raranotruru

“Dam gue pernah nari di sini tau waktu SD. Waktu kelas satu,” ujar Aghniya tiba-tiba. Gadis itu bercerita dengan tatapan yang bahkan tidak melihat pada Damar seraya asik menghabiskan es krim miliknya yang perlahan mulai mencair.

“Masa? Nari apa?”

“Semut,” jawab Aghniya.

“Hah? Nari semut?”

“Iya. Terus pake kostum semut gitu kocak dah,” balas Aghniya.

“Lah iya? Hahahaha, eh gue juga pernah deng nari di sini,” Damar menimpali.

“MASA? Nari apaaa?”

“Jaranan, tau nggak?”

“Tauu, yang pake kuda lumping kan?” balas Aghniya.

“Iyaa, terus gue bawa-bawa pecut gitu. Lagaknya doang bawa pecut, narinya pada lemes emang dasar bocah,” ucap Damar yang kemudian mengundang tawa Aghniya.

“Masih ada fotonya tuh fotonya sampe sekarang. Dicetak gitu kan ngakak banget. Didandaninnya tuh kayak Gatot Kaca gitu, Agh. Dipakein bedak tebel banget, sampe putih gitu terus digambar kumis,” cerita Damar.

“Iya? HAHAHAHA ih lucu banget donggg!”

“Lo masih ada nggak foto lo pake baju semut?” tanya Damar.

“Adaaaaaaa, disimpen di laptop Papa. Sumpah narinya sampe tidur-tiduran, Dam. Tapi gue masih inget sampe sekarang gerakannya kayak gimana soalnya seru banget waktu itu latihannya.”

“Masa? Ngapain tidur-tiduran?”

“Ya emang gerakannya begituuuuu! Musiknya juga lucu banget sebenernya, ada tining tining gitu sumpah!”

“Hahahaha apaan tining tiningg?”

“Aaada, Daam! Musiknya bunyinya tining tining!”

“Iyaaaa iyaaa, percaya percaya,” balas Damar. Sementara gadis itu hanya tertawa membalas ucapannya.

“Lo kok suka matcha sih, Dam?” tanya Aghniya. “Beli es krim rasanya itu, beli es di sekolah rasanya itu juga.”

“Enak,” jawab Damar.

“Lo nggak suka emang?” tanya Damar.

“Enggakk. Udah pernah coba tapi nggak doyan,” jawab Aghniya.

“Dih, padahal banyak banget yang suka.”

“Iya tapi pasti yang nggak suka kan bukan cuma guee,” balas Aghniya.

“Iya sih. Atau jangan-jangan lo kayak ini ya? Apa tuh namanya, cewek yang kalo mau beda sendiri dari yang lain? Yang nggak mau ngikutin tren.”

Pick me girl?

“Oh namanya pick me girl? Kirain pick up hahaha,” balas Damar.

“Yeee, mobill kali ah pick up.”

“Enggak lah, amit-amit. Nggak boleh gitu nggak sih, Daaam?” ucap Aghniya.

“Kenapa nggak boleh gitu?”

“Iyaa gue pernah nonton video gitu, kita tuh nggak boleh kayak mau beda dari perempuan kebanyakan. Soalnya bisa lead to misogynist gitu. Sebenernya sih awalnya pasti banyak perempuan yang tanpa sadar pernah kayak gitu, gue juga pernahh. Tapi makin gede kayak mikir gitu, 'ngapain sih?' gitu.” Aghniya itu mulai berceloteh.

“Lagian kalo dipikir-pikir iya juga, emang kenapa kalo samaan sama perempuan yang lain? Aib? Kan enggak juga,” lanjutnya.

“Bener sih. Kadang annoying juga kalo ngeliat orang kayak gitu sebenernya,” balas Damar.

“Betul, betul. Bukan kadang lagi tapi emang annoying nggak sih, Dam?”

“Iya deng, hahaha. Ada tuh temen kakak sepupu gue satu kayak gitu. Dia tiap cerita sama gue berkobar banget emosinya, sebel katanya,” balas Damar.

“Lagian harusnya sesama perempuan tuh saling dukung nggak sih? Bukannya saling berkompetisi buat jadi one of a kind?” ujar Aghniya.

Damar lagi-lagi terdiam di tempatnya. Memilih bicara dalam hatinya sendiri. Memikirkan apa yang ada di dalam pikiran gadis di hadapannya. Apa yang orang tuanya tanamkan dalam dirinya hingga seorang Aghniya tumbuh menjadi seseorang yang begitu menawan. Parasnya, hatinya.

You're one of a kind,” ucap Damar tanpa sadar.

“Hah? Kenapa, Dam?”

“Enggak, azan. Salat dulu ya baru pulang? Lo salat?” tanya Damar.

“Ohh, boleh. Enggak gue lagi nggak salat, baru aja semalem dapet,” jawab Aghniya.

“Ya udah, cari musala ya?”

“Iya. Bentar, Dam,” ujar Aghniya.

Damar memandangi Aghniya yang tengah sibuk mencari sesuatu. “Nyari apa?”

“Karet gue, ilang deh kayaknya. Tadi pas berangkat rambut gue dikuncir, pas sampe sini gue lepas terus karetnya gue jadiin gelang. Tapi kayaknya ilang, nggak tau ilang di mana tapi,” balas Aghniya. “Biarin deh, yuk cari musala.”

“Nih,” ujar Damar seraya menyerahkan karet rambut pada Aghniya.

“Hm? Lah, karet siapa, Dam?”

“Gue bawa.”

“Kok?”

“Gue tau hari ini jalannya jauh, jadi tadi gue minta karet sama Ibu, siapa tau lo butuh,” balas Damar. “Nih, pake aja. Ibu punya banyak banget di rumah, tenang aja.”

Sembari menahan senyum, gadis itu menerima karet rambut yang Damar berikan. Sekon berikutnya, rambut panjangnya sudah kembali terikat rapi dengan model ikat satu. Menyisakan anak rambutnya yang lebat di pelipisnya.

“Udah, yuk!” Ajak Aghniya. Damar mengangguk kemudian berdiri dan bergegas untuk mencari musala.

Setelah lelah berkeliling menggunakan sepeda yang mereka sewa bersama, keduanya kini memilih mampir di sebuah minimarket untuk membeli es krim. Tentu saja lagi-lagi Aghniya berperan sebagai pencetus ide.

Damar memerhatikan gadis di sebelahnya yang hanya diam dengan tangannya yang menggantung di udara, tidak bergerak mengambil es krim, tidak juga diturunkan kembali.

“Kenapa, Agh?”

“Stoberi apa cokelat ya, Dam?”

Damar mengernyit sesaat, kemudian menutup bibirnya dengan buku jari, menahan tawanya. “Dari tadi tuh bingung mau rasa apa?”

“Iya. Selalu gitu deh, kenapa sih gue nggak bisa memutuskan sesuatu. Padahal cuma es krim doang tapi ribet banget,” jawabnya.

Go with strawberry, i'll go with chocolate. Nanti kalo ternyata lo mau cokelat, tuker aja,” balas Damar.

Aghniya tertegun di tempatnya. Untuk kesekian kali, gadis itu terharu. Berkaca pada pengalamannya di masa lalu bersama Revan, sangat jauh berbeda dengan hari-harinya bersama Damar.

Sudut bibir gadis itu melengkung membentuk sebuah senyuman, “I'll go with strawberry, tapi Damar nggak boleh cokelat kalo nggak mau. I made up my mind, maunya stroberi.”

“Beneran?”

“Benerrrr, stawberry goes well with sunny day.

“Oke kalo gitu,” jawab Damar.

Setelah memilih es krim untuk diri masing-masing, keduanya mengantre untuk membayar. Damar memperhatikan orang di depannya sekaligus bersiap membayar karena setelah ini adalah gilirannya. Ketika orang di hadapannya hampir selesai, Damar berbisik pada Aghniya.

“Aghni,” panggilnya.

“Ya?”

“Boleh minta tolong nggak? Tolong ambilin air putih dingin dong, tadi lupa mau beli,” ujar Damar.

“Oh, oke. Merek-nya apa aja?”

“Iya apa aja, sini es krim lo. Bentar lagi kita,” ucap Damar. Aghniya memberikan es krim miliknya pada Damar kemudian bergegas menuju deretan kulkas minimarket untuk mengambilkan air mineral untuk Damar.

Namun, ketika gadis itu kembali, rupanya Damar telah selesai membayar. Gadis itu menatap Damar yang sedang terkekeh di ambang pintu minimarket dengan tatapan tak percaya.

It's on me,” ucap Damar. Lalu pria itu menunjuk air mineral yang Aghniya pegang, kemudian menunjuk ke arah kasir. Sebagai isyarat bahwa gadis itu tetap perlu membayarnya. Kemudian Damar melangkah keluar, mendudukkan dirinya di sebuah kursi kosong yang disediakan minimarket itu.

Setelah membayar air mineral yang diminta Damar, gadis itu keluar dengan tampang cemberut sekaligus menahan senyum. Menghampiri Damar yang cengengesan.

“Nih!” ucap Aghniya sebal seraya menyodorkan sebuah botol air mineral ke hadapan Damar.

“Kok ngambek?” tanya Damar. “Orang dibeliin es krim masa ngambek?”

“Curang,” ucap Aghniya lagi, masih dengan bibir yang mengerucut. Mengundang tawa Damar lebih keras lagi.

“Kok curang? Ini kan kita barter tauuuu. Lo beliin gue air kan ini, nah gue beliin lo es krim,” balas Damar.

“Ih—”

“Sst. Ni mam, nih. Nanti keburu cair,” potong Damar. Gadis itu hanya diam, mengerucutkan bibirnya sebal namun sesekali sebuah senyuman lolos dari pertahanannya.

“Mau nggak? Nggak mau? Ya udah kalo nggak mau buat gue semua nih,” ucap Damar.

“Okeee nggak mauu, buat gue semuaa, asikk!” Damar kembali bicara karena tak kunjung mendapat jawaban dari Aghniya.

“Ih, mau. Siniin dong punya gue,” Aghniya pada akhirnya buka suara.

“Nggak. Tadi katanya nggak mau?” balas Damar.

“Nggak bilang nggak mau?”

“Ditawarin diem aja berarti kan nggak mau,” jawab Damar lagi.

“Ih, mauuu. Siniii!”

No, no, no.” Damar menggelengkan kepalanya seakan-akan bicara pada seorang bocah umur lima tahun.

“Dih? Nyebelin banget,” ucap Aghniya.

“Damar!”

“Ganteng,” jawab Damar iseng.

“Enggak, dih.”

“Nggak salah lagi?” ejek Damar.

“Aaaaaa malesinnnnnnnnn!”

Damar tertawa penuh kemenangan. “Minta dulu yang bener,” ucap Damar.

Gadis itu diam sejenak. Lalu meletakkan telapak tangan kanannya di atas tangan kirinya sendiri.

Nyuwunnn,” ucap Aghniya. “Nyuwun, Mas,” ucap gadis itu lagi. Kali ini dengan suara yang lembut.

Sopan memasuki telinga, tidak sopan bagi hati Damar. Mendadak Damar terdiam kaku. Pemuda itu lupa keduanya sama-sama berlatar belakang keluarga Jawa. Sejak kecil, anak-anak yang berasal dari keluarga Jawa pasti diajarkan untuk melakukan nyuwun ketika ingin meminta sesuatu. Damar salah satunya, seringkali ia mendengar suara sang ibu berkata 'Mana nyuwun-nya?' ketika kecil. Damar yakin Aghniya pun diajarkan hal yang sama. Namun, hal yang begitu manis seperti ini sudah lama tak ia lakukan. Damar bahkan sudah mulai lupa akan kosakata itu, namun gadis di hadapannya ini mengingatnya dengan jelas.

Pula, hal yang begitu manis seperti ini, sama sekali tak bisa ditoleransi. Damar sama sekali tak punya persiapan untuk ini.

Menyerah, akhirnya Damar memberikan es krim stroberi yang berada di tangannya pada pemiliknya.

“YESSSS, thank youu!

Setelahnya Damar tak bersuara. Pemuda itu menghela napas berkali-kali. Berusaha mengumpulkan kekuatan baru untuk menghadapi seseorang yang tengah asik menyantap es krim stroberi di hadapannya.

“Mau ke mana dulu?” tanya Damar. Muda-mudi itu melangkahkan kaki perlahan sembari menikmati udara sejuk di bawah naungan langit yang bersahabat hari itu.

“Titihan Samirono,” balas Aghniya. Damar mengernyit, “Apaan tuh?”

“Masa nggak tau Titihan Samirono?”

Damar menggeleng, masih dengan wajah bingungnya yang menggemaskan. “Kedengerannya kayak apa, Dam?”

“Nggak tau, kayak bahasa Jawa. Emang itu apa?”

“Kereta,” jawab Aghniya.

“Kereta?”

“Kereta yang di atas ituuu, liat! Jalannya di atass nanti keliatan Taman Mini dan seisinya, nggak sih. Itu lebay, tapi gitu deh,” jawab Aghniya lagi. Memancing tawa kecil Damar dari persembunyiannya.

“Ya udah, yuk. Tau jalannya?” tanya Damar.

“Sana, sana,” ucap gadis itu seraya menunjuk arah jalan. Kemudian Damar mengangguk dan mengikuti langkah ringan Aghniya.

Entah karena lebih tinggi atau memang langkah gadis itu yang kecil-kecil, perbedaan cara jalan keduanya jelas terlihat. Damar berjalan dengan tenang namun masih selalu bisa menyamakan langkah Aghniya yang cepat meski sesekali gadis itu menoleh ke belakang karena Damar sedikit tertinggal.

“Dam,” panggilnya.

“Hm?”

“Nggak bisa nyebrang,” ucap Aghniya.

Damar tak menjawab, pemuda itu hanya memandagi Aghniya sesaat kemudian sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya. Membuat lesung pipinya nampak di pipi tirus pemuda itu.

Setelahnya Damar maju beberapa langkah, menyejajarkan dirinya dengan Aghniya yang berada sedikit di depannya.

“Ayo,” ajak Damar. Pria itu mengulurkan tangan kirinya, menanti gadis itu menyambut uluran tangannya agar keduanya bisa menyebrang. Menepis keterkejutannya, Aghniya kemudian meraih tangan Damar. Kemudian keduanya kembali melangkah.


Aghniya dan Damar memilih kursi paling depan agar dapat melihat pemandangan dengan jelas. Keduanya beruntung karena belum terlalu siang, jadi kereta tak terlalu penuh.

Sepanjang perjalanan, keduanya tertawa akan banyak hal. Pakaian seseorang dengan warna begitu terang di jalanan bawah sehingga tetap terlihat mencolok bahkan oleh mereka yang berada di dalam kereta, atau keterkejutan keduanya ketika kereta menabrak cabang pohon yang menjuntai.

“Ih, tuh gue ngeri deh. Ini tuh jalannya belok tapi keretanya kayak lurus dulu baru belok, Agh!” ujar Damar.

Gadis itu tergelak, “Enggak lahhh! Pasti belok Damarr, nggak mungkin kita molos ke sana. Orang rodanya nyangkut di rel. Badannya doangg lurus dulu, tapi nanti pasti belok!”

“Ngeri dah, gue nggak tau kalo duduk di depan ternyata serem.”

“Idih? Hahahaha. Di belakang nggak seru lah, mau liat apa-apa nggak keliatan,” jawab Aghniya.

“Iyaa sihh,” balas Damar diiringi kekehan kecil.


“Mau ke mana lagi?”

“Naik kereta gantung berani nggak, Dam?” tanya Aghniya.

“Berani, lah! Kok gituuuu nanyanyaaa?”

“Ya tadi aja kereta belok doang takut.”

“Tapi kan nggak se-penakut ituu. Berani, ayo!” jawab Damar. Kali ini malah pemuda itu yang lebih bersemangat, tanpa ia sadari bahkan tangannya sudah kembali menggenggam tangan Aghniya dan menariknya semangat.

“Eh, ke sana, Damar! Salahhh!”

“Lo nggak ngomong sih,” balas pemuda itu.

“Looo main narik-narik aja,” balas Aghniya tak mau kalah. Sementara Damar hanya tertawa.

Kini keduanya sudah berada dalam sebuah kereta gantung. Awalnya Damar berpikir ini akan menjadi situasi yang canggung, namun tebakannya meleset. Selama berada di sana, Aghniya tak henti-hentinya berbicara.

“Dam, liat ini masa ternyata pulau Indonesia tapi mini.”

“Mana?”

“Itu, di bawah,” ucap Aghniya.

“Oh iya kok lo liat aja sih?”

“Lah, emang dari tadi lo ngeliatin apaan?” tanya gadis itu.

“Hah?” Damar gelagapan.

“Istana, dari tadi gue ngeliatin istana,” jawab Damar lagi. Ngeles, dirinya tak ingin jujur sekarang bahwa gadis itu-lah yang menjadi pusat perhatiannya sejak tadi. Bahkan ketika keduanya sampai tadi, Damar mati-matian menahan diri agar tak mengusak kepala gadis itu.

“Ohh, mau ke sana?” tanya Aghniya.

“Bolehh,” jawab Damar.

“HOKEH! Abis ini kita ke sanaa!”

Sesuai perjanjian, pukul sembilan pagi seorang Yudhistira Damar sudah berdiri di depan pagar rumah Aghniya guna menjemput gadis itu untuk pergi bersamanya sesuai yang keduanya rencanakan. Pemuda itu mengetikan pesan pada sang gadis, menyampaikan bahwa dirinya sudah sampai.

Tak lama kemudian, gadis itu keluar. Seperti biasa, tipikal seorang Aghniya, ia berlari-lari kecil menghampiri Damar yang menunggunya. Gadis itu melambai ceria pada pemuda yang mengenakan kemeja kotak-kotak yang sama dengan yang dikenakannya di profile picture Instagram miliknya. Tentu saja gadis itu mengenalinya.

“Damaaaar!” panggilnya. Damar membalas lambaian Aghniya dengan anggukan disertai senyuman. Gadis itu masih mengenakan sendal jepit rumahan, membuat Damar mengernyit.

“Damar, masuk dulu ya? Disuruh Papa,” ucapnya.

“Ohh, iyaa,” balas Damar tenang.

“Motornya masukin aja, Dam. Kalo di luar takutnya kenapa-napa,” ucapnya lagi. Kemudian Aghniya membukakan pagar lebih lebar agar motor Damar bisa masuk ke halaman rumahnya.

Setelah Damar itu memarkirkan motornya di halaman rumah gadis itu, Aghniya mempersilakan dirinya duduk di bangku yang tersedia di teras.

“Duduk dulu, Dam. Bentar yaa, eh lo udah sarapan?” tanya Aghniya.

“Udah, udah. Tadi udah makan di rumah Dhimas,” balas Damar. “Lo udah makan?”

“Sedang, hehehe,” jawab Aghniya.

“Ohh, ya udah makan dulu aja.”

“Nggak pa-pa?”

“Ya nggak pa-pa. Santai aja, jangan buru-buru. Gue tungguin, kok,” balas Damar.

“Iyaa, tinggal dikit kok,” jawab Aghniya. Setelahnya ia bergegas masuk.

Tak lama setelahnya, pria yang Damar ketahui adalah ayah dari gadis itu keluar menghampirinya. Dengan segera Damar bangkit dan menyalami pria itu dengan sopan.

“Damar ya?” tanya Aji.

“Iya, Om.”

“Sebentar ya, Aghni masih sarapan,” ucap Aji.

“Iya, nggak pa-pa, Om.”

“Santai aja, Damar. Tegang amat,” ucap Aji. Melihat Damar memilin ujung kemejanya sendiri membuat Aji teringat kala dirinya berada di posisi Damar. Harus meminta izin pada ayah Ayna yang terkenal tegas ketika ingin mengajak wanita itu pergi berdua.

Damar terkekeh membalas ucapan Aji. “Deg-degan, Om.”

“Lah? Jujur amat hahahaha,” balas Aji.

Damar kembali tertawa, “Ya masa boong, Om?”

“Bener, bener. Kamu sekelas sama Dhimas, Dam?” tanya Aji.

“Enggak, Om. Saya kelas IPA 1, tetanggaan. Aghni sama Dhimas IPA 2,” jawab Damar.

“Ohhh, iya iya. Tapi deket sama Dhimas juga ya?” tanya Aji.

“Deket, Om. Saya satu ekskul sama Dhimas, jadi kenal. Sama-sama futsal.”

“Oh suka main bola juga?”

“Banget sih, Om. Tapi kalo di sekolah aja. Di rumah nggak ada temennya, bocil semua,” balas Damar.

“Wih, boleh deh kapan-kapan main bareng, Dam!”

“Lah, Om masih suka main bola?” tanya Damar.

“Masih, lah! Tapi sama temen kantor. Sama om-nya Aghni juga. Kapan-kapan kumpulin temen kamu deh, Dam! Kita main bareng. Nanti Om ajak temen Om juga biar ramean. Pernah coba bowling?” Aji mendadak antusias.

“Belom, lah, Om. Anak SMA mana tau gitu-gituan? Bisa nyewa lapangan futsal aja udah syukur, hahaha,” balas Damar.

“Nahhh, kapan-kapan kita main. Cobain. Ajak Dhimas sama Vio juga nanti,” jawab Aji.

“Boleh, boleh, Om. Atur aja waktunya, nanti saya ajak temen-temen.”

“Eh, udah pernah ketemu Ayna ya?” tanya Aji.

“Udah, Om. Waktu itu belajar bareng terus ada Bunay,” jawab Damar.

“Belajar apa, Dam?”

“Fisika, Om. Waktu itu ada kuis tapi harinya kebetulan sama, beda jam pelajaran aja. Jadi ya udah saya ajak Aghni belajar bareng,” balas Damar.

“Ohhh. Gimana hasilnya?”

“Nah, itu dia, Om. Saya yang ngajarin masa saya yang salah. Aghni 85 saya 80, hahahaha.”

Jawaban Damar membuat Aji tergelak, “Biasaa itu mah ya? Om juga dulu gitu. Bedanya Om yang ngasih contekan, bukan ngajarin. Dulu namanya anak bangor ya. Tuker-tuker jawaban gitu hahahaha.”

“Aghni bawel ya, Dam?” tanya Aji lagi.

“Kalo Om bandinginnya sama saya, iya. Bakal keliatan bawel. Tapi enggak kok, Om. Aghni seru anaknya, rame. Kayaknya semangat terus gitu,” jawab Damar. Tanpa sadar, ujung bibirnya bergerak sedikit.

“Hmm, iya iya. Emang rame banget anaknya, kayak Ibunya. Tapi kamu bener, seru jadinya,” ucap Aji yang hanya dibalas senyuman oleh Damar.

“Ini kok tiba-tiba ke Taman Mini, Dam? Kamu ide dari mana?”

“Aghni yang usul, Om, saya mah ngikut aja hehe,” balas Damar.

“Emang aneh-aneh aja deh dia tuh.”

“Nggak pa-pa, Om. Saya juga udah lama nggak ke Taman Mini, jadi pengen coba ke sana juga,” balas Damar lagi.

“Kamu yang ngajak pergi?” tanya Aji.

“Iya,” jawab Damar tanpa ragu.

“Kenapa? Kok tiba-tiba ngajak Aghni pergi berdua?” tanya Aji. Kali ini pria itu hanya iseng. Ingin tahu jawaban seperti apa yang keluar dari bibir pemuda itu. Cukupkah keberanian Damar untuk menghadapi dirinya? Atau ia sama saja seperti banyak pemuda yang bahkan mundur seribu langkah sebelum bertemu Aji secara langsung.

Damar tertegun sejenak. Cukup lama terdiam, namun Aji tetap menunggu jawaban pemuda itu dengan tenang. Kalaupun tak terjawab, Aji tak masalah. Maka kesimpulannya Damar sama seperti pemuda lain yang hanya ingin main-main. Tentu saja Aji tahu hubungan di usia seperti ini masih sangat jauh menempuh jenjang yang serius. Namun sebagai orang tua, terutama seorang ayah, juga sebagai seorang laki-laki, Aji hanya ingin memastikan anak perempuannya berada bersama laki-laki yang bisa dirinya percaya.

“Kalo saya bilang saya suka sama Aghni, gimana, Om?” jawab Damar pada akhirnya.

Aji tersenyum puas mendengar jawaban Damar. Pria itu berdeham, memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Damar dengan jelas.

“Keluarin HP-nya!”

Damar mengernyit, namun tetap menuruti perintah Aji. Setelahnya ia memandangi Aji yang menatap ke arah layar ponsel Damar.

“Catet, nomor saya!” ujar Aji. Setelahnya ia mendikte nomor teleponnya sendiri dan meminta Damar untuk menyimpannya.

“Kalo suka, jagain Aghni hari ini. Kalo udah sampe kabarin saya, kalo sampe amit-amit ada apa-apa di jalan juga kabarin saya. Kalo udah mau pulang kabarin saya, oke?”

Damar menatap Aji tak percaya.

Ini maksudnya gue direstuin apa gimana sih?

“Dam?”

“I-iya, Om. Makasih banyak,” balas Damar. Setelahnya Aji bangkit dan menepuk bahu kiri Damar.

“Aghni? Udah belom sarapannya? Lama banget, sih! Kasian ini Damar nungguin kamu tuh gimana sih?!” teriak Aji dari luar.

LAGI PAKE SEPATUUUUUU!” balas Aghniya dari dalam.

“Lagi pake sepatu, Dam,” Aji berucap pada Damar.

“Iya, Om,” balas Damar sembari menahan senyum. Pula menahan perasaan membuncah dalam dadanya.

“Masuk ya, Dam,” pamit Aji. “Hati-hati perginya, jangan ngebut!”

“Iya, Om,” balas Damar. Kemudian menyalami kembali tangan Aji. Sebagai perwakilan pamitnya, permintaan izin membawa anak gadisnya pergi hari ini, mungkin juga perwakilan ungkapan terima kasih lantaran diizinkan ikut menyayangi anak gadisnya.

“Aghni sekolahnya kelas berapa?” tanya Juli pada gadis di sebelah calon suaminya. Saat memilih tempat duduk tadi, Aghniya bersikeras ingin duduk di sebelah Danny. Meski Aji memerintahkannya duduk menjauh dari Danny, gadis itu tak menghiraukannya. Lagipula, Danny mengizinkannya. Alhasil, jadilah Aghniya duduk di tengah-tengah Danny dan Aji. Danny di sebelah kiri gadis itu dan Aji di sebelah kanan, sementara Juli dan Ayna duduk di sebelah pasangannya masing-masing.

“Kelas sebelas Tante. Kelas dua SMA.”

“Oohh, dulu Tante Jul kelas sebelas udah pacaran. Aghni juga nggak?” balas Juli.

“Proses, Jul,” ejek Aji.

“Oh iya? Aghni kok nggak ceritaaa sama Om?” kini Danny bersuara.

“Hah?”

“Besok jalan dia, Mas, sama cowoknya,” balas Aji.

Omaygattt apa nihhh, kok aku jadi bahan gunjingan keluarga begini?” Aghniya bermonolog sembari memegangi kepalanya dengan ekspresi mata yang dimainkan. Tentu saja sikapnya mengundang gelak tawa keluarganya.

“Emang dibolehin pacaran sama Papaji?” tanya Jul.

“Gue mah boleh-boleh aja asal gue tau orangnya yang mana. Salim dulu sama gue gitu,” balas Aji.

“Ya, tapi kan orang jadinya takut duluan sama Papa. Sumpah, Tante. Sering banget orang mau PDKT nggak jadi gara-gara Papa kayak gitu,” balas Aghniya sebal.

“Ya, bagus, lah! Berarti yang bisa macarin kamu yang bener doang, kan?” balas Aji tak mau kalah.

“Iya, sih,” balas Aghniya pada akhirnya. Memilih pasrah karena tak lagi memiliki argumen untuk membalas sang Papa.

“Ini kalo di rumah juga begini, Ay?” tanya Juli.

Danny terkekeh, “I've seen worse, Babe.

“CIE JIAHAHAHAHAH aduhhh Om Danny sekarang udah pacaran ya Allah ngakak, maaf maaf, astaghfirullah,” ledek Aghniya pada Danny.

“Emang campuran Aji Ayna banget ya?” bisik Juli.

“Parah,” balas Danny.

“Aghni suka nontonin beauty pageant kan? Tuh Tante Jul dulu pernah ikut tau. Puteri Indonesia tahun 2004 tuh yang menang Tante Jul,” ujar Danny.

“HAH? DEMI APA TANTE? EMANG IYA BUNAY?”

“Iyaa sayangg,” balas Ayna.

“Masaaa??? Ih keren banget!! Ya ampun tahun segitu aku masih dua tahunnn, Tante Jul udah keren aja?” ucap Aghniya.

“Hahaha, terima kasih. Kamu nanti pasti lebih keren, Sayang!” balas Juli.

“Nggak enak deh, manggilnya Tante Jul. Mau panggil yang lain boleh nggak?” tanya Aghniya.

“Boleeh, emang mau panggilnya apa?” tanya Juli.

Can i call you Mamijul?

Pertanyaan gadis itu membuat semuanya tertegun sesaat. Tak ada yang menjawab.

“Kan udah ada Bunay, Papaji, Omdan, can i also have Mamijul?” tanyanya lagi.

Juli masih tidak menjawab, wanita itu masih mengerjapkan matanya tidak menyangka. Ia kira, keponakan Danny itu tak akan menerimanya dengan baik. Jadi, satu-satunya yang Juli persiapkan hanyalah pertahanan berlapis-lapis untuk kata-kata pedas dan penolakan tajam yang akan ia terima hari ini. Karena sejujurnya Juli tak ingin berharap banyak dari seorang gadis yang bahkan belum genap 17 tahun.

Namun, dugaannya meleset begitu jauh. Rupanya gadis yang ia temui hari ini adalah gadis yang hangat, bahkan menganggapnya keluarga secepat ini hingga memberinya panggilan khusus guna menyesuaikan anggota keluarga yang lain.

Melihat Juli yang masih berdiam di tempatnya, Aghniya buru-buru berniat menarik kembali ucapannya. Takut-takut Juli tak nyaman dengan sikapnya yang sok akrab.

“Eh, ta-tapi kalo nggak boleh—”

“Boleh. Boleh banget, Sayang. Maaf ya, tadi Mamijul kaget aja,” potong Juli cepat.

Kini giliran Aghniya yang tertegun. Sekon berikut gadis itu tersenyum menyadari Juli mengizinkannya memanggil wanita itu dengan sebutan yang ia berikan.

“Eh, tuh makanannya udah jadi. Makan dulu ya? Abis ini kita jalan-jalan,” ucap Danny.

“Boleh, Om?” tanya Aghniya.

“Boleh, Sayang.”

“Boleh beneran, Pa?” tanyanya lagi.

“Nggak. Ini mah acara keluarga, kamu kan anak nemu di jalan,” jawab Aji.

“ASTAGHFIRULLAH, BUNAY PAPANYA TUH!”

“Maas, ya Allah! Disuruh makan loh sama Mas Dani bukan isengin anaknya!” ucap Ayna.

Sementara Juli hanya mengulas senyum di tempatnya. Mengintip interaksi keluarga kecil namun tetap ramai itu dari balik bahu Danny. Pria itu menoleh, mendapati Juli sedang memperhatikan keluarga adiknya dengan sorot mata berbinar.

Danny mendekatkan bibirnya pada telinga Juli, kemudian berbisik.

Welcome to the club, Mamijul!

“Aghni sekolahnya kelas berapa?” tanya Juli pada gadis di sebelah calon suaminya. Saat memilih tempat duduk tadi, Aghniya bersikeras ingin duduk di sebelah Danny. Meski Aji memerintahkannya duduk menjauh dari Danny, gadis itu tak menghiraukannya. Lagipula, Danny mengizinkannya. Alhasil, jadilah Aghniya duduk di tengah-tengah Danny dan Aji. Danny di sebelah kiri gadis itu dan Aji di sebelah kanan, sementara Juli dan Ayna duduk di sebelah pasangannya masing-masing.

“Kelas sebelas Tante. Kelas dua SMA.”

“Oohh, dulu Tante Jul kelas sebelas udah pacaran. Aghni juga nggak?” balas Juli.

“Proses, Jul,” ejek Aji.

“Oh iya? Aghni kok nggak ceritaaa sama Om?” kini Danny bersuara.

“Hah?”

“Besok jalan dia, Mas, sama cowoknya,” balas Aji.

Omaygattt apa nihhh, kok aku jadi bahan gunjingan keluarga begini?” Aghniya bermonolog sembari memegangi kepalanya dengan ekspresi mata yang dimainkan. Tentu saja sikapnya mengundang gelak tawa keluarganya.

“Emang dibolehin pacaran sama Papaji?” tanya Jul.

“Gue mah boleh-boleh aja asal gue tau orangnya yang mana. Salim dulu sama gue gitu,” balas Aji.

“Ya, tapi kan orang jadinya takut duluan sama Papa. Sumpah, Tante. Sering banget orang mau PDKT nggak jadi gara-gara Papa kayak gitu,” balas Aghniya sebal.

“Ya, bagus, lah! Berarti yang bisa macarin kamu yang bener doang, kan?” balas Aji tak mau kalah.

“Iya, sih,” balas Aghniya pada akhirnya. Memilih pasrah karena tak lagi memiliki argumen untuk membalas sang Papa.

“Ini kalo di rumah juga begini, Ay?” tanya Juli.

Danny terkekeh, “I've seen worse, Babe.

“CIE JIAHAHAHAHAH aduhhh Om Danny sekarang udah pacaran ya Allah ngakak, maaf maaf, astaghfirullah,” ledek Aghniya pada Danny.

“Emang campuran Aji Ayna banget ya?” bisik Juli.

“Parah,” balas Danny.

“Aghni suka nontonin beauty pageant kan? Tuh Tante Jul dulu pernah ikut tau. Puteri Indonesia tahun 2004 tuh yang menang Tante Jul,” ujar Danny.

“HAH? DEMI APA TANTE? EMANG IYA BUNAY?”

“Iyaa sayangg,” balas Ayna.

“Masaaa??? Ih keren banget!! Ya ampun tahun segitu aku masih dua tahunnn, Tante Jul udah keren aja?” ucap Aghniya.

“Hahaha, terima kasih. Kamu nanti pasti lebih keren, Sayang!” balas Juli.

“Nggak enak deh, manggilnya Tante Jul. Mau panggil yang lain boleh nggak?” tanya Aghniya.

“Boleeh, emang mau panggilnya apa?” tanya Juli.

Can i call you Mamijul?

Pertanyaan gadis itu membuat semuanya tertegun sesaat. Tak ada yang menjawab.

“Kan udah ada Bunay, Papaji, Omdan, can i also have Mamijul?” tanyanya lagi.

Juli masih tidak menjawab, wanita itu masih mengerjapkan matanya tidak menyangka. Ia kira, keponakan Danny itu tak akan menerimanya dengan baik. Jadi, satu-satunya yang Juli persiapkan hanyalah pertahanan berlapis-lapis untuk kata-kata pedas dan penolakan tajam yang akan ia terima hari ini. Karena sejujurnya Juli tak ingin berharap banyak dari seorang gadis yang bahkan belum genap 17 tahun.

Namun, dugaannya meleset begitu jauh. Rupanya gadis yang ia temui hari ini adalah gadis yang hangat, bahkan menganggapnya keluarga secepat ini hingga memberinya panggilan khusus guna menyesuaikan anggota keluarga yang lain.

Melihat Juli yang masih berdiam di tempatnya, Aghniya buru-buru berniat menarik kembali ucapannya. Takut-takut Juli tak nyaman dengan sikapnya yang sok akrab.

“Eh, ta-tapi kalo nggak boleh—”

“Boleh. Boleh banget, Sayang. Maaf ya, tadi Mamijul kaget aja,” potong Juli cepat.

Kini giliran Aghniya yang tertegun. Sekon berikut gadis itu tersenyum menyadari Juli mengizinkannya memanggil wanita itu dengan sebutan yang ia berikan.

“Eh, tuh makanannya udah jadi. Makan dulu ya? Abis ini kita jalan-jalan,” ucap Danny.

“Boleh, Om?” tanya Aghniya.

“Boleh, Sayang.”

“Boleh beneran, Pa?” tanyanya lagi.

“Nggak. Ini mah acara keluarga, kamu kan anak nemu di jalan,” jawab Aji.

“ASTAGHFIRULLAH, BUNAY PAPANYA TUH!”

“Maas, ya Allah! Disuruh makan loh sama Mas Dani bukan isengin anaknya!” ucap Ayna.

Sementara Juli hanya mengulas senyum di tempatnya. Mengintip interaksi keluarga kecil namun tetap ramai itu dari balik bahu Danny. Pria itu menoleh, mendapati Juli sedang memperhatikan keluarga adiknya dengan sorot mata berbinar.

Danny mendekatkan bibirnya pada telinga Juli, kemudian berbisik.

Welcome to the club, Mamijul!

Sabtu pagi, Aghniya dan keluarganya sudah siap di mobil untuk menuju tempat bertemu Danny dan calon istrinya. Gadis yang menjadi anak tunggal di keluarganya itu gembira sejak pertama kali membuka matanya hari ini. Sepanjang jalan pun ia terus bersenandung riang mengikuti nada lagu yang diputar di radio mobil saat itu.

“Papa kok biasa aja sih, Pa? Emang nggak deg-degan mau ketemu kakak ipar?” tanya Aghniya seraya melongok ke kursi supir, menyandarkan dagunya di sana.

“Ya, terus Papa harus bersikap gimana emang?” tanya Aji.

“Yaaaaa, nggak tau sih. Tapi emang nggak kepo, Pa?” tanyanya lagi.

“Enggak. Papa udah pernah ketemu Juli,” jawab Aji.

“Juli?”

“Om Danny manggilnya Juli,” jawab Aji lagi.

“Kok Papa manggilnya Juli juga? Emang dia nggak lebih tua dari Papa?” tanya Aghniya.

“Enggak Sayang, Tante Jul seumuran Bunay,” kini Ayna menjawab. Membantu suaminya agar bisa tetap fokus menyetir.

“Oh iyaa?” ucapnya yang hanya dibalas anggukan oleh Ayna.

“Ih kok bisa?”

“Dulu kan Om Danny satu kampus sama Bunay sama Papaji. Nah, Tante Juli tuh satu angkatan sama Bunay. Papaji satu tingkat di atas Bunay, Om Danny dua tingkat di atas Bunay,” jelas Ayna.

“Lah berarti cuma aku dong yang nggak kenal?” tanya Aghniya menunjuk dirinya sendiri.

“Ya iya, makanya ini kenalan,” jawab Aji.

“Ah, curang!”

“Begimana bisa curang orang kamu aja belom lahir waktu itu. Papa aja belom nikah sama Bunay, ihhhh turunin nih!” omel Aji. Sementara Aghniya dan Ayna hanya tertawa melihat kekesalan Aji yang pada akhirnya terpancing.


“Mas di mana? Gue sampe,” Aji berbicara pada Danny melalui telepon.

“Oke oke, bentar gue ke sana,” jawab Aji.

“Yuk, Om Danny udah nunggu” ujar Aji kemudian menggandeng Ayna.

“Papa aku nggak digandeng juga?”

Aji menghela napas, “Rusuh!”

Namun pada akhirnya pria itu tetap menggandeng anak perempuannya dengan tangannya yang lain. Kemudian keluarga kecil itu bergegas menghampiri Danny.

Ketiganya sampai di sebuah restoran bernuansa Jepang. Aji mengedarkan pandangannya hingga menemukan seorang lelaki yang ia kenal mengenakan blazer hitam bercorak mengangkat tangannya ketika melihat Aji dan keluarganya. Dengan segera Aji mengajak Ayna dan Aghniya untuk menghampiri Danny.

“Dah lama, Mas?” tanya Aji. Pria itu kemudian menyalami Danny lebih dulu. Disusul Ayna dan Aghniya.

“Baru, kok. Tenang aja,” jawab Danny.

“Jul,” sapa Aji pada wanita di sebelah Danny yang ikut tersenyum sejak kedatangan Aji dan keluarganya.

“Apa kabar, Ji?” tanya Juli.

“Baik, alhamdulilah. Lo gimana?”

“Alhamdulillah, baik juga. Aynaaaaaaaa!! Ya Allah kangen banget sobat gokil gue,” ucap Juli. Kini wanita itu beralih pada Ayna yang siap menerjang Juli. Keduanya kini berpelukan erat lantaran lama tak berjumpa.

“Ay, lo nggak tiap hari ngasih makan laki lo ayam kann?” canda Juli.

“Kagak lah, gila lo!”

“Ini anak lo, Ay, Ji?” tanya Juli.

“Iyaa, Aghni salam dulu dong sama Tante-nya!” titah Ayna halus. Membuat Aghniya tersadar dari lamunannya.

“Eh, iya. Halo Tantee! Aghniya,” ucap Aghniya. Gadis itu kemudian menyalami tangan Juli.

“Haloo, cantikan aslinya ya ternyata?”

“IYA LAH, SIAPA DULU EMAKNYA!” serobot Ayna.

“Idih, najis! Pede loo! Eh Aghniya dipanggilnya apa?”

“Aghni aja Tante,” jawab Aghniya seraya tersenyum.

“Aghni, jangan kaget kalo Bunay hari ini agak heboh ya? Di rumah biasanya kalem kan? Kalo ada temennya gitu dia biasanya,” ujar Juli.

“Nggak bakal kaget lah, Jul. Nurun itu,” balas Aji dihadiahi tawa Danny dan Juli. Tak lupa pukulan manis dari Aghniya dan Ayna yang kompak mendarat di bahu kekarnya.

Aghniya melangkahkan kakinya menuju ruang tamu dengan sedikit tergesa. Sedikit, itupun karena sudah mendapat peringatan dari sang ibu. Kalau tidak, gadis itu bisa berlari sangking semangatnya.

Sesampainya di sana, ia menemukan kehadiran paman satu-satunya yang benar-benar jarang bisa gadis itu temui lantaran sibuknya pamannya itu. Mengurus bisnis kesana-kemari, ke luar kota, bahkan ke luar negeri. Maka jika pria itu bisa hadir menemuinya, Aghniya tak akan menyia-nyiakan waktu.

“Om Danny!!” sapanya. Danny menyambut keponakannya itu dengan sukacita. Memeluk gadis itu kemudian membiarkannya duduk di sebelahnya dan bersandar pada bahunya.

“Wangi amat, Om?” ucap Aghniya.

“Iya lah, emang kamu? Bau asem!”

“Enak ajaa! Aghni nggak mandi juga wangi tau,” balas Aghniya.

Danny membalas perkataan keponakannya itu dengan gelak tawa yang menyebabkan mata sipitnya semakin menyipit.

“Tumben bisa ke sini, Om? Lagi nggak ada kerjaan?” tanya Aghniya.

“Iyaaa, baru aja selesai kerjaan Om. Makanya bisa santai sebentar, jadi ke sini deh. Kerjaan kantor dipegang papamu, hehe,” balas Danny.

“Hooooo begitu ternyata cara kerjanya Om Danny? Memanfaatkan Papaji?” canda Aghniya.

“Nggak gitu dooong, kan emang udah bagi tugaas. Om Danny ngurusin yang di luar kota dan luar negeri, Papaji ngurus yang di sini. Kalo Om Danny semua yang megang kapan ketemu kamunya?”

“Hidiiihh,” balas Aghniya.

“Mas, aku tinggal ya? Ini kopinya jangan lupa diabisin. Selamat ngobrol!” ucap Ayna yang sedaritadi sudah berbincang dengan Danny.

“Oh, iya, Ay. Makasih banyak yaa!” balas Danny yang hanya mendapat anggukan dari Ayna. Setelahnya wanita itu kembali menyelesaikan pekerjaannya di dapur yang sempat tertunda.

“Gimana sekolah?” tanya Danny sembari menyesap kopi yang disuguhkan Ayna.

“Yaaa begitu. Alhamdulillah lancar, Om. Aghni tadi baru kuis, tapi pas nyocokin sama temen beda dua nomor gitu jawabannya. Nggak tau deh, nilainya berapa,” jawab Aghniya.

“Nggak pa-pa, yang penting udah usaha. Toh kalo nilainya jelek Bunay sama Papaji nggak pernah marah, kan?” balas Danny.

Gadis itu mengangguk, “Iyaa sih, Om. Tapi rasanya kayak males aja gitu. Kecewong.”

Danny tergelak kala mendengar bahasa buatan keponakannya. Kemudian gadis itu ikut tertawa lantaran mendengar tawa Danny yang menurutnya selalu menular. “Kenapa kecewa? Bunay, Papaji, Om Danny aja nggak pernah kecewa sama kamu. Kenapa kamu kecewa sama diri sendiri?”

“Soalnya tuhhhhhh, seebbbellll gitu!”

“Hahaha, kan udah usahaa. Kalo udah usaha ya udah dong, Cantikk. Ikhlasnya gimana coba gimana?”

“Hadaaaaaaaaaaah,” ucap Aghniya. Gadis itu menghela napas berkali-kali seraya berusaha melepas segala beban yang bersemayam di hatinya. Berusaha melepas segala hal yang tak bisa ia kendalikan. Lagi-lagi Danny tertawa.

Tak perlu lagi digambarkan betapa pria itu menyayangi anak perempuan milik adiknya itu. Dirinya yang belum menikah dan memilih membiarkan sang adik menikah lebih dulu, tadinya sempat berpikir bahwa ia akan terlupakan. Danny sempat berpikir dirinya akan sendirian lantaran Aji pasti akan fokus pada keluarga kecilnya.

Rupanya dugaannya salah. Bahkan setelah menikah dengan Ayna, Aji tetap adik yang baik. Pria itu tak lupa mengunjungi Danny di apartemen miliknya setiap minggu. Membawakannya makanan masakan Ayna agar pria itu tak lupa hangatnya masakan rumahan yang dimasak penuh cinta oleh seorang ibu. Karena sepeninggal kedua orang tua Danny dan Aji, hanya satu sama lain-lah yang keduanya miliki.

Hingga suatu Minggu pagi, Aji dan Ayna datang dengan membawakannya makanan seperti biasa. Rupanya, sepasang suami-istri itu tak hanya datang dengan sebuah soto ayam hangat hari itu, melainkan dengan sebuah kabar paling menggembirakan bagi keluarga kecil mereka. Termasuk Danny.

“Assalamu'alaikum, Mas!!” Aji mengucap salam dengan semangat. Mendengar ketukan tak henti-henti dari balik pintunya, Danny bergegas membukakan pintu. Pria itu hapal di luar kepala siapa yang akan menjadi tamunya setiap Minggu pagi.

“Sabar, Ji, ah! Masuk, Ay,” ucap Danny.”

“Masak apa, Ay hari ini?” tanya Danny ketika sudah kembali ke dalam.

“Nggak masak, Mas. Ini tadi beli, tiba-tiba aku pengen soto ayam. Jadi beliin sekalian buat Mas Danny sekalian ke sini,” balas Ayna.

“Ohhh, ya udah nggak pa-pa, makasih banyak loh, Ay, Ji, masih inget aku,” ucap Danny. Setelahnya pria itu menyediakan piring beserta alat makan untuk dirinya dan kedua tamunya.

“Kok bisa tiba-tiba pengen soto ayam, Ay? Udah lama nggak makan ya?” tanya Danny sembari mengaduk-aduk soto ayam miliknya.

“Ponakan lo, Mas yang pengen. Tuh di perut Ayna,” balas Aji terang-terangan.

Ucapan Aji membuat Danny lantas tertegun di tempat. Gerakannya mengaduk soto ayam itu terhenti, tangannya menggantung di udara. Pria itu menoleh ke arah Ayna yang sudah senyum-senyum dengan suaminya. “Seriusan?” Danny memastikan.

“Serius, Mas. Aku baru cek beberapa hari yang lalu ke dokter, alhamdulilah hasilnya positif,” balas Ayna. Membuat kedua pria di hadapannya itu bersorak-sorai dan berpelukan dengan girang.

“Oh pantesan ni bocah satu pengen buru-buru pulang, padahal lagi ku ajak bahas urusan kantor, Ay!” balas Danny yang mendapat gelak tawa Aji dan Ayna.

“Selamat ya, Ay, Ji! Ya ampun, aku yang pengen nangis, loh,” ucap Danny.

“HAHAHA, MAAAS! MAS AJI UDAH KEJER DULUAN KEMARENN, nangis aja nggak pa-pa, kok!” balas Ayna.

“AYY, KOK KAMU BOCORINNN???” sambar Aji tak terima.”

“Kalo butuh apa-apa bilang ya, Ay!” ucap Danny tulus.

“Iya, Mas. Terima kasih banyakk!” balas Ayna.

Tentu, masih terekam jelas dalam ingatan Danny akan Minggu pagi paling indah kedua dalam hidupnya. Sebab Minggu pagi ketika dirinya mendapat hadiah sepeda dari orang tuanya masih setia menjadi yang pertama.

Danny menyayangi Aghniya sebagaimana gadis itu adalah anaknya sendiri. Bagaimanapun juga, Aghniya yang membantunya mengisi kekosongan dalam hati. Terkadang Danny merasa sendiri, namun hatinya selalu kembali penuh ketika mengunjungi rumah keluarga Aji. Membaur di sana, bercengkerama dengan Aji, menyesap kopi buatan Ayna dan turut bergabung di meja makan keluarga kecil adiknya, serta bagian favoritnya, bermain bersama Aghniya.

Danny selalu menyetujui ucapan Aji mengenai kehadiran Aghniya. Aji benar, kehadiran anak perempuannya itu memberikan semangat baru bagi keluarganya setiap hari. Kegembiraan baru yang tak ternilai harganya. Sama seperti Aji, Danny tak akan bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia juga mensyukuri kehadiran Aghniya dalam dunia ini. Bahkan tangisan Danny lebih keras dari Aji ketika Aghniya pada akhirnya lahir ke dunia. 22 Juli 2002, kemudian menjadi hari paling bahagia bagi Danny. Hari di mana dirinya memiliki kesempatan menjadi seorang paman.

“Om, ngomong lagi dong kok diem aja sih?” ucap Aghniya mengagetkan Danny.

“Hahaha, maaf maaf. Suka nggak nyangka kamu tuh udah gede banget. Om jadi suka inget dulu pas Papaji sama Bunay masih berduaan, dua-duanya suka ke rumah Om Danny. Bawain makanan, terus ada kamu. Dari kecil sampe sekarang udah segede gini. Om kaget gitu kadang-kadang,” ucap Danny.

“Makanya sering-sering main dong sama Aghni. Sering-sering ke sini,” balas Aghniya.

“Nah, ini Om tuh ke sini mau ngajak main Aghni. Jalan-jalan mau nggak?” tanya Danny.

“Kapan Om? Sekarang? Ayokkkk!!” balas gadis itu antusias.

Danny tertawa sembari mengelus pucuk kepala Aghniya. “Ya nggak sekarang dong, emang besok Aghni nggak sekolah?”

“Sekolah, sih..”

“Nah, kan. Jumat ya? Jumat, Sabtu, Minggu nanti kita jalan-jalan,” balas Danny.

Sebuah sumringah dan binar di mata Aghniya kembali nampak mendengar balasan Danny. “BENERAN? TIGA HARI?!”

“Beneeeer! Kapan Om Danny pernah boong?”

“Nggak pernahh!”

“Iya makanya. Jumat yaa? Pulang sekolah nanti Om ke sini. Kita jalan-jalan nanti, oke?” ucap Danny.

“HOKEH!”

Aghniya melangkahkan kakinya menuju ruang tamu dengan sedikit tergesa. Sedikit, itupun karena sudah mendapat peringatan dari sang ibu. Kalau tidak, gadis itu bisa berlari sangking semangatnya.

Sesampainya di sana, ia menemukan kehadiran paman satu-satunya yang benar-benar jarang bisa gadis itu temui lantaran sibuknya pamannya itu. Mengurus bisnis kesana-kemari, ke luar kota, bahkan ke luar negeri. Maka jika pria itu bisa hadir menemuinya, Aghniya tak akan menyia-nyiakan waktu.

“Om Danny!!” sapanya. Danny menyambut keponakannya itu dengan sukacita. Memeluk gadis itu kemudian membiarkannya duduk di sebelahnya dan bersandar pada bahunya.

“Wangi amat, Om?” ucap Aghniya.

“Iya lah, emang kamu? Bau asem!”

“Enak ajaa! Aghni nggak mandi juga wangi tau,” balas Aghniya.

Danny membalas perkataan keponakannya itu dengan gelak tawa yang menyebabkan mata sipitnya semakin menyipit.

“Tumben bisa ke sini, Om? Lagi nggak ada kerjaan?” tanya Aghniya.

“Iyaaa, baru aja selesai kerjaan Om. Makanya bisa santai sebentar, jadi ke sini deh. Kerjaan kantor dipegang papamu, hehe,” balas Danny.

“Hooooo begitu ternyata cara kerjanya Om Danny? Memanfaatkan Papaji?” canda Aghniya.

“Nggak gitu dooong, kan emang udah bagi tugaas. Om Danny ngurusin yang di luar kota dan luar negeri, Papaji ngurus yang di sini. Kalo Om Danny semua yang megang kapan ketemu kamunya?”

“Hidiiihh,” balas Aghniya.

“Mas, aku tinggal ya? Ini kopinya jangan lupa diabisin. Selamat ngobrol!” ucap Ayna yang sedaritadi sudah berbincang dengan Danny.

“Oh, iya, Ay. Makasih banyak yaa!” balas Danny yang hanya mendapat anggukan dari Ayna. Setelahnya wanita itu kembali menyelesaikan pekerjaannya di dapur yang sempat tertunda.

“Gimana sekolah?” tanya Danny sembari menyesap kopi yang disuguhkan Ayna.

“Yaaa begitu. Alhamdulillah lancar, Om. Aghni tadi baru kuis, tapi pas nyocokin sama temen beda dua nomor gitu jawabannya. Nggak tau deh, nilainya berapa,” jawab Aghniya.

“Nggak pa-pa, yang penting udah usaha. Toh kalo nilainya jelek Bunay sama Papaji nggak pernah marah, kan?” balas Danny.

Gadis itu mengangguk, “Iyaa sih, Om. Tapi rasanya kayak males aja gitu. Kecewong.”

Danny tergelak kala mendengar bahasa buatan keponakannya. Kemudian gadis itu ikut tertawa lantaran mendengar tawa Danny yang menurutnya selalu menular. “Kenapa kecewa? Bunay, Papaji, Om Danny aja nggak pernah kecewa sama kamu. Kenapa kamu kecewa sama diri sendiri?”

“Soalnya tuhhhhhh, seebbbellll gitu!”

“Hahaha, kan udah usahaa. Kalo udah usaha ya udah dong, Cantikk. Ikhlasnya gimana coba gimana?”

“Hadaaaaaaaaaaah,” ucap Aghniya. Gadis itu menghela napas berkali-kali seraya berusaha melepas segala beban yang bersemayam di hatinya. Berusaha melepas segala hal yang tak bisa ia kendalikan. Lagi-lagi Danny tertawa.

Tak perlu lagi digambarkan betapa pria itu menyayangi anak perempuan milik adiknya itu. Dirinya yang belum menikah dan memilih membiarkan sang adik menikah lebih dulu, tadinya sempat berpikir bahwa ia akan terlupakan. Danny sempat berpikir dirinya akan sendirian lantaran Aji pasti akan fokus pada keluarga kecilnya.

Rupanya dugaannya salah. Bahkan setelah menikah dengan Ayna, Aji tetap adik yang baik. Pria itu tak lupa mengunjungi Danny di apartemen miliknya setiap minggu. Membawakannya makanan masakan Ayna agar pria itu tak lupa hangatnya masakan rumahan yang dimasak penuh cinta oleh seorang ibu. Karena sepeninggal kedua orang tua Danny dan Aji, hanya satu sama lain-lah yang keduanya miliki.

Hingga suatu Minggu pagi, Aji dan Ayna datang dengan membawakannya makanan seperti biasa. Rupanya, sepasang suami-istri itu tak hanya datang dengan sebuah soto ayam hangat hari itu, melainkan dengan sebuah kabar paling menggembirakan bagi keluarga kecil mereka. Termasuk Danny.

“Assalamu'alaikum, Mas!!” Aji mengucap salam dengan semangat. Mendengar ketukan tak henti-henti dari balik pintunya, Danny bergegas membukakan pintu. Pria itu hapal di luar kepala siapa yang akan menjadi tamunya setiap Minggu pagi.

“Sabar, Ji, ah! Masuk, Ay,” ucap Danny.”

“Masak apa, Ay hari ini?” tanya Danny ketika sudah kembali ke dalam.

“Nggak masak, Mas. Ini tadi beli, tiba-tiba aku pengen soto ayam. Jadi beliin sekalian buat Mas Danny sekalian ke sini,” balas Ayna.

“Ohhh, ya udah nggak pa-pa, makasih banyak loh, Ay, Ji, masih inget aku,” ucap Danny. Setelahnya pria itu menyediakan piring beserta alat makan untuk dirinya dan kedua tamunya.

“Kok bisa tiba-tiba pengen soto ayam, Ay? Udah lama nggak makan ya?” tanya Danny sembari mengaduk-aduk soto ayam miliknya.

“Ponakan lo, Mas yang pengen. Tuh di perut Ayna,” balas Aji terang-terangan.

Ucapan Aji membuat Danny lantas tertegun di tempat. Gerakannya mengaduk soto ayam itu terhenti, tangannya menggantung di udara. Pria itu menoleh ke arah Ayna yang sudah senyum-senyum dengan suaminya. “Seriusan?” Danny memastikan.

“Serius, Mas. Aku baru cek beberapa hari yang lalu ke dokter, alhamdulilah hasilnya positif,” balas Ayna. Membuat kedua pria di hadapannya itu bersorak-sorai dan berpelukan dengan girang.

“Oh pantesan ni bocah satu pengen buru-buru pulang, padahal lagi ku ajak bahas urusan kantor, Ay!” balas Danny yang mendapat gelak tawa Aji dan Ayna.

“Selamat ya, Ay, Ji! Ya ampun, aku yang pengen nangis, loh,” ucap Danny.*

“HAHAHA, MAAAS! MAS AJI UDAH KEJER DULUAN KEMARENN, nangis aja nggak pa-pa, kok!” balas Ayna.

“AYY, KOK KAMU BOCORINNN???” sambar Aji tak terima.”

“Kalo butuh apa-apa bilang ya, Ay!” ucap Danny tulus.

“Iya, Mas. Terima kasih banyakk!” balas Ayna.

Tentu, masih terekam jelas dalam ingatan Danny akan Minggu pagi paling indah kedua dalam hidupnya. Sebab Minggu pagi ketika dirinya mendapat hadiah sepeda dari orang tuanya masih setia menjadi yang pertama.

Danny menyayangi Aghniya sebagaimana gadis itu adalah anaknya sendiri. Bagaimanapun juga, Aghniya yang membantunya mengisi kekosongan dalam hati. Terkadang Danny merasa sendiri, namun hatinya selalu kembali penuh ketika mengunjungi rumah keluarga Aji. Membaur di sana, bercengkerama dengan Aji, menyesap kopi buatan Ayna dan turut bergabung di meja makan keluarga kecil adiknya, serta bagian favoritnya, bermain bersama Aghniya.

Danny selalu menyetujui ucapan Aji mengenai kehadiran Aghniya. Aji benar, kehadiran anak perempuannya itu memberikan semangat baru bagi keluarganya setiap hari. Kegembiraan baru yang tak ternilai harganya. Sama seperti Aji, Danny tak akan bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia juga mensyukuri kehadiran Aghniya dalam dunia ini. Bahkan tangisan Danny lebih keras dari Aji ketika Aghniya pada akhirnya lahir ke dunia. 22 Juli 2002, kemudian menjadi hari paling bahagia bagi Danny. Hari di mana dirinya memiliki kesempatan menjadi seorang paman.

“Om, ngomong lagi dong kok diem aja sih?” ucap Aghniya mengagetkan Danny.

“Hahaha, maaf maaf. Suka nggak nyangka kamu tuh udah gede banget. Om jadi suka inget dulu pas Papaji sama Bunay masih berduaan, dua-duanya suka ke rumah Om Danny. Bawain makanan, terus ada kamu. Dari kecil sampe sekarang udah segede gini. Om kaget gitu kadang-kadang,” ucap Danny.

“Makanya sering-sering main dong sama Aghni. Sering-sering ke sini,” balas Aghniya.

“Nah, ini Om tuh ke sini mau ngajak main Aghni. Jalan-jalan mau nggak?” tanya Danny.

“Kapan Om? Sekarang? Ayokkkk!!” balas gadis itu antusias.

Danny tertawa sembari mengelus pucuk kepala Aghniya. “Ya nggak sekarang dong, emang besok Aghni nggak sekolah?”

“Sekolah, sih..”

“Nah, kan. Jumat ya? Jumat, Sabtu, Minggu nanti kita jalan-jalan,” balas Danny.

Sebuah sumringah dan binar di mata Aghniya kembali nampak mendengar balasan Danny. “BENERAN? TIGA HARI?!”

“Beneeeer! Kapan Om Danny pernah boong?”

“Nggak pernahh!”

“Iya makanya. Jumat yaa? Pulang sekolah nanti Om ke sini. Kita jalan-jalan nanti, oke?” ucap Danny.

“HOKEH!”

Damar dan Aghniya sudah selesai belajar. Setelah berkutat dengan soal-soal selama kurang lebih dua jam, keduanya berhasil mengerjakan lima belas soal Fisika.

“Dahhh. Selesai,” ucap Aghniya lega.

“Jangan lupaaaa,” ucap Damar.

“Jangan lupa apa?”

“Tulisdiketahui sama jadi, kalo nggak nanti dikurangin nilai lo,” balas Damar lagi.

“Oh iya bener. Diketahui jadi diketahui jadi diketahui jadi! Jangan lupa!” Aghniya bermonolog merapal kata-kata itu berulang kali, memasukkannya ke kepala.

Damar tersenyum tipis, bahkan gadis di hadapannya itu tak menyadari. “Gue balik ya?” ucap Damar.

“Bentar lagi Magrib, nggak nunggu azan dulu?” tanya Aghniya.

“Iya sih, ya udah deh.”

Benar ucapan Aghniya, selang beberapa menit, azan kembali berkumandang. Menandakan waktu ibadah keempat dalam sehari tiba. Keduanya diam dan menyimak, setelahnya bersama-sama membaca doa setelah azan.

“Mau salat di masjid apa gimana, Dam?” tanya Aghniya.

“Masjidnya jauh nggak?”

“Lumayan, sih..” jawab Aghniya.

“Di sini boleh?” tanya Damar.

“Aghnii, salat dulu, Nak,” ucap Ayna yang tiba-tiba muncul dari kamarnya.

“Iyaa, Bun. Ini Damar mau salat juga, Bun.”

“Ohh, ya udah. Jamaah aja gimana?” usul Ayna. “Berhubung ada Damar tuh, dari pada sendiri-sendiri mending jamaah. Damar jadi imam ya?”

“Hah?”

Usul ibunya sendiri membuat Aghniya menegang. Entah bagaimana ia harus menghadapi ini. Gadis itu masih terdiam di tempatnya tanpa ada yang menggubris keterkejutannya. Beruntung dirinya berdiri membelakangi Damar sehingga pemuda itu tidak melihat ekspresinya.

“Nggak pa-pa, Bun?” Damar memastikan.

“Nggak pa-pa, yuk ambil wudhu,” ajak Ayna. Kemudian Damar berlalu mengikuti langkah Ayna, mendahului Aghniya yang masih terdiam kaku.

Bentarr, bentar.. salat Magrib... Imamnya.. suaranya kenceng kan...

Ya Allah, mau salat masa jatuh cinta dulu?