What's Love Really About?

Adelia's Journal

To be loved is to be seen. I was invisible. When i was 14, i used to dress up, forced my brain to work even harder just to pick up some clothes that someone might like. Rutinitas pagi Adelia 14 tahun : Bangun pagi, mandi, pakai parfum, sisir rambut, kuncir rambut/kepang/pakai jepitan/pita, pakai bedak, rapi-rapi, berangkat ke sekolah, hoping someone would look at her way, notice her, might as well said hi and fell in love. Nggak ada yang ngasih tau Adelia 14 tahun kalau jalan yg dipilihnya salah. “Jangan sama dia, nantinya dia punya pacar lain!” “Jangan sama dia, nantinya dia cuma akan bikin kamu nangis!” “Jangan sama dia, mending tunggu SMA nanti langsung sama Dhimas!”

So it goes, I fell too deep that no one helped me. I was invisible. Apapun yang aku lakuin nggak akan pernah ada harganya. He never looked at my way. Aku lewat depan matanya pun nggak ada harganya. Jepitan-jepitanku yang warna-warni, pita-pitaku yang besar itu nggak akan pernah terlihat di matanya. I was never seen, therefore i was never loved.

To be loved is to be heard. I was inaudible. Sebesar apapun suaraku, rasanya frekuensiku tidak sejalan dengan yang bisa sampai di telinganya. Sapaan-sapaanku semuanya diabaikan. Pun, semua pendapat dan amarahku. Mungkin akhirnya ia melihat ke arahku, tapi setelah ia tau aku bersuara, ia berubah pikiran. Jadi, ia memanggil suara lebih besar sampai aku tidak terdengar. Suara yang saking kerasnya sampai terdengar seperti geram amarah. Semuanya harus sesuai katanya, maunya, dan pendapatnya. Kalau dia marah, aku harus dengar. Tapi kalau aku marah, sampai kiamat pun tidak akan sampai ke telinganya. Sekeras apapun aku mengeluarkan suaraku, suaranya akan lebih menggema. Bahkan sampai sekarang, ia menggema di kepalaku. Menyuarakan berapa banyak salahku, berapa banyak malu yang harus aku tanggung, berapa banyak rusak yang harus kuperbaiki. Dan aku terkapar, tak pernah bisa melawan karena suaraku tidak terdengar. Di telinganya, maupun di kepalaku sendiri. I was inaudible, therefore i was never loved.

To be loved is to be known. Adelia 14 tahun merasa pencapaian terbesarnya adalah punya pacar yang diinginkan semua orang. Pencapaian terbesarku waktu itu adalah berhasil membuat orang yang kudamba sejak lama akhirnya mengenalku. Kami mulai terlihat seperti sepasang kekasih bagi banyak mata, tanpa perlu teks terjemahan. Ia mulai menghapal ulang tahunku (yang sangat mudah dihapal karena bersamaan dengan tahun baru), menghapal kesukaanku (yang ia tahu akibat membayar teman sebangkuku untuk mengobservasiku), menghapal rute ke rumahku (yang pada akhirnya tidak pernah ia kunjungi karena hanya mau mengantarku sampai 2 blok sebelum rumahku). Was i really known?

To be loved is to be seen. To be loved is to be heard. To be loved is to be known.

Percepat ke Adelia beberapa waktu lalu, saat pertemuannya dengan yang tidak diduga. Aku enggan percaya lagi waktu itu. Kalau cinta memang harus pergi, biarlah ia pergi dari rumahku selamanya. Jauh-jauh, sudah kulempar ia hingga tercecer. Mungkin sudah diambil kucing dari tempat sampah, mungkin juga sudah diacak-acak hewan lain. Tetapi jelas aku adalah manusia yang banyak luput, karena mungkin masih tersisa ceceran cinta di halaman rumahku. Sampai sisanya terbawa hujan, larut dalam butiran aspal jalan, dan berakhir di selokan. Cinta mengulurkan tangannya padaku, memperkenalkan diri, bahwa kali ini ia hadir dalam bentuk lebih nyaman.

Aku nyata di depan matanya, tanpa perlu macam-macam. Aku nyata di depan matanya, bahkan dengan bentukku yang paling hancur, hitam, kotor, dan bau. Aku nyata di depan matanya, bahkan dengan kakiku yang pincang. Aku nyata di depan matanya, bahkan dengan banyak keping yang baret. Aku nyata di depan matanya, bahkan dengan saraf-saraf kejepit dan peredaran darah yang tidak lancar. To be loved is to be seen, and turns out, i am visible.

Ia mengulurkan tangannya tanpa ragu. Menuntunku ke rumah dan mengobati yang memerah dan membiru, meluruskan apa yang kaku, memastikan aku masih utuh dari setiap helai rambut hingga kuku. Tak ada yang patah, tak ada lagi yang patah. Ia berdiri melindungiku, kesatria yang mengalahkan bintang jatuh. To be loved is to be heard, ia mendengarku tanpa aku harus bersuara.

“Makan, nanti asam lambung!” “Ayam geprek mozarella, kan?” “Cimolnya tujuh ribu, pedas manis, kan?” “Tunggu sini aja! Capek, kan?” “Haus ya?” “Mikirin apa? Kenapa nggak tidur?” “You wanna be someone's pretty girlfriend, right?” Ia membacaku seakan aku buku terbuka, merebus setiap lembaranku dan meminum air rebusannya. Kalau aku adalah sebuah ujian, ia akan lulus seketika. Lembar jawabannya tak perlu kuperiksa lagi. Ia menghapal ulang tahunku (betulan), ia menghapal kesukaanku (betulan), ia hapal rute ke rumahku di luar kepala (no wonder), ia hapal kebiasaanku (betulan), dan ia hapal setiap dialog yang aku cetuskan (betulan). To be loved is to be known, and he knows me down to every bit.

So, maybe i was once loved. By a man who made love finally feels easy and kind. By a man who taught me how to slow down when the world goes fast. By a man who always know how to put me first. By a man who told me i was more than enough. By a man who told me i was a star, both in the sky and even in the deeper sea.

By a man whom i got my heart, eyes, and heart-eyes into.

I was seen enough that i'd love to heal. I was heard enough that i'd love to listen closely to those cries i've ignored. I was known well enough that i'd love to understand wholeheartedly.

But, what's love really about?

Yang ini pun tidak sempurna. Banyak yang harus diusahakan agar meja makan kita penuh makanan hangat. Sesekali aku yang memanaskan wajan, sesekali ia menuangkan minyak yang menyiprat. Panas di kulit.

Yang ini pun banyak kurangnya. Banyak yang harus kembali disatukan setelah kembali direbut paksa.

Yang ini pun pergi. Yang ini pun mencabut nyawaku pelan-pelan. Yang ini pun menguburku dalam-dalam.

Tapi, yang ini juga yang ternyata bukan menguburku, tapi memupukku di dalam tanah agar aku mekar dan wangi. Mungkin sekarang aku puspa pesona, atau bunga lily, atau hydrangea, atau larkspur.

Jadi, apa yang benar untuk menerjemahkan perasaan itu?

Yang ada di kamus, hanya “perasaan suka sekali, kasih sekali, rindu, risau, khawatir.”

Jadi, sebenernya apa? Kenapa semuanya dirangkum dan dicampuradukkan seperti bumbu dalam kuali?

Tapi, mungkin kesimpulannya, cinta adalah semuanya. Senang, sedih, risau, marah, khawatir, rindu, bingung, cemburu, kesal, sebal, dan semua rasa lainnya. Mungkin kesimpulannya, cinta adalah puncak semua rasa yang dimiliki manusia.

Mungkin, seperti buku yang kubaca, cinta adalah mengalami.

Aku mengalami semuanya. Kita mengalami semuanya. Senang, sedih, risau, marah, khawatir, rindu, bingung, cemburu, kesal, sebal, dan semua rasa lainnya.

Kita mengalami semuanya. Perasaan yang membuatmu membuncah hingga terasa hampir meledak, perasaan yang membuatmu enggan tidur, perasaan yang membuatmu berapi-api, hingga perasaan yang menjadi gali untuk kuburanmu sendiri. Semuanya. Termasuk retakan-retakan dan pecahnya perpisahan kita.

Adelia kecil lebih tau itu dibanding aku. Sebab ia mengalami lebih banyak, hingga ia hancur lebih banyak. Babak belur. But, i feel it in my bones, she had never once regret it. For she knows how to love, she always had known.

Aku berterima kasih kepada Adelia yang dulu, karena sudah rela jatuh hati dengan berani sejak lama. Aku akan bilang aku sudah memaafkan kesalahannya yang dulu, semua tersesat dan ketidaktahuannya. Karena pada akhirnya, ketidaksempurnaannya adalah yang membawaku di selokan. Pada akhirnya, ketidaksempurnaannya adalah yang membawaku menerima uluran tanganmu hari itu.

Sekarang—pun, Adelia hari ini, ia tidak menyesali sedikitpun telah menyertakanmu dalam hidupnya. Kusampaikan padamu, tuan yang membaca ini, terima kasih telah datang dan menjadi nyata. Terima kasih telah menjadi bukti bahwa Tuhan masih memberikanku keberuntungan satu kali lagi. Aku tak akan keberatan kalau cuma harus bersamamu sampai bakteri tanah memakan kulitku.

Terima kasih telah menerjemahkan bahwa cinta benar-benar terlihat, terdengar, dan nyata, karena aku mengalami semuanya.

Aku yakin Tuhan merontokkan empat daun semanggiku untuk menggantikannya dengan kedatanganmu hari itu.

Selamat ulang tahun, Aku nggak punya kado, tapi semoga sedikit catatan perjalananku bisa membuatmu tau arah, ke mana kita akan melanjutkan perjalanan di labirin ini.

Aku mencintaimu sebesar dunia. Klise, tapi, yang sudah kubilang. Cinta adalah mengalami, dan dunia adalah tempat kita mengalami semuanya. Dari tumbuh sampai berevolusi, dari tumbuh akar sampai berbuah, dari hidup sampai nanti mati. Maka aku menyayangimu sampai semua rahasia yang belum terungkap, dengan rumus yang terukur dan terus dicari. Aku mencintaimu dari awal ledakan, sampai kembang api selesai dinikmati.

Sekali lagi, selamat ulang tahun! Semoga kita panjang umur dan panjang kesempatan untuk terus bertukar ucapan ulang tahun beserta doanya.

Aku menyayangimu dalam nyawaku yang masih diberi kesempatan hari ini.

Salam, A-Deliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii-a