raranotruru

Adelia's POV

Jujur, hari ini akan masuk ke dalam daftar bad days gue. Waktu bimbel yang seharusnya jadi masa ketika gue sama Dhimas punya momen, malah jadi runyam. Sayangnya, gue juga nggak bisa nyalahin siapa-siapa. Mungkin Dhimas emang lagi ada masalah di sekolahnya, dan jadi kebawa bad mood sampe sekarang.

By the way, karena Dhimas nggak ngomong sama gue, gue jadi merhatiin sekitar. Katanya mau ada anak baru lagi, cewek. Semua anak cowok otomatis excited, kecuali Dhimas. Anaknya diem aja, sibuk main HP. Nggak peduli mau ada anak baru, kek, presiden, atau siapapun yang dateng hari ini.

Karena bosen, akhirnya gue coba ajak ngobrol Dhimas lagi. “Dhim, nanti lo langsung pulang?”

Nggak ada jawaban. Jadi gue coba panggil sekali lagi. “Dhimas.”

“Hm.”

“Dhim,” panggil gue sekali lagi. Bodo amat, pokoknya harus nengok. Bener aja, dia nengok. Tapi mendadak gue deg-degan karena... I've never seen his face being this serious, i mean his jaws are clenching. Not to mention his eyebrows telling me 'you better have something important to tell me, otherwise i'd punch you in the face.'

“Apa?” katanya datar.

“Nanti pulangnya boleh bareng nggak?”

Dhimas otomatis memalingkan wajah dan buang napas kasar. Ih, dia sebel sama gue, kah?

“Liat nanti.”

Kayaknya bener, dia sebel sama gue. Kenapa, ya?

Belom sempet gue mikirin dosa yang mungkin gue perbuat itu, tiba-tiba Kak Rizqa masuk kelas dengan seseorang yang mengikutinya. De javu, huh? Feels like the very first time i met him—again. Tapi kali ini lain, ada seorang perempuan yang ngikutin Kak Rizqa. Seperti biasa, Kak Rizqa nyuruh kenalan dan yada-yada-yada, yang gue tangkep cuma namanya Nazma. Dan dia dari SMA yang sama dengan—Julian.

Nazma udah dipersilakan duduk sama Kak Rizqa and what on earth— kenapa bangku kosong hari ini cuma ada di depan Dhimas? Mau nggak mau Nazma ngobrol sama Dhimas.

“Ini kosong?”

Gue mendapati Dhimas mendongak sebelum akhirnya mengangguk. Wajahnya udah nggak segarang tadi, malah sekarang otomatis jadi ramah banget kayak waktu dia pertama kali duduk di sebelah gue. Gosh, i don't like it—the situation between them. Entah kenapa rasanya gue mau nge-claim prosesi perkenalan itu hanya buat gue sama Dhimas. Being possessive all of sudden, huh, Adelia?

“Kosong, kok. Duduk aja.” DHIMAS WIJAYA I SWEAR TO GOD ITU TERLALU RAMAH. AND WHO TOLD YOU TO SMILE? Ngapain juga segala narik kaki gitu!? Kalo mau selonjoran, ya selonjoran aja! Emangnya dia tuan putri apa!?

“Makasih ya—”

“Dhimas,” katanya sambil senyum.

Dhim, tolong, lah. Jangan biarin ada orang lain lagi yang kepincut sama muka lo. Please, gue aja.

“Nazma,” kata Nazma. And—for god's sake— mereka berjabat tangan. Bisa nggak, nggak usah lama-lama gitu?

“Dari SMA mana, Dhim?”

I don't wanna hear it any longer. Males. Bete. Sebel. Kesel. Marah. Tau gitu mendingan gue nggak usah les aja. Bodo amat nggak ketemu Dhimas juga, yang penting nggak liat dia sama Nazma kayak gini.

Seriously, insecurity hit me like a train. I mean look at her—LOOK AT HER! Rambutnya panjang bergelombang, dikuncir dengan rapi. Unlike me, kunciran asal-asalan dengan anak rambut yang—mungkin udah punya cucu. Mukanya masih bening banget meskipun udah jam segini, nggak kayak muka gue yang udah kayak ampas tahu. Nazma cantik, kalem, dan mukanya adalah muka-muka orang pinter. Pipinya tembam but not too much, hampir sama kayak pipi mochi Dhimas—ah, i hate that fact. Idungnya mancung dan bagus.

Sorry banget kalau gue terlalu merhatiin Nazma secara detail, tapi gue merasa perlu. I mean, girls, have you ever gotten some kind of feelings—guts, that a girl likes your crush or boyfriend? Because i'm getting that kind of guts on Nazma. Kayaknya dia suka sama Dhimas, atau paling tidak, pasti udah ada ketertarikan sama Dhimas.

Gimana enggak? Dhimas tadi maju ke depan kelas untuk nulis cara buat nomor 15 Matematika. Dan Nazma yang tadinya duduk tegak mendadak menopang dagu dengan tubuhnya yang dimajukan? Dan setelah Dhimas balik lagi ke tempat duduknya, which is di belakang dia, Nazma senyum-senyum dan ngasih Dhimas tepuk tangan kecil karena jawabannya benar. Dhim, gue bisa ngasih komando orang satu tribun buat ngasih lo tepuk tangan, Dhim.

Gue liat juga Nazma dari tadi cari-cari cara untuk ngobrol sama Dhimas. Itu badannya bener-bener udah kayak gangsing, MUUUUUTERRRRRR AJAH.

“Dhim, nomor 23 A, ya?” “Dhim, lo udah nomor berapa?” “Dhimas ngitungnya cepet banget, dulu pernah sempoa, ya?” “Dhim, tau cara nomor 30 nggak? Ini gimana ya? Gue udah sampe sini tapi bingung.”

STOP RIGHT THERE, YOU LITTLE WITCH! Jangan bikin cowok gue ngajar-ngajarin lo gitu, dong! Curang banget! Udah pinter juga, nyebelin banget. Gue nggak boleh kalah, gue nggak boleh membiarkan ini terjadiiii!!

“Dhim, ajarin gue, dong!”

Yes, akhirnya Dhimas noleh ke gue. Perhatiannya ke gue semua sekarang. “Kenapa? Yang mana yang nggak bisa?”

“Gue baru nyatet sampe nomor 15. Sambil coba gue baca gitu, tapi nggak ngerti,” ucap gue.

Dhimas berdecak, nggak kayak biasanya. “Kan gue bilang, catet dulu aja semuanya, Del. Pahaminnya nanti aja. Kalo lo sambil pahamin gitu nanti catetannya keburu ilang di papan tulis. Udah catet dulu, nanti gue jelasin semuanya kapan-kapan.”

Terus abis itu dia balik lagi munggungin gue. Asik banget ngulik soal sama Nazma. They have the same passion, i guess. Math, which i could never master. Dan lo tau? Gue malu. Banget. Karena Nazma bener-bener masih mandangin gue dengan lekat, cenderung kasihan. Entah kasihan karena gue bego, kasihan karena Dhimas nyuekin gue, atau kasihan karena dua-duanya.

Dulu, waktu kecil Haris bilang ke gue untuk belajar yang bener. He was right, harusnya gue dengerin Haris dari dulu. For maybe i could've been a better daughter to Papa, someone he could be proud of.

For maybe i could've been a better friend to Dhimas, someone who wouldn't burden him every single day with long explanations of how to solve math.

Hari ini akan benar-benar masuk daftar hari buruk gue. Waktu les masih dua jam lagi, and i already wish i could turn into someone else. Someone smarter.

Maybe i could win over the pretty girls, but the smarter ones? I'd rather surrender.

Have fun, Mochiman.

Adelia's POV

Jujur, hari ini akan masuk ke dalam daftar bad days gue. Waktu bimbel yang seharusnya jadi masa ketika gue sama Dhimas punya momen, malah jadi runyam. Sayangnya, gue juga nggak bisa nyalahin siapa-siapa. Mungkin Dhimas emang lagi ada masalah di sekolahnya, dan jadi kebawa bad mood sampe sekarang.

By the way, karena Dhimas nggak ngomong sama gue, gue jadi merhatiin sekitar. Katanya mau ada anak baru lagi, cewek. Semua anak cowok otomatis excited, kecuali Dhimas. Anaknya diem aja, sibuk main HP. Nggak peduli mau ada anak baru, kek, presiden, atau siapapun yang dateng hari ini.

Karena bosen, akhirnya gue coba ajak ngobrol Dhimas lagi. “Dhim, nanti lo langsung pulang?”

Nggak ada jawaban. Jadi gue coba panggil sekali lagi. “Dhimas.”

“Hm.”

“Dhim,” panggil gue sekali lagi. Bodo amat, pokoknya harus nengok. Bener aja, dia nengok. Tapi mendadak gue deg-degan karena... I've never seen his face being this serious, i mean his jaws are clenching. Not to mention his eyebrows telling me 'you better have something important to tell me, otherwise i'd punch you in the face.'

“Apa?” katanya datar.

“Nanti pulangnya boleh bareng nggak?”

Dhimas otomatis memalingkan wajah dan buang napas kasar. Ih, dia sebel sama gue, kah?

“Liat nanti.”

Kayaknya bener, dia sebel sama gue. Kenapa, ya?

Belom sempet gue mikirin dosa yang mungkin gue perbuat itu, tiba-tiba Kak Rizqa masuk kelas dengan seseorang yang mengikutinya. De javu, huh? Feels like the very first time i met him—again. Tapi kali ini lain, ada seorang perempuan yang ngikutin Kak Rizqa. Seperti biasa, Kak Rizqa nyuruh kenalan dan yada-yada-yada, yang gue tangkep cuma namanya Nazma. Dan dia dari SMA yang sama dengan—Julian.

Nazma udah dipersilakan duduk sama Kak Rizqa and what on earth— kenapa bangku kosong hari ini cuma ada di depan Dhimas? Mau nggak mau Nazma ngobrol sama Dhimas.

“Ini kosong?”

Gue mendapati Dhimas mendongak sebelum akhirnya mengangguk. Wajahnya udah nggak segarang tadi, malah sekarang otomatis jadi ramah banget kayak waktu dia pertama kali duduk di sebelah gue. Gosh, i don't like it—the situation between them. Entah kenapa rasanya gue mau nge-claim prosesi perkenalan itu hanya buat gue sama Dhimas. Being possessive all of sudden, huh, Adelia?

“Kosong, kok. Duduk aja.” DHIMAS WIJAYA I SWEAR TO GOD ITU TERLALU RAMAH. AND WHO TOLD YOU TO SMILE? Ngapain juga segala narik kaki gitu!? Kalo mau selonjoran, ya selonjoran aja! Emangnya dia tuan putri apa!?

“Makasih ya—”

“Dhimas,” katanya sambil senyum.

Dhim, tolong, lah. Jangan biarin ada orang lain lagi yang kepincut sama muka lo. Please, gue aja.

“Nazma,” kata Nazma. And—for god's sake— mereka berjabat tangan. Bisa nggak, nggak usah lama-lama gitu?

“Dari SMA mana, Dhim?”

I don't wanna hear it any longer. Males. Bete. Sebel. Kesel. Marah. Tau gitu mendingan gue nggak usah les aja. Bodo amat nggak ketemu Dhimas juga, yang penting nggak liat dia sama Nazma kayak gini.

Seriously, insecurity hit me like a train. I mean look at her—LOOK AT HER! Rambutnya panjang bergelombang, dikuncir dengan rapi. Unlike me, kunciran asal-asalan dengan anak rambut yang—mungkin udah punya cucu. Mukanya masih bening banget meskipun udah jam segini, nggak kayak muka gue yang udah kayak ampas tahu. Nazma cantik, kalem, dan mukanya adalah muka-muka orang pinter. Pipinya tembam but not too much, hampir sama kayak pipi mochi Dhimas—ah, i hate that fact. Idungnya mancung dan bagus.

Sorry banget kalau gue terlalu merhatiin Nazma secara detail, tapi gue merasa perlu. I mean, girls, have you ever gotten some kind of feelings—guts, that a girl likes your crush or boyfriend? Because i'm getting that kind of guts on Nazma. Kayaknya dia suka sama Dhimas, atau paling tidak, pasti udah ada ketertarikan sama Dhimas.

Gimana enggak? Dhimas tadi maju ke depan kelas untuk nulis cara buat nomor 15 Matematika. Dan Nazma yang tadinya duduk tegak mendadak menopang dagu dengan tubuhnya yang dimajukan? Dan setelah Dhimas balik lagi ke tempat duduknya, which is di belakang dia, Nazma senyum-senyum dan ngasih Dhimas tepuk tangan kecil karena jawabannya benar. Dhim, gue bisa ngasih komando orang satu tribun buat ngasih lo tepuk tangan, Dhim.

Gue liat juga Nazma dari tadi cari-cari cara untuk ngobrol sama Dhimas. Itu badannya bener-bener udah kayak gangsing, MUUUUUTERRRRRR AJAH.

“Dhim, nomor 23 A, ya?” “Dhim, lo udah nomor berapa?” “Dhimas ngitungnya cepet banget, dulu pernah sempoa, ya?” “Dhim, tau cara nomor 30 nggak? Ini gimana ya? Gue udah sampe sini tapi bingung.”

STOP RIGHT THERE, YOU LITTLE WITCH! Jangan bikin cowok gue ngajar-ngajarin lo gitu, dong! Curang banget! Udah pinter juga, nyebelin banget. Gue nggak boleh kalah, gue nggak boleh membiarkan ini terjadiiii!!

“Dhim, ajarin gue, dong!”

Yes, akhirnya Dhimas noleh ke gue. Perhatiannya ke gue semua sekarang. “Kenapa? Yang mana yang nggak bisa?”

“Gue baru nyatet sampe nomor 15. Sambil coba gue baca gitu, tapi nggak ngerti,” ucap gue.

Dhimas berdecak, nggak kayak biasanya. “Kan gue bilang, catet dulu aja semuanya, Del. Pahaminnya nanti aja. Kalo lo sambil pahamin gitu nanti catetannya keburu ilang di papan tulis. Udah catet dulu, nanti gue jelasin semuanya kapan-kapan.”

Terus abis itu dia balik lagi munggungin gue. Asik banget ngulik soal sama Nazma. They have the same passion, i guess. Math, which i could never master.

Dulu, waktu kecil Haris bilang ke gue untuk belajar yang bener. He was right, harusnya gue dengerin Haris dari dulu. For maybe i could've been a better daughter to Papa, someone he could be proud of.

For maybe i could've been a better friend to Dhimas, someone who wouldn't burden him with long explanations of how to solve math.

Hari ini akan benar-benar masuk daftar hari buruk gue. Waktu les masih dua jam lagi, and i already wish i could turn into someone else. Someone smarter.

Maybe i could win over the pretty girls, but the smarter ones? I'd rather surrender.

Have fun, Mochiman.

Dhimas's POV

Udah semakin sore, dan gue masih di rumah Haris. Kondisi ruang tamu Haris lebih ramai sekarang, ketambahan Damar dan Ojan, terus Adel juga akhirnya balik lagi buat nemenin Haura. Nggak lama kemudian, kebetulan Hanum pulang bareng sama mamanya Haris. Sebenernya, gue, Damar, dan Ojan udah berniat pulang. Kita masih tau diri untuk nggak ganggu waktu istirahat keluarga Haris di akhir pekan. Tapi, kayaknya pertemanan ini emang mulai berakar kuat karena setiap ketemu para mama, pasti nggak akan boleh pulang dan disuruh makan dulu.

Kata Ojan, sikat aja udah. Rejeki nomplok. Ya, ada benarnya juga, tapi konteks rejekinya beda buat gue. Rejeki Ojan adalah dia bisa isi perut karungnya, rejeki gue—bisa liat Adel lebih lama, kan?

Ini pertama kalinya gue ketemu dia lagi setelah beberapa hari lalu, di mana gue—secara tiba-tiba—punya dorongan untuk nyatain perasaan gue. Jujur, gue jadi malu sendiri. Gue yang marahin Haris karena dia nyatain perasaannya tiba-tiba, tapi gue sendiri juga melakukannya. Hari itu gue jadi paham kenapa Haris kayak gitu, you don't think straight when you're in love. Never.

Coba liat Haris, siapa yang pernah sangka raja demon kayak dia bisa pacaran sama anak peri kayak Gia? Coba liat Damar, siapa yang sangka orang sekalem dia pacaran sama ratu dangdut? Coba liat Ojan, siapa yang sangka orang se-ngaco dia bisa usaha banget buat bikin seorang perempuan seneng? Atau—coba liat gue, siapa yang sangka gue bakal suka lagi? Secepat ini? Bahkan gue sendiri nggak pernah menduga itu. But then again, you don't think straight when you're in love. Never.

Dari tadi gue di rumah Haris, sejujurnya geli sendiri. Lucu. Gue stay di ruang tamu sementara Adel dari tadi bolak-balik. Dari kamar Haura, terus turun lagi ke dapur, nanti balik lagi. Asumsi gue, si 'Kakak' ini mencoba memenuhi kebutuhan asupan Haura yang labil dan nggak habis-habis. Salut, sih. Sama pertemanan Adel-Haris dan kesungguhan Adel ngurusin Haura kayak adeknya sendiri.

Entah udah berapa kali gue ke-gep sama Damar karena curi-curi pandang ke arah Adel, cowok itu udah berkali-kali ngingetin gue lewat lirikan matanya buat tetap waspada. Ini raja demon depan mata gue soalnya. Ketahuan sekali mungkin masih aman, ketauan berkali-kali mungkin besok nyawa gue taruhannya.

Tapi kayaknya Tuhan emang sayang banget sama gue yang super baik hati ini. Mamanya Haris baru selesai masak dan kita semua disuruh ngumpul di meja makan. Sumpah, gue mendadak sayang banget sama Damar. Waktu Ojan mau dudukin bangku yang berhadapan sama Adel, si tua ini ala-ala minta tolong sama Ojan buat ambilin gelas. Alhasil, gue duduk berhadapan sama Adel. Canggung? Nggak usah ditanya.

“Eh, Dhimas sama Adel katanya satu les-an, ya?”

Apa, nih? Belom apa-apa gue sama Adel udah jadi topik pembicaraan. “Iya, Tante,” jawab gue.

“Titip-titip Adel ya, Dhimas. Bilangin jangan telat-telat makannya.”

“Tenang aja, Ma. Adel udah jinak banget tau sama Dhimas,” sambar Haris. Emang ini orang paling tai sejujurnya.

“Ya, Dhimas ngebilanginnya enak kali? Nggak marah-marah kayak kamu, Kak.”

Mampus, kan. Mamanya aja mihak gue. Emang gue idaman semua ibu di dunia ini.

“BETUL, TANTE! HARIS, MAH APAAN!”

“Tapi, Del, ada juga elu yang jagain Dhimas nggak, sih? Kayaknya lebih sangar lu dibanding Dhimas.” Ojan juga ikut menimpali dengan mulutnya yang penuh nasi dan ayam goreng itu. Ucapannya itu langsung dapat ancaman tusukan garpu dan pelototan dari Adel. Wah, bener kayaknya. Lebih sangar dia.

“Tapi, Adel kaget nggak pas ketemu Dhimas di les-an? Maksudnya kan kamu nggak tau kalo Dhimas temennya Haris?”

Pandangan gue otomatis terarah pada Adel, dia udah syok banget kayaknya. Sementara Damar sama Ojan tengok-tengokan, dan Haris ketawa paling kenceng. Gue sumpahin keselek aja itu orang. “BWAHAHAHAHAH, ORANG PERTAMA KALI KETEMUNYA DI DEPAN RUMAH SITU, MAAA! ADEL KECEBUR GOT, itu si Dhimas yang nolongin.”

“OH? Interesting,” ucap mamanya Haris. Iya, menarik Tante. Tapi, udah sampe situ aja bahasnya. Sisanya tolong jangan dibahas lebih lanjut, kami belom siap ketauan kalo emang ada apa-apa.

Untung aja Ojan langsung bawain topik lain. Jadi, gue sama Adel aman dari ceng-cengan warga dan protesan si satpam komplek yang menyeramkan itu. Setelah itu, gue sama Adel cuma berani interaksi tipis-tipis. Walaupun emang nggak bisa bohong, mata gue kayak kekunci di dia. Dan jujur, gue udah lupa banget kalo suka sama orang ternyata seseru ini. My heart flutters just by seeing her cheeks become chubby for chewing. Belom lagi gue harus mati-matian nahan senyum karena inget kejadian di mana gue lihat dia dengan kaos ketek bolong. Lucu banget.

Sesekali Adel juga ngeliat ke arah gue, tapi beda dari biasanya. Adel jadi lebih pendiem dan pemalu. Kayak beberapa menit yang lalu misalnya, dia mau sambel, tapi malu-malu banget mau minta tolongnya ke gue. Akhirnya dia minta tolong Hanum. Padahal, sambelnya bener-bener di sebelah gue. Alhasil gue hanya pura-pura nggak tau dan berusaha tetep fokus sama obrolan Damar dan Haris yang mendadak berbobot—tetep dibumbui ucapan asal Ojan.

Selesai makan, Adel bantuin Hanum dan mamanya Haris cuci piring. Perempuan-perempuan itu stay di dapur. Sementara gue dan Damar menunjukkan sikap sebagai tamu yang tau diri, beresin meja makan biar nggak ada noda yang tersisa. Nggak lama, Damar nyusul Haris dan Ojan ke ruang tamu lagi.

Saat gue rapiin kursi, samar-samar gue dengar percakapan Adel dan mamanya Haris dari dapur.

“Dhimas gimana, Del, anaknya? Baik, kan?”

“Iya, baik. Baik banget.”

*“Dari semua temennya Kak Haris, sejujurnya aku paling suka Kak Dhimas. Soalnya auranya emang beda aja, dia kayak prince charming banget gitu, deh.”*

Gue berasumsi itu ucapan Hanum, emang dia adek gue banget. Kapan-kapan gue jajanin nih anak. Gue sengaja lama-lamain beresin meja makan untuk dengar respons Adel. Tapi dia masih diem aja. Sampai Hanum bilang—

“Kak Adel nggak suka apa sama Kak Dhimas?”

Bull's eye. Pertanyaan yang... Tepat sasaran. Meskipun gue udah tau jawabannya, tapi gue tetep penasaran. Apa yang kira-kira akan keluar dari mulutnya?

“Apaan, sih, Num? Orang kenalnya aja baru.”

Gue terdiam sesaat. Namun, cukup lega rasanya. Adelia nggak berbohong. Dia hanya memberi jawaban ambigu, tanpa bilang iya atau enggak. But i guess i wouldn't mind kalau dia bohong. Sometimes we have to lie in order to protect our little secret, aren't we?

Dhimas's POV

Minggu pagi, belum mandi, muka bantal, cepol berantakan, dan menonton konten Forky si garpu plastik dari film Toy Story bersama Haura. Setelah diiming-imingi ayam geprek, Adelia bergegas menuju rumah sang tetangga. Dan begitulah kondisinya sekarang. Raganya mungkin bersama Haura, namun pikirannya melayang sejak pertama kali membaca judul film pendek yang sedang terputar di layar televisi milik keluarga Haris. What Is Love?

Adel juga bingung, kenapa pertanyaan seperti ini dijadikan konten film anak-anak? Bahkan dirinya yang lebih dewasa pun tidak tahu jawabannya. But seriously, what the fuck's love? batin Adel.

Film dimulai dengan karakter garpu plastik itu memperkenalkan diri, kemudian bilang bahwa ia memiliki pertanyaan. Apa itu cinta? Karakter mainan berbentuk gajah yang pertama menjawab, ia bilang bahwa dirinya paling ahli soal cinta.

'How do you know you're in love?'

'No idea.'

Sudut bibir Adel berkedut, rupanya sang paling ahli pun tidak akan sadar ketika dirinya jatuh cinta. Well, rasanya memang tidak akan ada orang yang menyadari setangkai bunga mulai mekar sampai seluruh mahkotanya benar-benar terbuka.

Karakter kursi plastik kemudian membuka suara.

'Love is a flittery-fluttery feelings.'

Ah, Adel setuju untuk kali ini. Ia mengingat ketika pertama kali kedua matanya menangkap sosok Dhimas di depan pagar rumah Haris yang tertutup rapat. Sedang minum es teh dengan satu kaki terangkat di atas jok motor. She fell at the first sight—literally.

Terakhir, karakter mainan lain yang ada di film pun menambahkan bumbu pada definisi cinta.

'And something goes—BOOM!'

Ledakan. Adelia terdiam, itu bisa menjadi definisi yang ambigu. Akankah terjadi sebuah ledakan kemeriahan sebagaimana kembang api dan confetti pesta, atau justru sebuah ledakan kehancuran layaknya bom atom yang dijatuhkan di sebuah kota kecil?

Kemudian Forky bilang bahwa cinta itu membosankan, dan ia berharap agar ia tak pernah merasakannya. Benar, kah? Rasanya Adel ragu untuk setuju. Sebab sudah sehancur ini, pun, Adel masih mendambakannya sejak lama. Should she let it happen to her?

Film berakhir dengan kekacauan yang terjadi. Chaos. Is love gonna cause a chaos? Or is it a chaos?

“Kak, ganti,” ucap Haura, membangunkan Adelia dari lamunannya. Adel tersontak, beruntung mulutnya tidak mengeluarkan umpatan. Setelahnya kemudian ia membantu Haura memilih film lain untuk ditonton. Beruntung kali ini gadis kecil itu memilih film dengan durasi panjang, sebuah film tentang putri berambut panjang keemasan. Maka Adel menyimpulkan ia punya waktu melamun lebih lama.

Gadis remaja itu kembali lagi pada pikirannya yang ia lambungkan jauh-jauh. Apa itu cinta? Sebab sejak tadi Adel hanya menemukan definisi abstrak. Tidak akan pernah ada jawaban mutlak untuk pertanyaan itu. But love is a flittery-fluttery feelings and then something goes—BOOM!

Question is, which 'boom' will gonna happen? Will it destroy her someday?

Ah, Adel menepis pikiran buruknya. Sudah beberapa hari setelah Dhimas menyatakan perasaannya. Adel belum berkesempatan untuk bertemu dengan pemuda itu lagi karena les sedang libur. Dhimas pun tidak terlihat memiliki urusan untuk pergi ke rumah Haris. Dan tiba-tiba gadis itu merindukannya.

Mendadak perkataan Ivonne merasuki pikiran Adel.

Mungkin kali ini gilirannya. Mungkin kali ini gilirannya. Mungkin kali ini gilirannya.

Mungkin kali ini akan berhasil. Mungkin kali ini tak akan berakhir menyedihkan. Sakit, pasti. Tetapi mungkin kali ini tak akan sama seperti yang sudah sudah.

Adelia merapatkan bibir, membulatkan tekadnya dalam hati. Ia harus memperjuangkan yang satu ini. Toh, dirinya sendiri yang bilang pada Haris—they shouldn't give up on love. Maka ia pun tidak akan menyerah, meskipun ia mungkin masih harus mencari tahu apa itu cinta dan bagaimana cara menguasainya.

By the speed of light, sepenggal lirik lagu dalam ingatannya menambahkan bumbu pada definisi abstrak tentang cinta yang sebelumnya ia temukan.

All i know is love—when push comes to shove, i'll be the one around.

I wanna have him around, ucapnya dalam hati.

Entah sudah berapa lama gadis itu melamun. Pikirannya terasa lelah sampai-sampai ia membutuhkan peregangan. Di sofa empuk milik keluarga Haris, Adel meregangkan kedua tangannya ke atas, masa bodo jika ada bagian ketiaknya yang bolong. Toh, tidak ada siapapun di rumah selain dirinya dan Haura. Ia hanya ingin menguap sebesar-besarnya dan membiarkan segala ketakutan dan pikiran buruknya tentang cinta itu turut menguap ke luar angkasa.

“Assalamualaikum,” ucap seseorang tiba-tiba dari pintu.

“Wa'alaikumussalam,” balas Adel santai, masih mengulat dengan kedua tangannya di udara. Ia sudah hapal suara itu, suara bariton Haris.

“Assalamualaikum—loh, ada Deli?”

Suara itu, panggilan itu, sontak membuat Adel membulatkan matanya. Tubuhnya menegang. Pelan-pelan kepalanya menoleh dan menemukan sosok Dhimas yang selalu terlihat menawan di matanya. Belum lagi cahaya matahari yang masuk lewat pintu yang terbuka itu menambah kesan dramatis, seakan wajah Dhimas bersinar begitu terangnya.

Dhimas memang selalu ramah. Pemuda itu tersenyum sangat manis ketika menemui Adel. Ah, ini pertama kali keduanya bertemu setelah mengetahui perasaan masing-masing. Adelia merasakan dadanya menghangat. Gadis itu turut tersenyum simpul, love really is a flittery-fluttery feelings.

Di sebelah Dhimas, Haris terkekeh pelan. “Turunin itu tangan lu, nggak malu apa ketek lo bolong begitu?”

And something does go—boom!

You're the lamella to my hilum. We're standing hand in hand, Becoming long chain of glucoses. Till the time's right, you crystallized. My shield, My shelter from the outside world.

Polygonals, circular. Compounds, and singular. Honey, you keep me safe from those crash downs.

Manihot, maydis, titrici, Darling, we decide what the outcomes be. It's in our hands, how'd we want it to be?

Let's stand hand in hand, With you being the lamella to my hilum, Oryzae, solanum, or whatsoever, Let's aim for a bigger granule, together.

You're the lamella to my hilum. We're standing hand in hand, Becoming long chain of glucoses. Till the time's right, you crystallized. My shield, My shelter from the outside world.

Polygonals, circular. Compounds, and singular. Honey, you keep me safe from those crash downs.

Manihot, maydis, titrici, Darling, we decide what the outcomes be. It's in our hands, how'd we want it to be?

Let's stand hand in hand, With you being the lamella to my hilum, Oryzae, solanum, or whatsoever, Let's aim for a bigger granule, together.

Haris sudah mengantarkan Gia sampai rumah. Namun ia tidak langsung pulang, keduanya kini duduk bersebelahan di sofa empuk ruang tamu Gia. Tak ada yang bicara. Gia cemberut, dan Haris gelisah sendiri. Memikirkan cara untuk menjelaskan semuanya, juga meminta maaf.

“Anggi...”

Tak ada jawaban.

“Kalila?”

Masih tak ada jawaban.

“Maheswari?”

Dan Gia masih bungkam.

“Lily?” panggil Haris ragu. Gia akhirnya melirik Haris singkat. Ah, setidaknya ada respons dari ucapannya. Haris mendekatkan tubuhnya ke arah Gia. Pemuda itu menelisik wajah Gia yang ditekuk sejak tadi. Haris menangkap jelas, ada amarah yang terbungkus oleh kesedihan.

“Gi,” panggilnya. “Anggia, boleh aku ngomong dulu? Atau kamu mau ngomong duluan?”

Gia menghela napas kasar. Mendadak air matanya menggenang di pelupuk mata. “Dia mantan kamu?” tanya Gia seraya menatap Haris.

“Bukan,” jawab Haris tegas. Setelahnya ia membuang napas panjang. “Gini, Vanessa dari dulu emang suka sama aku. Dari aku kelas tujuh, sampe aku lulus, dia suka sama aku. Tapi aku nggak pernah suka sama dia, Gi. Aku udah tolak dia berkali-kali, sampe aku dikatain gila sama tiga angkatan—”

“Kamu dikatain gila waktu SMP karena itu, Kak?” potong Gia.

“Kamu tau?”

“Dari Kak Ojan.”

“Wah, bangs—wah,” kesal Haris. Dipastikan esok hari ia akan mencelakakan Ojan hingga temannya itu tidak berdaya lagi mengumbar aibnya. Kemudian ia melanjutkan ucapannya. “Aku udah tolak dia, dan dia pacaran sama alumniku. Kupikir udah selesai, ternyata belum. Dia masih suka aku. Dia nyatain lagi perasaannya ke aku pas kita kelas 9. Aku tolak lagi, karena waktu itu aku belum siap untuk mulai apapun sama orang lain, apalagi perempuan. Aku punya banyak banget yang harus kutata ulang waktu itu, dan 'punya pacar' sama sekali nggak ada di dalam list aku.”

“Aku ke prom sama dia, ya, itu bener,” jelas Haris, memantik tatapan tidak suka dari Gia. “Waktu itu, setelah Nessa nyatain lagi perasaannya, aku bilang supaya dia berhenti. Aku minta dia tinggalin aku as soon as dia keluar dari gedung SMP itu. Aku minta dia lanjutin hidupnya tanpa bayang-bayang aku. Dia bilang iya, tapi dia minta tolong aku untuk jadi temennya ke prom sebagai perpisahan yang proper aja. Aku juga nggak bilang akan lanjut ke mana, makanya dia nggak pernah cari tau lagi tentang aku. Sayangnya, aku sama dia ketemu pas acara cup sekolah kita. Itu di luar kuasaku, Gi.”

Gia masih diam. Dan Haris mulai putus asa. Lagi-lagi embusan napas menguar dari Haris. Namun, ia belum menyerah menjelaskan semuanya. “Aku minta maaf, Anggi. Aku nggak bermaksud nutupin semuanya dari kamu. Waktu kamu bilang Nessa muncul di IG kamu, aku bingung. Waktu dia chat aku, aku makin bingung. Haruskah aku bilang sama kamu? Apa nggak usah? Bilang atau nggak bilang, aku takut kamu mikir macem-macem. Tapi aku tau aku lebih salah karena terkesan nyembunyiin ini dari kamu. The blame is on me.”

Gia memandangi Haris dengan seksama. Keduanya kini berhadapan, dan Gia enelisik setiap sudut wajah cintanya. Kak Haris-nya. Matanya penuh khawatir, pelipisnya penuh keringat jagung, dan bahunya tegap seakan berada dalam posisi siap. Pemuda itu jelas siap mengantisipasi segala bentuk amarah maupun kesedihan yang akan dilemparkan Gia padanya.

Namun Gia terkekeh. “Kak Haris, you do realize that was the longest sentence you've ever said to me, don't you?

I'll write down pages of essay if you want me to.

Hening sementara. Gia tersenyum sebelum akhirnya memutus kontak mata dengan Haris. Gadis itu menunduk dan memilih memainkan jari, ciri khas Gia ketika merasa gugup. “Ada yang suka sama kamu secantik itu, sekeren itu, seterkenal itu. Kenapa aku?”

Haris meraih sebelah tangan Gia, menghentikannya sebelum kuku-kukunya melukai kulit jarinya sendiri. “Simply because i don't need that,” jawab Haris enteng. “Tiga tahun aku liat Vanessa, aku berusaha temenan sama dia. I just knew bukan dia yang aku cari.”

“Tapi yang ini beda,” ucap Haris, membuat Gia mendongak lagi. “Yang ini, nih,” tunjuknya pada wajah Gia, “yang suka terlambat, yang suka cemberut kalo beli bakso nggak ada bihunnya, yang suka nangis kalo nonton Bluey, yang suka merem kalo ketawa, yang suka takut dimarahin Mama kalo kesiangan tapi tidurnya malem terus—”

“Kakak, ih!”

“Tuh, yang suka mukul kalo aku ledekin,” canda Haris. “Anggia Kalila Maheswari yang ini, beda. Aku bahkan menolak dengan keras waktu awal-awal aku suka kamu. But then i just knew, emang kamu orangnya. I wish i could tell you more about what's hidden inside my mind, Anggi. I do wish i could tell you.

Gia tak berdaya. Gadis itu tak bisa mengeluarkan respons apa-apa selain air mata yang menerobos pertahanannya. “Kakaak...”

“Apa?”

Thank you.

Haris menggeleng pelan. Jemarinya tergerak menghapus jejak air mata Gia yang menerobos membasahi pipi marshmellow-nya. Sekon berikutnya ia menepuk-nepuk kepala gadisnya pelan. “Aku nggak bisa kasih jaminan apa-apa. Tapi aku bisa bilang kalo buat aku, Vanessa nggak ada apa-apa dibanding kamu.”

“Mau ada berapapun Vanessa di dunia ini, aku akan tetep tungguin Anggia Kalila Maheswari di depan gerbang jam 6.15 pagi,” lanjut Haris. “I will always choose you.”

Gia terpaku cukup lama. Detik berikutnya senyumnya mengembang penuh. Pipinya berubah kemerahan, dan matanya berubah penuh binar. Cantik. Persetan jika satu dunia memuji Vanessa. Bagi Haris, Gia tetap pemenangnya.

“Udah, tidur sana. Anak bocah tidurnya, tuh, jam delapan.”

“Apaan, sih!?”

Haris terkekeh gemas. “Aku boleh pulang nggak, nih?”

“Dih, dari tadi juga kan disuruh pulang sama Papa!” balas Gia. “Mana bisa pulang kalo adek kelasku cemberut gitu.”

“DIH, KOK JADI ADEK KELASS?”

“Emang apa?”

“Ih?” balas Gia tersinggung. Namun Haris semakin gemar menjahilinya. “Apa? Coba bilang.”

“PAPAAA, KAK HARIS MAU PAMIT!”

Haris adalah tipe manusia sok misterius. Ia ingin segalanya menjadi kejutan, termasuk ketika Gia bertanya tujuan keduanya pergi hari ini. Pemuda itu hanya tersenyum dan menjawab, “Keliling dunia.” Dan setiap Gia mengernyit bingung, tawanya justru kian menguar. “Nanti juga kamu tau, Anggi,” katanya.

Gia tampak cantik hari ini. Gadis mungil itu mengenakan gaun putih bermotif bunga daisy yang cantik pada setiap sudut gaunnya, dipadukan sneakers dengan warna senada. Rambutnya dibiarkan tergerai, namun bertengger sebuah scrunchie pada lengan kecilnya. Antisipasi, agar rambutnya tetap rapi meski angin kencang menerpanya di jalan.

Gia hari ini—manis sekali. Sampai-sampai Haris lupa bahwa alisnya sempat berkerut marah akibat pesan masuk dari orang yang tidak ia harapkan. Entah sudah berapa lama, Haris dan Gia memilih untuk tak berfokus pada hitungan hari atau bulan. Keduanya sepakat bahwa yang paling penting, keduanya masih bersama. Dan semoga waktu terus berdetik memihak keduanya.

Haris dan Gia kini berjalan beriringan di tempat wisata outdoor. Hari sudah sore setelah keduanya selesai menonton bioskop dan makan. Ramainya orang tentu membuat Haris berada dalam setelan mode penjagaan untuk Gia-nya yang mungil. Sela-sela jarinya tak pernah kosong, selalu ia eratkan dengan milik Gia agar gadis itu tidak hilang.

“Katanya keliling dunia. Kok, ke sini, Kak?” tanya Gia. Masih penasaran dengan ide Haris. “Nanti juga kamu tau,” balas Haris.

“Kenapa, sihhh, gitu terus? Gimana aku tau kalo kamu nggak ngasih tau, Kaak!?”

Haris terkekeh gemas. Akhirnya menyerah sebelum gadis di hadapannya berubah semakin gemas. “Apa?”

“Katanya keliling dunia, kenapa ke sini?”

“Lho, setiap inci jalanan ini juga bagian dari dunia, Gi. Kamu keliling di sini juga sama aja keliling dunia namanya,” balas Haris. Membuat Gia memutar matanya malas seraya terkekeh. Biarlah, Haris memang selalu punya caranya sendiri.

Seiring berjalannya waktu, langkah kaki Haris dan Gia berjalan semakin jauh. Kanan dan kiri tangannya perlahan mulai penuh, namun tak cukup untuk membuat Haris melepas tangan Gia begitu saja. Perlahan-lahan Gia mulai mengerti mengapa Haris mengatakan mereka akan keliling dunia. Sebab sesaat berikutnya, Gia menemukan restoran dengan plang nama Hawaii.

“Tuh, Gi, kita jalan kaki sampe Hawaii. Lurus lagi dikit nanti ke Cina.”

“Kaak, ih!” ucap Gia tertawa. “Loh, bener, kan? Itu liat, tuh, Cina di depan mata,” balas Haris. Dan lagi-lagi Gia tertawa.

Gadis itu ceria hari ini, sangat. Namun, Gia menangkap sesuatu yang lain dari Haris. Seakan pria itu sedang memikirkan sesuatu. Tetapi tak sopan rasanya jika Gia menanyakannya hari ini. Sebab Haris sudah susah payah mengesampingkan perasaannya sendiri demi kelancaran hari ini, dan Gia tentu tak ingin merusaknya.

Sudah sampai 'Cina', keduanya kini memutar balik dan memilih untuk pergi ke seberang jalan. Di mana lebih banyak jajanan yang, menurut Haris, lebih Gia-friendly. Dari sekian banyak, kakigori rasa stroberi dengan ukuran besar menjadi pilihan Gia. Satu mangkuk yang disantap berdua, karena perut Gia terlalu kecil untuk menampung semuanya.

Sepanjang waktu, Haris lebih banyak diam. Kedoknya adalah mendengarkan Gia bercerita, padahal benaknya masih bertarung. Haruskah ia mengatakan bahwa ada perempuan lain yang menghubunginya? Haris masih melamun, hingga tiba-tiba matanya menangkap sesosok yang sepertinya ia kenali. Vanessa.

Gadis yang baru-baru ini menjadi topik pembicaraannya dengan Gia dan Ojan karena kemunculannya. Juga yang membuat benaknya memerangi Haris sejak tadi. Benar, kah, itu Vanessa? Kalau iya, sedang apa gadis itu di sini? Kebetulan, kah?

“Kamu kenapa, Kak?” Pertanyaan Gia otomatis memecah lamunan Haris. Pemuda itu berjengit, kemudian menggeleng setelahnya. “Nggak.”

“Beneran? Dari tadi kayak ada yang dipikirin gitu? Kamu sakit?”

“Enggak,” tegas Haris. “Gia abis ini masih mau jalan-jalan?”

Seraya menyuapkan sesendok kakigori dingin ke mulutnya, Gia menggeleng. Haris tersenyum simpul, “Pulang aja, ya? Udah jauh banget mainnya sampe ke Cina, nanti dicariin Mama.”

Sesaat kemudian Gia menyetujuinya. Lagipula ada Papa di rumah, beliau bisa-bisa menjadikan Haris santapan malam kalau belum memulangkan Gia di atas jam 8 malam. Sementara Gia fokus memakan es di hadapannya, seseorang menyapa Haris dari sembarang arah.

“Haris? Haris! Hai!”

Haris terpaku, sementara Gia memandangnya bingung. Gadis itu menatap curiga pada perempuan yang terus menyapa Haris dengan riang, juga pada Haris yang bolak-balik menatap ke arahnya dan gadis itu. “Kamu di sini juga? Ini siapa?” tanya gadis itu.

Mendadak napsu makan Gia hilang. Harusnya ia yang melontarkan pertanyaan itu lebih dulu, kan? Haris masih diam, seakan memproses kejadian yang hadir layaknya kuis dadakan. Sementara Gia memperhatikan sosok di sebelah Haris dengan seksama. Seorang perempuan dengan tinggi semampai, berambut lebat nan bergelombang, dengan wajah yang seperti boneka. Cantik. Bahkan Gia tak berani menatapnya lama-lama. Tetapi rasanya Gia bisa menebak siapa perempuan ini.

“Lo ngapain?” Ah, akhirnya Haris memecah keheningan. Gadis itu mengerjap lugu, “Aku? Lagi iseng aja, Ris. Hang out sendirian. Tadinya mau sama temen-temenku tapi mereka pada sibuk,” jawabnya.

Gia diam-diam memutar matanya malas. Kekesalannya perlahan memuncak, begitu juga dengan napsu makannya. Tanpa sadar gadis itu melahap kakigori-nya dengan satu sendok yang menggunung. Persetan dengan ngilu atau sakit gigi. Gia bahkan bisa menelan mangkuknya hingga tak bersisa.

“Eh, by the way, kita belom sempet ngobrol lagi semenjak acara cup sekolah kamu. Aku DM kamu di IG, deh, Ris, nggak kebaca ya?”

“Mungkin ada di requested message tapi gue nggak pernah buka itu, sih,” ucap Haris. Sekon berikutnya pemuda itu menatap ke arah Gia. “Gue buka DM dari dia doang,” ucap Haris.

“Ah, gituu...” balas Nessa. “Aku tau dari Ojan juga, nomor kamu nggak ganti ya? Aku ada chat kamu juga tau. Masuk nggak?”

Haris menghela napas gusar. “Abisin, Gi.” Entah merujuk pada es yang Gia makan, atau pada perempuan yang kini berdiri di sebelahnya.

Gadis jelmaan boneka itu tersenyum ke arah Gia. “Oh, sampe lupa. Haii, aku Vanessa. Temen SMP-nya Haris dan dulu sempet deket juga. Dulu aku sama Haris prom bareng, loh. Kakak kamu waktu SMP galak banget!”

Vanessa. Mendadak Gia teringat satu nama. Sebaris nama yang sama dengan yang pernah muncul di notifikasinya. Sebaris nama yang pernah menjadi pembahasan dengan teman-temannya. Seseorang yang mereka curigai—mantan Kak Haris. Mendengar segala hal yang dipamerkan Vanessa, dan segala ke-sok tahu-an-nya, Gia hanya diam dan menatap bingung. Gia mengusahakan senyum simpul seraya membalas perkenalan Vanessa. “Aku Gia.”

“Gia?” Vanessa mengulangi.

“Iya. Tapi Kak Haris suka panggil Kalila, kadang-kadang Lily. Kalo yang dipake buat nama jersey-nya Maheswari.”

Kini giliran Vanessa yang menatap bingung. “Kenapa?”

Gia mengendikkan bahu seraya tersenyum simpul. “You can ask him yourself, Kak Nessa.”

Di hadapan Gia, Haris tersenyum miring menyambut umpan. “Nggak ada salahnya, kan, suka nama pacar sendiri?” ucap Haris. Setelahnya mereka tertawa bersamaan.

Haris menoleh, kembali melihat ke arah Vanessa. “Maaf, ya, Nes. Gue nggak pernah bermaksud kasar tapi menurut gue aneh aja lo tiba-tiba di sini. Apalagi gue tau fakta kalo lo stalk cewek gue, kemungkinan besar lo tau gue di sini karena liat SG-nya Gia,” Haris menjeda ucapannya. “In case lo lupa, gue pernah bilang kalo lo harus ninggalin perasaan lo buat gue ketika kita udah lulus SMP. Lanjutin hidup lo tanpa gue, Nes. Kenapa, sih?”

“Kita udah ketemu sebelumnya, gue yakin lo juga udah pernah liat gue sama Gia. Salah kira kalo dia adek gue won't do, Nessa. Lo cuma mau manas-manasin cewek gue, tapi lucunya lo pamerin hal-hal yang bahkan nggak pernah ada,” sambung Haris. “So with all due respect, jangan ganggu gue lagi, dan jangan ganggu Anggia!”

“Anggia pacar gue,” tegas Haris.

Nonsense.” balas Nessa. “Kamu nolak aku berkali-kali, cuma buat pacaran sama orang kayak dia, Ris?”

Haris bangkit berdiri. Seakan menunjukkan siapa yang berkuasa di antara ketiganya. Pemuda jangkung itu memandang Nessa yang lebih pendek darinya. Matanya setajam elang, dan suara baritonnya kian mengerikan. “Berhenti. Sebelum lo jadi perempuan pertama yang lebam sama gue.”

Kemudian, seakan berubah 180 derajat, Haris menoleh ke arah Gia dengan tatapan teduh. “Udah abis? Yuk, pulang! Buang sampahnya, Anggi.”

Gia hanya menurut. Sebagai anak yang diajarkan sopan santun, Gia menundukkan kepala singkat guna menghormati Vanessa yang lebih tua. Tak lupa Gia tersenyum simpul. Segemetar apapun hatinya, lawannya tak boleh tahu. Ia harus menang—atau setidaknya, ia harus terlihat menang.

In a land far, far away, In a place where our time ticks differently, With yours faster as how it has been, Someone might've loved you in the same way.

In a land far, far away, In a place where the sun shines differently, With your skyblue's brighter than mine, Someone might've loved you in the same way.

In a land far, far away, In a place where our clouds condense differently, With yours happier than mine, Someone might've loved you in the same way.

To a land far, far away, The sun, the moon, the stars, With planes passing by with its blinking lights, Darling, i hope they assure you enough of how much i love you.

To a land far, far away, The breeze, the wind, the waves, With those dusts you brought home through your clothes after work, Darling, i hope they assure you of how i wouldn't turn my back against you.

“Let's make ourselves our very own brigade, this love's our shield our blades.” Come sharpen it, For we let the distances became our battlefield. Go take the lead, i will cover you.

I hope we will come to a long way, comrade. Let the heart strengthen its bond, For maybe someday our chemical compounds will modify itself to a grenades, Contains of exploding laughter to share where our time ticks in the same way.

“Don't cross the line.” Honey, look at how far we've crossed this line. We've reached a land of far, far away. Take a good rest, love. For this battle might've been exhausting. It's time to let the clock does its work. I hope the sacrifices will not be in vain.

For in a land far, far away, Where our time ticks differently, Where your skyblue's brighter than mine, Where the distance became our battlefield, Someone might've loved you in the same way.

I, love you in the same way.