raranotruru

Damar melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang kelas yang menjadi ruang kelas paling ramai saat itu. Entah karena penghuninya sangat ramah atau bagaimana, kelas 11 MIPA 2 selalu ramai pendatang dari kelas lain. Termasuk teman-teman Damar.

Damar celingak-celinguk mencari kawanannya. Pria itu tak memerlukan waktu lama untuk menemukan mereka, mengingat mereka semua berkumpul di meja Aghniya dan Dhimas yang memang berada di tengah-tengah kelas.

Kemudian dengan langkah pasti Damar menghampiri teman-temannya, menepuk pundak Haris dan menyempil di antara mereka semua.

“Waduh, bubar, bubar! Ada Damar, udahan yuk udahan!” canda Ojan yang mendapat kekehan Haris.

“Hajar, Dam, hajaaaaar,” Ayesha mengompori.

“Hajar, Daam, tadi katanya Ojan nggak mau temenan sama Damar soalnya Damar nggak jelas. Parah, Dam, hajaaar!” timpal Aghniya.

“Nah, inilah, Sobat, wanita-wanita pembawa kayu bakar,” balas Ojan dengan nada pasrah.

“EH SEMBARANGAN GUE GATAK LO!” balas Aghniya tidak terima. Sementara Ojan hanya tertawa. “Ya, bener laah, penebar fitnatun!” balas Ojan lagi.

“Fitnatun mah yang nyanyi bolo-bolo!” canda Haris.

“Tina Toon. Kurang, Ris, kurang dikit lagi candaan lu. Semangat, ya!” balas Dhimas sambil menepuk-nepuk bahu haris.

“Lo dari mana dah, Dam?” tanya Dhimas.

“Eluu pada yang ke mana! Gue bilang mau turun katanya tadi mau nyusul turun juga, nyamper Dhimas malah mangkal di sini lo berdua?” ujar Damar pada Haris dan Ojan. Sementara yang ditunjuk hanya pamer gigi, terkekeh geli setelah meninggalkan Damar sendirian.

“Gue jadi ketemu Pak Indra, digunting nih rambut gue. Jadi jelek anjir sebel,” balas Damar.

“Hah digunting beneran? Mana, Dam?” tanya Aghniya.

“Ini poni gue jadi nggak rata begini,” balas Damar.

“LAH IYA HAHAHAHA, modelnya jadi kayak mangkok dah, tapi nggak rataaa hahahaha.”

“Iya nih ah sebel, nanti cukur dah,” ujar Damar lagi.

“Eh ini istirahat kapan sih?” tanya Haris. Perutnya mulai keroncongan lantaran belum sarapan. Niatnya tadi adalah mengajak Dhimas, kemudian turun ke kantin bersama Damar. Memanfaatkan jam kosong untuk mengisi perut, karena pasti kantin sepi dan mereka bisa dengan bebas bersantai di sana.

“Bentar lagi juga bunyi belnya,” jawab Ayesha. Benar saja, setelah Ayesha selesai bicara, bel tanda istirahat berbunyi.

“Nah, kan. Apa gue bilang. Ayo, Met, turun nggak?” ucap Ayesha. Gadis itu sudah berdiri sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku rok miliknya.

“Ayo, turun lah. Mau jajan,” balas Aghniya. “Haris mau turun juga? Ojan mau turun juga? Dhimas mau turun juga? Damar mau turun juga?” tanya Aghniya sambil menunjuk satu-satu teman laki-lakinya.

Membuat Damar terkekeh geli, “Harus banget ditanyain satu-satu gitu ya?”

Gadis itu menyengir, lalu mengangguk yakin. “Oh, iya dong. Biar lebih personal gitu.”

“Boong, Dam. Emang anaknya bawel aja berisik,” balas Ayesha yang dibalas lirikan tidak terima oleh Aghniya.

“Turun, turun. Gue turun,” jawab Haris.

“Gue juga Agh, ayo lah bareng aja,” ajak Ojan yang kemudian disetujui oleh Aghniya dan Ayesha.

Akhirnya keenam muda-mudi itu mulai berjalan menuju kantin. Sementara Ayesha, Aghniya, Haris, dan Ojan sudah berjalan lebih dulu dengan semangat, Damar dan Dhimas memilih melangkah pelan. Membiarkan diri mereka tertinggal di belakang.

Dhimas melirik Damar sekilas, “Dam.”

Damar hanya menoleh dan menjawab panggilan Dhimas dengan sebelah alis terangkat.

“Gue udah denger yang lo ceritain ke Haris semalem,” ucap Dhimas lagi.

Damar menunduk, menatap sepatunya yang kini silih berganti mengambil posisi untuk membantunya berpindah tempat. Setelahnya pemuda itu mengangguk.

Sorry, nggak bermaksud ngomongin lo di belakang. Gue bingung aja dari kemaren.”

“Nanti lo ada waktu? Kita harus omongin ini cepet-cepet. Dari pada nanti kita yang salah paham karena omongan nggak jelas-nya Revan atau siapapun itu,” balas Dhimas.

“Ada. Tapi lo nggak pa-pa ngobrol dulu sama gue? Lo mau ke rumah sakit kan?”

Dhimas menggeleng dengan senyuman kecil di wajahnya, menunjukkan bahwa dirinya tak keberatan. “Santai. Tapi nanti gue balik dulu, ganti baju. Biar sekalian langsung ke rumah sakit kalo udah kelar.”

“Ya udah, gue juga balik dulu kalo gitu. Ketemuan di tempat biasa aja deh,” balas Damar.

“Ya udah. Ayo turun dulu dah, nanti keburu masuk.

“Dua! Ah goblok ngapain lo angkat juga tai!” kesal Dhimas. Aghniya hanya tertawa penuh kemenangan.

“Ya lagian tolol banget ini masi rame orang nebak jempol dua doang begimana ceritanya anjir?” sahut Ojan.

Remaja-remaja itu sedang dilanda jam kosong yang mana merupakan waktu favorit semua orang. Ada yang sudah terlelap di lantai kelas atau di kursinya sendiri, ada yang dengan lahap menyantap bekal makan yang dibawa dari rumah, ada yang sibuk bermain game di ponselnya, ada juga yang membuat kelas berisik dengan membuat persekutuan dengan kelas lain seperti Aghniya dan Dhimas.

Aghniya dan Dhimas awalnya bermain berdua seperti biasa. Keduanya memainkan permainan tebak jempol. Hingga tiba-tiba Ojan dan Haris datang, maksud hati ingin mengajak Dhimas turun menyusul Damar. Namun, kedua oknum itu malah ikut bermain. Kemudian disusul Ayesha yang ikut bermain pula. Jadilah mereka semua melingkar dan saling mengumpatkan kekesalan selama permainan berlangsung. Sesekali permukaan meja tak bersalah pun kena pukul.

“Gue ya?” tanya Haris.

“Hoohh, buruan!” jawab Dhimas.

Haris memandangi jempol teman-temannya. Ada yang sudah tersisa satu, ada pula yang masih utuh. Dengan serius Haris menerka-nerka, memprediksi berapa jumlah jempol yang akan terangkat. Setelah beberapa detik, Haris berucap dengan nada mengagetkan.

“Tujuh!” ucap Haris. Jempol-jempol itu terangkat.

“Tahan, tahan! Gua aja yang ngitung sendiri— eh lo diem anjir Dhim!” ucap Haris lalu mulai menghitung jempol dengan seksama.

“Lima, enam, tujuh, ADUH ANJIR AGHNIYAAAA LO NGAPAIN IKUTAN!” ucap Haris frustasi. Tebakannya nyaris benar. Jika Aghniya tidak ikut mengangkat jempolnya yang tersisa satu itu, maka Haris otomatis memenangkan pertandingan karena jempol pemuda itu juga tersisa satu.

Aghniya hanya tertawa-tawa tanpa merasa bersalah. “Nggak tau gue iseng aja, Ris, hahahaha. Nggak jadi menang lu ya? Kesian.”

“HAHAHAHA, MAKASI MAK YA ALLAH GUE NGGAK RELA HARIS MENANG!” sambar Ojan. Haris masih mengerang frustasi, geregetan.

“Mana lagi dong siapa sekarang?” tanya Ayesha.

“Ojan tuh Ojan,” jawab Aghniya.

“HOKEH! Bismillah nih tebakan gue mujur,” Ojan mengambil ancang-ancang.

“Lima! YES! MANTAP KAWANNN!”

“Ah elah bener lagi,” ucap Haris tak terima.

“Eh, Anda kok nggak menerima kekalahan?” balas Ojan. “Jangan begitu, Kawann! Kita nih kawan bukan lawan. Jangan terlalu berambisi gitu lah!” sambung Ojan.

“Najis geli banget Ojan?” ucap Ayesha geli.

“TAU DAH JAMET BENER BAHASA LO!” Aghniya menimpali.

“Udeh kek ini tau nggak lo, bahasa-bahasa jamet yang biasa buat video editor berkelas,” balas Ayesha lagi.

“EH, BENER BANGET LAGI HAHAHAHA,” sahut Aghniya.

“Lah lo nggak tau Sha? Itu yang ngajarin editor berkelas Ojan, anjir. Ojan master-nya,” ucap Dhimas.

“Eh, sembarangan lo Dhim! Ojan ntar kalo lulus kuliah gelarnya S.Pd, anjir!” balas Haris membela Ojan.

“Tau lo, Dhim. Jadi temen tuh kayak Haris, neeh. Ni baru temen gue ni!” Ojan menanggapi.

“Emang mau jadi guru, Jan?” tanya Aghniya.

Ojan menggeleng sambil tertawa, “Kagak, sih, hahaha.”

“Terus kenapa S.Pd?” tanya Ayesha bingung.

“Auk, kenape Ris?” kini Ojan bertanya pada Haris.

“Sarjana Pakcepak jeDer,” jawab Haris singkat namun membuat lingkaran mereka jauh lebih ramai karena semua personelnya tertawa keras.

“Yah, goblok juga lo, Ris!” ucap Ojan kesal.

Sambil tertawa, Haris menjawab. “Lah, cita-cita lo DJ kan? Ntar lo nge-dj dah tuh, aduaduaduaduu~”

“HARIS NGGAK COCOK BANGET ANJIR BEGITU!” ucap Ayesha heboh.

“ENGGAK MAKSUDNYA KAN SUARA DIA TUH BERAT YA, MACO BANGET NIH, terus tiba-tiba aduaduaduadu tuh kayak 'HIH NGGAK USAH DEHHH!' GIIITUUU,” sambung Ayesha lagi.

“Dih lo nggak tau aja, Shaa. Haris kan kalo malem mangkal tau berdua Dhimas. Haris kalo siang aja namanya Haris, kalo malem berubah,” Ojan membalas Ayesha.

“Kalo malem jadi apa?” tanya Aghniya ketika tawanya mereda.

“Jadi 'Ayis,” sahut Ojan dengan suara diimut-imutkan. Membuat tawa Aghniya dan Ayesha menjadi semakin keras.

“Dhimas kalo malem jadi apa?” kini giliran Ayesha yang bertanya.

“Jadi Imashh,” sahut Ojan lagi, masih dengan suara yang diimut-imutkan.

“Geli nggak sih lo, Ris? Kapan-kapan kalo dia tidur kita geret kita buang aja lah ke sebelah,” ucap Dhimas.

“Ngapain kapan-kapan? Sekarang aja lah yuk, lo pala gue kaki. Kita gotong!” balas Haris.

“Ayok!” ucap Dhimas kemudian berpura-pura bangkit untuk benar-benar menghajar Ojan bersama dengan Haris.

“JANGAN ANJIR! AMPUN, AMPUN! GUE MASIH MAU HIDUP!!”

Hari itu, pada waktu yang senggang kala itu, semuanya berperan. Semua dalam lingkaran itu berperan. Membagi kebahagiaan dan bertukar tawa satu sama lain. Semuanya berperan, menghibur Dhimas yang baru kembali lewati hari-hari berat. Dan pemuda itu tahu, memang akan terasa jauh lebih baik jika bersama semua temannya.

Dhimas tak lagi merasa sendiri. Sebaliknya, pada waktu senggang ini, pada waktu yang kosong ini, Dhimas merasa lengkap.

“Dua! Ah goblok ngapain lo angkat juga tai!” kesal Dhimas. Aghniya hanya tertawa penuh kemenangan.

“Ya lagian tolol banget ini masi rame orang nebak jempol dua doang begimana ceritanya anjir?” sahut Ojan.

Remaja-remaja itu sedang dilanda jam kosong yang mana merupakan waktu favorit semua orang. Ada yang sudah terlelap di lantai kelas atau di kursinya sendiri, ada yang dengan lahap menyantap bekal makan yang dibawa dari rumah, ada yang sibuk bermain game di ponselnya, ada juga yang membuat kelas berisik dengan membuat persekutuan dengan kelas lain seperti Aghniya dan Dhimas.

Aghniya dan Dhimas awalnya bermain berdua seperti biasa. Keduanya memainkan permainan tebak jempol. Hingga tiba-tiba Ojan dan Haris datang, maksud hati ingin mengajak Dhimas turun menyusul Damar. Namun, kedua oknum itu malah ikut bermain. Kemudian disusul Ayesha yang ikut bermain pula. Jadilah mereka semua melingkar dan saling mengumpatkan kekesalan selama permainan berlangsung. Sesekali permukaan meja tak bersalah pun kena pukul.

“Gue ya?” tanya Haris.

“Hoohh, buruan!” jawab Dhimas.

Haris memandangi jempol teman-temannya. Ada yang sudah tersisa satu, ada pula yang masih utuh. Dengan serius Haris menerka-nerka, memprediksi berapa jumlah jempol yang akan terangkat. Setelah beberapa detik, Haris berucap dengan nada mengagetkan.

“Tujuh!” ucap Haris. Jempol-jempol itu terangkat.

“Tahan, tahan! Gua aja yang ngitung sendiri— eh lo diem anjir Dhim!” ucap Haris lalu mulai menghitung jempol dengan seksama.

“Lima, enam, tujuh, ADUH ANJIR AGHNIYAAAA LO NGAPAIN IKUTAN!” ucap Haris frustasi. Tebakannya nyaris benar. Jika Aghniya tidak ikut mengangkat jempolnya yang tersisa satu itu, maka Haris otomatis memenangkan pertandingan karena jempol pemuda itu juga tersisa satu.

Aghniya hanya tertawa-tawa tanpa merasa bersalah. “Nggak tau gue iseng aja, Ris, hahahaha. Nggak jadi menang lu ya? Kesian.”

“HAHAHAHA, MAKASI MAK YA ALLAH GUE NGGAK RELA HARIS MENANG!” sambar Ojan. Haris masih mengerang frustasi, geregetan.

“Mana lagi dong siapa sekarang?” tanya Ayesha.

“Ojan tuh Ojan,” jawab Aghniya.

“HOKEH! Bismillah nih tebakan gue mujur,” Ojan mengambil ancang-ancang.

“Lima! YES! MANTAP KAWANNN!”

“Ah elah bener lagi,” ucap Haris tak terima.

“Eh, Anda kok nggak menerima kekalahan?” balas Ojan. “Jangan begitu, Kawann! Kita nih kawan bukan lawan. Jangan terlalu berambisi gitu lah!” sambung Ojan.

“Najis geli banget Ojan?” ucap Ayesha geli.

“TAU DAH JAMET BENER BAHASA LO!” Aghniya menimpali.

“Udeh kek ini tau nggak lo, bahasa-bahasa jamet yang biasa buat video editor berkelas,” balas Ayesha lagi.

“EH, BENER BANGET LAGI HAHAHAHA,” sahut Aghniya.

“Lah lo nggak tau Sha? Itu yang ngajarin editor berkelas Ojan, anjir. Ojan master-nya,” ucap Dhimas.

“Eh, sembarangan lo Dhim! Ojan ntar kalo lulus kuliah gelarnya S.Pd, anjir!” balas Haris membela Ojan.

“Tau lo, Dhim. Jadi temen tuh kayak Haris, neeh. Ni baru temen gue ni!” Ojan menanggapi.

“Emang mau jadi guru, Jan?” tanya Aghniya.

Ojan menggeleng sambil tertawa, “Kagak, sih, hahaha.”

“Terus kenapa S.Pd?” tanya Ayesha bingung.

“Auk, kenape Ris?” kini Ojan bertanya pada Haris.

“Sarjana Pakcepak jeDer,” jawab Haris singkat namun membuat lingkaran mereka jauh lebih ramai karena semua personelnya tertawa keras.

“Yah, goblok juga lo, Ris!” ucap Ojan kesal.

Sambil tertawa, Haris menjawab. “Lah, cita-cita lo DJ kan? Ntar lo nge-dj dah tuh, aduaduaduaduu~”

“HARIS NGGAK COCOK BANGET ANJIR BEGITU!” ucap Ayesha heboh.

“ENGGAK MAKSUDNYA KAN SUARA DIA TUH BERAT YA, MACO BANGET NIH, terus tiba-tiba aduaduaduadu tuh kayak 'HIH NGGAK USAH DEHHH!' GIIITUUU,” sambung Ayesha lagi.

“Dih lo nggak tau aja, Shaa. Haris kan kalo malem mangkal tau berdua Dhimas. Haris kalo siang aja namanya Haris, kalo malem berubah,” Ojan membalas Ayesha.

“Kalo malem jadi apa?” tanya Aghniya ketika tawanya mereda.

“Jadi 'Ayis,” sahut Ojan dengan suara diimut-imutkan. Membuat tawa Aghniya dan Ayesha menjadi semakin keras.

“Dhimas kalo malem jadi apa?” kini giliran Ayesha yang bertanya.

“Jadi Imashh,” sahut Ojan lagi, masih dengan suara yang diimut-imutkan.

“Geli nggak sih lo, Ris? Kapan-kapan kalo dia tidur kita geret kita buang aja lah ke sebelah,” ucap Dhimas.

“Ngapain kapan-kapan? Sekarang aja lah yuk, lo pala gue kaki. Kita gotong!” balas Haris.

“Ayok!” ucap Dhimas kemudian berpura-pura bangkit untuk benar-benar menghajar Ojan bersama dengan Haris.

“JANGAN ANJIR! AMPUN, AMPUN! GUE MASIH MAU HIDUP!!”

Aghniya berjalan dengan langkah ringan menuju gerbang, sesampainya di sana gadis itu benar-benar dikejutkan dengan kehadiran Dhimas yang bersandar dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku. Dhimas tampak lebih ceria dari ketika terakhir kali Aghniya menemuinya.

Rambutnya kembali tersisir rapi, wajahnya tak lagi pucat, raut wajahnya kembali pancarkan semangat yang menular pada siapapun yang melihatnya. Aghniya merasakan perasaan membuncah, ikut bahagia melihat Dhimas kembali menjadi dirinya yang cerah.

“Hai,” ucap Dhimas dengan alis yang dinaik-naikkan centil.

Gadis itu masih terperangah, sekon berikut tawanya menguar. Geli. “Idiiiih, ngapaiiiiiiiin?”

Dhimas tertawa, “Dibilang nungguin elu.”

“Ahahahaha, ya Allah TAPI IYA DAH, KANGEN BANGET! HUUUUUEEE WELCOME BACKK DHIMAAASS! Omgggg akhirnya beneran ketemu di sekolah bukan cuma janjiaaaan!” balas Aghniya.

“Berisik, anjir!” balas Dhimas menepuk pundak Aghniya asal. Membuat gadis itu lantas menutup mulutnya. Kemudian masih dengan perasaan girang yang sama namun dengan suara yang lebih pelan, Aghniya kembali bicara. “Huueee welcome back Dhimsyyy! Asli gue mau nangis deh.”

“Apaan sih lebay luuu!”

“Eh sumpah yaa, lo harus tau gue kekkk SETIAP HARI bengooong sendiriaaan kagak ada temen bercanda. Kagak ada temen ngobrol. Kagak ada temen diskusi kalo fisika, gue kalo nggak ngerti kerjaan gue ngang ngong ngang ngong doang ya Allah Dhimassssss kenapa lama banget nggak masuknyaaaa huhuhuhuhuhu,” oceh Aghniya panjang lebar.

“Gue berantem lo nggak ada, menderita banget ya Allah kesellll. Asli, Dhim!!! Salsa nyebelin banget, biasanya kan langsung kita rumpiin tapi lo nggak ada ya Allah sedihhh,” lanjut Aghniya lagi. Rupanya gadis itu belum puas membeberkan cerita yang selama ini ia pendam.

Dhimas tertawa melihat Aghniya merengek, “Ya ini kan udah masuk anjir! Kagak usah rewel udah ah, puyeng gue dengerin lo ngoceh pagi-pagi!”

“Mama lo udah nggak pa-pa beneran? Kok lo boleh sekolah?”

“Nggak pa-paa, gue malah dimarahin semalem. Katanya udah lama bolosnya hahaha,” jawab Dhimas.

“Emang lo, bolos aja kerjaan lo!”

“Mana ada, anjir! Gue mah anak teladann,” balas Dhimas tidak terima.

“Eh udah anjir masuk, kita ngalangin jalan lama-lama di sini hahaha. Nanti ngobrol di kelas aja. Lo juga waktu itu belom jadi cerita kan? Nanti cerita!”

“EH TUNGGU! Foto duluuuuu!” ujar Aghniya.

“Kita foto berdua?”

“Enggak, gue mau foto lo. Cepet gaya, ini dalam rangka welcoming Dhimas ke sekolah.”

“Repottt amat,” ejek Dhimas. Namun pada akhirnya pemuda itu tetap menuruti permintaan Aghniya. Dhimas bergaya dengan sebelah tangannya dimasukkan ke dalam saku, sementara tangannya yang lain ia gunakan untuk menunjuk gerbang dengan badan yang masih menghadap kamera.

Aghniya tersenyum puas melihat hasilnya. Dhimas terlihat sangat menawan. Ditambah terpaan sinar mentari yang cerah pagi itu. Seakan turut menyambut pria yang sudah lama absen dari sekolah.

“Dahh! Nanti gue sg-in ya Dhim huehuehue.”

“Iya suka-suka lu, dah!”

“Ya Allah Dhim vibes gue udah kayak emak-emak nganterin anaknya pertama kali masuk sekolah. Mana gaya lo begitu lagi,” celoteh Aghniya yang hanya dibalas tawa oleh Dhimas. Setelahnya pemuda itu benar-benar menyeret Aghniya berjalan masuk ke sekolah sebelum lebih banyak orang yang jalannya terhalang oleh keduanya.

Aghniya berjalan dengan langkah ringan menuju gerbang, sesampainya di sana gadis itu benar-benar dikejutkan dengan kehadiran Dhimas yang bersandar dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku.

“Hai,” ucap Dhimas dengan alis yang dinaik-naikkan centil.

Gadis itu terperangah, sekon berikut tawanya menguar. Geli. “Idiiiih, ngapaiiiiiiiin?”

Dhimas tertawa, “Dibilang nungguin elu.”

“Ahahahaha, ya Allah TAPI IYA DAH, KANGEN BANGET! HUUUUUEEE WELCOME BACKK DHIMAAASS!” balas Aghniya.

“Berisik, anjir!” balas Dhimas menepuk pundak Aghniya asal. Membuat gadis itu lantas menutup mulutnya. Kemudian masih dengan perasaan girang yang sama namun dengan suara yang lebih pelan, Aghniya kembali bicara. “Huueee welcome back Dhimsyyy! Asli gue mau nangis deh.”

“Apaan sih lebay luuu!”

“Eh sumpah yaa, lo harus tau gue kekkk SETIAP HARI bengooong sendiriaaan kagak ada temen bercanda. Kagak ada temen ngobrol. Kagak ada temen diskusi kalo fisika, gue kalo nggak ngerti kerjaan gue ngang ngong ngang ngong doang ya Allah Dhimassssss kenapa lama banget nggak masuknyaaaa huhuhuhuhuhu,” oceh Aghniya panjang lebar.

Dhimas tertawa melihat Aghniya merengek, “Ya ini kan udah masuk anjir! Kagak usah rewel udah ah, puyeng gue dengerin lo ngoceh pagi-pagi!”

“Mama lo udah nggak pa-pa beneran? Kok lo boleh sekolah?”

“Nggak pa-paa, gue malah dimarahin semalem. Katanya udah lama bolosnya hahaha,” jawab Dhimas.

“Emang lo, bolos aja kerjaan lo!”

“Mana ada, anjir! Gue mah anak teladann,” balas Dhimas tidak terima.

“Eh udah anjir masuk, kita ngalangin jalan lama-lama di sini hahaha. Nanti ngobrol di kelas aja. Lo juga waktu itu belom jadi cerita kan? Nanti cerita!”

“EH TUNGGU! Foto duluuuuu!” ujar Aghniya.

“Kita foto berdua?”

“Enggak, gue mau foto lo. Cepet gaya, ini dalam rangka welcoming Dhimas ke sekolah.”

“Repottt amat,” ejek Dhimas. Namun pada akhirnya pemuda itu tetap menuruti permintaan Aghniya.

“Eh, Dhimas masih lama nggak sih?” tanya Ojan tiba-tiba dengan wajahnya yang gelisah.

“Kayaknya masih, ngapa lu?” balas Haris.

“Duh, mules lagi gue. Kayaknya tadi belom keluar semua. Gue ke toilet dulu dah yak!” ujar Ojan. “Mules banget.”

“Jorok anjir, ya udah sana buruan,” ujar Damar. “Nitip nitip nih kunci motor,” balas Ojan. Setelahnya pria itu menyerahkan kunci motornya pada Haris.

“Buruan lu, lama gue tinggal nih. Kunci motor di gua soalnya hahaha,” canda Haris.

“Ah bangke lo!” umpat Ojan. Kemudian benar-benar berlari ke dalam rumah sakit guna mencari toilet untuk menjawab panggilan alam.

Kini tersisa Damar dan Haris, yang masing-masing duduk di atas sepeda motor yang sudah diparkir rapi. Haris duduk menyamping, dengan sebelah kakinya ia naikan ke atas pahanya. Lengan kirinya ia sandarkan di atas speedometer motor Ojan. Sementara tangan kanannya memegang ponsel yang sedari tadi fokus ia mainkan.

Damar hanya diam. Memandang pada sembarang arah meski larut dalam pikirannya sendiri.

“Ris,” panggil Damar.

“Oi,” Haris menjawab tanpa berpaling sedikitpun dari ponselnya.

“Gue mau nanya dong,” ujar Damar.

“Ya tanya aja tai, formal amat lu.”

Damar berdecak, “Serius, anjir ah!”

“Apaann? Nanya apa si lu? Tumben amat serius-serius.”

“Menurut lo ya, Ris. Dhimas sama Aghni bener-bener cuma temenan nggak, Ris?” tanya Damar.

Haris menoleh pada Damar, akhirnya mengalihkan pandangannya dari ponselnya. “Hah?”

Damar tak menjawab, pria itu hanya memandangi Haris. Memberi isyarat bahwa pertanyaannya serius dan dirinya menanti jawaban Haris.

“Anjrit! Ini lo maksudnya curiga sama Dhimas gitu?” tanya Haris tak percaya.

“Jujur iya. Ya, lo tau kan? Kata orang—”

“Cewek sama cowok nggak bisa temenan tanpa ada rasa gitu?” potong Haris. Damar mengangguk.

Haris terkekeh, setelahnya pria itu menyimpan ponselnya. Seakan bersiap memberikan petuah pada sahabatnya yang sedang dilanda keraguan.

“Kenapa lo bisa mikir gini dah, Dam? Asli gue nggak nyangka sih,” balas Haris.

“Kenapa nggak nyangka? Bukannya semua orang di sekolah juga mikir gitu? Mereka cocok, mereka harusnya pacaran.”

“Oh anjrit!!! Lo cemburu maksudnyee?” tanya Haris.

Bukannya menjawab, Damar menghela napas. “Nggak tau. Gue tadinya juga biasa aja. Tapi Revan waktu itu chat gue, dia bilang kalo ngomongin soal Aghni, Dhimas yang akan selalu menang. Nggak bakal ada yang bisa ngalahin Dhimas di hidup Aghni.”

“Iya itu bener,” jawab Haris. Damar lantas melirik ke arah Haris tidak terima.

“Kenapa? Lo nggak terima?”

“Jujur enggak,” jawab Damar.

Haris menghela napas. “Gini, gini. Menurut lo kenapa Dhimas sama Aghni temenan?”

“Ya, satu sekolah.”

“Kagaak, goblok. Maksud gue, kenapa mereka temenan sampe deket banget kayak gitu?” tanya Haris.

“Karena sering bareng?” tebak Damar.

“Elu sama Salsa sering bareng, emang deket? Deket banget kayak Aghni Dhimas?” tanya Haris.

Damar terdiam sejenak, setelahnya menjawab. “Enggak.”

“Kenapa?”

“Nggak cocok aja gue sama dia. Maksudnya banyak sifat dia yang emang nggak cocok aja buat gue jadiin temen,” jawab Damar.

Haris menjentikkan jarinya, “Nah!”

“Ape?”

“Lo sadar nggak, Aghni sama Dhimas tuh sama. Mereka kalo ketemu sering banget debat hal-hal nggak penting, sering banget bercanda berdua, ledek-ledekan. Banyak banget inside jokes yang cuma mereka doang yang ngerti. Mereka tuh sama, Dam,” jelas Haris. “Aghni tuh kayak versi ceweknya Dhimas, Dhimas kayak versi cowoknya Aghni.”

Damar masih diam. Menuntut Haris untuk melanjutkan penjelasannya yang ia harap dapat membuka pikirannya.

“Daripada ngeliat mereka as a couple, gue ngeliat mereka as a twin siblings sih, Dam. Cara mereka ngejaga satu sama lain, dua-duanya sama-sama se-serem itu kalo satunya kenapa-napa. Dhimas pernah seganas itu nendang Revan tanpa mikir waktu tau doi bikin Aghni sakit hati banget, jangan lupa juga Aghni pernah nampar cewek yang ludahin Dhimas,” ucap Haris.

“Revan bener, kalo ngomongin soal Aghni, emang Dhimas bakal selalu menang. Begitu juga sebaliknya. Mereka pasti menganggap satu sama lain se-berharga itu di hidupnya masing-masing. Don't you think they're family?

“Lo mikir gitu?” tanya Damar.

“Iya. Jujur iya,” balas Haris.

“Kok bisa?”

“Lah, kocak. Elu begimana bisa mikir dia demen sama Dhimas? Emangnya lo kagak sadar?”

Damar mengerutkan alisnya, “Apaan?”

Haris mengangkat alisnya, tidak percaya bahwa pemuda di hadapannya ini benar-benar tidak menyadari yang ia maksud. “Lo beneran nggak sadar?”

“Ah, gue nggak ngerti maksud lo.”

“Lah, begimana lu? Emang Aghniya nggak keliatan salting-nya kalo lagi ngomong sama lo?” tanya Haris.

Damar berpikir sejenak, berusaha mengingat-ingat bagaimana gadis itu bersikap ketika bicara berdua dengannya. Tak lama ia mengangguk, “Keliatan.”

“Nah, menurut lo itu kenapa?” tanya Haris. Damar tak menjawab, pria itu hanya menatap ke arah Haris sambil menutup mulutnya tak percaya. Damar baru menyadari maksud Haris sejak tadi. Kali ini, wajahnya jauh lebih sumringah dari sebelumnya.

Haris menggelengkan kepalanya. “Adeeh, Damar. Lo jangan suka menutup mata akan hal-hal yang sudah sangat sangat jelas, deh! Bego sendiri jadinya,” lanjut Haris lagi.

Ketika keduanya ingin melanjutkan bicara, tiba Ojan dan Dhimas yang sudah selesai dengan urusannya masing-masing.

“Ih jangan deket-deket Ojan bego, Dhim. Abis BAB dia, bau,” ucap Haris.

“Anjir, udah wangi ini! Cium!” ujar Ojan sambil menyodorkan tangannya ke arah Haris yang langsung ditepis oleh Haris. “JOROK!”

Damar menoleh pada Dhimas, “Udah, Dhim?”

Pemuda itu mengangguk dengan senyuman tipis, “Udah.”

“Lo nginep apa pulang?” tanya Damar.

“Disuruh pulang sama Mama. Disuruh sekolah dulu, gue dimarahin gara-gara udah lama nggak masuk. Pulang sekolah baru gue ke sini lagi, sekalian ambil baju buat Mama,” jawab Dhimas.

Damar mengangguk. “Ya udah, balik, dah yuk. Biar lo istirahat.”

“Lo sama Ojan langsung balik apa gimana, Ris?” tanya Dhimas. Kedua temannya itu menggeleng bersamaan, “Anter lo balik dulu. Baru kita-kita balik,” jawab Ojan mewakili suara Haris.

“Kenapa nggak langsung balik, dah?” tanya Dhimas.

“Kagak, ah. Sekalian aja baliknya sama Damar nanti, selaw, Dhim,” jawab Ojan lagi. “Tau, kayak sama siapa aja lu,” sambung Haris.

“Bukan gitu, emangnya gua penganten dianter-anter?” canda Dhimas.

“Uwaduh, udah bisa bercanda dia, Bunggggg!” ucap Ojan yang disambut tawa oleh ketiga temannya yang lain.

“Selaw, Orin aja bukan penganten dianterin mulu sama Ojan,” canda Haris lagi.

“Ah, bisa aja Kak Harissss. Mending anterin aku pulangg,” Ojan meledek balik.

“JHAHAHAH, KAK HARIIIIISSS, Kak Haris nggak mau nganter saya pulang, Kak?” Damar ikut meledek.

“Heh, diem lo! Gue bikin ancur beneran hubungan lo nanti ya, anjir Damar!” balas Haris tak terima.

“ANJ— eh, iya iya. Saya minta maaf ya, Kak Haris,” ucap Damar dibuat-buat. Menyindir Haris perihal hubungannya dengan seorang adik kelas yang memang sering ia tangani. Sering pula ia marahi, maka kata-kata yang Damar ucapkan adalah ucapan andalan adik kelas itu.

Semua temannya tahu Haris mulai tertarik padanya, namun pemuda itu tetap pada pendiriannya. Alias denial.

“Ah, males ah gue kalo begini! Dhim, Damar jangan direstuin sama Aghniya Dhim! Pisahin aja pisahin!!” ucap Haris yang kemudian dibalas tawa oleh Dhimas.

“Eh, Dhimas masih lama nggak sih?” tanya Ojan tiba-tiba dengan wajahnya yang gelisah.

“Kayaknya masih, ngapa lu?” balas Haris.

“Duh, mules lagi gue. Kayaknya tadi belom keluar semua. Gue ke toilet dulu dah yak!” ujar Ojan. “Mules banget.”

“Jorok anjir, ya udah sana buruan,” ujar Damar. “Nitip nitip nih kunci motor,” balas Ojan. Setelahnya pria itu menyerahkan kunci motornya pada Haris.

“Buruan lu, lama gue tinggal nih. Kunci motor di gua soalnya hahaha,” canda Haris.

“Ah bangke lo!” umpat Ojan. Kemudian benar-benar berlari ke dalam rumah sakit guna mencari toilet untuk menjawab panggilan alam.

Kini tersisa Damar dan Haris, yang masing-masing duduk di atas sepeda motor yang sudah diparkir rapi. Haris duduk menyamping, dengan sebelah kakinya ia naikan ke atas pahanya. Lengan kirinya ia sandarkan di atas speedometer motor Ojan. Sementara tangan kanannya memegang ponsel yang sedari tadi fokus ia mainkan.

Damar hanya diam. Memandang pada sembarang arah meski larut dalam pikirannya sendiri.

“Ris,” panggil Damar.

“Oi,” Haris menjawab tanpa berpaling sedikitpun dari ponselnya.

“Gue mau nanya dong,” ujar Damar.

“Ya tanya aja tai, formal amat lu.”

Damar berdecak, “Serius, anjir ah!”

“Apaann? Nanya apa si lu? Tumben amat serius-serius.”

“Menurut lo ya, Ris. Dhimas sama Aghni bener-bener cuma temenan nggak, Ris?” tanya Damar.

Haris menoleh pada Damar, akhirnya mengalihkan pandangannya dari ponselnya. “Hah?”

Damar tak menjawab, pria itu hanya memandangi Haris. Memberi isyarat bahwa pertanyaannya serius dan dirinya menanti jawaban Haris.

“Anjrit! Ini lo maksudnya curiga sama Dhimas gitu?” tanya Haris tak percaya.

“Jujur iya. Ya, lo tau kan? Kata orang—”

“Cewek sama cowok nggak bisa temenan tanpa ada rasa gitu?” potong Haris. Damar mengangguk.

Haris terkekeh, setelahnya pria itu menyimpan ponselnya. Seakan bersiap memberikan petuah pada sahabatnya yang sedang dilanda keraguan.

“Kenapa lo bisa mikir gini dah, Dam? Asli gue nggak nyangka sih,” balas Haris.

“Kenapa nggak nyangka? Bukannya semua orang di sekolah juga mikir gitu? Mereka cocok, mereka harusnya pacaran.”

“Oh anjrit!!! Lo cemburu maksudnyee?” tanya Haris.

Bukannya menjawab, Damar menghela napas. “Nggak tau. Gue tadinya juga biasa aja. Tapi Revan waktu itu chat gue, dia bilang kalo ngomongin soal Aghni, Dhimas yang akan selalu menang. Nggak bakal ada yang bisa ngalahin Dhimas di hidup Aghni.”

“Iya itu bener,” jawab Haris. Damar lantas melirik ke arah Haris tidak terima.

“Kenapa? Lo nggak terima?”

“Jujur enggak,” jawab Damar.

Haris menghela napas. “Gini, gini. Menurut lo kenapa Dhimas sama Aghni temenan?”

“Ya, satu sekolah.”

“Kagaak, goblok. Maksud gue, kenapa mereka temenan sampe deket banget kayak gitu?” tanya Haris.

“Karena sering bareng?” tebak Damar.

“Elu sama Salsa sering bareng, emang deket? Deket banget kayak Aghni Dhimas?” tanya Haris.

Damar terdiam sejenak, setelahnya menjawab. “Enggak.”

“Kenapa?”

“Nggak cocok aja gue sama dia. Maksudnya banyak sifat dia yang emang nggak cocok aja buat gue jadiin temen,” jawab Damar.

Haris menjentikkan jarinya, “Nah!”

“Ape?”

“Lo sadar nggak, Aghni sama Dhimas tuh sama. Mereka kalo ketemu sering banget debat hal-hal nggak penting, sering banget bercanda berdua, ledek-ledekan. Banyak banget inside jokes yang cuma mereka doang yang ngerti. Mereka tuh sama, Dam,” jelas Haris. “Aghni tuh kayak versi ceweknya Dhimas, Dhimas kayak versi cowoknya Aghni.”

Damar masih diam. Menuntut Haris untuk melanjutkan penjelasannya yang ia harap dapat membuka pikirannya.

“Daripada ngeliat mereka as a couple, gue ngeliat mereka as a twin siblings sih, Dam. Cara mereka ngejaga satu sama lain, dua-duanya sama-sama se-serem itu kalo satunya kenapa-napa. Dhimas pernah seganas itu nendang Revan tanpa mikir waktu tau doi bikin Aghni sakit hati banget, jangan lupa juga Aghni pernah nampar cewek yang ludahin Dhimas,” ucap Haris.

“Revan bener, kalo ngomongin soal Aghni, emang Dhimas bakal selalu menang. Begitu juga sebaliknya. Mereka pasti menganggap satu sama lain se-berharga itu di hidupnya masing-masing. Don't you think they're family?

“Lo mikir gitu?” tanya Damar.

“Iya. Jujur iya,” balas Haris.

“Kok bisa?”

“Lah, kocak. Elu begimana bisa mikir dia demen sama Dhimas? Emangnya lo kagak sadar?”

Damar mengerutkan alisnya, “Apaan?”

Haris mengangkat alisnya, tidak percaya bahwa pemuda di hadapannya ini benar-benar tidak menyadari yang ia maksud. “Lo beneran nggak sadar?”

“Ah, gue nggak ngerti maksud lo.”

“Lah, begimana lu? Emang Aghniya nggak keliatan salting-nya kalo lagi ngomong sama lo?” tanya Haris.

Damar berpikir sejenak, berusaha mengingat-ingat bagaimana gadis itu bersikap ketika bicara berdua dengannya. Tak lama ia mengangguk, “Keliatan.”

“Nah, menurut lo itu kenapa?” tanya Haris. Damar tak menjawab, pria itu hanya menatap ke arah Haris sambil menutup mulutnya tak percaya. Damar baru menyadari maksud Haris sejak tadi. Kali ini, wajahnya jauh lebih sumringah dari sebelumnya.

Haris menggelengkan kepalanya. “Adeeh, Damar. Lo jangan suka menutup mata akan hal-hal yang sudah sangat sangat jelas, deh! Bego sendiri jadinya,” lanjut Haris lagi.

Ketika keduanya ingin melanjutkan bicara, tiba Ojan dan Dhimas yang sudah selesai dengan urusannya masing-masing.

“Ih jangan deket-deket Ojan bego, Dhim. Abis BAB dia, bau,” ucap Haris.

“Anjir, udah wangi ini! Cium!” ujar Ojan sambil menyodorkan tangannya ke arah Haris yang langsung ditepis oleh Haris. “JOROK!”

Damar menoleh pada Dhimas, “Udah, Dhim?”

Pemuda itu mengangguk dengan senyuman tipis, “Udah.”

“Lo nginep apa pulang?” tanya Damar.

“Disuruh pulang sama Mama. Disuruh sekolah dulu, gue dimarahin gara-gara udah lama nggak masuk. Pulang sekolah baru gue ke sini lagi, sekalian ambil baju buat Mama,” jawab Dhimas.

Damar mengangguk. “Ya udah, balik, dah yuk. Biar lo istirahat.”

“Lo sama Ojan langsung balik apa gimana, Ris?” tanya Dhimas. Kedua temannya itu menggeleng bersamaan, “Anter lo balik dulu. Baru kita-kita balik,” jawab Ojan mewakili suara Haris.

“Kenapa nggak langsung balik, dah?” tanya Dhimas.

“Kagak, ah. Sekalian aja baliknya sama Damar nanti, selaw, Dhim,” jawab Ojan lagi. “Tau, kayak sama siapa aja lu,” sambung Haris.

“Bukan gitu, emangnya gua penganten dianter-anter?” canda Dhimas.

“Uwaduh, udah bisa bercanda dia, Bunggggg!” ucap Ojan yang disambut tawa oleh ketiga temannya yang lain.

“Selaw, Orin aja bukan penganten dianterin mulu sama Ojan,” canda Haris lagi.

“Ah, bisa aja Kak Harissss. Mending anterin aku pulangg,” Ojan meledek balik.

“JHAHAHAH, KAK HARIIIIISSS, Kak Haris nggak mau nganter saya pulang, Kak?” Damar ikut meledek.

“Heh, diem lo! Gue bikin ancur beneran hubungan lo nanti ya, anjir Damar!” balas Haris tak terima.

“ANJ— eh, iya iya. Saya minta maaf ya, Kak Haris,” ucap Damar dibuat-buat. Menyindir Haris, tentunya.

“Ah, males ah gue kalo begini! Dhim, Damar jangan direstuin sama Aghniya Dhim! Pisahin aja pisahin!!” ucap Haris yang kemudian dibalas tawa oleh Dhimas.

Dhimas melangkahkan kakinya menuju kamar tempat sang ibu dirawat dengan tergesa sekaligus semangat. Tak sabar kembali berjumpa dengan ibunya yang selama ini terbaring lemah di rumah sakit. Pemuda itu terpaksa masuk sendirian, jam besuk yang memang sudah habis membuat teman-temannya tak bisa turut menemani.

“Mama!” panggilnya. Wanita yang terbaring itu menjawab panggilan sang anak dengan senyum tipis di wajahnya yang tetap ayu meski terdapat luka kecil.

Dhimas terperangah, rupanya ia tak salah mendengar. Mamanya benar-benar sudah sadar dan kini tersenyum padanya. Dhimas masih terpaku kala mamanya membentangkan tangan lebar-lebar untuk menyambutnya ke dalam pelukan.

“Sini,” ucap mamanya. Membuat Dhimas kembali tersadar. Air matanya jatuh lantaran terlalu bahagia, dengan segera ia menghambur ke pelukan sang ibu yang selama ini ia rindukan.

Dhimas kembali menangis, semakin keras tangisannya kala mendapati usapan halus sang ibu pada punggungnya.

“Dhimas.. Mama nggak pa-pa, Sayang.”

“Nggak pa-pa gimanaaaa? Mama kebiasaan! Orang udah jelas sakit bilangnya nggak pa-pa mulu!” Dhimas menjawab disela tangisannya.

Mamanya terkekeh pelan, sembari menahan sakit, wanita itu membelai rambut anaknya seraya berkata, “Sama kan, Dhimas juga gitu.”

Dhimas terdiam. “Kok gitu sih, Mama?”

Mamanya tak menjawab, hanya kembali mengulas senyum tipis. “Dhimas ke sini sama siapa?” tanyanya dengan suara pelan.

“Sama anak-anak. Ada Damar, Haris, Ojan. Tapi pada nggak boleh masuk soalnya jam besuknya udah abis. Jadi pada nunggu di bawah.”

“Haduh, pada baik baik banget ya temenmu.”

Dhimas mengangguk, “Tadi sore juga Aghni ke sini. Bawain Dhimas makan. Terus abis Dhimas suruh pulang dia balik lagi sama Om Aji. Bawain makan malem.”

Mamanya terkekeh sebisanya, “Kangen juga deh Mama sama Aghni.”

Mendengar itu, Dhimas mendelik tidak suka. “Anak Mama siapa sih?”

Sambil tersenyum manis, ibunya menjawab, “Dua-duanya kesayangan Mama.”

Dhimas lagi-lagi terdiam. Namun, kali ini diamnya mengarah pada hati yang lega juga kian menghangat.

Dhimas tak mengingat hari lantaran sudah lama tidak masuk sekolah. Namun yang pemuda itu tahu, hari ini menjadi hari paling baik dalam hidupnya.

Entah dengan alasan apa, atau sebagai imbalan amal baik yang mana, Tuhan hadirkan bahagia berkali lipat untuknya hari ini.

Seperti manusia di tengah lautan, hari-hari lalu Dhimas tak punya pegangan. Hidupnya bagai terombang-ambing, diterpa arus yang kuat dengan tenaga miliknya yang tak sebanding. Seperti manusia di tengah hutan, hari-hari lalu Dhimas tak tahu arah. Dhimas tak tahu jalan pulang.

Yang ia tahu adalah dirinya dalam bahaya. Nyawanya seakan bisa meninggalkan tubuhnya kapan saja. Dhimas sendirian, dengan ketakutan melebihi kapasitas yang dapat ditanggung dirinya sendiri.

Namun hari ini, Dhimas kembali miliki teman. Dhimas kembali terima pelukan paling hangat, Dhimas kembali terima ucapan kasih sayang yang tulus terucap untuknya.

Dalam hati ia bersyukur, selain kondisi sang ibu yang membaik, beban dalam hatinya turut sirna. Pun, Dhimas bersyukur atas keberadaan teman-temannya. Yang tanpa beban, bahkan dengan semangat ikut mengantarnya kembali ke rumah sakit untuk menemui ibunya atau yang datang seorang diri menjumpainya dan membawakannya makan siang.

Dhimas kembali berbahagia. Karena hari ini, Dhimas kembali temukan jalan pulang.

“Adek-adek, karena hari ini kita agendanya demo ekskul, kalian bakal banyak kegiatannya di lapangan. Jadi, semuanya absen dulu yaaa! Tanda tangan di kolom yang udah disediain. Absennya tiga kali yaa, untuk hari Senin, Selasa, dan hari ini. Jadi kalian tanda tangannya tiga kali, okay?” Yuna mengawali MOPDB hari terakhir ini dengan sangat ramah. Bersambut dengan antusias para peserta didik baru yang tidak sabar menyaksikan penampilan berbagai ekstrakurikuler yang tersedia di sekolah mereka setelah suntuk dengan materi selama dua hari berturut-turut.

Absen berjalan, Yuna menangkap satu kursi kosong di sebelah Zahra. Maka gadis itu bertanya dengan ramah. “Ini kok kosong? Orangnya mana?”

“Nggak tau, Kak. Nggak masuk,” jawab Zahra.

Alis Yuna berkerut, “Siapa sebangkunya?”

“Anggia, Kak,” jawab Zahra sopan.

“Pinjem sebentar absennya, yaa,” ujar Yuna lalu mencari nama Gia untuk ia beri tanda. “Ini ya? Anggia Kalila Maheswari?” Yuna memastikan.

“Iyaa, Kak.”

Mendengar nama Gia disebut, Haris mematung di tempatnya. Kemudian pemuda itu memejamkan matanya. Ia tahu, kali ini dirinya akan kembali kena santrap. Dan lagi-lagi Gia adalah penyebabnya.

“Ada keterangan nggak? Dia nggak masuknya baru hari ini atau dari kemarin-kemarin juga emang nggak ikut?” tanya Yuna.

“Baru hari ini aja, Kak. Tadi dia ngabarin saya kalo dia sakit. Tadi pagi sebelum berangkat sekolah. Dia juga ngabarin di grup kelas, kok,” jawab Zahra.

“Oh, baru hari ini aja berarti ya? Oke, deh. Kamu boleh isi absennya. Terima kasih yaa,” ucap Yuna.

“Gia tuh yang salah bawa buah, Kaak,” ucap Alwan.

“Oohhh yang ituu? Ya ampun. Iya, iya, inget,” balas Yuna.

“Dia tiga hari MOPDB ada aja masalahnya, deh. Hari pertama nggak bawa buah, kemaren nggak pake dasi, sekarang nggak masuk,” ujar Vio.

Yuna tertawa, “Oh iya juga, ya? Tapi kasian tau, Vi. Ya mungkin hari ini emang beneran sakit. Namanya sakit, musibah, kan nggak ada yang tau juga datengnya kapan.”

“Ya udah nanti bilangin ke Gia yaa, kalo udah masuk suruh menghadap ke wakil kepala sekolah. Soalnya kalo absen selama MOPDB itu dipegangnya sama wakasek,” jelas Yuna.

“Tolong yaa, ketua kelasnya, sebangkunya, kakak mentornya,” ujar Vio dengan penekanan pada kata terakhirnya dengan tujuan menyindir Haris. Haris hanya mengangguk kaku di tempatnya.

Dalam hati ia menggerutu, bahkan tanpa kehadirannya, Gia masih membuat kesalahan.

“Sekarang tugas kalian carii kakak-kakak OSIS-nyaaa, minta tanda tangannya yaa! Harus dapetin minimal 20! Waktunya 30 menit, dimulai dari sekarang! Semangattt! Nih kakak-kakaknya banyak yang nyebar!”

Begitu instruksi dari pembawa acara MOPDB pagi itu. Anggia celingak-celinguk, ia tidak menghapal nama siapapun selain Haris, Yuna, Vio yang memang menjadi mentor kelasnya. Namun, gadis itu juga tidak berani meminta tanda tangan kakak kelas 12. Artinya harapan satu-satunya hanyalah Haris.

Namun Gia ragu, gadis itu segan meminta tanda tangan Haris akibat kejadian pagi tadi. Alhasil Gia celingak-celinguk, tak beranjak dari tempatnya.

“Gia! Ayo minta tanda tangan, kamu kenapa diem aja sih?!” ujar Zahra.

“Jar, aku nggak tau nama siapa-siapa...”

“YA UDAH GAMPANG! Sini ikut aku!” jawab Zahra. “Ke Kak Dhimas aja, tadi aku dapet tanda tangan dia.”

“Kok bisa?”

“Hehehe, dia temennya tetangga aku,” balas Zahra.

“CURANG! PAKE ORANG DALEM!” balas Gia. Namun pada akhirnya ia tetap mengikuti langkah Zahra.

Saat melangkah menuju Dhimas, Gia mendapati pemuda itu sedang bertukar almet dengan Haris sambil tertawa-tawa. Gia melihat ada gerombolan adik kelas yang menghampiri mereka berdua, pasti dengan maksud yang sama.

“Kak Haris, Kak Dhimas, minta tanda tangannya dong!” ujar salah satu dari rombongan itu mewakili.

“Mana? Siapa yang Haris siapa yang Dhimas?” tanya Dhimas iseng. Kemudian pada adik kelas itu menjawab dengan jawaban terbalik. Mereka menjawab bahwa Dhimas adalah Haris dan Haris adalah Dhimas lantaran hanya mengandalkan nama yang tertera pada almet yang Haris dan Dhimas kenakan. Tanpa mengetahui keduanya sudah bertukar almet.

“Salah! Tuh, kalian aja nggak kenal kita. Ngapain minta tanda tangan kita?” tanya Haris. “Minta yang lain aja,” sambungnya membuat rombongan adik kelas itu pergi dengan kecewa.

“Kak Dhimas!” panggil Zahra.

“Ngapain lagi lu?” tanya Dhimas.

“Tanda tangan punya temenku dong, Kak! Kasian dia belom dapet sama sekali,” balas Zahra.

Gia melirik ke arah Haris, pria itu sepertinya benar-benar menjadi tidak suka padanya. Melihat dari gelagat Haris yang berpura-pura tidak melihat keberadaan Gia di hadapannya.

“Jara lu mah curang. Ya udah mana sini punya temennya!” balas Dhimas pasrah.

“Siapa nih namanya?” tanya Dhimas.

“G-Gia, Kak.”

Tangan Dhimas berhenti bergerak kala mendengar nama Gia.

“Anggia?” tanya Dhimas memastikan. Gia hanya mengangguk.

“Ohh, okee. Udah saya tanda tangan yaa, Gia,” balas Dhimas ramah. “Ris, tanda tangan dong! Elu kan mentor kelasnya masa nggak tanda tangan?”

“Males,” jawab Haris.

“Ah, jangan suka begitu. Dilarang dalam agama,” balas Dhimas bercanda. “Cepett, kasian itu si Gia baru dapet satu dari gue.”

“Nggak ah, gue mau ke sana aja,” balas Haris.

“Ehm, Kak Dhimas, nggak usah nggak pa-pa, kok. Nanti saya minta ke kakak yang lain aja. Makasih banyak, Kak Dhimas!” Gia masih berusaha membalas dengan ceria.

“Oh, iyaa sama-sama Gia. Maafin yaa, Haris-nya lagi bete hehehe,” balas Dhimas.

Gia hanya mengangguk sambil tersenyum, kemudian pergi bersama Zahra zetelah berpamitan.

“Lo kenapa sih, Ris? Ini beneran apa boongan galaknya?” tanya Dhimas.

“Beneran kalo sama Gia. Gue sebel banget dah sama tu anak.”

“Kenapa?”

“Lo nggak liat? Itu dia nggak pake dasi. Tadi gue ditegor sama Kak Vio, lagi. Kemaren Gia juga buat kesalahan. Terus Kak Vio suruh gue ingetin dia, eh sekarang buat kesalahan lagi. Ya gue yang dicecer,” jawab Haris sebal.

“Dimarahin gimana lu emang?” tanya Dhimas.

“Anjir lah masih pagi gue udah dibilang nggak becus, nggak bisa dikasih kepercayaan. Makanya gue sebel anjir!” jawab Haris.

Dhimas memandang Haris serius. “Iya sih, Ris. Gue paham, kalo jadi lo juga gue sebel. Tapi kan kita udah lama lah, di OSIS. Setahun udah ada. Harusnya udah paham emang begitu cara kerja OSIS.”

“Mungkin Kak Vio marah karena lebih ke— nggak enakkk kalo diliat guru, nanti kan Gia juga yang kena. OSIS juga yang kena, kok baru MOPDB udah ngelanggar aturan gitu. Tapi menurut gue lo juga nggak perlu marah ke Gia,” ucap Dhimas.

“Gia salah, tapi kalo lo menyalahkan dia sepenuhnya juga lo salah. Ini bukan ngebandingin ya, Ris. Gia mah masih mending, nggak ada apa-apanya kesalahannya. Tadi di kelas gue pas guru lagi isi materi ada yang tidur. Ape ceceran gue nggak bakal lebih gede dari lo?”

Haris terkejut, “Demi apa tidur?!”

“Beneran, ada lagi katanya malah. Di kelas mana gitu. Jadi kalo nanti angkatan kita dicecer, ya bukan salah Gia. Gia cuma nggak pake dasi, nggak bertingkah kurang ajar kayak anak-anak yang lain yang lebih parah. Jauh lebih parah,” balas Dhimas.

“Selaw, Men. Kita kan udah biasa digituin, dimarahin mah makanan sehari-hari. Harusnya lo nggak usah begitu ke Gia.”

Haris hanya diam. Memikirkan perlakuannya terhadap Gia karena segala sesuatu yang Dhimas katakan adalah benar.

“Kalo sempet, minta maaf ke Gia. Kayaknya anaknya denger yang tadi lo omongin ke gue,” ujar Dhimas sambil menunjuk Gia yang berada tak jauh dari keduanya.

Haris menoleh, mendapati Gia dengan raut wajah tak secerah sebelumnya sedang menunduk.

Sepertinya, lagi-lagi Dhimas benar. Gia mendengar ucapannya.