raranotruru

“Siapa yang bikin mata lo berkaca-kaca gitu?”

“Ngantuk!! Nguapp, tadi abis nguaaaap jadi gini, hehehe,” jawab Aghniya. “Emang keliatannya kayak orang mau nangis?”

“Iya. Banget. Lo serius nggak pa-pa?”

“Serius, nggak pa-pa, Damar,” balas Aghniya lagi. Gadis itu mengusahakan ekspresi wajah secerah mungkin. Supaya Damar tidak curiga dan bertanya lebih lanjut.

Damar menghela napasnya pasrah, ia memilih mengalah lalu melepas lengan Aghniya gang sedari tadi berada dalam genggamannya.

“Ya udah. Udah pesen ojol?”

“Ini mau,” jawab Aghniya.

Lalu gadis itu mengutak-atik ponselnya. Damar berdiri di sebelah Aghniya, masih mengamati gadis itu dengan seksama. Sesekali Damar mendapati air muka gadis itu yang lesu, sorot matanya tak secerah biasanya, nada bicara Aghniya pun tadi terdengar gemetar. Damar tahu, ada sesuatu yang terjadi pada gadis itu.

Dan entah mengapa, Damar merasa tidak nyaman. Rasanya gusar. Ada sesuatu yang menghambat keceriaan seorang Aghniya dan Damar tidak menyukainya. Melihat gadis itu berusaha tersenyum di hadapannya dan berpura-pura baik-baik saja, Damar tidak menyukainya.

Damar dengan senang hati mengumpamakan Aghniya sebagai matahari, dan kini ada sesuatu yang menghalangi sinarnya sampai ke bumi. Dan Damar tidak menyukainya.

Aghniya menyelipkan helaian anak rambutnya yang cukup panjang di balik telinga. Lalu mengetikan pesan pada seseorang melalui ponselnya. Damar tersenyum tipis memperhatikan setiap tingkah kecil yang dilakukan Aghniya.

Setelahnya Damar membuang muka, berpura-pura mengedarkan pandangannya ke langit. “Mendung,” ujarnya.

“Hm? Mendung?” ujar Aghniya mengulangi ucapan Damar. “Mana? Enggak, kok! Masih panas, Dam. Terang, kok. Nggak bakal ujan, tenang aja!”

“Lo. Lo yang mendung. Yakin nggak bakal ujan?” tanya Damar.

Aghniya terdiam sejenak. Ia mengerti maksud pertanyaan Damar. Masih dengan senyum yang dipaksakan, ia menjawab. “Enggak.”

“Nggak ujan, atau nggak yakin?” tanya Damar lagi.

Nggak yakin..

“Nggak ujan!” jawabnya sambil tersenyum.

“Bener ya?”

“IYAAAAA! NGGAK UJAN! Capek aja kali ya? Terus gue masih mikirin jugaaa kenapa tugas gue ilang, curiga jatoh, atau emang ada yang sengaja buangg. Makanya gituu, lesuuuu, hehehe,” balas Aghniya.

“Oalaaah, kirain kenapa. Udah, nggak usah dipikirin. Yang penting tadi udah ngumpulin lagi kan langsung ke gurunya?” tanya Damar.

Aghniya mengangguk yakin. “Besok-besok, kalo takut ilang lagi, lo ngumpulinnya terakhir aja. Sekalian lo yang bawa ke ruang guru. Mastiin biar tugas lo nggak ilang lagi,” ujar Damar lagi.

“Iyaaaaaa. Ini ojolnya udah dateng, makasih banyak ya Damar. Folionya, waktunya. Hati-hati nanti ke stasiunnya!”

“Sama-sama, hati-hati juga! Kabarin gue kalo udah sampe rumah,” balas Damar.

“Awkay, dadahh!”

“Siapa yang bikin mata lo berkaca-kaca gitu?”

“Ngantuk!! Nguapp, tadi abis nguaaaap jadi gini, hehehe,” jawab Aghniya. “Emang keliatannya kayak orang mau nangis?”

“Iya. Banget. Lo serius nggak pa-pa?”

“Serius, nggak pa-pa, Damar,” balas Aghniya lagi. Gadis itu mengusahakan ekspresi wajah secerah mungkin. Supaya Damar tidak curiga dan bertanya lebih lanjut.

Damar menghela napasnya pasrah, ia memilih mengalah lalu melepas lengan Aghniya gang sedari tadi berada dalam genggamannya.

“Ya udah. Udah pesen ojol?”

“Ini mau,” jawab Aghniya.

Lalu gadis itu mengutak-atik ponselnya. Damar berdiri di sebelah Aghniya, masih mengamati gadis itu dengan seksama. Sesekali Damar mendapati air muka gadis itu yang lesu, sorot matanya tak secerah biasanya, nada bicara Aghniya pun tadi terdengar gemetar. Damar tahu, ada sesuatu yang terjadi pada gadis itu.

Dan entah mengapa, Damar merasa tidak nyaman. Rasanya gusar. Ada sesuatu yang menghambat keceriaan seorang Aghniya dan Damar tidak menyukainya. Melihat gadis itu berusaha tersenyum di hadapannya dan berpura-pura baik-baik saja, Damar tidak menyukainya.

Damar dengan senang hati mengumpamakan Aghniya sebagai matahari, dan kini ada sesuatu yang menghalangi sinarnya sampai ke bumi. Dan Damar tidak menyukainya.

Aghniya menyelipkan helaian anak rambutnya yang cukup panjang di balik telinga. Lalu mengetikan pesan pada seseorang melalui ponselnya. Damar tersenyum tipis memperhatikan setiap tingkah kecil yang dilakukan Aghniya.

Setelahnya Damar membuang muka, berpura-pura mengedarkan pandangannya ke langit. “Mendung,” ujarnya.

“Hm? Mendung?” ujar Aghniya mengulangi ucapan Damar. “Mana? Enggak, kok! Masih panas, Dam. Terang, kok. Nggak bakal ujan, tenang aja!”

“Lo. Lo yang mendung. Yakin nggak bakal ujan?” tanya Damar.

Aghniya terdiam sejenak. Ia mengerti maksud pertanyaan Damar. Masih dengan senyum yang dipaksakan, ia menjawab. “Enggak.”

“Nggak ujan, atau nggak yakin?” tanya Damar lagi.

Nggak yakin..

“Nggak ujan!” jawabnya sambil tersenyum.

“Bener ya?”

“IYAAAAA! NGGAK UJAN! Capek aja kali ya? Terus gue masih mikirin jugaaa kenapa tugas gue ilang, curiga jatoh, atau emang ada yang sengaja buangg. Makanya gituu, lesuuuu, hehehe,” balas Aghniya.

“Oalaaah, kirain kenapa. Udah, nggak usah dipikirin. Yang penting tadi udah ngumpulin lagi kan langsung ke gurunya?” tanya Damar.

Aghniya mengangguk yakin. “Besok-besok, kalo takut ilang lagi, lo ngumpulinnya terakhir aja. Sekalian lo yang bawa ke ruang guru. Mastiin biar tugas lo nggak ilang lagi,” ujar Damar lagi.

“Iyaaaaaa. Ini ojolnya udah dateng, makasih banyak ya Damar. Folionya, waktunya. Hati-hati nanti ke stasiunnya!”

“Sama-sama, hati-hati juga! Kabarin gue kalo udah sampe rumah,” balas Damar.

“Awkay, dadahh!”

Damar memainkan ponselnya sambil sesekali mencuri pandang pada gadis yang sedang sibuk menulis di hadapannya. Sesekali ia menerawang, menatap langit-langit, nampak mengingat-ingat sesuatu yang ia tulis pada tugas sebelumnya.

Anak rambutnya berantakan namun tetap tak mengurangi kadar kecantikan gadis itu di mata Damar. Malah membuat pemuda itu gemas, sedari tadi ingin sekali menggerakan jemarinya untuk merapikannya. Sebab itulah, Damar memilih untuk bermain ponsel, guna meminimalisasi perasaan gemasnya.

“Aduhh, salah mulu dah, plis lah tolong lah, kerja samanya lah,” Aghniya bermonolog.

Damar terkekeh, entah kali ke berapa. “Kok ngomong sendiri? Ini ada gue loh, ngomong sama gue sini jangan ngomong sendiri, hahahaha.”

“Eh, hehe. Sorry ya, emang suka gitu, aneh banget deh. Malu,” balas Aghniya.

“Ahahaha, udah itu kerjain. Masih banyak? Folionya cukup?”

“Iyaaaaaaa sedikiiiiiiiit lagi! Cukup, Damaar. Ini belum dibalik, kok,” jawabnya.

Lalu gadis itu kembali menulis. “Damar,” panggilnya, sambil masih menulis.

“Iyaaa,” jawab Damar.

“Emang Damar nggak mau pulang?”

“Lo ngusir gue ya?”

“ENGGAK!” seru Aghniya. “ENGGAK SUMPAH! Nanya doaaaaang, maksudnya takutnya kan lo ada perlu. Masa nungguin gue, emang nggak pa-pa?”

Damar, untuk kesekian kalinya, tertawa. Andai pemuda itu tahu suara tertawanya yang renyah namun tetap terdengar halus itu membuat hati gadis di hadapannya itu kacau tak karuan.

“Enggakk, nggak pa-pa. Gue disuruh jemput kakak sepupu gue nanti di stasiun. Tapi dia belom sampe juga. Gue males kalo pulang dulu, mending nunggu sini, dari sini ke stasiun deh,” balas Damar.

“Ooooooh gitu.”

“Lo nanti pulang sama siapa?” tanya Damar.

“Sendiri, naik owjowl,” Aghniya membalas dengan aksen yang dibuat-buat.

“Bentar Damar. Ini udah selesai. Mau ngumpulin dulu yaa!” ujarnya. Lalu gadis itu berlari menuju ruang guru tanpa memakai sepatunya. Membuat Damar menggelengkan kepalanya.

Pria itu memilih untuk merapikan sepatu gadis itu yang tersenggol pemiliknya sendiri. Damar bahkan merapikan alat tulis Aghniya dan kembali memasukkannya ke dalam tempat pensil milik gadis itu.

Tak lama kemudian Aghniya kembali. Gadis itu melangkah riang dengan secercah senyum menghiasi wajahnya.

Aghniya bergumam riang. “Udah?” tanya Damar. Gadis itu lalu mengangguk semangat.

“Pulpen gue?” tanyanya bingung.

“Udah gue masukin tempat pensil,” jawab Damar. “Ya ampun, makasih banyak Damar.”

“Dah, rapiin dulu. Gue temenin sampe ojolnya sampe,” ujar Damar. “Tapi gue ke depan sebentar ya?”

“Ah, okayy!”

Aghniya lanjut merapikan barang-barangnya. Gadis itu lalu duduk di kursi. Sambil memakai sepatunya, Aghniya memikirkan tugasnya yang raib secara tiba-tiba. Gadis itu mengingat dengan jelas bahwa dirinya sudah meletakkan tugasnya di meja guru, bersama dengan tugas milik teman-temannya.

Masih melamun, Aghniya merasakan seseorang duduk di sebelahnya. Gadis itu menoleh, rupanya Revan.

“Cowok lo nggak masuk, terus ngegebet Damar?” ujar Revan.

Aghniya memutar matanya, menganggap ucapan Revan angin lalu. Kemudian lanjut memakai sepatu.

“Lo kok putus dari gue jadi liar gitu sih, Agh? Siapa yang ngajarin?”

Aghniya mendelik tak suka ke arah Revan. “Maksudnya?”

“Cowok lo makin banyak. Lo mau ngikutin jejak gue?”

“Duluan ya, Rev!” pamit Aghniya. Gadis itu memilih meraih ranselnya, membawakan serta ransel Damar yang ditinggal di kursi.

“Perhatian banget bawain tas Damar? Emang lo siapanya?”

“Urusannya sama lo apa sih? Emang kita kenal?” tanya Aghniya ketus.

“Jangan recet deh mulut lo! Gue nggak ada urusan sama lo!” ucap Aghniya lagi, lalu berniat pergi.

“Wets, tar dulu,” ucap Revan. Pria itu menahan lengan Aghniya, tak lupa menghalangi jalannya.

“Lepas!”

“Kenapa sih lo benci banget sama gue?” tanya Revan. Sejujurnya Aghniya menyadari nada bicara Revan yang melunak. Tak ada kesombongan pada kalimatnya kali ini.

Namun, gadis itu tetap mendelik tak suka. “Ya menurut lo aja, gila!”

“Minggir ah!” titah Aghniya.

“Ck, apa sih yang lo cari dari Damar? Dari Dhimas? Fame? Apa bedanya sama pas masih sama gue? Tapi gue jadi penasaran, kenapa lo bisa deket sama mereka? Cara lo genit-genit oke juga,” celetuk Revan.

Aghniya membelakakkan matanya mendengar kalimat terakhir Revan. Cara lo genit-genit, katanya?

“Lepas tangan gue, tutup mulut lo. Tas Damar ada laptopnya, jangan sampe melayang kena palak lo ya!” balas Aghniya tegas. Gadis itu tak berbohong, tas Damar cukup berat hari itu. Asumsinya, Damar membawa laptop.

“Lo nggak berubah ya, masih galak aja. Pantesan mepet banyak cowok juga nggak ada yang mau sama lo,” ujar Revan.

Aghniya mengembuskan napas kasar. Sudah muak dengan kehadiran Revan di depan wajahnya.

“Lo pikir lo berubah? Enggak. Masih sama, masih nggak tau cara menghargai orang lain.”

Revan terkekeh sinis, “Emang berapa harga lo?”

Aghniya mendadak diam. Tangannya meremas tas Damar dalam pelukannya. Matanya berkaca-kaca, namun masih sekuat tenaga menahan tangisannya. Gadis itu membuang muka, lalu berlalu meninggalkan Revan saat pemuda itu lengah.

Gadis itu berjalan sambil menunduk, hingga lagi-lagi hampir menabrak Damar.

“E-eh, kok ke sini, Agh?” tanya Damar.

“Hah? Oh, iyaa. Nggak pa-pa, biar lo nggak jauh lagi aja jalannya. Ini, tas Damar,” jawab Aghniya. Gadis itu menyerahkan tas Damar pada pemiliknya.

“Terima kasih, lain kali nggak usah dibawain ya, berat. Hari ini gue bawa laptop lagi, maaf ngerepotin yaa,” ujar Damar. Aghniya diam-diam bersyukur dalam hati, setidaknya dirinya tidak berbohong pada Revan.

Gadis itu merapikan anak rambutnya yang kembali berantakan, mengatur napasnya. “Takut ilang, nggak ada yang jagain.”

“Lo— kenapa, Agh?” tanya Damar. Dirinya menyadari perubahan ekspresi Aghniya ketika hampir bertabrakan dengannya. Damar juga menangkap netra Aghniya yang nampak berkaca-kaca.

“Hm? Enggak. Nggak pa-pa,” jawabnya sambil berusaha tersenyum.

“Bohong,” balas Damar.

Aghniya tertawa dibuat-buat, “Enggaaak. Beneran nggak pa-pa. Gue mau pesen ojol dulu yaa. Tunggu depan aja yuk?”

Sebelum Aghniya berlalu, Damar menahan lengannya. Menatap gadis itu tepat di matanya. “Siapa?”

Aghniya mengangkat sebelah alisnya, terkejut namun bingung disaat bersamaan.

“Ap-apa?”

“Siapa yang bikin mata lo berkaca-kaca gitu?”

“Aghniya ya?” panggil seseorang.

Aghniya menoleh, mendapati seorang gadis yang ia ketahui berada di kelas yang sama dengan Damar, Haris, dan Jauzan.

“Iyaa, Orin kan?” tanyanya memastikan.

“Eh boleh panggil Orin?” tanya Aghniya lagi. Takut-takut panggilan tersebut hanya ditujukan untuk orang-orang terdekat.

“Boleh, lah. Gue malah aneh kalo dipanggil Maureen. Lo tadi dipanggil guru Bahasa Indonesia, katanya tugas lo nggak ada,” balas Orin.

“Hah? Serius? Gue udah ngumpulin kok tadi bareng yang lain,” jawab Aghniya yakin.

“Waduh, gue nggak tau deh, Agh. Coba samperin aja, siapa tau kalo lo yang nyari ketemu,” usul Orin.

“Duhh, iyaa makasih banyak yaa Orinn, maaf jadi ngerepotin!” celetuk Aghniya. Lalu gadis itu berlari dengan cepat menuju ruang guru untuk mengonfirmasi bahwa dirinya sudah mengumpulkan tugas bersama yang lain.

“Assalamu'alaikum, Ibu. Maaf, tugas saya nggak ada ya, Bu?” tanyanya.

“Iya, Nak. Tugasmu mana? Ibu suruh kumpulkan tadi kan?”

“Iyaa, Bu. Saya udah ngumpulin, kok. Inget banget judulnya Kemiskinan. Saya buat teks eksplanasi soal Kemiskinan. Udah saya kumpul bareng sama punya yang lain, Bu,” balas Aghniya. Gadis itu masih berusaha tenang meski hatinya dilanda kepanikan.

“Iyaa, tapi faktanya di sini nggak ada, Nak. Ibu sudah hitung berkali-kali juga jumlahnya cuma 34 dari 36 siswa. Kosong satu punya Dhimas, karena tidak masuk. Satu lagi punyamu. Kenapa nggak mengumpulkan?”

“Maaf, Bu. Tapi saya yakin tadi udah ngumpulin juga,” jawab Aghniya yakin.

“Iyaa tapi nggak ada. Ya sudah begini, Ibu kasih kesempatan. Kamu kerjain lagi, di kertas folio, Ibu tunggu sampai pukul 5 sore ya? Kalau sudah langsung bawa sini.”

Aghniya terkejut, namun tak ada waktu untuk tetap bingung dan larut dalam pikiran sendiri. Gadis itu segera melirik jam tangan yang melingkari lengan kirinya. Pukul 15.30, seharusnya masih cukup untuk mengerjakan tugas ini.

“Iya, Bu. Segera saya kerjakan, terima kasih banyak, Ibu. Permisi, assalamu'alaikum,” ujarnya. Lalu Aghniya keluar dari ruang guru dengan tergesa. Gadis itu melangkahkan kaki jenjangnya dengan cepat menuju koperasi sekolah, namun sayangnya koperasi sudah tutup.

Gadis itu menyugar anak rambutnya gusar, fotokopian cukup jauh dari sekolah, entah cukup waktu atau tidak jika dirinya membeli kertas folio di sana. Dan entah mengapa, di saat-saat seperti ini Aghniya justru tidak menemukan Ayesha atau Vio yang bisa diharapkan untuk menolongnya.

Aghniya mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Ayesha. Gadis itu mengirimkan pesan sambil berjalan hingga tak sadar di depannya ada seseorang.

BRUKK! Aghniya pada akhirnya menabrak seseorang. Bahkan batang hidungnya terasa sakit. Aghniya memalingkan wajahnya, menahan sakit pada hidungnya dengan matanya yang mengeluarkan sedikit air mata. Tak lupa ia mengambil ponselnya yang terjatuh. Setelah kembali berdiri, barulah Aghniya menyadari bahwa orang yang ditabraknya adalah Yudhistira Damar. Dan ini yang kedua kali.

“Aghni? Sakit nggakk? Ya Allah maaf yaaaa,” Damar memulai pembicaraan.

“Hah? H-hah? Enggakkk. Nggak pa-pa, Dam. Duhh, maaf ya. Gue buru-buru banget, lo nggak pa-pa?”

“Gue? Gue ya nggak pa-pa, lo ada yang sakit nggak? Mata lo berkaca-kaca gitu,” balas Damar.

“Enggak, nggak sakit asli. Nggak pa-pa, misi Damarr,” ujar Aghniya. Gadis itu lalu melangkah melewati Damar. Namun, sesaat kemudian ia kembali berbalik.

“Damar, punya folio?”

Damar mengingat-ngingat, sesaat kemudian mengangguk. “Ada, mau?”

“MAUUU! Mau, Dam!”

Damar tertawa lalu membuka ranselnya guna mengambil selembar kertas folio dan menyerahkannya pada Aghniya. “Nih, satu aja cukup?”

“CUKUP, makasih banyak, Dammmm! Sumpah gue udah mau nangis!” seru Aghniya.

Damar mengangkat sebelah alisnya, “Kenapa?”

“Tugas gue ilangg. Padahal tadi udah dikumpulin, tapi ilangg. Sumpah nggak tau, tiba-tiba ilang. Ini disuruh ngerjain lagi tapi batasnya cuma sampe jam 5, mana temen-temen gue ilang semua lagi,” cetus Aghniya.

“Kok bisa ilang?”

“Nggak tau..” Aghniya menjawab dengan nada yang berubah lesu. Nampak dari kedua bahunya yang merosot dan bibir gadis itu yang mengerucut.

Damar lagi-lagi terkekeh mendapati ekspresi menggemaskan. “Ya udah kerjain, sini aja nih, bangkunya jadiin meja. Ketinggian nggak?”

Seperti tersihir, Aghniya menuruti perkataan Damar. Gadis itu bergegas meletakkan tasnya di bangku panjang, mengeluarkan tempat pensil miliknya, lalu berniat lesehan. Namun, sebelum berhasil duduk, Damar menahannya.

“Jangan di situ, basah! Nanti roknya kotor,” ujar Damar.

“Hah? Terus di mana dong? Basah semua, kok basah sih? Anak basket kali ya naro minum di sini?” Aghniya berujar sendiri sambil celingak-celinguk mencari tempat yang bisa ia duduki.

“Lo mau ngapain?” tanya Damar pada Aghniya yang melepas sepatunya.

“Duduk, duduk di sepatu aja,” jawabnya.

“Basah nanti kaos kakinya?”

“Nggak pa-pa, lah. Kelamaan, nanti pulangnya nggak usah pake kaos kaki juga nggak pa-pa,” balas Aghniya.

“Lah, Damar. Ngapain?”

“Duduk,” jawab Damar.

“Ngapain?”

“Nemenin lo, emang mau sendirian?” tanya Damar.

“Yaa.. nggak pa-pa. Emang lo nggak pengen pulang?”

“Nanti aja. Udah cepet kerjain, gue temenin,” balas Damar.

“Assalamu'alaikooooom, Damaaaar!”

Damar yang sedang bersantai di sofa menoleh ke sumber suara, pemuda itu mendiamkan. Sudah hapal siapa yang bertamu, pastilah dua cecunguk yang seenaknya menjadikan rumahnya markas abal-abal mereka.

“Masook!” balasnya dari dalam. Tak lama nampaklah Ojan dan Haris yang sudah berganti pakaian dengan baju rumahan.

Kedua tamu Damar itu akhirnya merebahkan diri di karpet ruang tamu Damar. “Adeeeeh, anjayy! Enak banget. Dam, Dam kipas dong nyalain!” ujar Ojan.

“Kurang ajar lo ye, gue yang punya rumah gue yang disuruh-suruh,” balas Damar.

“Tamu adalah raja, Bro!” balas Haris mendukung Ojan.

“Pret, Raja kentut kali lo!” ujar Damar.

Haris dan Ojan hanya tertawa. Pasalnya memang benar yang dikatakan Damar. Haris dan Ojan adalah dua orang yang selalu mengeluarkan bom setiap kali mereka berkumpul. Jika ada bau tak sedap tercium, jelas-lah siapa yang harus disalahkan. Tentunya cacian dan makian tak pernah tertinggal.

“Aus, Dam,” ujar Haris.

“Lo kan tau kulkas gue di mana, Ris. Ambil sono,” jawab Damar.

“Ambil kulkas lo? Gue bawa balik ye?” balas Haris.

“Iye ambil aje, ntar gue tinggal bunyiin pentungan biar lo digebukin warga,” jawab Damar.

“BAHAHAHAHAH, eh gue mau ikut gebukin,” balas Ojan.

“Harus, Jan. Kita paling depan gebukin Haris,” ujar Damar.

“Emang bangsat lo, Jan! Lo sebenernya di kubu siapaa?!”

“Gue di kubu yang menguntungkan lah! Sekarang di rumah Damar ya gue bersekutu dengan Damar. Elu aneh, Ris,” balas Ojan.

“Yeuu, gue gatak lo!” kesal Haris. Lalu pemuda itu bangkit mengambil minum di kulkas Damar. Haris berbaik hati mengambilkan minum juga untuk kedua temannya.

“Dam, laper. Masak mie dong,” ujar Ojan.

“Ayok, Jan. Lo yang masak ye?” balas Damar.

“Iyeee, ayok dah! Ada telor nggak? Gue mau pake telor, Dam. Gue punya resep baru, mie goreng pake telor ceplok.”

“Bisa lo bikin telor ceplok?” tanya Damar.

“Bisa lah, udah canggih nih gue,” jawab Ojan.

“Ris mau mie nggak?” tanya Damar pada Haris yang baru datang.

“Gas lah! Siape yang bikin?” tanya Haris.

“Ojan, katanya punya resep baru doi,” balas Damar.

“Ah serius? Yakin lo, Dam?”

“APA MAKSUD LO MERAGUKAN GUE?” balas Ojan pada Haris.

“Ntar nggak enak sayang egee, gue lagi laper banget nih” jawab Haris.

“Udeh deh, bismillah aje lah, Ris. Biarin aja bocahnya berekspresi, kalo nggak enak lo yang abisin ye, Jan?” ujar Damar menengahkan.

“IYE DEHHHH!” balas Ojan. Membuat kedua temannya yakin. Lalu ketiganya bergegas ke dapur dan membiarkan Ojan memasak mie instan.

Mie sudah matang, Ojan memasaknya dengan sempurna. Kini tiba waktunya memasak telur ceplok seperti yang direncakan Ojan.

“Dam teflon manah?” tanya Ojan.

“Itu depan mata lu digantung,” balas Damar.

“Oh iya,” balas Ojan.

“Ah tuh, dari awal aja udah gagal. Gimana seh,” ujar Haris.

“Diem lo, Riss. Nanti kalo enak jangan minta masakin gue lagi ye!” balas Ojan.

“Eh, Dam videoin begooo, jadi nanti kalo kita keracunan kita punya bukti siapa yang ngeracunin,” ujar Haris.

Damar tertawa, lalu pada akhirnya mengikuti perkataan Haris. Pemuda itu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku lalu mulai merekam Ojan yang memasak.

“Halo guys, kita lagi nontonin chef nih. Chef Ojan masak. Nanti kalo gue sama Damar nggak masuk sekolah, salahin Ojan ya! Makanannya nggak bener,” Haris mengawali video.

“We anjay pake minyak dodolll— eh, pinter banget sumpah, ya lo taro dulu di kompor teflonnya doooong!” ujar Haris pada Ojan yang repot sendiri.

Begitu terus, suara Damar dan Haris terus saja memenuhi telinga Ojan dengan berbagai ejekan. Padahal Ojan bahkan belum menyalakan kompor.

“Gosong nih gosong.”

“Nggak enak nih pasti.”

“Asin Jan, asin!”

“Jan jangan dikasih gula dong, pake garem.”

“Jan yang bener yak!”

“Jan jangan bakar dapur gue ya!”

“Jan, insiden Dhimas jangan lo ulang lagi, Jan!”

“Jan!”

“Jan!”

“Jan profesional banget laga lu!”

“BERISIK LO BERDUA DONGOO, GUE KEMPLANG TEFLON LU YA!”

Hari Jumat, hari yang paling ringan untuk ditempuh di antara hari-hari sekolah lainnya. Satu-satunya pelajaran berat yang ada di jadwal Aghniya adalah Fisika.

Waktu terasa berjalan lebih cepat. Kini waktunya istirahat, Aghniya memilih menunggu di kantin sementara Ayesha menyempatkan ibadah duha kala itu. Gadis itu mendudukkan dirinya di bangku kantin yang menghadap langsung ke masjid sekolah sambil menyesap susu ultra cokelat yang sengaja ia beli untuk mengganjal perutnya.

Gadis itu asik bermain ponsel ketika Damar baru saja keluar dari masjid sekolah. Rambutnya yang sedikit panjang itu terlihat masih basah dengan sisa air wudhu. Tak lama juga terlihat Ojan yang turut duduk dan memakai sepatu. Netra Jauzan yang lebih dulu menangkap Aghniya di kantin, membuatnya segera menyiku Damar pelan.

“Aghniya, Bro,” ujar Ojan, menunjuk gadis yang sedang sibuk bermain ponsel itu dengan dagunya.

Damar otomatis menoleh, namun tak bicara apa-apa. Pria itu memilih lanjut memakai sepatu hingga terikat rapi. Ojan berkata lagi, “Kok sendirian sih tumben dah, biasanya sama Ayesha.”

“Ayeshanya lagi jajan kali, lo mau langsung ke kelas apa gimana, Jan?”

“Ke kelas aja dah, gue tadi udah beli makan pagi-pagi. Makanan gue udah di kelas. Lo ngantin? Anjay iyalah, ngapain pake gue tanya yak hahahahah,” balas Ojan.

Damar hanya terkekeh. Setelahnya Ojan yang lebih dulu selesai memakai sepatu itu bangkit dan memilih pamit ke kelas. “Cabut, Dam!”

“Yooo!” balas Damar seadanya.

Setelahnya Damar berjalan menuju kantin. Tentu saja tak lupa menyapa pujaan hatinya terlebih dulu. “Sst sst!”

Aghniya mengalihkan pandangannya dari ponsel menuju sumber suara. Matanya sedikit terbelalak ketika mendapati Damar berada di hadapannya sambil tersenyum.

“Sendirian?”

Masih sambil meminum susu cokelat miliknya, gadis itu mengangguk. “Ayeshanya lagi salat dulu.”

“Oalaah, lo nggak?”

“Masih libur, belom selesai,” balas gadis itu. Damar hanya mengangguk-angguk paham. “Bentar ya gue beli makan dulu,” ujar Damar. Aghniya hanya mengangguk.

Tak lama kemudian Damar kembali dengan sepiring nasi dengan lauk yang ia pesan. Pemuda itu mendudukkan dirinya di sebelah Aghniya. “Eh gue duduk sini ya, Agh?”

“Iyaa duduk aja.”

“Makasihh,” balasnya.

“He'emmm,” Aghniya membalas lagi.

Baru saja Damar ingin memulai percakapan, seorang adik kelas menginterupsi keduanya dengan menghampiri Aghniya.

“Kani,” panggilnya.

Aghniya lantas menoleh, “Yaa?”

“Tadi Mamaku chat aku, katanya Mama mau pergi terus kuncinya dititip di rumah Kani. Nanti pulang bareng ya? Sekalian mau main di rumah Kakak aja. Aku males sendirian di rumah,” ujarnya.

“Ohh, ya udah, Jar. Kamu ke kelasku berani nggak?” tanya Aghniya pada Zahra, adik kelas yang juga tetangganya itu.

“IH, ya nggak lah, Kak! Itu satu koridor isinya angkatan Kakak semua mana aku berani,” jawab Zahra.

“Ah nggak jelas lo, Jara-Joro! Ya udah nanti ketemu di depan TU aja ya? Kamu chat aku kalo udah di sana!”

“Nah, begitu lebih baik. Nanti nonton film ya, Kani?” pinta Zahra.

“Iyaaa,” jawab Aghniya.

“Sekalian makan masakan Bunay, ya, Kani?”

“Iyaaa,” jawab Aghniya lagi.

“Sekalian bantuin pr aku mau nggak, Kak?”

“Emang paling bisa ya, ini anak. Ya udahh, ini pulang aja belom, Jaraa! Yang penting nanti kamu ke rumahku dulu aja, kan?” balas Aghniya.

Zahra hanya tertawa. “Ya udah, aku mau jajan. Dadah, Kani, love you, muach!”

“IDIH,” canda Aghniya sambil bergidik geli.

Setelahnya ia kembali menghadap Damar yang sedari tadi terpaksa ia abaikan. “Sorry ya, Dam. Jadi dicuekin,” ujar Aghniya.

“Santaai,” balas Damar. “Dia tetangga lo?”

“Iyaaa. Tetangga gue tapi sekolah di sini juga. Heran, kerjaannya ngintilin gue aja. Dari SD bareng mulu masa sekolahnya,” balas Aghniya.

“Serius? Hahahahah. Tapi keliatannya lo sama dia deket banget ya?”

“Iyaa, lah. Gimana enggak? Dari kecil sih sebenernya. Gue kan anak tunggal, nah dia juga. Jadi kita berdua sering main bareng, dia udah kayak adek gue sendiri juga sih. Abis gimana ya, temen gue dia doang. Temen dia gue doang,” jawab Aghniya lagi.

Damar mengangguk-angguk. Sekon berikutnya alisnya bertaut, teringat panggilan yang sebelumnya adik kelas itu gunakan pada Aghniya. “Tapi tadi dia manggil lo apa?”

Aghniya mengangkat sebelah alisnya menanggapi pertanyaan Damar. “Oooh, Kani. Dia manggil gue Kani, kadang sih. Kalo dia lagi mau aja.”

Damar semakin bingung, “Kok Kani?”

“Kak Aghni. Tapi sama dia disingkat, jadi Kani.”

“Oooh, hahahahah. Biar apaa dah?”

Aghniya terkekeh, “Gue kan manggil ortu gue tuh Bunay—Papaji. Singkatan dari Buna Ayna, Papa Aji. Terus kata Zahra, biar sah jadi anak mereka gue harus buat singkatan juga gitu, biar kayak Bunay sama Papaji. Makanya dia bikin 'Kani'. Singkatan dari Kak Aghni. Ah, nggak tau deh nggak jelas emang Jara-Joro. Tapi lucu sih, hehehe.”

“Lah berarti secara nggak langsung lo manggil orang tua lo pake namanya juga ya? Hahaha,” balas Damar.

“Iyaa. Kata Papa biar inget nama orang tuanya. Biar ketanem dalem otak.”

Damar hanya tertawa kecil menanggapi ucapan gadis di sebelahnya. Setelahnya memilih memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya.

“Kalo Damar manggil orang tuanya gimana?”

“Normal-normal aja gue, mah. Ibu—Bapak,” jawab Damar.

“Ih lucu deh tapi. Udah jarang nggak sih sekarang orang yang manggilnya Ibu—Bapak? Biasanya Papa—Mama, Mama—Ayah, gitu-gitu, deh! Eh, lah tapi berarti gue nggak normal, dong?”

Damar lagi-lagi terkekeh, lalu setelahnya menggeleng. “Bukan nggak normal, unik. Lo doang kan yang punya panggilan begitu ke orang tua lo?”

“Iya juga sih. Waw, positive thinking sekali ya, Yudhistira Damar.”

Damar lagi-lagi tertawa. “Eh tapi gue juga mau dong punya singkatan nama panggilan gitu. Tapi jadi apaan ya? Masa Kadam? Kamar? Jelek, dah!” ujar Damar.

Aghniya masih diam. Diam-diam gadis itu benar-benar memikirkan singkatan nama panggilan untuk Damar. Damar pun masih terdiam, pemuda itu memikirkan hal yang sama disela kunyahannya.

“Kayu?”

Damar menoleh, “Hah?”

“Kak Yudhistira. Kayu.”

“Iya juga,” balas Damar. “Okee, gue Kayu. Haloo, Kani!” ucapnya sambil melambaikan tangan ke arah Aghniya di hadapannya. Tak lupa senyum manisnya itu kembali ia pamerkan.

“Ahahahaha, halo juuuuga Kayuuu!”

“Eh, tapi di antara kita tuh siapa yang lebih tua sih?” tanya Damar tiba-tiba.

“Hmmm, nggak tau. Lo lahir bulan apa?” tanya Aghniya. Pencitraan, sebenarnya gadis itu sudah mengetahui bahwa Damar-lah yang lebih tua. Tentu saja ia menghapal tanggal lahir Damar.

“Mei, gue 7 Mei. Lo?”

“Juli, tanggal 22,” balas Aghniya.

“Oh iya tuaan gue. Tapi ulang tahun kita deket juga, gue kira jauh,” balas Damar.

“Ultahnya doang yang deket kitanya enggak? Enggak lah, bercanda doang, Damar. Damaiiii,” ujar Aghniya. Setelahnya gadis itu cengengesan. Lalu merutuki dirinya sendiri yang suka kelepasan meledek orang lain secara spontan.

“Oh kurang deket?” tanya Damar. Setelahnya justru pria itu menggeser posisinya mendekati Aghniya. Membuat bahu kanan Aghniya bersentuhan dengan bahu kiri milik Damar. Gadis itu lalu membeku di posisinya. “Udah deket belom nih?”

Melihat gestur Aghniya yang mendadak kaku, Damar tertawa lalu kembali menggeser posisinya menjauh dari gadis itu. Damar menangkap jelas bagaimana gadis itu pada akhirnya menghela napas lega setelah dirinya bergeser ke posisi semula. Diam-diam, Damar merasa gemas dalam hati.

“Iseng sihh, diisengin balik kaget kaan?” ejek Damar. Kini pria itu menunjuk-nunjuk wajah Aghniya yang memerah akibat ulahnya sendiri.

“Ah, curang! Tadi kan lo udah bales isengin gue masa sekarang gue diisengin lagi?”

“Biarin. 2-1 ya, Kanii. Coba lagi coba lagi, pasti nanti kalah lagi, sih,” balas Damar.

“Mana adaaaaa! Lo curang ah yang tadi nggak diitung!”

“Itung, lahh. Tuhh, berarti yang curang tuh eloo!” ujar Damar lagi.

“Enggak! Yang tadi pelanggaran. Nggak diitung. Iii Damar curang iii! Sorakin Damar! Huuuuuuu!”

“Iyaa deeh, ngalah sama anak kecil,” balas Damar.

“Ah malesin! Musuhan aja lah!”

“Tuh, ngambeknya aja kayak anak kecil. Itu kan bahasa anak kecil kalo lagi maen tau, Agh. Malesin, musuhan aja! Aku nggak mau temenan lagi sama kamu! gitu,” jawab Damar.

“APAAANNNNN NGGAK ADA!”

“Dihh nggak percaya, anak kecil di rumah gue begitu semua!” balas Damar tidak mau kalah.

“Iya karena elu kaptennya kan? Lo yang menghasut mereka menebar kebencian, kan?” tanya Aghniya bercanda.

“Bener, kok tau sih?” balas Damar.

“Ih demi apa, Dam?”

“Hahahaha, enggak lah. Gue mah anak—” Damar menggantung kalimatnya.

“Anak apa?”

“Anak Ibu gue, lah.”

“Ih apa sih nggak jelas.”

Namun setelahnya dua remaja itu sama-sama tertawa, padahal sama sekali tidak ada yang lucu. Mungkin memang benar kata Dhimas, Aghniya mudah tertawa jika bersama Damar. Namun, begitu pula sebaliknya. Lagipula, kalau rasa sudah tumbuh di dalam hati, siapa yang butuh usaha setengah mati untuk mengukir senyum pada wajah satu sama lain?

Aghniya bahkan bisa tersenyum hanya dengan melihat sepatu Damar tersusun rapi di rak sepatu masjid. Damar bahkan bisa tersenyum hanya dengan melihat susu ultra cokelat yang terpajang rapi di rak minimarket dekat rumah.

Kalau rasa sudah tumbuh di dalam hati, percakapan seringan julukan Kani—Kayu yang pada akhirnya beranak-pinak menjadi topik lain, tentunya menjadi sangat luar biasa.

Tak lama kemudian, Ayesha pada akhirnya selesai dengan ibadahnya. Gadis itu pun sudah selesai memakai sepatu. Ayesha lalu berjalan menghampiri Aghniya yang terlihat sedang bercengkrama dengan Damar. Ayesha hanya menahan senyumnya, tentu saja turut senang melihat teman dekatnya berbahagia. Awalnya bahkan Ayesha ingin meninggalkan Aghniya, membiarkan gadis itu memiliki waktu lebih lama dengan Damar. Namun, niat itu segera ia urungkan.

“Met, naik nggak?” panggilnya.

Aghniya dan Damar otomatis menoleh, lalu dengan cepat Aghniya mengangguk. “Naikkk!”

“Damar, duluan yaaa!” pamit Aghniya pada Damar.

“Iyaaa, tiati yaa, Kani!”

Aghniya terpaku sesaat, lalu tersenyum. “Iyaaa, dadah, Kayu!”

Setelahnya gadis itu berlalu dengan semangat, tak lupa membawa sampah susu kotaknya yang kemudian ia buang pada tempat sampah kantin. Setelahnya menggandeng lengan Ayesha dan menariknya pergi dengan langkah riang.

Aghniya berlalu tanpa menyadari satu hal, Damar tak melepas pandangannya pada gadis itu hingga dirinya benar-benar tak dapat lagi menjangkau Aghniya dengan netranya.

Hari Jumat, hari yang paling ringan untuk ditempuh di antara hari-hari sekolah lainnya. Satu-satunya pelajaran berat yang ada di jadwal Aghniya adalah Fisika.

Waktu terasa berjalan lebih cepat. Kini waktunya istirahat, Aghniya memilih menunggu di kantin sementara Ayesha menyempatkan ibadah duha kala itu. Gadis itu mendudukkan dirinya di bangku kantin yang menghadap langsung ke masjid sekolah sambil menyesap susu ultra cokelat yang sengaja ia beli untuk mengganjal perutnya.

Gadis itu asik bermain ponsel ketika Damar baru saja keluar dari masjid sekolah. Rambutnya yang sedikit panjang itu terlihat masih basah dengan sisa air wudhu. Tak lama juga terlihat Ojan yang turut duduk dan memakai sepatu. Netra Jauzan yang lebih dulu menangkap Aghniya di kantin, membuatnya segera menyiku Damar pelan.

“Aghniya, Bro,” ujar Ojan, menunjuk gadis yang sedang sibuk bermain ponsel itu dengan dagunya.

Damar otomatis menoleh, namun tak bicara apa-apa. Pria itu memilih lanjut memakai sepatu hingga terikat rapi. Ojan berkata lagi, “Kok sendirian sih tumben dah, biasanya sama Ayesha.”

“Ayeshanya lagi jajan kali, lo mau langsung ke kelas apa gimana, Jan?”

“Ke kelas aja dah, gue tadi udah beli makan pagi-pagi. Makanan gue udah di kelas. Lo ngantin? Anjay iyalah, ngapain pake gue tanya yak hahahahah,” balas Ojan.

Damar hanya terkekeh. Setelahnya Ojan yang lebih dulu selesai memakai sepatu itu bangkit dan memilih pamit ke kelas. “Cabut, Dam!”

“Yooo!” balas Damar seadanya.

Setelahnya Damar berjalan menuju kantin. Tentu saja tak lupa menyapa pujaan hatinya terlebih dulu. “Sst sst!”

Aghniya mengalihkan pandangannya dari ponsel menuju sumber suara. Matanya sedikit terbelalak ketika mendapati Damar berada di hadapannya sambil tersenyum.

“Sendirian?”

Masih sambil meminum susu cokelat miliknya, gadis itu mengangguk. “Ayeshanya lagi salat dulu.”

“Oalaah, lo nggak?”

“Masih libur, belom selesai,” balas gadis itu. Damar hanya mengangguk-angguk paham. “Bentar ya gue beli makan dulu,” ujar Damar. Aghniya hanya mengangguk.

Tak lama kemudian Damar kembali dengan sepiring nasi dengan lauk yang ia pesan. Pemuda itu mendudukkan dirinya di sebelah Aghniya. “Eh gue duduk sini ya, Agh?”

“Iyaa duduk aja.”

“Makasihh,” balasnya.

“He'emmm,” Aghniya membalas lagi.

Baru saja Damar ingin memulai percakapan, seorang adik kelas menginterupsi keduanya dengan menghampiri Aghniya.

“Kani,” panggilnya.

Aghniya lantas menoleh, “Yaa?”

“Tadi Mamaku chat aku, katanya Mama mau pergi terus kuncinya dititip di rumah Kani. Nanti pulang bareng ya? Sekalian mau main di rumah Kakak aja. Aku males sendirian di rumah,” ujarnya.

“Ohh, ya udah, Jar. Kamu ke kelasku berani nggak?” tanya Aghniya pada Zahra, adik kelas yang juga tetangganya itu.

“IH, ya nggak lah, Kak! Itu satu koridor isinya angkatan Kakak semua mana aku berani,” jawab Zahra.

“Ah nggak jelas lo, Jara-Joro! Ya udah nanti ketemu di depan TU aja ya? Kamu chat aku kalo udah di sana!”

“Nah, begitu lebih baik. Nanti nonton film ya, Kani?” pinta Zahra.

“Iyaaa,” jawab Aghniya.

“Sekalian makan masakan Bunay, ya, Kani?”

“Iyaaa,” jawab Aghniya lagi.

“Sekalian bantuin pr aku mau nggak, Kak?”

“Emang paling bisa ya, ini anak. Ya udahh, ini pulang aja belom, Jaraa! Yang penting nanti kamu ke rumahku dulu aja, kan?” balas Aghniya.

Zahra hanya tertawa. “Ya udah, aku mau jajan. Dadah, Kani, love you, muach!”

“IDIH,” canda Aghniya sambil bergidik geli.

Setelahnya ia kembali menghadap Damar yang sedari tadi terpaksa ia abaikan. “*Sorry ya, Dam. Jadi dicuekin,” ujar Aghniya.

“Santaai,” balas Damar. “Dia tetangga lo?”

“Iyaaa. Tetangga gue tapi sekolah di sini juga. Heran, kerjaannya ngintilin gue aja. Dari SD bareng mulu masa sekolahnya,” balas Aghniya.

“Serius? Hahahahah. Tapi keliatannya lo sama dia deket banget ya?”

“Iyaa, lah. Gimana enggak? Dari kecil sih sebenernya. Gue kan anak tunggal, nah dia juga. Jadi kita berdua sering main bareng, dia udah kayak adek gue sendiri juga sih. Abis gimana ya, temen gue dia doang. Temen dia gue doang,” jawab Aghniya lagi.

Damar mengangguk-angguk. Sekon berikutnya alisnya bertaut, teringat panggilan yang sebelumnya adik kelas itu gunakan pada Aghniya. “Tapi tadi dia manggil lo apa?”

Aghniya mengangkat sebelah alisnya menanggapi pertanyaan Damar. “Oooh, Kani. Dia manggil gue Kani, kadang sih. Kalo dia lagi mau aja.”

Damar semakin bingung, “Kok Kani?”

“Kak Aghni. Tapi sama dia disingkat, jadi Kani.”

“Oooh, hahahahah. Biar apaa dah?”

Aghniya terkekeh, “Gue kan manggil ortu gue tuh Bunay—Papaji. Singkatan dari Buna Ayna, Papa Aji. Terus kata Zahra, biar sah jadi anak mereka gue harus buat singkatan juga gitu, biar kayak Bunay sama Papaji. Makanya dia bikin 'Kani'. Singkatan dari Kak Aghni. Ah, nggak tau deh nggak jelas emang Jara-Joro. Tapi lucu sih, hehehe.”

“Lah berarti secara nggak langsung lo manggil orang tua lo pake namanya juga ya? Hahaha,” balas Damar.

“Iyaa. Kata Papa biar inget nama orang tuanya. Biar ketanem dalem otak.”

Damar hanya tertawa kecil menanggapi ucapan gadis di sebelahnya. Setelahnya memilih memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya.

“Kalo Damar manggil orang tuanya gimana?”

“Normal-normal aja gue, mah. Ibu—Bapak,” jawab Damar.

“Ih lucu deh tapi. Udah jarang nggak sih sekarang orang yang manggilnya Ibu—Bapak? Biasanya Papa—Mama, Mama—Ayah, gitu-gitu, deh! Eh, lah tapi berarti gue nggak normal, dong?”

Damar lagi-lagi terkekeh, lalu setelahnya menggeleng. “Bukan nggak normal, unik. Lo doang kan yang punya panggilan begitu ke orang tua lo?”

“Iya juga sih. Waw, positive thinking sekali ya, Yudhistira Damar.”

Damar lagi-lagi tertawa. “Eh tapi gue juga mau dong punya singkatan nama panggilan gitu. Tapi jadi apaan ya? Masa Kadam? Kamar? Jelek, dah!” ujar Damar.

Aghniya masih diam. Diam-diam gadis itu benar-benar memikirkan singkatan nama panggilan untuk Damar. Damar pun masih terdiam, pemuda itu memikirkan hal yang sama disela kunyahannya.

“Kayu?”

Damar menoleh, “Hah?”

“Kak Yudhistira. Kayu.”

“Iya juga,” balas Damar. “Okee, gue Kayu. Haloo, Kani!” ucapnya sambil melambaikan tangan ke arah Aghniya di hadapannya. Tak lupa senyum manisnya itu kembali ia pamerkan.

“Ahahahaha, halo juuuuga Kayuuu!”

“Eh, tapi di antara kita tuh siapa yang lebih tua sih?” tanya Damar tiba-tiba.

“Hmmm, nggak tau. Lo lahir bulan apa?” tanya Aghniya. Pencitraan, sebenarnya gadis itu sudah mengetahui bahwa Damar-lah yang lebih tua. Tentu saja ia menghapal tanggal lahir Damar.

“Mei, gue 7 Mei. Lo?”

“Juli, tanggal 22,” balas Aghniya.

“Oh iya tuaan gue. Tapi ulang tahun kita deket juga, gue kira jauh,” balas Damar.

“Ultahnya doang yang deket kitanya enggak? Enggak lah, bercanda doang, Damar. Damaiiii,” ujar Aghniya. Setelahnya gadis itu cengengesan. Lalu merutuki dirinya sendiri yang suka kelepasan meledek orang lain secara spontan.

“Oh kurang deket?” tanya Damar. Setelahnya justru pria itu menggeser posisinya mendekati Aghniya. Membuat bahu kanan Aghniya bersentuhan dengan bahu kiri milik Damar. Gadis itu lalu membeku di posisinya. “Udah deket belom nih?”

Melihat gestur Aghniya yang mendadak kaku, Damar tertawa lalu kembali menggeser posisinya menjauh dari gadis itu. Damar menangkap jelas bagaimana gadis itu pada akhirnya menghela napas lega setelah dirinya bergeser ke posisi semula. Diam-diam, Damar merasa gemas dalam hati.

“Iseng sihh, diisengin balik kaget kaan?” ejek Damar. Kini pria itu menunjuk-nunjuk wajah Aghniya yang memerah akibat ulahnya sendiri.

“Ah, curang! Tadi kan lo udah bales isengin gue masa sekarang gue diisengin lagi?”

“Biarin. 2-1 ya, Kanii. Coba lagi coba lagi, pasti nanti kalah lagi, sih,” balas Damar.

“Mana adaaaaa! Lo curang ah yang tadi nggak diitung!”

“Itung, lahh. Tuhh, berarti yang curang tuh eloo!” ujar Damar lagi.

“Enggak! Yang tadi pelanggaran. Nggak diitung. Iii Damar curang iii! Sorakin Damar! Huuuuuuu!”

“Iyaa deeh, ngalah sama anak kecil,” balas Damar.

“Ah malesin! Musuhan aja lah!”

“Tuh, ngambeknya aja kayak anak kecil. Itu kan bahasa anak kecil kalo lagi maen tau, Agh. Malesin, musuhan aja! Aku nggak mau temenan lagi sama kamu! gitu,” jawab Damar.

“APAAANNNNN NGGAK ADA!”

“Dihh nggak percaya, anak kecil di rumah gue begitu semua!” balas Damar tidak mau kalah.

“Iya karena elu kaptennya kan? Lo yang menghasut mereka menebar kebencian, kan?” tanya Aghniya bercanda.

“Bener, kok tau sih?” balas Damar.

“Ih demi apa, Dam?”

“Hahahaha, enggak lah. Gue mah anak—” Damar menggantung kalimatnya.

“Anak apa?”

“Anak Ibu gue, lah.”

“Ih apa sih nggak jelas.”

Namun setelahnya dua remaja itu sama-sama tertawa, padahal sama sekali tidak ada yang lucu. Mungkin memang benar kata Dhimas, Aghniya mudah tertawa jika bersama Damar. Namun, begitu pula sebaliknya. Lagipula, kalau rasa sudah tumbuh di dalam hati, siapa yang butuh usaha setengah mati untuk mengukir senyum pada wajah satu sama lain?

Aghniya bahkan bisa tersenyum hanya dengan melihat sepatu Damar tersusun rapi di rak sepatu masjid. Damar bahkan bisa tersenyum hanya dengan melihat susu ultra cokelat yang terpajang rapi di rak minimarket dekat rumah.

Kalau rasa sudah tumbuh di dalam hati, percakapan seringan julukan Kani—Kayu yang pada akhirnya beranak-pinak menjadi topik lain, tentunya menjadi sangat luar biasa.

Tak lama kemudian, Ayesha pada akhirnya selesai dengan ibadahnya. Gadis itu pun sudah selesai memakai sepatu. Ayesha lalu berjalan menghampiri Aghniya yang terlihat sedang bercengkrama dengan Damar. Ayesha hanya menahan senyumnya, tentu saja turut senang melihat teman dekatnya berbahagia. Awalnya bahkan Ayesha ingin meninggalkan Aghniya, membiarkan gadis itu memiliki waktu lebih lama dengan Damar. Namun, niat itu segera ia urungkan.

“Met, naik nggak?” panggilnya.

Aghniya dan Damar otomatis menoleh, lalu dengan cepat Aghniya mengangguk. “Naikkk!”

“Damar, duluan yaaa!” pamit Aghniya pada Damar.

“Iyaaa, tiati yaa, Kani!”

Aghniya terpaku sesaat, lalu tersenyum. “Iyaaa, dadah, Kayu!”

Setelahnya gadis itu berlalu dengan semangat, tak lupa membawa sampah susu kotaknya yang kemudian ia buang pada tempat sampah kantin. Setelahnya menggandeng lengan Ayesha dan menariknya pergi dengan langkah riang.

Aghniya berlalu tanpa menyadari satu hal, Damar tak melepas pandangannya pada gadis itu hingga dirinya benar-benar tak dapat lagi menjangkau Aghniya dengan netranya.

Aghniya merapikan tasnya, menyampirkan ranselnya pada kursi agar tidak terjatuh. Lalu gadis itu meletakkan tas bekalnya pada kolong meja. Aghniya lalu bergegas meletakkan surat izin milik Dhimas pada selipan buku absen agar guru-guru yang mengajar kelasnya hari itu tak perlu lagi menanyakan ketidakhadiran Dhimas.

Aghniya lalu berjalan menuju pintu kelasnya, berniat mengintip keadaan koridor. Namun, ketika dirinya ingin menggapai gagang pintu, pintu kelasnya justru lebih dulu ditarik kencang oleh seseorang dari luar. Sekon berikutnya Aghniya terkejut setengah mati, karena Damar-lah yang membuka pintu kelasnya.

“ASTAGHFIRULLAH, IIIHHH! Damaaar buka pintunya pelan-pelan aja doong! Kaget!” protes Aghniya.

Damar mengangkat sebelah alisnya terkejut lalu tertawa, menampilkan deretan gigi yang rapi juga lesung pipi yang menjadi khas dirinya. Kedua matanya yang menyipit turut andil menambahkan kesan manis pada wajahnya yang sudah rupawan. Masih dengan tawa renyahnya, Damar kembali bicara. “Kaget banget?”

“Menurut L?” balas Aghniya sambil menahan senyum.

“Biasa aja. Ojan pernah sampe ngejengkang gue kagetin hahahaha,” jawab Damar.

“Ih demi apa? Parah loooo, kenapa dikagetin lagian?”

“Gue nggak berniat ngagetin, dia lagi duduk bengong gitu, gue panggil kenceng banget 'JAN!' gitu sambil gue tepok pundaknya, eh dia ngejengkang sendiri, hahahah,” jawab Damar.

“MASA? terus dia gimana?”

“Marah-marah, katanya 'GUOBLOK DAMAR!' gitu,” Damar menjawab lagi, dengan senyum manis yang lagi-lagi terpampang di wajahnya. Pemuda itu sama sekali tidak merasa keberatan dengan pertanyaan yang Aghniya lontarkan bertubi-tubi. Malah, Damar dengan senang hati menyambut semua pertanyaan itu. Damar menyukai antusias gadis di hadapannya setiap kali dirinya bercerita.

Gadis itu kini hanya tertawa. Lalu Damar teringat tujuannya menghampiri Aghniya. “Eh, ayo ngomongin Dhimas,” ajaknya.

Alis Aghniya bertaut, “Ih teman macam apa lo Damar, masa mau ngomongin Dhimas?”

“Buuukan ngomongin begituu! Ayok cepet ah, bocil banyak bercanda deh, nanti keburu beeel tau nggak?” ujar Damar lalu mendahului Aghniya melangkah menuju kursi milik gadis itu dan Dhimas.

“Ini kursi lo kan?” tanya Damar sambil menunjuk kursi di hadapannya. Aghniya menggeleng, membuat Damar yang sudah berniat menduduki kursi itu ragu.

“Itu kursi Dhimas, kursi gue mah yang ada tas gue, hehehe.”

“Hoooo, jail? Nanti gue jailin balik jangan nangis ya?” balas Damar. “Sini buruan duduk, mau baca chat gue sama Dhimas nggak?”

“MAU MANAAAAAAA??”

Secepat kilat, Aghniya terpancing dan berlari menduduki kursinya sendiri. Membuatnya berdampingan dengan Damar.

“Eh, nggak jadi deh,” ujar Damar. “Yaah? Kok? Boong ya? Jail juga ya?!”

Damar lagi-lagi tertawa, “Iyalah. Gantian.”

“Yah malesin banget. Nggak jelas!”

“Serius serius, Dhimas beneran chat gue kok, ngabarin kalo dia nggak masuk. Nah, yang nggak masuk akal itu alesannya ini. Dia selalu bilang ke gue kalo dia lebih pilih bolos acara keluarga dari pada bolos sekolah soalnya katanya keluarga dia repot, banyak tante-tante genit. Tapi sekarang masa dia bolos sekolah karena acara keluarga?” ujar Damar.

“IYAA GUE JUGA TAU ITU, terus masa semalem gue chat dia, katanya lagi di luar. Sampe hampir jam 12 malem masih di luar, Dam. Ngapain coba? Takut dia digrebek polisi nggak sih?? Jam segitu masih di luar.”

Damar ingin tertawa lantaran Aghniya dan pemikirannya yang sama sekali tak terduga. Namun ia langsung menahan senyumnya dan mengubah wajahnya menjadi kembali serius.

“Serius?”

“Beneraaaaan!”

“Tapi iya sih, gue juga takut dia kenapa-napa. Dia kan gitu, setiap ada masalah disimpen sendiri,” balas Damar.

“Iya, kan? Senin dia masuk nggak ya?”

“Nah, coba liat aja hari Senin. Kalo dia belom masuk juga kita bombardir,” ujar Damar.

“Bener banget.”

“Ya udah, gue turun ya? Nanti lagi ngobrolnya,” pamit Damar.

“Ngapain turun? Bentar lagi bel kan?”

“Ya iya, biasaaa,” jawab pemuda itu.

Aghniya lalu memasang tampang meledek, “Bukan anak rohis tapi lebih sering disuruh tadarusan dari pada anak rohisnya sendiri, hahahaha.”

“Tau, payah nih anak rohisnya,” balas Damar.

“Ih gue bilangin lo, di sini markas rohis nih. Bejibun anak rohis di sini,” ancam Aghniya bercanda.

“Hah iya? Kabur ah, dadaahh!”

“Semingitttt!” ujar Aghniya.

Setelah Damar berlalu pergi, tinggallah gadis itu dengan kerungsingannya sendiri.

“MAMPUSSSSSS NGGAK ADA DHIMAS NGGAK ADA YANG GUE JADIIN PEGANGAN AAAAA DHIMAS LO DI MANA SIHHHH?!”

“Damar baca Qur'an, Damar baca Qur'an, Damar baca Qur'an, ya Allah pusing..”

Aghniya merapikan tasnya, menyampirkan ranselnya pada kursi agar tidak terjatuh. Lalu gadis itu meletakkan tas bekalnya pada kolong meja. Aghniya lalu bergegas meletakkan surat izin milik Dhimas pada selipan buku absen agar guru-guru yang mengajar kelasnya hari itu tak perlu lagi menanyakan ketidakhadiran Dhimas.

Aghniya lalu berjalan menuju pintu kelasnya, berniat mengintip keadaan koridor. Namun, ketika dirinya ingin menggapai gagang pintu, pintu kelasnya justru lebih dulu ditarik kencang oleh seseorang dari luar. Sekon berikutnya Aghniya terkejut setengah mati, karena Damar-lah yang membuka pintu kelasnya.

“ASTAGHFIRULLAH, IIIHHH! Damaaar buka pintunya pelan-pelan aja doong! Kaget!” protes Aghniya.

Damar mengangkat sebelah alisnya terkejut lalu tertawa, menampilkan deretan gigi yang rapi juga lesung pipi yang menjadi khas dirinya. Kedua matanya yang menyipit turut andil menambahkan kesan manis pada wajahnya yang sudah rupawan. Masih dengan tawa renyahnya, Damar kembali bicara. “Kaget banget?”

“Menurut L?” balas Aghniya sambil menahan senyum.

“Biasa aja. Ojan pernah sampe ngejengkang gue kagetin hahahaha,” jawab Damar.

“Ih demi apa? Parah loooo, kenapa dikagetin lagian?”

“Gue nggak berniat ngagetin, dia lagi duduk bengong gitu, gue panggil kenceng banget 'JAN!' gitu sambil gue tepok pundaknya, eh dia ngejengkang sendiri, hahahah,” jawab Damar.

“MASA? terus dia gimana?”

“Marah-marah, katanya 'GUOBLOK DAMAR!' gitu,” Damar menjawab lagi, dengan senyum manis yang lagi-lagi terpampang di wajahnya. Pemuda itu sama sekali tidak merasa keberatan dengan pertanyaan yang Aghniya lontarkan bertubi-tubi. Malah, Damar dengan senang hati menyambut semua pertanyaan itu. Damar menyukai antusias gadis di hadapannya setiap kali dirinya bercerita.

Gadis itu kini hanya tertawa. Lalu Damar teringat tujuannya menghampiri Aghniya. “Eh, ayo ngomongin Dhimas,” ajaknya.

Alis Aghniya bertaut, “Ih teman macam apa lo Damar, masa mau ngomongin Dhimas?”

“Buuukan ngomongin begituu! Ayok cepet ah, bocil banyak bercanda deh, nanti keburu beeel tau nggak?” ujar Damar lalu mendahului Aghniya melangkah menuju kursi milik gadis itu dan Dhimas.

“Ini kursi lo kan?” tanya Damar sambil menunjuk kursi di hadapannya. Aghniya menggeleng, membuat Damar yang sudah berniat menduduki kursi itu ragu.

“Itu kursi Dhimas, kursi gue mah yang ada tas gue, hehehe.”

“Hoooo, jail? Nanti gue jailin balik jangan nangis ya?” balas Damar. “Sini buruan duduk, mau baca chat gue sama Dhimas nggak?”

“MAU MANAAAAAAA??”

Secepat kilat, Aghniya terpancing dan berlari menduduki kursinya sendiri. Membuatnya berdampingan dengan Damar.

“Eh, nggak jadi deh,” ujar Damar. “Yaah? Kok? Boong ya? Jail juga ya?!”

Damar lagi-lagi tertawa, “Iyalah. Gantian.”

“Yah malesin banget. Nggak jelas!”

“Serius serius, Dhimas beneran chat gue kok, ngabarin kalo dia nggak masuk. Nah, yang nggak masuk akal itu alesannya ini. Dia selalu bilang ke gue kalo dia lebih pilih bolos acara keluarga dari pada bolos sekolah soalnya katanya keluarga dia repot, banyak tante-tante genit. Tapi sekarang masa dia bolos sekolah karena acara keluarga?” ujar Damar.

“IYAA GUE JUGA TAU ITU, terus masa semalem gue chat dia, katanya lagi di luar. Sampe hampir jam 12 malem masih di luar, Dam. Ngapain coba? Takut dia digrebek polisi nggak sih?? Jam segitu masih di luar.”

Damar ingin tertawa lantaran Aghniya dan pemikirannya yang sama sekali tak terduga. Namun ia langsung menahan senyumnya dan mengubah wajahnya menjadi kembali serius.

“Serius?”

“Beneraaaaan!”

“Tapi iya sih, gue juga takut dia kenapa-napa. Dia kan gitu, setiap ada masalah disimpen sendiri,” balas Damar.

“Iya, kan? Senin dia masuk nggak ya?”

“Nah, coba liat aja hari Senin. Kalo dia belom masuk juga kita bombardir,” ujar Damar.

“Bener banget.”

“Ya udah, gue turun ya? Nanti lagi ngobrolnya,” pamit Damar.

“Ngapain turun? Bentar lagi bel kan?”

“Ya iya, biasaaa,” jawab pemuda itu.

Aghniya lalu memasang tampang meledek, “Bukan anak rohis tapi lebih sering disuruh tadarusan dari pada anak rohisnya sendiri, hahahaha.”

“Tau, payah nih anak rohisnya,” balas Damar.

“Ih gue bilangin lo, di sini markas rohis nih. Bejibun anak rohis di sini,” ancam Aghniya bercanda.

“Hah iya? Kabur ah, dadaahh!”

“Semingitttt!” ujar Aghniya.

Setelah Damar berlalu pergi, tinggallah gadis itu dengan kerungsingannya sendiri.

“MAMPUSSSSSS NGGAK ADA DHIMAS NGGAK ADA YANG GUE JADIIN PEGANGAN AAAAA DHIMAS LO DI MANA SIHHHH?!”

“Damar baca Qur'an, Damar baca Qur'an, Damar baca Qur'an, ya Allah pusing..”

Damar sampai di sekolah. Setelah memarkirkan motornya dengan rapi, pemuda yang seragam sekolahnya dibalut kembali dengan jaket itu mampir ke pos satpam di dekat gerbang untuk menanyakan titipan surat izin milik Dhimas.

“Pakk, maaf, ada titipan surat izin atas nama Dhimas nggak ya?” tanyanya pada satpam yang berjaga.

“Oh, ada, Mas Damar. Ini, barusan aja sampe. Mas Damar yang mau kasih ke kelasnya Mas Dhimas?”

“Iya, Pak. Biar saya aja. Ini ya? Saya bawa ya, Pakk. Makasihh,” ujar Damar. Lalu pemuda itu melanjutkan langkahnya menuju kelas.

“Dadah, Pa! Kalo kata Bunay, Semangat kerjanya Papaji embul-embul!”

Ucapan itu membuat Damar menoleh seketika. Suara yang sangat ia kenali, suara perempuan yang selama ini tertanam di benaknya baik pagi, siang, sore, atau malam. Damar tersenyum tipis, lalu menghentikan langkahnya. Memilih menunggu gadis itu agar setara dengannya. Toh, dirinya memang ada perlu dengan gadis itu.

Aghniya lantas ikut menghentikan langkahnya kala mendapati Damar berdiri tak jauh di hadapannya, sedang menatapnya. Gadis itu sesekali membenahi kerudung segitiganya yang wajib dipakai setiap hari Jumat untuk pasangan seragam muslim.

“Damar ngapain?”

“Nungguin Aghni,” jawab Damar sambil tersenyum.

“Hah? Boong ya?”

Perkiraan Dhimas rupanya salah. Bukan Aghni yang mudah tertawa kalau bersama Damar. Damar-lah yang mudah tertawa jika bersama Aghniya. Dibuktikan dengan pemuda itu yang terkekeh seketika setelah mendengar balasan Aghniya akan ucapannya.

“Beneran, loh. Kok nggak percaya sih?”

“Ngapain nungguin gue?” tanya Aghniya.

“Sambil jalan, sambil jalan. Nanti kita di sini ngalangin orang jalan,” jawab Damar. Pemuda itu menarik lengan Aghniya pelan, mengarahkannya untuk melanjutkan langkah.

Gadis itu sedikit membeku, namun sepersekian detik berikutnya ia berusaha menyadarkan diri. “Ngapain nungguin gue?” tanya Aghniya lagi.

“Nih, mau ngasih suratnya Dhimas.”

“Dhimas nggak masuk?” tanya Aghniya.

“Enggak.”

“Hahhhh? Kok gituuuuu? Kenapaaaaaa? Ih Dhimaaas, ah nggak jelas deh. Katanya mau dengerin cerita gue di sekolah kok dia malah nggak masukk,” keluh Aghniya.

“Ini serius, Dam, dia nggak masuk?” Aghniya masih berusaha memastikan. Berharap Damar akan menjawab tidak, namun yang ia dapatkan lagi-lagi adalah jawaban yang membenarkan bahwa hari itu, Dhimas tidak hadir di sekolah.

“Lo tau kenapa, Dam?”

Damar mengangguk, “Tadi bilangnya ada acara keluarga. Penting banget nggak bisa ditinggal. Mamanya juga repot makanya ini tadi dia kirim surat ke sekolah pake ojol.”

“Kok dia nggak nitip gue? Dia juga nggak bilang apa-apa ke gue masa,” balas Aghniya.

“Hmmm, kita naik dulu, deh. Taro tas dulu ya? Nanti punggung sama pundak lo pegel gendong tas lama-lama sambil berdiri begini. Naik dulu, nanti gue ke kelas lo. Gue jugaa mikir sesuatu tentang Dhimas.”

“Serius?”

“Iya, ayok ke kelas dulu,” ajak Damar.

“Lo mikir apa emang?”

Damar menghela napasnya. “Aghni, tadi gue bilang apa? Ke kelas dulu yaa, taro tas dulu. Nanti punggungnya pegel, pundaknya juga sakit. Mau jalan sendiri apa digeret?” ucapnya tetap halus.

Aghniya tidak menjawab, gadis itu buru-buru mendahului Damar dengan berlari-lari kecil menuju kelas. Menghindari suara halus Damar sebelum menggaung lebih dalam di telinganya. Meninggalkan Damar yang sedikit terkejut, lalu kembali tersenyum tipis. Membiarkan perasaan gemasnya tersimpan rapi di dalam hati, lalu berjalan santai menyusul Aghniya.