Celebration
Sore itu, ada yang kembali menyatu, ada kebiasaan yang kembali hadir, namun rasa yang tak pernah hilang. Pedas manis dengan sedikit asin, sederhana, tapi cuma mereka yang tahu getir di sela-sela kunyahannya.
Hari ini mereka menjejaki tempat Dhimas melarikan diri ketika patah hati. Lapangan Banteng. Pemuda itu bersyukur hari ini ia tidak perlu kabur ke sini dengan pecahan yang berusaha ia satukan lagi. Hari ini ia merayakan kemenangannya, mungkin kalau bisa, Dhimas akan berpose seperti patung yang terpampang di sana.
“Kamu sering ke sini?” tanya Adel sebelum memakan satu butir cimol. “Iya, dulu.”
“Pas kemarin kita jauh-jauhan juga ke sini?” tanya Adel. Dhimas menggeleng. “Nggak sempet, nggak kuat juga. Aku sakit terus waktu kita jauh. Kata Haris, sekali lagi aku tumbang dia mau langsung sewa ambulans.”
Adelia terkekeh. “Sakit apa?”
“Capek aja. Soalnya aku nggak bisa tidur lama, kepikiran aja sama tindakan aku. Jadi badan aku nggak enak, terus sering mimisan.”
“Ih … Maaf ya …”
“Nggak apa-apa, itu mah, Haris aja yang lebay,” sahut Dhimas. Adelia diam sejenak. Memandangi Dhimas yang sekarang muncul lagi di hadapannya. Semenjak Dhimas menjadi pacarnya, Adelia harus mencubit pipinya tiap bangun tidur. Takut-takut ini cuma mimpi dan sebenarnya Dhimas cuma khayalan di kepalanya yang kian menggila. Sesekali juga, ketika mereka memiliki agenda berdua, Adel akan dengan sengaja mencubit lengan Dhimas. Untuk membuktikan bahwa pria itu benar-benar di hadapannya dan menjadi miliknya.
“Jangan sakit lagi, ya?”
“Iya, enggak. Udah seneng, kan, sekarang.”
Setelahnya Dhimas teringat sesuatu. “Eh, kamu juga bentar lagi mau ulang tahun. Mau kado apa?”
Adelia tidak langsung menjawab, ia sibuk menghabiskan cimolnya dengan lahap. Setelah selesai menelan, gadis itu menunjuk Dhimas dengan dagu. “Ini.”
“Apa?”
“Kamu.”
“Mau aku?” tanya Dhimas. Gadis itu mengangguk seraya tersenyum. “Ini aku?” kata Dhimas. Maksudnya, untuk apa lagi minta yang sudah ada di depan mata.
“Iya. Aku mau kamu aja, jangan pergi lagi ya?”
Dhimas terdiam sesaat. Menyadari betapa lalainya ia membaca pesan. Sejak dulu Adelia selalu berkata yang sama. Gadis itu tidak mau perpisahan. Bukan karena takutnya di masa lalu, tetapi karena ia benar-benar ingin mengusahakan yang satu ini.
“Iya, aku nggak kemana-mana,” jawab Dhimas. Setelahnya Adelia mengangguk puas. Gadis itu lalu mengeluarkan sebuah bingkisan dan menyerahkannya kepada Dhimas.
“Apa?”
“Kado, lah! Masa cowok aku ulang tahun nggak dikasih kado?” sahut Adel. “Aku nggak bisa kasih apa-apa, maaf ya.”
“Buka sekarang boleh?” tanya Dhimas. Dan Adelia mengizinkannya. Setelahnya pemuda itu sibuk sendiri, mencari tahu hadiah dari yang dicinta.
Sebuah jurnal yang — dari motif bunga lavendernya, Dhimas asumsikan itu pasti milik Adelia. “Jurnal kamu?”
“Iya. Aku banyak nulis waktu kita jauh,” ujar Adel, “pas aku baca lagi, isinya jadi kayak surat buat kamu. Jadi, aku kadoin aja. Udah habis juga jurnalnya.”
Dhimas terkesima. Sebelum Adelia, jangankan surat, pesannya saja diabaikan hingga berhari-hari. Namun sekarang, ada yang menuliskannya surat hingga sebuku tebal. Dhimas bersumpah akan menjaga buku itu bahkan dari seekor rayap pun.
Pemuda itu merasakan matanya berkaca-kaca. Ia pikir sahabatnya akan menjadi satu-satunya orang yang mengirimkan pesan paling panjang ketika ia berulang tahun. Ternyata Adelia selalu melampaui ekspektasinya. Sudah Dhimas bilang, tidak ada yang segila Adelia.
“Del,” panggil Dhimas, “makasih banyak ya, sumpah!”
“Aku nerima surat sehelai aja nggak pernah, ini kamu tiba-tiba ngasih satu buku?”
Gadis itu cengegesan. “Lebih ke diary juga, sih. Cuma emang isinya tentang aku curhatin kamu. Kemarin baru aku baca lagi, ternyata kayak belum ada ujungnya. Jadi, kemarin aku tambahin terus aku jadiin kayak surat buat kamu aja.”
“Ya, tetep aja! Makasih banyak ya!”
“Sama-sama, mochiman. Semoga nggak geli aja, sih, kamu bacanya,” balas Adel. Dhimas sontak menggeleng, “Nggak bakal geli, sumpah! Ini aku fotokopi nanti aku bagiin ke anak aku satu-satu.”
Adelia hanya bisa tertawa. “By the way, Laras tadi DM aku di IG, aku lupa ternyata belum aku block. Najemah juga.”
Raut wajah Dhimas berubah drastis, tercetak jelas kekhawatirannya. “Terus? Kamu nggak apa-apa? Bilang apa mereka?”
“Ya nanyain kamu, mereka bales SG aku ngucapin kamu,” balas Adelia. “Najemah langsung aku block, Laras tadi aku kirim foto lagi makan cimol sama kamu dulu, terus aku block. Nggak jelas, biarin aja dia repot sendiri.”
Seketika Dhimas tersenyum bangga. Adelianya benar-benar sudah membaik. “Keren!”
Kalau dipikir, rasanya hari ini adalah hari yang tidak mungkin terjadi. Mereka yang dulu sama-sama berpikir bahwa tidak akan lagi memiliki bahagia yang seperti ini, sekarang duduk berdekatan mewujudkan semua yang dulu dibayangkan.
Memang benar, cinta berlaku sesukanya. Yang Dhimas pikir jalannya akan mulus ketika bertemu Adelia, rupanya masih harus melewati banyak rute. Ketika Dhimas pikir semua sudah buntu, cinta berlaku lagi sesukanya. Rupanya ia berbaik hati, bermaksud memberikan Dhimas masalahnya sendiri untuk diselesaikan setelah bertahun-tahun menyelesaikan masalah percintaan teman-temannya. Hari ini patut dirayakan, sebab akhirnya Dhimas dan Adelia menemukan jalan keluar.
Mungkin memang tidak ada yang benar-benar ahli soal bentuk abstrak yang satu ini. Tapi, hari itu Dhimas tahu ia telah menemukan seseorang yang tidak akan meninggalkannya di labirin ini sendirian.