa orang pun sempat berhenti dan membantunya. Namun tetap saja tak membuahkan hasil. Berujung ia kembali ditinggalkan sendirian.

“Mana lagi si Haris? Lama banget, berangkatnya dari Ujung Kulon apa, yak!?”

Speaking of the devil, lelaki dengan tinggi menjulang itu tiba. Tetapi ia tidak sendiri, melainkan kompak dengan teman-temannya. Termasuk Dhimas. Rasanya Adel ingin mengumpati Haris tepat di wajahnya. Bisa-bisanya ia membawa Dhimas untuk kembali menemui Adel di tengah situasi memalukan seperti ini.

Haris datang dengan wajah penuh sumringah, pasti besar niatnya untuk mengejek Adel habis-habisan. “AHAHAHAAA, kasian banget, sih, di pinggir jalan. Kenapa, Neng, motornya, Neng?”

PLAK! “ANJING LU! LAMA BANGET DARI MANA, SIK!? TOLONGIN GUE DULU!” ujar Adel setelah satu pukulan mendarat di lengan Haris. Pemuda itu masih setia tertawa geli. “Kenapa lagi, sih? Mati? Bensinnya ada nggak?”

Full, anjir! Gue selalu isi bensin dengan benar!”

“Perasaan udah gue bawa ke bengkel dengan benar,” balas Haris. “Abang bengkelnya kali nggak bener, tuh! Muka lu jangan kayak orang kaya banget makanya, nanti dikadalin mulu!” sahut Adel.

“Goblok!” umpat Haris. “Ya udah lu balik sana! Ini gue yang urus nanti,” usulnya lagi.

Adel mendelik tajam pada Haris, memandanginya dari atas ke bawah. “Lah, gue pulang pake apa, Ris? Motor gue—”

“Sama gue, Del,” potong Dhimas. Otomatis Adel menoleh ke arah Dhimas. Gagal sudah upayanya untuk mengabaikan Dhimas. Gadis itu memandangi Dhimas bingung seraya melipat kedua tangannya di depan dada. Melihat Adel terpaku, Dhimas kembali bersuara. “Mau langsung pulang apa nyari tempat buat lo makan dulu? Sakit banget nggak perutnya? Asam lambung beneran?”

“Kalo belom kebakar perutnya, mah, masih santai dia, Dhim,” cibir Haris. Membuat Adel memukulnya sekali lagi.

Damar ikut nimbrung dengan kekehan halusnya. “Cari tempat buat makan aja dulu, Dhim. Takutnya nanti keburu parah. Lo juga tadi belom sempet makan, kan?” ucap Damar, kode. Dan berhasil membuat sudut bibir Dhimas berkedut. Andai saja tidak ada Adel, mungkin Dhimas sudah bilang i love you terang-terangan.

“Dam, gue bawa motornya. Lu yang stut, ya!” ujar Haris. “Lah, terus gue ngapain? Ikut Dhimas?” tanya Ojan menunjuk diri sendiri.

Haris berdecak. “Duduk manis aja lu, mah. Jangan merusak tatanan alam semesta,” ucap Haris. Memancing tinju dari Ojan pada bahu kirinya. Tak ingin berlama-lama, ketiga pemuda itu kemudian melakukan aksinya. Meninggalkan Dhimas yang masih terdiam di posisinya, sama dengan Adel.

“Ayo, Del,” ajak Dhimas. Tak ingin terdampar sendirian di jalan raya lagi, Adel segera menjawab ajakan Dhimas. Keduanya kemudian melaju pelan setelah memakai helm dengan benar. Bukan modus, melainkan jalanan cukup ramai sore itu. Mungkin karena jam pulang kerja.

“Lo tadi lagi maen, Dhim?” tanya Adel. “Hah?” sahut Dhimas. Kali ini sengaja, agar Adel tak duduk terlalu jauh.

“LO TADI LAGI MAEN?”

“HAH?”

“NGGAK JADI!”

Dhimas membalasnya dengan tawa pelan. “Iya, lagi maen. Terus tiba-tiba Haris bilang lo terdampar di tengah jalan.”

Sorry ya, Dhim. Jadi ganggu lo semua. Gue nggak tau mau minta tolong siapa lagi soalnya selain Haris,” balas Adel. Pemuda itu lagi-lagi tertawa. “Santai, Del. Itu juga tadi udah pada mau pulang, cuma kebetulan Haris bilang gitu. Ya udah, sekalian.”

“Mau makan di situ aja nggak, Del?” tanya Dhimas lagi. Memecah lamunan Adel. Seketika Adel menyadari keduanya melewati sebuah taman yang cukup ramai, dengan banyak tempat duduk mumpuni untuk menghabiskan makanannya. Sontak Adel mengangguk, menyetujui inisiatif Dhimas.

Efisiensi waktu, Dhimas memarkirkan motor dan segera mencarikan tempat duduk untuk Adel. Keduanya kini duduk berhadapan. Lampu gantung taman yang mulai menyala di tengah langit yang mulai menggelap itu membuat keduanya diam-diam meromantisasi hidup. Untuk sesama pejuang cinta yang berakhir kalah, sesekali memenangkan hari tak apa, kan?

“Makan, Dhim,” tawar Adel. Gadis itu kemudian meng-unboxing makanannya setelah Dhimas mengangguk. “Makan aja, gue nantian.”

Sekon berikutnya Dhimas memilih untuk memainkan ponsel. Membalas pesan Haris yang meracau posesif. Sesekali Dhimas tertawa membaca pesan Haris yang terlihat seperti bocah. Dan tentu saja tawanya mengundang rasa penasaran Adel. “Kenapa lu ketawa-tawa sendiri? Lagi chat-an sama cewek lu ya? Eh, marah nggak dia lu jalan sama gue begini? Nanti gue dikata-katain lagi.”

“Hah? Cewek apaan? Ini gue membalas pesan satpam lu,” sahut Dhimas seraya menunjukkan bukti ucapannya. Adel ikut tertawa, “Satpam banget?”

“Abis posesifnya nggak ketulungan. Kayak gue mau ngapa-ngapain lo aja,” balas Dhimas. “Tadi juga pas mau nyamperin lo, malah gue dilarang ikut. Akhirnya boleh gara-gara Damar menjabarkan logikanya.”

Lagi-lagi Adelia tertawa seraya menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. “Emang begitu orangnya. Sorry, ya.”

Dhimas menggeleng pelan, “Santai. Gue juga tau, kok, Haris kayak gimana.”

“Dia sama ceweknya gitu juga nggak, sih, kalau di sekolah?”

“Menurut lo?”

“Iya, lah. Apalagi ceweknya lebih muda juga. Gue yakin nanti kalau udah lulus juga Haris masih rela bolak-balik ke sekolah cuma buat ceweknya. Not that i don't like Gia, tho. She seems sweet. Sayang gue belom sempet ketemu dan kenalan langsung,” ucap Adel. “Tapi, gue kaget, sih, pas tau Haris tiba-tiba pacaran sama adek kelasnya.”

“JUJUR, IYA! ITU TAI BANGET!” sambar Dhimas. “Del, trust me, kita-kita temennya aja nggak tau.”

“HEH, GUE JUGA ENGGAK!! EMANG KURANG AJAR DIA TUH!!”

“LAH, LU JUGA NGGAK DIKASIH TAU!?”

Keduanya kini bertukar pandang. “Lu berani bakar rumah Haris nggak, Del?”

Seketika Adel menggebrak meja. Tubuhnya mundur dan tangan kanannya melepas genggaman sendok plastiknya. Ia menyelesaikan kunyahannya sebelum bicara. “Nggak berani. Nggak sanggup ganti ruginya,” balas Adel. “Kalau rusakin engsel pintu kamarnya gue berani.”

Keduanya lalu tertawa receh. Entah setelah ini keduanya harus meminta maaf atau berterima kasih pada Haris. Bagaimanapun, keberadaannya bisa menjadi topik yang kian mengikis jarak. “Tapi Gia cantik banget,” ucap Adel spontan, “manis anaknya. Lo kenal, kah, Dhim?”

“Kenal. Emang manis banget anaknya. Keliatan anak baik-baik gitu, sejujurnya gue kasian dia pacaran sama demon macem Haris.”

“YAHAHAHAH, DEMON, ANYING KESELEK!”

Dhimas ikut melepas tawanya. “Gue kenal Gia, tuh, karena gue kakak pembimbing kelompoknya pas LDKS. Barengan sama Haris. Sebelum itu gue juga tau Gia, sih. Dia temenan sama tetangganya temen sebangku gue. Ah, gitu, deh. Rumit. Intinya dunia ini sempit banget ternyata.”

I see. Ini, kita berdua juga bukti dari dunia yang sempit banget. Gue kenal lo karena lo temen Haris, ternyata kita satu lesan,” balas Adel. “Rumit kalo dipikirin, tapi sejujurnya itu menarik.”

“Setuju,” balas Dhimas.

“Tapi, lo sama sebangku lo, tuh, pacaran?”

Bull's eye. Adelia menembakkan panahnya, tepat sasaran. Matanya menatap Dhimas tanpa berkutik. Mengharap jawaban yang tidak mengecewakan. “Enggak!” Pria itu menggeleng agresif, “temenan doangg. Temen sebangku gue itu pacarnya Damar.”

“OH? INTERESTING! Seru, ya, pacarannya kayak dari channel gitu berarti. Tapi, Damar nggak marah lu sebangkuan sama ceweknya gitu?” ucap Adel non-stop.

“Pernah, gue pernah berantem sama Damar. Tapi masalah eksternal aja, abis itu udah, sih. Nggak pernah berantem lagi. Damar bestie gue sekarang,” sahut Dhimas.

“Terus musuh lu siapa sekarang?”

“Haris, mungkin?”

“Kenapa?”

“Kenapa ya? Menurut lo kenapa?” balas Dhimas, sok penuh teka-teki. Namun Adel menyukainya. Sudut bibir gadis itu berkedut, matanya memincing seakan menangkap sesuatu yang lain. Namun keduanya hanya diam, membiarkannya tersimpan dalam diri masing-masing. Belum waktunya.

“Di sekolah, lo OSIS juga, Dhim, bareng Haris?”

“Gue MPK,” sahut Dhimas, “tadinya bareng tapi tiba-tiba dipindahin pas regenerasi. Beberapa temen gue juga ada yang dipindahin.”

“Ohh, keren. Apakah lu adalah kakak-kakak idaman masyarakat?” ucap Adel. Lagi-lagi Dhimas tertawa. “Enggak, Del. Gue orang biasa.”

“APAAN, SIHH, HAHAHAHAH. Kenapa, yaa? Tiap gue liat lo kayaknya vibes lo sedih banget, Dhim,” ujar Adel. Sementara menunggu jawaban Dhimas, Adel memilih untuk membereskan sampah makanannya. Di sisi lain, Dhimas mengerutkan keningnya. “Emang keliatan banget, kah!?” kesalnya. “Semua orang kayaknya bilang gitu ke gue, deh.”

“Ya... Keliatan...” Adel kini melipat tangannya di atas meja, duduk rapi dan bersiap mendengar cerita Dhimas lebih serius. “Besok gue totok aura aja apa ya, Del? Biar aura wajah gue makin cerah gitu.”

Adel terkekeh geli, sekon berikutnya ia melempar bola tisu kecil hasil karyanya ke wajah Dhimas. “NGARANG! Emang kenapa, sih? Maksudnya apa yang membuat lo dibilang begitu mulu? Ada legenda masa lalu, kah?”

“Ya... Ada...”

“Apa? Kenapa?”

Dhimas menghela napas pelan. Tubuhnya kini bersandar pada kursi. Kedua tangannya memainkan bola tisu yang tadi Adel lemparkan ke wajahnya. “Dulu, tuh, pas gue kelas sepuluh. Gue suka sama orang, Del, ceritanya. Ada, lah, namanya. Terus yaa, gue memulai pergerakan. Nah, dia, nih, terlihatnya menyambut pergerakan gue gitu. Terus gue jadi makin semangat dong? Gue pikir dia juga suka sama gue. Terus makin deket, makin deket, gue dapet kabar kalo dia mau pindah sekolah. Nah, gue jadi memanfaatkan momen yang tersisa gitu, lah, Del. Terus gue nyatain perasaan gue tapi ditolak. Ya, gue nggak marah, itu biasa, lah. Tapi yang bikin gue kesel banget, sakit hati banget, tuh, dia ternyata udah punya pacar, Del. Dia selama ini bukan menyambut pergerakan gue tapi cuma manfaatin gue doang, itu juga dia pindah sekolah karena nyusul pacarnya. Gue bener-bener merasa kayak orang bego. Gitu, deh. Sampe sekarang gue males ngurusin gituan. Awalnya, sih, nggak pa-pa. Tapi lama-lama suntuk juga, ye. Apalagi temen-temen gue sekarang semuanya punya pacar gitu.”

“Paham. Gue juga suka ngerasa gitu. Temen gue cuma dua, Haris sama Cipon. Dua-duanya sekarang punya pacar, kadang gue juga kesepian, sih.”

“Lo kenapa nggak pacaran? Boong banget, lah, kalo nggak ada yang suka sama lo.”

Kini giliran Adel yang menghela napasnya. “I don't trust men. I hate them, kecuali Haris.”

“Kenapa? Lo juga nggak suka gue, dong?”

“Sebentar, gue cerita dulu. Baru gue jawab pertanyaan lo,” ucap Adel. Butuh sedikit waktu untuk Adel menyiapkan diri mengungkit lukanya. “It all started with my father. Papa sama Mama cerai. Beda sama alasan pisah orang tuanya Haris yang emang dari internal, papa gue pisah sama mama karena dia nemu orang lain. Papa—selingkuh sama sahabatnya mama dari jaman kuliah. Mereka kenalannya di rumah gue btw, kocak banget, kan? Sahabatnya Mama ini emang udah lama sendiri, anaknya seumuran kita, perempuan juga. Gue suka main sama dia dulu, tapi emang nyebelin, sih. Apa yang gue pegang pasti direbut, tapi gue nggak nyangka dia juga rebut papa gue.”

I'm sorry to hear that, nggak usah diterusin kalo lo nggak mah cerita, Del.”

Adelia menggeleng, ia masih kuat. “Terus gue jadi tumbuh dengan penuh kebingungan, kekosongan, tapi untung ada Haris. Nah, terus gue SMP, nih. Cakep banget gue pas SMP, lu pasti naksir, soalnya gue aja naksir. Gue deket sama cowok, Dhim, namanya Julian. Dia baik banget, bener-bener green flag pada masanya. Pokoknya dia berhasil bikin gue percaya kalo di dunia ini masih ada cowok baik-baik ceunah. Tapi kayaknya emang dunia ini nggak suka aja sama gue, tiba-tiba Julian kenal sama—itu, anaknya temen mama. Dan ternyata mereka emang udah pacaran lama, beda sekolah makanya nggak ketauan. Julian deketin gue kalo lagi berantem sama ceweknya aja. Sampe sekarang gue jadi memilih untuk jauh-jauh dari cowok. Gue jadi anti banget sama cowok.”

Dhimas masih diam dan menyimak. Sementara Adel melanjutkan bicaranya. “But it's different with you. Alarm gue, benteng gue, pager gue, semua yang membatasi diri gue dari apa yang seharusnya gue jauhi itu—ilang mendadak. They were never there. Gue juga nggak tau kenapa, i'm happy having you around.

“Gue nggak sebaik itu, Del,” sanggah Dhimas. “Pasang aja alarm lo, pager lo, benteng lo. Buat jaga-jaga. Takut gue jadi bagian yang ikut bikin lo makin sakit lagi.”

We'll see.”

Dhimas mengangguk pelan. “Jadi, lo nggak akan pernah mau pacaran, kah?” tanyanya.

Gadis di hadapannya itu mengerucutkan bibirnya. “Actually—i wanna be someone's pretty girlfriend too,” sahut Adel. Dan Dhimas tahu, gadis itu mengucapkannya dengan penuh harap.

Masih bersisa senyum kecil di ujung bibir Dhimas setelah ia membaca pesan terakhir Adelia. Pemuda itu bahkan tak tahu apa yang diwakili seulas senyumnya barusan. Kepuasannya karena berhasil menjahili Adel, atau justru perasaan yang kini terus menggelitik perutnya. Dhimas terkekeh setelahnya, menertawakan dirinya sendiri. Mungkin benar kata Ita, apa yang sedang berusaha ia hindari itu sama sekali tak bisa ditampik keberadaannya.

Mendadak wajahnya murung. Banyak elemen tanda tanya merasuki otaknya sekarang. Ucapan Aghni yang ia terima lewat ponselnya itu membuat Dhimas berpikir lebih keras.

Yang biasanya ahli dalam beginian kan elu, kenapa skrg lu malah kayak clueless gini?

Benar juga. Harusnya Dhimas tidak berbangga ketika teman-temannya menyematkan predikat dokter cinta—atau bahkan ahlinya dalam masalah percintaan, sebab nyatanya, ia pun sama bodohnya. Bahkan mungkin lebih bodoh dibanding yang lain.

Helaan napas menguar dari satu-satunya insan di ruangan. Matanya terpaku pada layar ponsel yang kini hitam sebab terkunci otomatis. Asik melamun, dunia pun jahil membawakannya seorang Haris yang datang menggebrak pintu sekaligus kesadaran Dhimas.

BRAK!

“Woi, ketumpek! Tanda tangan lagi, dong! Yang kemaren direvisi lagi. Gue sebel banget, anjing! Om lu, tuh!” umpat Haris. Pria jangkung itu dengan tergesa meraih kursi kosong di sebelah Dhimas, tak lupa melonggarkan dasinya yang terasa mencekik. Emosi jiwa raganya, pening kepalanya sehabis berdiskusi dengan kesiswaan perihal proker melantik anggota OSIS/MPK yang baru. Mengernyit adalah respons pertama lawan bicaranya, “Siapa om gue?”

“Indra.”

“AMIT-AMIT!” sahut Dhimas spontan, memantik kekehan ringan milik Haris. “kenapa lagi emangnya yang kemarin?”

“Suruh ganti tema, coba! Orang gila emang, tuh. Untung Pak Asep sekarang bae sama kita, Pak Asep yang bilang nggak usah ganti tema. Suruh kembangin lagi aja penjabaran tema yang kemarin, lagian mana cukup, sih, waktunya kalo harus ngulang lagi dari awal anjir!”

Freak, anjir, si Indra. Ada dendam apa ya itu orang sama kita?” balas Dhimas, “lagian lu aneh juga, sih, Ris! Ngapain ngajuin proposal pas ada dia?”

“Jeeh, tadinya gue cuma mau diskusi sama Pak Asep. Nanyain udah bener apa belom sekalian minta tanda tangan, biar besok pagi udah bisa langsung ke Bapak. Tapi tiba-tiba Pak Indra dateng terus ikut-ikutan. Sebel banget gue jadinya,” kesal Haris lagi. “Itu barusan gue kerjain lagi langsung pake komputer kesiswaan, untung aja file-nya ada di HP gue. Gue kirim e-mail terus langsung gue edit, gue print.

“Buru-buru banget apa?” tanya Dhimas seraya matanya fokus memindai setiap baris huruf yang tercetak di proposal. Di sebelahnya Haris mengangguk, “Iye. Mau nggak mau ngajuin ke Bapak harus besok, soalnya abis itu Bapak nggak ke sekolah sampe hari Kamis. Takut molor lagi, makanya disuruh selesain sekarang sama Pak Asep.”

Dhimas mengangguk paham. “Ya udah. Ini udah bener, kan, kata Pak Asep?” tanyanya yang disambut anggukan oleh Haris. “Gue tanda tangan, nih. Bae-bae jangan sampe ilang, mahal, nih! Besok-besok gue jadi artis lu akan gue kenain tarif satu tanda tangan maratusrebu

“Makin liar aja imajinasi lu gue liat-liat,” canda Haris. Dhimas terkikik seraya menandatangani berkas di hadapannya. Otomatis Haris menampar bahu sahabatnya itu pelan, “Jangan ketawa mulu, anjir, muncrat ituu! Jorok lu!”

“Mane—ngarang, lu!”

Selesai membubuhkan tanda tangannya, Dhimas menyerahkan kembali proposal ke tangan Haris. Bersamaan dengan itu, ponsel Dhimas yang tergeletak di meja itu bergetar. Layarnya kembali menyala, menampilkan notifikasi dari sebuah nama yang lantas membuat Haris menatapnya tajam.

Delia Dhimmmmm Ini koma berapaaa kurang keliatan heuheuehe

Takut-takut, Dhimas menatap Haris yang menatapnya intens. “Sejak kapan lo chat-an sama Adel? Rutin lo ngobrol sama dia?”

“Tuker-tukeran soal doang—eh, maksudnya gue bantuin dia ngerjain soal MTK. Terus di les-an gue jelasin, gitu.”

Haris tak menanggapi, pria dengan wajah dingin itu masih enggan menerima alasan Dhimas begitu saja. Sepersekian detik Haris memalingkan wajahnya, kemudian kembali menatap Dhimas seiring otaknya mengingat sesuatu. “Gue mau nanya, deh,” ucap Haris. Membuat Dhimas otomatis meneguk ludahnya sendiri.

“Lo suka sama Adel?” tembak Haris, “apa enggak?”

Tak ada respons langsung dari Dhimas. Pemuda itu hanya diam dan mati-matian menghindari tatapan Haris. Dhimas bahkan berkali-kali mengubah posisi duduknya, persis seperti orang yang sedang gelisah. Melihat gelagat itu, Haris otomatis tersenyum miring. “Gue ganti, deh, pertanyaannya. Lo suka, ya, sama Adel?”

“Nggak.”

Haris tertawa meremehkan, “Kalo lo beneran nggak suka, lo nggak akan gelisah milih jawaban untuk pertanyaan gue yang pertama.”

Shit. Haris dengan mulut tajamnya itu akan selalu ampuh memecut kesadaran siapapun yang mendengarnya. “Apa, sih, yang bikin bingung?”.

”.... Banyak.”

Sontak Haris mengangguk. Sejahat apapun mulutnya, Haris masih punya hati nurani. Si antagonis ulung itu pun menangkap sorot mata Dhimas yang berubah sendu. “Emang lo pikir ini masuk akal, Ris?” tanya Dhimas tiba-tiba. “Gue aja nggak paham. Kayak—maksud gue, gue aja baru banget kenal dia? Apa ya, Ris—” ucapannya terhenti sesaat ketika empunya membasahi bibir, pula memilah kata dan resah yang ingin ia utarakan, “nggak tau. Bener-bener nggak masuk pikiran gue. Gue juga jadi takut salah langkah, lagi.”

“Paham,” ujar Haris. “Gue cuma mau bilang—jangan deketin Adel kalo lo sendiri masih unsure sama perasaan lo. Karena... Pasti ujungnya juga nggak akan bagus buat lo berdua, ini gue ngomong sebagai temen lo, juga temen Adel.”

Dhimas terdiam menyimak setiap tutur Haris. “Kalo soal nggak masuk akal—ya, emang lo pikir, gue suka sama Gia itu sebelumnya pernah terpikirkan di otak gue, kah? Sampe sekarang aja kadang gue masih suka amazed kalo pacar gue, tuh, orang kayak Gia,” lanjut Haris, “nggak semuanya perlu masuk akal, ege, Dhim. Tapi lu jadi cowok, tuh, kalo mau ya mau. Kalo enggak, ya enggak! Jangan maenin temen gue lu ya! Gue bom rumah lo ntar!”

“Apaan, sih? Galak lu!”

“Ya, iya, lah! Orang klemar-klemer kayak lu itu emang pantes digalakin!” ucap Haris. Setelahnya ia bangkit seraya merebut kembali proposal yang tergeletak di meja. “Udah, ah! Gue mau ke Pak Asep lagi. Jangan kebanyakan bengong, apalagi mikirin temen gue. Kesambet lu!”

“Paan, sih.”

Haris menampilkan senyum jahil, “Halah, suka kan lu sama Adel?”

“Paan, sih?” elak Dhimas. Sedetik kemudian ia kembali memanggil Haris, membuat temannya itu mengurungkan niatnya meraih kenop pintu.

“Ris,” panggilnya. . . . . . . . “Kalo iya, gimana?”

“Aay, Mas Damar minta maaf dong...”

Entah sudah berapa kali Damar mengulangi ucapannya pada seorang anak kecil yang kini meringkuk di pojok sofa, menutupi seluruh wajahnya dengan bantal yang lebih besar dari setengah tinggi badannya ketika duduk.

“Ay,” panggil Damar lagi. Pemuda itu benar-benar sungguh-sungguh untuk mendapatkan maaf dari Aay. Damar bahkan duduk bersimpuh di lantai, fokus menggelitik telapak kaki Aay seraya sesekali mencomot jempol kecil gadis itu. Tidak kapok meski wajahnya sudah kena tendang akibat refleks Aay ketika kakinya digelitik. “Mas Damar minta maaf. Itu adek temennya Mas Damar, waktu itu cuma main sebentar aja, kok. Nggak sengaja ke-foto.”

“Tetep aja! Nggak ada Aay-nya!”

“Ya, Aay, kan waktu itu nggak ada di sana, Ay...”

“Iya, Mas Damar nggak ajakin Aay, kan? Mas Damar nggak sayang Aay!”

“Nggak gitu....”

Satu lagi helaan napas berat terdengar dari Damar. Pria itu kini hanya memandangi bantal abu-abu yang menghalangi pandangannya akan Mazaya. Damar menatap nanar, mengapa rasanya seperti bertengkar dengan kekasihnya sendiri? Hari itu Damar tahu, berapapun usianya, semua perempuan sama saja.

“Mazayaa~” panggil Damar lembut. “Mazayaa~” panggilnya sekali lagi. Tak ada jawaban, namun pemuda itu tak menyerah. Toh, ia pernah memperjuangkan Aghni hingga keduanya kembali bersama, kan? Aay juga harusnya bisa ia perjuangkan.

“Aay marah ya? Aay nggak suka Mas Damar deket-deket Hau—” Damar terpaksa menggantung ucapannya lantaran Aay secara spontan menurunkan bantal yang menutupi wajahnya. Kedua matanya menatap Damar tajam, seakan-akan pedang yang siap menghunus Damar kapan saja. Maka Damar langsung mengerti, ia mengurungkan niatnya mengucap nama Haura secara lengkap. “Iyaa, nggak disebut. Aay nggak suka Mas Damar deket-deket dia?”

“Kenapa?”

“Ya, Aay sedih, lah! Mas Damar kan mas-nya Aay, masa mainnya sama yang lain? Mas Damar ketawa-ketawa sama dia, tapi Mas Damar mau buang Aay pake kapal laut—”

“Sekarang enggak, tuh? Mas Damar udah nggak mau buang Aay pake kapal laut, kan kita udah janjian!”

“Bohong! Mas Damar lebih sayang dia, kan? Mas Damar nggak sayang Aay—”

“Enggak, ih, kenapa Aay mikirnya begitu?” tanya Damar, “waktu di foto itu Mas Damar ketawa karena lagi ngetawain temen Mas Damar. Dia mau lompat—eh, keserimpet sendiri karena talinya kependekan. Itu yang lagi lompat kakaknya dia, makanya dia sama Mas Damar dulu. Gitu, Ay. Lagian, emang kata siapa Mas Damar nggak sayang Aay? Sayang banget tau!”

“Kata Mama, kalo puasa nggak boleh bohong.”

Sabar, Damar, sabar. Tunggu tujuh kali lagi dia begini, baru kita lempar ke Laut Mati, batin Damar. Namun, pemuda itu masih belum menyerah. “Ay,” panggilnya, “Mas Damar nanya tadi belum dijawab. Ada yang bilang Mas Damar nggak sayang Aay?”

Gadis itu hanya diam. Memilih untuk memainkan ujung gaunnya, beralih pada kuku-kuku mungilnya yang baru dipotong Damar tadi pagi. “Tadi pagi pas Aay sampe sini, Mas Damar yang bilang gitu.”

“Kapan? Enggak!”

Bantal abu-abu itu akhirnya membuka persembunyian Aay. Nampak wajah mungil yang mengkerut lucu, “IYA! TADI AAY BANGUNIN MAS DAMAR, MAS DAMAR MARAH-MARAH!”

“Ya, Aay, sih! Banguninnya lompat ke perut Mas Damar gitu. Kan, Mas Damar kaget jadinya!”

“Ihhh, terus Aay bangunin pelan-pelan juga Mas Damar marah-marah tadi!”

“Nggak maraaah, Aaay, cantik, manis, baik, pinterrrr,” pungkas Damar. Nada bicaranya melembut sekarang, kontradiksi dengan kepalanya yang sudah mengebul menahan emosi.

Kini telunjuk kecil Mazaya menuding Damar tepat di batang hidungnya, “Itu matanya Mas Damar dari tadi kayak gitu kalo liat Aay!”

“Gitu gimana?”

“Muter-muter!”

“Astaga...” Damar resmi hilang akal. Well, maafkan ekspresi wajahnya yang kadang benar-benar garang ketika mengantuk. Tapi, ia sama sekali tidak pernah bermaksud memandang Aay dengan mata muter-muter seperti yang Aay bilang.

“Ya udah, gini, deh. Mas Damar harus apa, nih, biar Aay maafin Mas Damar? Aay maunya gimana?”

Hening. Aay sibuk memilin ujung gaunnya sendiri dan memilih untuk mengabaikan Damar dengan pertanyaannya. Sekali lagi Damar menggelitik telapak kaki Aay, membuat gadis itu sontak menarik kakinya sendiri. Ada sedikit gelak yang nyaris lolos dari pertahanan Aay dan Damar berhasil menangkapnya. Keduanya bahkan nyaris bertukar senyum kalau-kalau Aay tidak segera ingat bahwa ia sedang marah.

“Ay,” panggil Damar. Gadis itu mendongak sebagai respons. “Mau jalan-jalan nggak? Ngabuburit, bentar lagi Aay buka puasa, nih. Sekalian cari makanan buat Aay makan.”

Aay masih diam, matanya itu menerawang ke atap mencari jawaban. Telunjuknya diketukkan di dagu, dan kini kakinya disilangkan. Damar tahu ini akan berlangsung lama, maka pria itu menanyakan Aay sekali lagi. “Ayo, mau nggak?”

Suara Damar yang kembali terdengar membuat arah pandang Aay kini terfokus pada sosok pemuda itu. “Nggak mau.”

“Kenapa?”

“Rambutnya Mas Damar BAUK!”

Entah sudah berapa kali Damar membuang napas seraya memijit batang hidungnya, pemuda berlesung pipi yang digadang memiliki sabar paling lapang itu bahkan nyaris menyerah menghadapi Aay. Gadis kecil itu memeriahkan suasana sejak sahur, bahkan Damar sendiri terkejut dengan kehadiran Aay saat pukul tiga pagi tadi. Secara tiba-tiba, Aay menerobos masuk dan lompat ke atas perut Damar yang masih melanjutkan tidur di atas sofa. Membuat Damar harus merasakan pening akibat terbangun secara tiba-tiba. Belum lagi, Damar harus meladeni Aay yang energinya bagai baterai dengan daya penuh. Rasanya kepalanya akan pecah sebentar lagi.

Setengah sepuluh pagi, Damar sudah terkulai lemas di sofa. Berbanding terbalik dengan Mazaya yang kini melakukan pentas kecil-kecilan di depan televisi. Setelah menghabiskan berepisode-episode seri Masha and The Bear, Aay kini memutar lagu-lagu dari film Frozen dan menari tanpa henti.

Tahu usahanya melarang hanya akan berakhir sia-sia, Damar memilih untuk mengabaikan dan menonton dari jauh. Sepertinya Aay juga sudah lelah, mengingat gadis itu telah menampilkan tiga lagu non-stop. Aay menghela napasnya lelah seraya mengusap keringat biji jagung di dahinya. Pada akhirnya ia berjalan lesu menghampiri Damar yang memandangnya dengan mata super ngantuk.

“Mash Damar,” panggilnya. Damar yang nyaris terpejam itu menanggapi dengan alis terangkat. “Udah? Capek?”

Aay mengangguk dengan bibir yang mengerucut. “Haus.”

Damar otomatis memejamkan matanya. Ia tahu sesuatu—kekacauan akan segera dimulai.

“Sabar, belum azan,” balas Damar seadanya. Tanpa sadar, rupanya Damar mulai terlelap. Satu detik, dua detik, lima detik, sejujurnya Damar mulai menjemput kenikmatan hakiki sebab kantuknya sedikit terbayar. Hingga tiba-tiba—

PLAK! Sebuah tamparan keras pada pipi Damar membuatnya terkejut setengah mati. Kantuknya itu bahkan segan untuk kembali menduduki tahtanya. Seketika Damar mengumpat dalam hati. Ya Tuhan, semoga tidak hilang pahala puasanya.

“Kenapa, Ay?”

“Jangan tidur! Kenapa tidur? Mash Damar nggak mau main sama Aay?”

“Nggak gitu...”

Pasrah, Damar akhirnya memilih untuk menegakkan duduknya. Pemuda itu kemudian mendudukkan Aay di atas pangkuannya. “Ya udah sini, main. Mau main apa?”

“Nggak tau,” jawab Aay. “Nonton yang lain aja mau?” tanya Damar lagi. Gadis kecil itu kembali menggeleng.

“Terus Aay maunya apa?”

“Minum. Aay haus.”

“Belum azan, Aay. Tunggu ya, sebentar lagi. Nanti kalo azan baru boleh minum.”

“Kapan azannyaaaa?” Aay bertanya dengan raut wajah yang kian mengkerut. Damar yakin gadis ini akan segera berubah menjadi ratu kegelapan. Sebentar lagi dunianya akan hancur. Damar menghela napasnya, berusaha setengah mati agar tidak ada lagi umpatan yang keluar dari dirinya. “Sebentar lagi. Nanti Mas Damar kasih tau kalau Aay udah boleh minum.”

“Oke.”

Hah? Apa itu barusan? Berkali-kali Damar mengerjapkan matanya, pria itu pun menajamkan telinga. Memastikan bahwa dirinya tidak salah dengar. Semudah itu kah sekarang Aay menurut padanya? Bingung, curiga, tapi Damar memilih untuk tak ambil pusing. Mungkin memang benar keduanya kini sudah bersahabat.

Kini Aay hanya diam di atas pangkuan Damar. Anteng. Suasana ruang tamu hening untuk sesaat. Damar hanya diam dan membiarkan Aay memainkan ponselnya yang sebelumnya dengan sengaja ia geletakkan di sofa. Gadis itu menyalakannya, lalu kembali mematikan layar ponsel Damar. Berlanjut dengan membolak-balik ponsel biru tua berselimut casing hijau itu. Sering kali ponselnya itu terjatuh sebab ukurannya lebih besar dari tangan Aay, namun Damar benar-benar tidak peduli. Apapun asal Mazaya tenang untuk beberapa saat.

“Ini foto Mas Damar sama Kak Ni?”

“Iya.”

“Kok Aay nggak diajak foto?”

“Kan waktu itu Aay nggak ada di sekolah Mas Damar. Nanti ya, kita foto bertiga.”

“Kok Kak Ni nggak ke sini?”

“Lagi pergi sama mama papanya,” jawab Damar singkat, yang segera dibalas Aay dengan 'oh' yang panjang.

“Ini belum boleh minum, Mas?”

“Belum, tunggu sebentar lagi nanti Mas Damar kasih tau.”

“Oke.”

Lagi-lagi Damar mengangguk. Suasana sekitarnya kembali hening. Namun, tidak sampai tiga puluh detik, Aay kembali bertanya. “Mas, sekarang udah boleh belom?”

“Ya belum, Ay. Belum azan.”

“ISHHH, KAPAN, SIH!? Aay hausss! Laper!”

“Jam dua belas azannyaa! Sekarang baru jam berapa, tunggu sebentar lagi, Aay, cantik, manis, pinteerrrr!”

Mulai kesal, Damar mulai hilang kesabaran untuk menjawab Aay dengan singkat dan tenang.

“Mas Damar azan duluan aja! Nanti Aay minum!”

“Mana bisa begitu!?” ucap Damar kesal, namun sejujurnya pemuda itu juga ingin tertawa akibat ide ngawur Aay. “Udah, jangan ditanyain terus azannya, Aay. Nanti dateng sendiri kalo udah waktunya. Kalo ditungguin terus jadinya makin berasa. Sini, sini, nonton video lucu aja di hp Mas Damar.”

“Emang ada?”

“Banyaakkk!”

Maka dengan segera Damar mengambil alih ponselnya. Membukakan aplikasi Instagramnya yang berisi reels kocak hasil kiriman Ojan atau Dhimas—atau Aghni. Dan sepertinya rencananya itu merupakan satu yang paling baik. Aay tak lagi menanyakan kapan waktu berbuka untuknya. Keduanya kini sibuk menertawakan banyak video lucu. Aay bahkan terkikik hingga batuk-batuk. Sementara Damar tetap dengan kekehan halusnya.

“Lagi, Mas, lagi!” ucap Aay antusias hingga tanpa sadar gadis itu malah menekan tombol profil Instagram milik Damar. Alih-alih menemukan video lucu lainnya, mata Aay malah menangkap postingan Damar yang membuat hatinya retak seketika. Foto Damar bersama Haura, yang diambil ketika ia bersama teman-temannya yang lain menghadiri pesta ulang tahun Haura.

“Itu siapa, Mas?” tanya Aay. Tatapannya mendadak tajam. Wajahnya kini sepenuhnya tertoleh pada Damar, tak ingin melepas pandangannya dari seseorang yang ia anggap kakak sendiri. “Adeknya temen Mas Damar. Namanya Haura, Aay mau kenalan?”

“Kok Mas Damar main sama dia? Mas Damar mau jadi mas-nya dia juga?”

“Enggak...”

“Bohong, itu buktinya nggak ada foto Aay tapi ada foto dia?”

“Ay—”

“Udah, lah, Mas. Aay mau pulang aja. Nggak mau main sama Mas Damar lagi! Rambut Mas Damar juga bau, Mas Damar jelek!”

“MAU KE MANA, HEI!? DI RUMAH SENDIRIAN KAGAK ADA ORANG!”

“MAU CARI MAS BARU!!!!”

Entah sudah berapa kali Damar membuang napas seraya memijit batang hidungnya, pemuda berlesung pipi yang digadang memiliki sabar paling lapang itu bahkan nyaris menyerah menghadapi Aay. Gadis kecil itu memeriahkan suasana sejak sahur, bahkan Damar sendiri terkejut dengan kehadiran Aay saat pukul tiga pagi tadi. Secara tiba-tiba, Aay menerobos masuk dan lompat ke atas perut Damar yang masih melanjutkan tidur di atas sofa. Membuat Damar harus merasakan pening akibat terbangun secara tiba-tiba. Belum lagi, Damar harus meladeni Aay yang energinya bagai baterai dengan daya penuh. Rasanya kepalanya akan pecah sebentar lagi.

Setengah sepuluh pagi, Damar sudah terkulai lemas di sofa. Berbanding terbalik dengan Mazaya yang kini melakukan pentas kecil-kecilan di depan televisi. Setelah menghabiskan berepisode-episode seri Masha and The Bear, Aay kini memutar lagu-lagu dari film Frozen dan menari tanpa henti.

Tahu usahanya melarang hanya akan berakhir sia-sia, Damar memilih untuk mengabaikan dan menonton dari jauh. Sepertinya Aay juga sudah lelah, mengingat gadis itu telah menampilkan tiga lagu non-stop. Aay menghela napasnya lelah seraya mengusap keringat biji jagung di dahinya. Pada akhirnya ia berjalan lesu menghampiri Damar yang memandangnya dengan mata super ngantuk.

“Mash Damar,” panggilnya. Damar yang nyaris terpejam itu menanggapi dengan alis terangkat. “Udah? Capek?”

Aay mengangguk dengan bibir yang mengerucut. “Haus.”

Damar otomatis memejamkan matanya. Ia tahu sesuatu—kekacauan akan segera dimulai.

“Sabar, belum azan,” balas Damar seadanya. Tanpa sadar, rupanya Damar mulai terlelap. Satu detik, dua detik, lima detik, sejujurnya Damar mulai menjemput kenikmatan hakiki sebab kantuknya sedikit terbayar. Hingga tiba-tiba—

PLAK! Sebuah tamparan keras pada pipi Damar membuatnya terkejut setengah mati. Kantuknya itu bahkan segan untuk kembali menduduki tahtanya. Seketika Damar mengumpat dalam hati. Ya Tuhan, semoga tidak hilang pahala puasanya.

“Kenapa, Ay?”

“Jangan tidur! Kenapa tidur? Mash Damar nggak mau main sama Aay?”

“Nggak gitu...”

Pasrah, Damar akhirnya memilih untuk menegakkan duduknya. Pemuda itu kemudian mendudukkan Aay di atas pangkuannya. “Ya udah sini, main. Mau main apa?”

“Nggak tau,” jawab Aay. “Nonton yang lain aja mau?” tanya Damar lagi. Gadis kecil itu kembali menggeleng.

“Terus Aay maunya apa?”

“Minum. Aay haus.”

“Belum azan, Aay. Tunggu ya, sebentar lagi. Nanti kalo azan baru boleh minum.”

“Kapan azannyaaaa?” Aay bertanya dengan raut wajah yang kian mengkerut. Damar yakin gadis ini akan segera berubah menjadi ratu kegelapan. Sebentar lagi dunianya akan hancur. Damar menghela napasnya, berusaha setengah mati agar tidak ada lagi umpatan yang keluar dari dirinya. “Sebentar lagi. Nanti Mas Damar kasih tau kalau Aay udah boleh minum.”

“Oke.”

Hah? Apa itu barusan? Berkali-kali Damar mengerjapkan matanya, pria itu pun menajamkan telinga. Memastikan bahwa dirinya tidak salah dengar. Semudah itu kah sekarang Aay menurut padanya? Bingung, curiga, tapi Damar memilih untuk tak ambil pusing. Mungkin memang benar keduanya kini sudah bersahabat.

Kini Aay hanya diam di atas pangkuan Damar. Anteng. Suasana ruang tamu hening untuk sesaat. Damar hanya diam dan membiarkan Aay memainkan ponselnya yang sebelumnya dengan sengaja ia geletakkan di sofa. Gadis itu menyalakannya, lalu kembali mematikan layar ponsel Damar. Berlanjut dengan membolak-balik ponsel biru tua berselimut casing hijau itu. Sering kali ponselnya itu terjatuh sebab ukurannya lebih besar dari tangan Aay, namun Damar benar-benar tidak peduli. Apapun asal Mazaya tenang untuk beberapa saat.

“Ini foto Mas Damar sama Kak Ni?”

“Iya.”

“Kok Aay nggak diajak foto?”

“Kan waktu itu Aay nggak ada di sekolah Mas Damar. Nanti ya, kita foto bertiga.”

“Kok Kak Ni nggak ke sini?”

“Lagi pergi sama mama papanya,” jawab Damar singkat, yang segera dibalas Aay dengan 'oh' yang panjang.

“Ini belum boleh minum, Mas?”

“Belum, tunggu sebentar lagi nanti Mas Damar kasih tau.”

“Oke.”

Lagi-lagi Damar mengangguk. Suasana sekitarnya kembali hening. Namun, tidak sampai tiga puluh detik, Aay kembali bertanya. “Mas, sekarang udah boleh belom?”

“Ya belum, Ay. Belum azan.”

“ISHHH, KAPAN, SIH!? Aay hausss! Laper!”

“Jam dua belas azannyaa! Sekarang baru jam berapa, tunggu sebentar lagi, Aay, cantik, manis, pinteerrrr!”

Mulai kesal, Damar mulai hilang kesabaran untuk menjawab Aay dengan singkat dan tenang.

“Mas Damar azan duluan aja! Nanti Aay minum!”

“Mana bisa begitu!?” ucap Damar kesal, namun sejujurnya pemuda itu juga ingin tertawa akibat ide ngawur Aay. “Udah, jangan ditanyain terus azannya, Aay. Nanti dateng sendiri kalo udah waktunya. Kalo ditungguin terus jadinya makin berasa. Sini, sini, nonton video lucu aja di hp Mas Damar.”

“Emang ada?”

“Banyaakkk!”

Maka dengan segera Damar mengambil alih ponselnya. Membukakan aplikasi Instagramnya yang berisi reels kocak hasil kiriman Ojan atau Dhimas—atau Aghni. Dan sepertinya rencananya itu merupakan satu yang paling baik. Aay tak lagi menanyakan kapan waktu berbuka untuknya. Keduanya kini sibuk menertawakan banyak video lucu. Aay bahkan terkikik hingga batuk-batuk. Sementara Damar tetap dengan kekehan halusnya.

“Lagi, Mas, lagi!” ucap Aay antusias hingga tanpa sadar gadis itu malah menekan tombol profil Instagram milik Damar. Alih-alih menemukan video lucu lainnya, mata Aay malah menangkap postingan Damar yang membuat hatinya retak seketika. Foto Damar bersama Haura, yang diambil ketika ia bersama teman-temannya yang lain menghadiri pesta ulang tahun Haura.

“Itu siapa, Mas?” tanya Aay. Tatapannya mendadak tajam. Wajahnya kini sepenuhnya tertoleh pada Damar, tak ingin melepas pandangannya dari seseorang yang ia anggap kakak sendiri. “Adeknya temen Mas Damar. Namanya Haura, Aay mau kenalan?”

“Kok Mas Damar main sama dia? Mas Damar mau jadi mas-nya dia juga?”

“Enggak...”

“Bohong, itu buktinya nggak ada foto Aay tapi ada foto dia?”

“Ay—”

“Udah, lah, Mas. Aay mau pulang aja. Nggak mau main sama Mas Damar lagi! Rambut Mas Damar juga bau, Mas Damar jelek!”

“MAU KE MANA, HEI!? DI RUMAH SENDIRIAN KAGAK ADA ORANG!”

December, 22nd 1999

The reason you were born, Got me thinking for days to finally got an answer to your simple question. Some said that life's a book unfold in chapters, I'd say that the universe knows what it wants. The reason you were born, 'Cause the universe wants you to start writing chapter one.

Full moon rising, smiles appearing, laughter bursting, maybe some tears were falling. They're there, welcoming a bundle of joy. The strongest one, the coolest one, the very best that could ever exist. Just as your own saying, you were born to be the first born. You were born to be the one, the champ, the winner of all time.

You were born to take the lead, To be the Jack Frost to every children, To be the Nick Wilde to every Judy Hopps, To be the summer to every Olaf, To be the pixie dust to every fairies, To be the betelgeuse that falls right into place, To be the plot twist that keep me on the edge of my seat when i was so ready to close my book.

Cheers to December 1999, End of the year End of a century Beginning of a warrior's journey Cheers to December 2022, End of the year End of a misery Chapter one, for the two lost souls on finding each other.

Cheers to December 22nd, 1999 The day you became a magical gift to the one who gave birth to you. I'm glad it was you. As a woman, i'd say that you're the exact kind of person i expected to be born on mother's day. I feel like you were born to show me that good things do take time.

Three years apart or an hour apart, I'm glad that we could finally find our way to each other.

Happy birthday, love. You're definitely a shooting stars that shines on my sky every single night. Miracle doesn't happen that often, but i bet your existence is on the list. . . . . . . P.s : Love you, Yesterday, today, and so on.

The reason you were born, Got me thinking for days to finally got an answer to your simple question. Some said that life's a book unfold in chapters, I'd say that the universe knows what it wants. The reason you were born, 'Cause the universe wants you to start writing chapter one.

Full moon rising, smiles appearing, laughter bursting, maybe some tears were falling. They're there, welcoming a bundle of joy. The strongest one, the coolest one, the very best that could ever exist. Just as your own saying, you were born to be the first born. You were born to be the one, the champ, the winner of all time.

You were born to take the lead, To be the Jack Frost to every children, To be the Nick Wilde to every Judy Hopps, To be the summer to every Olaf, To be the pixie dust to every fairies, To be the betelgeuse that falls right into place, To be the plot twist that keep me on the edge of my seat when i was so ready to close my book.

Cheers to December 1999, End of the year End of a century Beginning of a warrior's journey Cheers to December 2022, End of the year End of a misery Chapter one, for the two lost souls on finding each other.

Cheers to December 22nd, 1999 The day you became a magical gift to the one who gave birth to you. I'm glad it was you. As a woman, i'd say that you're the exact kind of person i expected to be born on mother's day. I feel like you were born to show me that good things do take time.

Three years apart or an hour apart, I'm glad that we could finally find our way to each other.

Happy birthday, love. You're definitely a shooting stars that shines on my sky every single night. Miracle doesn't happen that often, but i bet your existence is on the list. . . . . . . P.s : Love you, Yesterday, today, and so on.

Adelia melirik jam tangan hitam yang melingkari lengan kirinya seraya mengeluh. Tangan kanannya otomatis menggaruk kepalanya yang tak gatal, membuat kunciran rambutnya yang sudah tak karuan itu kian berantakan. Pukul setengah sembilan malam, dan bimbelnya baru saja usai. Seringkali terpikir di benaknya, adakah jaminan untuk hari yang cerah setelah lulus SMA untuk membayar kerja kerasnya ini? Adelia bahkan tidak tahu apakah dirinya bekerja keras, materi saja tidak ada yang masuk ke otak. Entahlah, mungkin sebagian orang melakukan rutinitas seperti ini hanya untuk menyenangkan orang tua. Dan Adel adalah salah satunya.

Gadis itu menghela napasnya untuk kesekian kali. Ponselnya menampilkan pemberitahuan baterai rendah, penampilannya berantakan, matanya mengantuk, dan perutnya keroncongan. Satu tujuannya, pulang. Satu juga permasalahannya, Adel tidak membawa kendaraan sendiri. Kakinya menendang kerikil kecil untuk melampiaskan sedikit frustrasinya. Tangannya tergerak membuka aplikasi ojol untuk memesan kendaraan pulang, namun gerakannya terhenti kala sebuah suara mengejutkannya.

Kepalanya terdongak, matanya yang sudah mengantuk mendadak kembali cerah seiring muncul sosok menawan di hadapannya. “Balik masapa? Dijemput nggak?”

“Ini mau pesen,” jawab Adel singkat.

“Bareng gue aja mau nggak?” tanya Dhimas, pemuda yang membuat wajah Adel sumringah itu.

“Yang serius lu?”

“Iya, gue sekalian mau ke Haris. Tadi gue lupa tanda tangan proposal proker dia,” balas Dhimas lagi. Wajahnya serius, namun Adel tak pernah berhenti gemas. Rasanya memanggilnya mochi man adalah sebuah keputusan tepat.

“Ya udah,” ucap Adel disertai anggukan. Tumpangan aman, Adel memasukkan ponselnya ke dalam saku. Tidak jadi memesan ojol sebagaimana niatnya sebelumnya. Gadis itu baru saja hendak membututi Dhimas menuju parkiran. Namun pria dengan ransel hitam dan jaket abu-abu bergaris putih itu menahan langkahnya. “Tunggu sini aja, nanti gue yang ke sini.”

“Oke.”

“Jangan sendirian nunggunya, Deli! Sanaan dikit, noh, deket komplotannya Aduy. Nanti gue balik lagi, nanti gue klakson tiga kali,” ujar Dhimas halus. Ucapannya selesai, namun pria itu tak bergerak dari tempatnya. Alias Dhimas masih memandangi Adel, bermaksud mengawasi gadis itu hingga ia berada di tempat aman. Namun, alih-alih bergerak ke tempat yang Dhimas maksudkan, Adel justru terdiam seraya menatap Dhimas dengan tatapan bingung.

Sekon berikutnya gadis itu gelagapan, tersadar bahwa Dhimas bukan memperhatikannya. Melainkan pemuda itu menunggunya beranjak. “Oh, lu nungguin gue ke sana, ya?”

Sebuah kekehan halus meluncur dari bibir Dhimas. “Iya, Deliiii.”

“Oke.”

krruukkk krruuukk

Belum ada satu langkah kakinya bergerak, Adel sudah harus menahan malu untuk kesekian kalinya di hadapan seorang Dhimas Wijaya. Seketika gadis itu memegangi perutnya yang dengan sangat tidak tahu malunya, berbunyi pada saat yang tidak tepat. Kedua mata Adel membulat, sementara Dhimas memandang ke arahnya terkejut. Sekilas, Adelia menangkap seulas senyum simpul yang manis. Pasti pemuda itu berniat mengejeknya setelah ini.

Dhimas memalingkan wajah untuk sesaat. Sekon berikutnya pemuda itu kembali menatap Adel dan kembali bersuara. “Del, jawab cepat. Kalo nggak jawab gue sentil!” ucapnya, sebelah tangan Dhimas bahkan sudah stand by di depan kening Adel. Bersiap menyentil dahinya, membuat gadis itu terperangah sekaligus ketakutan.

“Lo suka makan apa?” tanya Dhimas lagi.

“Hah? A-ayam geprek!” jawab Adel spontan. Gadis itu baru bisa menghela napas lega ketika Dhimas tersenyum puas seraya menurunkan 'senjata'-nya yang hampir ditembakkan ke kening Adel.

“Waktu itu lo ulang tahun, gue nggak sempet bawain kado. Haris bilangnya dadakan, sih! Hari ini aja gue kadoin ayam geprek, mau nggak?” tawar Dhimas. What a smooth move.

“Hah?”

Demi Tuhan. Adelia hanya terlatih menghadapi lelaki yang suka bicara kasar, senang menghinanya di depan umum, dan mempermalukan dirinya. Menghadapi Dhimas rasanya seperti sedang menghadapi ujian dadakan yang materinya sama sekali tidak Adel ketahui. Gadis itu akan selalu kikuk dan tergagap.

“Mau nggak?” tawar Dhimas lagi, kali ini dengan sebelah alis yang terangkat serta binar mata yang menyorot tepat ke arah dua bola mata Adel.

Gadis itu mendadak salah tingkah. Kedua pipinya berkhianat, mengembang tanpa diperintah. Sebelah tangannya refleks membenahi helaian rambut yang terlepas dari kunciran, menyelipkannya ke balik telinga. Adel terkekeh setelahnya. Sekon berikutnya gadis itu pun menjawab, “Boleh...”

Dhimas sekali lagi mengangguk pelan. “Tunggu situ ya, Deli. Nanti gue ke sana.”

“Baik, Kakanda. Adinda tunggu di sana, ya!”

PFFFTT! DEL, JANGAN LU BAWA-BAWA SEBUTAN ITU KE DUNIA LAIN!” seru Dhimas, “biar itu kita aja yang tau.”

“MONYET! AMBIL SONO MOTOR LU!!”


Keduanya berhenti di seberang restoran ayam geprek terdekat yang bisa Dhimas temui. Kondisi yang sangat ramai untuk ukuran restoran pinggir jalan pada jam semalam ini. Hingga membuat Dhimas harus memarkirkan motornya di minimarket seberang jalan. Maklum, mungkin karena ini restoran milik artis ternama. Sejujurnya Dhimas tidak terlalu suka ayam geprek, makan pedas saja tidak sanggup. Namun entah dorongan apa yang membuatnya rela berkorban untuk makan ayam geprek demi mengenyangkan perut seorang Adelia.

Dhimas meletakkan helmnya di kaca spion, tentu saja tak lupa merapikan sedikit rambutnya agar penampilannya tetap paripurna. Sekon berikutnya pemuda itu mengalihkan tatapannya ke arah seorang gadis bermata tajam. Entah emosi karena sudah terlalu lapar, atau otaknya memang sudah terlalu ngebul berpikir keras, Adel terlihat kesal ketika pengait helm Dhimas tak bisa terbuka. Lagi-lagi Dhimas terkikik geli, Adelia dan sejuta kelakuan ajaibnya memang tak pernah gagal memantik tawa dalam diri Dhimas.

“Sini, gue bantuin.”

“Bisa, kok!”

“Bener, bisa?”

“Bisa! Lu ngeremehin gue!?”

“Nggak ngeremehin, nanya.”

“KARATAN, NIHHH, PENGAIT HELMNYA!” ejek Adel. “Nggak karatan, Deli. Bukan begitu bukanya, sini makanya gue bantuin.”

“GUE BISA, DHIM!” Adel bersikeras. Dhimas memilih untuk mengangguk pasrah. Sekon berikutnya ia memilih untuk bertolak pinggang seraya sebelah tangannya bertumpu pada speedometer, memperhatikan Adel yang masih berusaha sendiri.

“Ini nggak bisa langsung gue buka aja, kah?” racau Adel. “Gimana, sih, Dhim?”

Demi mengefisiensikan waktu, Dhimas beranjak maju. Kedua tangannya meraih kepala Adel yang tertutup helm. Gadis itu berusaha mengelak, masih tidak ingin dibantu. Namun, Dhimas tetap memaksa Adel untuk diam.

“Diem, nanti makin lama lo makan. Lama-lama perut lo pentas gambang kromong.”

Alhasil Adel hanya bisa diam dan menurut. Cih, strong independent woman! Diketawain lu sama upil-upil di kolong meja lu! batin Adel.

Sebisa mungkin Adel menghindari menatap wajah Dhimas yang tak jauh darinya. Supaya jantungnya tidak berhenti sebelum waktunya, supaya—tidak ada lagi anggota keluarga atau teman dekatnya yang harus menanggung malu akibat kelakuan ajaibnya yang muncul ketika salah tingkah.

Klik! Secepat kilat dan semudah membalikkan telapak tangan, Dhimas berhasil membukakan helm yang dikenakan Adel. Pemuda itu lalu menyimpannya dengan rapi di dalam jok motor. “Bisa, kan? Kagak karatan, Del. Makanya apa-apa, tuh, pelan-pelan!” cibir Dhimas.

“Pilih kasih itu, helm-nya!”

“Alesan!” cibir Dhimas lagi.

Adel hanya mengerucutkan bibir. Sekon berikutnya gadis itu berbalik badan dan berjalan mendahului Dhimas. “Ayo!” seru Adel. Gadis itu nyaris melangkahkan kakinya membelah jalan raya yang sibuk, hingga sebuah motor dengan kecepatan tinggi membunyikan klakson yang mengejutkan Adel.

TIN! TIN!

“DELI!”

Ah, si ceroboh dan tukang grasak-grusuk ini memang tak pernah berpikir panjang. Terlampau salah tingkah, Adel bahkan sampai lupa untuk tengok kanan-kiri sebelum menyebrang. Beruntung Dhimas sempat menarik lengannya sebelum tubuh ringkihnya itu terserempet motor.

“Pelan-pelan, Deli!” ucap Dhimas. Napas pemuda itu sama tesenggalnya dengan milik Adel. Matanya menatap lurus pada milik Adel, namun kali ini lebih tajam disertai raut khawatir yang tercetak jelas. “Orang gila lu ya!? Kanan-kiri motor-mobil pada kenceng gitu maen nyebrang-nyebrang aja! Tunggu!” omel Dhimas.

Adel hanya diam. Bibirnya tertutup rapat, namun matanya tak lepas dari wajah Dhimas yang masih sedikit khawatir namun tetap fokus melirik kanan-kiri. Menunggu waktu yang tepat untuk menyebrangi jalan. Jangan lupakan tangan pemuda itu yang masih menggenggam erat lengan Adel, menjaganya seakan takut gadis itu akan kabur. Dan ketika situasi jalan sudah mulai sepi, Dhimas mengulurkan tangan kanannya guna mengisyaratkan pengendara motor lain untuk memberinya kesempatan menyebrang.

Sementara itu, entah akal sehatnya turut andil atau tidak, tangan kirinya melepaskan cengkeramannya pada lengan Adelia. Beralih menautkan jemarinya pada milik Adel yang mendadak dingin. Gadis itu bahkan sampai menelan ludah, matanya bahkan tak memandang ke depan kala melangkah. Melainkan pada tangannya yang digenggam erat oleh pemuda impiannya.

Diam-diam Adel hanya merapal doa dalam hati, agar telapak tangannya tak mendadak berkeringat. Pun, agar detak jantungnya yang berdentum keras itu tidak sampai pada telinga Dhimas.

Little did she know, Dhimas pun merapalkan doa yang sama.

In a world where life gave me shots of espresso, you came to me like a cup of palm sugar latte. The one that got me head over heels as i took the first sip. Got me wondering, what kind of magic potions are you?

You came to me like a palm sugar latte. Unexpectedly, surprisingly, unplanned. I found you when i took further steps than usual. I found you when i started to love myself fair enough. I found you when i was brave enough to try something new. To trust again—to feel again.

You came to me like a palm sugar latte. The one that got me thrilled as i took the first sip. The one that got me alive as i took the first sip.

Some would say “you're my cup of tea”, But in a world where life gave me shots of espresso, you're my cup of palm sugar latte.

A magic potions that wiped away those bitterness and got me focused on all the sweetness you gave me.

“Lo biasa beli cimol berapa, Del?”

HAH?

Maklum, Dhimas dan Adel sedang berboncengan di atas motor dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Efisiensi waktu, kata Dhimas. Adel sampai harus mendekatkan wajahnya ke bahu Dhimas agar dapat mendengar suara pemuda itu dengan lebih jelas.

“LO BIASA BELI CIMOL BERAPA!?”

“Ohhh, tujuh ribu!”

“HAH??”

Yeh, pikir Adel. Sekarang malah Dhimas yang tidak mendengar suaranya. “TUJUHHHHH REEBUUUUU!”

“Hah, apa, Del? Lo mau jadi ibu—dari anak-anak gue?”

TPAK! Dengan sekali pukulan kuat, Adel menampar kepala Dhimas yang tertutup helm hitam mengkilap. Membuat pemuda itu mengaduh kesakitan sekaligus tertawa renyah. “Jangan pukul-pukul lu! Nanti kita jatoh berdua gimana?” tanya Dhimas.

“YA, ELU! MULUT LU DIJAGA!”

Lagi-lagi Dhimas terkekeh, “Kenapa, sih, emang? Lo salting?”

“Kalo iya gimana, Dhim—EH, EH! KENAPA LU OLENG!?”

“ADA BATU, ADA BATU!”

Adelia memundurkan tubuhnya perlahan, menjauh dari Dhimas yang sedang memegang kendali motor. Mata dan bibirnya otomatis memincing, siap untuk menyinyir. “Salting, kan, lo!?”

Dhimas hanya diam. Tanpa Adel ketahui pemuda itu meneguk ludahnya sendiri. Jawabannya memang iya, bohong jika Dhimas tak merasakan percikan yang sama dengan yang Adel rasakan di dalam dadanya. Tetapi entahlah, ada yang membuat Dhimas tak bisa sepenuhnya membuka diri untuk menerima percikan yang lebih besar.

Selang beberapa lama, keduanya sampai di sebuah ruang terbuka hijau khusus untuk bermain anak-anak. Di depannya banyak sekali gerobak kaki lima menjajakan makanan ringan. Cimol, adalah salah satunya. Maka Dhimas segera memarkirkan motornya, kemudian melepas helm miliknya dan meletakannya di kaca spion. Dhimas menoleh ke arah Adel, kemudian menunduk menahan tawanya lantaran melihat Adel kesusahan melepas pengait helm yang ia kenakan. Tuhan, rasanya tak habis-habis tingkah seorang Adelia yang patut ditertawakan.

“Sini, sini,” ujar Dhimas. Tentu saja segera membantu Adel melepas helmnya dan menyimpannya dengan rapi di jok motor. Setelah ini keduanya tak perlu lagi mengenakan helm, sebab jarak menuju tempat les tidak perlu melewati jalan besar.

“Makasih,” ucap Adel. Kali ini dengan napas tertahan. Ada yang bergetar di dalam dadanya. Benaknya yang selalu mendamba kisah romansanya sendiri itu pun mulai bertanya-tanya, Ini, kah, jawaban dari segala doanya?

Dhimas mengangguk pelan menanggapinya. “Lo tunggu situ aja, gue yang beli. Mau cimol doang atau dicampur kentang goreng?”

“Cimol aja.”

“Bumbunya?”

“Pedes manis.”

“Nggak usah manis kali? Senyum lo—”

“Gue tampol kalo diterusin!” ancam Adel dengan mata melotot dan kepalan tangan yang begitu mengancam. Maka Dhimas tak melanjutkan lagi ucapannya. Ia memilih berjalan menuju gerobak cimol dan memesankan untuknya dan Adel. Sementara Adel memilih untuk mencari tempat duduk yang teduh dan nyaman untuk keduanya.

Tak perlu menunggu lama, Dhimas kembali dengan dua plastik berisi cimol berbumbu dan sekantung tahu sumedang. Membuat Adel mengernyit heran, “Kok lo beli tahu sumedang juga, Dhim? Buat apaan?”

“Buat maen chubby bunny, ya buat dimakan, lah, Adelia!”

Adel mau tak mau tertawa. “Laper, kan? Jam-jam pulang sekolah, tuh, emang laper banget, Dhim. Tenaga lo terkuras habis buat mikir. Padahal di sekolah juga gue nggak mikir... tapi kayaknya, stress juga butuh tenaga.”

“Apa kata lu, Del,” balas Dhimas seadanya, sebelum menyuapkan sebutir cimol ke dalam mulutnya. “Lo sering ke sini?” tanya Dhimas lagi, di sela kunyahannya.

“Iya,” jawab Adel.

“Ngapain?”

I don't know, this place is probably my hideout from everything. Kalo gue sedih, galau, pengen marah, pengen nangis, pengen sendiri? Gue pasti ke sini. Makan cimol,” jelasnya. “Lo punya tempat hideout juga?”

Dhimas mengangguk yakin. “Lapangan Banteng.”

“Jauh amat?”

“Emang itu tujuannya, kan? Menjauh dari semuanya?”

I see, you got a point, tho.

Lagi-lagi Dhimas memamerkan senyum manisnya. Not to mention pipinya yang semakin lucu karena menggembung mengunyah cimol. Membuat Adel gemas hingga ingin mencubitnya sampai merah. “Dulu gue silat, dari jaman SMP sampe SMA kelas sepuluh. Tapi abis itu udahan, soalnya gue males. Nah, latihannya di Lapangan Banteng. Gue di sana dari jaman masih tanah merah, sampe sekarang udah enak banget dan luas banget buat sekadar jalan-jalan. Gue suka banget bengong di sana terus liatin matahari tenggelem dari tribun. Keliatan jelas banget, lo kapan-kapan harus cobain.”

“Nggak, ah! Coba-coba takut ketagihan,” canda Adel. Memantik tawa keduanya untuk menguar lebih besar. “Gue di sini juga sama, sih. Tapi gue di sini lebih ke fulfilling something inside me gitu jiakh. Di sini, kan, suka banyak anak kecil main, somehow gue menyerap suara tawanya? Jadi energi baru buat gue. Gue seneng liatin anak kecil main, dialog mereka kayak ditulis sama penulis naskah ternama di Hollywood.”

PFFFT! UCAPAN LU—selalu se-ngasal itu, kah?”

“IYA! Sorry not sorry, sih. Soalnya di otak gue emang banyak banget kosakata yang kayak minta dikeluarin. Jadi gue langsung spit it out aja, sih. Tapi herannya orang pada ketawa, padahal gue nggak berniat ngelucu,” balas Adel jujur.

“Tapi emang lucu, Del. Jujur, sih, gue sampe ngikik banget waktu pertama kali chat-an sama lo. Soalnya kayak, balesan lo, tuh, nggak kepikiran aja sama otak gue,” sahut Dhimas lagi.

“LAHHH, LU PIKIR BALESAN LU KETAKER OTAK GUE!?”

“TUHH, BAHASA LU! KETAKER!? Gue bahkan nggak kepikiran ada kata takar!” Dhimas berucap menggebu-gebu, pemuda itu bahkan menunjuk Adel tepat di wajahnya. “Lu lucu banget, Del, sumpah. Coba besok daftar masuk AKPOL!”

“Lah, nggak jelas. Orang lucu disuruh masuk AKPOL, harusnya lo suruh gue masuk ini ege—”

“Apa?”

“Pasukan penari api Dufan.”

“DEL—”

“Maaf,” ucapnya. Ada sebuah tawa yang benar-benar mendesak ingin keluar di antara keduanya, namun sama-sama tertahan lantaran masih ada makanan yang harus dikunyah. Sampai-sampai rahang keduanya sakit, namun keduanya tidak peduli.

“Mau nggak?” tanya Dhimas, menawarkan sebutir tahu sumedang yang juga ia beli. Cimol keduanya itu sudah habis tak bersisa. Rasanya teman bicara yang tepat pun membuat makanan enak lebih cepat habis.

“Nggak, makasih. Lo aja main chubby bunny sendiri,” balas Adel. Sekon berikutnya, Dhimas mengangguk dan menyuapkan tahu sumedang ke dalam mulutnya. Tidak langsung dikunyah, melainkan dengan sengaja diletakkan di pinggir mulutnya. Pipi kanannya yang sudah mengembang menggemaskan itu kian menggembung, setelahnya Dhimas mengatakan “Chubby bunny!

Sontak Adel menoleh dan refleks menyemburkan tawanya. “APA, SIH!?”

“JEEEHH, TADI KATANYA SURUH MAIN CHUBBY BUNNY SENDIRI!?”

Adel tidak menanggapi, gadis itu masih harus menghadapi tawanya yang tak kunjung usai. Rasanya kecurigaan Adel terhadap Dhimas yang hadir untuk membuat hari-harinya lebih indah semakin kuat hingga hari ini. Sebab setiap kali pemuda itu—atau sekadar namanya hadir di depan mata, Adelia akan selalu mengembangkan senyumnya.

Satu, dua, empat tahu sumedang mulai memenuhi mulut Dhimas hingga kedua pipinya bagaikan membengkak seperti orang sakit gigi. Entah apa yang membuat Dhimas tetap melakukannya, mungkin iseng, mungkin penasaran, atau mungkin intentionally membuat Adel tertawa.

Chubby bun—HOEK!

“UDAH, ANJRIT! JOROK!”

Setelahnya keduanya terpingkal bersama. Dengan Adel yang menertawakan Dhimas, dan Dhimas yang menertawakan dirinya sendiri. Ulah siapa itu? Menggunakan tahu sumedang sebagai pengganti marshmellow untuk bermain chubby bunny? Sungguh sebuah aksi yang tidak dapat tertakar otak manusia, kalau kata Adel.

Tapi siapa yang peduli? Baik Dhimas dan Adelia, keduanya sama sekali tak menyesali apapun. Karena sore itu di bawah pohon teduh dengan sebungkus cimol dan tahu sumedang, they've shared a good laugh.