raranotruru

Adelia's Journal

To be loved is to be seen. I was invisible. When i was 14, i used to dress up, forced my brain to work even harder just to pick up some clothes that someone might like. Rutinitas pagi Adelia 14 tahun : Bangun pagi, mandi, pakai parfum, sisir rambut, kuncir rambut/kepang/pakai jepitan/pita, pakai bedak, rapi-rapi, berangkat ke sekolah, hoping someone would look at her way, notice her, might as well said hi and fell in love. Nggak ada yang ngasih tau Adelia 14 tahun kalau jalan yg dipilihnya salah. “Jangan sama dia, nantinya dia punya pacar lain!” “Jangan sama dia, nantinya dia cuma akan bikin kamu nangis!” “Jangan sama dia, mending tunggu SMA nanti langsung sama Dhimas!”

So it goes, I fell too deep that no one helped me. I was invisible. Apapun yang aku lakuin nggak akan pernah ada harganya. He never looked at my way. Aku lewat depan matanya pun nggak ada harganya. Jepitan-jepitanku yang warna-warni, pita-pitaku yang besar itu nggak akan pernah terlihat di matanya. I was never seen, therefore i was never loved.

To be loved is to be heard. I was inaudible. Sebesar apapun suaraku, rasanya frekuensiku tidak sejalan dengan yang bisa sampai di telinganya. Sapaan-sapaanku semuanya diabaikan. Pun, semua pendapat dan amarahku. Mungkin akhirnya ia melihat ke arahku, tapi setelah ia tau aku bersuara, ia berubah pikiran. Jadi, ia memanggil suara lebih besar sampai aku tidak terdengar. Suara yang saking kerasnya sampai terdengar seperti geram amarah. Semuanya harus sesuai katanya, maunya, dan pendapatnya. Kalau dia marah, aku harus dengar. Tapi kalau aku marah, sampai kiamat pun tidak akan sampai ke telinganya. Sekeras apapun aku mengeluarkan suaraku, suaranya akan lebih menggema. Bahkan sampai sekarang, ia menggema di kepalaku. Menyuarakan berapa banyak salahku, berapa banyak malu yang harus aku tanggung, berapa banyak rusak yang harus kuperbaiki. Dan aku terkapar, tak pernah bisa melawan karena suaraku tidak terdengar. Di telinganya, maupun di kepalaku sendiri. I was inaudible, therefore i was never loved.

To be loved is to be known. Adelia 14 tahun merasa pencapaian terbesarnya adalah punya pacar yang diinginkan semua orang. Pencapaian terbesarku waktu itu adalah berhasil membuat orang yang kudamba sejak lama akhirnya mengenalku. Kami mulai terlihat seperti sepasang kekasih bagi banyak mata, tanpa perlu teks terjemahan. Ia mulai menghapal ulang tahunku (yang sangat mudah dihapal karena bersamaan dengan tahun baru), menghapal kesukaanku (yang ia tahu akibat membayar teman sebangkuku untuk mengobservasiku), menghapal rute ke rumahku (yang pada akhirnya tidak pernah ia kunjungi karena hanya mau mengantarku sampai 2 blok sebelum rumahku). Was i really known?

To be loved is to be seen. To be loved is to be heard. To be loved is to be known.

Percepat ke Adelia beberapa waktu lalu, saat pertemuannya dengan yang tidak diduga. Aku enggan percaya lagi waktu itu. Kalau cinta memang harus pergi, biarlah ia pergi dari rumahku selamanya. Jauh-jauh, sudah kulempar ia hingga tercecer. Mungkin sudah diambil kucing dari tempat sampah, mungkin juga sudah diacak-acak hewan lain. Tetapi jelas aku adalah manusia yang banyak luput, karena mungkin masih tersisa ceceran cinta di halaman rumahku. Sampai sisanya terbawa hujan, larut dalam butiran aspal jalan, dan berakhir di selokan. Cinta mengulurkan tangannya padaku, memperkenalkan diri, bahwa kali ini ia hadir dalam bentuk lebih nyaman.

Aku nyata di depan matanya, tanpa perlu macam-macam. Aku nyata di depan matanya, bahkan dengan bentukku yang paling hancur, hitam, kotor, dan bau. Aku nyata di depan matanya, bahkan dengan kakiku yang pincang. Aku nyata di depan matanya, bahkan dengan banyak keping yang baret. Aku nyata di depan matanya, bahkan dengan saraf-saraf kejepit dan peredaran darah yang tidak lancar. To be loved is to be seen, and turns out, i am visible.

Ia mengulurkan tangannya tanpa ragu. Menuntunku ke rumah dan mengobati yang memerah dan membiru, meluruskan apa yang kaku, memastikan aku masih utuh dari setiap helai rambut hingga kuku. Tak ada yang patah, tak ada lagi yang patah. Ia berdiri melindungiku, kesatria yang mengalahkan bintang jatuh. To be loved is to be heard, ia mendengarku tanpa aku harus bersuara.

“Makan, nanti asam lambung!” “Ayam geprek mozarella, kan?” “Cimolnya tujuh ribu, pedas manis, kan?” “Tunggu sini aja! Capek, kan?” “Haus ya?” “Mikirin apa? Kenapa nggak tidur?” “You wanna be someone's pretty girlfriend, right?” Ia membacaku seakan aku buku terbuka, merebus setiap lembaranku dan meminum air rebusannya. Kalau aku adalah sebuah ujian, ia akan lulus seketika. Lembar jawabannya tak perlu kuperiksa lagi. Ia menghapal ulang tahunku (betulan), ia menghapal kesukaanku (betulan), ia hapal rute ke rumahku di luar kepala (no wonder), ia hapal kebiasaanku (betulan), dan ia hapal setiap dialog yang aku cetuskan (betulan). To be loved is to be known, and he knows me down to every bit.

So, maybe i was once loved. By a man who made love finally feels easy and kind. By a man who taught me how to slow down when the world goes fast. By a man who always know how to put me first. By a man who told me i was more than enough. By a man who told me i was a star, both in the sky and even in the deeper sea.

By a man whom i got my heart, eyes, and heart-eyes into.

I was seen enough that i'd love to heal. I was heard enough that i'd love to listen closely to those cries i've ignored. I was known well enough that i'd love to understand wholeheartedly.

But, what's love really about?

Yang ini pun tidak sempurna. Banyak yang harus diusahakan agar meja makan kita penuh makanan hangat. Sesekali aku yang memanaskan wajan, sesekali ia menuangkan minyak yang menyiprat. Panas di kulit.

Yang ini pun banyak kurangnya. Banyak yang harus kembali disatukan setelah kembali direbut paksa.

Yang ini pun pergi. Yang ini pun mencabut nyawaku pelan-pelan. Yang ini pun menguburku dalam-dalam.

Tapi, yang ini juga yang ternyata bukan menguburku, tapi memupukku di dalam tanah agar aku mekar dan wangi. Mungkin sekarang aku puspa pesona, atau bunga lily, atau hydrangea, atau larkspur.

Jadi, apa yang benar untuk menerjemahkan perasaan itu?

Yang ada di kamus, hanya “perasaan suka sekali, kasih sekali, rindu, risau, khawatir.”

Jadi, sebenernya apa? Kenapa semuanya dirangkum dan dicampuradukkan seperti bumbu dalam kuali?

Tapi, mungkin kesimpulannya, cinta adalah semuanya. Senang, sedih, risau, marah, khawatir, rindu, bingung, cemburu, kesal, sebal, dan semua rasa lainnya. Mungkin kesimpulannya, cinta adalah puncak semua rasa yang dimiliki manusia.

Mungkin, seperti buku yang kubaca, cinta adalah mengalami.

Aku mengalami semuanya. Kita mengalami semuanya. Senang, sedih, risau, marah, khawatir, rindu, bingung, cemburu, kesal, sebal, dan semua rasa lainnya.

Kita mengalami semuanya. Perasaan yang membuatmu membuncah hingga terasa hampir meledak, perasaan yang membuatmu enggan tidur, perasaan yang membuatmu berapi-api, hingga perasaan yang menjadi gali untuk kuburanmu sendiri. Semuanya. Termasuk retakan-retakan dan pecahnya perpisahan kita.

Adelia kecil lebih tau itu dibanding aku. Sebab ia mengalami lebih banyak, hingga ia hancur lebih banyak. Babak belur. But, i feel it in my bones, she had never once regret it. For she knows how to love, she always had known.

Aku berterima kasih kepada Adelia yang dulu, karena sudah rela jatuh hati dengan berani sejak lama. Aku akan bilang aku sudah memaafkan kesalahannya yang dulu, semua tersesat dan ketidaktahuannya. Karena pada akhirnya, ketidaksempurnaannya adalah yang membawaku di selokan. Pada akhirnya, ketidaksempurnaannya adalah yang membawaku menerima uluran tanganmu hari itu.

Sekarang—pun, Adelia hari ini, ia tidak menyesali sedikitpun telah menyertakanmu dalam hidupnya. Kusampaikan padamu, tuan yang membaca ini, terima kasih telah datang dan menjadi nyata. Terima kasih telah menjadi bukti bahwa Tuhan masih memberikanku keberuntungan satu kali lagi. Aku tak akan keberatan kalau cuma harus bersamamu sampai bakteri tanah memakan kulitku.

Terima kasih telah menerjemahkan bahwa cinta benar-benar terlihat, terdengar, dan nyata, karena aku mengalami semuanya.

Aku yakin Tuhan merontokkan empat daun semanggiku untuk menggantikannya dengan kedatanganmu hari itu.

Selamat ulang tahun, Aku nggak punya kado, tapi semoga sedikit catatan perjalananku bisa membuatmu tau arah, ke mana kita akan melanjutkan perjalanan di labirin ini.

Aku mencintaimu sebesar dunia. Klise, tapi, yang sudah kubilang. Cinta adalah mengalami, dan dunia adalah tempat kita mengalami semuanya. Dari tumbuh sampai berevolusi, dari tumbuh akar sampai berbuah, dari hidup sampai nanti mati. Maka aku menyayangimu sampai semua rahasia yang belum terungkap, dengan rumus yang terukur dan terus dicari. Aku mencintaimu dari awal ledakan, sampai kembang api selesai dinikmati.

Sekali lagi, selamat ulang tahun! Semoga kita panjang umur dan panjang kesempatan untuk terus bertukar ucapan ulang tahun beserta doanya.

Aku menyayangimu dalam nyawaku yang masih diberi kesempatan hari ini.

Salam, A-Deliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii-a

Sore itu, ada yang kembali menyatu, ada kebiasaan yang kembali hadir, namun rasa yang tak pernah hilang. Pedas manis dengan sedikit asin, sederhana, tapi cuma mereka yang tahu getir di sela-sela kunyahannya.

Hari ini mereka menjejaki tempat Dhimas melarikan diri ketika patah hati. Lapangan Banteng. Pemuda itu bersyukur hari ini ia tidak perlu kabur ke sini dengan pecahan yang berusaha ia satukan lagi. Hari ini ia merayakan kemenangannya, mungkin kalau bisa, Dhimas akan berpose seperti patung yang terpampang di sana.

“Kamu sering ke sini?” tanya Adel sebelum memakan satu butir cimol. “Iya, dulu.”

“Pas kemarin kita jauh-jauhan juga ke sini?” tanya Adel. Dhimas menggeleng. “Nggak sempet, nggak kuat juga. Aku sakit terus waktu kita jauh. Kata Haris, sekali lagi aku tumbang dia mau langsung sewa ambulans.”

Adelia terkekeh. “Sakit apa?”

“Capek aja. Soalnya aku nggak bisa tidur lama, kepikiran aja sama tindakan aku. Jadi badan aku nggak enak, terus sering mimisan.”

“Ih … Maaf ya …”

“Nggak apa-apa, itu mah, Haris aja yang lebay,” sahut Dhimas. Adelia diam sejenak. Memandangi Dhimas yang sekarang muncul lagi di hadapannya. Semenjak Dhimas menjadi pacarnya, Adelia harus mencubit pipinya tiap bangun tidur. Takut-takut ini cuma mimpi dan sebenarnya Dhimas cuma khayalan di kepalanya yang kian menggila. Sesekali juga, ketika mereka memiliki agenda berdua, Adel akan dengan sengaja mencubit lengan Dhimas. Untuk membuktikan bahwa pria itu benar-benar di hadapannya dan menjadi miliknya.

“Jangan sakit lagi, ya?”

“Iya, enggak. Udah seneng, kan, sekarang.”

Setelahnya Dhimas teringat sesuatu. “Eh, kamu juga bentar lagi mau ulang tahun. Mau kado apa?”

Adelia tidak langsung menjawab, ia sibuk menghabiskan cimolnya dengan lahap. Setelah selesai menelan, gadis itu menunjuk Dhimas dengan dagu. “Ini.”

“Apa?”

“Kamu.”

“Mau aku?” tanya Dhimas. Gadis itu mengangguk seraya tersenyum. “Ini aku?” kata Dhimas. Maksudnya, untuk apa lagi minta yang sudah ada di depan mata.

“Iya. Aku mau kamu aja, jangan pergi lagi ya?”

Dhimas terdiam sesaat. Menyadari betapa lalainya ia membaca pesan. Sejak dulu Adelia selalu berkata yang sama. Gadis itu tidak mau perpisahan. Bukan karena takutnya di masa lalu, tetapi karena ia benar-benar ingin mengusahakan yang satu ini.

“Iya, aku nggak kemana-mana,” jawab Dhimas. Setelahnya Adelia mengangguk puas. Gadis itu lalu mengeluarkan sebuah bingkisan dan menyerahkannya kepada Dhimas.

“Apa?”

“Kado, lah! Masa cowok aku ulang tahun nggak dikasih kado?” sahut Adel. “Aku nggak bisa kasih apa-apa, maaf ya.”

“Buka sekarang boleh?” tanya Dhimas. Dan Adelia mengizinkannya. Setelahnya pemuda itu sibuk sendiri, mencari tahu hadiah dari yang dicinta.

Sebuah jurnal yang — dari motif bunga lavendernya, Dhimas asumsikan itu pasti milik Adelia. “Jurnal kamu?”

“Iya. Aku banyak nulis waktu kita jauh,” ujar Adel, “pas aku baca lagi, isinya jadi kayak surat buat kamu. Jadi, aku kadoin aja. Udah habis juga jurnalnya.”

Dhimas terkesima. Sebelum Adelia, jangankan surat, pesannya saja diabaikan hingga berhari-hari. Namun sekarang, ada yang menuliskannya surat hingga sebuku tebal. Dhimas bersumpah akan menjaga buku itu bahkan dari seekor rayap pun.

Pemuda itu merasakan matanya berkaca-kaca. Ia pikir sahabatnya akan menjadi satu-satunya orang yang mengirimkan pesan paling panjang ketika ia berulang tahun. Ternyata Adelia selalu melampaui ekspektasinya. Sudah Dhimas bilang, tidak ada yang segila Adelia.

“Del,” panggil Dhimas, “makasih banyak ya, sumpah!”

“Aku nerima surat sehelai aja nggak pernah, ini kamu tiba-tiba ngasih satu buku?”

Gadis itu cengegesan. “Lebih ke diary juga, sih. Cuma emang isinya tentang aku curhatin kamu. Kemarin baru aku baca lagi, ternyata kayak belum ada ujungnya. Jadi, kemarin aku tambahin terus aku jadiin kayak surat buat kamu aja.”

“Ya, tetep aja! Makasih banyak ya!”

“Sama-sama, mochiman. Semoga nggak geli aja, sih, kamu bacanya,” balas Adel. Dhimas sontak menggeleng, “Nggak bakal geli, sumpah! Ini aku fotokopi nanti aku bagiin ke anak aku satu-satu.”

Adelia hanya bisa tertawa. “By the way, Laras tadi DM aku di IG, aku lupa ternyata belum aku block. Najemah juga.”

Raut wajah Dhimas berubah drastis, tercetak jelas kekhawatirannya. “Terus? Kamu nggak apa-apa? Bilang apa mereka?”

“Ya nanyain kamu, mereka bales SG aku ngucapin kamu,” balas Adelia. “Najemah langsung aku block, Laras tadi aku kirim foto lagi makan cimol sama kamu dulu, terus aku block. Nggak jelas, biarin aja dia repot sendiri.”

Seketika Dhimas tersenyum bangga. Adelianya benar-benar sudah membaik. “Keren!”

Kalau dipikir, rasanya hari ini adalah hari yang tidak mungkin terjadi. Mereka yang dulu sama-sama berpikir bahwa tidak akan lagi memiliki bahagia yang seperti ini, sekarang duduk berdekatan mewujudkan semua yang dulu dibayangkan.

Memang benar, cinta berlaku sesukanya. Yang Dhimas pikir jalannya akan mulus ketika bertemu Adelia, rupanya masih harus melewati banyak rute. Ketika Dhimas pikir semua sudah buntu, cinta berlaku lagi sesukanya. Rupanya ia berbaik hati, bermaksud memberikan Dhimas masalahnya sendiri untuk diselesaikan setelah bertahun-tahun menyelesaikan masalah percintaan teman-temannya. Hari ini patut dirayakan, sebab akhirnya Dhimas dan Adelia menemukan jalan keluar.

Mungkin memang tidak ada yang benar-benar ahli soal bentuk abstrak yang satu ini. Tapi, hari itu Dhimas tahu ia telah menemukan seseorang yang tidak akan meninggalkannya di labirin ini sendirian.

In a land far, far away, In a place where our time ticks differently, With yours faster as how it has been, Someone might've loved you in the same way.

In a land far, far away, In a place where the sun shines differently, With your skyblue's brighter than mine, Someone might've loved you in the same way.

In a land far, far away, In a place where our clouds condensed differently, With yours happier than mine, Someone might've loved you in the same way.

To a land far, far away, The sun, the moon, the stars, With planes passing by with its blinking lights, Darling, i hope they assure you enough of how much i love you.

To a land far, far away, The breeze, the wind, the waves, With those dusts you brought home through your clothes after work, Darling, i hope they assure you of how i wouldn't turn my back against you.

“Let's make ourselves our very own brigade, this love's our shield our blades.” Come sharpen it, For we let the distance became our battlefield. Go take the lead, i will cover you.

I hope we will come to a long way, comrade. Let the heart strengthen its bond, For maybe someday our chemical compounds will modify themselves into grenades, Contains of exploding laughter to share, where our time ticks in the same way.

“Don't cross the line!” Honey, look at how far we've crossed this line. We've reached a land of far, far away. Take a rest, love. For this battle might've been exhausting. It's time to let the clock does its work. I hope those sacrifices will not be in vain.

In a land far, far away, Where our time ticks differently, Where your skyblue's brighter than mine, Where the distance became our battlefield, Someone might've loved you in the same way.

I, love you in the same way.

In a land far, far away, In a place where our time ticks differently, With yours faster as how it has been, Someone might've loved you in the same way.

In a land far, far away, In a place where the sun shines differently, With your skyblue's brighter than mine, Someone might've loved you in the same way.

In a land far, far away, In a place where our clouds condensed differently, With yours happier than mine, Someone might've loved you in the same way.

To a land far, far away, The sun, the moon, the stars, With planes passing by with its blinking lights, Darling, i hope they assure you enough of how much i love you.

To a land far, far away, The breeze, the wind, the waves, With those dusts you brought home through your clothes after work, Darling, i hope they assure you of how i wouldn't turn my back against you.

“Let's make ourselves our very own brigade, this love's our shield our blades.” Come sharpen it, For we let the distance became our battlefield. Go take the lead, i will cover you.

I hope we will come to a long way, comrade. Let the heart strengthen its bond, For maybe someday our chemical compounds will modify themselves into grenades, Contains of exploding laughter to share where our time ticks in the same way.

“Don't cross the line!” Honey, look at how far we've crossed this line. We've reached a land of far, far away. Take a rest, love. For this battle might've been exhausting. It's time to let the clock does its work. I hope the sacrifices will not be in vain.

In a land far, far away, Where our time ticks differently, Where your skyblue's brighter than mine, Where the distance became our battlefield, Someone might've loved you in the same way.

I, love you in the same way.

In a land far, far away, In a place where our time ticks differently, With yours faster as how it has been, Someone might've loved you in the same way.

In a land far, far away, In a place where the sun shines differently, With your skyblue's brighter than mine, Someone might've loved you in the same way.

In a land far, far away, In a place where our clouds condensed differently, With yours happier than mine, Someone might've loved you in the same way.

To a land far, far away, The sun, the moon, the stars, With planes passing by with its blinking lights, Darling, i hope they assure you enough of how much i love you.

To a land far, far away, The breeze, the wind, the waves, With those dusts you brought home through your clothes after work, Darling, i hope they assure you of how i wouldn't turn my back against you.

“Let's make ourselves our very own brigade, this love's our shield our blades.” Come sharpen it, For we let the distance became our battlefield. Go take the lead, i will cover you.

I hope we will come to a long way, comrade. Let the heart strengthen its bond, For maybe someday our chemical compounds will modify itself into grenades, Contains of exploding laughter to share where our time ticks in the same way.

“Don't cross the line!” Honey, look at how far we've crossed this line. We've reached a land of far, far away. Take a rest, love. For this battle might've been exhausting. It's time to let the clock does its work. I hope the sacrifices will not be in vain.

In a land far, far away, Where our time ticks differently, Where your skyblue's brighter than mine, Where the distance became our battlefield, Someone might've loved you in the same way.

I, love you in the same way.

In a land far, far away, In a place where our time ticks differently, With yours faster as how it has been, Someone might've loved you in the same way.

In A Land Far, Far Away

In a land far, far away, In a place where the sun shines differently, With your skyblue's brighter than mine, Someone might've loved you in the same way.

In a land far, far away, In a place where our clouds condensed differently, With yours happier than mine, Someone might've loved you in the same way.

To a land far, far away, The sun, the moon, the stars, With planes passing by with its blinking lights, Darling, i hope they assure you enough of how much i love you.

To a land far, far away, The breeze, the wind, the waves, With those dusts you brought home through your clothes after work, Darling, i hope they assure you of how i wouldn't turn my back against you.

“Let's make ourselves our very own brigade, this love's our shield our blades.” Come sharpen it, For we let the distance became our battlefield. Go take the lead, i will cover you.

I hope we will come to a long way, comrade. Let the heart strengthen its bond, For maybe someday our chemical compounds will modify itself into grenades, Contains of exploding laughter to share where our time ticks in the same way.

“Don't cross the line!” Honey, look at how far we've crossed this line. We've reached a land of far, far away. Take a rest, love. For this battle might've been exhausting. It's time to let the clock does its work. I hope the sacrifices will not be in vain.

In a land far, far away, Where our time ticks differently, Where your skyblue's brighter than mine, Where the distance became our battlefield, Someone might've loved you in the same way.

I, love you in the same way.

Hari kelima tanpa Adelia. Dhimas yakin pasti ia tidak salah hitung. Setiap hari ia mencatatnya, mencoretnya di kalender yang tergantung di dinding rumahnya setiap pagi. Sore ini pula, ia lagi-lagi harus memasuki ruangan bimbel dingin in dengan perasaan hampa. Ditatapnya kursi kosong di barisan belakang, tempat Adelia menaruh tasnya setiap hari. Ransel abu-abu muda yang tenang, atau sebuah tote bag blacu bergambar bunga lavender yang dijahit dengan benang hitam.

Namun, kini, bangku itu kosong. Dhimas memandanginya dari depan kelas, kesal karena kursi itu terdorong kesana-kemari. Lebih kesal kali karena yang mendorong dan menggesernya asal-asalan adalah Badrul. Seseorang yang mencoba mencomblangkan temannya dengan Adelia. Lebih, lebih kesal lagi karena Badrul menggunakan kursi itu sebagai sandaran kakinya.

Pemuda itu memilih untuk memberikan kesempatan untuk Badrul menyandarkan kakinya. Nanti, kalau ada kesempatan, akan ia patahkan—tidak, tidak, maksudnya Dhimas akan mengambil kursi itu dan mengamankannya di sisinya. Sudah lima hari ini, Dhimas duduk di barisan paling belakang. Selalu di tempat yang sama, di sebelah kursi Adelia, dan selalu menggunakan kursi gadis itu untuk menaruh tasnya.

Gue bawa laptop, nih. Berat, kalo ditaro di kursi gue juga takut jatoh.

Begitu alasannya. Terkadang, Dhimas dengan sengaja membawa tambahan tas berisi sepatu futsalnya agar ada alasan untuk mengamankan kursi Adelia. Tidak ada yang protes—tidak ada lagi yang berani protes semenjak Dhimas membungkam semuanya. “Nggak ada orangnya ini. Lu semua udah pas juga, kan, duduk di tempat masing-masing? Biasanya ini bangku juga nggak ada yang mau pake, selalu Adel yang duduk sini. Kenapa sekarang pada rebutan gitu, sih?”

Ah, Adelia, andai gadis itu melihat betapa gagahnya sang pangeran melindungi gadis itu. Sejauh ini, yang Adel tahu hanyalah sisi menyenangkan seorang Dhimas Wijaya. Ramah, supel, selalu lembut tutur katanya, dan nyaris tidak pernah sarkas terhadap orang lain. Adelia belum pernah melihat sisi Dhimas yang seperti ini—lebih tepatnya, Dhimas tak pernah mau menunjukkannya.

Kalau dipikir-pikir, pemuda itu juga belum memberitahu Adel bahwa jabatannya lebih tinggi dari Haris. Paling tinggi di antara semua organisasi siswa di sekolah. Biarlah semua mengalir sebagaimana mestinya, Dhimas juga enggan sombong. Apalagi menyombongkan sebuah jabatan yang hanya membuat jam pulangnya terlambat.

Entah sudah berapa menit Dhimas memainkan ponselnya. Jam masuk masih sekitar setengah jam lagi. Biasanya ada Adelia yang sibuk dengan cimol pedas manisnya, kini Dhimas hanya bisa gigit jari. Suntuk, pemuda itu memilih untuk memantau sekitar. Ia menopang dagu dan mengedarkan pandangannya ke depan kelas. Sesekali melirik ke arah kursi yang dipakai Badrul. Tepat sekali Badrul berdiri dan melenggang keluar. Entah mau jajan atau ke toilet—persetan. Dhimas segera menarik kursi Adelia dan meletakkan tasnya di sana.

Sesaat berikutnya ia dikagetkan oleh suara denyit kursi di depannya. Matanya menangkap Nazma yang kini berbalik menghadapnya. Dhimas memundurkan sedikit tubuhnya. Kata Ayah, harus menjaga jarak aman dengan perempuan.

“Kenapa, Naz?”

“Lo kenapa, sih? Dari kemarin sendirian terus. Udah gitu diem aja, kayak lagi galau!”

Emang. Namun, bukan Dhimas kalau mengutarakan perasaannya secara gamblang. Maka ia menggeleng dan mengusahakan senyum tipis. “Nggak, kok. Lagi capek aja.”

Nazma mengangguk, berusaha mengerti. “Kemarin kenapa nggak les?”

“Nggak pa-pa. Lagi ada urusan aja di luar,” jawab Dhimas singkat. Ia tak menaruh curiga, mungkin Nazma bermaksud baik. Kalau ada Adel, mungkin gadis itu sudah menginjak kakinya keras-keras—atau meliriknya dengan tatapan membunuh. Sayangnya, Adelia lagi-lagi tak terlihat hari ini.

“Adel nggak masuk-masuk, tuh, ke mana, Dhim?” tanya Nazma tiba-tiba. “Ya, ada urusan juga, lah.”

“Masa, sih? Gue kira dia males aja...”

“Yeh, sok tau lo!” balas Dhimas pedas, namun tertutupi oleh tawanya. Seketika Nazma tertawa sok asik, mungkin ia menyangka Dhimas menanggapinya dengan candaan. “Lah, abis kata yang lain emang dia males lesnya dari dulu. Waktu itu juga pernah nggak masuk-masuk.”

Dhimas menghela napasnya. Kemarin-kemarin ia selalu menasehati Haris agar tak langsung menghajar orang-orang yang bermulut lancip terhadap Gia. Kini, Ia mengerti sekarang yang dirasakan oleh Haris. Beruntung Dhimas jauh, berkali-kali lipat lebih sabar dari Haris. “Udah, jangan ngomongin orang. Apalagi kalau nggak lo kenali dengan benar,” balasnya. Masih lembut untuk seukuran lelaki yang mulai dikuasai emosi.

“Oh, emang lo deket sama dia? Kenal bener-bener ya?”

“Ya, kenal. Orang temen les.”

Nazma berdecak. “Is, bukan gitu, Dhimas! Maksudnya lo deket sama dia?”

“Dia siapa, Naz? Sebut aja namanya emang kenapa, sih?”

Nazma berdecak (lagi). “Adel.”

“Kalau deket kenapa emangnya? Lo cemburu?” tanya Dhimas. Kesabarannya mulai surut.

“Biasa aja,” balas Nazma. “Orang cuma nanya, kok.”

Pertanyaan lo ngeselin, batin Dhimas. Sekon berikutnya Nazma menunjuk kursi Adelia dengan dagunya. “Lo sering banget naro tas di situ. Hak milik ceritanya?”

“Punya Adel.”

“Punya semua orang, Dhimas. Semua orang boleh duduk situ, sih, harusnya.”

“Punya Adel, Nazma. Adelnya nggak ada, jadi gue pake. Semua orang boleh pake, kan? Gue juga boleh berarti, kan?” sahut Dhimas. Mati-matian pemuda itu mengatur nada bicaranya agar tidak keluar bentakan. “Dari tadi pada diem aja, giliran gue udah taro tas gue baru lo semua ribut. Kenapa, sih? Ada apa, sih?”

“Lo pada emang nggak suka gitu sama Adel apa gimana?” tembak Dhimas. Lama-lama kesal juga. Kalau dipikir-pikir, memang Adel tidak banyak mengobrol dengan anak-anak sekelas yang lain. Hanya Dhimas dan Badrul yang menjadi teman bicaranya di kelas. Entah apa alasan mereka.

Sorry to break it to you, tapi gue denger—Adel, tuh, pernah jadi selingkuhan.”

Gerakan Dhimas terhenti. Rahangnya mengeras hingga giginya bergemeletuk. “Sekali lagi ya, Naz. Jangan—ngomongin orang yang nggak lo kenali dengan benar.”

Pemuda itu berucap dingin dan tajam. Ia menatap mata Nazma sengit—tanpa berkedip, sampai ucapannya selesai dengan baik. Dapat ia lihat Nazma sedikit mundur. Bagus, lah, kalau perempuan itu takut. Dan sumpah demi Tuhan, Dhimas akan lebih memaklumi Haris kalau-kalau pria itu kembali meninju orang yang mencemooh Gia di hadapannya.

“Oke, okee. Maaf.”

Dhimas membalasnya dengan lirikan malas. Tidak akan ia maafkan. Setidaknya, inginnya begitu. Tetapi hatinya begitu bersih hingga tak akan pernah menaruh dendam pada siapa pun. Awan hitam yang tadinya mengepul di atas kepala Dhimas sudah mulai pergi. Sayangnya, Nazma kembali buka suara.

“Tapi lo tau, Dhim?”

“Apa?”

“Adel pernah jadi selingkuhan?”

Lagi-lagi Dhimas membuang napas gusar. “Naz, tau nggak? Kalau pikiran lo kayak gitu, mau gue ceritain sampe satu buku tebel faktanya gimana juga lo nggak akan mau terima. Soalnya emang pikiran lo yang jelek. Emang lo yang dari awal mandang Adel jelek. Dari tadi gue dengerin lo ngomong aja, yang keluar dari mulut lo, tuh—semua hal yang ngejelekin Adel.”

“Lo ke sini, duduk di bangku ini, setiap hari ngedeketin gue, cuma mau ngulik informasi tentang Adel doang apa gimana, Naz?” tanya Dhimas. Tidak membentak, namun begitu lugas dan tegas. “Terus kalau lo udah dapet informasinya, lo sebarluaskan dan lo gosipin sama temen-temen lo apa gimana, Naz?”

“Lo perempuan—tapi seneng gitu, ya—kalo liat perempuan lain yang menurut lo nggak setara sama lo itu hancur karena lo?”

“Gue nggak bilang Adel nggak setara sama gue, kok?” katanya merasa tidak bersalah. Dhimas terkekeh. “Emang enggak. Tapi gue nggak bego juga, sih, Naz. Dari awal lo masuk, lo selalu liat Adel dengan tatapan kasihan. Bahkan cenderung jijik. Apalagi kalau gue lagi berduaan sama Adel, lo selalu cari cara misahin. Gue cowok, Naz, tapi jangan kira gue nggak tau pikiran picik cewek-cewek kayak lo.”

“Sekali lagi ya, Naz. Toleransi gue terakhir buat lo. Jangan ngomongin orang yang nggak lo kenali dengan benar—apalagi, kalau orangnya Adelia!” tegas Dhimas.

Nazma terdiam. Seisi kelas terdiam. Dhimas pun terdiam karena tidak sadar telah meninggikan suaranya. Semua mata tertuju padanya dan Nazma yang berada di tengah-tengah kelas barisan paling belakang. Mengamankan situasi, Nazma segera mengisyaratkan bahwa semua baik-baik saja. Mengusir semua pasang mata itu.

Setelahnya gadis itu menatap Dhimas dengan tatapan canggung. Dhimas juga heran, bisa-bisanya Nazma tak gentar.

“Oke, gue minta maaf, Dhim.”

“Tadi juga maaf lo nggak bertahan lebih dari lima detik.”

“Maksud gue nggak gitu, Dhim. Gue, kan, anak baru. Gue denger dari anak-anak sini juga rumor kayak gitu. Makanya gue tanya lo, buat memastikan. Maaf kalau cara gue salah dan bikin lo marah, tapi gue nggak bermaksud begitu...”

Dhimas mendongak terkejut. Apakah ini berarti dirinya yang salah?

“Sorry,” ucap Dhimas, “gue berarti yang salah. Lama-lama kebawa emosi sampe bentak lo gitu.”

Nazma tersenyum manis, menggeleng setelahnya. “It's okay.”

“Gue juga mau temenan sama Adel, kok, Dhim. Tapi kayaknya dia yang nggak suka gue, sih? Berasa soalnya, sedikit...”

Dhimas menggeleng pelan. “Adel nggak gitu, kok. Coba aja, ajak ngobrol pelan-pelan. Adel baik, Naz. Lo aja yang belom kenal. Kalo belom kenal emang Adel keliatannya galak, padahal nggak juga.”

Nazma terkekeh pelan. “Nggak juga? Berarti ada iyanya?”

Dhimas ikut tertawa pelan. “Ya, ada... Dikit. Tangguh dia, tuh.”

Nazma mengangguk-angguk. “I see,” katanya. “Maaf ya sekali lagi kalau pertanyaan-pertanyaan gue bikin lo emosi.”

“Gue yang minta maaf.”

Hening sesaat. Nazma menatap Dhimas tanpa berpaling sedikit pun. Sementara Dhimas canggung sendiri. Pemuda itu memilih untuk kembali meraih ponselnya, beralasan untuk melirik jam digital di layar kunci. Hingga Dhimas kembali terpaku saat jemari halus Nazma menyugar rambutnya yang berantakan.

“Marah-marah sampe berantakan gitu rambut lo, Dhim,” ucap Nazma. Dhimas tak langsung merespons, pemuda itu terdiam selama beberapa detik.

That's it. Dhimas meletakkan ponselnya di meja lipat yang bersatu dengan kursinya. Memundurkan tubuhnya hingga ia bersandar pada kursinya, kemudian Dhimas meluncurkan kekehan sinis.

“I see where you are gong.”

Lagi-lagi Dhimas mengakhiri ucapannya dengan lugas. Dengan suara pelan, namun nada yang lebih dingin dari sebelumnya. Sekon berikutnya, Dhimas pergi. Persetan dengan kegiatan belajar mengajar yang akan dimulai lima menit lagi. Persetan dengan Nazma dan segala yang direncanakannya. Persetan dengan seisi kelas yang setelah ini akan memandangnya buruk.

Yang ia pedulikan dan pastikan hanya satu—

“Jangan ada yang mindahin tas gue dari kursinya Adel!” . . .

Bahwa kursi milik Adelia akan selalu terjaga. Tak akan pernah dicuri orang lain, atau di-hak-miliki orang lain secara terang-terangan. Sebab menurut Dhimas, apa yang sudah Adelia tempati, adalah milik Adelia. . . . . . Kursi—dan hatinya.

Hari kelima tanpa Adelia. Dhimas yakin pasti ia tidak salah hitung. Setiap hari ia mencatatnya, mencoretnya di kalender yang tergantung di dinding rumahnya setiap pagi. Sore ini pula, ia lagi-lagi harus memasuki ruangan bimbel dingin in dengan perasaan hampa. Ditatapnya kursi kosong di barisan belakang, tempat Adelia menaruh tasnya setiap hari. Ransel abu-abu muda yang tenang, atau sebuah tote bag blacu bergambar bunga lavender yang dijahit dengan benang hitam.

Namun, kini, bangku itu kosong. Dhimas memandanginya dari depan kelas, kesal karena kursi itu terdorong kesana-kemari. Lebih kesal kali karena yang mendorong dan menggesernya asal-asalan adalah Badrul. Seseorang yang mencoba mencomblangkan temannya dengan Adelia. Lebih, lebih kesal lagi karena Badrul menggunakan kursi itu sebagai sandaran kakinya.

Pemuda itu memilih untuk memberikan kesempatan untuk Badrul menyandarkan kakinya. Nanti, kalau ada kesempatan, akan ia patahkan—tidak, tidak, maksudnya Dhimas akan mengambil kursi itu dan mengamankannya di sisinya. Sudah lima hari ini, Dhimas duduk di barisan paling belakang. Selalu di tempat yang sama, di sebelah kursi Adelia, dan selalu menggunakan kursi gadis itu untuk menaruh tasnya.

Gue bawa laptop, nih. Berat, kalo ditaro di kursi gue juga takut jatoh.

Begitu alasannya. Terkadang, Dhimas dengan sengaja membawa tambahan tas berisi sepatu futsalnya agar ada alasan untuk mengamankan kursi Adelia. Tidak ada yang protes—tidak ada lagi yang berani protes semenjak Dhimas membungkam semuanya. “Nggak ada orangnya ini. Lu semua udah pas juga, kan, duduk di tempat masing-masing? Biasanya ini bangku juga nggak ada yang mau pake, selalu Adel yang duduk sini. Kenapa sekarang pada rebutan gitu, sih?”

Ah, Adelia, andai gadis itu melihat betapa gagahnya sang pangeran melindungi gadis itu. Sejauh ini, yang Adel tahu hanyalah sisi menyenangkan seorang Dhimas Wijaya. Ramah, supel, selalu lembut tutur katanya, dan nyaris tidak pernah sarkas terhadap orang lain. Adelia belum pernah melihat sisi Dhimas yang seperti ini—lebih tepatnya, Dhimas tak pernah mau menunjukkannya.

Kalau dipikir-pikir, pemuda itu juga belum memberitahu Adel bahwa jabatannya lebih tinggi dari Haris. Paling tinggi di antara semua organisasi siswa di sekolah. Biarlah semua mengalir sebagaimana mestinya, Dhimas juga enggan sombong. Apalagi menyombongkan sebuah jabatan yang hanya membuat jam pulangnya terlambat.

Entah sudah berapa menit Dhimas memainkan ponselnya. Jam masuk masih sekitar setengah jam lagi. Biasanya ada Adelia yang sibuk dengan cimol pedas manisnya, kini Dhimas hanya bisa gigit jari. Suntuk, pemuda itu memilih untuk memantau sekitar. Ia menopang dagu dan mengedarkan pandangannya ke depan kelas. Sesekali melirik ke arah kursi yang dipakai Badrul. Tepat sekali Badrul berdiri dan melenggang keluar. Entah mau jajan atau ke toilet—persetan. Dhimas segera menarik kursi Adelia dan meletakkan tasnya di sana.

Sesaat berikutnya ia dikagetkan oleh suara denyit kursi di depannya. Matanya menangkap Nazma yang kini berbalik menghadapnya. Dhimas memundurkan sedikit tubuhnya. Kata Ayah, harus menjaga jarak aman dengan perempuan.

“Kenapa, Naz?”

“Lo kenapa, sih? Dari kemarin sendirian terus. Udah gitu diem aja, kayak lagi galau!”

Emang. Namun, bukan Dhimas kalau mengutarakan perasaannya secara gamblang. Maka ia menggeleng dan mengusahakan senyum tipis. “Nggak, kok. Lagi capek aja.”

Nazma mengangguk, berusaha mengerti. “Kemarin kenapa nggak les?”

“Nggak pa-pa. Lagi ada urusan aja di luar,” jawab Dhimas singkat. Ia tak menaruh curiga, mungkin Nazma bermaksud baik. Kalau ada Adel, mungkin gadis itu sudah menginjak kakinya keras-keras—atau meliriknya dengan tatapan membunuh. Sayangnya, Adelia lagi-lagi tak terlihat hari ini.

“Adel nggak masuk-masuk, tuh, ke mana, Dhim?” tanya Nazma tiba-tiba. “Ya, ada urusan juga, lah.”

“Masa, sih? Gue kira dia males aja...”

“Yeh, sok tau lo!” balas Dhimas pedas, namun tertutupi oleh tawanya. Seketika Nazma tertawa sok asik, mungkin ia menyangka Dhimas menanggapinya dengan candaan. “Lah, abis kata yang lain emang dia males lesnya dari dulu. Waktu itu juga pernah nggak masuk-masuk.”

Dhimas menghela napasnya. Kemarin-kemarin ia selalu menasehati Haris agar tak langsung menghajar orang-orang yang bermulut lancip terhadap Gia. Kini, Ia mengerti sekarang yang dirasakan oleh Haris. Beruntung Dhimas jauh, berkali-kali lipat lebih sabar dari Haris. “Udah, jangan ngomongin orang. Apalagi kalau nggak lo kenali dengan benar,” balasnya. Masih lembut untuk seukuran lelaki yang mulai dikuasai emosi.

“Oh, emang lo deket sama dia? Kenal bener-bener ya?”

“Ya, kenal. Orang temen les.”

Nazma berdecak. “Is, bukan gitu, Dhimas! Maksudnya lo deket sama dia?”

“Dia siapa, Naz? Sebut aja namanya emang kenapa, sih?”

Nazma berdecak (lagi). “Adel.”

“Kalau deket kenapa emangnya? Lo cemburu?” tanya Dhimas. Kesabarannya mulai surut.

“Biasa aja,” balas Nazma. “Orang cuma nanya, kok.”

Pertanyaan lo ngeselin, batin Dhimas. Sekon berikutnya Nazma menunjuk kursi Adelia dengan dagunya. “Lo sering banget naro tas di situ. Hak milik ceritanya?”

“Punya Adel.”

“Punya semua orang, Dhimas. Semua orang boleh duduk situ, sih, harusnya.”

“Punya Adel, Nazma. Adelnya nggak ada, jadi gue pake. Semua orang boleh pake, kan? Gue juga boleh berarti, kan?” sahut Dhimas. Mati-matian pemuda itu mengatur nada bicaranya agar tidak keluar bentakan. “Dari tadi pada diem aja, giliran gue udah taro tas gue baru lo semua ribut. Kenapa, sih? Ada apa, sih?”

“Lo pada emang nggak suka gitu sama Adel apa gimana?” tembak Dhimas. Lama-lama kesal juga. Kalau dipikir-pikir, memang Adel tidak banyak mengobrol dengan anak-anak sekelas yang lain. Hanya Dhimas dan Badrul yang menjadi teman bicaranya di kelas. Entah apa alasan mereka.

Sorry to break it to you, tapi gue denger—Adel, tuh, pernah jadi selingkuhan.”

Gerakan Dhimas terhenti. Rahangnya mengeras hingga giginya bergemeletuk. “Sekali lagi ya, Naz. Jangan—ngomongin orang yang nggak lo kenali dengan benar.”

Pemuda itu berucap dingin dan tajam. Ia menatap mata Nazma sengit—tanpa berkedip, sampai ucapannya selesai dengan baik. Dapat ia lihat Nazma sedikit mundur. Bagus, lah, kalau perempuan itu takut. Dan sumpah demi Tuhan, Dhimas akan lebih memaklumi Haris kalau-kalau pria itu kembali meninju orang yang mencemooh Gia di hadapannya.

“Oke, okee. Maaf.”

Dhimas membalasnya dengan lirikan malas. Tidak akan ia maafkan. Setidaknya, inginnya begitu. Tetapi hatinya begitu bersih hingga tak akan pernah menaruh dendam pada siapa pun. Awan hitam yang tadinya mengepul di atas kepala Dhimas sudah mulai pergi. Sayangnya, Nazma kembali buka suara.

“Tapi lo tau, Dhim?”

“Apa?”

“Adel pernah jadi selingkuhan?”

Lagi-lagi Dhimas membuang napas gusar. “Naz, tau nggak? Kalau pikiran lo kayak gitu, mau gue ceritain sampe satu buku tebel faktanya gimana juga lo nggak akan mau terima. Soalnya emang pikiran lo yang jelek. Emang lo yang dari awal mandang Adel jelek. Dari tadi gue dengerin lo ngomong aja, yang keluar dari mulut lo, tuh—semua hal yang ngejelekin Adel.”

“Lo ke sini, duduk di bangku ini, setiap hari ngedeketin gue, cuma mau ngulik informasi tentang Adel doang apa gimana, Naz?” tanya Dhimas. Tidak membentak, namun begitu lugas dan tegas. “Terus kalau lo udah dapet informasinya, lo sebarluaskan dan lo gosipin sama temen-temen lo apa gimana, Naz?”

“Lo perempuan—tapi seneng gitu, ya—kalo liat perempuan lain yang menurut lo nggak setara sama lo itu hancur karena lo?”

“Gue nggak bilang Adel nggak setara sama gue, kok?” katanya merasa tidak bersalah. Dhimas terkekeh. “Emang enggak. Tapi gue nggak bego juga, sih, Naz. Dari awal lo masuk, lo selalu liat Adel dengan tatapan kasihan. Bahkan cenderung jijik. Apalagi kalau gue lagi berduaan sama Adel, lo selalu cari cara misahin. Gue cowok, Naz, tapi jangan kira gue nggak tau pikiran picik cewek-cewek kayak lo.”

“Sekali lagi ya, Naz. Toleransi gue terakhir buat lo. Jangan ngomongin orang yang nggak lo kenali dengan benar—apalagi, kalau orangnya Adelia!” tegas Dhimas.

Nazma terdiam. Seisi kelas terdiam. Dhimas pun terdiam karena tidak sadar telah meninggikan suaranya. Semua mata tertuju padanya dan Nazma yang berada di tengah-tengah kelas barisan paling belakang. Mengamankan situasi, Nazma segera mengisyaratkan bahwa semua baik-baik saja. Mengusir semua pasang mata itu.

Setelahnya gadis itu menatap Dhimas dengan tatapan canggung. Dhimas juga heran, bisa-bisanya Nazma tak gentar.

“Oke, gue minta maaf, Dhim.”

“Tadi juga maaf lo nggak bertahan lebih dari lima detik.”

“Maksud gue nggak gitu, Dhim. Gue, kan, anak baru. Gue denger dari anak-anak sini juga rumor kayak gitu. Makanya gue tanya lo, buat memastikan. Maaf kalau cara gue salah dan bikin lo marah, tapi gue nggak bermaksud begitu...”

Dhimas mendongak terkejut. Apakah ini berarti dirinya yang salah?

“Sorry,” ucap Dhimas, “gue berarti yang salah. Lama-lama kebawa emosi sampe bentak lo gitu.”

Nazma tersenyum manis, menggeleng setelahnya. “It's okay.”

“Gue juga mau temenan sama Adel, kok, Dhim. Tapi kayaknya dia yang nggak suka gue, sih? Berasa soalnya, sedikit...”

Dhimas menggeleng pelan. “Adel nggak gitu, kok. Coba aja, ajak ngobrol pelan-pelan. Adel baik, Naz. Lo aja yang belom kenal. Kalo belom kenal emang Adel keliatannya galak, padahal nggak juga.”

Nazma terkekeh pelan. “Nggak juga? Berarti ada iyanya?”

Dhimas ikut tertawa pelan. “Ya, ada... Dikit. Tangguh dia, tuh.”

Nazma mengangguk-angguk. “I see,” katanya. “Maaf ya sekali lagi kalau pertanyaan-pertanyaan gue bikin lo emosi.”

“Gue yang minta maaf.”

Hening sesaat. Nazma menatap Dhimas tanpa berpaling sedikit pun. Sementara Dhimas canggung sendiri. Pemuda itu memilih untuk kembali meraih ponselnya, beralasan untuk melirik jam digital di layar kunci. Hingga Dhimas kembali terpaku saat jemari halus Nazma menyugar rambutnya yang berantakan.

“Marah-marah sampe berantakan gitu rambut lo, Dhim,” ucap Nazma. Dhimas tak langsung merespons, pemuda itu terdiam selama beberapa detik.

That's it. Dhimas meletakkan ponselnya di meja lipat yang bersatu dengan kursinya. Memundurkan tubuhnya hingga ia bersandar pada kursinya, kemudian Dhimas meluncurkan kekehan sinis.

“I see where you are gong.”

Lagi-lagi Dhimas mengakhiri ucapannya dengan lugas. Dengan suara pelan, namun nada yang lebih dingin dari sebelumnya. Sekon berikutnya, Dhimas pergi. Persetan dengan kegiatan belajar mengajar yang akan dimulai lima menit lagi. Persetan dengan Nazma dan segala yang direncanakannya. Persetan dengan seisi kelas yang setelah ini akan memandangnya buruk.

Yang ia pedulikan dan pastikan hanya satu—

“Jangan ada yang mindahin tas gue dari kursinya Adel!” . . .

Bahwa kursi milik Adelia akan selalu terjaga. Tak akan pernah dicuri orang lain, atau di-hak-miliki orang lain secara terang-terangan. Sebab menurut Dhimas, apa yang sudah Adelia tempati, adalah milik Adelia. . . . . . Kursi—atau hatinya.

Hari kelima tanpa Adelia. Dhimas yakin pasti ia tidak salah hitung. Setiap hari ia mencatatnya, mencoretnya di kalender yang tergantung di dinding rumahnya setiap pagi. Sore ini pula, ia lagi-lagi harus memasuki ruangan bimbel dingin in dengan perasaan hampa. Ditatapnya kursi kosong di barisan belakang, tempat Adelia menaruh tasnya setiap hari. Ransel abu-abu muda yang tenang, atau sebuah tote bag blacu bergambar bunga lavender yang dijahit dengan benang hitam.

Namun, kini, bangku itu kosong. Dhimas memandanginya dari depan kelas, kesal karena kursi itu terdorong kesana-kemari. Lebih kesal kali karena yang mendorong dan menggesernya asal-asalan adalah Badrul. Seseorang yang mencoba mencomblangkan temannya dengan Adelia. Lebih, lebih kesal lagi karena Badrul menggunakan kursi itu sebagai sandaran kakinya.

Pemuda itu memilih untuk memberikan kesempatan untuk Badrul menyandarkan kakinya. Nanti, kalau ada kesempatan, akan ia patahkan—tidak, tidak, maksudnya Dhimas akan mengambil kursi itu dan mengamankannya di sisinya. Sudah lima hari ini, Dhimas duduk di barisan paling belakang. Selalu di tempat yang sama, di sebelah kursi Adelia, dan selalu menggunakan kursi gadis itu untuk menaruh tasnya.

Gue bawa laptop, nih. Berat, kalo ditaro di kursi gue juga takut jatoh.

Begitu alasannya. Terkadang, Dhimas dengan sengaja membawa tambahan tas berisi sepatu futsalnya agar ada alasan untuk mengamankan kursi Adelia. Tidak ada yang protes—tidak ada lagi yang berani protes semenjak Dhimas membungkam semuanya. “Nggak ada orangnya ini. Lu semua udah pas juga, kan, duduk di tempat masing-masing? Biasanya ini bangku juga nggak ada yang mau pake, selalu Adel yang duduk sini. Kenapa sekarang pada rebutan gitu, sih?”

Ah, Adelia, andai gadis itu melihat betapa gagahnya sang pangeran melindungi gadis itu. Sejauh ini, yang Adel tahu hanyalah sisi menyenangkan seorang Dhimas Wijaya. Ramah, supel, selalu lembut tutur katanya, dan nyaris tidak pernah sarkas terhadap orang lain. Adelia belum pernah melihat sisi Dhimas yang seperti ini—lebih tepatnya, Dhimas tak pernah mau menunjukkannya.

Kalau dipikir-pikir, pemuda itu juga belum memberitahu Adel bahwa jabatannya lebih tinggi dari Haris. Paling tinggi di antara semua organisasi siswa di sekolah. Biarlah semua mengalir sebagaimana mestinya, Dhimas juga enggan sombong. Apalagi menyombongkan sebuah jabatan yang hanya membuat jam pulangnya terlambat.

Entah sudah berapa menit Dhimas memainkan ponselnya. Jam masuk masih sekitar setengah jam lagi. Biasanya ada Adelia yang sibuk dengan cimol pedas manisnya, kini Dhimas hanya bisa gigit jari. Suntuk, pemuda itu memilih untuk memantau sekitar. Ia menopang dagu dan mengedarkan pandangannya ke depan kelas. Sesekali melirik ke arah kursi yang dipakai Badrul. Tepat sekali Badrul berdiri dan melenggang keluar. Entah mau jajan atau ke toilet—persetan. Dhimas segera menarik kursi Adelia dan meletakkan tasnya di sana.

Sesaat berikutnya ia dikagetkan oleh suara denyit kursi di depannya. Matanya menangkap Nazma yang kini berbalik menghadapnya. Dhimas memundurkan sedikit tubuhnya. Kata Ayah, harus menjaga jarak aman dengan perempuan.

“Kenapa, Naz?”

“Lo kenapa, sih? Dari kemarin sendirian terus. Udah gitu diem aja, kayak lagi galau!”

Emang. Namun, bukan Dhimas kalau mengutarakan perasaannya secara gamblang. Maka ia menggeleng dan mengusahakan senyum tipis. “Nggak, kok. Lagi capek aja.”

Nazma mengangguk, berusaha mengerti. “Kemarin kenapa nggak les?”

“Nggak pa-pa. Lagi ada urusan aja di luar,” jawab Dhimas singkat. Ia tak menaruh curiga, mungkin Nazma bermaksud baik. Kalau ada Adel, mungkin gadis itu sudah menginjak kakinya keras-keras—atau meliriknya dengan tatapan membunuh. Sayangnya, Adelia lagi-lagi tak terlihat hari ini.

“Adel nggak masuk-masuk, tuh, ke mana, Dhim?” tanya Nazma tiba-tiba. “Ya, ada urusan juga, lah.”

“Masa, sih? Gue kira dia males aja...”

“Yeh, sok tau lo!” balas Dhimas pedas, namun tertutupi oleh tawanya. Seketika Nazma tertawa sok asik, mungkin ia menyangka Dhimas menanggapinya dengan candaan. “Lah, abis kata yang lain emang dia males lesnya dari dulu. Waktu itu juga pernah nggak masuk-masuk.”

Dhimas menghela napasnya. Kemarin-kemarin ia selalu menasehati Haris agar tak langsung menghajar orang-orang yang bermulut lancip terhadap Gia. Kini, Ia mengerti sekarang yang dirasakan oleh Haris. Beruntung Dhimas jauh, berkali-kali lipat lebih sabar dari Haris. “Udah, jangan ngomongin orang. Apalagi kalau nggak lo kenali dengan benar,” balasnya. Masih lembut untuk seukuran lelaki yang mulai dikuasai emosi.

“Oh, emang lo deket sama dia? Kenal bener-bener ya?”

“Ya, kenal. Orang temen les.”

Nazma berdecak. “Is, bukan gitu, Dhimas! Maksudnya lo deket sama dia?”

“Dia siapa, Naz? Sebut aja namanya emang kenapa, sih?”

Nazma berdecak (lagi). “Adel.”

“Kalau deket kenapa emangnya? Lo cemburu?” tanya Dhimas. Kesabarannya mulai surut.

“Biasa aja,” balas Nazma. “Orang cuma nanya, kok.”

Pertanyaan lo ngeselin, batin Dhimas. Sekon berikutnya Nazma menunjuk kursi Adelia dengan dagunya. “Lo sering banget naro tas di situ. Hak milik ceritanya?”

“Punya Adel.”

“Punya semua orang, Dhimas. Semua orang boleh duduk situ, sih, harusnya.”

“Punya Adel, Nazma. Adelnya nggak ada, jadi gue pake. Semua orang boleh pake, kan? Gue juga boleh berarti, kan?” sahut Dhimas. Mati-matian pemuda itu mengatur nada bicaranya agar tidak keluar bentakan. “Dari tadi pada diem aja, giliran gue udah taro tas gue baru lo semua ribut. Kenapa, sih? Ada apa, sih?”

“Lo pada emang nggak suka gitu sama Adel apa gimana?” tembak Dhimas. Lama-lama kesal juga. Kalau dipikir-pikir, memang Adel tidak banyak mengobrol dengan anak-anak sekelas yang lain. Hanya Dhimas dan Badrul yang menjadi teman bicaranya di kelas. Entah apa alasan mereka.

Sorry to break it to you, tapi gue denger—Adel, tuh, pernah jadi selingkuhan.”

Gerakan Dhimas terhenti. Rahangnya mengeras hingga giginya bergemeletuk. “Sekali lagi ya, Naz. Jangan—ngomongin orang yang nggak lo kenali dengan benar.”

Pemuda itu berucap dingin dan tajam. Ia menatap mata Nazma sengit—tanpa berkedip, sampai ucapannya selesai dengan baik. Dapat ia lihat Nazma sedikit mundur. Bagus, lah, kalau perempuan itu takut. Dan sumpah demi Tuhan, Dhimas akan lebih memaklumi Haris kalau-kalau pria itu kembali meninju orang yang mencemooh Gia di hadapannya.

“Oke, okee. Maaf.”

Dhimas membalasnya dengan lirikan malas. Tidak akan ia maafkan. Setidaknya, inginnya begitu. Tetapi hatinya begitu bersih hingga tak akan pernah menaruh dendam pada siapa pun. Awan hitam yang tadinya mengepul di atas kepala Dhimas sudah mulai pergi. Sayangnya, Nazma kembali buka suara.

“Tapi lo tau, Dhim?”

“Apa?”

“Adel pernah jadi selingkuhan?”

Lagi-lagi Dhimas membuang napas gusar. “Naz, tau nggak? Kalau pikiran lo kayak gitu, mau gue ceritain sampe satu buku tebel faktanya gimana juga lo nggak akan mau terima. Soalnya emang pikiran lo yang jelek. Emang lo yang dari awal mandang Adel jelek. Dari tadi gue dengerin lo ngomong aja, yang keluar dari mulut lo, tuh—semua hal yang ngejelekin Adel.”

“Lo ke sini, duduk di bangku ini, setiap hari ngedeketin gue, cuma mau ngulik informasi tentang Adel doang apa gimana, Naz?” tanya Dhimas. Tidak membentak, namun begitu lugas dan tegas. “Terus kalau lo udah dapet informasinya, lo sebarluaskan dan lo gosipin sama temen-temen lo apa gimana, Naz?”

“Lo perempuan—tapi seneng gitu, ya—kalo liat perempuan lain yang menurut lo nggak setara sama lo itu hancur karena lo?”

“Gue nggak bilang Adel nggak setara sama gue, kok?” katanya merasa tidak bersalah. Dhimas terkekeh. “Emang enggak. Tapi gue nggak bego juga, sih, Naz. Dari awal lo masuk, lo selalu liat Adel dengan tatapan kasihan. Bahkan cenderung jijik. Apalagi kalau gue lagi berduaan sama Adel, lo selalu cari cara misahin. Gue cowok, Naz, tapi jangan kira gue nggak tau pikiran picik cewek-cewek kayak lo.”

“Sekali lagi ya, Naz. Toleransi gue terakhir buat lo. Jangan ngomongin orang yang nggak lo kenali dengan benar—apalagi, kalau orangnya Adelia!” tegas Dhimas.

Nazma terdiam. Seisi kelas terdiam. Dhimas pun terdiam karena tidak sadar telah meninggikan suaranya. Semua mata tertuju padanya dan Nazma yang berada di tengah-tengah kelas barisan paling belakang. Mengamankan situasi, Nazma segera mengisyaratkan bahwa semua baik-baik saja. Mengusir semua pasang mata itu.

Setelahnya gadis itu menatap Dhimas dengan tatapan canggung. Dhimas juga heran, bisa-bisanya Nazma tak gentar.

“Oke, gue minta maaf, Dhim.”

“Tadi juga maaf lo nggak bertahan lebih dari lima detik.”

“Maksud gue nggak gitu, Dhim. Gue, kan, anak baru. Gue denger dari anak-anak sini juga rumor kayak gitu. Makanya gue tanya lo, buat memastikan. Maaf kalau cara gue salah dan bikin lo marah, tapi gue nggak bermaksud begitu...”

Dhimas mendongak terkejut. Apakah ini berarti dirinya yang salah?

“Sorry,” ucap Dhimas, “gue berarti yang salah. Lama-lama kebawa emosi sampe bentak lo gitu.”

Nazma tersenyum manis, menggeleng setelahnya. “It's okay.”

“Gue juga mau temenan sama Adel, kok, Dhim. Tapi kayaknya dia yang nggak suka gue, sih? Berasa soalnya, sedikit...”

Dhimas menggeleng pelan. “Adel nggak gitu, kok. Coba aja, ajak ngobrol pelan-pelan. Adel baik, Naz. Lo aja yang belom kenal. Kalo belom kenal emang Adel keliatannya galak, padahal nggak juga.”

Nazma terkekeh pelan. “Nggak juga? Berarti ada iyanya?”

Dhimas ikut tertawa pelan. “Ya, ada... Dikit. Tangguh dia, tuh.”

Nazma mengangguk-angguk. “I see,” katanya. “Maaf ya sekali lagi kalau pertanyaan-pertanyaan gue bikin lo emosi.”

“Gue yang minta maaf.”

Hening sesaat. Nazma menatap Dhimas tanpa berpaling sedikit pun. Sementara Dhimas canggung sendiri. Pemuda itu memilih untuk kembali meraih ponselnya, beralasan untuk melirik jam digital di layar kunci. Hingga Dhimas kembali terpaku saat jemari halus Nazma menyugar rambutnya yang berantakan.

“Marah-marah sampe berantakan gitu rambut lo, Dhim,” ucap Nazma. Dhimas tak langsung merespons, pemuda itu terdiam selama beberapa detik.

That's it. Dhimas meletakkan ponselnya di meja lipat yang bersatu dengan kursinya. Memundurkan tubuhnya hingga ia bersandar pada kursinya, kemudian Dhimas meluncurkan kekehan sinis.

“I see where you are gong.”

Lagi-lagi Dhimas mengakhiri ucapannya dengan lugas. Dengan suara pelan, namun nada yang lebih dingin dari sebelumnya. Sekon berikutnya, Dhimas pergi. Persetan dengan kegiatan belajar mengajar yang akan dimulai lima menit lagi. Persetan dengan Nazma dan segala yang direncanakannya. Persetan dengan seisi kelas yang setelah ini akan memandangnya buruk.

Yang ia pedulikan dan pastikan hanya satu—

“Jangan ada yang mindahin tas gue dari kursinya Adel!” . . .

Bahwa kursi milik Adelia akan selalu terjaga. Tak akan pernah dicuri orang lain, atau di-hak-miliki orang lain secara terang-terangan. Sebab menurut Dhimas, apa yang sudah ditempati Adelia, itu adalah milik Adelia. . . . . . Kursi—atau hatinya.

Di hadapan cermin yang besar nan jauh lebih tinggi darinya, Adelia kecil menatap pantulan dirinya sumringah. Kedua tangan mungilnya sibuk merapikan rok putih megar berlapis furing dengan warna yang sama. Gaun putih itu akan ia jaga agar tidak kotor, itu gaun favoritnya sejak dua minggu lalu. Gaun putih sederhana dengan puffed sleeves—Adelia tahu dari Mama Haris, dengan pita merah muda melingkari perutnya. Separuh rambut panjangnya diikat dan disisipkan berbagai bunga kecil hingga terbentuk mahkota. Gadis itu meneliti setiap inci penampilannya, tak mau ada satu pun yang tertekuk atau tidak rapi. Mendadak perfeksionis—seperti Mama.

Hari itu, adalah hari besar bagi Adelia kecil. Sebab ia diminta untuk mengemban tanggung jawab sebagai gadis penebar bunga di pernikahan salah satu teman Mama. Pernikahan itu tampak tak biasa di mata Adelia. Yang ia tahu, pernikahan hanya bisa dilaksanakan di gedung atau gereja. Tetapi hari ini gadis itu menyaksikan pernikahan yang diadakan di tempat terbuka yang asri. Sampai-sampai Adel harus bertanya pada Mama.

“Emangnya boleh, Ma, nikah di luar? Nggak dimarahin?”

“Boleh, Del. Siapa yang mau marahin, emangnya? Adel nanti nikahnya mau di luar juga emang?”

“Nggak, ah. Takut ujan...”

Dan Mama tertawa setelahnya. Pemikiran yang terlalu polos kala itu. Gadis itu kemudian diantar Mama ke posisinya, berdampingan dengan gadis seumurannya dengan baju yang sama. Mereka menebarkan kelopak bunga satu persatu di altar. Membuat segala seruan gemas mengudara, menambah bahagianya suasana hari itu.

Adelia melakukan tugasnya dengan baik, bahkan Mama begitu bangga hingga mencium keningnya tak henti-henti. Satu kesan muncul di hatinya, ia suka pernikahan. Maka sembari memakan semangkuk es krim, ia menyampaikan kesan itu kepada sahabatnya.

“Tante Alma cantik banget. Aku baru liat gaun panjang banget kayak gitu.

“Iya, aku nanti mau gaun kayak gitu juga,” sahut Laras. Gadis itu juga sedang memakan es krim dengan rasa yang sama dengan Adelia.”

“Kamu nikahnya mau di luar juga kayak gini, Ras?” tanya Adel. Laras mengangguk semangat. “Nanti kita nikahnya bareng aja, Del!”

Seraya menyendokkan es krim ke mulutnya, Adelia mengangguk. “Boleh, tapi cowoknya jangan sama, ya! Kamu cari sendiri!”

“Iya, nanti aku cari sendiri. Kamu mau nikahnya umur berapa, Del? 27?”

*Adelia kecil menerawang sejenak, sebelah tangannya menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajahnya dengan kasar. Dalam hati ia berpikir, “Dua tujuh, tuh, semana, sih?” Namun setelahnya ia mengendikkan bahu. “Nggak tau, nanti aku tanya Haris dulu. Aku nggak bisa ngitung jauh-jauh.”


Adelia remaja tertawa kecil ketika rekaman memori lama terputar di kepalanya. Miris, miris akan banyak hal. Persahabatannya dengan Laras yang dulu begitu lugu, kini sudah tinggal cerita. Pandangannya terhadap pernikahan pun, sudah jauh lebih meluas dari sekedar menjadi sangat-sangat cantik dalam bautan gaun putih.

Gadis itu sejak tadi termenung sebab di depan kelas kini akan dilaksanakan praktik akad nikah untuk pelajaran Agama. Adel memilih untuk jadi 'tamu', enggan menjadi mempelai meskipun namanya sempat tertunjuk. “Belom siap nikah saya, Bu!” candanya.

Seiring bertambahnya usia, pandangan Adelia terhadap pernikahan meluas dan mendalam. Lama kelamaan ia mengerti bahwa pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Tetapi kalau boleh Adelia ambil kesimpulan, menurutnya pernikahan itu magis. Sebab sejauh mana pun dunia mencederai akalnya mengenai pernikahan yang magis, Adelia tetap tak gentar.

Sejujurnya gadis itu tahu pasti, pernikahan yang sesungguhnya tidak akan se-sederhana yang dipertunjukkan di depan kelas saat ini. Bahkan, kedua orang tuanya pun gagal. Bahkan, kedua orang tua Haris pun gagal. Bahkan, kakek dan nenek dari papanya pun gagal. Bahkan, Tante Alma—yang membuatnya terhipnotis dengan segala keajaiban pernikahan—pun, gagal.

Tentu—semua kegagalan itu, semua kehancuran itu, membuat Adelia hanya mengerti perihal cinta yang kasar, keruh, dan tajam. Membuatnya kebingungan, karena semua berkontradiksi dengan bentuk cinta yang mengenalkan diri padanya saat ia kecil.

Kalau ditanya cita-cita dalam bentuk profesi, Adelia tak pernah punya. Ia tidak pernah berhasrat ingin menjadi dokter, guru, ilmuwan, atau apapun itu. Memilih jurusan IPA pun cuma hasil ikut-ikutan Haris—pun, karena ia tidak suka sejarah dan hapalan. Tetapi diam-diam dalam gelap hatinya, ada satu mimpi yang selalu menyala. Seperti api yang tidak pernah padam walau disiram air dingin.

Gadis itu diam-diam bermimpi. Bisa menikah, dan kekal dalam naungan keluarga yang ia dan kekasihnya susun dengan rapi dan cantik. Mengenalkan cinta yang jernih dan tidak menyeramkan pada buah hatinya yang ada dua, mungkin tiga—agar tidak kesepian di rumah kalau bunda dan ayah (atau apapun yang dikehendaki kekasihnya) pergi.

Sayangnya, Adelia tak pernah berani mengucap mimpinya dengan lantang. Mimpinya bersembunyi di balik malu dan ragu yang membingungkan. Boleh, kah? Akan, kah? Bisa, kah?

Kedatangan Dhimas dan segala bentuk cinta yang pemuda itu bawa, menjernihkan dan menetralkan keruh juga asam yang mengotori kolam-kolam di hatinya. Ajaib, magis, sekaligus membingungkan. Haruskah ia mematikan mimpinya, atau haruskah terus ia hidupkan? Akankah bentuk cintanya terus indah, atau akan berubah menjadi seperti makanan basi? Akankah jalannya mudah sampai waktu yang lama, atau akan ada pasir hisap yang menelannya bulat-bulat dan menguburnya selamanya?

Kelamaan melamun, Adelia tak sadar bahwa yang sedang praktik pernikahan itu sudah mencapai kata “Sah!”. Semua bersorak sorai gembira, mengucap syukur ramai-ramai. Ah, memang selalu begitu. Selalu membahagiakan jika sudah berhasil menyelesaikan akad pernikahan. Namun selanjutnya, entah siapa yang tahu.