Petantang-Petenteng ft. Aghni Ayesha
Damar dan Dhimas sampai ke kantin sedikit terlambat. Karena sesampainya mereka di sana, teman-temannya termasuk Aghniya dan Ayesha sudah memiliki makanan dan minuman masing-masing untuk dieksekusi. Keduanya tersenyum melihat satu meja kantin yang hanya dipenuhi teman-temannya.
“Woi, buset rame amat dah lo pada!” ucap Dhimas. “Tau, ngapain sih?” Damar ikut penasaran.
“INI NIH! Aghniya bocah banget anjir dari tadi,” balas Ojan.
“Baru tau lo?” tanya Dhimas sambil terkekeh. Pria itu kemudian mengambil posisi di hadapan Ayesha. Sengaja agar Damar dapat duduk di hadapan Aghniya. “Duduk, Dam.”
Ucapan Dhimas membuat Damar tersadar dan segera mengambil tempat di hadapan gadis yang masih belum selesai tertawa itu.
“Aduh, kasian. Haris dibuang terus kenapa sih ya Allah capek,” ucap Aghniya. Gadis itu mengusap air matanya yang turun karena terlalu banyak tertawa.
“Kenapa kenapa, eluuu yang buang gue! Gue mulu yang kena!” balas Haris tidak terima.
“Apa sih buang apa?” tanya Damar bingung.
“Buang, Daam. Yang beda sendiri dibuang,” jawab Dhimas mewakili. Tentu saja ia menjawab berdasarkan pengalamannya.
“Haris jangan emosi dongg, kita jadi manusia harus berani beda tau,” ucap Aghniya.
“Berani guaaa! Tapi kalo dibuang gitu orang jadi bete nggak sihh?” balas Haris.
“Enggak, Ojan nggak bete ya Jan waktu dibuang? Lo bete Sha?” tanya Aghniya pada Ojan dan Ayesha. Serempak keduanya menjawab dengan gelengan, turut serta menjahili Haris.
“Nohh, enggak! Lo emosian sih, Ris. Nggak boleh gitu tau nanti cepet tua luu!” ujar Aghniya lagi.
“Tau marah-marah mulu ye, Agh? Kayak kakek-kakek,” sambung Ojan.
“Iya ih emang.”
“TERUS AJA TERUUUUS! GUA MULU GUAAA!” ucap Haris jengkel. Membuat tawa Ayesha, Aghniya, dan Ojan semakin keras.
“Itu Dam temen lu Dam emosian ih, dari tadi kita dimarahin mulu ya Jan, ya?” adu Ayesha pada Damar.
“EH, lo kandangin tuh temen lo! Bawa jauh-jauh!” ucap Haris sebal. Sementara Ayesha hanya tertawa bersama Aghniya di tempatnya.
“Udah Ris, udah. Tahan, tahan! Semua bisa dibicarakan baik-baik. Tenang tenang! DHIMAS DHIMAS MONITOR DHIMAS!” ucap Ojan yang tiba-tiba heboh. Ia bahkan menoyor bahu Dhimas hingga lelaki itu terhuyung. Dhimas hampir saja jatuh jika tidak berpegangan pada pundak Damar di sebelahnya.
“Anjing! Goblok, Ojan! Gue mau jatoh, anjir!” ucap Dhimas.
“Oh sorry, sorry sorry! EH GIMANA AYO BANGKIT DONG INI KLIEN KITA GIMANA NIH? Monitor monitor!” balas Ojan, masih dengan perannya. Mendengar penuturan Ojan, Dhimas akhirnya ikut andil. Keduanya bersemangat memerankan kru sebuah acara yang bertujuan memisahkan hubungan sepasang kekasih yang biasa tayang di TV. Sementara Haris terpaksa menjadi klien yang harus ditangani.
“Dah, duduk dulu Ris, tenang, tenang. Coba lo cerita gimana sebenernya hubungan lo sama dia?” tanya Ojan, botol minum yang terisi tinggal setengah itu ia jadikan mik guna mewawancarai Haris.
“Btw, siapa nih nama cewek sebenernya?” tanya Dhimas.
“Juleha,” jawab Haris. Membuat Aghniya dan Ayesha tertawa tanpa suara. Namun, bahu kanan dan kiri kedua gadis itu sudah bergetar hebat akibat menahan tawa.
“Oke, coba ceritain gimana hubungan lo sama Juleha!” ujar Ojan.
“Gue sama dia sebenernya baru ketemu hari ini. Cinta pandangan pertama, tapi gue yakin banget sama dia. Terus akhirnya, gue ajak pacaran. Tapi baru sepuluh menit pacaran dia udah selingkuh, ngebuang gue gitu aja..” Haris mulai bercerita asal.
“Bentar, mohon maap Bapak-Bapak, ini mah kliennya yang bodoh nggak sih? Baru ketemu ngapain langsung ngajak pacaran?” tanya Aghniya.
“TAU ANJIR! Orang mah baru ketemu tuh ngajak kenalaaaan, ngajak ngobrool, ini ngajak pacaran, mana cuma sepuluh menit doang lagi abis itu diselingkuhin,” Ayesha ikut menimpali.
Haris tertawa kecil, merutuki cerita yang ia buat sendiri. Tetapi ketika dirinya ingin mengklarifikasi dan melanjutkan peran, Dhimas dan Ojan sudah lebih dulu bicara.
“Iya ya? IYA DAH, AAAAAH UDAH LAH! Harusnya tuh lo mikir dong! Baru kenal ngapain lo ajak pacaran?! Ya pantes aja dibuang nggak jelas lo Ris aaaaah, buang-buang waktu nih klien begini nih!” ucap Ojan seraya mendorong tubuh Haris.
“Taaau nih, ngerugiin kita aja! Besok-besok cari klien yang pinteran dikit lah, Jan! Yang masalahnya rumit dikit gitu,” balas Dhimas.
“Iya, besok saya cari yang rumit dah! Kayak ini ya, misalnya cowoknya suka sama ceweknya, tapi ceweknya pindah sekolah nyusulin pacar aslinya. Gitu nggak sih?” ujar Ojan.
“ANJ— LO PULANG LEWAT MANA LO ANJ, GUE TEBAS PALAK LO YA!” balas Dhimas kesal. Ujung-ujungnya tetap dirinya yang kena.
“Ampun, damaaaai, damaai. Kita mah kan cinta damaaai, betul apa benul? Rispek, Brader, rispek!” ucap Ojan.
Haris ikut tertawa, pemuda itu sampai menepuk pahanya sendiri. “JHAHAHAH, Apaaa anjir rispek?!”
“Haris pekok,” jawab Dhimas. “BHAHAHAHAHAH, IYA ANJIR KOK BISA PAS GITU YA RISPEK HARIS PEKOK?!” balas Ojan heboh.
“Ah, anjir. Salah emang gue temenan sama lo semua,” balas Haris.
Damar yang sedari tadi hanya menyimak seraya mengeluarkan sedikit tawanya, kini akhirnya bersuara. “Eh, mending lo semua duduk deh,” ucapnya pada ketiga teman lelakinya yang berulah sejak tadi.
“gue malu anjir dari tadi nontonnya,” lanjut Damar.
Ketiganya cengegesan, “Naah, Pak Ustad sudah berbicara berarti ini alarm. Mending kita udahan sebelum kita kena slepet sarung sakti,” ucap Dhimas.
“Gue nggak ikutan Dam, sumpah. Ni dua anak ini nih,” timpal Haris.
“Bener, udah udah. Duduk, duduk. Ampun ya, Pak. EH INI ADA EMAK GUE DI SINI OMG KELUARGAKU,” ucap Ojan heboh.
“Ojan?”
“Iya, Pak, ampun,” balas Ojan lagi. Kini ia benar-benar menutup mulutnya, tak lupa memperagakan gerakan mengunci mulutnya dengan gembok kemudian membuang kuncinya jauh-jauh.